Diana terlibat hutang piutang yang tidak sedikit karena kesalahan memanage keuangan, sehingga ia harus gali lubang tutup lubang agar tetap bisa aman bekerja di majikan. Ia mempunyai tanggungjawab (angsuran)kepada perbank-an setiap bulan dan jumlahnya melebihi nilai gaji yang diterimanya. Sudah bisa dibayangkan betapa mumetnya dia bukan?
Melakukan peminjaman di tempat-tempat peminjaman uang yang ada di Hong Kong syaratnya sangat mudah dan inilah yang kerap kali menjadi boomerang bagi si peminjam dan orang yang bersangkutan dengannya. Sudah seringkali kita dengar tentang keluhan, curhatan dari seorang BMI yang harus rela menjadi kurir membayarkan hutang temannya, kerja rodi! Sekian bulan memeras keringat dan gaji melayang tiap bulannya untuk membayar angsuran. Karena permasalahan ini, teman jadi lawan, bahkan yang lebih ironis, sesama saudarapun tega memakan hasil jerih payah sesamanya. Ke-egoan sudah tidak pandang sebelah mata. Ke-individuan telah merambah BMI hanya untuk kepentingan pribadi. Walau sudah banyak dimuat di media tentang kasus-kasus utang piutang, ternyata korban masih saja berjatuhan.
Mau tak mau, demi keamanan kerja, angsuran harus tetap dilunasi. Bila tidak, ancaman pemutusan kerja dengan majikan akan terjadi. Kita mau mencaci, memaki, tidak akan mengubah nasi yang telah menjadi bubur. Ini satu fakta yang terjadi dalam kehidupan BMI Hong Kong. Menggelinding bak bola salju yang tak bisa dibendung karena terseret arus kehidupan bebas lepas tanpa batas. Kenapa semua ini bisa terjadi? Satu jawaban telak yang tidak bisa dihindari oleh mayoritas BMI : Pekewuh!
Pembaca BI tercinta, apakah sebenarnya pekewuh itu? Kenapa mampu menyeret BMI dalam kubangan hutang piutang yang berkepanjangan? Pekewuh adalah budaya khas ketimuran, istilah lainnya adalah sungkan! Rasa ini timbul karena alasan ingin menghormati orang lain. Bila masih dalam batas kenormalan akan meningkatkan tali silaturohmi dalam sebuah lingkungan, komunitas/ organisasi. Pekewuh adalah cerminan rasa menghargai orang lain, namun bila salah penerapan, maka pekewuh ini justru akan menimbulkan dampak kurang baik bagi diri sendiri, seperti kasus hutang-piutang dikalangan BMI tadi. Menghambat kemajuan yang ingin diraih baik dalam kehidupan pribadi maupun organisasi.
Ketika pekewuh telah berlebihan, mampu memicu seseorang untuk memiliki sikap : AKS ( asal kamu senang). Sikap pekewuh ini juga terjadi bukan hanya dalam soal utang piutang tetapi juga dalam lingkup pekerjaan, dimana banyak sekali BMI yang terpaksa melakukan tugas diluar yang tertulis dalam kontrak kerja. Sekali lagi karena sikap pekewuh! Sungkan, segan kepada orang lain untuk menjaga hubungan/perasaan/kedamaian. Sudah membudaya dan mendarah daging dikalangan orang Indonesia. Sikap ini berasal dari budaya Jawa karena orang-orang Jawa lebih dikenal akan keramah-tamahannya. Bersikap ataupun bertutur kata meskipun hatinya tidak suka.
Pembaca BI tercinta, pekewuh menjadi awal dari segala hal-hal yang tidak mengenakan. Tidak berani bersikap tegas hanya demi rasa tidak enak! Akhirnya, diri sendiri yang jadi korban. Pertanyaannya mau sampai kapan? Menjadi bulan-bulanan kawan sendiri yang tidak bertanggungjawab? Atau menjadi sapi perah majikan yang tidak manusiawi? Untuk menghindari hal tersebut berlarut-larut, alangkah bijaknya bila kita juga memiliki sikap kebalik dari pekewuh tadi, yaitu : Tegas!
Istilah lainnya adalah asertif. Sikap asertif ini terbagi menjadi dua macam, yaitu sikap mempertahankan hak sendiri dengan cara tidak mengorbankan hak orang lain dan mengekspresikan kebutuhan, keinginan, pendapat, perasaan dan keyakinan dengan cara langsung/terus terang tetap dalam kesopan-santunan. Asertif adalah sikap untuk menyatakan dan bertindak sesuai dengan hati nurani dan benar adanya. Orang yang bertingkah asertif, memiliki keberanian sungguh-sungguh untuk menyatakan kebenaran yang ada.
Asertif adalah sikap berani menyatakan apa yang benar kepada orang lain tanpa perlu merasa berhutang budi atas sebuah kebaikan. Orang asertif sangat selektif menerima pemberian orang lain (jika pemberian itu nantinya akan mengganggu idealisme-nya untuk menegakkan kebenaran). Asertif adalah sebuah ketegasan yang dibutuhkan sebelum bertindak. Sekarang pilihan kembali kepada masing-masing orang dalam memutuskan sebuah perkara, entah itu masalah keuangan maupun pekerjaan. Mari pertimbangkan!
*Dimuat oleh Koran Berita Indonesia Hong Kong*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar