Kamis, 16 Agustus 2012

Maraknya Hutang Piutang di Kalangan BMI

Beberapa bulan yang lalu, ketika melewati penyeberangan dekat kantor Dompet Dhuafa, saya menemukan secarik kertas yang ternyata isinya adalah sebuah pengumuman dicari seseorang yang terlibat hutang. Bisa jadi dia lari dari tanggungjawab. Hal seperti ini sudah bukan menjadi rahasia umum. Masalah hutang piutang menjadi menu utama dimana-mana. Si A tidak bayar, si B diteror pihak Bank karena menjadi saksi, si C berantem dll


Sahabat Iqro, adakah pelajaran yang bisa kita ambil? Sebagai makhluk sosial, kita memang tidak bisa hidup sendirian, selalu membutuhkan bantuan orang lain. Butuh bantuan tenaga, waktu, pemikiran dan terkadang uang. Kali ini kita akan membahas masalah yang berkenaan dengan uang : hutang!

Rasa senasib diperantauan bisa menjadi satu alasan mudahnya keakraban di antara kita. Saling curhat masalah masing-masing, baik tentang pekerjaan, pribadi,majikan, keluarga atau bahkan tentang keuangan. Karena merasa senasib tadi, memicu rasa iba/ simpati sehingga tidak enak atau tidak tega untuk tidak membantu. Rasa tidak enak/pekewuh ini menjadi titik awal dari terjadinya segala ketidaknyamanan, dan rasa inilah yang akhirnya menjadi “bumerang” ketika salah satu di antara mereka berbuat aniaya terhadap yang lainnya, terlebih masalah uang.

Mudahnya proses hutang piutang dari Bank peminjaman yang ada di Hong Kong, menjadi daya tarik tersendiri bagi BMI dengan ditambah iming-iming hadiah. Cara ini menjadi solusi yang diminati daripada pinjam ke teman. Urusannya hanya antara si peminjam, saksi dan Bank itu sendiri, tidak sampai diketahui khalayak ramai, apalagi masalah hutang, masih menjadi sesuatu hal yang tabu bagi sebagian orang.

Menilik fakta di lapangan, alasan sampai terlibat hutang piutang ada beberapa hal, di antaranya :

• Membiayai anggota keluarga yang menderita sakit kronis yang membutuhkan perawatan intensif.

• Membeli sawah, tanah pekarangan, ternak, rumah yang bisa dikatagorikan sebagai harta benda. Hasil kerja dijadikan barang duluan (uang bila ditangan akan mudah habis). Ini adalah persepsi/keyakinan sebagian orang.

• Membeli barang-barang yang bersifat konsumtif, misal: baju, hp, komputer dll.

• Mengadopsi pola hidup bebas/mewah, misal: diskotik, shooping, chatting,hubungan cinta, plesiran yang tujuannya hanya untuk hura-hura.

• Terjebak pada suatu bisnis.

• Salah memanage/mengatur keuangan.



Sahabat Iqro, mungkin ada di antara kita yang saat ini sedang terlibat hutang piutang, terlepas melibatkan teman atau tidak, seyogyanya kita renungkan.Bertanya pada diri sendiri, perlukah kita berhutang? Ada sebab pasti ada akibat, itu sudah menjadi hukum alam.

Mungkin kita terlalu ego untuk mengakui kesalahan, namun apa untungnya bagi kita bila dipertahankan? Keberadaan kita sebagai BMI terbatasi oleh kontrak kerja yang sewaktu-waktu bisa terjadi pemutusan kerja. Kita sering lupakan itu sehingga mendorong kita bertindak gegabah. Sudah banyak hubungan silaturohmi yang terputus karena masalah hutang piutang yang tidak terselesaikan di antara kedua belah pihak. Banyak pula BMI yang menjadi korban, menjadi kurir melunasi hutang temannya selama sekian bulan. Ada yang harus rela diterminate karena ketahuan majikan tidak/telat bayar angsuran. Fenomena ini sudah menjadi trend di dunia BMI, apapun alasannya.

Apa yang seharuskan kita lakukan untuk mencegah, setidaknya mengurangi permasalahan ini? Kembali pada pola hidup sederhana yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw. Sederhana bukan berarti tidak punya tetapi lebih mengarah pada sikap bisa mengendalikan kebutuhan, baik kebutuhan pribadi ataupun keluarga. Tanpa disadari, terkadang kitalah yang mengajari keluarga untuk memiliki pola hidup mewah dengan mengirim barang-barang yang sebenarnya tidak mereka dibutuhkan.

Niat sayang keluarga malah akhirnya menjebak langkah diri sendiri untuk maju, ketika keluarga kita terbiasa ongkang-ongkang kaki tidak mau kerja. Hanya mengandalkan kiriman dan menjadi manja. Mengingat kembali niat awal bekerja di Hong Kong untuk mengubah masa depan, baik buat diri sendiri, rumah tangga dan keluarga. Dengan sering mengingatnya, kita akan terhindar dari jebakan-jebakan hidup kota metropolitan ini.

Sahabat Iqro, ketahuilah, bahwasan beda antara keinginan dan kebutuhan itu sangat tipis. Kita harus benar-benar teliti memilah dan memilih. Kepada pakar keuangan manapun kita bertanya, jawabannya hanya itu. Mari kita hilangkan ilmu “ aji mumpung” yang mungkin telah meracuni pikiran dan hati, sehingga langkah hidup kita salah arah. Menjadikan hati kita membeku bagai batu, tega memakan hasil jerih payah sesama dengan masalah hutang piutang yang tak terbayarkan. Tidak ada sesuatupun di dunia ini yang kekal abadi, kelak semua akan dimintai pertanggungjawaban.

* Dimuat di Majalah IQRO DOMPET DHUAFA Hong Kong*







2 komentar:

  1. saya mempunyai hutang 80 jt gara2 4 orang rentenir yg selalu menagih bunganya terus n slama ini saya bekerja bukan untuk anak dan istri melainkan untuk memberi rentenis2 itu aku rela melakukan apapun asalkan hutangku lunas walaupun menyakitkan diri ku sendiri asal tidak menyakitkan n mengganggu orang lain waktu yang diberikan tinggal 1 minggu lagi,aku rela menjual salah satu organ tubuhku asal hutangku bisa lunas agar rumah tanggaku tentram yang slama ini slalu suram dan penuh kesengsaraan terus aku tak tega melihat istri n ketiga anakku aku mohon bagi para dermawan yang ingin membantu atau membeli salah satu organ tubuhku langsung sms aku dulu baru telp, karna kalau langsung telp aku takut yang telp itu para rentenir2 yang slalu mengeluarkan cacai maki aku muak dan tak sanggup lagi, aku amri tinggal daerah sumatra utara golonngan darah ku [O ] DAN TIDAK PERNAH MENYENTUIH YANG NAMANYA NARKOBA BAGI DERMAWAN YANG BERSEDIA DAN IKLAS AKU MOHON….085361213244

    BalasHapus
  2. di sana ada Dompet Dhuafa gak?

    BalasHapus