Kamis, 16 Agustus 2012

Antara Sabar dan Syukur, mana yang harus didahulukan?

Pertanyaan diatas membuat kita berpikir tentunya. Kita sering mendengar dua kalimat tersebut, namun tidak semua paham akan makna yang ada didalamnya. Bahkan kita sering dibuat bingung karenanya. Tidak tahu harus mendahulukan yang mana. Ketika kita mendapat ketidakadilan dirumah majikan, ketika keluarga kita menyalahgunakan uang kiriman dan ketika bermacam-macam musibah datang bergantian.


Sahabat IQRO, kepahitan hidup kadang membuat kita putus asa lalu mengambil jalan pintas. Banyak juga di antara kita yang hidup bagai zombi (mayat hidup) karena deraan masalah. Hidupnya hanya diisi dengan keluhan-keluhan dan kecengengan bahkan yang lebih parah menyalahkan Tuhan. Bisa kita saksikan disekitar kita, begitu banyaknya saudari-saudari kita yang selalu bangga dengan keluhan dan makian ketika menemukan ketidaknyamanan ditempat kerja. Ketenangankah yang didapat? Tidak! Namun hidup semakin terasa sempit.

Apakah yang membuat hidup kita terasa sempit? Ternyata keluhan dan kecengengan itu penyebabnya. Merasa diri yang paling sengsara dan berat permasalahannya. Cobalah kita tengok kekanan-kiri, pasti kita temui ada yang lebih parah penderitaannya, namun masih bisa tersenyum dan bahagia, tetap sabar dan senantiasa bersyukur. Ternyata dua hal inilah yang menjadi kunci rahasianya. Apakah sabar itu? Makna sabar yang sesungguhnya adalah tabah dalam menghadapi setiap bentuk keadaan yang sedang dialami. Tetap berbaik sangka pada Allah Swt, bahwasannya ada kebaikan yang tengah disiapkanNya.

Kita bisa menjalani proses tanpa paksaan karena paham, bahwa sesuatu itu memang harus terjadi demikian adanya. Sedangkan syukur adalah sikap dimana kita berterima kasih atas segala anugerah yang diberikan Tuhan sekecil apapun itu.Bisa dilakukan lewat ucapan dan perbuatan. Sabar dan syukur tidak bisa dilakukan oleh orang-orang yang tidak berilmu. Berarti untuk mengetahui cara agar bisa sabar dan syukur harus tahu ilmunya.

Tepat diawal 2012, digelar satu acara yang diharapkan mampu menciptakan kesadaran kepada kita sebagai hamba Tuhan (1-2/1). Belajar dari seorang musafir kehidupan Ary Ginanjar Agustian. Merefleksi diri untuk kembali mengingat hakikat sebagai hamba Tuhan. Mengingat kembali akan tujuan akhir dari sebuah perjalanan hidup, yaitu kembali kepada Tuhan (kematian). Menemukan makna sabar dan syukur dan tahu mana yang harus didahulukan. Ternyata, syukur dulu karena dengan bersyukur, maka Tuhan akan menambah nikmat kepada kita. Dan sebenarnya masalah adalah jalan Tuhan untuk mendidik kita lebih paham akan arti hidup dalam kehidupan. Seperti yang dituturkan oleh Ary Ginanjar tentang perjalanan hidup, karier dan hakikat hidupnya di acara Leadership Training ESQ.

Sahabat IQRO, pentingnya kita meluangkan waktu barang sejenak untuk merenung dan bertanya pada diri setelah sekian lama dirantau dengan segala pernik-pernik permasalahan. Dengan renungan diri, akan memudahkan kita menemukan jawaban akan kemana kita melangkah, dengan apa kita isi hidup yang berbatas dan bagaimana kita temukan cara mewujudkannya. Tidak lagi mengisi hidup dengan emosi (ketakutan, kegelisahan, benci, marah, dengki) dll. Tidak lagi menghambakan diri pada harta benda dan lupa pada Sang Pencipta. Tidak lagi mengagungkan pola hidup yang individualisme. Tetapi lebih peka pada sekitar terutama pada diri sendiri untuk senantiasa bersyukur.

Bersyukur bukan pada saat dapat jabatan, uang, ketenaran, tetapi bersyukur setiap saat dalam keadaan apapun. Perlu disadari, nafas kita ini,adalah hal besar yang patut disyukuri namun sering terlupakan. Perbanyak bersabar dalam menerima segala ujian/cobaan, tetap berbaik sangka pada Sang Pencipta, bahwanya itu yang terbaik buat kita.

* Dimuat di Majalah IQRO Dompet Dhuafa Hong Kong*



Tidak ada komentar:

Posting Komentar