Jumat, 17 Agustus 2012

MENGGAPAI KEBAHAGIAAN BERSAMA PASANGAN



Ketika banyak orang yang mengidam-idamkan kebahagiaan, tetapi penderitaan yang didapatkan, kenapa? Sebenarnya, dimanakah kebahagiaan itu? Kebahagiaan bukan dicari tetapi diciptakan dan itu berasal dari dalam diri sendiri. Sering terdengar disekitar kita, orang-orang yang berkata bahwa ia bahagia bila mempunyai harta, bisa menikah dengan seseorang yang ia suka, bahagia bila menjadi sang juara dll. Semua itu sah-sah saja, namun bila kebahagiaan yang kita inginkan karena alasan tertentu, apakah sudah bisa dipastikan bahwa kita akan benar-benar bahagia? Belum tentu!


Manusia hanya bisa berencana dan Tuhan penentu segala yang terjadi di alam semesta ini. Kebahagiaan itu bersifat sangat personal dan kita sendirilah yang bisa merasakan. Ketika kita telah mengijinkan kebahagiaan itu hadir dalam hidup, maka apapun kondisi kita, baik sedih maupun suka, kebahagiaan akan tetap ada. Caranya adalah dengan mengenali diri sendiri dengan segala keinginannya.

Kita tahu, bahwa hidup bagaikan roda yang berputar, kadang di atas dan kadang di bawah. Ada juga yang bilang, bahwa hidup penuh masalah, itupun benar adanya. Tetapi masalah bukan penghalang untuk menjadikan kita hidup dalam kebahagiaan. Selama makhluk ciptaan Tuhan yang bernama manusia ini menginjakkan kaki di planet Bumi, maka masalah itu akan tetap ada. Kuncinya adalah bagaimana kita bisa menyingkapi dan mengisi hidup, maka untuk bahagia, hadapilah hidup!

Bermacam bahagia yang diinginkan manusia dan salah satunya adalah bahagia bersama pasangan. Ketika kita sudah berumah tangga, itu artinya kita tidak memiliki hak sepenuhnya atas diri sendiri, tetapi ada hak orang lain atas diri kita, yaitu suami. Ada hak dan kewajiban yang harus kita selaraskan untuk meraih keharmonisan dalam rumah tangga yang kita bina. Keharmonisan adalah perpaduan dari berbagai warna karakter yang membentuk kekuatan atau eksistensi sebuah benda. Perpaduan inilah yang membuat warna apapun bisa cocok menjadi rangkaian yang indah dan serasi.

Kita ambil satu contoh warna hitam. Warna ini terkesan suram dan dingin. Jarang orang yang suka, tetapi bila dipadukan dengan warna putih, akan memberikan corak tersendiri yang menghilangkan kesan suram dan dingin tadi. Perpaduan warna hitam dan putih, bila ditata dengan apik, akan menumbuhkan kesan dinamis, gairah dan hangat. Seperti itulah seharusnya rumah tangga dikelola.

Rumah tangga merupakan perpaduan barbagai warna karakter, yaitu : suami, istri, anak dan mertua. Tidak ada yang bisa menjamin, bahwa semua karakter itu sempurna, pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Maka, karena itulah, suami-istri bisa saling melengkapi. Menciptakan keharmonisan dengan cara mengisi kekosongan-kekosongan yang ada di antara mereka. Keharmonisan rumah tangga bisa tercipta dengan beberapa cara, yaitu :

• Tidak melihat ke belakang, artinya kita tidak mengungkit alasan menikah. Hal tersebut bisa menyeret ketidakharmonisan hanya karena masalah sepele. Bila belarut-larut akan menjadi pelik dan kusut. Tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan perceraian. Oleh karena itu, hadapilah kenyataan yang saat ini harus dihadapi. Jangan lari dari masalah dan melongok ke belakang, apalagi membayangkan sosok lain diluar pasangan kita. Hal ini akan membuka pintu setan dengan terciptanya perselingkuhan.

• Berpikir objektif.

Kadang konflik bisa menyeret kita ke hal yang sebenarnya tidak harus terjadi ketika konflik disikapi dengan emosi. Apalagi bila sampai melibatkan orang ketiga yang mengetahui masalah internal tidak secara utuh. Mis : penghasilan suami kita belum bisa mencukupi seluruh kebutuhan hidup. Coba dibicarakan dan mencari solusinya bersama-sama, mungkin istri bisa membantu bekerja serta melatih anak-anaknya untuk mandiri. Tetapi bila kita menyikapi dengan emosi, seperti yang banyak terjadi sekarang ini, maka pihak suami bisa menuduh pihak pihak istri bawel, tidak pengertian dan materialistik.

• Melihat kelebihan pasangan. Untuk menumbuhkan keoptimisan, lihatlah kelebihan pasangan kita bukan malah mengungkit kekurangannya.

• Saling percaya.

Bagaimana rumah tangga bisa bahagia bila di antara keduanya tidak ada saling percaya tapi justru sebaliknya. Rasa ini akan menimbulkan kegelisahan, kecurigaan, kekhawatiran dan pada akhirnya akan saling menyalahkan serta menuduh. Rasa saling percaya akan menghantar kita pada rasa aman dan nyaman. Membangun rasa saling peercaya adalah perwujudan cinta yang dewasa.

• Kebutuhan biologis, adalah kebutuhan orang berumah tangga yang salah satu tujuannya untuk memperoleh keturunan. Prinsipnya adalah saling terbuka dalam mengungkapkan kebutuhan masing-masing. Jangan sampai mengeksploitasi pasangan.

• Menghindari pihak ketiga. Kehidupan berumah tangga mempunyai hak otonomi sendiri yang sebaiknya tidak dicampuri pihak lain. Kehadiran pihak ketiga hanya akan menciptakan bencana bagi rumah tangga tersebut. Sudah banyak kejadian rumah tangga yang hancur karena ikut campurnya pihak ketiga, mis : mertua, saudara ipar, kekasih simpanan, tetangga dll.

• Menjaga romantisme. Pasangan suami-istri yang sudah lama menikah terkadang lupa dengan hal ini. Tidak seperti diawal membina rumah tangga, mis : makan bersama, pujian tulus, jalan-jalan dll. Romantisme dibutuhkan sampai kapanpun.

• Komunikasi yang lancar. Komunikasi adalah pilar langgengnya rumah tangga dari sekian pilar-pilar lainnya. Hilangnya komunikasi berarti hilang pula salah satu pilar rumah tangga. Bagaimana hubungan bisa harmonis, menyapa saja enggan. Jika rumah tangga adalah mobil, maka komunikasi adalah rodanya. Banyak pasutri bersikap apatis karena kesibukan kerja. Ini sama halnya menaruh bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak. Bisa-bisa di antara keduanya mencari pelampiasan dengan mencari teman curhat dan tidak betah tinggal di rumah.

• Menyertakan spiritual.

Berumah tangga adalah salah satu perintah agama. Berumah tangga yang sesuai dengan petunjuk Rosulullah dan ajaran agama akan membuat kita bahagia di dalamnya. Menyadari akan fitrah masing-masing dengan menciptakan kebersamaan di antara anggota keluarga. Rumah tangga bagaikan sebuah organisasi tempat berkumpulnya lebih dari satu orang. Rumah tangga merupakan unit terkecil dalam kancah sosial. Salah satu pijakan utama seseorang berumah tangga adalah karena adanya ketaatan pada syariat Allah SWT. Kalau mau itung-itungan, berumah tangga itu melelahkan, dan justru disitulah pahala yang Allah janjikan. Ketika dalam rumah tangga menghadapi banyak masalah, tetaplah berprasangka baik pada-Nya dan jangan pernah bosan untuk berdoa.

*Dimuat di Majalah IQRO Dompet Dhuafa Hong Kong*



Tidak ada komentar:

Posting Komentar