Demi Sahabat
Oleh : Abdul Mu’id
(putra Anna Nirwana)
Pagi itu, aku terbangun dengan mata yang sembab dan membengkak. Semalam aku menangis di kamar sampai ketiduran. Entah berapa lama aku berderai air mata. Yah, aku baru saja mengalami kejadian yang membuat aku begitu sakit. Seorang cewek yang tanpa sengaja masuk dalam kehidupanku kini malah menghancurkan semuanya......
Aku mengenal Dinda dari Husni, teman dekatku. Kebetulan tiap malam Dinda latihan silat di samping Pon Pes tempat ku mengaji kala malam hari. Awalnya aku biasa saja dengan kehadirannya.Tapi hari-hari berikutnya, Dinda memulai kedekatan kami dengan sekedar menitip salam padaku. Nggak ada yang spesial memang, tapi hari-hariku mulai terasa indah dengan keberadaanya.
Hanya saja kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Disaat aku mulai menyukainya, tak ku sangka Dinda malah mengalihkan perhatiannya pada Husni. Aku bener-bener nggak tau harus berbuat apa. Tentu saja aku tak bisa menyalahkannya karna ini memang hak mereka. Aku mencoba ikhlas dengan hubungan mereka. Aku berusaha tegar dan mendukung hubungan mereka meski sebenarnya hatiku begitu sakit. Itu semua aku lakukan karna aku masih menghargai Santi sebagai sahabatku.
Aku memilih mengalah daripada harus kehilangan sahabat hanya karna seorang cewek, tapi hati kecilku masih tetap mengharapkan Dinda . Meski pacaran sama Husni, tapi nyatanya Dinda nggak pernah absent menghubungiku, baik melalui sms ataupun telpon. Aku bingung harus bersikap bagaimana. Karna rasa ikhlasku lah yang kini menuntunku untuk tetap berhubungan dengan Dinda. Jujur saat itu aku benar-benar telah merelakan Dinda. jadi apa salahnya jika aku menerima telpon dan smsnya.
Sayangnya pikiranku masih terlalu dangkal untuk menyikapi hal itu. Kedekatanku dengan Dinda yang telah ku anggap “teman” itu membuat Husni cemburu. Ia mengira Dinda selingkuh dan akulah selingkuhannya! Kini antara aku dan Husni serasa ada pemisah yang membuat kami tak lagi bisa seakrab dulu. Ada rasa canggung saat kami ngobrol,seperti orang baru kenal.
Hampir dua tahun lamanya aku tak pernah bertemu lagi dengan Dinda sejak saat itu. Ia tak pernah lagi menghubungiku, atapun Husni. Dinda seperti menghilang di telan bumi. Akupun perlahan bisa menghapusnya dari ingatanku dan Husni juga telah kembali seperti sedia kala, meski sekarang ia agak tertutup soal cewek.
Kini hari-hariku semakin berwarna setelah berhasil lolos seleksi dan masuk di SMP favorit di kota ku. Yach, menjadi anak baru tentunya bukan hal yang gampang. Karna aku termasuk anak yang sulit beradaptasi. Aku terlalu cuek dengan apa yang ada di sekitarku, namun kini aku telah memiliki beberapa teman akrab, tapi hanya satu yang kurasa telah benar-benar akrab, namanya Alfandy. Dia temen sebangku ku.
Anaknya cukup asyik, meski terkadang ada saat-saat dimana aku merasa muak padannya. Ada bberapa sifatnya yang tak ku suka. Dia terlalu pede dan kalau ngomong asal njeplak aja. Uukh..! Yang paling bikin aku sebel saat bersamanya, bila bila melihat cewek cantik dikit aja langsung kayak ikan kena pancing. Klepek-klepek nggak jelas!,mending kalau di niati satu cewek, Nach ini, tiap ada cewek selalu saja tingkahnya begitu. Bikin aku tambah muak tapi mau diapain juga dia tetap temen terbaikku (untuk saat ini).
Entah mimpi apa yang ku dapat semalam, pagi itu aku shock setengah mati dengar cerita Alfandy soal cewek barunya. Cewek itu, Dinda!! Dinda yang ku kenal beberpa tahun lalu. Yang telah hilang dari kehidupanku setelah menorehkan luka di hatiku, aku tak habis pikir ! Aku memang telah mengenalkan Alfandy pada temanku yang posisinya juga sebagai temen akrabnya Dinda, tapi aku nggak pernah berpikir semua ini bakal salah alamat.
Justru Dindalah yang kini berpacaran dengan Alfandy. Oh God! Semoga waktu sedang bercanda..! Aku nggak mau kejadian itu terulang kembali. Aku takkan sanggup jika harus mengulangnya, berpura-pura tegar seperti dulu. Aku muak!! Tapi kenyataanya kini, mereka memang pacaran. Tak ada yang bisa ku lakukan selain merelakan mereka. Sama seperti yang ku lakukan dulu, demi sahabat !

Tidak ada komentar:
Posting Komentar