Minggu, 19 Agustus 2012

CERPEN

Kerajaan Langit


Oleh : Abdul Muid & Anna Nirwana



Pada zaman dahulu kala, hiduplah sepasang suami istri. Mereka berdua tinggal di tengah hutan bersama hewan-hewan yang ada di hutan. Si suami bernama Shino, sedangkan istrinya bernama Cauri. Mereka memelihara banyak hewan di hutan, diantaranya Kelinci, Jerapah, Gajah, Rusa, Tikus, dan masih banyak lagi. Anehnya, hewan tersebut bisa berbicara layaknya manusia. Mereka hidup rukun dan damai. Tak ada satupun manusia yang hidup di hutan tersebut, kecuali mereka berdua. Sudah dua tahun mereka menikah, tapi belum juga dikaruniai seorang anak.

Sang istri sangat sedih dan merasa bersalah karena tak bisa memberikan keturunan. Tapi, Shino terus menghibur istrinya dan selalu berdo’a agar mereka diberikan seorang anak. Pada suatu hari, Shino hendak pergi ke hutan untuk mencari buah dan sayuran segar. Ia tidak pergi sendiri, tapi ditemani oleh hewan lainnya. Tinggallah Cauri sendirian di rumah. Pada saat Cauri hendak menjemur pakaian, tiba-tiba saja ada cahaya dari langit yang menerangi Cauri. Cahaya tersebut menyinari Cauri dan membuat matanya menjadi silau. Cauri sangat kaget, dan lari ketakutan ke dalam rumah. Cahaya itupun menghilang dengan sekejap mata.

Tak lama sesudahnya, Shino sampai dirumah dengan membawa sekeranjang buah dan sayuran segar untuk disantap hari ini. Cauri sangat senang, sehingga ia lupa dengan kejadian yang tadi. “Suamiku, banyak sekali engkau mendapatkan buah dan sayuran ini,” kata Cauri senang

.“Benar, ini berkat si Jerapah yang membantuku memetik buah yang sangat tinggi,” jawab Shino.

“Terima kasih Jerapah, engkau baik sekali,” kata Cauri dengan tersenyum.

“Ah, itu belum apa-apa dibandingkan jasa kalian yang sudah merawat dan mau menampungku,” jawab Jerapah sedikit malu. Mereka tertawa bersama dan makan dengan riang gembira.

Esoknya, Cauri sangat kaget sekaligus gembira. Apa yang diidamkan Cauri dan Shino akhirnya terkabul. Sebentar lagi mereka akan mempunyai seorang anak. Mereka sangat gembira, karena akan adanya anggota baru dalam hidup mereka. Sembilan bulan kemudian, lahirlah seorang bayi laki-laki mungil dan sangat tampan. Anak yang mereka nantikan akhirnya datang juga. Anehnya, warna kulit bayi tersebut berwarna sangat terang, seperti cahaya. Oleh karena itu, mereka memberinya nama Akarui yang artinya terang. Hidup mereka sangat damai dan tenang. Cauri, Shino selalu merawat Akarui dengan hati-hati.

Ternyata kegembiraan dan kedamaian tidak berlangsung lama. Hutan yang mereka tempati sangatlah subur dan bagus untuk membangun suatu wilayah. Oleh karena itu, banyak sekali kerajaan yang ingin mengambil daerah tersebut. Tapi, yang berhasil masuk ke wilayah itu hanya tiga kerajaan. Merekapun berebut ingin menguasai daerah tersebut. Shino dan lainnya sangat resah dengan keberadaan tiga kerajaan itu. Sepertinya mereka ingin berperang. Shino tidak mau memberikan hutan itu kepada Raja. Hal itu membuat ketiga raja tersebut marah besar dan mengepung mereka. Raja mengancam Shino apabila ia tidak memberikan hutan itu.

“Kalau kau tak mau memberikan hutan ini kepadaku, maka kau, istrimu, anakmu, beserta hewan peliharaanmu akan kubunuh,” gertak Raja.

Shino hanya bisa diam, sebab tak mungkin ia melawan kepada Raja yang mempunyai banyak prajurit. Perangpun terjadi. Tiga kerajaan tersebut berperang di hutan tempat Shino tinggal.

Shino mencari akal, bagaimana supaya bisa terbebas dari kepungan perang. Ia tak mau anak dan istrinya terluka. Akhirnya Shino menemukan tempat yang aman untuk berlindung, yaitu di sebuah gunung yang sangat tinggi, tingginya melebihi langit.

“Istriku, aku punya ide,” kata Shino.

“Ide apa?” tanya Cauri sedikit ketakutan.

“Bagaimana kalau kita mendaki gunung itu sampai ke puncak, kita akan aman disana,” kata Shino sambil menunjuk ke gunung tersebut.

“Baiklah, tak ada pilihan. Walau bagaimanapun kita harus sampai ke puncaknya. Agar kita semua bisa selamat,” jawab Cauri.

Semua setuju, tanpa pikir panjang, mereka langsung menuju ke gunung tersebut dengan diam-diam. Saking sibuknya sang Raja, sehingga ia lupa kalau Shino dan lainnya sudah pergi. Akhirnya mereka sampai dipuncak gunung. Puncaknya sangat curam dan berbahaya. Banyak sekali awan berkumpul di puncak gunung, sehingga mereka tak bisa menyaksikan perperangan.

Sewaktu si Kelinci ingin berpindah tempat, ia terjatuh di atas awan yang lembut. Anehnya awan tersebut tidak lunak, melainkan keras dan bisa berdiri di sana. Shino dan lainnya sangat kaget, ini aneh bin ajaib. Awan tempat kelinci berdiri sama seperti tanah. Si Kelinci langsung memanggil Shino.

“Hai, kawan. Disini awannya sangat keras, aku bisa berdiri di sini,” kata si Kelinci riang.

Shino dan lainnya langsung melompat, meski awalnya merasa canggung, namun mereka merasa senang.

Ketiga Raja baru sadar kalau Shino dan keluarganya serta yang lain sudah pergi. Betapa marahnya ketiga Raja tersebut. Ketiganya menyuruh prajurit mereka untuk mencari Shino dan keluarganya. Setelah mencari beberapa jam, tak ada hasil. Sewaktu Raja melihat ke awan, ia melihat Shino dan lainnya di sana. Raja geram dan menyuruh prajuritnya untuk memanahi mereka.

Shino, Cauri, Akauri, dan para hewan langsung menunduk, karena mereka takut kalau terkena panah. Shino melindungi anak dan istrinya, agar mereka tak terluka. Akarui menangis karena terkejut. Shino tak bisa berbuat apa-apa.

“Tuhan, tolonglah kami,” kata Shino dengan bergelimang air mata. Shino terus menangis dan menangis. Akhirnya air mata mereka berkumpul di awan tempat mereka berpijak. Awan menjadi hitam, dan turunlah hujan yang sangat lebat sekali. Petir-petir berhamburan dengan liarnya, air bah datang dan menghanyutkan hutan tempat ketiga Raja berdiri. Mereka beserta prajuritnya hanyut terbawa air bah. Setelah hujan reda, Shino melihat Bumi seperti padang pasir yang kering dan tak ada satupun pohon yang berdiri. Semuanya telah hanyut terbawa air Bah. Shino dan lainnya ingin sekali turun dan kembali ke Bumi, tapi mereka tak tahu bagaimana cara turun. Akhirnya mereka memutuskan untuk tetap tinggal di awan yang sudah menolong mereka.

Ajaibnya, awan yang mereka tempati ditumbuhi banyak pepohonan, lama kelaman berubah seperti Bumi. Sayangnya mereka melayang di langit. Shino membangun rumah yang cukup besar. Rumah yang mereka buat berubah menjadi istana yang sangat megah. Akarui yang dulunya masih bayi, lama kelamaan berubah menjadi seorang pangeran yang sangat tampan. Akarui membangun sebuah kerajaan yang diberi nama “Kerajaan Langit.” Akhirnya hidup mereka menjadi tentram dan damai. Mereka yang dulunya manusia Bumi, sekarang menjadi manusia langit.

Demikianlah, kebaikan tidak akan pernah kalah oleh kejahatan. Dimanapun berada, akan menang. Sifat serakah yang dimiliki manusia bisa menghancurkan segalanya. Sifat ini muncul karena tidak adanya rasa syukur atas apapun yang telah diberikan Tuhan Sang Pencipta alam semesta. Maka dari itu, marilah kita selalu tanamkan rasa syukur dalam hati, contoh terkecil dan paling dekat : nafas kita!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar