Jumat, 17 Agustus 2012

MENCARI MAKNA CINTA

Satu perkataan mengandung makna perasaan yang rumit, bisa dialami semua makhluk termasuk manusia. Mampu melahirkan kebencian yang merupakan emosi sangat kuat dan melambangkan ketidaksukaan, permusuhan (antipati) untuk seseorang, sebuah hal/barang (fenomena) dan karenanya kita menghindari, menghancurkan/menghilangkan


Itulah cinta! Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam filosofi cinta terdapat sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas dan kasih sayang. Ada juga yang mengatakan, cinta adalah sebuah aksi/ kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, dan melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.

Cinta digunakan untuk meluapkan perasaan terhadap keluarga, teman, Tuhan, bangsa dan negara. Syarat mewujudkan cinta kasih adalah dengan perasaan, pengenalan, tanggungjawab, perhatian dan saling menghormati. Hal ini muncul secara seimbang dalam pribadi orang yang menyintai. Oleh karena itu, cinta kasih yang sudah ada perlu dijaga agar dapat dipertahankan keindahannya serta keutuhannya. Ekspresi cinta bisa kepada jiwa/pikiran, hukum/organisasi, badan, alam, makanan, uang, belajar, kekuasaan dan popularitas. Ini adalah cinta yang mengarah kepada konsep abstrak (ada terasa sulit dilihat, terasa tak tersentuh, aneh tapi nyata dan bisa membuat menangis serta tertawa), lebih mudah dialami daripada dijelaskan. Ada beberapa macam cinta yang bisa dilihat disekitar kita, yaitu :

• Perasaan sayang yang lebih cenderung kepada teman-teman dan keluarga (eros).

• Perasaan kasih yang cenderung kepada keluarga dan Tuhan (philia).

• Semangat nusa yang lebih cenderung kepada patriotisme, nasionalisme, narsisme (agape).

Menurut Erich Fromm, cinta adalah perasaan simpati melibatkan emosi yang mendalam. Namun ada juga yang beranggapan, kata cinta lebih cenderung kepada romantisme, asmara dan hawa nafsu. Cara terbaik memaknai cinta adalah dengan memberi. Cinta tidak datang karena kita menerima, tetapi cinta akan datang ketika kita bisa memberikan sesuatu yang terbaik yang kita punya untuk kebaikan, kemajuan dan kesuksesan orang lain (baca:positif). Cinta juga berarti mengerti dan memberi tanpa ingin dipahami dan diberi. Menurut hadist Nabi, orang yang sedang jatuh cinta, cenderung mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (wanahabba syai’an katsu ra dzikruhu). Tapi orang juga bisa diperbudak cintanya (man ahabba syai’an fatuha’abduhu). Ada tiga ciri cinta sejati, yaitu :

• Ia lebih suka berbicara dengan yang dicintainya dibanding dengan yang lain.

• Ia suka berkumpul dengan yang dicintainya dibanding dengan yang lain.

• Ia lebih suka mengikuti kemauan yang dicintainya dibanding kemauan orang lain atau diri sendiri.

Orang yang telah jatuh cinta kepada Allah Swt, maka ia lebih suka berbicara, berkumpul dan mengikuti kemauan Allah (berbicara : membaca firman-Nya, bercengkrama : I’tikaf).

Cinta adalah masalah yang dialami oleh semua orang. Tiada pernah habis untuk diperbincangkan, tidak termakan oleh zaman, sumber perdebatan yang tidak pernah kehilangan momentumnya. Bahkan cintapun bisa menjadi sumber inspirasi yang tiada habisnya. Yach, cinta memiliki arti yang sangat luas dan sulit diartikan begitu saja. Ia adalah anugerah Allah, sebab itu sangat berharga. Allah akan menganugerahkan rasa cinta kepada mereka yang bersungguh-sungguh mencarinya. Tetapi tetap tidak boleh melebihi cintanya pasa Sang pemberi cinta itu sendiri.

Islam tidak melarang seseorang untuk menyintai sesuatu tapi harus ada batasnya. Jika rasa cinta itu membawa seseorang kepada perbuatan melanggar syariat, maka itu sudah salah. Mari sejenak kita melihat sejarah tentang manusia pertama di planet Bumi ini, yaitu Nabi Adam as. Allah paham kebutuhannya sebagai manusia, karena Dia-lah yang menciptakan, maka diciptakanlah Hawa sebagai pendampingnya. Dan kemudian mereka berbagi cinta kasih hingga memiliki keturunan. Allahpun tidak main-main ketika mentakdirkan Khadijah ra sebagai pendamping pasangan hidup Rasulullah Saw. Tidak sembarang perempuan yang ditunjuk-Nya sebagai pendamping seorang lelaki terbaik yang pernah ada di Bumi ini. Hubungan cinta Khadijah –Rasulullah, adalah kisah cinta paling manis yang pernah ditulis oleh sejarah. Cinta memang dahsyat dan paling indah dibicarakan, tapi cinta yang bagaimana ? Jawabannya adalah cinta yang berada di bawah keridho’an Allah.

Perasaan cinta tidak bisa dibuat-buat datangnya, ia datang dengan sendirinya. “Cinta adalah perasaan diluar kehendak dengan daya tarik yang kuat pada seseorang”, kutipan ini bisa ditemui di buku Mauqiful Islam Mina Hubb karya Muhammad Ibrahim Mubarak. Maka, cintailah sesama umat beriman karena dalam Islam kita adalah bersaudara. Tapi perlu diingat, menciintai seseorang janganlah sampai pada taraf lebih dari segala-galanya, sebab bisa saja yang kita cintai di dunia ini justru yang paling kita benci. Segala sesuatu yang berlebih-lebihan tidak akan baik hasilnya. Saling mencintai, bukanlah hal yang tabu dalam Islam, selagi hal itu tidak melanggar syariat. Jangan berkasih sayang hingga menimbulkan fitnah dan menjadi makanan empuk buat syetan. Cintailah seseorang karena Allah.

Cinta yang berlogikakan nafsu dan syahwat, semata-mata hanyalah cinta palsu yang penuh kehinaan, maka ungkapkanlah rasa cinta itu dengan memandang segala sesuatu karena Allah Swt karena kedudukan cinta dalam Islam tinggi dan mulia. Islam melihat cinta dan kasih sebagai fitrah dalam kejadian manusia. Ia adalah satu hubungan suci yang menautkan antara dua hati. Kesimpulannya, cinta adalah fitrah manusia sebagai makhluk Allah yang diciptakan untuk bersujud, bersyukur dan mengagungkan asma Allah, bahwa tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah. Ada delapan pengertian cinta menurut Al-qur’an, sbb :

1. Cinta Mawaddah ; jenis cinta menggebu-gebu, membara dan menggemaskan. Mau selalu ingin berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ingin memonopoli cintanya dan hampir tak bisa berpikir lain.

2. Cinta Rahmah ; jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban dan melindungi. Memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap dirinya sendiri. Baginya yang terpenting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahannya, mis : cinta orang tua terhadap anaknya dan sebaliknya. Bagi pasutri yang diikat cinta mawaddah dan rahmah sekaligus, biasanya saling setia lahir batin dunia akhirat.

3. Cinta Mail : jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Dalam Al-qur’an, cinta jenis ini masuk konteks orang poligami, ketika sedang dengan yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan yang lama.

4. Cinta Syaghaf : jenis cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang jenis ini bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari dengan apa yang dilakukannya ( kisah Zulaikhah, istri pembesar Mesir kepada Nabi Yusuf ).

5. Cinta Ra’fah : yaitu rasa kasih sayang yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, mis : kasihan pada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk sholat (membelanya walau salah).

6. Cinta Shobwah : yaitu cinta buta yang mendorong perilaku penyimpangan tanpa sanggup mengelak. (Dalam kisah Nabi Yusuf sampai meminta dimasukkan kedalam penjara untuk menghindari kejaran Zulaikha).

7. Cinta Syauq (rindu), dari hadist yang menafsirkan Al-qur’an surat An-Kabut ayat : 5) dan menurut Ibnu Al-Qoyyim Al Jauzi dalam kitab Raudlat Al Muhibbin Wa Al Musytaqin. Shauq (rindu) adalah penggembaraan hati kepada sang kekasih.

8. Cinta Kulfah; yaitu perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal positif meski sulit, mis : orang tua kepada anaknya.

Dari sekian banyak makna cinta di atas, manakah yang lebih cenderung akan kita tempuh? Sudahkah kita intropeksi diri dari segala kesalahan karena kita belum tahu atau belum menemukan makna dari kata cinta sehingga membuat kita salah kaprah ? Sahabat, marilah kita berbenah setelah memahami makna cinta yang luhur ini. Kita isi hidup kita dengan berbagi cinta kepada sesama. Kita tidak lagi melakukan perbuatan yang menyimpang dengan mengatas-namakan cinta.


*Dimuat oleh KINDO Hong Kong*









Tidak ada komentar:

Posting Komentar