Kamis, 16 Agustus 2012

Fenomena Ustadz Dikalangan BMI

Maraknya pengajian-pengajian yang digelar oleh organisasi BMI di Hong Kong, membuat kening saya berkerut. Dilihat dari segi agama, kegiatan ini bisa dikategorikan sebagai dakwah untuk menyebarluaskan ajaran Islam yang terkenal sangat indah, baik kepada buruh migran yang masih awam ataupun kepada penduduk pribumi yang tidak menutup kemungkinan mereka menjadi mualaf.


Namun, belakangan ini, nilai itu sudah mulai bergeser menjadi satu pengejaran yang lebih mengarah ke materi, baik bagi si penyelenggara ataupun sang ustadz, nilai dakwahpun memudar. Pengajian yang diharapkan bisa mengarahkan para jamaahnya untuk mengerti dan memahami hakikat mereka yang mengaku sebagai orang Islam. Menjalankan setiap apa yang dipelajari, dilihat dan didengar adalah untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, sebagai wujud dari pembelajaran tersebut.

Faktanya, mereka masih tetap suka melakukan apa yang tidak dianjurkan oleh Islam. Apakah ini yang disebut sebuah proses? Sebuah frase bermetamorfosis? Bisa jadi, bila mereka masih sekali mengikuti kegiatan ini. Namun pertanyaannya, bagaimana bila mereka telah berkali hadir dalam sebuah pengajian, tapi kenapa tidak ada perubahan? Yang salah sang ustadz atau jamaahnya? Kenapa para jamaah itu masih sering menggunjing, berkeluh kesah, berkata dengan kasarnya bahkan masih ada yang berputus asa? Pernah satu ketika, saya naik kendaraan yang sama dari pengajian yang sama, beberapa jamaah saling bergunjing padahal bersama mereka ada sang ustadz. Lho, kemana ilmu yang tadi ya? Masyallah..

Fenomena inilah yang mengelitik hati saya untuk menulis, ketika banyak sekali ustadz-ustadz di Indonesia yang diusung ke Hong Kong untuk mengisi acara pengajian-pengajian guna berdakwah mengingatkan kembali jiwa-jiwa yang terlupa dan terlena oleh gemerlapnya surga dunia. Lupa ibadah, lupa norma dan lupa dengan tata krama. Entah sudah berapa ustadz yang diundang ke negeri ini, tak terhitung jumlahnya. Status ustadz bak selebriti yang sudah mulai pasang angka nominal, alih-alih sang ustadz beralih profesi.

Saya jadi bertanya-tanya dalam hati, apa dan siapakah ustadz itu? Begitu mudahnya orang-orang memberikan gelar ustadz pada seseorang. Padahal pengertian ulama dalam istilah fiqih tentang sebutan ustadz ini sangat spesifik, sehingga penggunaannya tidak boleh pada sembarang orang. Syaratnya berat, paling tidak ia harus menguasai ilmu Al-qur’an, ilmu hadits, ilmu fiqih, ushul fiqih, qawaid fiqhiyah, ilmu logika yang juga sangat penting dll.

Ustadz disematkan pada orang yang mengajar agama(guru agama). Ternyata istilah ustadz dalam bahasa arab juga ada dan kedudukannya sangat tinggi (Doktor/S-3). Mereka para ustadz dianggap punya banyak kelebihan. Dalam keseharian ustadzpun ditempatkan istimewa. Kedudukannya terhormat, posisinya diatas strata masyarakat. Lalu bagaimana dengan pembicara-pembicara yang sengaja diundang dan dipanggil ustadz itu? Sudahkah mereka memiliki kredibilitas seperti yang tercantumkan di atas? Ataukah ada sisi lain yang tersembunyi? Mari kita lihat fakta dilapangan!

Sang ustadz memberikan ceramah, tausiyah atau istilah lain yang maknanya sama, selama beberapa jam kepada jamaah dengan tujuan meningkatkan pengetahuan, menambah wawasan dan sekaligus mengingatkannya. Setelah acara usai, maka si panitia akan melarikan sang ustadz ke suatu kawasan perbelanjaan yang sudah tidak asing lagi ditelinga BMI. Ditempat itu banyak dijual barang-barang murah meriah yang nilai belinya masih terjangkau kantong. Memenuhi tas dan koper dengan barang belanjaan, cukuplah buat oleh-oleh. Dalam hal ini, panitialah yang paling sibuk. Sang ustadz yang diawal tidak tahu akhirnya jadi tahu dan tuman krasan. Ketika di Hong Kong, belanja memenuhi koper menjadi satu agenda yang tak terlupa.

Pemandangan ini sudah tidak asing lagi menjadi trend baru yang sengaja diciptakan oleh BMI. Sudahkah hal ini sebanding dengan kesadaran para jamaah dengan kedatangan para ustadz yang mereka undang bila pada kenyataannya masih suka saling bergunjing. Bahkan terkadang menjadi satu ajang jor-joran dalam penampilan. Yuk kita renungkan! Kita cari dari segi mananya yang belum terisi. Atau mungkin cara seperti ini sudah tak afdol lagi? Mari ciptakan satu misi yang benar-benar bisa membuka hati dan pikiran para BMI menjadi bersihdalam menggapai ridho Illahi.



*Dimuat di Koran Berita Indonesia Hong Kong*



Tidak ada komentar:

Posting Komentar