“Aku jengkel banget hari ini, gara-gara tuyulku nakal, aku dimarahi lampirku. Masak karena masalah sepele saja, aku dimarahi. Dasar majikan bawel…!”
Seringkali kita mendengar kalimat-kalimat yang mengandung kemarahan, kekecewaan, ketakutan dan masih banyak hal lain, selama kita menjalani rutinitas kerja di rumah majikan. Suka duka menjadi satu hal yang tidak terpisahkan dan memang itulah kenyataannya. Namun, bila kita tahu, bahwa suka duka adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia, semua menjadi biasa-biasa saja. Sebenarnya, kenapa hal-hal seperti di ini bisa terjadi?
Kawan’s, selama ini, tanpa sadar, kita telah terbelenggu dalam rutinitas yang menghambat pencapaian cita-cita. Apa yang kita alami dalam keseharian kita, adalah buah dari pikiran. Kita telah menghabiskan waktu lebih banyak untuk memikirkan hal-hal yang bersifat negatif, maka, itu pula yang didapatkan. Kita menuntut lebih terhadap sesuatu hal namun kita tidak mau memberikan hal yang lebih alias perhitungan. Selalu mencari kekurangan dan membanding-bandingkan. Hasilnya adalah kekecewaan ketika mendapati fakta nasib kita lebih buruk dari orang lain.
Setiap waktu, kita hanya fokus pada keburukan dan ketidaknyaman di rumah majikan. Yang cerewetlah, banyak pekerjaanlah, anak asuh yang nakallah, pelitlah dlsb.
Semua ini hasil dari sebuah kefokusan yang terus-menerus kita pikiran ditambah dengan emosi intens, seperti marah, jengkel, kecewa, takut, khawatir dll. Selama kita masih berkubang dalam ranah ini, sulit untuk bisa keluar dari cengkraman ketidaknyaman dalam segala lini hidup. Berapa lama kita sanggup bertahan..?
Selain itu, ada hal lain yang membuat suasana kerja tidak nyaman, yaitu sikap kita. Sikap yang bagaimana? Mungkin itu pertanyaan yang ada di benak kita. Sikap kita suka membanding-bandingkan majikan dengan orang lain akan membuat rasa malas dalam bekerja. Rasa malas tidak akan menghasilkan sesuatu yang berkualitas.
Kawan’s, ketahuilah, bahwa sesungguhnya, sebuah kualitas terbentuk dari keberhasilan kita melewati berbagai kesulitan. Kita mampu melalui setiap ujian yang datang silih berganti, baik datangnya dari keluarga, teman atau majikan.
Apakah ujian itu? Ujian adalah tantangan, tekanan, kesulitan, penderitaan dan hal-hal yang tidak kita sukai. Pasti ada di antara kita yang akhirnya jadi pintar, wawasannya luas, punya banyak solusi penyelesaian hidup lalu terheran-heran. Kok bisa ya? Kok sekarang saya jadi pintar ya, dan sejuta kata kok lainnya. Kesimpulannya, ujian adalah sarana menjadi bisa karena tidak ada kualitas yang tidak diuji. Sikap yang kita pilih akan membentuk sebuah karakter dalam diri kita. Seperti halnya produk makanan, perabotan, elektronik terkenal, semua telah diuji coba.
OK-lah, kita merasa mampu bertahan sampai finis kontrak. Pertanyaannya enakkah hidup berteman ketidaknyaman karena memendam emosi? Kawan’s, hidup adalah pilihan, bila kita bisa dapat yang nyaman kenapa mesti pilih yang tidak nyaman? Banyak orang mencari kenyamanan di luar dirinya, padahal kenyamanan itu ada dalam dirinya. Ibarat kita kehilangan jarum jahit di ruang tamu, tetapi kita mencarinya di halaman depan rumah. Kita tidak akan pernah menemukannya!
Bagaimana kita menemukan kenyamanan itu? Cara paling mudah murah dan jitu adalah dengan mengubah cara berpikir kita terhadap ketidaknyamanan tersebut. Misalnya majikan kita sangat disiplin dalam urusan waktu sehingga kita merasa terkekang, solusinya adalah mencari sisi positif dari kedisiplinan itu. Nanti akan kita temukan jawaban yang di antaranya adalah, kita bisa menghargai waktu. Contoh lain lagi, ketika kita mendapati majikan yang sangat teliti dengan uang belanja dan minta kwitansi dari segala bentuk pembelian kebutuhan sehari-hari, sisi positif yang bisa kita ambil adalah, belajar teliti. Dan masih banyak lagi…
Kesimpulannya adalah, bahwa, kenyamanan tergantung dari bagaimana kita menyingkapi. Tergantung dari bagaimana kita menilainya. Tepatnya tergantung dari resppon kita terhadapnya. Bila respon kita jelek, maka ketidaknyamananlah yang didapat, dan bila respon kita bagus, kenyamananlah yang dirasakan. Respon kita akan membentuk karakter dan karakter ini berawal dari cara pandang/penilaian terhadap suatu kejadian. Beberapa karakter yang membantu kita berhasil, di antaranya adalah, kita memiliki empati terhadap sesama, tahan uji dan selalu bersyukur dalam segala keadaan serta beriman.
Karakter bukan diciptakan tetapi dibentuk oleh respon-respon kita dalam menghadapi hidup dan segala pernik-perniknya. Beberapa hal yang juga memicu terbentuknya karakter, yaitu : temperamen dasar, kenyakinan yang percayai, pendidikan/wawasan yang kita ketahui, motivasi hidup yang seperti apa yang kita miliki serta pengalaman hidup yang meliputi masa lalu, pola asuh dan lingkungan dimana kita berada. Nach, kawan’s, sekarang kita bisa mengambil kesimpulan dengan kalimat diawal tulisan ini.
Dalam bayangan saja, kita tahu tuyul itu seperti apa, dan lampir itu seperti apa. Yang kita tahu, dua panggilan tersebut di atas adalah sebutan buat sosok yang jahat meskipun hanya sebuah dongeng. Apapun yang kita masukan kedalam pikiran kita (baik/buruk), dalam jangka yang cukup lama akan menjadi sebuah program pikiran. Mari kita menyebut anggota keluarga majikan kita dengan panggilan yang mengenakkan hati dan menyejukkan telinga. Untuk sebuah kenyamanan, kitalah yang menciptakan. Make happy now…!!!
*Dimuat koran BERITA INDONESIS HONGKONG*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar