Rabu, 12 Desember 2012

SOSOK BMI DALAM KRIKIL (KREATIF & TERAMPIL)



Meluahkan Imajinasi Ke Dalam Karya


“Suatu aktivitas yang sangat menyenangkan karena selain menghasilkan karya seni juga bisa meluahkan emosi dan imajinasi saya dalam sebuah karya. Selain memberikan kepuasan tersendiri juga bisa memanfaatkan waktu dengan lebih baik” ulas Naning BMI asal Palembang.

Membuat souvenir dan aksesoris adalah kesukaan yang tak bisa terelakkan baginya, karena dari permintaan teman-teman membuat BMI yang satu ini optimis untuk mengembangkannya. Pelanggan pertamanya adalah teman-teman sendiri di Hong Kong atau dari Indonesia, kemudian menjadi dikenal lebih luas melalui jaringan internet Fb, You Tube, Tweeter, Skype, Blog, dll.  Juga beberapa toko busana /butik di nusantara yang siap dan sudah memasarkannya, meskipun masih dalam jumlah yang terbatas, berhubung terkendala waktu pembuatannya.

BMI yang bernama lengkap Naning Fauziah ini, lahir di Durenan, Trenggalek, Jawa Timur, anak kedua dari tiga bersaudara. Keluarganya berdomisili di kota Plaju, Palembang,  ia masih bekerja di Hong Kong sejak tahun 2007 hingga sekarang kontrak ke 3 dengan job yg sama. Sebelum menekuni kerajinan, aktivitasnya selama 2 tahun adalah belajar di salah satu universitas di Hong Kong, untuk mengisi waktu libur hingga kemudian bertemu dengan sahabat kecil semasa sekolah dalam satu kegiatan pameran di lapangan.

Sahabat lamanya menawarkan ilmu, karena dia sudah berencana kembali ke Tanah Air. Dari situ ia menemukan bakatnya di bidang kerajinan tangan. Karena dari kecil hobinya menggambar, aktif mengikuti setiap perlombaan dari bangku SD. Meskipun melukis tidak sama dengan membuat kerajinan tetapi baginya sama-sama meluahkan imajinasi kedalam sebuah karya dengan media yang berbeda yaitu dari kertas gambar/kanvas beralih ke bahan kerajinan tangan seperti batu manik dan material pelengkapnya.

Setiap ada kesempatan luang digunakannya membuat kerajinan untuk memperbanyak koleksi dengan cara meniru /membeli souvenir yang sudah jadi agar bisa mengikuti cara pembuatanya, sehingga ia bisa menghasilkan karya dengan versinya sendiri. Yang dimaksud meniru adalah sebatas cara pembuatan dasarnya saja dan untuk karya yang akan dibuat bisa dikreasikan dengan berbagai model yang bervariasi. Selain itu bisa belajar sendiri dari buku /VCD tutor membuat kerajinan, dari buku-buku penunjang sangat mudah dipelajari dan mempraktekkan. Dari beberapa buku kerajinan dipadukannya, guna menambah pengetahuan menginspirasi untuk berkarya seetnik mungkin, tidak ketinggalan trend dari peminat di masyarakat luas. Tidak ada alasan untuk meningkatkan potensi diri meski masih pemula sekalipun. Hal serupa bisa dilakukan dengan belajar membuat kerajinan dari internet, dan dikembangkan dengan cara kita sendiri. Berbagai ilmu sebagai tambahan pengetahuan serta referensi dalam kita mempersiapkan sebelum benar-benar memiliki usaha di Tanah Air.

Hasil Kerajinan yang sudah dihasilkan oleh Naning beraneka ragam seperti : kado, souvenir pernikahan berupa boneka unik, hiasan, miniatur rumah, gantungan kunci/HP, gelang, kalung, tas,dll. Kalau mau mengembangkan mungkin masih sangat berpeluang untuk sukses, dilihat dari bahan material yang terjangkau juga mudah didapatkan. Melihat fungsi dari aksesoris sendiri tidak lepas dari kodrat perempuan. Dari action yang sederhana atau yang mewah.

                 Kendala yang biasa dialami selama masih bekerja di sini yaitu, waktu yang sangat terbatas. Tetapi ia akan tetap optimis karena memang cara terbaiknya dengan mempersiapkan sedini mungkin dan belajar serta berusaha selagi masih ada kesempatan.

Selama ini, Naning menerima orderan aksesories dan sovenir untuk teman-teman di Hong Kong, seperti teman-teman sekolah, organisasi juga menerima berbagai pesanan untuk bermacam acara. Untuk pemesaran di Indonesia, ada butik muslim di daerah Batam (salah satu plaza di kota Plaju) juga pemesanan secara on line. Meski masih sangat terbatas, Naning yakin akan berkembang karena pelanggan yang biasa order merasa puas dan suka dengan karyanya.

Planning ke depan, Naning ingin mendirikan sebuah “sanggar kreasi” di Palembang tempat tinggalnya. Dengan modal keberanian dan ketekunan, Naning percaya akan ada hasil dari usaha ini. Untuk meningkatkan pemasaran yang sudah berjalan, ia akan memperkenalkan di daerah-daerah wisata yang ada di Palembang karena di daerah tersebut masih minim sekali, bergabung di komunitas yang sebidang, mengikuti event-event pameran seni, bermitra dengan jasa percetakan yang belum menyediakan sovenir, dll.

 Untuk aksesories, Naning melihat masih banyak mengimpor dari Luar Negeri. Dari situlah ada kesempatan untuk ia memperkenalkan style baru yang tidak harus mewah tapi terkesan “elegan” dan “ dinamis” berkarakter.

Tidak mudah dan butuh perjuangan, itu yang ia rasakan, namun ia tidak pantang menyerah. Bagi rekan-rekan yang ingin berkenalan langsung dengannya, silahkan berkunjung ke blog pribadinya.

http://www.facebook.com/SimpleGiftsGallery.                  

 
 
Dimuat Berita Indonesia edisi Des 2012
 

 

Sinkronisasi BMI Dan Keluarga


 
 Banyaknya pembelajaran di kalangan BMI Hong Kong yang digelar oleh organisasi BMI, Instansi tertentu, pemerintahan atau individu, bukanlah suatu jaminan mereka akan sukses bila hal tersebut tidak dibarengi dengan upaya-upaya konkrit dari pihak penyelenggara. Sesaat mereka bersemangat, terbuka pikiran dan wawasan, namun, beberapa waktu kemudian akan loyo lagi, pesimis lagi, takut lagi dan demikian seterusnya. Hanya segelintir orang yang benar-benar sukses hidupnya setelah mengikuti pembelajaran tersebut, dan jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Itupun bukan semata-mata murni hasil sebuah pembelajaran yang diikuti. Inilah fakta yang terjadi pada BMI Hong Kong.

Bukti dari fakta di atas adalah, mereka masih betah bekerja di Hong Kong walau sudah mengantongi sejuta “impian”. Bukan berarti mereka tidak punya ilmu dan pengalaman atau keinginan. Justru ambisi mereka menggebu untuk mewujudkan “impian”. Bahkan karena ambisinya mewujudkan impian selepas mengikuti pembelajaran, mereka “over action” sehingga harus berhadapan dengan pihak keamanan. Mereka lupa, bahwa keberadaannya adalah seorang “ Domestic Helper” yang harus patuh pada aturan-aturan yang tertera dalam “kontrak kerja”. Disinilah, banyak BMI yang salah kaprah dalam melangkah.

Yang menjadi masalah bukanlah “Domestic Helper” nya, karena itu hanya sebutan saja. Domestic Helperpun seorang manusia yang “berhak” sukses seperti yang lainnya. Domestic Helper hanya nama jembatan penyeberangan saja. Jembatan yang akan menghubungkannya dengan berbagai link-link kesuksesan. Justru, karena menyandang gelar Domestic Helperlah, posisi mereka menjadi “ terkenal” sampai ke manca negara. Menjadi perdebatan sengit antara pihak yang “pro” dan “ kontra”. Bukan masalah terkenalnya, namun lebih pada “kesempatan” yang bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya kala berada di rantau. Menjadi satu “tabungan ilmu” yang bisa dibawa pulang ke daerah masing-masing. Nah, inilah masalahnya! Inilah benang merah yang harus diusut agar tidak ruwet.

Setelah saya meneliti, mengamati, merasakan sendiri, akar masalahnya terletak pada “ketidaksikronan” antara BMI dengan keluarga di rumah. BMI rajin belajar pengembangkan diri untuk meningkatkan “skill”nya. Meningkatkan ketrampilan, kekreativitas dan relasinya. Itu yang terjadi di Hong Kong, lalu bagaimana dengan keluarga mereka yang ada di Indonesia? Apakah juga belajar hal yang sama? Memilki pemikiran yang sama? Memiliki impian yang sama? Setidaknya, mengerti dan mendukung apa yang diinginkan BMI.  Fakta di lapangan, tidaklah demikian. Ketika BMI sudah bergelora ingin mewujudkan impian, kendala pertama dan terberat adalah dari keluarga.

Takut rugilah, malaslah, nggak mau repotlah, sudah banyaklah,dll. Lalu BMI menjelaskan panjang dan lebar tentang apa yang ia pelajari, dan apa hasilnya? Sudah bisa ditebak, penolakan dengan bermacam istilah. BMI kecewa dan akhirnya timbul “pertengkaran” dalam keluarga, kalaupun bisa dihindari, tetap saja menimbulkan rasa kecewa pada BMI yang senantiasa berupaya melakukan yang terbaik buat keluarga. Waktu liburnya digunakan untuk belajar. Uangnya dipercayakan pada keluarga/tabung. BMI ingin segera mengakhiri hidupnya sebagai Domestic Helper. Tak jarang, saking keselnya atau memang karena rencana sudah matang, mereka memberanikan diri untuk “join” dengan orang lain. Apakah ini sebuah kesalahan? Tentu bukan, ini hanya sebuah solusi ketika keluarga yang diharapkan sudah tidak bisa diandalkan lagi keterlibatannya.

Mayoritas BMI yang menggulirkan ide-ide cemerlangnya setelah ikut pembelajaran, “menthok” di tengah jalan.  Bila ide diteruskan apalagi dijalankan dengan orang lain, maka, muncullah anggapan, bahwa keluarga sudah tidak penting lagi, sudah tidak patuh lagi, sudah membangkang. Bila kata-kata ini keluar dari lisan seorang suami terhadap istrinya, maka, ketakutlah yang ada.  Ilmupun disimpan sambil menunggu BMI  itu pulang, inilah jalan aman. Lalu, bagaimana dengan impian? Nantilah, dipikirkan. Sekarang bekerja sambil menunggu finis kontrak lalu pulang.  Dan ketika sampai di kampung halaman, melihat kenyataan bahwa idenya sudah dijalankan orang, putuslah harapan. Ah, mungkin inilah nasib saya. Ilmu mengendap raib entah kemana.

Dan bila ternyata, semangat mewujudkan impian di atas segala-galanya, suami/keluarga tidak lagi diindahkan. Bisakah hal ini dilakukan? Bisa! Pantaskah? Pantas! Namun, permasalahannya bukanlah bisa atau pantas, tetapi lebih pada perasaan yang meliputinya dalam upaya mewujudkan impian tanpa dukungan keluarga, akan sangat tidak mengenakkan. Kalau sukses, akan menjadi bukti buat keluarga namun bila gagal akan menuai cemoohan belaka. Yah, inilah fenomena utama BMI dalam mewujudkan impiannya. Sekuat apapun ia berusaha menjelaskan, menerangkan, bahkan dengan sengaja mengirim semua buku /modul pembelajaran yang di dapat, tetap saja yang di rumah tidak “ngeh”. Ujung-ujungnya berantem.

Mau sampai kapan permasalahan ini didiamkan? Apakah dibiarkan saja dan menjadi “PR” buat BMI? Atau mungkin, pihak pendidik/penyelenggara  sebuah pembelajaran belum  tahu tentang hal ini atau pura-pura tidak tahu? Ketika BMI bersemangat mengaplikasikan ilmunya, tetapi kenyataan berkata lain. Tidak dapat dukungan, restu, dan pengakuan dari keluarga padahal apa yang diinginkan BMI tersebut adalah untuk keluarganya juga. “Benang merah” masalah ini terletak pada tidak adanya “kesinkronan” pemikiran, wawasan, pengalaman dan pendidikan antara BMI dan keluarga.  Paradigma BMI telah berubah selangkah lebih maju, tetapi paradigma keluarga di rumah masih tetap seperti dulu. Paradigma yang telah usang ditelan waktu namun masih dipegang teguh karena memang demikianlah keadaan yang ia tahu, yang dijalankan orang-orang terdahulu dan menjadi budaya sosial dimana ia tinggal.

Seandainya ada pembelajaran yang bisa “mensinkronkan” pemikiran, wawasan, pengalaman di antara keduanya, inilah yang ditunggu! Bukan hanya BMI yang digembleng “mindset”nya tetapi juga keluarganya. Mungkin hal ini akan memakan waktu yang lama, namun hasilnya akan jauh lebih sempurna. Karena sesungguhnya, sebuah pembelajaran dikatakan berhasil, ketika bisa merubah seseorang dari “nobody” menjadi “somebody”. Bukan dari mewahnya fasilitas yang diberikan, bukan pula dari canggihnya materi yang disampaikan. Karena ada satu hal yang terlupakan, bahwa BMI tidak berdiri sendiri. BMI punya keluarga yang juga butuh diberdayakan.  

 

dimuat Berita Indonesia edisi Des 2012

 

Jumat, 16 November 2012

BMI HARUS SUKSES BERWIRAUSAHA

Virus entrepreneur menyebar di kalangan BMI Hong Kong. Ini buah akibat dari training atau workshop berbasis kewirausahaan yang mereka ikuti saat libur. Apapun bentuk dan tema yang disuguhkan kepada peserta di sebuah even, pasti membuahkan perubahan. Perubahan pola pikir, perubahan sikap dan tindakan, ketiga hal ini saling berkaitan satu sama lain, tidak bisa dipisahkan.


Perubahan-perubahan ini akan berimbas pada kehidupan seseorang, sebagai upaya meraih peningkatan yang lebih tinggi di segala aspek kehidupan. Hidup identik dengan gerak, berani hidup berani bergerak. Dari sekian training atau workshop yang banyak di gelar sudah mampu menggelitik hati dan pikiran BMI untuk memiliki kesadaran diri, bahwa keberadaan mereka di Hong Kong bukan hanya sebatas bekerja tetapi bisa melakukan banyak hal yang produktif.

Finansial, wawasan, ilmu dan pengalaman bertambah. Untuk itu, harus ada sesuatu yang dikerjakan di luar jam utama bekerja di majikan. Agar dapat mewujudkannya, dibutuhkan banyak elemen-elemen tertentu. Karena banyak BMI yang terpaksa “gulung koming” dan “gulung tikar” lalu kembali bekerja ke Hong Kong karena mengalami kegagalan saat menjalankan roda uasahanya. Dengan membawa “trauma” yang akut sehingga takut mencoba lagi. Mencukupkan diri dengan menerima gaji.

Fenomena ini sebagai bukti akurat, bahwa dalam dunia kewirausahaan tidak cukup dengan modal uang dan tekad, tetapi dibutuhkan banyak hal, di antaranya : analisa produk, survei pasar, biaya produksi, penjualan dll. Hal ini yang luput dari perhitungan BMI ketika menjalankan usaha. Mereka masih anut grubyuk dalam melakukan sesuatu tanpa perhitungan matang, sehingga terkesan musiman.

Dalam dunia usaha, persaingan semakin bertambah ketat. Para pelakunya harus terus mengikuti perkembangan informasi kalau tidak mau tenggelam. Memiliki visi dan misi yang tepat, sehingga biduk usaha yang dijalankan berjalan sampai di tujuan. Untung rugi dalam dunia usaha adalah hal biasa, yang luar biasa ketika seorang pelaku usaha gagal terus dalam uasahanya. Pasti ada yang salah. Untuk meminimilir kegagalan secara berulang, pelaku usaha harus segera mencari tahu letak masalahnya dengan belajar. Mengumpulkan infomasi sebanyak mungkin yang menunjang kelancaran usahanya.

Bagi BMI itu sendiri, rasanya sudah sangat memadai pengetahuan mereka dalam dunia usaha. Apapun jenis training atau workshop berbasis kewirausahaan selalu diminati. Namun pada kenyataannya, mereka masih terbelenggu dengan permasalahan yang hampir sama, yaitu : takut memulai. Solusi untuk menghindari hal ini adalah bimbingan kerja di lapangan, ketika BMI tersebut pulang ke kampung asal dan membuka usaha, atau bimbingan usaha kepada para keluarga BMI yang ada di Indonesia. Bila hal ini bisa diwujudkan, BMI yang akan, sedang membukan sebuah usaha tidak takut lagi. Setidaknya kegagalan bisa di toleransi sejak dini.

Ilmu pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang dilengkapi bimbingan kerja di lapangan, sangatlah penting. Untuk mewujudkan dan menciptakan entrepreneur-entrepreneur sejati di kalangan BMI, bukan entrepreneur musiman, maka, sejumlah “aktivis BMI” akan menggelar training berbasis kewirausahaan pada tanggal 13 Januari 2013. Bertempat di Y-Studio Lt 2. Youth Square, 238 Chaiwan Road keluar exit A. Yang akan menghadirkan Tatiek Kancaniati, seorang Social Entrepreneur, Owner dari dari Kampoeng Wisata (sebuah desa yang didalamnya terdapat 23 hingga 25 jenis usaha), penulis dan konsultan bisnis di sebuah majalah yang terbit di Hong Kong. Info lengkap bisa menghubungi Anna 96034056, Martin 67053890.


* DIMUAT KORAN BERITA INDONESIA edisi Noov 2012*




Citra Diri

“Cece, tolong jaga rumah saya. Jangan masukkan orang ke dalam rumah saya,


selama saya bepergian ya…..”

Demikianlah percakapan antara seorang BMI dengan majikannya. Seandainya itu terjadi pada rekan-rekan, apakah yang dirasakan? Apakah yang dipikirkan? Ada dua kemungkinan, marah/tersinggung atau tertunduk malu. Perkataan majikan itu, sepintas lalu terkesan menyudutkan kita sebagai BMI, apalagi selama ini, kita bekerja dengan baik. Tidak pernah neko-neko, manut, serta disiplin. Mendengar majikan berkata begitu, ada yang mengganjal di hati kita pastinya : dongkol!. Timbul rasa marah, kecewa dan tersinggung, lalu kita teringat riwayat kerja sekian tahun bersamanya.

“Ada sebab pasti ada akibat, tidak ada yang muncul tiba-tiba di dunia ini”. Sebuah pepatah, yang perlu kita renungkan dan membuat kita tersadar karenanya. Marah, kecewa dan sedih yang sempat bercokol dalam hati dan pikiran kita berangsur menurun. Kemungkinan majikan dengar dari kawan-kawannya tentang seorang BMI yang telah memasukan orang lain ke dalam rumahnya. Atau, bisa jadi majikan kita terlalu tegang untuk bepergian dalam kurun waktu yang cukup lama, meninggalkan pembantunya sendirian di rumah. Hal ini bisa terpacu dari pola hidup atau kultur budaya.

Penduduk Hong Kong mempunyai kebiasaan suka tegang dan kehati-hatian yang berlebihan yang berakhir curiga. Entah karena kesibukan kerja yang sangat tinggi atau karena sifat individu orangnya. Sangat penting kita menyadari hal itu, sehingga mampu meredam rasa yang mengganjal di hati. Seandainya kita yang menjadi majikan, lalu orang yang kita percaya menyalahgunakan kepercayaan tersebut, pasti kita sedih, kecewa dan marah juga.

Dengan memahami jalan pikiran majikan, rasanya, kita tidak perlu berlama-lama dalam kekecewaan. Justru hal ini bisa kita jadikan motivasi diri untuk bekerja lebih baik lagi. Menunjukkan bahwa kita bukanlah seperti apa yang majikan pikirkan atau curigakan. Bukan hal yang sulit bagi kita untuk melakukan hal-hal negatif di rumah majikan ketika mereka tidak di rumah atau ketika kita sedang libur, benarkan?

“ Hai cece, saya melihat ada BMI yang pergaulannya luar biasa sekali sama orang asing. Kamu jangan sampai kayak gitu ya?! Ternyata orang Indonesia itu kayak gitu ya..”

Satu percakapan antara majikan dan seorang BMI di sebuah kendaraan. Hanya beberapa orang yang berbuat, semua kena sasaran getahnya. Kalau di pikir, ini adalah hak pribadi! Tidak ada hak orang lain untuk ikut campur urusan kita, mau majikan, saudara, teman atau siapapun. Ini hidup kita! Suka-suka kita! Yah, betul! Tidak ada hak orang lain ikut campur urusan kita.

Namun, ada satu hal yang belum kita sadari atau mungkin terlupakan. Ternyata, kehadiran kita di Hong Kong ini bukan hanya membawa nama diri sendiri, tetapi juga membawa nama keluarga dan Bangsa Indonesia. Seringkali, orang Hong Kong mengkait-kaitkan diri kita dengan negara asal kita. Padahal keberadaan kita hanya ingin bekerja agar memiliki penghidupan yang lebih baik dari sekarang. Suka duka, hanya kita yang tahu, seringkali, Bangsa kita tidak peduli. Apakah kita mendapatkan perlakuan yang baik dari majikan? Apakah kita mendapatkan hak-hak kita dari majikan? Apakah keluarga kita aman-aman saja setelah kita tinggalkan? Kitalah yang merasakan. Kecuali kalau, salah satu dari kita mengalami peristiwa besar di perantauan (meninggal, pelecehan, kekerasan, sakit), barulah Bangsa Indonesia turun tangan.

Anehnya, setiap perbuatan yang kita lakukan baik positif ataupun negatif, pasti disangkut pautkan dengan negara kita, Indonesia. Kenapa ya? Apakah ini yang dinamakan ikatan batin antara warga/rakyat dengan bangsanya? Terlepas, apakah bangsa tersebut peduli dengan rakyatnya atau tidak. Ikatan inilah yang ternyata dilihat oleh orang Hong Kong. Secara tidak sadar, keberadaan kita bukan hanya sebagai BMI saja yang niatnya hanya bekerja mencari uang tetapi lebih dari itu, ternyata kita juga dilihat sebagai duta bangsa.

Duta bangsa/perwakilan negara yang tinggal di setiap flat-flat yang penghuninya(majikan) mengambil kita untuk membantunya menyelesaikan tugas-tugas yang ia tidak mampu kerjakan karena kesibukan kerja. Ada majikan yang memberikan kepercayaan penuh pada kita, ada yang separuh saja kepercayaannya dan ada yang selalu curiga. Apapun itu, sudah resiko dalam bekerja. Semua kembali pada kita bagaimana menyingkapinya. Setiap orang tidak sama cara berpikir dan tindakannya.

Ketika kita tahu, bahwa keberadaan kita di Hong Kong bukan hanya sebagai BMI, apakah yang akan kita lakukan? Ternyata, citra bangsa ada di pundak setiap warganya tak peduli apapun statusnya termasuk BMI. Sekarang, semua kembali kepada pribadi masing-masing. Mau diisi dengan apa hidupnya, kembali pada yang pelakunya. Yang pasti, apapun perbuatan kita, selalu akan dapat sorotan baik secara langsung atau tidak langsung. Menjadi penilaian banyak orang, di Hong Kong ataupun di Indonesia. Tanpa membaca sumpah kerja, tanpa mendapatkan pelayanan yang memuaskan, tanpa mendapat perlindungan yang optimal, kita tetap punya tanggung jawab menjaga citra bangsa.

Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, sukarela atau terpaksa. Setiap jengkal langkah kaki ini ada citra bangsa. Wajahnya tercermin pada wajah kita. Keramahan, kejujuran, kebaikan, kesabaran dan ketelatenan serta kekreativan, tercermin pada segala tindak tanduk kita. Apakah kita sudah siap menjadi duta bangsa?



* dimuat koran BERITA INDONESIA edisi November 2012*

Rabu, 31 Oktober 2012

PILIHAN HIDUP

“Aku ingin berubah. Sudah 12 tahun kerja
 di Hong Kong,aku nggak punya apa-apa.            
Aku mau berubah…”



Mungkin ada di antara kita yang pernah bahkan sering mendengar kalimat-kalimat seperti itu. Sebuah keinginan untuk berbenah dari kehidupan yang belum terarah karena salah kaprah. Salah kaprah dalam berpikir, bersikap dan bertindak, sehingga hidupnya terisi dengan hal-hal yang kurang produktif. Menyia-yiakan uang, waktu, tenaga dan pikiran. Kenapa?

Banyak hal yang menjadi faktor kenapa seseorang hidup seperti air mengalir ikut arus kemana akan membawanya. Tidak peduli tentang masa depannya. Yang penting masa sekarang bisa mereguk kesenangan untuk melepas segala kepenatan kerja, keruwetan masalah keluarga, kekhawatiran tentang usaha dll. Bersenang-senang selagi muda, selagi masih ada tak mau ribet tentang nantinya. Yang penting happy dan happy.

Kebahagiaan menyertainya. Hidup glamour di kota metropolitan sebesar Hong Kong sangat menyenangkan, menggairahkan, meyilaukan dan dielu-elukan oleh sebagian orang, terlepas bagaimana cara mendapatkannya. Berpesta pora, berbelanja sesuatu mengikuti tren yang ada, berganti HP yang terbaru dan tercanggih agar kelihatan wah dari yang lainnya. Uang kurang ,tempat peminjaman selalu welcome terbuka dengan persyaratan yang mudah. Mau apa lagi? Hidup cuma sekali harus dinikmati oei….! Mungkin ini yang menjadi pemikirannya. Simple!

Benarkah sesimple itu? Ketika usia kita bertambah dan tak kuat lagi bekerja, sedang kita belum punya apa-apa, simplekah itu? Ketika uang kita habis untuk berhura-hura dan tiba-tiba majikan nggak mau kita, simplekah itu? Ketika kesehatan kita ternganggu karena suatu penyakit yang kita indap yang disebabkan pola makan dan pola hidup salah, lalu majikan memulangkan kita dalam keadaan ringkih, simplekah itu? Ketika kita lupa kodrat kita yang sesungguhnya lalu terjerumus pada kehidupan ab normal dan keluarga tahu lalu mengucilkan kita, simplekah itu? Ketika kita dikejar-kejar deep kolektor karena nggak mampu bayar cicilan utang di bank yang akhirnya diterminate, simplekah itu? Jawablah dengan jujur!

Masihkan kita akan berkata dengan bangganya “I’m happyyy……..!!!”

Penyesalan tiada guna, menangis air mata darah pun percuma. Tinggal keping-keping derita yang tersisa. Masa depan tetap bahkan semakin suram. Niat untuk kaya, sukses dan bahagia tinggal isapan jempol belaka. Waktu yang telah berlalu tak mungkin kembali pula. Mau menyalahkan siapa? Kawan, majikan, situasi dan kondisi, keluarga atau mungkin diri sendiri? Tak ada sesuatupun yang ingin disalahkan walau itu diri sendiri. Akan ada sanggahan-sanggahan yang oleh sebagian orang dikatakan sebagai suara hati, dan sedikit sekali yang mendengarkan ketika suara-suara itu muncul mengingatkan, jauh-jauh hari sebelum mengalami kejatuhan.

Ketika suara itu menegur untuk melakukan hal yang baik, benar dan berguna, tidak dipedulikan malah diremehkan. Ditekan dan dibantah dengan argumentasi-argumentasi yang akhirnya justru membuat diri sendiri terjatuh dalam kubangan penderitaan dan kehinaan. Apa yang didapat dalam kehidupan berbanding lurus dengan apa yang lakukan oleh seseorang. Gaji dibelanjakan untuk apa, waktu luang diisi dengan kegiatan apa, komunitas macam mana yang menjadi tujuan saat liburan dll. Faktor-faktor ini sebagai pendukung perolehan dalam hidup yang dilakoni, maju atau mundur, sukses atau gagal, bangkrut atau berjaya. Tindakan turut andil didalamnya, sayangnya tidak disadari. Menuruti ajakan-ajakan yang sepintas lalu indah, bahagia dan nikmat. Terlena, terpesona, terkesima dibuatnya. Terbuai hingga kita lupa diri, tepatnya lupa tujuan hidup.

Kawan, ada banyak orang ingin berubah ketika merasakan hidupnya hambar, galau dan stagnan. Namun sayangnya, ia tetap melakukan tindakan yang sama dari tahun ke tahun, meskipun ia sadar bahwa apa yang dilakukannya tidak mendukung keinginannya untuk berubah. Ia tetap membiarkan hidupnya dihandle orang lain, situasi dan kondisi. Tidak mau membuka pikiran dan hati hanya sekedar berkata ingin. Ini hanya mimpi yang tidak akan pernah terwujud!

Perubahan dalam berbagai aspek kehidupan akan terwujud bila kita melakukan hal-hal yang mendukung keinginan untuk berubah. Tidak cukup hanya dengan omongan. Tidak lagi menjadikan apapun keadaannya sebagai alasan tetapi menjadikan keadaan tersebut sebagai pendorong untuk terus maju. Seperti kata pepatah, “Orang sukses selalu kelebihan satu cara dan orang gagal selalu kelebihan satu alasan”. Sukses meliputi banyak hal. Bisa merubah kehidupan yang dulunya porak poranda menjadi lebih tertata, adalah kesuksesan. Kawan, mari kita sejenak bertanya kepada diri sendiri, kualitas seperti apa yang kita ingini. Kita cross check, semua tindakan keseharian kita, apakah mendukung kualitas hidup kita atau justru menghancurkannya. Apa yang menjadi pilihan kita, itulah hidup kita.
                                         DIMUAT DI TABLOID APA KABAR










Senin, 03 September 2012

HIDUPKU, GURUKU


“Sudah banyak buku yang saya baca. Sudah bermacam seminar yang saya hadiri. Malah membuat saya pusing. Saya bingung harus melakukan saran yang mana..”



Pernahkan rekan-rekan mengalami hal ini? Apakah berarti banyak belajar itu jelek pengaruhnya? Menjadikan kita bingung? Nyantai saja kawan’s…

Bingung adalah suatu hal yang wajar dalam pembelajaran. Bingung karena kita baru pertama kali mendengar ilmu/inforamsi dari pembicara maupun penulis buku yang karyanya kita baca. Bingung adalah frase dimana kita dituntut untuk berpikir. Bingung karena timbul banyak pertanyaan dalam diri kita dengan pengetahuan baru. Kita tidak akan menjadi bingung setelah kita benar-benar paham apa yang dimaksud si pembicara /penulis buku. Dan itu butuh waktu! Ini alasan pertama kenapa kita bingung, karena belum paham.

Alasan kedua, kita bingung adalah karena kita mencampuradukan semua ilmu/informasi ke dalam otak secara bersamaan dengan harapan kita cepat jadi pintar. Yang terjadi malah justru sebaliknya, over cup! Tidak ada ilmu yang masuk sama sekali. Semua meluber kemana-mana dan kita tidak dapat apa-apa. Sering mengalami hal itu? Solusinya adalah, ketika belajar pada satu guru, maka sebaiknya kita kosongkan pikiran dan hati kita. Apapun pengetahuan yang telah kita punya ditaruh dan disimpan dulu untuk bank/gudang ilmu/informasi. Sayangnya, kita seringkali membawa gelas yang penuh ke suatu seminar atau ketika sedang membaca buku yang baru kita dapat, sehingga waktu kita hanya terbuang sia-sia untuk menganalisa.

Alasan ketiga adalah karena kita tidak sabar dalam mengelola ilmu/informasi. Kita mau bim salabim adakadabra langsung pintar langsung jadi.

Kawan’s, belajar apapun butuh proses. Kita harus mau melewati dan menikmatinya dengan kesadaran penuh. Belajar adalah proses. Seperti halnya dengan kisah kita diwaktu bayi. Awalnya hanya bisa terlentang, lalu tengkurap, miring, duduk, berjalan dan akhirnya berlari. Ada proseskan? Ketika kita sudah bisa, kita jadi lupa akan prosesnya. Demikianlah kenyataanya….

Belajar sangat penting bahkan wajib hukumnya. Dengan belajar kita jadi tahu. Dengan belajar kita jadi maju. Namun sayangnya, pembelajaran-pembelanjaran yang selama ini kita ikuti hanya menjadi pengetahuan saja. Kenapa? Karena kita tidak mengaplikasikan dalam kehidupan pribadi kita. Akhirnya ilmu hanya lewat begitu saja. Esoknya, kita sudah lupa kemarin belajar apa. Demikian seterusnya, tidak ada manfaat yang dirasakan kecuali hanya sebatas tahu. Bukan mengerti apalagi paham. Kalau pembelajaran yang kita ikuti difasilitasi dengan embel-embel sertifikat, akan membuat kita bangga. “Ini lho, aku sudah ikut seminar itu. Pembicaranya si itu. Ini buktinya, aku punya sertifikatnya”.

Sertifikat ini kadang menjadi tujuan utama orang datang ke seminar. Sertifikat memang penting sebagai suatu tanda bukti tentang moment penting yang pernah kita ikuti. Namun bila itu tujuan awal kita, hasilnya akan sia-sia. Sertifikat adalah pengingat bahwa kita pernah belajar pada si A, B atau C dan motivasi untuk mengamalkan ilmu/informasi yang kita pelajari kepada orang lain.

Apakah sebuah sertifikat bisa dijadikan jaminan seseorang benar-benar belajar? Belum tentu! Lalu bagaimana kita bisa tahu bahwa seseorang itu belajar? Lihatlah sikap dan tindakannya. Sebuah pembelajaran akan selalu menyisakan sesuatu yang membekas dalam pikiran dan hati seseorang, yang mampu membuatnya berubah baik cepat maupun lambat. Ia benar-benar menikmati perubahan hidupnya. Biasanya perubahan diawali dari cara berpikir yang akhirnya mempengaruhi jenis sikap dan tindakan. Ia memiliki pemikiran baru meskipun berada dalam pengkondisian sama dengan yang dulu ketika ia belum belajar. Seperti misalnya, ia bekerja pada majikan yang sangat disiplin tentang waktu. Yang dulunya ia sangat tersiksa dengan peraturan itu, kini setelah belajar, ia bisa menemukan sisi positif dari sebuah kedisiplinan. Hasil temuannya bisa berupa menghargai waktu, patuh dll.

Perubahan akan membawa kita menjadi pribadi baru dengan pemikiran baru yang menunjang kesuksesan hidup. Bisa menempatkan diri dengan baik, bisa meningkatkan kualitas di tempat kerja, bisa melakukan segala sesuatu sesuai porsinya. Bila hal ini bisa tercapai, tidak akan ada permasalahan di tempat kerja, dalam pertemanan, dalam bisnis, hubungan keluarga dan masih banyak lagi. Hidup jadi mudah dan nyaman. Tidak ada konflik dengan orang lain terutama konflik dengan diri sendiri, karena ini yang berbahaya. Dengan ilmu yang kita peroleh saat belajar lalu sungguh-sungguh mengaplikasikan (baca=mengijinkan), kita akan menemukan banyak hal dalam diri kita sendiri. Yang dulunya tidak terlihat oleh kita, tepatnya oleh pikiran kita, jadi tampak jelas.

Semakin kita mencari ke dalam diri, semakin banyak temuan menarik yang akan menimbulkan rasa syukur, betapa Tuhan ciptakan kita tidak untuk sebuah kesia-siaan. Semakin bereksploitasi, kita menjadi sadar, begitu berharganya diri kita. Begitu kayanya diri kita dengan pemikiran-pemikiran baru hasil dari sebuah pembelajaran. Tidak lagi rendah diri, suka emosi, mencari atau memperbesar masalah dll.

Terlebih tidak bingung mau mengaplikasikan ilmu yang mana. Kita sudah bisa memilih dan memilah ilmu sesuai kebutuhan yang ada. Apapun yang terjadi di masa lalu yang tidak mengenakkan, kita bisa menemukan banyak hikmah dan pelajaran atau orang sebut dengan pengalaman.

Belajar kepada seorang guru hanya ketika kita bertemu. Kita lebih punya banyak waktu bersama diri kita sendiri (baca=hidup). Dalam suka maupun duka. Gagal maupun sukses. Ada pelajaran yang tertoreh di sana. Di dalam diri kita. Di dalam hidup kita. Yach, hidup kita adalah guru kita!. Guru-guru yang lain hanya sebagai fasilitator untuk pengenalan terhadap diri kita sendiri, dengan ilmu/informasi yang mereka bagi.


*DIMUAT KORAN BERITA INDONESIA EDISI SEPTEMBER 2012*

Kamis, 23 Agustus 2012

PRODUK TB ON LINE





Hong Kong, Ku Terpesona

Bicara tentang HongKong membuat kita akan banyak berpikir, setidaknya akan membawa angan kita menuju ke Tanah Air. Sesuatu yang dulunya tidak berarti jadi sangat berarti. Yang dulunya tidak tahu jadi tahu. Yang dulunya benci jadi suka. Yach, Hong Kong negara dengan 1000 ilmu dan kekreativan, itu menurut saya.


Banyak benda-benda di Indonesia dibiarkan begitu saja, ternyata di Hong Kong mampu menghasilkan uang, misal : tumbuh-tumbuhan dan hewan tertentu yang sudah mati. Dijadikan ramuan jamu godok, bahan masakan dll. Kok bisa?

Karena orang Indonesia tidak tahu kegunaannya sedangkan orang Hong Kong tahu manfaatnya.

Ditilik dari wilayah, Hong Kong tak seluas Indonesia. Hong Kong tak sekaya Indonesia, tapi Hong Kong mampu menyedot tenaga kerja Indonesia. Hong Kong tidak memiliki kekayaan alam yang berarti dibanding Indonesia, namun kehidupan rakyatnya sejahtera. Peralatan serba listrik ada dimana-mana. Kemudahan-kemudahan baik dari segi peralatan dan pelayanan menjadi satu hal yang lumrah, misal : kereta bawah tanah (MTR). Kemanapun tujuan bepergian, bisa dicapai dengan mudah dan tepat waktu. Tidak ada istilah “jam karet”, itu hanya berlaku diwilayah Indonesia. Oh, mungkin MTR itu terlalu mewah mengingat situasi dan kondisi di Indonesia, kita ambil contoh lain yang di Indonesia juga ada : Bus

Di Hong Kong banyak tersedia alat transportasi ini, baik di perkotaan atau daerah pedesaan. Bedanya hanya bentuknya yang bertingkat, tidak pakai kondektur, ada halte disetiap pemberhentian dan tentunya tepat waktu. Bagaimana dengan di Indonesia? Kita harus siapkan diri sabar menunggu. Belum lagi cara supirnya yang ugal-ugalan ditengah jalan karena rebutan penumpang.

Hal lain lagi, tentang kebiasaan/sikap seperti : disiplin, jujur, kreatif dll. Semua berjalan dengan apik. Disiplin pada peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati. Semua elemen patuh menjalankan, tak peduli dia pejabat atau rakyat biasa. Justru pejabat tidak berani sedikitpun melanggar peraturan tersebut kalau tidak mau malu karenanya. Tidak berbuat sewenang-wenang dengan kekuasaannya. Seperti masalah waktu, antre, menyeberang jalan, membuang sampah, merokok pada tempat yang disediakan dan amsih banyak lagi.

Dalam hal kejujuran, menjadi hal yang sangat penting. Tanpa kejujuran, semua jadi kacau karena banyak yang akan melakukan pencurian hak-hak orang lain seperti korupsi. Bila seorang pejabat di Hong Kong melakukan itu, pasti langsung mengundurkan diri daripada aibnya diketahui atau masyarakat yang akan menyuruhnya untuk turun. Kejujuran menjadi hal yang sangat mutlak adanya. Tidak bisa ditawar atau dibeli dengan kekuasaan. Semua patuh pada peraturan, siapa salah dia harus menanggung akibatnya. Apakah ini berlaku di Indonesia? Kekuasaan bukan menjadi alat untuk pengabdi pada negeri tetapi sebagai kendaraan pemuas nafsu pribadi.

Hong Kong, negara kecil yang terus berbenah untuk maju. Dengan segala kekreativitasan, kejujuran, kedisiplinan semua pasti bisa terwujud. Inilah yang perlu ditiru.

Minggu, 19 Agustus 2012

CERPEN

Demi Sahabat


Oleh : Abdul Mu’id

(putra Anna Nirwana)





Pagi itu, aku terbangun dengan mata yang sembab dan membengkak. Semalam aku menangis di kamar sampai ketiduran. Entah berapa lama aku berderai air mata. Yah, aku baru saja mengalami kejadian yang membuat aku begitu sakit. Seorang cewek yang tanpa sengaja masuk dalam kehidupanku kini malah menghancurkan semuanya......

Aku mengenal Dinda dari Husni, teman dekatku. Kebetulan tiap malam Dinda latihan silat di samping Pon Pes tempat ku mengaji kala malam hari. Awalnya aku biasa saja dengan kehadirannya.Tapi hari-hari berikutnya, Dinda memulai kedekatan kami dengan sekedar menitip salam padaku. Nggak ada yang spesial memang, tapi hari-hariku mulai terasa indah dengan keberadaanya.

Hanya saja kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Disaat aku mulai menyukainya, tak ku sangka Dinda malah mengalihkan perhatiannya pada Husni. Aku bener-bener nggak tau harus berbuat apa. Tentu saja aku tak bisa menyalahkannya karna ini memang hak mereka. Aku mencoba ikhlas dengan hubungan mereka. Aku berusaha tegar dan mendukung hubungan mereka meski sebenarnya hatiku begitu sakit. Itu semua aku lakukan karna aku masih menghargai Santi sebagai sahabatku.

Aku memilih mengalah daripada harus kehilangan sahabat hanya karna seorang cewek, tapi hati kecilku masih tetap mengharapkan Dinda . Meski pacaran sama Husni, tapi nyatanya Dinda nggak pernah absent menghubungiku, baik melalui sms ataupun telpon. Aku bingung harus bersikap bagaimana. Karna rasa ikhlasku lah yang kini menuntunku untuk tetap berhubungan dengan Dinda. Jujur saat itu aku benar-benar telah merelakan Dinda. jadi apa salahnya jika aku menerima telpon dan smsnya.

Sayangnya pikiranku masih terlalu dangkal untuk menyikapi hal itu. Kedekatanku dengan Dinda yang telah ku anggap “teman” itu membuat Husni cemburu. Ia mengira Dinda selingkuh dan akulah selingkuhannya! Kini antara aku dan Husni serasa ada pemisah yang membuat kami tak lagi bisa seakrab dulu. Ada rasa canggung saat kami ngobrol,seperti orang baru kenal.

Hampir dua tahun lamanya aku tak pernah bertemu lagi dengan Dinda sejak saat itu. Ia tak pernah lagi menghubungiku, atapun Husni. Dinda seperti menghilang di telan bumi. Akupun perlahan bisa menghapusnya dari ingatanku dan Husni juga telah kembali seperti sedia kala, meski sekarang ia agak tertutup soal cewek.

Kini hari-hariku semakin berwarna setelah berhasil lolos seleksi dan masuk di SMP favorit di kota ku. Yach, menjadi anak baru tentunya bukan hal yang gampang. Karna aku termasuk anak yang sulit beradaptasi. Aku terlalu cuek dengan apa yang ada di sekitarku, namun kini aku telah memiliki beberapa teman akrab, tapi hanya satu yang kurasa telah benar-benar akrab, namanya Alfandy. Dia temen sebangku ku.

Anaknya cukup asyik, meski terkadang ada saat-saat dimana aku merasa muak padannya. Ada bberapa sifatnya yang tak ku suka. Dia terlalu pede dan kalau ngomong asal njeplak aja. Uukh..! Yang paling bikin aku sebel saat bersamanya, bila bila melihat cewek cantik dikit aja langsung kayak ikan kena pancing. Klepek-klepek nggak jelas!,mending kalau di niati satu cewek, Nach ini, tiap ada cewek selalu saja tingkahnya begitu. Bikin aku tambah muak tapi mau diapain juga dia tetap temen terbaikku (untuk saat ini).

Entah mimpi apa yang ku dapat semalam, pagi itu aku shock setengah mati dengar cerita Alfandy soal cewek barunya. Cewek itu, Dinda!! Dinda yang ku kenal beberpa tahun lalu. Yang telah hilang dari kehidupanku setelah menorehkan luka di hatiku, aku tak habis pikir ! Aku memang telah mengenalkan Alfandy pada temanku yang posisinya juga sebagai temen akrabnya Dinda, tapi aku nggak pernah berpikir semua ini bakal salah alamat.

Justru Dindalah yang kini berpacaran dengan Alfandy. Oh God! Semoga waktu sedang bercanda..! Aku nggak mau kejadian itu terulang kembali. Aku takkan sanggup jika harus mengulangnya, berpura-pura tegar seperti dulu. Aku muak!! Tapi kenyataanya kini, mereka memang pacaran. Tak ada yang bisa ku lakukan selain merelakan mereka. Sama seperti yang ku lakukan dulu, demi sahabat !



CERPEN

Arti Persahabatan Bagiku


Oleh : Abdul Mu’id

(Putra Anna Nirwana)





Bagiku arti persahabatan adalah teman bermain dan bergembira. Aku juga sering berdebat saat berbeda pendapat. Anehnya, semakin besar perbedaan itu, aku semakin suka. Aku belajar banyak hal. tapi ada suatu kisah yang membuat aku berpendapat berbeda tentang arti persahabatan. Saat itu, papa mamaku berlibur ke Bali dan aku sendirian menjaga rumah...

“Hahahahaha!” aku tertawa sambil membaca.

“Beni! Katanya mau cari referensi tugas kimia, malah baca komik. ini aku menemukan buku dari rak sebelah, mau pinjam atau tidak? Kamu bawa kartukan? Pokoknya besok Kamis, semua tugas kelompok pasti selesai, asal kita kerjakan malam ini. Yuhuuuu... ,setelah itu bebas tugas. Play Station!”jelas Judi dengan nada nyaring.

Judi orang yang simpel, punya banyak akal, tapi banyak juga yang gagal, hehehe..

Dari kelas 1 SMP sampai sekarang duduk di kelas 2 - aku sering sekelompok, beda lagi kalau masalah bermain PlayStation – Judi jagoannya. Rasanya seperti dia sudah tahu apa yang bakal terjadi di permainan itu. Tapi entah kenapa, sekalipun sebenarnya aku kurang suka main Play Station, gara-gara Judi, aku jadi ikut-ikutan suka main game.

Sahabatku yang kedua adalah Bang Jon, nama sebenarnya Jonathan. Bang Jon pemberani,badannya besar karena sehari bisa makan lima sampai enam kali. Sebentar lagi dia pastidatang,nah,sudahkudugadiadatangkesini.

“Kamu gak malu pakai kacamata hitam itu?” tanyaku pada Bang Jon yang baru masuk ke perpustakaan. Sudah empat hari ini dia sakit mata, tapi tadi pagi rasanya dia sudah sembuh. Tapi kacamata hitamnya masih dipakai. Aku heran, orang ini benar-benar kelewat pede. Aku semakin merasa unik dikelilingi dua sahabat yang over dosis pada berbagai hal.

Kami pulang bersama berjalan kaki, rumah kami dekat dengan sekolah, Bang Jon dan Judi juga teman satu komplek perumahan. Saat pulang dari sekolah terjadi sesuatu.

Kataku dalam hati sambil lihat dari kejauhan,” Eh,itu..?”. Aku sangat kenal dengan rumahku sendiri. Aku mulai ketakutan saat seorang asing bermobil terlihat masuk rumahku diam-diam. Karena semakin ketakutannya, aku tidak berani pulang ke rumah.

“Ohh iya itu!” Judi dan Bang Jon setuju denganku. Judi melihatku seksama, ia tahu kalau aku takut berkelahi. Aku melihat Judi seperti sedang berpikir tentangku dan merencanakan sesuatu.

“Oke, Beni, kamu pergi segera beritahu satpam sekarang, aku dan Bang Jon akan pergoki mereka lewat depan dan teriak maling, pasti tetangga keluar semua” bisikan Judi terdengar membuatku semakin ketakutan tak berbentuk.

Karena semakin ketakutan, terasa seperti sesak sekali bernafas, tidak bisa terucapkan kata apapun dari mulut.

“Beni, ayo, satpam” Judi membisiku sekali lagi.

Aku segera lari ke pos satpam yang ada diujung jalan dekat gapura, tidak terpikirkan lagi apa yang terjadi dengan dua sahabatku. Pak Satpam panik mendengar ceritaku, ia segera memberitahu petugas lainnya untuk segera datang menangkap maling dirumahku.

Aku kembali kerumah dibonceng petugas dengan motornya. Sekitar 4 menit lamanya saat aku pergi ke pos satpam dan kembali ke rumahku.

“Ya Tuhan!” kaget sekali melihat seorang petugas satpam lain yang datang lebih awal dari pada aku saat itu sedang mengolesi tisu ke hidung Bang Jon yang berdarah. Terlihat juga tangan Judi yang luka seperti kena pukul. Satpam langsung menelpon polisi akibat kasus pencurian ini.

“Jangan khawatir, kita berdua berhasil menggagalkan mereka. Tadi saat kami teriak maling, ternyata tidak ada tetangga yang keluar rumah. Alhasil, maling itu terbirit-birit keluar dan berpapasan dengan ku. Ya akhirnya kena pukul dech. Judi juga kena serempet mobil mereka yang terburu-buru pergi” jawab Bang Jon dengan tenang dan pedenya kepadaku.

Kemudian Judi membalas perkataan Bang Jon “Rumahmu aman, kita memergoki mereka saat awal-awal, jadi tidak sempat ambil barang dirumahmu.”

Singkat cerita, aku mengobati mereka berdua. Mama Judi dan mamanya Bang Jon datang kerumahku dan kami menjelaskan apa yang tadi terjadi. Anehnya, peristiwa adanya maling ini seperti tidak pernah terjadi.

“Hahahahaha... “Judi malah tertawa dan melanjutkan bercerita tentang tokoh kesayangannya saat main Play Station. Sedangkan Bang Jon bercerita kalau dia masih sempat-sempatnya menyelamatkan kacamata hitamnya sesaat sebelum hidungnya kena pukul. Bagaimana caranya? aku juga kurang paham. Bang Jon kurang jelas saat bercerita pengalamannya.

“Hahahahaha... ” Aku tertawa dalam hati karena mereka berdua memberikan pelajaran berarti bagiku. Aku tidak mungkin menangisi mereka, malu dong sama Bang Jon dan Judi. Tapi ada pelajaran yang kupetik dari dua sahabatku ini.

Arti persahabatan bukan cuma teman bermain dan bersenang-senang. Mereka lebih mengerti ketakutan dan kelemahan diriku. Judi dan Bang Jon adalah sahabat terbaikku. Pikirku, tidak ada orang rela mengorbankan nyawanya jika bukan untuk sahabatnya ( Judi dan Bang Jon salah satunya ).




CERPEN

Kerajaan Langit


Oleh : Abdul Muid & Anna Nirwana



Pada zaman dahulu kala, hiduplah sepasang suami istri. Mereka berdua tinggal di tengah hutan bersama hewan-hewan yang ada di hutan. Si suami bernama Shino, sedangkan istrinya bernama Cauri. Mereka memelihara banyak hewan di hutan, diantaranya Kelinci, Jerapah, Gajah, Rusa, Tikus, dan masih banyak lagi. Anehnya, hewan tersebut bisa berbicara layaknya manusia. Mereka hidup rukun dan damai. Tak ada satupun manusia yang hidup di hutan tersebut, kecuali mereka berdua. Sudah dua tahun mereka menikah, tapi belum juga dikaruniai seorang anak.

Sang istri sangat sedih dan merasa bersalah karena tak bisa memberikan keturunan. Tapi, Shino terus menghibur istrinya dan selalu berdo’a agar mereka diberikan seorang anak. Pada suatu hari, Shino hendak pergi ke hutan untuk mencari buah dan sayuran segar. Ia tidak pergi sendiri, tapi ditemani oleh hewan lainnya. Tinggallah Cauri sendirian di rumah. Pada saat Cauri hendak menjemur pakaian, tiba-tiba saja ada cahaya dari langit yang menerangi Cauri. Cahaya tersebut menyinari Cauri dan membuat matanya menjadi silau. Cauri sangat kaget, dan lari ketakutan ke dalam rumah. Cahaya itupun menghilang dengan sekejap mata.

Tak lama sesudahnya, Shino sampai dirumah dengan membawa sekeranjang buah dan sayuran segar untuk disantap hari ini. Cauri sangat senang, sehingga ia lupa dengan kejadian yang tadi. “Suamiku, banyak sekali engkau mendapatkan buah dan sayuran ini,” kata Cauri senang

.“Benar, ini berkat si Jerapah yang membantuku memetik buah yang sangat tinggi,” jawab Shino.

“Terima kasih Jerapah, engkau baik sekali,” kata Cauri dengan tersenyum.

“Ah, itu belum apa-apa dibandingkan jasa kalian yang sudah merawat dan mau menampungku,” jawab Jerapah sedikit malu. Mereka tertawa bersama dan makan dengan riang gembira.

Esoknya, Cauri sangat kaget sekaligus gembira. Apa yang diidamkan Cauri dan Shino akhirnya terkabul. Sebentar lagi mereka akan mempunyai seorang anak. Mereka sangat gembira, karena akan adanya anggota baru dalam hidup mereka. Sembilan bulan kemudian, lahirlah seorang bayi laki-laki mungil dan sangat tampan. Anak yang mereka nantikan akhirnya datang juga. Anehnya, warna kulit bayi tersebut berwarna sangat terang, seperti cahaya. Oleh karena itu, mereka memberinya nama Akarui yang artinya terang. Hidup mereka sangat damai dan tenang. Cauri, Shino selalu merawat Akarui dengan hati-hati.

Ternyata kegembiraan dan kedamaian tidak berlangsung lama. Hutan yang mereka tempati sangatlah subur dan bagus untuk membangun suatu wilayah. Oleh karena itu, banyak sekali kerajaan yang ingin mengambil daerah tersebut. Tapi, yang berhasil masuk ke wilayah itu hanya tiga kerajaan. Merekapun berebut ingin menguasai daerah tersebut. Shino dan lainnya sangat resah dengan keberadaan tiga kerajaan itu. Sepertinya mereka ingin berperang. Shino tidak mau memberikan hutan itu kepada Raja. Hal itu membuat ketiga raja tersebut marah besar dan mengepung mereka. Raja mengancam Shino apabila ia tidak memberikan hutan itu.

“Kalau kau tak mau memberikan hutan ini kepadaku, maka kau, istrimu, anakmu, beserta hewan peliharaanmu akan kubunuh,” gertak Raja.

Shino hanya bisa diam, sebab tak mungkin ia melawan kepada Raja yang mempunyai banyak prajurit. Perangpun terjadi. Tiga kerajaan tersebut berperang di hutan tempat Shino tinggal.

Shino mencari akal, bagaimana supaya bisa terbebas dari kepungan perang. Ia tak mau anak dan istrinya terluka. Akhirnya Shino menemukan tempat yang aman untuk berlindung, yaitu di sebuah gunung yang sangat tinggi, tingginya melebihi langit.

“Istriku, aku punya ide,” kata Shino.

“Ide apa?” tanya Cauri sedikit ketakutan.

“Bagaimana kalau kita mendaki gunung itu sampai ke puncak, kita akan aman disana,” kata Shino sambil menunjuk ke gunung tersebut.

“Baiklah, tak ada pilihan. Walau bagaimanapun kita harus sampai ke puncaknya. Agar kita semua bisa selamat,” jawab Cauri.

Semua setuju, tanpa pikir panjang, mereka langsung menuju ke gunung tersebut dengan diam-diam. Saking sibuknya sang Raja, sehingga ia lupa kalau Shino dan lainnya sudah pergi. Akhirnya mereka sampai dipuncak gunung. Puncaknya sangat curam dan berbahaya. Banyak sekali awan berkumpul di puncak gunung, sehingga mereka tak bisa menyaksikan perperangan.

Sewaktu si Kelinci ingin berpindah tempat, ia terjatuh di atas awan yang lembut. Anehnya awan tersebut tidak lunak, melainkan keras dan bisa berdiri di sana. Shino dan lainnya sangat kaget, ini aneh bin ajaib. Awan tempat kelinci berdiri sama seperti tanah. Si Kelinci langsung memanggil Shino.

“Hai, kawan. Disini awannya sangat keras, aku bisa berdiri di sini,” kata si Kelinci riang.

Shino dan lainnya langsung melompat, meski awalnya merasa canggung, namun mereka merasa senang.

Ketiga Raja baru sadar kalau Shino dan keluarganya serta yang lain sudah pergi. Betapa marahnya ketiga Raja tersebut. Ketiganya menyuruh prajurit mereka untuk mencari Shino dan keluarganya. Setelah mencari beberapa jam, tak ada hasil. Sewaktu Raja melihat ke awan, ia melihat Shino dan lainnya di sana. Raja geram dan menyuruh prajuritnya untuk memanahi mereka.

Shino, Cauri, Akauri, dan para hewan langsung menunduk, karena mereka takut kalau terkena panah. Shino melindungi anak dan istrinya, agar mereka tak terluka. Akarui menangis karena terkejut. Shino tak bisa berbuat apa-apa.

“Tuhan, tolonglah kami,” kata Shino dengan bergelimang air mata. Shino terus menangis dan menangis. Akhirnya air mata mereka berkumpul di awan tempat mereka berpijak. Awan menjadi hitam, dan turunlah hujan yang sangat lebat sekali. Petir-petir berhamburan dengan liarnya, air bah datang dan menghanyutkan hutan tempat ketiga Raja berdiri. Mereka beserta prajuritnya hanyut terbawa air bah. Setelah hujan reda, Shino melihat Bumi seperti padang pasir yang kering dan tak ada satupun pohon yang berdiri. Semuanya telah hanyut terbawa air Bah. Shino dan lainnya ingin sekali turun dan kembali ke Bumi, tapi mereka tak tahu bagaimana cara turun. Akhirnya mereka memutuskan untuk tetap tinggal di awan yang sudah menolong mereka.

Ajaibnya, awan yang mereka tempati ditumbuhi banyak pepohonan, lama kelaman berubah seperti Bumi. Sayangnya mereka melayang di langit. Shino membangun rumah yang cukup besar. Rumah yang mereka buat berubah menjadi istana yang sangat megah. Akarui yang dulunya masih bayi, lama kelamaan berubah menjadi seorang pangeran yang sangat tampan. Akarui membangun sebuah kerajaan yang diberi nama “Kerajaan Langit.” Akhirnya hidup mereka menjadi tentram dan damai. Mereka yang dulunya manusia Bumi, sekarang menjadi manusia langit.

Demikianlah, kebaikan tidak akan pernah kalah oleh kejahatan. Dimanapun berada, akan menang. Sifat serakah yang dimiliki manusia bisa menghancurkan segalanya. Sifat ini muncul karena tidak adanya rasa syukur atas apapun yang telah diberikan Tuhan Sang Pencipta alam semesta. Maka dari itu, marilah kita selalu tanamkan rasa syukur dalam hati, contoh terkecil dan paling dekat : nafas kita!



PUISI

Bunda
By; Abdul Mu'id


15 tahun sudah kulewati

Perjalanan panjang hidupku bersamamu

Engkau berikan pelukan saat ku rapuh

Engkau berikan tawamu saat ku bersedih

Engkau ajarkan semua yang tak pernah kumengerti

Ketulusanmu mendampingiku……

takkan pernah kulupakan



Bunda,

Seandainya aku bisa,

Aku ingin tetap menjadi putramu

Yang selalu tidur dalam pangkuanmu

Yang selalu kan hapus air matanya saat ku bersedih

Kuingin engkau selalu ada bersamaku



Tapi mungkin tak bisa

Karena engkau harus pergi untuk sementara

Meninggalkan aku

Untuk mencari uang untuk hidupku

kau pergi jauh sekali……..



Harus kulalui hari tanpamu

Aku tak tahu apa aku mampu

Tapi kuyakin pasti bisa



Semua demi aku

Akan kusimpan sejenak kerinduanku padamu…….

Kuyakin semua itu……

Terbayangkan perjuanganmu di sana.....



Bunda,

Aku berjanji aku takkan menyerah

Tunggu aku Bunda…….

Aku akan menggapai cita-citaku…..

dengan membahagiankanmu nanti.....

Kan kubawa serta semua kisah

hidupku disini

Yang selalu bertahan dalam doamu.

Menjadi BMI Yang Berkarakter

“Aku jengkel banget hari ini, gara-gara tuyulku nakal, aku dimarahi lampirku. Masak karena masalah sepele saja, aku dimarahi. Dasar majikan bawel…!”

Seringkali kita mendengar kalimat-kalimat yang mengandung kemarahan, kekecewaan, ketakutan dan masih banyak hal lain, selama kita menjalani rutinitas kerja di rumah majikan. Suka duka menjadi satu hal yang tidak terpisahkan dan memang itulah kenyataannya. Namun, bila kita tahu, bahwa suka duka adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia, semua menjadi biasa-biasa saja. Sebenarnya, kenapa hal-hal seperti di ini bisa terjadi?


Kawan’s, selama ini, tanpa sadar, kita telah terbelenggu dalam rutinitas yang menghambat pencapaian cita-cita. Apa yang kita alami dalam keseharian kita, adalah buah dari pikiran. Kita telah menghabiskan waktu lebih banyak untuk memikirkan hal-hal yang bersifat negatif, maka, itu pula yang didapatkan. Kita menuntut lebih terhadap sesuatu hal namun kita tidak mau memberikan hal yang lebih alias perhitungan. Selalu mencari kekurangan dan membanding-bandingkan. Hasilnya adalah kekecewaan ketika mendapati fakta nasib kita lebih buruk dari orang lain.

Setiap waktu, kita hanya fokus pada keburukan dan ketidaknyaman di rumah majikan. Yang cerewetlah, banyak pekerjaanlah, anak asuh yang nakallah, pelitlah dlsb.

Semua ini hasil dari sebuah kefokusan yang terus-menerus kita pikiran ditambah dengan emosi intens, seperti marah, jengkel, kecewa, takut, khawatir dll. Selama kita masih berkubang dalam ranah ini, sulit untuk bisa keluar dari cengkraman ketidaknyaman dalam segala lini hidup. Berapa lama kita sanggup bertahan..?

Selain itu, ada hal lain yang membuat suasana kerja tidak nyaman, yaitu sikap kita. Sikap yang bagaimana? Mungkin itu pertanyaan yang ada di benak kita. Sikap kita suka membanding-bandingkan majikan dengan orang lain akan membuat rasa malas dalam bekerja. Rasa malas tidak akan menghasilkan sesuatu yang berkualitas.

Kawan’s, ketahuilah, bahwa sesungguhnya, sebuah kualitas terbentuk dari keberhasilan kita melewati berbagai kesulitan. Kita mampu melalui setiap ujian yang datang silih berganti, baik datangnya dari keluarga, teman atau majikan.

Apakah ujian itu? Ujian adalah tantangan, tekanan, kesulitan, penderitaan dan hal-hal yang tidak kita sukai. Pasti ada di antara kita yang akhirnya jadi pintar, wawasannya luas, punya banyak solusi penyelesaian hidup lalu terheran-heran. Kok bisa ya? Kok sekarang saya jadi pintar ya, dan sejuta kata kok lainnya. Kesimpulannya, ujian adalah sarana menjadi bisa karena tidak ada kualitas yang tidak diuji. Sikap yang kita pilih akan membentuk sebuah karakter dalam diri kita. Seperti halnya produk makanan, perabotan, elektronik terkenal, semua telah diuji coba.

OK-lah, kita merasa mampu bertahan sampai finis kontrak. Pertanyaannya enakkah hidup berteman ketidaknyaman karena memendam emosi? Kawan’s, hidup adalah pilihan, bila kita bisa dapat yang nyaman kenapa mesti pilih yang tidak nyaman? Banyak orang mencari kenyamanan di luar dirinya, padahal kenyamanan itu ada dalam dirinya. Ibarat kita kehilangan jarum jahit di ruang tamu, tetapi kita mencarinya di halaman depan rumah. Kita tidak akan pernah menemukannya!

Bagaimana kita menemukan kenyamanan itu? Cara paling mudah murah dan jitu adalah dengan mengubah cara berpikir kita terhadap ketidaknyamanan tersebut. Misalnya majikan kita sangat disiplin dalam urusan waktu sehingga kita merasa terkekang, solusinya adalah mencari sisi positif dari kedisiplinan itu. Nanti akan kita temukan jawaban yang di antaranya adalah, kita bisa menghargai waktu. Contoh lain lagi, ketika kita mendapati majikan yang sangat teliti dengan uang belanja dan minta kwitansi dari segala bentuk pembelian kebutuhan sehari-hari, sisi positif yang bisa kita ambil adalah, belajar teliti. Dan masih banyak lagi…

Kesimpulannya adalah, bahwa, kenyamanan tergantung dari bagaimana kita menyingkapi. Tergantung dari bagaimana kita menilainya. Tepatnya tergantung dari resppon kita terhadapnya. Bila respon kita jelek, maka ketidaknyamananlah yang didapat, dan bila respon kita bagus, kenyamananlah yang dirasakan. Respon kita akan membentuk karakter dan karakter ini berawal dari cara pandang/penilaian terhadap suatu kejadian. Beberapa karakter yang membantu kita berhasil, di antaranya adalah, kita memiliki empati terhadap sesama, tahan uji dan selalu bersyukur dalam segala keadaan serta beriman.

Karakter bukan diciptakan tetapi dibentuk oleh respon-respon kita dalam menghadapi hidup dan segala pernik-perniknya. Beberapa hal yang juga memicu terbentuknya karakter, yaitu : temperamen dasar, kenyakinan yang percayai, pendidikan/wawasan yang kita ketahui, motivasi hidup yang seperti apa yang kita miliki serta pengalaman hidup yang meliputi masa lalu, pola asuh dan lingkungan dimana kita berada. Nach, kawan’s, sekarang kita bisa mengambil kesimpulan dengan kalimat diawal tulisan ini.

Dalam bayangan saja, kita tahu tuyul itu seperti apa, dan lampir itu seperti apa. Yang kita tahu, dua panggilan tersebut di atas adalah sebutan buat sosok yang jahat meskipun hanya sebuah dongeng. Apapun yang kita masukan kedalam pikiran kita (baik/buruk), dalam jangka yang cukup lama akan menjadi sebuah program pikiran. Mari kita menyebut anggota keluarga majikan kita dengan panggilan yang mengenakkan hati dan menyejukkan telinga. Untuk sebuah kenyamanan, kitalah yang menciptakan. Make happy now…!!!


*Dimuat koran BERITA INDONESIS HONGKONG*

























Jumat, 17 Agustus 2012

LAGUKU

NASIB PEMBANTU
By. Anna Nirwana
Ars. Dhio Dewi


Hari minggu adalah hari liburku
Pagi-pagi berdandan yang ayu
Janji berjumpa dengan teman karibku
Di Victoria tempat yang teduh

Kuhampar plastik sbagai alas duduk ku
Menunggu sambil termangu-mangu
Janji jam tujuh telah lama berlalu
Yang ditunggu kok nggak miscall aku
Sungguh terlaluu...
 
         Reff. Kau terlalu..
                 Kau buat aku lama menunggu
                 O..o..o terlalu..
                 Kau terlalu..
                 Kau buat aku menjadi pilu senduu....


Akhirnya ku pulang dengan langkah lesu
Wajah ayu ku berubah sayu
Ternyata ia tak bisa jumpa aku
Hari liburnya diganti Sabtu
Nasib pembantuu..
(kembali ke reff..)
              

LAGUKU

HIDUP PENUH ARTI
By. Anna Nirwana
Ars. Dhio Dewi


Aku hidup di gedung yang tinggi
Dikelilingi terali besi
Hanya sepi setia menemani
Hari-hari yang telah terlewati
            Tak pernah hadir walau dalam mimpi
             Hidup sebagai seorang BMI
             Jarak waktu memisahkan diri
             Dari orang-orang terkasih huu..huu..
Reff.
Demi sesuap nasi harus ku jalani
Demi hidup yang lebih berarti
Caci maki sudah tak aku peduli
Ku tanamkan ikhlas dalam hatii...
Pedih perih sudah tak terbilang lagi
Air matapun turut mewarnai
Namun satu ku yakinkan pada diri
Janji Illahi

             Sakit itu memberiku arti
             Pedih itu jadi motivasi
             Suatu hari kan menjadi bukti
             Tak lagi jadi orang yang tersisih
             (kembali ke reff..)



MENGGAPAI KEBAHAGIAAN BERSAMA PASANGAN



Ketika banyak orang yang mengidam-idamkan kebahagiaan, tetapi penderitaan yang didapatkan, kenapa? Sebenarnya, dimanakah kebahagiaan itu? Kebahagiaan bukan dicari tetapi diciptakan dan itu berasal dari dalam diri sendiri. Sering terdengar disekitar kita, orang-orang yang berkata bahwa ia bahagia bila mempunyai harta, bisa menikah dengan seseorang yang ia suka, bahagia bila menjadi sang juara dll. Semua itu sah-sah saja, namun bila kebahagiaan yang kita inginkan karena alasan tertentu, apakah sudah bisa dipastikan bahwa kita akan benar-benar bahagia? Belum tentu!


Manusia hanya bisa berencana dan Tuhan penentu segala yang terjadi di alam semesta ini. Kebahagiaan itu bersifat sangat personal dan kita sendirilah yang bisa merasakan. Ketika kita telah mengijinkan kebahagiaan itu hadir dalam hidup, maka apapun kondisi kita, baik sedih maupun suka, kebahagiaan akan tetap ada. Caranya adalah dengan mengenali diri sendiri dengan segala keinginannya.

Kita tahu, bahwa hidup bagaikan roda yang berputar, kadang di atas dan kadang di bawah. Ada juga yang bilang, bahwa hidup penuh masalah, itupun benar adanya. Tetapi masalah bukan penghalang untuk menjadikan kita hidup dalam kebahagiaan. Selama makhluk ciptaan Tuhan yang bernama manusia ini menginjakkan kaki di planet Bumi, maka masalah itu akan tetap ada. Kuncinya adalah bagaimana kita bisa menyingkapi dan mengisi hidup, maka untuk bahagia, hadapilah hidup!

Bermacam bahagia yang diinginkan manusia dan salah satunya adalah bahagia bersama pasangan. Ketika kita sudah berumah tangga, itu artinya kita tidak memiliki hak sepenuhnya atas diri sendiri, tetapi ada hak orang lain atas diri kita, yaitu suami. Ada hak dan kewajiban yang harus kita selaraskan untuk meraih keharmonisan dalam rumah tangga yang kita bina. Keharmonisan adalah perpaduan dari berbagai warna karakter yang membentuk kekuatan atau eksistensi sebuah benda. Perpaduan inilah yang membuat warna apapun bisa cocok menjadi rangkaian yang indah dan serasi.

Kita ambil satu contoh warna hitam. Warna ini terkesan suram dan dingin. Jarang orang yang suka, tetapi bila dipadukan dengan warna putih, akan memberikan corak tersendiri yang menghilangkan kesan suram dan dingin tadi. Perpaduan warna hitam dan putih, bila ditata dengan apik, akan menumbuhkan kesan dinamis, gairah dan hangat. Seperti itulah seharusnya rumah tangga dikelola.

Rumah tangga merupakan perpaduan barbagai warna karakter, yaitu : suami, istri, anak dan mertua. Tidak ada yang bisa menjamin, bahwa semua karakter itu sempurna, pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Maka, karena itulah, suami-istri bisa saling melengkapi. Menciptakan keharmonisan dengan cara mengisi kekosongan-kekosongan yang ada di antara mereka. Keharmonisan rumah tangga bisa tercipta dengan beberapa cara, yaitu :

• Tidak melihat ke belakang, artinya kita tidak mengungkit alasan menikah. Hal tersebut bisa menyeret ketidakharmonisan hanya karena masalah sepele. Bila belarut-larut akan menjadi pelik dan kusut. Tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan perceraian. Oleh karena itu, hadapilah kenyataan yang saat ini harus dihadapi. Jangan lari dari masalah dan melongok ke belakang, apalagi membayangkan sosok lain diluar pasangan kita. Hal ini akan membuka pintu setan dengan terciptanya perselingkuhan.

• Berpikir objektif.

Kadang konflik bisa menyeret kita ke hal yang sebenarnya tidak harus terjadi ketika konflik disikapi dengan emosi. Apalagi bila sampai melibatkan orang ketiga yang mengetahui masalah internal tidak secara utuh. Mis : penghasilan suami kita belum bisa mencukupi seluruh kebutuhan hidup. Coba dibicarakan dan mencari solusinya bersama-sama, mungkin istri bisa membantu bekerja serta melatih anak-anaknya untuk mandiri. Tetapi bila kita menyikapi dengan emosi, seperti yang banyak terjadi sekarang ini, maka pihak suami bisa menuduh pihak pihak istri bawel, tidak pengertian dan materialistik.

• Melihat kelebihan pasangan. Untuk menumbuhkan keoptimisan, lihatlah kelebihan pasangan kita bukan malah mengungkit kekurangannya.

• Saling percaya.

Bagaimana rumah tangga bisa bahagia bila di antara keduanya tidak ada saling percaya tapi justru sebaliknya. Rasa ini akan menimbulkan kegelisahan, kecurigaan, kekhawatiran dan pada akhirnya akan saling menyalahkan serta menuduh. Rasa saling percaya akan menghantar kita pada rasa aman dan nyaman. Membangun rasa saling peercaya adalah perwujudan cinta yang dewasa.

• Kebutuhan biologis, adalah kebutuhan orang berumah tangga yang salah satu tujuannya untuk memperoleh keturunan. Prinsipnya adalah saling terbuka dalam mengungkapkan kebutuhan masing-masing. Jangan sampai mengeksploitasi pasangan.

• Menghindari pihak ketiga. Kehidupan berumah tangga mempunyai hak otonomi sendiri yang sebaiknya tidak dicampuri pihak lain. Kehadiran pihak ketiga hanya akan menciptakan bencana bagi rumah tangga tersebut. Sudah banyak kejadian rumah tangga yang hancur karena ikut campurnya pihak ketiga, mis : mertua, saudara ipar, kekasih simpanan, tetangga dll.

• Menjaga romantisme. Pasangan suami-istri yang sudah lama menikah terkadang lupa dengan hal ini. Tidak seperti diawal membina rumah tangga, mis : makan bersama, pujian tulus, jalan-jalan dll. Romantisme dibutuhkan sampai kapanpun.

• Komunikasi yang lancar. Komunikasi adalah pilar langgengnya rumah tangga dari sekian pilar-pilar lainnya. Hilangnya komunikasi berarti hilang pula salah satu pilar rumah tangga. Bagaimana hubungan bisa harmonis, menyapa saja enggan. Jika rumah tangga adalah mobil, maka komunikasi adalah rodanya. Banyak pasutri bersikap apatis karena kesibukan kerja. Ini sama halnya menaruh bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak. Bisa-bisa di antara keduanya mencari pelampiasan dengan mencari teman curhat dan tidak betah tinggal di rumah.

• Menyertakan spiritual.

Berumah tangga adalah salah satu perintah agama. Berumah tangga yang sesuai dengan petunjuk Rosulullah dan ajaran agama akan membuat kita bahagia di dalamnya. Menyadari akan fitrah masing-masing dengan menciptakan kebersamaan di antara anggota keluarga. Rumah tangga bagaikan sebuah organisasi tempat berkumpulnya lebih dari satu orang. Rumah tangga merupakan unit terkecil dalam kancah sosial. Salah satu pijakan utama seseorang berumah tangga adalah karena adanya ketaatan pada syariat Allah SWT. Kalau mau itung-itungan, berumah tangga itu melelahkan, dan justru disitulah pahala yang Allah janjikan. Ketika dalam rumah tangga menghadapi banyak masalah, tetaplah berprasangka baik pada-Nya dan jangan pernah bosan untuk berdoa.

*Dimuat di Majalah IQRO Dompet Dhuafa Hong Kong*



MENCARI MAKNA CINTA

Satu perkataan mengandung makna perasaan yang rumit, bisa dialami semua makhluk termasuk manusia. Mampu melahirkan kebencian yang merupakan emosi sangat kuat dan melambangkan ketidaksukaan, permusuhan (antipati) untuk seseorang, sebuah hal/barang (fenomena) dan karenanya kita menghindari, menghancurkan/menghilangkan


Itulah cinta! Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam filosofi cinta terdapat sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas dan kasih sayang. Ada juga yang mengatakan, cinta adalah sebuah aksi/ kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, dan melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.

Cinta digunakan untuk meluapkan perasaan terhadap keluarga, teman, Tuhan, bangsa dan negara. Syarat mewujudkan cinta kasih adalah dengan perasaan, pengenalan, tanggungjawab, perhatian dan saling menghormati. Hal ini muncul secara seimbang dalam pribadi orang yang menyintai. Oleh karena itu, cinta kasih yang sudah ada perlu dijaga agar dapat dipertahankan keindahannya serta keutuhannya. Ekspresi cinta bisa kepada jiwa/pikiran, hukum/organisasi, badan, alam, makanan, uang, belajar, kekuasaan dan popularitas. Ini adalah cinta yang mengarah kepada konsep abstrak (ada terasa sulit dilihat, terasa tak tersentuh, aneh tapi nyata dan bisa membuat menangis serta tertawa), lebih mudah dialami daripada dijelaskan. Ada beberapa macam cinta yang bisa dilihat disekitar kita, yaitu :

• Perasaan sayang yang lebih cenderung kepada teman-teman dan keluarga (eros).

• Perasaan kasih yang cenderung kepada keluarga dan Tuhan (philia).

• Semangat nusa yang lebih cenderung kepada patriotisme, nasionalisme, narsisme (agape).

Menurut Erich Fromm, cinta adalah perasaan simpati melibatkan emosi yang mendalam. Namun ada juga yang beranggapan, kata cinta lebih cenderung kepada romantisme, asmara dan hawa nafsu. Cara terbaik memaknai cinta adalah dengan memberi. Cinta tidak datang karena kita menerima, tetapi cinta akan datang ketika kita bisa memberikan sesuatu yang terbaik yang kita punya untuk kebaikan, kemajuan dan kesuksesan orang lain (baca:positif). Cinta juga berarti mengerti dan memberi tanpa ingin dipahami dan diberi. Menurut hadist Nabi, orang yang sedang jatuh cinta, cenderung mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (wanahabba syai’an katsu ra dzikruhu). Tapi orang juga bisa diperbudak cintanya (man ahabba syai’an fatuha’abduhu). Ada tiga ciri cinta sejati, yaitu :

• Ia lebih suka berbicara dengan yang dicintainya dibanding dengan yang lain.

• Ia suka berkumpul dengan yang dicintainya dibanding dengan yang lain.

• Ia lebih suka mengikuti kemauan yang dicintainya dibanding kemauan orang lain atau diri sendiri.

Orang yang telah jatuh cinta kepada Allah Swt, maka ia lebih suka berbicara, berkumpul dan mengikuti kemauan Allah (berbicara : membaca firman-Nya, bercengkrama : I’tikaf).

Cinta adalah masalah yang dialami oleh semua orang. Tiada pernah habis untuk diperbincangkan, tidak termakan oleh zaman, sumber perdebatan yang tidak pernah kehilangan momentumnya. Bahkan cintapun bisa menjadi sumber inspirasi yang tiada habisnya. Yach, cinta memiliki arti yang sangat luas dan sulit diartikan begitu saja. Ia adalah anugerah Allah, sebab itu sangat berharga. Allah akan menganugerahkan rasa cinta kepada mereka yang bersungguh-sungguh mencarinya. Tetapi tetap tidak boleh melebihi cintanya pasa Sang pemberi cinta itu sendiri.

Islam tidak melarang seseorang untuk menyintai sesuatu tapi harus ada batasnya. Jika rasa cinta itu membawa seseorang kepada perbuatan melanggar syariat, maka itu sudah salah. Mari sejenak kita melihat sejarah tentang manusia pertama di planet Bumi ini, yaitu Nabi Adam as. Allah paham kebutuhannya sebagai manusia, karena Dia-lah yang menciptakan, maka diciptakanlah Hawa sebagai pendampingnya. Dan kemudian mereka berbagi cinta kasih hingga memiliki keturunan. Allahpun tidak main-main ketika mentakdirkan Khadijah ra sebagai pendamping pasangan hidup Rasulullah Saw. Tidak sembarang perempuan yang ditunjuk-Nya sebagai pendamping seorang lelaki terbaik yang pernah ada di Bumi ini. Hubungan cinta Khadijah –Rasulullah, adalah kisah cinta paling manis yang pernah ditulis oleh sejarah. Cinta memang dahsyat dan paling indah dibicarakan, tapi cinta yang bagaimana ? Jawabannya adalah cinta yang berada di bawah keridho’an Allah.

Perasaan cinta tidak bisa dibuat-buat datangnya, ia datang dengan sendirinya. “Cinta adalah perasaan diluar kehendak dengan daya tarik yang kuat pada seseorang”, kutipan ini bisa ditemui di buku Mauqiful Islam Mina Hubb karya Muhammad Ibrahim Mubarak. Maka, cintailah sesama umat beriman karena dalam Islam kita adalah bersaudara. Tapi perlu diingat, menciintai seseorang janganlah sampai pada taraf lebih dari segala-galanya, sebab bisa saja yang kita cintai di dunia ini justru yang paling kita benci. Segala sesuatu yang berlebih-lebihan tidak akan baik hasilnya. Saling mencintai, bukanlah hal yang tabu dalam Islam, selagi hal itu tidak melanggar syariat. Jangan berkasih sayang hingga menimbulkan fitnah dan menjadi makanan empuk buat syetan. Cintailah seseorang karena Allah.

Cinta yang berlogikakan nafsu dan syahwat, semata-mata hanyalah cinta palsu yang penuh kehinaan, maka ungkapkanlah rasa cinta itu dengan memandang segala sesuatu karena Allah Swt karena kedudukan cinta dalam Islam tinggi dan mulia. Islam melihat cinta dan kasih sebagai fitrah dalam kejadian manusia. Ia adalah satu hubungan suci yang menautkan antara dua hati. Kesimpulannya, cinta adalah fitrah manusia sebagai makhluk Allah yang diciptakan untuk bersujud, bersyukur dan mengagungkan asma Allah, bahwa tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah. Ada delapan pengertian cinta menurut Al-qur’an, sbb :

1. Cinta Mawaddah ; jenis cinta menggebu-gebu, membara dan menggemaskan. Mau selalu ingin berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ingin memonopoli cintanya dan hampir tak bisa berpikir lain.

2. Cinta Rahmah ; jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban dan melindungi. Memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap dirinya sendiri. Baginya yang terpenting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahannya, mis : cinta orang tua terhadap anaknya dan sebaliknya. Bagi pasutri yang diikat cinta mawaddah dan rahmah sekaligus, biasanya saling setia lahir batin dunia akhirat.

3. Cinta Mail : jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Dalam Al-qur’an, cinta jenis ini masuk konteks orang poligami, ketika sedang dengan yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan yang lama.

4. Cinta Syaghaf : jenis cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang jenis ini bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari dengan apa yang dilakukannya ( kisah Zulaikhah, istri pembesar Mesir kepada Nabi Yusuf ).

5. Cinta Ra’fah : yaitu rasa kasih sayang yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, mis : kasihan pada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk sholat (membelanya walau salah).

6. Cinta Shobwah : yaitu cinta buta yang mendorong perilaku penyimpangan tanpa sanggup mengelak. (Dalam kisah Nabi Yusuf sampai meminta dimasukkan kedalam penjara untuk menghindari kejaran Zulaikha).

7. Cinta Syauq (rindu), dari hadist yang menafsirkan Al-qur’an surat An-Kabut ayat : 5) dan menurut Ibnu Al-Qoyyim Al Jauzi dalam kitab Raudlat Al Muhibbin Wa Al Musytaqin. Shauq (rindu) adalah penggembaraan hati kepada sang kekasih.

8. Cinta Kulfah; yaitu perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal positif meski sulit, mis : orang tua kepada anaknya.

Dari sekian banyak makna cinta di atas, manakah yang lebih cenderung akan kita tempuh? Sudahkah kita intropeksi diri dari segala kesalahan karena kita belum tahu atau belum menemukan makna dari kata cinta sehingga membuat kita salah kaprah ? Sahabat, marilah kita berbenah setelah memahami makna cinta yang luhur ini. Kita isi hidup kita dengan berbagi cinta kepada sesama. Kita tidak lagi melakukan perbuatan yang menyimpang dengan mengatas-namakan cinta.


*Dimuat oleh KINDO Hong Kong*