Senin, 03 September 2012

HIDUPKU, GURUKU


“Sudah banyak buku yang saya baca. Sudah bermacam seminar yang saya hadiri. Malah membuat saya pusing. Saya bingung harus melakukan saran yang mana..”



Pernahkan rekan-rekan mengalami hal ini? Apakah berarti banyak belajar itu jelek pengaruhnya? Menjadikan kita bingung? Nyantai saja kawan’s…

Bingung adalah suatu hal yang wajar dalam pembelajaran. Bingung karena kita baru pertama kali mendengar ilmu/inforamsi dari pembicara maupun penulis buku yang karyanya kita baca. Bingung adalah frase dimana kita dituntut untuk berpikir. Bingung karena timbul banyak pertanyaan dalam diri kita dengan pengetahuan baru. Kita tidak akan menjadi bingung setelah kita benar-benar paham apa yang dimaksud si pembicara /penulis buku. Dan itu butuh waktu! Ini alasan pertama kenapa kita bingung, karena belum paham.

Alasan kedua, kita bingung adalah karena kita mencampuradukan semua ilmu/informasi ke dalam otak secara bersamaan dengan harapan kita cepat jadi pintar. Yang terjadi malah justru sebaliknya, over cup! Tidak ada ilmu yang masuk sama sekali. Semua meluber kemana-mana dan kita tidak dapat apa-apa. Sering mengalami hal itu? Solusinya adalah, ketika belajar pada satu guru, maka sebaiknya kita kosongkan pikiran dan hati kita. Apapun pengetahuan yang telah kita punya ditaruh dan disimpan dulu untuk bank/gudang ilmu/informasi. Sayangnya, kita seringkali membawa gelas yang penuh ke suatu seminar atau ketika sedang membaca buku yang baru kita dapat, sehingga waktu kita hanya terbuang sia-sia untuk menganalisa.

Alasan ketiga adalah karena kita tidak sabar dalam mengelola ilmu/informasi. Kita mau bim salabim adakadabra langsung pintar langsung jadi.

Kawan’s, belajar apapun butuh proses. Kita harus mau melewati dan menikmatinya dengan kesadaran penuh. Belajar adalah proses. Seperti halnya dengan kisah kita diwaktu bayi. Awalnya hanya bisa terlentang, lalu tengkurap, miring, duduk, berjalan dan akhirnya berlari. Ada proseskan? Ketika kita sudah bisa, kita jadi lupa akan prosesnya. Demikianlah kenyataanya….

Belajar sangat penting bahkan wajib hukumnya. Dengan belajar kita jadi tahu. Dengan belajar kita jadi maju. Namun sayangnya, pembelajaran-pembelanjaran yang selama ini kita ikuti hanya menjadi pengetahuan saja. Kenapa? Karena kita tidak mengaplikasikan dalam kehidupan pribadi kita. Akhirnya ilmu hanya lewat begitu saja. Esoknya, kita sudah lupa kemarin belajar apa. Demikian seterusnya, tidak ada manfaat yang dirasakan kecuali hanya sebatas tahu. Bukan mengerti apalagi paham. Kalau pembelajaran yang kita ikuti difasilitasi dengan embel-embel sertifikat, akan membuat kita bangga. “Ini lho, aku sudah ikut seminar itu. Pembicaranya si itu. Ini buktinya, aku punya sertifikatnya”.

Sertifikat ini kadang menjadi tujuan utama orang datang ke seminar. Sertifikat memang penting sebagai suatu tanda bukti tentang moment penting yang pernah kita ikuti. Namun bila itu tujuan awal kita, hasilnya akan sia-sia. Sertifikat adalah pengingat bahwa kita pernah belajar pada si A, B atau C dan motivasi untuk mengamalkan ilmu/informasi yang kita pelajari kepada orang lain.

Apakah sebuah sertifikat bisa dijadikan jaminan seseorang benar-benar belajar? Belum tentu! Lalu bagaimana kita bisa tahu bahwa seseorang itu belajar? Lihatlah sikap dan tindakannya. Sebuah pembelajaran akan selalu menyisakan sesuatu yang membekas dalam pikiran dan hati seseorang, yang mampu membuatnya berubah baik cepat maupun lambat. Ia benar-benar menikmati perubahan hidupnya. Biasanya perubahan diawali dari cara berpikir yang akhirnya mempengaruhi jenis sikap dan tindakan. Ia memiliki pemikiran baru meskipun berada dalam pengkondisian sama dengan yang dulu ketika ia belum belajar. Seperti misalnya, ia bekerja pada majikan yang sangat disiplin tentang waktu. Yang dulunya ia sangat tersiksa dengan peraturan itu, kini setelah belajar, ia bisa menemukan sisi positif dari sebuah kedisiplinan. Hasil temuannya bisa berupa menghargai waktu, patuh dll.

Perubahan akan membawa kita menjadi pribadi baru dengan pemikiran baru yang menunjang kesuksesan hidup. Bisa menempatkan diri dengan baik, bisa meningkatkan kualitas di tempat kerja, bisa melakukan segala sesuatu sesuai porsinya. Bila hal ini bisa tercapai, tidak akan ada permasalahan di tempat kerja, dalam pertemanan, dalam bisnis, hubungan keluarga dan masih banyak lagi. Hidup jadi mudah dan nyaman. Tidak ada konflik dengan orang lain terutama konflik dengan diri sendiri, karena ini yang berbahaya. Dengan ilmu yang kita peroleh saat belajar lalu sungguh-sungguh mengaplikasikan (baca=mengijinkan), kita akan menemukan banyak hal dalam diri kita sendiri. Yang dulunya tidak terlihat oleh kita, tepatnya oleh pikiran kita, jadi tampak jelas.

Semakin kita mencari ke dalam diri, semakin banyak temuan menarik yang akan menimbulkan rasa syukur, betapa Tuhan ciptakan kita tidak untuk sebuah kesia-siaan. Semakin bereksploitasi, kita menjadi sadar, begitu berharganya diri kita. Begitu kayanya diri kita dengan pemikiran-pemikiran baru hasil dari sebuah pembelajaran. Tidak lagi rendah diri, suka emosi, mencari atau memperbesar masalah dll.

Terlebih tidak bingung mau mengaplikasikan ilmu yang mana. Kita sudah bisa memilih dan memilah ilmu sesuai kebutuhan yang ada. Apapun yang terjadi di masa lalu yang tidak mengenakkan, kita bisa menemukan banyak hikmah dan pelajaran atau orang sebut dengan pengalaman.

Belajar kepada seorang guru hanya ketika kita bertemu. Kita lebih punya banyak waktu bersama diri kita sendiri (baca=hidup). Dalam suka maupun duka. Gagal maupun sukses. Ada pelajaran yang tertoreh di sana. Di dalam diri kita. Di dalam hidup kita. Yach, hidup kita adalah guru kita!. Guru-guru yang lain hanya sebagai fasilitator untuk pengenalan terhadap diri kita sendiri, dengan ilmu/informasi yang mereka bagi.


*DIMUAT KORAN BERITA INDONESIA EDISI SEPTEMBER 2012*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar