Rabu, 12 Desember 2012

Sinkronisasi BMI Dan Keluarga


 
 Banyaknya pembelajaran di kalangan BMI Hong Kong yang digelar oleh organisasi BMI, Instansi tertentu, pemerintahan atau individu, bukanlah suatu jaminan mereka akan sukses bila hal tersebut tidak dibarengi dengan upaya-upaya konkrit dari pihak penyelenggara. Sesaat mereka bersemangat, terbuka pikiran dan wawasan, namun, beberapa waktu kemudian akan loyo lagi, pesimis lagi, takut lagi dan demikian seterusnya. Hanya segelintir orang yang benar-benar sukses hidupnya setelah mengikuti pembelajaran tersebut, dan jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Itupun bukan semata-mata murni hasil sebuah pembelajaran yang diikuti. Inilah fakta yang terjadi pada BMI Hong Kong.

Bukti dari fakta di atas adalah, mereka masih betah bekerja di Hong Kong walau sudah mengantongi sejuta “impian”. Bukan berarti mereka tidak punya ilmu dan pengalaman atau keinginan. Justru ambisi mereka menggebu untuk mewujudkan “impian”. Bahkan karena ambisinya mewujudkan impian selepas mengikuti pembelajaran, mereka “over action” sehingga harus berhadapan dengan pihak keamanan. Mereka lupa, bahwa keberadaannya adalah seorang “ Domestic Helper” yang harus patuh pada aturan-aturan yang tertera dalam “kontrak kerja”. Disinilah, banyak BMI yang salah kaprah dalam melangkah.

Yang menjadi masalah bukanlah “Domestic Helper” nya, karena itu hanya sebutan saja. Domestic Helperpun seorang manusia yang “berhak” sukses seperti yang lainnya. Domestic Helper hanya nama jembatan penyeberangan saja. Jembatan yang akan menghubungkannya dengan berbagai link-link kesuksesan. Justru, karena menyandang gelar Domestic Helperlah, posisi mereka menjadi “ terkenal” sampai ke manca negara. Menjadi perdebatan sengit antara pihak yang “pro” dan “ kontra”. Bukan masalah terkenalnya, namun lebih pada “kesempatan” yang bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya kala berada di rantau. Menjadi satu “tabungan ilmu” yang bisa dibawa pulang ke daerah masing-masing. Nah, inilah masalahnya! Inilah benang merah yang harus diusut agar tidak ruwet.

Setelah saya meneliti, mengamati, merasakan sendiri, akar masalahnya terletak pada “ketidaksikronan” antara BMI dengan keluarga di rumah. BMI rajin belajar pengembangkan diri untuk meningkatkan “skill”nya. Meningkatkan ketrampilan, kekreativitas dan relasinya. Itu yang terjadi di Hong Kong, lalu bagaimana dengan keluarga mereka yang ada di Indonesia? Apakah juga belajar hal yang sama? Memilki pemikiran yang sama? Memiliki impian yang sama? Setidaknya, mengerti dan mendukung apa yang diinginkan BMI.  Fakta di lapangan, tidaklah demikian. Ketika BMI sudah bergelora ingin mewujudkan impian, kendala pertama dan terberat adalah dari keluarga.

Takut rugilah, malaslah, nggak mau repotlah, sudah banyaklah,dll. Lalu BMI menjelaskan panjang dan lebar tentang apa yang ia pelajari, dan apa hasilnya? Sudah bisa ditebak, penolakan dengan bermacam istilah. BMI kecewa dan akhirnya timbul “pertengkaran” dalam keluarga, kalaupun bisa dihindari, tetap saja menimbulkan rasa kecewa pada BMI yang senantiasa berupaya melakukan yang terbaik buat keluarga. Waktu liburnya digunakan untuk belajar. Uangnya dipercayakan pada keluarga/tabung. BMI ingin segera mengakhiri hidupnya sebagai Domestic Helper. Tak jarang, saking keselnya atau memang karena rencana sudah matang, mereka memberanikan diri untuk “join” dengan orang lain. Apakah ini sebuah kesalahan? Tentu bukan, ini hanya sebuah solusi ketika keluarga yang diharapkan sudah tidak bisa diandalkan lagi keterlibatannya.

Mayoritas BMI yang menggulirkan ide-ide cemerlangnya setelah ikut pembelajaran, “menthok” di tengah jalan.  Bila ide diteruskan apalagi dijalankan dengan orang lain, maka, muncullah anggapan, bahwa keluarga sudah tidak penting lagi, sudah tidak patuh lagi, sudah membangkang. Bila kata-kata ini keluar dari lisan seorang suami terhadap istrinya, maka, ketakutlah yang ada.  Ilmupun disimpan sambil menunggu BMI  itu pulang, inilah jalan aman. Lalu, bagaimana dengan impian? Nantilah, dipikirkan. Sekarang bekerja sambil menunggu finis kontrak lalu pulang.  Dan ketika sampai di kampung halaman, melihat kenyataan bahwa idenya sudah dijalankan orang, putuslah harapan. Ah, mungkin inilah nasib saya. Ilmu mengendap raib entah kemana.

Dan bila ternyata, semangat mewujudkan impian di atas segala-galanya, suami/keluarga tidak lagi diindahkan. Bisakah hal ini dilakukan? Bisa! Pantaskah? Pantas! Namun, permasalahannya bukanlah bisa atau pantas, tetapi lebih pada perasaan yang meliputinya dalam upaya mewujudkan impian tanpa dukungan keluarga, akan sangat tidak mengenakkan. Kalau sukses, akan menjadi bukti buat keluarga namun bila gagal akan menuai cemoohan belaka. Yah, inilah fenomena utama BMI dalam mewujudkan impiannya. Sekuat apapun ia berusaha menjelaskan, menerangkan, bahkan dengan sengaja mengirim semua buku /modul pembelajaran yang di dapat, tetap saja yang di rumah tidak “ngeh”. Ujung-ujungnya berantem.

Mau sampai kapan permasalahan ini didiamkan? Apakah dibiarkan saja dan menjadi “PR” buat BMI? Atau mungkin, pihak pendidik/penyelenggara  sebuah pembelajaran belum  tahu tentang hal ini atau pura-pura tidak tahu? Ketika BMI bersemangat mengaplikasikan ilmunya, tetapi kenyataan berkata lain. Tidak dapat dukungan, restu, dan pengakuan dari keluarga padahal apa yang diinginkan BMI tersebut adalah untuk keluarganya juga. “Benang merah” masalah ini terletak pada tidak adanya “kesinkronan” pemikiran, wawasan, pengalaman dan pendidikan antara BMI dan keluarga.  Paradigma BMI telah berubah selangkah lebih maju, tetapi paradigma keluarga di rumah masih tetap seperti dulu. Paradigma yang telah usang ditelan waktu namun masih dipegang teguh karena memang demikianlah keadaan yang ia tahu, yang dijalankan orang-orang terdahulu dan menjadi budaya sosial dimana ia tinggal.

Seandainya ada pembelajaran yang bisa “mensinkronkan” pemikiran, wawasan, pengalaman di antara keduanya, inilah yang ditunggu! Bukan hanya BMI yang digembleng “mindset”nya tetapi juga keluarganya. Mungkin hal ini akan memakan waktu yang lama, namun hasilnya akan jauh lebih sempurna. Karena sesungguhnya, sebuah pembelajaran dikatakan berhasil, ketika bisa merubah seseorang dari “nobody” menjadi “somebody”. Bukan dari mewahnya fasilitas yang diberikan, bukan pula dari canggihnya materi yang disampaikan. Karena ada satu hal yang terlupakan, bahwa BMI tidak berdiri sendiri. BMI punya keluarga yang juga butuh diberdayakan.  

 

dimuat Berita Indonesia edisi Des 2012

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar