Bukti dari fakta di atas adalah,
mereka masih betah bekerja di Hong Kong walau sudah mengantongi sejuta
“impian”. Bukan berarti mereka tidak punya ilmu dan pengalaman atau keinginan.
Justru ambisi mereka menggebu untuk mewujudkan “impian”. Bahkan karena
ambisinya mewujudkan impian selepas mengikuti pembelajaran, mereka “over
action” sehingga harus berhadapan dengan pihak keamanan. Mereka lupa, bahwa
keberadaannya adalah seorang “ Domestic Helper” yang harus patuh
pada aturan-aturan yang tertera dalam “kontrak kerja”. Disinilah, banyak
BMI yang salah kaprah dalam melangkah.
Yang menjadi masalah bukanlah “Domestic
Helper” nya, karena itu hanya sebutan saja. Domestic Helperpun seorang
manusia yang “berhak” sukses seperti yang lainnya. Domestic Helper hanya
nama jembatan penyeberangan saja. Jembatan yang akan menghubungkannya dengan
berbagai link-link kesuksesan. Justru, karena menyandang gelar Domestic
Helperlah, posisi mereka menjadi “ terkenal” sampai ke manca negara.
Menjadi perdebatan sengit antara pihak yang “pro” dan “
kontra”. Bukan masalah terkenalnya, namun lebih pada “kesempatan”
yang bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya kala berada di rantau. Menjadi
satu “tabungan
ilmu”
yang bisa dibawa pulang ke daerah masing-masing. Nah, inilah masalahnya! Inilah
benang merah yang harus diusut agar tidak ruwet.
Setelah saya meneliti, mengamati,
merasakan sendiri, akar masalahnya terletak pada “ketidaksikronan” antara
BMI dengan keluarga di rumah. BMI rajin belajar pengembangkan diri untuk
meningkatkan “skill”nya. Meningkatkan ketrampilan, kekreativitas dan
relasinya. Itu yang terjadi di Hong Kong, lalu bagaimana dengan keluarga mereka
yang ada di Indonesia? Apakah juga belajar hal yang sama? Memilki pemikiran
yang sama? Memiliki impian yang sama? Setidaknya, mengerti dan mendukung apa
yang diinginkan BMI. Fakta di lapangan,
tidaklah demikian. Ketika BMI sudah bergelora ingin mewujudkan impian, kendala
pertama dan terberat adalah dari keluarga.
Takut rugilah, malaslah, nggak mau
repotlah, sudah banyaklah,dll. Lalu BMI menjelaskan panjang dan lebar tentang
apa yang ia pelajari, dan apa hasilnya? Sudah bisa ditebak, penolakan dengan
bermacam istilah. BMI kecewa dan akhirnya timbul “pertengkaran” dalam
keluarga, kalaupun bisa dihindari, tetap saja menimbulkan rasa kecewa pada BMI
yang senantiasa berupaya melakukan yang terbaik buat keluarga. Waktu liburnya
digunakan untuk belajar. Uangnya dipercayakan pada keluarga/tabung. BMI ingin
segera mengakhiri hidupnya sebagai Domestic Helper. Tak jarang, saking keselnya
atau memang karena rencana sudah matang, mereka memberanikan diri untuk “join”
dengan orang lain. Apakah ini sebuah kesalahan? Tentu bukan, ini hanya sebuah
solusi ketika keluarga yang diharapkan sudah tidak bisa diandalkan lagi
keterlibatannya.
Mayoritas BMI yang menggulirkan
ide-ide cemerlangnya setelah ikut pembelajaran, “menthok” di tengah
jalan. Bila ide diteruskan apalagi
dijalankan dengan orang lain, maka, muncullah anggapan, bahwa keluarga sudah
tidak penting lagi, sudah tidak patuh lagi, sudah membangkang. Bila kata-kata
ini keluar dari lisan seorang suami terhadap istrinya, maka, ketakutlah yang
ada. Ilmupun disimpan sambil menunggu
BMI itu pulang, inilah jalan aman. Lalu,
bagaimana dengan impian? Nantilah, dipikirkan. Sekarang bekerja sambil menunggu
finis kontrak lalu pulang. Dan ketika
sampai di kampung halaman, melihat kenyataan bahwa idenya sudah dijalankan
orang, putuslah harapan. Ah, mungkin inilah nasib saya. Ilmu mengendap raib
entah kemana.
Dan bila ternyata, semangat
mewujudkan impian di atas segala-galanya, suami/keluarga tidak lagi diindahkan.
Bisakah hal ini dilakukan? Bisa! Pantaskah? Pantas! Namun, permasalahannya
bukanlah bisa atau pantas, tetapi lebih pada perasaan yang meliputinya dalam
upaya mewujudkan impian tanpa dukungan keluarga, akan sangat tidak mengenakkan.
Kalau sukses, akan menjadi bukti buat keluarga namun bila gagal akan menuai
cemoohan belaka. Yah, inilah fenomena utama BMI dalam mewujudkan impiannya.
Sekuat apapun ia berusaha menjelaskan, menerangkan, bahkan dengan sengaja
mengirim semua buku /modul pembelajaran yang di dapat, tetap saja yang di rumah
tidak “ngeh”. Ujung-ujungnya berantem.
Mau sampai kapan permasalahan ini
didiamkan? Apakah dibiarkan saja dan menjadi “PR” buat BMI? Atau
mungkin, pihak pendidik/penyelenggara sebuah pembelajaran belum tahu tentang hal ini atau pura-pura tidak
tahu? Ketika BMI bersemangat mengaplikasikan ilmunya, tetapi kenyataan berkata
lain. Tidak dapat dukungan, restu, dan pengakuan dari keluarga padahal apa yang
diinginkan BMI tersebut adalah untuk keluarganya juga. “Benang merah”
masalah ini terletak pada tidak adanya “kesinkronan” pemikiran, wawasan,
pengalaman dan pendidikan antara BMI dan keluarga. Paradigma BMI telah berubah selangkah lebih
maju, tetapi paradigma keluarga di rumah masih tetap seperti dulu. Paradigma
yang telah usang ditelan waktu namun masih dipegang teguh karena memang
demikianlah keadaan yang ia tahu, yang dijalankan orang-orang terdahulu dan
menjadi budaya sosial dimana ia tinggal.
Seandainya ada pembelajaran yang bisa
“mensinkronkan”
pemikiran, wawasan, pengalaman di antara keduanya, inilah yang ditunggu! Bukan
hanya BMI yang digembleng “mindset”nya tetapi juga
keluarganya. Mungkin hal ini akan memakan waktu yang lama, namun hasilnya akan
jauh lebih sempurna. Karena sesungguhnya, sebuah pembelajaran dikatakan
berhasil, ketika bisa merubah seseorang dari “nobody” menjadi “somebody”.
Bukan dari mewahnya fasilitas yang diberikan, bukan pula dari canggihnya materi
yang disampaikan. Karena ada satu hal yang terlupakan, bahwa BMI tidak berdiri
sendiri. BMI punya keluarga yang juga butuh diberdayakan.
dimuat Berita Indonesia edisi Des 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar