Senin, 23 Mei 2016

Catatan Agenda Di LKP Ganesha




Tanggal 15 Mei 2016 kemarin, saya dan seorang kawan dari kota Blitar, yang sama-sama BMI Purna, mengikuti training disebuah lembaga pelatihan. Kami berdua meluangkan waktu untuk menimba ilmu dunia marketing online. Karena masih sangat banyak sekali, hal-hal luar biasa di dunia IT yang belum kami ketahui.

Sebenarnya, saya mengajak banyak kawan, tapi mereka masik sibuk dengan agenda mereka masing-masing. Jadi saya memutuskan, untuk belajar dulu. Sebab, kalau saja menunggu dan menunggu, saya tidak akan segera mendapatkan ilmu yang saya perlukan. Sedangkan saya sangat tahu, kekurangan dan kemampuan diri saya sampai dimana. Point-point mana yang harus segera saya tambah/benahi. Karena dengan menguasai ilmu yang saya butuhkan, maka saya bisa mencapai target yang saya inginkan. Dan imbasnya, meningkatkan pendapatan saya yang berujung pada kesejahteraan hidup saya. So, saya tidak menunggu. 

Dengan berinvestasi Rp. 150.000, seharian kami belajar. Tentang pemahaman jualan online yang hakikatnya sama dengan jualan ofline, yaitu kita harus "jujur" mengenai kondisi barang yang kita jual. Kita tidak boleh berbohong.

Apabila kita kedapatan berbohong, saat itulah kita akan kehilangan pembeli. Kalau dipikir-pikir memang benar. Saya pernah membeli jilbab, saya lihat gambarnya bagus dan menarik. Tapi, setelah barang sampai ditangan saya, ternyata kualitas barangnya jelek.
Sejak itu, saya tidak pernah lagi membeli  barang  ( baju, jilbab) secara online. Saya memilih datang langsung ke toko/penjualnya.

Di pelatihan hari itu, saya dan   kawan saya juga peserta yang lain, mengutak-atik hape adroid kami. Membuka situs-situs tertentu sesuai arahan narasumber.  Ada yang sudah paham penggunaan situs tersebut, tapi lebih banyak yang belum paham, termasuk saya. Karena itulah, saya belajar.

Bagi saya, belajar harus terus ditingkatkan dari waktu ke waktu. Mau "nyandak" tidaknya jangkauan pikiran saya, itu perkara nanti. Karena sesuatu hal baru memang seringkali membuat kita akan mengalami ketidak "nyadak-an" tersebut.  Nyandak alias bingung.

Selama ini, dalam masalah promosi, saya memang menggunakan berbagai media sosial yang saya punya. Memang tidak banyak aplikasi yang saya unduh, seperti kawan-kawan lainnya. Alasan saya karena kalau kebanyakan aplikasi, kinerja hape jadi lambat. Bahkan kadang error. Dan saat itu, dunia kayak kiamat ( Kayak tahu kiamat itu seperti apa. Hehehe...). Maksudnya, segala aktivitas  saya jadi terhambat. Misal ada informasi pelatihan, jadwal pertemuan komunitas, atau promo barang jualan. Semua jadi terbengkalai. 
Bagi yang paham dunia IT, itu bukan masalah, tapi bagi saya yang lebih banyak tidak pahamnya , menjadi satu hal yang menakutnya.  Saya meminta bantuan orang lain, untuk bisa mengaktifkan kembali perangkat hape tadi.

Di pelatihan itu, ada satu ilmu yang saya incar jauh-jauh hari. Yang itu menjadi alasan saya mengikutinya. Yaitu, tehnik pemotretan produk. Karena menurut saya, banyak orang yang berjualan secara online, dengan menampilkan gambar yang asal-asalan. Termasuk saya dulunya.
Sampai pada ketika saya bertemu dengan sesorang yang lagi bertugas ke Hong Kong, memperlihatkan cara memotret sebuah barang yang mau dijual secara online. 

Dari situ, saya mulai belajar menampilkan photo-photo agar terlihat menarik. Lumayanlah dibanding dengan hasil tampilan sebelumnya. Saya jadi tahu, ternyata untuk mengupload sebuah photo/gambar, ada triknya.



Teringat peristiwa itu, saya langsung mendaftar ketika mendapat informasi pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan saya. Dimana saya menyadari, bahwa saya suka berjualan/berdagang (Sesuai sunah Nabi gitu ceritanya. Hehe...)

Dalam sesi itu, kami para peserta pelatihan diminta mempraktekkan ilmu yang baru kami dapatkan. Sehingga kami tahu, titik letak kesalahan dan ketidaktahuan kami selama ini. Juga sejauh mana kami memahami materi yang diberikan  narasumber. 




Dari tata letak, pencahayaan, pengaturan waktu, dll. Sangat berharga sekali. Satu ilmu terkantongi. Semoga bisa menjadikan kenaikan omset dari barang-barang yang kami jual secara online.

Untuk bisa selalu memiliki semangat belajar, saya mengingat nasihat dari sebuah buku. Orang yang hanya memikirkan urusan  perut ke bawah, hidupnya begitu-begitu saja. Dan orang yang selalu memikirkan urusan leher ke atas, hidupnya akan berkembang. Seperti itulah                                                                                      kira-kira maknanya.






*Catatan agenda di LKP Ganesha : 15 Mei 2016 *


Sabtu, 21 Mei 2016

Catatan Di Basecamp MBA




Terlihat wajah-wajah baru di MBA, yang kebanyakan  adalah pelaku UKM yang ada di daerah Malang. Meskipun saya sendiri bukan pelaku UKM, tapi berkumpul dengan mereka akan membawa manfaat tersendiri, karena saya memiliki program TSM (Tour Studi Magang).

TSM diperuntukkan bagi BMI Purna, keluarga BMI dan BMI yang masih bekerja di luar negeri. Program TSM hanya bisa dilakukan bila bersinergi dengan pelaku UKM karena dalam program ini, kita akan mengunjungi tempat-tempat usaha untuk melihat cara produksi, packing, serta marketingnya. Dengan demikian, peserta akan melihat dan mendengar langsung bukan hanya sekedar teori semata. Sepintar apapun menguasai  teori, tak jarang  kita kebingungan saat mengaplikasikan di lapangan. Dengan adanya pendampingan serta bimbingan dari pelaku UKM, kendala-kendala yang kita temui bisa teratasi.

Selain itu, mereka bisa menemukan ide-ide bisnis yang dijalankan dari rumah masing-masing. Sangat cocok buat BMI khususnya wanita. Mereka bisa menjalankan tugas rumah tangga bagi yang sudah berkeluarga. Bagi yang masih single bisa menciptakan peluang usaha/membuka lapangan kerja dari rumah. Tidak lagi menjadi karwayan/BMI.



Bagi yang memiliki minat marketing, mereka bisa menjadi reseller dari produk-produk UKM tersebut. Jadi, banyak sekali manfaatnya. Membangun silaturohim, tour/wisata, belajar, praktek, menjadi reseller.Tanpa di sadari, kita sudah ikut membantu memasarkan produk UKM di era MEA ini. Slogan cinta produk dalam negeri bukan menjadi slogan saja bukan?

Untuk program TSM ini, saya bisa bersinergi dengan sesama anggota MBA yang mayoritas pelaku UKM. Akan tercipta simbiosis mutualis. Inilah visi saya menjadi anggota MBA. Karena melakukan sesuatu tanpa visi,  kita akan menjalaninya tanpa semangat. Hanya sekedar ngumpul, bahkan tak jarang  kita hanya akan menjadi penonton saja.

MBA ( Malang Business Activity) ini wellcome terhadap siapa pun termasuk saya BMI Purna Hong Kong.
Di sini, ada banyak pelatihan-pelatihan yang bisa dipelajari untuk meningkatkan skill kita. Kita pun bisa mengikuti kegiatan-kegiatan baik dari komunitas maupun instansi.  Itu yang saya butuhkan sebagai pendatang baru, meskipun saya bukan orang asing.



Kenapa saya katakan pendatang baru? Karena setelah merantau sekian lama, ketika kembali ke Tanah Air, kita akan plonga-plongo. Dan untuk keluar dari keplonga-plongoan itu, kita harus mau belajar dan berbaur dengan banyak orang, baik secara individu maupun komunitas. Kita mengosongkan gelas agar ilmu bisa masuk. Meskipun saat di luar negeri kita sudah mengikuti banyak pelatihan, seminar, workshop dll.

Mengantongi banyak sertifikat  pelatihan bukanlah jaminan kita bisa menaklukkan keadaan, kalau belum langsung terjun ke lapangan. Teori saja tidak cukup. Untuk bisa terjun ke lapangan, kita butuh relasi/mitra yang bisa menyambungkan kita dengan sesuatu yang kita perlukan.


* Catatan di Basecamp MBA, pOWER cAFE, 21-5-2016*    


Selasa, 17 Mei 2016

Berbohong Demi Dapat Penumpang

"Pak, bisnya ke Malang?" tanya saya pada seorang supir bis.
"Iya," jawab pak sopir.
"Lewat Jalibar ?" tanya saya lagi.
"Tidak," jawab pak supir.



Mendengar  jawaban pak supir, saya segera melangkah naik ke dalam bis Harapan Baru di terminal bis kota Blitar setelah pamit , bersalaman dan cium pipi kiri-kanan kepada seorang teman.
Sejak tanggal 15 Mei kemarin, kami berdua memiliki agenda yang sama sebagai sesama BMI Purna Hong Kong.

Karena kursi bagian depan sudah terisi penuh, saya memilih duduk di kursi paling belakang. Alasannya dekat pintu, jadi bisa mendapatkan udara segar dan saat turun dari bis jaraknya dekat. Dalam bis itu ada pengamen yang sedang menyanyi lalu menjajakan plastik/wadah untuk uang pemberian  para penumpang.

Tak berapa lama, bis pun berjalan.perlahan meninggalkan terminal kota Blitar. Kemudian  kondektur yang duduk pas didepan kursi  saya, lewat menarik uang dari penumpang yang belum membayar.

"Turun pasar Kepanjen," kata saya kepada kondektur sambil memberikan uang lima puluh ribuan.
"Kita nggak lewat Panjen, tapi lewat Jalibar," jawab kondektur, membuat saya terkejut.
"Tadi kata pak supirnya nggak lewat Jalibar?" protes saya.
"Nanti turun di Talang Agung, kita nggak lewat Panjen," kata kondektur dengan muka tanpa senyum.

Kecewa, marah, itulah yang saya rasakan saat itu. Perasaan dibohongin oleh supir bis Harapan Baru tujuan Banyuwangi telah membuat perjalanan saya jadi tidak nyaman. Hanya untuk mendapatkan penumpang, segala cara dilakukannya termasuk membohongi penumpang.  Yang mereka pikirkan hanya keuntungan sesaat tanpa memikirkan jangka panjang tidak dipercayanya pelayanan mereka, surat pengaduan yang bisa saja dilayangkan oleh penumpang ke kantor bis yang tertera pada setiap lembar karcis sebagai bukti pembayaran.

Saya diturunkan di pertigaan Talang Agung, cukup jauh dari rumah saya. Tanpa banyak bicara, saya turun dan berjalan menuju  Indomaret  yang kebetulan terlihat oleh saya.Membeli pulsa yang kebetulan habis, agar saya bisa menghubungi orang rumah dan mengabarkan keadaan dan posisi saya saat itu.

Entah, sudah berapa banyak kebohongan-kebohongan yang mereka laukukan kepada penumpangnya.
Satu kebohongan bila dibiarkan akan menjalar tak berkesudah.



PO. HARAPAN BARU
Jl. Pahlawan Karangsuko 
Telp. (0355) 793367
Trenggalek
E.N0 057028



Catatan perjalanan Blitar -Malang ;17-Mei 2016







Minggu, 03 April 2016

Hanya Dengan Rp 14.000 Bisa Berkeliling Di Taman Wisata Baturraden

Indonesia memang indah. Siapapun akan mengakuinya, bahkan turis mancanegara pun berdecak kagum karenanya. Banyak tempat-tempat wisata di Indonesia yang memukai. Bisa menghilang stress karena kepenatan kerja atau keruwetan hidup. Tidak terhitung banyaknya tempat-tempat wisata ini, baik yang sudah terekspos media, maupun belum. Karena Indonesia sangat luas.



Berbahagialah menjadi warga negara Indonesia dengan keindahan dan kekayaan bangsa ini yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Dengan Bhinneka Tunggal Ika-nya. Sehingga membuat banyak bangsa asing mencoba dengan berbagai cara ingin memilki bangsa ini.


Sudah sewajarnya, kita sebagai warga negara Indonesia  wajib mencintainya dengan menjaga kelestarian alamnya. Agar keindahan Indonesia tidak punah karena keserakahan manusia. Kita pun wajib mempublikasikan keindahan alam Indonesia kepada siapa saja. Menjadi duta wisata, adalah sebuah keharusan bagi siapa pun yang cinta Indonesia.


Dari sekian banyak tempat wisata di Tanah Air ini, salah satunya adalah taman wisata Baturraden yang terletak di Purwokerto. Tempatnya sangat luas, hawanya sejuk, pemandangannya  indah. Fasilitas yang disediakan pihak pengelola pun lengkap. Dari mushola, toilet, tempat permainan anak, tempat belanja oleh-oleh, halte kendaraan roda empat dan roda dua, dll.




Pelataran taman ini juga luas dan bersih. Ada patung  ( Bagong, Gareng, Petruk, Romo ) berjejer  di dekat pintu masuk. Tempat para penjual makanan dan cinderamata juga tertata rapi  sehingga tidak mengganggu pemandangan. Tidak terlihat adanya sampah yang berserakan. Di sekeliling taman pun, tersedia banyak penginapan  dari hotel sampai losmen.  Jadi, para wisatawan yang ingin bermalam di tempat itu, tidak akan kesulitan mencari tempat untuk beristirahat.

Sebelum masuk ke lokasi taman wisata Baturraden,  pengunjung  harus membeli  tiket masuk yang tersedia di loket. Loket ini berada di sebelah pintu masuk. Harga tiket masuknya Rp. 14.000 per orang. Setelah masuk ke dalam,  pengunjung akan menemui  bangunan  berjejer  yang  di antaranya  digunakan untuk   ruang  P3K, meeting, informasi, dll.






Dalam taman wisata Baturraden, dipasang beberapa papan yang bertuliskan arah tempat-tempat yang bisa dikunjungi. Mungkin gunanya untuk memberitahukan kepada pengunjung, apa saja yang ada di tempat tersebut. Juga  bisa berperan sebagai map buat pengunjung agar  tidak bingung.  Ada juga tempat cuci/afdrux  photo.

Ada beberapa alat permainan buat anak-anak, di antaranya kuda putar, kereta api, kapal terbang, ayunan. Bila pengunjung ingin menikmatinya, tinggal membayar Rp.5000 per tiket.  Untuk di kapal terbang sendiri,  orang dewasa pun diperbolehkan. Dalam pesawat tersebut  disediakan pemutaran film berdurasi lima menit. Bisa juga ber-selfi  ria. Selain itu, ada kolam ikan berwarna-warni, seperti jenis ikan Koi, kandang-kandang kecil yang terbuat dari adonan semen berisikan ayam. Dan ada pijat terapi ikan. Hah! Pijat terapi ikan? Maksudnya gimana? Kita akan dipijat oleh ikan! Penasaran? Datang saja ke taman wisata Baturraden.


Sungai bebatuan, air terjun, jembatan melingkar menyambungkan area satu dengan area lainnya. Bagi yang suka naik gunung, bisa berjalan ke  area yang lebih tinggi lagi karena taman wisata Baturraden sangat luas.
Di dalam taman juga tersedia penjual makanan dan minuman. Jadi, bila pengunjung merasa lapar atau haus, tidak kebingungan membeli makanan.

Purwokerto : 30 Maret 2016


1 Jam Di Taman Wisata Baturraden


Saya mendapat undangan untuk mengikuti training koperasi di Purwokerto. Acara berlangsung dari tanggal 28 -30 Maret 2016. Diikuti oleh perwakilan dari beberapa kabupaten yang kesemuanya adalah BMI Purna. Perwakilan itu berasal dari Malang, Blitar, Madiun, Magetan, Ponorogo, Sragen, Kebumen, Brebes, Majalengka, Indramayu, Banjarnegara.

Saya berangkat pada tanggal 27 Maret  dari Malang menuju Madiun. Lalu berangkat bersama teman-teman dari sana menuju ke Purwokerto keesokkan harinya. Kami naik kereta api Logawa pada jam 12.23 WIB.
Di stasiun kereta api Sragen, jumlah rombongan kami bertambah dua orang dan kami berada pada gerbong yang sama. Sepanjang perjalanan, kami ngobrol banyak hal. Saat itu, saya sebangku dengan mbak Umi BMI Purna Hong Kong asal Madiun. Kami dulu sama-sama menjadi volunteer DDHK. Tak ayal lagi, kami pun bernostalgia, masa-masa saat di perantauan.

Sekitar 18.30 kami tiba di stasiun Purwokerto. Setelah menunggu sebentar, mobil jemputan pun datang. Tak lama kemudian, kendaraan yang kami tumpangi meluncur ke tempat training, yaitu hotel Rosalia yang terletak di Jl.Pariwisata Baturraden Purwokerto 53151 Central Java-Indonesia.



Setelah membersihkan badan di kamar hotel yang disediakan panitia, semua peserta menuju ke ruang makan lalu ke ruang training yang ada disebelahnya. Training berlangsung selama tiga hari dan di hari ketiga itu, pagi harinya, kami pergi ke taman wisata yang berada tak jauh dari tempat kami menginap. Taman wisata Baturraden.

Pemandangannya sangat indah, asri dan alami. Taman wisata yang berada di kaki gunung Slamet itu hawanya sangat sejuk dan areanya sangat luas. Ada air mancur, sungai berbatu, tempat main anak, kolom ikan, pesawat terbang untuk selfi dll.


Jalan menuju taman wisata Baturraden memang menanjak, tapi sangat bersih. Di sana ada tempat belanja oleh-oleh, parker kendaraan, tempat makan. Tempatnya berada di depan taman wisata Baturraden. Yang jadi unggulan oleh-oleh di tempat ini adalah makanan yang namanya getuk goreng.Saya dkk sempat mengicipinya sebelum membeli.

Di depan tama nada pelataran, dan kalau pagi banyak orang yang duduk sambil berjualan makanan seperti nasi, juga minuman seperti kopi. Mereka membawa termos air hangat ke tempat itu. Jadi kalau ada yang beli minuman, mereka langsung menuangkan air dari termos tersebut. Pas sekali karena udara di sana sejuk,bahkan kalau pagi hari terasa dingin. Mereka tidak memakai rombong, tetapi memasukkan dagangannya ke tas yang terbuat dari plastik yang dianyam. Tas plastik yang biasanya digunakan untuk berbelanja di pasar. Juga marang (bahasa jawa), wadah yang terbuat dari anyaman bambu.



Selama satu jam, saya dkk berjalan mengelilingi taman wisata Baturraden, tetapi tidak menyeluruh karena kami harus segera balik ke tempat training yang terletak di bawah taman. Sekitar 100 meter jaraknya. Meskipun cuma sebentar, setidaknya taman wisata Baturraden bisa membuat otak kami fres setelah dua hari digembleng di ruang training dengan materi yang sangat padat. Dan taman wisata Baturraden adalah salah satu bukti betapa Indonesia sangat indah dan kaya dengan potensi panorama alamnya.
                                              

Purwokerto : 28-30 Maret 2016

Sabtu, 02 April 2016

Menunggu Di Emperan Stasiun



Bepergian dengan menggunakan kereta api, tidak menjadi kebiasaan saya. Boleh dikata, saya awam dengan  salah satu alat transportasi ini. Namun, ketika saya harus menghadiri sebuah undangan dari komunitas buruh migran yang kebanyakan dari pesertanya menggunakan jasa ini, mau tak mau sayapun ikut menggunakannya. Alasannya, karena tidak ada teman dari daerah dimana saya berasal : Malang.

Jadi, saya sendirian. Oleh karena itu, sayapun mencari teman yang sama-sama akan menghadiri undangan tersebut. Malang Purwokerto  adalah jarak yang harus ditempuh. Karena berangkatnya bersama-sama, perjalanan jauh pun tidak begitu memberatkan. Kami bisa bercengkrama sambil mengenang masa-masa ketika sama-sama menjadi perantau.

Tidak ada halangan berarti, perjalanan kami mulus sampai tujuan. Semua acara yang digelar bisa kami ikuti dengan baik tanpa absen. Karena ini kali pertama saya ikuti, maka di acara itu banyak wajah-wajah baru yang saya temui. Selama ini saya hanya tahu namanya saja. Kami pun berkenalan secara langsung.
Diruangan  meeting yang cukup luas, kami belajar , berdiskusi dan saling berbagi informasi. Tujuannya adalah satu, yaitu meraih kesuksesan bersama-sama sepulang dari rantau.

Setelah acara tersebut usai, kami pun bersiap kembali ke daerah masing-masing. Ada yang naik kereta api juga bis. Kami berpencar satu sama lain sesuai  arah tujuan. Saya dkk memilih naik kereta api lagi, tapi kali ini, kami harus berpisah  karena stasiun yang dituju tidak sama. Jarak yang saya tempuh adalah jarak yang paling panjang.

Karena tidak perpengalaman dengan kereta api, maka sayapun memutuskan mengikuti rute yang tertera pada tiket. Purwokerto- Surabaya Gubeng, sedang yang lainnya turun di stasiun Madiun. Keputusan ini saya ambil untuk mengetahui banyak tentang perjalanan menggunakan kereta api. Sesampai di Gubeng jam 1.30 dini hari. Saya pikir bisa langsung membeli tiket  dengan tujuan Malang, ternyata saya harus menunggu selama dua jam karena loket baru buka jam 3.30.

Saya melongok ke luar stasiun, ada banyak orang disana. Para supir taxi, ojek, pedagang dll. Demi keamanan, saya memilih tinggal didalam area stasiun dengan yang lain. Ternyata petugas stasiun meminta kami keluar. Akhirnya saya pun keluar menuju tempat pembelian loket setelah bertanya pada seseorang.
Bersama dengan calon penumpang kereta api lainnya, saya duduk di emperan stasiun Gubeng menunggu loket pembelian tiket dibuka. Lampu penerangan remang-remang ditambah guyuran hujan gerimis, menambah lengkap suasana stasiun Gubeng dini hari itu. Belum lagi dengungan suara nyamuk mencari mangsa untuk dihisap darahnya. Secepatnya saya mencari lotion anti nyamuk yang sudah saya sediakan untuk terhindar dari gigitan binatang satu ini.

Anak-anak balita, orang dewasa, manula berbaur jadi satu. Mereka semua duduk di emperan stasiun, bahkan ada yang sambil tiduran. Ada yang ngobrol, merokok, makan atau minum setelah membeli dari penjual yang  juga menjajakan dagangannya di situ. Kopi panas, nasi bungkus, pop mie adalah yang paling laris diserbu calon penumpang kereta api.

Sebenarnya saya pun merasa lapar, karena sejak dari Purwokerto perut tidak terisi kecuali sedikit makan snak yang saya bawa dari Malang. Ingin beranjak ke penjual makanan, tapi kepala terasa berat. Badan sudah terasa lelah dan pegal-pegal karena masuk angin. Saya minum sebutir obat Ultra Flu untuk meringankan beban sakit. Mata terasa berat setelah minum obat, tapi saya tetap harus terjaga karena membawa barang dan saya sendirian. Tempat tunggu yang disediakan pihak kereta api buat calon penumpangnya tidak ada,  emperan pun jadi alih fungsi sementara sambil menunggu loket tiket dibuka.
Yang menunggu di emperan itu bukan saja calon penumpang yang mau beli tiket, tetapi  yang sudah memiliki tiketpun harus juga menunggu disitu. Bahkan ada yang menunggu di emperan toko yang bersebelahan dengan stasiun Gubeng, seperti Indomaret.

Untuk mengalihkan rasa kantuk, saya mencoba menghubungi seorang kawan via WhatsAp dan tak berapa lama mendapat balasan. Akhirnya kamipun ber-WhatsAp-an. Terlihat kekhawatiran dari ucapan temannya setelah mendengar ceriata dari saya.
“  Ya, seperti itulah di Indonesia. Tidak seperti di luar negeri. Kenapa di negeri sendiri pelayanannya asal-asalan ya mbak?”, katanya.
“ Dananya di korupsi kali,” jawab saya.

Pikiran saya menerawang di sela-sela keremangan malam, memikirkan ucapan teman saya tadi. Juga ketika saya melihat fakta di lapangan, bagaimana pelayanan di negeri  tercinta ini. Sangat jauh berbeda dengan di luar negeri, tepatnya Hong Kong dimana saya pernah menjemput rezeki.

Menurut saya, pelayanan di negeri ini tidak menjadi hal penting. Sekedar asal-asalan saja. Saya rasa dana untuk pengadaan pelayanan pasti ada, hanya dana tersebut raib tidak tersalurkan pada tempatnya. Mungkin dana tersebut lari ke kantong pribadi atau kantong golongan.  Mau sampai kapan? Entahlah! Negeri ini tidak akan maju bila korupsi tetap ada.

Semua calon penumpang harus menunggu di emperan yang jauh dari kata aman, nyaman dan sehat. Kalau hujan akan kehujanan, kalau panas akan kepanasan, kalau dingin akan kedinginan. Apalagi para balita berbaur dengan orang dewasa yang lagi menikmati kepulan asap rokoknya. Sungguh pemandangan yang sangat menyedihkan…

Stasiun Gubeng Surabaya : 31 Maret 2016




Jumat, 08 Januari 2016

Proses Persalinan Si Mily

Sabtu Pahing, malam minggu, tepatnya tanggal 19 Desember 2015, Mily kucing betina yang aku pelihara kelihatan gelisah. Ia mondar mandir sambil sesekali mengeong. Yang membuat aku aneh, ia selalu mengikuti kemana aku pergi.
"Jangan-jangan, Mily mau melahirkan? Benarkah? Padahal tadi sore, jupritan sama aku," gumanku dalam hati.

Hari bertambah gelap, Mily makin gelisah. Ia masuk ke kamarku dan naik ke  satu-satunya tas rangsel yang aku punya. Memaksa untuk masuk ke dalam tas rangsel. Kecurigaanku makin bertambah.
Karena aku takut Mily terjatuh, tas rangsel aku turunkan. Aku buka resletingnya, dan Milypun masuk ke dalam. Aku relakan tas itu buat Mily melahirkan.

Senja berlalu, menjadi malam. Suara adzan Maghrib berkumandang. Tingkah laku Mily semakin menunjukkan kalau ia benar-benar mau melahirkan. Akupun ikut bingung.

Aku ambil kerdus dan kain buat Mily sembunyi, karena aku ingat kata orang, kalau kucing mau melahirkan, ia gak suka tempat yang terang. Dalam dus, Mily tidur, tapi sebentar-sebentar bangun. Entah kenapa, ia keluar dan masuk ke tas rangsel yang tadi ditinggalkannya.

Bergonta-ganti posisi. Sesekali mulutnya ternganga seperti menahan sakit. Aku tinggalkan Mily di tas itu, karena aku lihat dia mulai tenang. Tapi ternyata, ia keluar dan mengikutiku sambil mulutnya ngeong-ngeong.
Aku tigak tega, akhirnya aku menungguinya di dekat tas rangsel yang dimasukkinnya.

Aku elus-elus kepalanya, dengan harapan akan mengurangi kegalauannya. Makin lama, Mily makin sering bergerak. Entah karena kurang lebar, akhirnya ia keluar dari tas rangsel. Ia tidur di lantai. Buru-buru aku kasih kain dibawah badannya, supaya tidak dingin. Dan bisa untuk membungkus anaknya kalau lahir nanti.

Gerakan dalam perut Mily makin keras dan cepat. Mulutnya menganga sambil mengeong lirih. Matanya sayu menatapku. Mungkin ingin bicara kalau perutnya sakit. Hanya aku yang tak mengerti bahasanya. Aku mencoba memahami tatapan matanya.

Mily mengalami kontradiksi. Ia mengedan dan dari kelaminnya keluar gumpalan sebesar kelereng ukuran besar. Warnanya bening seperti buah kelengkeng. Ia berusaha mengeluarkan benda itu sambil terus mengedan.



Tepat jam 20.08, lahirlah  anak pertama Mily. Dengan sigap, dijilatinya cairan yang menempel pada tubuh bayinya yang baru lahir itu. Tak berapa lama kemudian, ia menelan sesuatu. Aku tidak tahu benda itu apa namanya. Mungkin ari-ari. Aku tidak begitu memperhatikan, karena jijik melihat darah. Tapi aku tetap siaga, kalau-kalau Mily memakan bayinya.


Kata Madjid, setiap kucing betina akan melahirkan bayi pertama berwarna telon bulunya. Kalau jantan, akan dimakan sama induknya. Aku berusaha melihat warna bayinya si Mily. Sepertinya memang  berbulu telon, tapi aku tidak yakin karena warnanya samar-samar,dan  aku  juga tidak tahu jenis kelaminnya, karena masih kecil banget.

"Ah, mau jantan atau betina, yang penting aku jaga saja," kataku  dalam hati, karena mulai pusing memikirkan cerita kucing berbulu telon.

Aku pijit-pijit perut si Mily. Ada gerakan-gerakan di situ. Ternyata masih ada bayi lagi. Setelah bayi pertama kelihatan bersih dijilati oleh Mily, ku lihat ia mengedan lagi. Masih gelisah seperti tadi. Aku elus-elus kepalanya sambil berbicara layaknya pada orang.

" O..., Mily sayang. Tenang ya. Nbentar lagi anaknya keluar," kataku.

Sepertinya Mily mengerti. Dia diam  tapi mulutnya tetap menganga. Sesekali mengedan. Tak berapa lama, keluar lagi benda yang sama seperti tadi. Anak keduanya lahir. Dijilatinya lagi cairan yang menempel pada bayinya itu.



Ku lihat jam di handphone, ingin memastikan jam kelahiran bayi keduanya Mily, 21.03. Kemudian proses itu berulang lagi. Pada jam 21.15, bayi ketiga lahir sudah.Aku merasa lega. Aku masukkan ke dalam dus yang sudah aku kasih kain dan spoon, agar ketiga anaknya Mily merasa nyaman. Kulihat, Mily sibuk menjilat tubuh ketiga anaknya.

"Ternyata Mily jowo juga sama anaknya," gumanku lirih.

Aku memang takut kalau Mily tidak jowo sama anaknya, karena induknya Mily meninggalkannya begitu saja. Sampai akhirnya aku mengambilnya untuk aku rawat. Aku pikir, setelah bisa cari makan sendiri, akan aku bawa ke pasar. Karena di rumah sudah ada kucing. Ternyata, aku tak sampai hati. Maka, Milypun jadi penghuni rumah tetap sampai ia besar dan saat ini melahirkan.

Hari berjalan, aku selalu mengikuti perkembangan anaknya Mily. Aku catat setiap ada perkembangan. Aku ingin tahu, saat Mily aku rawat berumur berapa. Sampai pada tanggal 28 Desember, aku lihat anaknya Mily mulai bisa membuka mata, walaupun masih sangat kecil. Artinya, seekor kucing yang baru lahir, bisa membuka matanya setelah 10 hari kelahirannya.

Pada tanggal 5 Januari 2016, aku lihat anaknya Mily mencret. Aku pikir salah makan. Tapi aku ingat-ingat, kucing tersebut nyusu induknya. Tidak mungkin mencret.Kotorannya dijilat sama Mily hingga bersih. Aku geleng-geleng kepala menyaksikan adegan itu. Betapa besarnya pengorbanan sang induk kucing kepada anaknya. Sampai kotorannya pun dijilat agar anaknya selalu bersih.



Aku tertegun, begitu sayangnya Mily pada anak-anaknya. Ia tidak membiarkan ketiganya kotor. Aku jadi berpikir, mungkin lagi belajar BAK. Entah benar entah tidak, aku sendiri tidak tahu.
Sekarang, ketiganya sudah bisa melihat dan mendengar. Kalau aku ajak bicara, mereka diam memperhatikan. Kadangkala naik-naik ke dus. Mungkin lagi belajar merayap.

Aku belum berani mengeluarkannya dari dalam dus. Nunggu umur satu bulan dulu, karena saat ini jalannya masih tertatih.