"Iya," jawab pak sopir.
"Lewat Jalibar ?" tanya saya lagi.
"Tidak," jawab pak supir.
Sejak tanggal 15 Mei kemarin, kami berdua memiliki agenda yang sama sebagai sesama BMI Purna Hong Kong.
Karena kursi bagian depan sudah terisi penuh, saya memilih duduk di kursi paling belakang. Alasannya dekat pintu, jadi bisa mendapatkan udara segar dan saat turun dari bis jaraknya dekat. Dalam bis itu ada pengamen yang sedang menyanyi lalu menjajakan plastik/wadah untuk uang pemberian para penumpang.
Tak berapa lama, bis pun berjalan.perlahan meninggalkan terminal kota Blitar. Kemudian kondektur yang duduk pas didepan kursi saya, lewat menarik uang dari penumpang yang belum membayar.
"Turun pasar Kepanjen," kata saya kepada kondektur sambil memberikan uang lima puluh ribuan.
"Kita nggak lewat Panjen, tapi lewat Jalibar," jawab kondektur, membuat saya terkejut.
"Tadi kata pak supirnya nggak lewat Jalibar?" protes saya.
"Nanti turun di Talang Agung, kita nggak lewat Panjen," kata kondektur dengan muka tanpa senyum.
Saya diturunkan di pertigaan Talang Agung, cukup jauh dari rumah saya. Tanpa banyak bicara, saya turun dan berjalan menuju Indomaret yang kebetulan terlihat oleh saya.Membeli pulsa yang kebetulan habis, agar saya bisa menghubungi orang rumah dan mengabarkan keadaan dan posisi saya saat itu.
Entah, sudah berapa banyak kebohongan-kebohongan yang mereka laukukan kepada penumpangnya.
Satu kebohongan bila dibiarkan akan menjalar tak berkesudah.
PO. HARAPAN BARU
Jl. Pahlawan Karangsuko
Telp. (0355) 793367
Trenggalek
E.N0 057028
Catatan perjalanan Blitar -Malang ;17-Mei 2016

adakah cara mengetahui awak bis tidak berbohong kepada kita?
BalasHapussepertinya udah terlalu biasa di indonesia
BalasHapusbenar
BalasHapus