Bepergian dengan menggunakan kereta api, tidak
menjadi kebiasaan saya. Boleh dikata, saya awam dengan salah satu alat transportasi ini. Namun,
ketika saya harus menghadiri sebuah undangan dari komunitas buruh migran yang kebanyakan
dari pesertanya menggunakan jasa ini, mau tak mau sayapun ikut menggunakannya.
Alasannya, karena tidak ada teman dari daerah dimana saya berasal : Malang.
Jadi, saya sendirian. Oleh karena itu, sayapun
mencari teman yang sama-sama akan menghadiri undangan tersebut. Malang
Purwokerto adalah jarak yang harus
ditempuh. Karena berangkatnya bersama-sama, perjalanan jauh pun tidak begitu
memberatkan. Kami bisa bercengkrama sambil mengenang masa-masa ketika sama-sama
menjadi perantau.
Tidak ada halangan berarti, perjalanan kami mulus
sampai tujuan. Semua acara yang digelar bisa kami ikuti dengan baik tanpa
absen. Karena ini kali pertama saya ikuti, maka di acara itu banyak wajah-wajah
baru yang saya temui. Selama ini saya hanya tahu namanya saja. Kami pun
berkenalan secara langsung.
Diruangan
meeting yang cukup luas, kami belajar , berdiskusi dan saling berbagi
informasi. Tujuannya adalah satu, yaitu meraih kesuksesan bersama-sama sepulang
dari rantau.
Setelah acara tersebut usai, kami pun bersiap kembali
ke daerah masing-masing. Ada yang naik kereta api juga bis. Kami berpencar satu
sama lain sesuai arah tujuan. Saya dkk
memilih naik kereta api lagi, tapi kali ini, kami harus berpisah karena stasiun yang dituju tidak sama. Jarak
yang saya tempuh adalah jarak yang paling panjang.
Karena tidak perpengalaman dengan kereta api, maka
sayapun memutuskan mengikuti rute yang tertera pada tiket. Purwokerto- Surabaya
Gubeng, sedang yang lainnya turun di stasiun Madiun. Keputusan ini saya ambil
untuk mengetahui banyak tentang perjalanan menggunakan kereta api. Sesampai di
Gubeng jam 1.30 dini hari. Saya pikir bisa langsung membeli tiket dengan tujuan Malang, ternyata saya harus
menunggu selama dua jam karena loket baru buka jam 3.30.
Saya melongok ke luar stasiun, ada banyak orang
disana. Para supir taxi, ojek, pedagang dll. Demi keamanan, saya memilih
tinggal didalam area stasiun dengan yang lain. Ternyata petugas stasiun meminta
kami keluar. Akhirnya saya pun keluar menuju tempat pembelian loket setelah
bertanya pada seseorang.
Bersama dengan calon penumpang kereta api lainnya,
saya duduk di emperan stasiun Gubeng menunggu loket pembelian tiket dibuka.
Lampu penerangan remang-remang ditambah guyuran hujan gerimis, menambah lengkap
suasana stasiun Gubeng dini hari itu. Belum lagi dengungan suara nyamuk mencari
mangsa untuk dihisap darahnya. Secepatnya saya mencari lotion anti nyamuk yang
sudah saya sediakan untuk terhindar dari gigitan binatang satu ini.
Anak-anak balita, orang dewasa, manula berbaur jadi
satu. Mereka semua duduk di emperan stasiun, bahkan ada yang sambil tiduran.
Ada yang ngobrol, merokok, makan atau minum setelah membeli dari penjual
yang juga menjajakan dagangannya di
situ. Kopi panas, nasi bungkus, pop mie adalah yang paling laris diserbu calon
penumpang kereta api.
Sebenarnya saya pun merasa lapar, karena sejak dari
Purwokerto perut tidak terisi kecuali sedikit makan snak yang saya bawa dari
Malang. Ingin beranjak ke penjual makanan, tapi kepala terasa berat. Badan
sudah terasa lelah dan pegal-pegal karena masuk angin. Saya minum sebutir obat
Ultra Flu untuk meringankan beban sakit. Mata terasa berat setelah minum obat,
tapi saya tetap harus terjaga karena membawa barang dan saya sendirian. Tempat
tunggu yang disediakan pihak kereta api buat calon penumpangnya tidak ada, emperan pun jadi alih fungsi sementara sambil
menunggu loket tiket dibuka.
Yang menunggu di emperan itu bukan saja calon
penumpang yang mau beli tiket, tetapi
yang sudah memiliki tiketpun harus juga menunggu disitu. Bahkan ada yang
menunggu di emperan toko yang bersebelahan dengan stasiun Gubeng, seperti
Indomaret.
Untuk mengalihkan rasa kantuk, saya mencoba menghubungi
seorang kawan via WhatsAp dan tak berapa lama mendapat balasan. Akhirnya
kamipun ber-WhatsAp-an. Terlihat kekhawatiran dari ucapan temannya setelah
mendengar ceriata dari saya.
“ Ya, seperti
itulah di Indonesia. Tidak seperti di luar negeri. Kenapa di negeri sendiri
pelayanannya asal-asalan ya mbak?”, katanya.
“ Dananya di korupsi kali,” jawab saya.
Pikiran saya menerawang di sela-sela keremangan
malam, memikirkan ucapan teman saya tadi. Juga ketika saya melihat fakta di
lapangan, bagaimana pelayanan di negeri
tercinta ini. Sangat jauh berbeda dengan di luar negeri, tepatnya Hong
Kong dimana saya pernah menjemput rezeki.
Menurut saya, pelayanan di negeri ini tidak menjadi
hal penting. Sekedar asal-asalan saja. Saya rasa dana untuk pengadaan pelayanan
pasti ada, hanya dana tersebut raib tidak tersalurkan pada tempatnya. Mungkin
dana tersebut lari ke kantong pribadi atau kantong golongan. Mau sampai kapan? Entahlah! Negeri ini tidak
akan maju bila korupsi tetap ada.
Semua calon penumpang harus menunggu di emperan yang
jauh dari kata aman, nyaman dan sehat. Kalau hujan akan kehujanan, kalau panas
akan kepanasan, kalau dingin akan kedinginan. Apalagi para balita berbaur
dengan orang dewasa yang lagi menikmati kepulan asap rokoknya. Sungguh
pemandangan yang sangat menyedihkan…
Stasiun Gubeng Surabaya : 31 Maret 2016


Duh mbak, malem2 sendirian di stasiun, meskipun rame, ga bayangin harus terjaga terus demi keamanan...lebih serem dari nonton film horror..
BalasHapusDuh mbak, malem2 sendirian di stasiun, meskipun rame, ga bayangin harus terjaga terus demi keamanan...lebih serem dari nonton film horror..
BalasHapusberat tuk melangkah kearah tanah air, mungkinkah aku terus membantu di luar saja
BalasHapusgak juga
BalasHapusmemang harus berjaga selalu
BalasHapus