Sabtu, 02 April 2016

Menunggu Di Emperan Stasiun



Bepergian dengan menggunakan kereta api, tidak menjadi kebiasaan saya. Boleh dikata, saya awam dengan  salah satu alat transportasi ini. Namun, ketika saya harus menghadiri sebuah undangan dari komunitas buruh migran yang kebanyakan dari pesertanya menggunakan jasa ini, mau tak mau sayapun ikut menggunakannya. Alasannya, karena tidak ada teman dari daerah dimana saya berasal : Malang.

Jadi, saya sendirian. Oleh karena itu, sayapun mencari teman yang sama-sama akan menghadiri undangan tersebut. Malang Purwokerto  adalah jarak yang harus ditempuh. Karena berangkatnya bersama-sama, perjalanan jauh pun tidak begitu memberatkan. Kami bisa bercengkrama sambil mengenang masa-masa ketika sama-sama menjadi perantau.

Tidak ada halangan berarti, perjalanan kami mulus sampai tujuan. Semua acara yang digelar bisa kami ikuti dengan baik tanpa absen. Karena ini kali pertama saya ikuti, maka di acara itu banyak wajah-wajah baru yang saya temui. Selama ini saya hanya tahu namanya saja. Kami pun berkenalan secara langsung.
Diruangan  meeting yang cukup luas, kami belajar , berdiskusi dan saling berbagi informasi. Tujuannya adalah satu, yaitu meraih kesuksesan bersama-sama sepulang dari rantau.

Setelah acara tersebut usai, kami pun bersiap kembali ke daerah masing-masing. Ada yang naik kereta api juga bis. Kami berpencar satu sama lain sesuai  arah tujuan. Saya dkk memilih naik kereta api lagi, tapi kali ini, kami harus berpisah  karena stasiun yang dituju tidak sama. Jarak yang saya tempuh adalah jarak yang paling panjang.

Karena tidak perpengalaman dengan kereta api, maka sayapun memutuskan mengikuti rute yang tertera pada tiket. Purwokerto- Surabaya Gubeng, sedang yang lainnya turun di stasiun Madiun. Keputusan ini saya ambil untuk mengetahui banyak tentang perjalanan menggunakan kereta api. Sesampai di Gubeng jam 1.30 dini hari. Saya pikir bisa langsung membeli tiket  dengan tujuan Malang, ternyata saya harus menunggu selama dua jam karena loket baru buka jam 3.30.

Saya melongok ke luar stasiun, ada banyak orang disana. Para supir taxi, ojek, pedagang dll. Demi keamanan, saya memilih tinggal didalam area stasiun dengan yang lain. Ternyata petugas stasiun meminta kami keluar. Akhirnya saya pun keluar menuju tempat pembelian loket setelah bertanya pada seseorang.
Bersama dengan calon penumpang kereta api lainnya, saya duduk di emperan stasiun Gubeng menunggu loket pembelian tiket dibuka. Lampu penerangan remang-remang ditambah guyuran hujan gerimis, menambah lengkap suasana stasiun Gubeng dini hari itu. Belum lagi dengungan suara nyamuk mencari mangsa untuk dihisap darahnya. Secepatnya saya mencari lotion anti nyamuk yang sudah saya sediakan untuk terhindar dari gigitan binatang satu ini.

Anak-anak balita, orang dewasa, manula berbaur jadi satu. Mereka semua duduk di emperan stasiun, bahkan ada yang sambil tiduran. Ada yang ngobrol, merokok, makan atau minum setelah membeli dari penjual yang  juga menjajakan dagangannya di situ. Kopi panas, nasi bungkus, pop mie adalah yang paling laris diserbu calon penumpang kereta api.

Sebenarnya saya pun merasa lapar, karena sejak dari Purwokerto perut tidak terisi kecuali sedikit makan snak yang saya bawa dari Malang. Ingin beranjak ke penjual makanan, tapi kepala terasa berat. Badan sudah terasa lelah dan pegal-pegal karena masuk angin. Saya minum sebutir obat Ultra Flu untuk meringankan beban sakit. Mata terasa berat setelah minum obat, tapi saya tetap harus terjaga karena membawa barang dan saya sendirian. Tempat tunggu yang disediakan pihak kereta api buat calon penumpangnya tidak ada,  emperan pun jadi alih fungsi sementara sambil menunggu loket tiket dibuka.
Yang menunggu di emperan itu bukan saja calon penumpang yang mau beli tiket, tetapi  yang sudah memiliki tiketpun harus juga menunggu disitu. Bahkan ada yang menunggu di emperan toko yang bersebelahan dengan stasiun Gubeng, seperti Indomaret.

Untuk mengalihkan rasa kantuk, saya mencoba menghubungi seorang kawan via WhatsAp dan tak berapa lama mendapat balasan. Akhirnya kamipun ber-WhatsAp-an. Terlihat kekhawatiran dari ucapan temannya setelah mendengar ceriata dari saya.
“  Ya, seperti itulah di Indonesia. Tidak seperti di luar negeri. Kenapa di negeri sendiri pelayanannya asal-asalan ya mbak?”, katanya.
“ Dananya di korupsi kali,” jawab saya.

Pikiran saya menerawang di sela-sela keremangan malam, memikirkan ucapan teman saya tadi. Juga ketika saya melihat fakta di lapangan, bagaimana pelayanan di negeri  tercinta ini. Sangat jauh berbeda dengan di luar negeri, tepatnya Hong Kong dimana saya pernah menjemput rezeki.

Menurut saya, pelayanan di negeri ini tidak menjadi hal penting. Sekedar asal-asalan saja. Saya rasa dana untuk pengadaan pelayanan pasti ada, hanya dana tersebut raib tidak tersalurkan pada tempatnya. Mungkin dana tersebut lari ke kantong pribadi atau kantong golongan.  Mau sampai kapan? Entahlah! Negeri ini tidak akan maju bila korupsi tetap ada.

Semua calon penumpang harus menunggu di emperan yang jauh dari kata aman, nyaman dan sehat. Kalau hujan akan kehujanan, kalau panas akan kepanasan, kalau dingin akan kedinginan. Apalagi para balita berbaur dengan orang dewasa yang lagi menikmati kepulan asap rokoknya. Sungguh pemandangan yang sangat menyedihkan…

Stasiun Gubeng Surabaya : 31 Maret 2016




5 komentar:

  1. Duh mbak, malem2 sendirian di stasiun, meskipun rame, ga bayangin harus terjaga terus demi keamanan...lebih serem dari nonton film horror..

    BalasHapus
  2. Duh mbak, malem2 sendirian di stasiun, meskipun rame, ga bayangin harus terjaga terus demi keamanan...lebih serem dari nonton film horror..

    BalasHapus
  3. berat tuk melangkah kearah tanah air, mungkinkah aku terus membantu di luar saja

    BalasHapus