Jumat, 08 Januari 2016

Proses Persalinan Si Mily

Sabtu Pahing, malam minggu, tepatnya tanggal 19 Desember 2015, Mily kucing betina yang aku pelihara kelihatan gelisah. Ia mondar mandir sambil sesekali mengeong. Yang membuat aku aneh, ia selalu mengikuti kemana aku pergi.
"Jangan-jangan, Mily mau melahirkan? Benarkah? Padahal tadi sore, jupritan sama aku," gumanku dalam hati.

Hari bertambah gelap, Mily makin gelisah. Ia masuk ke kamarku dan naik ke  satu-satunya tas rangsel yang aku punya. Memaksa untuk masuk ke dalam tas rangsel. Kecurigaanku makin bertambah.
Karena aku takut Mily terjatuh, tas rangsel aku turunkan. Aku buka resletingnya, dan Milypun masuk ke dalam. Aku relakan tas itu buat Mily melahirkan.

Senja berlalu, menjadi malam. Suara adzan Maghrib berkumandang. Tingkah laku Mily semakin menunjukkan kalau ia benar-benar mau melahirkan. Akupun ikut bingung.

Aku ambil kerdus dan kain buat Mily sembunyi, karena aku ingat kata orang, kalau kucing mau melahirkan, ia gak suka tempat yang terang. Dalam dus, Mily tidur, tapi sebentar-sebentar bangun. Entah kenapa, ia keluar dan masuk ke tas rangsel yang tadi ditinggalkannya.

Bergonta-ganti posisi. Sesekali mulutnya ternganga seperti menahan sakit. Aku tinggalkan Mily di tas itu, karena aku lihat dia mulai tenang. Tapi ternyata, ia keluar dan mengikutiku sambil mulutnya ngeong-ngeong.
Aku tigak tega, akhirnya aku menungguinya di dekat tas rangsel yang dimasukkinnya.

Aku elus-elus kepalanya, dengan harapan akan mengurangi kegalauannya. Makin lama, Mily makin sering bergerak. Entah karena kurang lebar, akhirnya ia keluar dari tas rangsel. Ia tidur di lantai. Buru-buru aku kasih kain dibawah badannya, supaya tidak dingin. Dan bisa untuk membungkus anaknya kalau lahir nanti.

Gerakan dalam perut Mily makin keras dan cepat. Mulutnya menganga sambil mengeong lirih. Matanya sayu menatapku. Mungkin ingin bicara kalau perutnya sakit. Hanya aku yang tak mengerti bahasanya. Aku mencoba memahami tatapan matanya.

Mily mengalami kontradiksi. Ia mengedan dan dari kelaminnya keluar gumpalan sebesar kelereng ukuran besar. Warnanya bening seperti buah kelengkeng. Ia berusaha mengeluarkan benda itu sambil terus mengedan.



Tepat jam 20.08, lahirlah  anak pertama Mily. Dengan sigap, dijilatinya cairan yang menempel pada tubuh bayinya yang baru lahir itu. Tak berapa lama kemudian, ia menelan sesuatu. Aku tidak tahu benda itu apa namanya. Mungkin ari-ari. Aku tidak begitu memperhatikan, karena jijik melihat darah. Tapi aku tetap siaga, kalau-kalau Mily memakan bayinya.


Kata Madjid, setiap kucing betina akan melahirkan bayi pertama berwarna telon bulunya. Kalau jantan, akan dimakan sama induknya. Aku berusaha melihat warna bayinya si Mily. Sepertinya memang  berbulu telon, tapi aku tidak yakin karena warnanya samar-samar,dan  aku  juga tidak tahu jenis kelaminnya, karena masih kecil banget.

"Ah, mau jantan atau betina, yang penting aku jaga saja," kataku  dalam hati, karena mulai pusing memikirkan cerita kucing berbulu telon.

Aku pijit-pijit perut si Mily. Ada gerakan-gerakan di situ. Ternyata masih ada bayi lagi. Setelah bayi pertama kelihatan bersih dijilati oleh Mily, ku lihat ia mengedan lagi. Masih gelisah seperti tadi. Aku elus-elus kepalanya sambil berbicara layaknya pada orang.

" O..., Mily sayang. Tenang ya. Nbentar lagi anaknya keluar," kataku.

Sepertinya Mily mengerti. Dia diam  tapi mulutnya tetap menganga. Sesekali mengedan. Tak berapa lama, keluar lagi benda yang sama seperti tadi. Anak keduanya lahir. Dijilatinya lagi cairan yang menempel pada bayinya itu.



Ku lihat jam di handphone, ingin memastikan jam kelahiran bayi keduanya Mily, 21.03. Kemudian proses itu berulang lagi. Pada jam 21.15, bayi ketiga lahir sudah.Aku merasa lega. Aku masukkan ke dalam dus yang sudah aku kasih kain dan spoon, agar ketiga anaknya Mily merasa nyaman. Kulihat, Mily sibuk menjilat tubuh ketiga anaknya.

"Ternyata Mily jowo juga sama anaknya," gumanku lirih.

Aku memang takut kalau Mily tidak jowo sama anaknya, karena induknya Mily meninggalkannya begitu saja. Sampai akhirnya aku mengambilnya untuk aku rawat. Aku pikir, setelah bisa cari makan sendiri, akan aku bawa ke pasar. Karena di rumah sudah ada kucing. Ternyata, aku tak sampai hati. Maka, Milypun jadi penghuni rumah tetap sampai ia besar dan saat ini melahirkan.

Hari berjalan, aku selalu mengikuti perkembangan anaknya Mily. Aku catat setiap ada perkembangan. Aku ingin tahu, saat Mily aku rawat berumur berapa. Sampai pada tanggal 28 Desember, aku lihat anaknya Mily mulai bisa membuka mata, walaupun masih sangat kecil. Artinya, seekor kucing yang baru lahir, bisa membuka matanya setelah 10 hari kelahirannya.

Pada tanggal 5 Januari 2016, aku lihat anaknya Mily mencret. Aku pikir salah makan. Tapi aku ingat-ingat, kucing tersebut nyusu induknya. Tidak mungkin mencret.Kotorannya dijilat sama Mily hingga bersih. Aku geleng-geleng kepala menyaksikan adegan itu. Betapa besarnya pengorbanan sang induk kucing kepada anaknya. Sampai kotorannya pun dijilat agar anaknya selalu bersih.



Aku tertegun, begitu sayangnya Mily pada anak-anaknya. Ia tidak membiarkan ketiganya kotor. Aku jadi berpikir, mungkin lagi belajar BAK. Entah benar entah tidak, aku sendiri tidak tahu.
Sekarang, ketiganya sudah bisa melihat dan mendengar. Kalau aku ajak bicara, mereka diam memperhatikan. Kadangkala naik-naik ke dus. Mungkin lagi belajar merayap.

Aku belum berani mengeluarkannya dari dalam dus. Nunggu umur satu bulan dulu, karena saat ini jalannya masih tertatih.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar