Tahun ini adalah tahun pertama aku berlebaran di
tanah air bersama keluarga. Kumandang takbir saling bersahutan di malam akhir
bulan Ramadan. Suasananya begitu
semarak. Anak kecil, remaja, orang dewasa, berbaur jadi satu berjalan
beriringan sambil bertakbir disela-sela lalu- lalangnya
kendaraan umum di jalan raya Ahmad Yani, Kepanjen. Itulah gambaran sekilas
malam takbir.
Saat lebaran
seperti ini, ada momen penting
dan banyak orang yang tidak mau meninggalkannya, karena datangnya setahun
sekali : Mudik!
Padahal,kalau dipikir-pikir, mudik bisa dilakukan
kapan saja, tapi entah kenapa, mudik menjadi satu kewajiban bagi sebagian
orang, ketika lebaran. Mudik, adalah
salah satu fenomena di Indonesia yang terjadi menjelang lebaran . Mudik menjadi “ke-khas-an” lebaran. Saat mudik, semua keluarga bisa
berkumpul karena bisa cuti kerja. Mungkin ini yang menjadi salah satu alasan.
Mudik inipun dilakukan bagi para perantau
di luar negeri demi bisa bertemu keluarga dalam suasana lebaran.
Mudik membuat banyak komponen menjadi sibuk luar biasa lalu mempersiapkan
diri. Dari dinas perhubungan,
kepolisian, pedagang asongan dll.
Semuanya menjadi satu kekomplitan dalam suasana “mudik”. Aku pun tak
melewatkan momen penting ini, mudik
bersama keluarga.
Tanggal 18, hari kedua lebaran, berangkatlah aku ke
tanah dimana aku dilahirkan : Jember. Jam
09.00 bis patas Akaz yang aku naiki perlahan meninggalkan area
terminal yang terletak di daerah Arjosari-Malang. Sengaja aku memilih bis patas
supaya cepat sampai tujuan, meskipun harganya dua kali lipat dari harga bis
biasa, yaitu Rp. 66.000. Sedang anak-anak naik sepeda motor, melewati jalan
pintas yang lebih pendek jarak tempuhnya.
Alhasil, jam
13.00 bis baru masuk area terminal
Banyuangga, Probolinggo. Kondektur bis memberi intruksi pada para penumpang
untuk turun. Aku bangkit dan berjalan ke bagian depan bis. Menanyakan, apakah
jurusan Jember harus turun juga. Ternyata, semua jurusan harus turun di
terminal itu.
menuju bis kedua yang ditunjukkan kondektur. Terletak
persis di depan bis patas yang baru aku tinggalkan. Setelah mendapat kursi, ku
coba menanyakan pada kondektur bis itu, apakah
masih istirahat. Ternyata bis
tersebut langsung jalan. Apes! Aku harus sabar menunggu sampai di terminal Tawang Alun, Jember hanya untuk mencari
toilet : buang air kecil!
Syukurlah, perjalanan ke Jember lancar. Tidak ada
gangguan berarti , sehingga bis bisa meluncur dengan cepat meninggalkan kota
Probolinggo. Dan itulah yang menjadi harapanku. Ingin segera istirahat karena badanku sudah terasa penat.
Entah jam berapa sampai di terminal Jember, aku
lupa. Ketika turun dari bis, tempat pertama yang aku tanyakan adalah toilet. Setelah membayar uang Rp.2000 kepada penjaga
toilet, aku segera bergegas pergi. Menemui dimana anakku sedang menunggu. Kami
pun meluncur mengendarai sepeda motor menuju Kecamatan Jenggawah. Sekitar satu jam
menyusuri jalan raya, sampailah di depan rumah yang dituju. Ternyata, anak-anak
sudah pada istirahat. Rupanya mereka datang lebih awal daripada aku yang naik
bis. Padahal di daerah Lumajang, sepeda motor yang mereka tumpangi bermasalah dan memaksa mereka mendorongnya
sepanjang 4 kilometer. Perjalanan Malang- Jember yang biasanya ditempuh 4-5
jam, hari itu ditempuh selama 7 jam!
*******
Bertemu dengan
keluarga yang lama aku tinggalkan, menjadikan rasa lelah hilang. Sisa waktu yang ada diisi dengan ngobrol dan berbagi cerita sambil diskusi
menyusun jadwal halal bihalal. Lepas Maghrib, aku dan anak-anak bergegas
berkunjung ke rumah saudara-saudara yang
ada di desa Cangkring hingga pukul
22.00.
Esok harinya, halal bihalal berlanjut ke rumah mbakyu di desa Mumbulsari, menggunakan kendaraan roda dua. Tapi, sebelum itu, kami berunjungsana ke
keluarga yang bertempat tinggal di dekat
situ. Salah satunya berkunjung ke pemilik batu akik, sambil memilih jenis batu
akik untuk dibawa pulang. Setelah dirasa cukup, berpamitan, lalu bergegas ke
rumah mbakyu.
Banyak perkebunan karet, coklat dan tembakau yang
kami lewati. Sekitar satu jam, sampailah di tempat tujuan. Sambil menunggu
keluarga dari Kencong-Jember, kami pun bercerita panjang lebar tentang banyak peristiwa. Saling menanyakan kabar anak-anak yang sudah
beranjak dewasa, hingga “pangling” dibuatnya.
Sekitar dua
jam menunggu, akhirnya keluarga dari Kencong tiba. Saling tebak-menebak sambil
mengingat satu per satu wajah- wajah yang ada di ruangan itu. Gelak tawa
menambah riuh suasana. Saling menenanyakan kabar masing-masing, berbagi cerita
dan kisah. Lalu, kami pun berpisah. Sebelum berpisah, kami sepakat bertemu lagi
di Mabul-Malang. Tempat keluarga besar dari almarhum bapak.
Berpamitan pulang,
aku dan anak-anak kembali ke Jenggawah. Setibanya di Jenggawah, masih
mampir ke beberapa keluarga.
Kunjungan pertama untuk saling kenal dari dua keluarga yang dipersatukan
oleh pernikahan. Selepas dari unjungsana ini, anak-anak melanjutkan perjalanan
ke Paiton –Probolinggo. Sedang aku, harus menginap satu malam lagi karena tidak
diijinkan kembali ke Malang, dengan alasan masih kangen.
Esok pagi, setelah “ nyekar” ke makam mamak, aku pun
bergegas pergi menuju terminal bis. Kali ini, aku ingin mencoba naik bis biasa.
Ingin tahu berapa ongkosnya tiketnya. Ku
pilih bis “ Tentrem” . Ternyata memang jauh lebih murah.
Aku pilih kursi dekat pintu belakang supaya “isis”
dapat angin, karena bis tersebut tidak ber- AC. Sebab, ada bi ber-AC tapi
taripnya biasa lho! Maunya duduk di kursi depan, ternyata sudah ditempati orang. Cukup lama menunggu
bis itu jalan, sekitar 15 menit baru beranjak meninggalkan terminal Tawang Alun menuju Malang.
Karena bis biasa, maka sering berhenti di terminal
antar kota untuk menaikkan-turunkan
penumpang. Pun ada yang penumpang operan dari bis lain. Bis yang awalnya terasa lengang karena jumlah
penumpangnya sedikit, menjadi penuh sesak ketika sudah sampai di terminal
Banyuangga Probolinggo.
Bis melaju tanpa kendala. Sebentar-bentar, aku
melirik arloji, ingin tahu perjalanan Jember- Malang bisa ditempuh berapa jam.
Ternyata lebih cepat disbanding saat aku
berangkat. Riang hatiku, karena sebentar
lagi sampai Malang, tidak perlu lama-lama berjubel dengan penumpang bis.
Apa hendak
dikata, memasuki daerah Lawang- Malang, bis hamper tidak bisa bergerak. Bukan
karena ada kerusakan, tetapi karena terjebak macet. Oalah, macet lagi, macet
lagi.
Malang-Jember
: 18-20 Juli 2015




Tidak ada komentar:
Posting Komentar