Rabu, 26 Agustus 2015

Kisah Unik Di Hari Kemerdekaan RI



Menjelang detik-detik peringatan Hari Kemerdekaan, setiap rumah sudah dihiasi. Ada yang memasang bendera merah putih,umbul-umbul, spanduk dll. Masing-masing warga memoles wajah rumahnya dengan balutan warna merah putih.

Setiap desa sudah mulai menyusun rencana untuk meramaikan suasana dengan mengadakan berbagai lomba. Untuk merealisasikannya, tiap warganya dipungut iuran.

Ada yang ditentukan nilai nominalnya dan ada yang sifatnya sukarela. Dari uang tersebut, dibelikan hadiah-hadiah bagi pemenang lomba.

Ini adalah peringatan Hari Kemerdekaan yang pertama bagiku di Tanah Air. Aku pun ikut berpartisipasi apalagi cuma setahun sekali. Aku perhatikan sekeliling tempatku tinggal.

Sepanjang yang aku lihat, ada satu hal yang membuatku terkejut,heran dan tertawa karena merasa lucu. Ada yang  aneh menurutku tapi sepertinya tidak bagi yang lain. Entahlah..

Aku tinggal di wilayah yang tidak banyak penghuninya, maklum, kawasan  persawahan yang baru dibangun rumah-rumah penduduk. Jalan di depan rumah, menjadi jalan alternatif.  Meskipun begitu namun sangat ramai. Jam 12 malam saja, masih banyak kendaraan yang lalu lalang.

Jumlah penduduknya tidak banyak dan punya kesibukan sendiri-sendiri, sehingga  tidak ada aktivitas “nonggo”. Yang ada adalah rutinitas kerja setiap harinya. Wajah kehidupan kota terlihat di sana.

Aku punya tetangga  yang profesinya jual bakso dan daging sapi. Sukses kelihatannya dari profesi tersebut.
Memperhatikan logat bicaranya, dapat aku tebak, ia orang Madura, meskipun menggunakan bahasa Jawa.  Logat kemaduraannya terlihat jelas.

Meskipun aku jarang bertemu muka, namun, saat mereka bicara dengan nada keras, terdengar jelas sampai ke rumahku. Karena dekatnya jarak rumah kami.


Ada sesuatu yang lucu di rumah tetanggaku ini, dan itu terjadi di bulan Agustus, menjelang peringatan Hari Kemerdekaan tanggal 17 tahun 2015. Apakah itu? Memasang bendera!

Seperti yang kita tahu, memasang bendera sudah pasti memakai tiang bendera. Tiang ini bisa terbuat dari bambu  yang bentuknya lurus, berukuran kecil, juga bisa dari besi.
Biasanya, setiap warga memilikinya. Mereka juga membuat sesuatu yang terbuat dari semen, pasir, kapur yang dicampur dengan air, lalu dibentuk menjadi tempat  untuk “mancep” nya tiang bendera supaya berdiri tegak.
Sepertinya, tetanggaku ini tidak punya tiang khusus untuk mengibarkan bendera. Mungkin malas mau beli, karena tiang tersebut hanya digunakan setahun sekali. Kalau alasannya tidak punya uang, rasanya sangat mustahil, karena mereka orang kaya.

Tidak punya tiang bendera, kayaknya tidak membuat mereka kehilangan akal. Bendera merah putih dikibarkan pada sebuah tiang lampu. Namun, yang membuat heran dan lucu adalah cara memasang bendera tersebut, yaitu : seperempat tiang!

Saat pertama aku melihatnya, sempat terkejut. Yang aku tahu, mengibarkan bendera setengah tiang dan satu tiang penuh. Mengibarkan bendera setengah tiang melambangkan “sedang berduka”. Sedang mengibarkan bendera satu tiang penuh, memang sudah pada umumnya begitu.

Tapi aku lihat semua orang yang lalu lalang disitu enjoy saja. Apakah karena tidak paham arti pengibaran bendera atau memang tidak perduli karena dirasa tidak begitu penting? Entahlah…


Catatan Harian.
Minggu, 23 Agustus 2015
Kepanjen- Malang





Tidak ada komentar:

Posting Komentar