Menjelang detik-detik peringatan Hari Kemerdekaan, setiap rumah sudah dihiasi. Ada yang memasang bendera merah putih,umbul-umbul, spanduk dll. Masing-masing warga memoles wajah rumahnya dengan balutan warna merah putih.
Setiap desa sudah mulai menyusun rencana untuk
meramaikan suasana dengan mengadakan berbagai lomba. Untuk merealisasikannya,
tiap warganya dipungut iuran.
Ada yang ditentukan nilai nominalnya dan ada yang
sifatnya sukarela. Dari uang tersebut, dibelikan hadiah-hadiah bagi pemenang
lomba.
Ini adalah peringatan Hari Kemerdekaan yang pertama
bagiku di Tanah Air. Aku pun ikut berpartisipasi apalagi cuma setahun sekali.
Aku perhatikan sekeliling tempatku tinggal.
Sepanjang yang aku
lihat, ada satu hal yang membuatku terkejut,heran dan tertawa karena merasa lucu.
Ada yang aneh menurutku tapi sepertinya tidak bagi yang lain.
Entahlah..
Aku tinggal di wilayah yang tidak banyak
penghuninya, maklum, kawasan persawahan
yang baru dibangun rumah-rumah penduduk. Jalan di depan rumah, menjadi jalan
alternatif. Meskipun begitu namun sangat
ramai. Jam 12 malam saja, masih banyak kendaraan yang lalu lalang.
Jumlah penduduknya tidak banyak dan punya kesibukan
sendiri-sendiri, sehingga tidak ada
aktivitas “nonggo”. Yang ada adalah rutinitas kerja setiap harinya. Wajah
kehidupan kota terlihat di sana.
Aku punya tetangga
yang profesinya jual bakso dan daging sapi. Sukses kelihatannya dari
profesi tersebut.
Memperhatikan logat bicaranya, dapat aku tebak, ia
orang Madura, meskipun menggunakan bahasa Jawa.
Logat kemaduraannya terlihat jelas.
Meskipun aku jarang bertemu muka, namun, saat mereka
bicara dengan nada keras, terdengar jelas sampai ke rumahku. Karena dekatnya
jarak rumah kami.
Ada sesuatu yang lucu di rumah tetanggaku ini, dan itu
terjadi di bulan Agustus, menjelang peringatan Hari Kemerdekaan tanggal 17
tahun 2015. Apakah itu? Memasang bendera!
Seperti yang kita tahu, memasang bendera sudah pasti
memakai tiang bendera. Tiang ini bisa terbuat dari bambu yang bentuknya lurus, berukuran kecil, juga
bisa dari besi.
Biasanya, setiap warga memilikinya. Mereka juga
membuat sesuatu yang terbuat dari semen, pasir, kapur yang dicampur dengan air,
lalu dibentuk menjadi tempat untuk
“mancep” nya tiang bendera supaya berdiri tegak.
Sepertinya, tetanggaku ini tidak punya tiang khusus
untuk mengibarkan bendera. Mungkin malas mau beli, karena tiang tersebut hanya
digunakan setahun sekali. Kalau alasannya tidak punya uang, rasanya sangat
mustahil, karena mereka orang kaya.
Tidak punya tiang bendera, kayaknya tidak membuat
mereka kehilangan akal. Bendera merah putih dikibarkan pada sebuah tiang lampu.
Namun, yang membuat heran dan lucu adalah cara memasang bendera tersebut, yaitu
: seperempat tiang!
Saat pertama aku melihatnya, sempat terkejut. Yang
aku tahu, mengibarkan bendera setengah tiang dan satu tiang penuh. Mengibarkan
bendera setengah tiang melambangkan “sedang berduka”. Sedang mengibarkan
bendera satu tiang penuh, memang sudah pada umumnya begitu.
Tapi aku lihat semua orang yang lalu lalang disitu
enjoy saja. Apakah karena tidak paham arti pengibaran bendera atau memang tidak
perduli karena dirasa tidak begitu penting? Entahlah…
Catatan Harian.
Minggu, 23 Agustus 2015
Kepanjen- Malang


Tidak ada komentar:
Posting Komentar