Nama kucing keturunan Anggora yang ada di rumahku. Warna bulunya
abu-abu berpadu dengan putih. Tebal dan “kriwul” seperti bulu kambing. Umurnya
sudah lebih dari 3 tahun. Sebenarnya, namanya cuma Manis saja, semanis rupanya.
Karena sekarang bertambah tambun, aku panggil ia dengan Manis Bom-Bom. He..he..
Cerita yang aku dengar, Manis
Bom-Bom dirawat sejak kecil, dan karena masih kecil itulah, ia diberi susu
Lactogen. Dia tidak doyan makan nasi apalagi “iwak gere”. Kalau dikasih makan,
yang dimakan ikannya doang.
Dan cerita lainnya lagi, si Manis
Bom-Bom ini hasil perkawinan “silang”, antara kucing biasa dengan kucing
Anggora. Bila dibanding dengan lainnya ( baca: pada umumnya), Manis Bom-Bom
memang beda. Bodinya besar,bulunya lebat dan halus. Bentuk wajahnya
seperti anjing kutub utara.
Kini, Manis Bom-Bom tinggal
bersamaku. Karena aku suka dengan binatang kucing, tentu saja aku merawatnya.
Sayangnya, Manis Bom-Bom “bengis”. Entah kenapa bisa begitu ya? Tidak
sembarangan bisa menyentuhnya. Jadi aku
takut juga menyentuhnya.
Hari ke hari aku perhatikan Manis
Bom-Bom. Ada rasa iba karena ia tidak bisa menikmati hidupnya dengan
sewajarnya. Sejak kecil, seulas tali mengikatnya. Alasan kenapa diikat,karena
takut diambil orang.
Aku berpikir, mungkin tali itulah
yang membuatnya bengis karena merampas kebebasannya. Aku mencoba melepas ia sebentar-sebentar
sambil menjaganya. Karena rumah ku dekat jalan raya dan banyak mobil
lalu-lalang, aku juga takut ada orang yang akan membawanya pergi.
Manis Bom-Bom ku lepas hanya di
dalam rumah saja. Dia kelihatan senang dan ceria. Kemana pun langkahnya, aku
ikutin. Ia mengendus dan mencium barang-barang yang ada di rumah. “Apa ini
ya?,” mungkin pertanyaan ini yang ada dalam pikiran Manis. Maklumlah, sekian
bulan, ruang lengkupnya terbelenggu tali.
Manis Bom-Bom punya tugas menjaga
tikus agar tidak memakan “gabah” yang disimpan, sebelum
tinggal denganku. Setelah pindah,ia tidak punya tugas apa-apa.
Aktivitasnya kini memperhatikan
kendaraan dan orang yang lalu lalang di
jalan depan rumah. Awalnya, ia kelihatan takut apalagi dengar suara
kereta yang sangat bising, tapi kini ia sudah terbiasa.
Ketika aku lengah menjaganya, Manis
Bom-Bom pun kencing di sembarang tempat. Merepotkan memang. Aku marahin ia, lalu
memberitahu ia untuk tidak sembarangan kencing. Entah ia mengerti atau tidak,
hal itu aku lakukan berkali-kali.
Lambat-laun, intensitas Manis
Bom-Bom kencing di sembarang tempat
menurun. Tentu aku senang. Ternyata, ia mengerti dengan apa yang aku bicarakan
terhadapnya. Hal lain yang aku lakukan
adalah mengelus-elusnya penuh kasih sayang. Aku merasa, ia kurang perhatian dan kasih sayang dalam masa
perawatan dan pertumbuhan.
Apa yang aku pikirkan, ternyata
benar. Meskipun Manis Bom-Bom hanya seekor kucing. Ia juga butuh perhatian dan
kasih sayang dari yang memeliharanya. Meskipun
masih tersisa bengisnya, Manis Bom-Bom sudah jauh lebih baik.
Saat dilepas, ia bermain dengan Moli
dan Mily. Berlari kejar-kejaran. “Saking” senangnya, ia sampai loncat-loncat
kegirangan padahal tumbuhnya “tambun”. Kalau sudah capek bermain, ia rebahkan
badannya di kasurku bersama dengan Moli dan Mily.
“Empuk ya Manis?,” tanyaku sambil
mengelusnya. Dia menggeliat manja.
Ah, ternyata, binatang pun butuh
kasih-sayang, bukan hanya manusia. Binatang pun bisa berpikir dan diarahkan.
Sebengis apapun, ia masih bisa berubah. Apalagi manusia? Pastinya bisa dan
sangat bisa! Manis Bom-Bom, adalah bukti nyata tentang hal itu, meskipun ia
hanya seekor kucing.
Memang bengisnya tidak hilang, kadangkala ia
menggerakkan kaki kanan/kiri, bagian
depan saat ada orang lewat. Mungkin maksudnya “menjawel” atau ingin
menyapa. Karena ia seekor kucing yang
kukunya tajam, tentu saja kuku tersebut melukai. Apalagi tekanan gerakkannya kuat karena
tumbuhnya yang tambun. Kadang, ia juga
menjawel pakaian bagian bawah, saat aku berjalan di dekatnya.
Manis Bom-Bom, paling takut di
“slintek”. Kalau sudah begitu, ia akan “ngacir sembunyi ketika melakukan
kesalahan. Saat lapar, ia akan betah “bengok-bengok”, membuat orang tidak
nyaman tidur. Ketika air minumnya habis pun begitu pula. Aku jadi bisa
mengira-ngira apa maunya, saat ia bengok-bengok. Suaranya keras dan nyaring.
Dan ia “betah” kalau sudah bengok-bengok, sampai apa yang diinginkan tercapai.
Itulah bedanya Manis Bom-Bom dengan
Moli dan Mily. Kedua kucing itu hanya diam saja meski pun lapar. Paling yang
mereka lakukan hanya mengikuti gerak langkah kaki, kemana aku pergi. Herannya,
setelah makanan tersaji, Manis Bom-Bom, diam dan menunggu Moli dan Mily selesai
makan. Mungkin ia mengalah, karena kedua kucing itu lebih kecil darinya. Manis….Manis….. @_@





Tidak ada komentar:
Posting Komentar