Sabtu, 15 Agustus 2015

Manis Bom-Bom


Nama kucing keturunan Anggora yang ada di rumahku. Warna bulunya abu-abu berpadu dengan putih. Tebal dan “kriwul” seperti bulu kambing. Umurnya sudah lebih dari 3 tahun. Sebenarnya, namanya cuma Manis saja, semanis rupanya. Karena sekarang bertambah tambun, aku panggil ia dengan Manis Bom-Bom. He..he..


Cerita yang aku dengar, Manis Bom-Bom dirawat sejak kecil, dan karena masih kecil itulah, ia diberi susu Lactogen. Dia tidak doyan makan nasi apalagi “iwak gere”. Kalau dikasih makan, yang dimakan ikannya doang.

Dan cerita lainnya lagi, si Manis Bom-Bom ini hasil perkawinan “silang”, antara kucing biasa dengan kucing Anggora. Bila dibanding dengan lainnya ( baca: pada umumnya), Manis Bom-Bom memang beda. Bodinya besar,bulunya lebat dan halus. Bentuk wajahnya seperti  anjing kutub utara.



Kini, Manis Bom-Bom tinggal bersamaku. Karena aku suka dengan binatang kucing, tentu saja aku merawatnya. Sayangnya, Manis Bom-Bom “bengis”. Entah kenapa bisa begitu ya? Tidak sembarangan bisa menyentuhnya.  Jadi aku takut juga menyentuhnya.
Hari ke hari aku perhatikan Manis Bom-Bom. Ada rasa iba karena ia tidak bisa menikmati hidupnya dengan sewajarnya. Sejak kecil, seulas tali mengikatnya. Alasan kenapa diikat,karena takut diambil orang.

Aku berpikir, mungkin tali itulah yang membuatnya bengis karena merampas kebebasannya. Aku mencoba melepas ia sebentar-sebentar sambil menjaganya. Karena rumah ku dekat jalan raya dan banyak mobil lalu-lalang, aku juga takut ada orang yang akan membawanya pergi.

Manis Bom-Bom ku lepas hanya di dalam rumah saja. Dia kelihatan senang dan ceria. Kemana pun langkahnya, aku ikutin. Ia mengendus dan mencium barang-barang yang ada di rumah. “Apa ini ya?,” mungkin pertanyaan ini yang ada dalam pikiran Manis. Maklumlah, sekian bulan, ruang lengkupnya terbelenggu tali.

Manis Bom-Bom punya tugas menjaga tikus  agar tidak  memakan “gabah” yang disimpan,  sebelum  tinggal denganku.   Setelah  pindah,ia tidak punya tugas apa-apa. Aktivitasnya  kini memperhatikan kendaraan dan orang yang lalu lalang di  jalan depan rumah. Awalnya, ia kelihatan takut apalagi dengar suara kereta yang sangat bising, tapi kini ia sudah terbiasa.

Ketika aku lengah menjaganya, Manis Bom-Bom pun kencing di sembarang tempat. Merepotkan memang. Aku marahin ia, lalu memberitahu ia untuk tidak sembarangan kencing. Entah ia mengerti atau tidak, hal itu aku lakukan berkali-kali.


Lambat-laun, intensitas Manis Bom-Bom  kencing di sembarang tempat menurun. Tentu aku senang. Ternyata, ia mengerti dengan apa yang aku bicarakan terhadapnya. Hal  lain yang aku lakukan adalah mengelus-elusnya penuh kasih sayang. Aku merasa, ia kurang  perhatian dan kasih sayang dalam masa perawatan dan pertumbuhan.

Apa yang aku pikirkan, ternyata benar. Meskipun Manis Bom-Bom hanya seekor kucing. Ia juga butuh perhatian dan kasih sayang  dari yang memeliharanya. Meskipun masih tersisa bengisnya, Manis Bom-Bom sudah jauh lebih baik.

Saat dilepas, ia bermain dengan Moli dan Mily. Berlari kejar-kejaran. “Saking” senangnya, ia sampai loncat-loncat kegirangan padahal tumbuhnya “tambun”. Kalau sudah capek bermain, ia rebahkan badannya di kasurku bersama dengan Moli dan Mily.
“Empuk ya Manis?,” tanyaku sambil mengelusnya.  Dia menggeliat manja.


Ah, ternyata, binatang pun butuh kasih-sayang, bukan hanya manusia. Binatang pun bisa berpikir dan diarahkan. Sebengis apapun, ia masih bisa berubah. Apalagi manusia? Pastinya bisa dan sangat bisa! Manis Bom-Bom, adalah bukti nyata tentang hal itu, meskipun ia hanya seekor kucing.




 Memang bengisnya tidak hilang, kadangkala ia menggerakkan kaki kanan/kiri, bagian  depan saat ada orang lewat. Mungkin maksudnya “menjawel” atau ingin menyapa.  Karena ia seekor kucing yang kukunya tajam, tentu saja kuku tersebut melukai.  Apalagi tekanan gerakkannya kuat karena tumbuhnya yang tambun.  Kadang, ia juga menjawel pakaian bagian bawah, saat aku berjalan di dekatnya.

Manis Bom-Bom, paling takut di “slintek”. Kalau sudah begitu, ia akan “ngacir sembunyi ketika melakukan kesalahan. Saat lapar, ia akan betah “bengok-bengok”, membuat orang tidak nyaman tidur. Ketika air minumnya habis pun begitu pula. Aku jadi bisa mengira-ngira apa maunya, saat ia bengok-bengok. Suaranya keras dan nyaring. Dan ia “betah” kalau sudah bengok-bengok, sampai apa yang diinginkan tercapai.



Itulah bedanya Manis Bom-Bom dengan Moli dan Mily. Kedua kucing itu hanya diam saja meski pun lapar. Paling yang mereka lakukan hanya mengikuti gerak langkah kaki, kemana aku pergi. Herannya, setelah makanan tersaji, Manis Bom-Bom, diam dan menunggu Moli dan Mily selesai makan. Mungkin ia mengalah, karena kedua kucing itu lebih kecil darinya.  Manis….Manis….. @_@








Tidak ada komentar:

Posting Komentar