Istirahat satu hari di rumah sepulang dari Jember,
sebenarnya belumlah cukup buatku. Karena keberadaanku di rumah bukanlah untuk
istirahat, tapi justru bersih-bersih rumah setelah aku tinggal. Dengan alasan
mengejar waktu, aku dan si bungsu memutuskan berangkat ke Magetan, Kamis 23
Juli 2015.
Saat ini,bila bepergian, aku harus ikut fokus pada
arah jalan. Berbeda dengan ketika masih di Hong Kong, tinggal duduk manis
sampai tujuan. Tidak perlu memperhatikan, apalagi mengingat rute jalan. Kalau
sekarang bersikap seperti itu, alamat kesasar-sasar.
Dengan hal baru ini, Alhamdulillah, aku bisa sedikit
demi sedikit mengingat rute jalan yang pernah aku lalui. Dan perjalanan hari ini melewati rute yang pernah aku lalui,
sehingga lebih mempercepat waktu. Malang-Magetan, adalah rute yang harus ku
tempuh dengan mengendarai kendaraan roda dua.
Di Blitar, berhenti
untuk istirahat dan membeli sedikit makanan. Lalu melanjutkan perjalanan
sambil memperhatikan “ plang” rute
perjalanan berwarna hijau yang dipasang dipinggir jalan. Cukup memudahkan dan
sangat membantu. Tak terbayangkan, tanpa plang tersebut, berapa kali aku harus
turun dari kendaraan untuk bertanya pada orang.
Malang, Blitar, Tulung Agung, bisa aku lalui dengan
mulus tanpa hambatan apa-apa, hingga masuk kota Trenggalek. Istirahat sejenak
di warung makanan yang ada di pinggir
jalan, sambil lesehan karena punggung, pantat dan mata sudah terasa capek dan
panas. Udara di luar cukup panas, menambah rasa lelah yang ada.
Setelah membaca menu makanan yang tersedia, pilihan
jatuh pada mie ayam dan es jeruk, dan si bungsu memesan bakso dan jeruk hangat. Dalam bayanganku, setelah
makan dan minum di warung ini, akan bisa
membangkitkan energi yang telah terkuras.
Ndelalah, makanan dan minuman yang
kami pesan tidak enak untuk dinikmati.
Bakso yang edentik dengan pentolnya, ternyata tidak
seperti pentol rasanya, tapi lebih mirip
rasa cilok. Makanan yang dibuat dari tepung kanji dicampur daging sapi
sedikit. Lalu jeruk panasnya, ternyata
Marimas. Pun juga dengan mie ayam yang biasanya terbuat dari mie basah yang
dimasak sebentar, ternyata yang ini terbuat dari mie kering ukuran sedang.
Biasanya mie kering seperti ini dimasak dengan sayur sawi/kol yang dibuat “berkat” oleh orang-orang yang
sedang hajatan. Tentu saja rasanya nggak ngalor nggak ngidul.
Es jeruk yang dalam bayanganku terbuat dari irisan jeruk nipis/lemon, ternyata es serbuk Marimas. Sudah “kadung” dibeli, ya dimakan saja walau rasanya tidak enak. Alhasil, setelah meminumnya, batuk yang menyerangku semakin bertambah parah, karena aku tidak terbiasa meminum minuman jenis itu.
Es jeruk yang dalam bayanganku terbuat dari irisan jeruk nipis/lemon, ternyata es serbuk Marimas. Sudah “kadung” dibeli, ya dimakan saja walau rasanya tidak enak. Alhasil, setelah meminumnya, batuk yang menyerangku semakin bertambah parah, karena aku tidak terbiasa meminum minuman jenis itu.
Setelah selesai membayar makanan dan minuman,
kamipun beranjak pergi. Sebelum meninggalkan kedai, aku menanyakan kepada
pemilik kedai, apakah jarak ke Magetan masih jauh. Ia menyarakan pada kami
menempuh jalur Pacitan, tidak perlu
lewat Madiun.
Kami pun percaya dan mengikuti sarannya. Mencoba jalur baru. Dalam pikiranku, jalur ini
mungkin jalur pintas, sehingga bisa lebih cepat sampai tujuan. Akhirnya, melanjutkan perjalanan ke Magetan
melalui Pacitan. Sebelum sampai Pacitan, jalan yang dilewati berbeda dengan
jalan yang ditempuh sebelumnya. Berkelok dan naik turun, sehingga membuat
perjalanan menjadi lambat dari sebelumnya, karena ketika jalan menanjak,
kendaraan yang aku pakai tidak bisa cepat lajunya.
“Ah, biasanya, jalan yang berkelok dan naik turun
seperti ini arahnya ke pantai atau ke gunung”, gumanku dalam hati karena ingat
perjalanan ke Bale Kambang.
Dan ternyata memang benar. Meski jalannya kendaraan
makin lambat, tidak ada solusi lain, jadi tetap melaju. Sambil tengok
kanan-kiri sambil membaca daerah-daerah yang aku lalui, keningku mulai berkerut
: masih di Trenggalek!
Padahal jarak yang ditempuh sudah lumayan jauh. Dari jauh terlihat sebuah pantai, ternyata
namanya “Pelang”. Si bungsu yang suka traveling, menghentikan kendaraan dan
minta aku mengambil gambarnya dengan melihatkan pantai.
Saat itu, aku melongokkan kepala ke atas, ternyata sedang berada dibawah pohon asem yang berbuah lebat sampai berjatuhan ke tanah. Aku mengambilnya dan memasukkan ke dalam tas plastik “kresek” warna putih. Sambil mencicipi buah asem yang ternyata rasanya kecut sekali.
Saat itu, aku melongokkan kepala ke atas, ternyata sedang berada dibawah pohon asem yang berbuah lebat sampai berjatuhan ke tanah. Aku mengambilnya dan memasukkan ke dalam tas plastik “kresek” warna putih. Sambil mencicipi buah asem yang ternyata rasanya kecut sekali.
Setelah dirasa cukup, perjalanan dilanjutkan
kembali. Sepanjang jalan masih melihat-lihat, kemungkinan bertemu dengan
pemandang pantai yang lebih jelas di
antara pepohonan. Sebenarnya, hal itu hanya untuk menghibur diri karena rute yang ditempuh jadi makin panjang.
Jalanan berkelok menjadi rute yang membosankan. Terus berkelok dan berkelok
belum ketemu ujung jalannya. “ Kok jalan ini nggak putus-putus ya, mana
ujungnya?”, tanyaku dalam hati.
Hari mulai malam. Berhenti di sebuah warung kecil
untuk beli bensin.Bertanya pada pemilik warung, dan ternyata kami salah jalur.
Terbayang perkataan si pemilik kedai di Trenggalek, ada rasa kesal dan sesal.
Mau tidak mau, perjalanan harus dilanjutkan.
Hampir menjelang maghrib, baru bisa keluar dari
jalanan berkelok memasuki jalan kota. Kendaraan terus melaju seiring dengan
bertambah capeknya aku dan tentunya si bungsu. Aku lihat berkali-kali ia
“ndegek” karena lelah. Aku mencari-cari tulisan Ponorogo, tapi masih saja yang
ku jumpai kota Pacitan.
Membaca Pacitan, membuatku teringat jalan berkelok
tak berujung. Dalam kejenuhan, kota
Ponorogo akhirnya terlihat juga, setelah membeli bensin untuk kesekian
kalinya. Maunya ngirit malah “ngorot”.
Dalam keremangan malam, mencari jalur ke Madiun.
Sambil sesekali bertanya pada orang ketika tidak menemukan plang rute jalan.
Dan, sampailah di kota Magetan setelah melewati Madiun. “Ukh, katanya tidak
perlu lewat Madiun, nyatanya masih melewati!”, kesalku dalam hati.
Terdengar sayup-sayup suara adzan yang kedua kalinya
di malam hari, artinya sudah memasuki waktu isya. Wow, sampai Magetan Isya,
karena salah jalur. Padahal kalau melewati jalur yang biasa aku lewati, sebelum
maghrib sudah bisa sampai. Oalah….
Sampai Magetan, di rumah yang aku tuju, kami berdua
istirahat penuh. Berkunjung ke rumah bulik di Gorang gareng Magetan, sengaja
aku luangkan karena bulik akan kembali lagi ke Hong Kong. Dua hari di Magetan
dirasa cukup, akupun pamit kembali ke Malang. Untuk ke Malang, bisa ditempuh
melalui jalur Pare lalu tembus ke Pujon Malang.
Karena masih trauma dengan perjalanan ke Magetan
sampai nyasar ke Pacitan, aku memilih jalur yang biasa ditempuh. Selain cepat,
jalannya tidak berkelok. Tidak ada halangan berarti. Tiba di kota Tulung Agung,
perjalanan agak melambat karena terjebak macet. Banyak iring-iringan kendaraan
roda dua. Sekitar 15 menit harus sabar dalam kemacetan, akhirnya bisa melaju cepat
lagi.
Ada yang menarik perhatianku, kendaraan “pick up”
yang bertuliskan dilarang membawa orang,
ternyata kendaraan tersebut malah dipenuhi orang, berdiri lagi. Setahuku, kendaraan itu digunakan memuat
hewan. Aku merasa ngeri juga dengan pemandangan itu. “Apakah di sini masih
berlaku kebiasaan ini ya?”, tanyaku dalam hati.
Meninggalkan kota Tulung Agung dan memasuki kota
Blitar terus melaju ke kota Malang. Sampai juga di Kepanjen dengan selamat.
Alhamdulillah…
Malang-Magetan, 22-24 Juli 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar