Senin, 03 Agustus 2015

Mencari Ujung Jalan



Istirahat satu hari di rumah sepulang dari Jember, sebenarnya belumlah cukup buatku. Karena keberadaanku di rumah bukanlah untuk istirahat, tapi justru  bersih-bersih  rumah setelah aku tinggal. Dengan alasan mengejar waktu, aku dan si bungsu memutuskan berangkat ke Magetan, Kamis 23 Juli 2015.

Saat ini,bila bepergian, aku harus ikut fokus pada arah jalan. Berbeda dengan ketika masih di Hong Kong, tinggal duduk manis sampai tujuan. Tidak perlu memperhatikan, apalagi mengingat rute jalan. Kalau sekarang bersikap seperti itu, alamat kesasar-sasar.

Dengan hal baru ini, Alhamdulillah, aku bisa sedikit demi sedikit mengingat rute jalan yang pernah aku lalui. Dan perjalanan hari  ini melewati rute yang pernah aku lalui, sehingga lebih mempercepat waktu. Malang-Magetan, adalah rute yang harus ku tempuh dengan mengendarai kendaraan roda dua.

Di Blitar, berhenti  untuk istirahat dan membeli sedikit makanan. Lalu melanjutkan perjalanan sambil memperhatikan “ plang”  rute perjalanan berwarna hijau yang dipasang dipinggir jalan. Cukup memudahkan dan sangat membantu. Tak terbayangkan, tanpa plang tersebut, berapa kali aku harus turun dari kendaraan untuk bertanya pada orang.

Malang, Blitar, Tulung Agung, bisa aku lalui dengan mulus tanpa hambatan apa-apa, hingga masuk kota Trenggalek. Istirahat sejenak di warung  makanan yang ada di pinggir jalan, sambil lesehan karena punggung, pantat dan mata sudah terasa capek dan panas. Udara di luar cukup panas, menambah rasa lelah yang ada.
Setelah membaca menu makanan yang tersedia, pilihan jatuh pada mie ayam dan es jeruk, dan si bungsu memesan  bakso dan jeruk hangat. Dalam bayanganku, setelah makan dan minum di warung  ini, akan bisa membangkitkan energi yang telah terkuras.  Ndelalah,  makanan dan minuman yang kami pesan tidak enak untuk dinikmati. 

Bakso yang edentik dengan pentolnya, ternyata tidak seperti pentol rasanya, tapi lebih mirip  rasa cilok. Makanan yang dibuat dari tepung kanji dicampur daging sapi sedikit. Lalu  jeruk panasnya, ternyata Marimas. Pun juga dengan mie ayam yang biasanya terbuat dari mie basah yang dimasak sebentar, ternyata yang ini terbuat dari mie kering ukuran sedang. Biasanya mie kering seperti ini dimasak dengan sayur sawi/kol  yang dibuat “berkat” oleh orang-orang yang sedang hajatan. Tentu saja rasanya nggak ngalor nggak ngidul.

 Es jeruk yang dalam bayanganku terbuat dari irisan jeruk nipis/lemon, ternyata es serbuk Marimas. Sudah “kadung” dibeli, ya dimakan saja walau rasanya tidak enak.  Alhasil, setelah meminumnya, batuk yang menyerangku semakin bertambah parah, karena aku tidak terbiasa meminum minuman jenis itu.
Setelah selesai membayar makanan dan minuman, kamipun beranjak pergi. Sebelum meninggalkan kedai, aku menanyakan kepada pemilik kedai, apakah jarak ke Magetan masih jauh. Ia menyarakan pada kami menempuh jalur Pacitan, tidak perlu  lewat Madiun.

Kami pun percaya dan mengikuti sarannya.  Mencoba jalur baru. Dalam pikiranku, jalur ini mungkin jalur pintas, sehingga bisa lebih cepat sampai tujuan.  Akhirnya, melanjutkan perjalanan ke Magetan melalui Pacitan. Sebelum sampai Pacitan, jalan yang dilewati berbeda dengan jalan yang ditempuh sebelumnya. Berkelok dan naik turun, sehingga membuat perjalanan menjadi lambat dari sebelumnya, karena ketika jalan menanjak, kendaraan yang aku pakai tidak bisa cepat lajunya.

“Ah, biasanya, jalan yang berkelok dan naik turun seperti ini arahnya ke pantai atau ke gunung”, gumanku dalam hati karena ingat perjalanan ke Bale Kambang. 
Dan ternyata memang benar. Meski jalannya kendaraan makin lambat, tidak ada solusi lain, jadi tetap melaju. Sambil tengok kanan-kiri sambil membaca daerah-daerah yang aku lalui, keningku mulai berkerut : masih di Trenggalek!

Padahal jarak yang ditempuh sudah lumayan jauh.  Dari jauh terlihat sebuah pantai, ternyata namanya “Pelang”. Si bungsu yang suka traveling, menghentikan kendaraan dan minta aku mengambil gambarnya dengan melihatkan pantai. 

Saat itu, aku melongokkan kepala ke atas, ternyata sedang berada dibawah pohon asem yang berbuah lebat sampai berjatuhan ke tanah. Aku mengambilnya dan memasukkan ke dalam tas plastik “kresek” warna putih. Sambil mencicipi buah asem yang ternyata rasanya kecut sekali. 

Setelah dirasa cukup, perjalanan dilanjutkan kembali. Sepanjang jalan masih melihat-lihat, kemungkinan bertemu dengan pemandang pantai yang lebih jelas di  antara pepohonan. Sebenarnya, hal itu hanya untuk menghibur diri  karena rute yang ditempuh jadi makin panjang. Jalanan berkelok menjadi rute yang membosankan. Terus berkelok dan berkelok belum ketemu ujung jalannya. “ Kok jalan ini nggak putus-putus ya, mana ujungnya?”, tanyaku dalam hati.

Hari mulai malam. Berhenti di sebuah warung kecil untuk beli bensin.Bertanya pada pemilik warung, dan ternyata kami salah jalur. Terbayang perkataan si pemilik kedai di Trenggalek, ada rasa kesal dan sesal. Mau tidak mau, perjalanan harus dilanjutkan. 

Hampir menjelang maghrib, baru bisa keluar dari jalanan berkelok memasuki jalan kota. Kendaraan terus melaju seiring dengan bertambah capeknya aku dan tentunya si bungsu. Aku lihat berkali-kali ia “ndegek” karena lelah. Aku mencari-cari tulisan Ponorogo, tapi masih saja yang ku jumpai kota Pacitan.

Membaca Pacitan, membuatku teringat jalan berkelok tak berujung. Dalam kejenuhan, kota  Ponorogo akhirnya terlihat juga, setelah membeli bensin untuk kesekian kalinya. Maunya ngirit malah “ngorot”.
Dalam keremangan malam, mencari jalur ke Madiun. Sambil sesekali bertanya pada orang ketika tidak menemukan plang rute jalan. Dan, sampailah di kota Magetan setelah melewati Madiun. “Ukh, katanya tidak perlu lewat Madiun, nyatanya masih melewati!”, kesalku dalam hati.

Terdengar sayup-sayup suara adzan yang kedua kalinya di malam hari, artinya sudah memasuki waktu isya. Wow, sampai Magetan Isya, karena salah jalur. Padahal kalau melewati jalur yang biasa aku lewati, sebelum maghrib sudah bisa sampai. Oalah….

Sampai Magetan, di rumah yang aku tuju, kami berdua istirahat penuh. Berkunjung ke rumah bulik di Gorang gareng Magetan, sengaja aku luangkan karena bulik akan kembali lagi ke Hong Kong. Dua hari di Magetan dirasa cukup, akupun pamit kembali ke Malang. Untuk ke Malang, bisa ditempuh melalui jalur Pare lalu tembus ke Pujon Malang. 

Karena masih trauma dengan perjalanan ke Magetan sampai nyasar ke Pacitan, aku memilih jalur yang biasa ditempuh. Selain cepat, jalannya tidak berkelok. Tidak ada halangan berarti. Tiba di kota Tulung Agung, perjalanan agak melambat karena terjebak macet. Banyak iring-iringan kendaraan roda dua. Sekitar 15 menit harus sabar dalam kemacetan, akhirnya bisa melaju cepat lagi. 

Ada yang menarik perhatianku, kendaraan “pick up” yang bertuliskan  dilarang membawa orang, ternyata kendaraan tersebut malah dipenuhi orang, berdiri lagi.  Setahuku, kendaraan itu digunakan memuat hewan. Aku merasa ngeri juga dengan pemandangan itu. “Apakah di sini masih berlaku kebiasaan ini ya?”, tanyaku dalam hati.

Meninggalkan kota Tulung Agung dan memasuki kota Blitar terus melaju ke kota Malang. Sampai juga di Kepanjen dengan selamat. Alhamdulillah…

Malang-Magetan, 22-24 Juli 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar