Jumat, 14 Agustus 2015

Anut Grubyuk


Banyaknya kegiatan di kalangan BMI Hong Kong patut diacungi jempol. Dari kegiatan tersebut  mampu mengubah BMI Hong Kong selangkah lebih maju dibanding BMI di negara lain. Ketrampilan, kecantikan, fashion, kewirausahaan, keledearshipan, seni dan budaya dll.
BMI Hong Kong mempunyai peluang yang sangat bagus untuk berkembang bagi yang mau. Beda dengan BMI di negara lain, jangankan untuk mengikuti kegiatan, libur saja belum tentu dapat. Itu semua karena  peraturan ketenaga kerjaan di Hong Kong benar-benar ditegakkan.

Sungguh sangat disayangkan, bila kesempatan ini  hanya diisi dengan hal-hal yang tidak penting . Sangat merugi, karena di Hong Kong banyak ilmu yang bisa dipelajari dan diikuti. Hong Kong menjadi “universitas terbuka” yang bisa dimasuki oleh siapa saja dengan gratis. Syaratnya cukup dengan niat lalu dibarengi dengan tindakan.




Seabrek kegiatan bisa kita pilih sesuai  yang diinginkan. “Saking” banyaknya, kadang kita menjadi bingung karenanya. Oleh sebab itu,  kita perlu membuat “perencanaan” selama berada di Hong Kong.  Tanpa perencanaan, kita justru akan “terjebak” pada rutinitas yang kurang berbobot dan berlebihan.
Sesuatu yang sifatnya berlebihan, hasilnya tidak baik. Kita sendiri yang merugi. Misal : belanja barang yang tidak perlu, akibatnya kita jadi konsumtif, menghabiskan uang gaji.  Ngerumpi hal-hal negatif yang sifatnya fokus pada masalah, menjadikan kita  hidup penuh beban dan kecurigaan,dll.
Sekali lagi, perencanaan itu penting dan perlu dilakukan oleh setiap BMI.  Jangan sampai kita mengikuti kegiatan hanya sekedar ikut-ikutan (baca : anut grubyuk). Hanya akan mendapatkan capek, waktu yang terbuang dan uang yang terhambur.

Coba amati, betapa banyak BMI yang hanya sekedar ikut-ikutan dalam berkegiatan. Akibatnya  mereka merugi karena  hanya sekedar “anut grubyuk”.  Misal :   saat marak kerajinan tangan,  berbondong –bondong mengikutinya,  ketika telah menguasinya dan mendapat permintaan, tidak ditangani dengan baik sehingga si pemesan pergi, padahal niat awalnya belajar lalu memproduksi sebuah barang untuk dijual agar dapat uang tambahan. Saat marak  entrepreneur, berbondong-bondong mengikuti. Setiap saat bicara entrepreneur  tanpa  ada tindakan  nyata.  Saat ada bekam, pun berbondong-bondong ikut,  tanpa mau mendalaminya. Padahal kalau mau, belajar bekam bisa berpotensi menjadi mata pencarian saat kelak pulang ke tanah air.

Saat marak  MLM dengan bermacam  plan bisnis dan nama, lagi-lagi berbondong-bondong menjadi membernya  karena diiming-iming dapat bonus besar, tanpa perlu kerja keras.  Padahal baru mengeluarkan banyak uang di MLM lain sampai rela berhutang puluhan ribu dolar. Saat marak investasi, berlomba-lomba mengikutinya, tanpa mempelajari dan menyelidiki  kebenarannya. Bila sudah tertipu baru sadar.
Sampai-sampai, gaya hidup dan pakai pun, berbondong-bondong ikut pula.  Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya.  Bila kita mau jujur  terhadap diri sendiri, inilah fenomena yang semakin marak dan jelas terlihat di mata, tanpa mampu dihindari. Bahkan mungkin, kita sendiri ada didalamnya.
 Entah  apa penyebabnya dan bagaimana bisa, mereka mudah terpengaruh, walau pun sudah  seringkali jatuh bangun dibuatnya. Bahkan ada yang terpaksa hidup “gali lubang tutup lubang”, akibat  dari mengikuti kegiatan yang tanpa pikir panjang alias anut grubyuk.  


Bisa jadi karena tergiur/terpana dan terkagum-kagum dengan sesuatu yang terlihat “wah”. Wah dalam berbicara, wah dalam berbusana, wah dalam berakting dan wah-wah lainnya.  Siapa sih orangnya yang tidak akan “terpesona” bila bertemu dengan sesuatu yang sifatnya di atas dirinya?  Ilmunya, gelarnya, jabatannya, status sosialnya, uangnya dll. Tentunya bangga bila kita bisa dekat dengan orang-orang seperti itu. Ini sesuatu yang “manusiawi”.

Hanya di Hong Konglah bisa bertemu, berbicara, bersinanggungan  dengan kalangan atas, seperti dokter, pembicara, pembisnis, motivator, dosen, artis, dll. Padahal kita hanya BMI  yang banyak dipandang sebelah mata  oleh  masyarakat. Kalau di tanah air, belum tentu kita memiliki kesempatan itu. Entah karena tidak punya waktu, atau karena tidak ada biaya. Yah, fakta ini, mungkin yang  menjadi alasan BMI mengikuti banyak kegiatan sampai “kepontal-pontal” . 

 Mungkin hanya sedikit orang yang tidak  terseret  fenomena ini, dan tentunya  ia  memiliki kepribadian yang  “tangguh”.  Ketangguhan membuat, menjaga dan menjalankan perencanaan  matang yang dibuatnya.
Semua kegiatan yang disebutkan dia  atas tadi, adalah hal-hal positif dan bisa menjadi salah satu sarana berkembang dan majunya seorang BMI,  bila dijalani dengan benar dan memang  sudah direncanakan     
 ( baca: prioritaskan).


Untuk apa kita mengikuti banyak kegiatan kalau hanya untuk “sekedar tahu:”? Kita tidak memahami apa yang kita pelajari. Lebih baik kita mengikuti satu atau dua  kegiatan, tapi kita benar-benar memahaminya. Mengikuti  suatu kegiatan karena anut grubyuk, hanya akan  membuang waktu produktif  kita saja.  






Tidak ada komentar:

Posting Komentar