Banyaknya kegiatan di kalangan BMI Hong Kong patut
diacungi jempol. Dari kegiatan tersebut
mampu mengubah BMI Hong Kong selangkah lebih maju dibanding BMI di
negara lain. Ketrampilan, kecantikan, fashion, kewirausahaan, keledearshipan,
seni dan budaya dll.
BMI Hong Kong mempunyai peluang yang sangat bagus
untuk berkembang bagi yang mau. Beda dengan BMI di negara lain, jangankan untuk
mengikuti kegiatan, libur saja belum tentu dapat. Itu semua karena peraturan ketenaga kerjaan di Hong Kong
benar-benar ditegakkan.
Sungguh sangat disayangkan, bila kesempatan ini hanya diisi dengan hal-hal yang tidak penting
. Sangat merugi, karena di Hong Kong banyak ilmu yang bisa dipelajari dan
diikuti. Hong Kong menjadi “universitas terbuka” yang bisa
dimasuki oleh siapa saja dengan gratis. Syaratnya cukup dengan niat lalu
dibarengi dengan tindakan.
Seabrek kegiatan bisa kita pilih sesuai yang diinginkan. “Saking” banyaknya, kadang
kita menjadi bingung karenanya. Oleh sebab itu,
kita perlu membuat “perencanaan” selama berada di Hong
Kong. Tanpa perencanaan, kita justru
akan “terjebak”
pada rutinitas yang kurang berbobot dan berlebihan.
Sesuatu yang sifatnya berlebihan, hasilnya tidak
baik. Kita sendiri yang merugi. Misal : belanja barang yang tidak perlu, akibatnya
kita jadi konsumtif, menghabiskan uang gaji. Ngerumpi hal-hal negatif yang sifatnya fokus
pada masalah, menjadikan kita hidup
penuh beban dan kecurigaan,dll.
Sekali lagi, perencanaan itu penting dan perlu
dilakukan oleh setiap BMI. Jangan sampai
kita mengikuti kegiatan hanya sekedar ikut-ikutan (baca : anut grubyuk). Hanya
akan mendapatkan capek, waktu yang terbuang dan uang yang terhambur.
Coba amati, betapa banyak BMI yang hanya sekedar
ikut-ikutan dalam berkegiatan. Akibatnya mereka merugi karena hanya sekedar “anut grubyuk”. Misal :
saat marak kerajinan tangan,
berbondong –bondong mengikutinya,
ketika telah menguasinya dan mendapat permintaan, tidak ditangani dengan
baik sehingga si pemesan pergi, padahal niat awalnya belajar lalu memproduksi
sebuah barang untuk dijual agar dapat uang tambahan. Saat marak entrepreneur, berbondong-bondong mengikuti.
Setiap saat bicara entrepreneur
tanpa ada tindakan nyata. Saat ada bekam, pun berbondong-bondong ikut, tanpa mau mendalaminya. Padahal kalau mau,
belajar bekam bisa berpotensi menjadi mata pencarian saat kelak pulang ke tanah
air.
Saat marak MLM dengan bermacam plan bisnis dan nama, lagi-lagi
berbondong-bondong menjadi membernya
karena diiming-iming dapat bonus besar, tanpa perlu kerja keras. Padahal baru mengeluarkan banyak uang di MLM
lain sampai rela berhutang puluhan ribu dolar. Saat marak investasi,
berlomba-lomba mengikutinya, tanpa mempelajari dan menyelidiki kebenarannya. Bila sudah tertipu baru sadar.
Sampai-sampai, gaya hidup dan pakai pun,
berbondong-bondong ikut pula. Dan masih
banyak lagi contoh-contoh lainnya. Bila
kita mau jujur terhadap diri sendiri, inilah
fenomena yang semakin marak dan jelas terlihat di mata, tanpa mampu dihindari. Bahkan
mungkin, kita sendiri ada didalamnya.
Entah apa penyebabnya dan bagaimana bisa, mereka
mudah terpengaruh, walau pun sudah
seringkali jatuh bangun dibuatnya. Bahkan ada yang terpaksa hidup “gali
lubang tutup lubang”, akibat
dari mengikuti kegiatan yang tanpa pikir panjang alias anut grubyuk.
Bisa jadi karena tergiur/terpana dan terkagum-kagum
dengan sesuatu yang terlihat “wah”. Wah dalam berbicara, wah
dalam berbusana, wah dalam berakting dan wah-wah lainnya. Siapa sih orangnya yang tidak akan “terpesona”
bila bertemu dengan sesuatu yang sifatnya di atas dirinya? Ilmunya, gelarnya, jabatannya, status
sosialnya, uangnya dll. Tentunya bangga bila kita bisa dekat dengan orang-orang
seperti itu. Ini sesuatu yang “manusiawi”.
Hanya di Hong Konglah bisa bertemu, berbicara,
bersinanggungan dengan kalangan atas,
seperti dokter, pembicara, pembisnis, motivator, dosen, artis, dll. Padahal
kita hanya BMI yang banyak dipandang
sebelah mata oleh masyarakat. Kalau di tanah air, belum tentu
kita memiliki kesempatan itu. Entah karena tidak punya waktu, atau karena tidak
ada biaya. Yah, fakta ini, mungkin yang
menjadi alasan BMI mengikuti banyak kegiatan sampai “kepontal-pontal” .
Mungkin hanya
sedikit orang yang tidak terseret fenomena ini, dan tentunya ia
memiliki kepribadian yang “tangguh”. Ketangguhan membuat, menjaga dan menjalankan
perencanaan matang yang dibuatnya.
Semua kegiatan yang disebutkan dia atas tadi, adalah hal-hal positif dan bisa
menjadi salah satu sarana berkembang dan majunya seorang BMI, bila dijalani dengan benar dan memang sudah direncanakan
Untuk apa kita mengikuti banyak kegiatan kalau hanya
untuk “sekedar tahu:”? Kita tidak memahami apa yang kita pelajari.
Lebih baik kita mengikuti satu atau dua
kegiatan, tapi kita benar-benar memahaminya. Mengikuti suatu kegiatan karena anut grubyuk, hanya
akan membuang waktu produktif kita saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar