“ Dinamika ini terlalu
riweh, saya sudah diskusi panjang lebar. Mereka merasa menjadi korban hal yang sama. Dan kedekatan
emosional pekerja migrant menjadi penyebab tidak adanya tawar-menawar yang
baik. Apalagi pihak yang telah merugikan tidak mau melakukan klarifikasi.
Lengakplah sudah…”
Penggalan diskusi saya dengan seorang mitra di Hong Kong. Kami sedang membahas masalah
penipuan di kalangan BMI. Kasus penipuan
semakin merajalela meski sudah seringkali dibahas di sosmed. Namun faktanya, korban terus berjatuhan dengan
bermacam modus.
Ada yang menggunakan
cara berbisnis dengan berbagai nama, investasi, kursus, sedekah, akad jual beli,
dll. Pelakunya pun juga beragam, dari sesama BMI, yayasan,
organisasi, motivator, artis, ustad dan
masih banyak lagi.
Anehnya, masih banyak BMI tidak jera. Kenapa? Apakah
karena mencari uang disana lebih mudah ?
Atau karena berlebihan uang, hingga bermurah hati menyerahkan uangnya
kepada orang lain? Atau mungkin, tidak puny a perencanaan keuangan? Atau karena sungkan menolak dengan alasan
teman dekat? Atau lagi terpana asmara, hingga logika tak berjalan?
Setiap
kejadian di dunia ini, ada sebab dan akibat. Inilah hukum
alam yang tidak bisa dihindari, dan sayangnya, tidak semua orang
memahaminya. Ketika kesandung
masalah, saling menyalahkan yang lebih
sering dilakukan. Siapa pun akan marah,
kecewa, jengkel, bila ditipu oleh orang
lain, apalagi orang itu sangat kita percayai dan hormati. Tapi, penipuan itu
tidak akan terjadi bila kita tidak
mengijinkan diri sendiri untuk menyerahkan uang ke orang tersebut bukan?
Setiap
individu harus paham akan dirinya sendiri. Kalau tidak paham, maka selama itu pula,
dirinya akan selalu ikut arus karena
tidak punya pendirian tetap. Agar tidak jadi sasaran empuk orang-orang yang
tidak bertanggungjawab, kita harus paham terhadap diri sendiri.
Ketika uang kita berada ditangan orang lain,
maka uang tersebut tidak sepenuhnya menjadi milik kita. Tidak percaya? Mari
kita bahas, ketika kita menyerahkan uang ke tangan orang lain, apakah kita yakin bahwa uang itu akan kembali utuh seperti
semula? Ada beberapa kemungkinan, uang
kembali ketika kita bertemu dengan orang yang baik. Yang kedua, uang raib tanpa bekas, dan ketiga, uang kembali dalam
jangka waktu yang tak bisa ditentukan sampai kita merasa capek sendiri, dan
akhirnya kita enggan menanyakan keberadaan
uang tersebut. Benarkan?
Percaya kepada orang lain, boleh-boleh saja, namun
haruskah kepercayaan itu disertai dengan
urusan serah terima uang? Kalau pun
harus serah terima uang, cobalah untuk benar-benar waspada.
Kumpulkan bukti-bukti atau informasi perihal serah terima uang tadi. Miliki
alasan yang kuat dan bijak sebelum mengeluarkan uang kepada orang lain.
Dengan banyaknya kasus tipu menipu saat ini, seharusnya
kita semakin selektif dalam bergaul
dan bertindak. Jangan mudah terpesona dengan perkataan, penampilan, janji-janji
muluk, tawaran yang menggiurkan.
Tetaplah berpikir rasional.
Untuk belajar, tidak harus menunggu mengalami sendiri dulu bukan? Pengalaman orang lain, sudah cukup untuk
kita ambil pelajarannya.
Kepandaian dalam
urusan tipu - menipu, semakin bertambah canggih. Ada
yang menggunakan kedekatan emosional, ada yang menggunakan pangkat dan jabatan,
ada yang menggunakan keelokan paras wajah, dan tidak sedikit yang menggunakan
kaum miskin papa untuk menggugah rasa
iba yang melihatnya. Ketika rasa iba sudah muncul, apapun bisa diserahkan,
apalagi kalau sudah dibumbui perkara agama.
Pada berlomba-lomba ingin jadi yang terbaik dengan alasan beramal. Padahal
beramal tidak selalu dengan uang.
Apakah beramal itu tidak baik? Tentu saja baik,
karena dengan beramal kita menjadi pribadi yang ber-empati terhadap sesama.
Kita berbagi rezeki dan kebahagiaan. Namun permasalahan kini, perlukan kita
beramal kalau sesudahnya kita menggugat karena merasa dibohongi? Biarlah itu
menjadi tanggungjawab yang telah
menyalahgunakan kepercayaan kita kepada Sang Khalik. Tugas kita adalah, mengikhlaskan apa yang sudah terjadi,
mengambil hikmah dan pelajaran, ke depannya tidak terulang lagi.
Bijaklah
dalam setiap tindakan kawan! Ingatlah, baik buruknya nasib kita di rantau, ada
ditangan kita sendiri. Bolehlah kita berpikir mumpung di Hong Kong, cari uang
mudah, ingin beramal sebanyak-banyaknya. Namun, jangan lupa, untuk beramal
tidak harus ketika ada di Hong Kong, saat kembali ke Indonesia pun masih bisa
diteruskan dan justru inilah yang harus
dipikirkan dari sekarang, bagaimana tetap bisa beramal dimanapun berada.
Sudah saatnya
kita smart agar tidak jadi bulan-bulanan
pihak-pihak yang memang sengaja ingin mengeruk keuntungan dari
kita. Bagi mereka, Hong Kong adalah lahan
empuk mengeruk keuntungan pribadi, dimana mayoritas yang bekerja adalah wanita. Wanita yang dikenal lemah. Lemah dengan rayuan, pujian, sanjungan, janji
dan pemberian hadiah/ modal usaha.
*Di muat koran Berita Indonesia, edisi November 2015 *











