Senin, 16 November 2015

Menangkal Kecanggihan Penipu

“ Dinamika ini terlalu riweh, saya sudah diskusi panjang lebar. Mereka merasa  menjadi korban hal yang sama. Dan kedekatan emosional pekerja migrant menjadi penyebab tidak adanya tawar-menawar yang baik. Apalagi pihak yang telah merugikan tidak mau melakukan klarifikasi. Lengakplah sudah…”


Penggalan diskusi saya dengan seorang mitra di  Hong Kong. Kami sedang membahas masalah penipuan  di kalangan BMI. Kasus penipuan semakin merajalela meski sudah seringkali dibahas di sosmed.  Namun  faktanya, korban terus berjatuhan dengan bermacam modus.

Ada yang menggunakan  cara berbisnis dengan berbagai nama,  investasi, kursus, sedekah, akad jual beli, dll.  Pelakunya pun  juga beragam, dari sesama BMI, yayasan, organisasi, motivator, artis, ustad  dan masih banyak lagi.

Anehnya, masih banyak BMI tidak jera.  Kenapa? Apakah karena mencari uang disana lebih mudah ?  Atau karena berlebihan uang, hingga bermurah hati menyerahkan uangnya kepada orang lain? Atau mungkin, tidak  puny a perencanaan keuangan?  Atau karena sungkan menolak dengan alasan teman dekat?  Atau  lagi terpana asmara, hingga logika tak berjalan?

Setiap kejadian di dunia ini, ada sebab dan akibat. Inilah hukum  alam yang tidak bisa dihindari, dan sayangnya, tidak semua orang memahaminya. Ketika kesandung masalah, saling menyalahkan  yang lebih sering dilakukan.  Siapa pun akan marah, kecewa, jengkel, bila ditipu  oleh orang lain, apalagi orang itu sangat kita percayai dan hormati. Tapi, penipuan itu tidak akan terjadi bila kita tidak mengijinkan diri sendiri untuk menyerahkan uang ke orang  tersebut bukan?

Setiap individu harus paham akan dirinya sendiri.  Kalau tidak paham, maka selama itu pula, dirinya akan selalu ikut arus karena tidak punya pendirian tetap. Agar tidak jadi sasaran empuk orang-orang yang tidak bertanggungjawab, kita harus paham terhadap diri sendiri.

 Ketika uang kita berada ditangan orang lain, maka uang tersebut tidak sepenuhnya menjadi milik kita. Tidak percaya? Mari kita bahas, ketika kita menyerahkan uang ke tangan orang lain, apakah  kita  yakin bahwa uang itu akan kembali utuh seperti semula? Ada beberapa  kemungkinan, uang kembali ketika kita bertemu dengan orang yang baik. Yang kedua, uang  raib tanpa bekas, dan ketiga, uang kembali dalam jangka waktu yang tak bisa ditentukan sampai kita merasa capek sendiri, dan akhirnya kita enggan menanyakan keberadaan  uang tersebut. Benarkan?

Percaya kepada orang lain, boleh-boleh saja, namun haruskah kepercayaan itu disertai  dengan urusan serah terima uang? Kalau pun harus serah terima uang, cobalah untuk benar-benar  waspada. Kumpulkan bukti-bukti atau informasi perihal serah terima uang tadi. Miliki alasan yang kuat dan bijak sebelum mengeluarkan uang kepada orang lain.

Dengan banyaknya kasus tipu menipu saat ini, seharusnya kita semakin selektif dalam bergaul dan bertindak. Jangan mudah terpesona dengan perkataan, penampilan, janji-janji muluk, tawaran yang menggiurkan.  Tetaplah berpikir rasional. Untuk belajar, tidak harus menunggu mengalami sendiri dulu bukan? Pengalaman orang lain, sudah cukup untuk kita ambil pelajarannya.

Kepandaian dalam   urusan tipu -  menipu, semakin bertambah canggih. Ada yang menggunakan kedekatan emosional, ada yang menggunakan pangkat dan jabatan, ada yang menggunakan keelokan paras wajah, dan tidak sedikit yang menggunakan kaum miskin papa untuk menggugah rasa iba yang melihatnya. Ketika rasa iba sudah muncul, apapun bisa diserahkan, apalagi kalau sudah dibumbui perkara agama. Pada berlomba-lomba ingin jadi yang terbaik dengan alasan beramal. Padahal beramal tidak selalu dengan uang.

Apakah beramal itu tidak baik? Tentu saja baik, karena dengan beramal kita menjadi pribadi yang ber-empati terhadap sesama. Kita berbagi rezeki dan kebahagiaan. Namun permasalahan kini, perlukan kita beramal kalau sesudahnya kita menggugat karena merasa dibohongi? Biarlah itu menjadi tanggungjawab  yang telah menyalahgunakan kepercayaan kita kepada Sang Khalik. Tugas kita  adalah, mengikhlaskan apa yang sudah terjadi, mengambil hikmah dan pelajaran, ke depannya tidak terulang lagi.

Bijaklah  dalam setiap  tindakan kawan! Ingatlah,  baik buruknya nasib kita di rantau, ada ditangan kita sendiri.  Bolehlah  kita berpikir mumpung di Hong Kong, cari uang mudah, ingin beramal sebanyak-banyaknya. Namun, jangan lupa, untuk beramal tidak harus ketika ada di Hong Kong, saat kembali ke Indonesia pun masih bisa diteruskan dan justru  inilah yang harus dipikirkan dari sekarang, bagaimana tetap bisa beramal dimanapun berada.

Sudah  saatnya kita smart agar tidak jadi  bulan-bulanan pihak-pihak yang memang sengaja ingin mengeruk keuntungan   dari kita. Bagi mereka, Hong Kong adalah lahan empuk mengeruk keuntungan pribadi, dimana mayoritas  yang bekerja adalah wanita. Wanita yang dikenal lemah.  Lemah dengan rayuan, pujian, sanjungan, janji dan pemberian  hadiah/ modal usaha. 

*Di muat koran Berita Indonesia, edisi November 2015 *

Rabu, 26 Agustus 2015

Kisah Unik Di Hari Kemerdekaan RI



Menjelang detik-detik peringatan Hari Kemerdekaan, setiap rumah sudah dihiasi. Ada yang memasang bendera merah putih,umbul-umbul, spanduk dll. Masing-masing warga memoles wajah rumahnya dengan balutan warna merah putih.

Setiap desa sudah mulai menyusun rencana untuk meramaikan suasana dengan mengadakan berbagai lomba. Untuk merealisasikannya, tiap warganya dipungut iuran.

Ada yang ditentukan nilai nominalnya dan ada yang sifatnya sukarela. Dari uang tersebut, dibelikan hadiah-hadiah bagi pemenang lomba.

Ini adalah peringatan Hari Kemerdekaan yang pertama bagiku di Tanah Air. Aku pun ikut berpartisipasi apalagi cuma setahun sekali. Aku perhatikan sekeliling tempatku tinggal.

Sepanjang yang aku lihat, ada satu hal yang membuatku terkejut,heran dan tertawa karena merasa lucu. Ada yang  aneh menurutku tapi sepertinya tidak bagi yang lain. Entahlah..

Aku tinggal di wilayah yang tidak banyak penghuninya, maklum, kawasan  persawahan yang baru dibangun rumah-rumah penduduk. Jalan di depan rumah, menjadi jalan alternatif.  Meskipun begitu namun sangat ramai. Jam 12 malam saja, masih banyak kendaraan yang lalu lalang.

Jumlah penduduknya tidak banyak dan punya kesibukan sendiri-sendiri, sehingga  tidak ada aktivitas “nonggo”. Yang ada adalah rutinitas kerja setiap harinya. Wajah kehidupan kota terlihat di sana.

Aku punya tetangga  yang profesinya jual bakso dan daging sapi. Sukses kelihatannya dari profesi tersebut.
Memperhatikan logat bicaranya, dapat aku tebak, ia orang Madura, meskipun menggunakan bahasa Jawa.  Logat kemaduraannya terlihat jelas.

Meskipun aku jarang bertemu muka, namun, saat mereka bicara dengan nada keras, terdengar jelas sampai ke rumahku. Karena dekatnya jarak rumah kami.


Ada sesuatu yang lucu di rumah tetanggaku ini, dan itu terjadi di bulan Agustus, menjelang peringatan Hari Kemerdekaan tanggal 17 tahun 2015. Apakah itu? Memasang bendera!

Seperti yang kita tahu, memasang bendera sudah pasti memakai tiang bendera. Tiang ini bisa terbuat dari bambu  yang bentuknya lurus, berukuran kecil, juga bisa dari besi.
Biasanya, setiap warga memilikinya. Mereka juga membuat sesuatu yang terbuat dari semen, pasir, kapur yang dicampur dengan air, lalu dibentuk menjadi tempat  untuk “mancep” nya tiang bendera supaya berdiri tegak.
Sepertinya, tetanggaku ini tidak punya tiang khusus untuk mengibarkan bendera. Mungkin malas mau beli, karena tiang tersebut hanya digunakan setahun sekali. Kalau alasannya tidak punya uang, rasanya sangat mustahil, karena mereka orang kaya.

Tidak punya tiang bendera, kayaknya tidak membuat mereka kehilangan akal. Bendera merah putih dikibarkan pada sebuah tiang lampu. Namun, yang membuat heran dan lucu adalah cara memasang bendera tersebut, yaitu : seperempat tiang!

Saat pertama aku melihatnya, sempat terkejut. Yang aku tahu, mengibarkan bendera setengah tiang dan satu tiang penuh. Mengibarkan bendera setengah tiang melambangkan “sedang berduka”. Sedang mengibarkan bendera satu tiang penuh, memang sudah pada umumnya begitu.

Tapi aku lihat semua orang yang lalu lalang disitu enjoy saja. Apakah karena tidak paham arti pengibaran bendera atau memang tidak perduli karena dirasa tidak begitu penting? Entahlah…


Catatan Harian.
Minggu, 23 Agustus 2015
Kepanjen- Malang





Sabtu, 15 Agustus 2015

Manis Bom-Bom


Nama kucing keturunan Anggora yang ada di rumahku. Warna bulunya abu-abu berpadu dengan putih. Tebal dan “kriwul” seperti bulu kambing. Umurnya sudah lebih dari 3 tahun. Sebenarnya, namanya cuma Manis saja, semanis rupanya. Karena sekarang bertambah tambun, aku panggil ia dengan Manis Bom-Bom. He..he..


Cerita yang aku dengar, Manis Bom-Bom dirawat sejak kecil, dan karena masih kecil itulah, ia diberi susu Lactogen. Dia tidak doyan makan nasi apalagi “iwak gere”. Kalau dikasih makan, yang dimakan ikannya doang.

Dan cerita lainnya lagi, si Manis Bom-Bom ini hasil perkawinan “silang”, antara kucing biasa dengan kucing Anggora. Bila dibanding dengan lainnya ( baca: pada umumnya), Manis Bom-Bom memang beda. Bodinya besar,bulunya lebat dan halus. Bentuk wajahnya seperti  anjing kutub utara.



Kini, Manis Bom-Bom tinggal bersamaku. Karena aku suka dengan binatang kucing, tentu saja aku merawatnya. Sayangnya, Manis Bom-Bom “bengis”. Entah kenapa bisa begitu ya? Tidak sembarangan bisa menyentuhnya.  Jadi aku takut juga menyentuhnya.
Hari ke hari aku perhatikan Manis Bom-Bom. Ada rasa iba karena ia tidak bisa menikmati hidupnya dengan sewajarnya. Sejak kecil, seulas tali mengikatnya. Alasan kenapa diikat,karena takut diambil orang.

Aku berpikir, mungkin tali itulah yang membuatnya bengis karena merampas kebebasannya. Aku mencoba melepas ia sebentar-sebentar sambil menjaganya. Karena rumah ku dekat jalan raya dan banyak mobil lalu-lalang, aku juga takut ada orang yang akan membawanya pergi.

Manis Bom-Bom ku lepas hanya di dalam rumah saja. Dia kelihatan senang dan ceria. Kemana pun langkahnya, aku ikutin. Ia mengendus dan mencium barang-barang yang ada di rumah. “Apa ini ya?,” mungkin pertanyaan ini yang ada dalam pikiran Manis. Maklumlah, sekian bulan, ruang lengkupnya terbelenggu tali.

Manis Bom-Bom punya tugas menjaga tikus  agar tidak  memakan “gabah” yang disimpan,  sebelum  tinggal denganku.   Setelah  pindah,ia tidak punya tugas apa-apa. Aktivitasnya  kini memperhatikan kendaraan dan orang yang lalu lalang di  jalan depan rumah. Awalnya, ia kelihatan takut apalagi dengar suara kereta yang sangat bising, tapi kini ia sudah terbiasa.

Ketika aku lengah menjaganya, Manis Bom-Bom pun kencing di sembarang tempat. Merepotkan memang. Aku marahin ia, lalu memberitahu ia untuk tidak sembarangan kencing. Entah ia mengerti atau tidak, hal itu aku lakukan berkali-kali.


Lambat-laun, intensitas Manis Bom-Bom  kencing di sembarang tempat menurun. Tentu aku senang. Ternyata, ia mengerti dengan apa yang aku bicarakan terhadapnya. Hal  lain yang aku lakukan adalah mengelus-elusnya penuh kasih sayang. Aku merasa, ia kurang  perhatian dan kasih sayang dalam masa perawatan dan pertumbuhan.

Apa yang aku pikirkan, ternyata benar. Meskipun Manis Bom-Bom hanya seekor kucing. Ia juga butuh perhatian dan kasih sayang  dari yang memeliharanya. Meskipun masih tersisa bengisnya, Manis Bom-Bom sudah jauh lebih baik.

Saat dilepas, ia bermain dengan Moli dan Mily. Berlari kejar-kejaran. “Saking” senangnya, ia sampai loncat-loncat kegirangan padahal tumbuhnya “tambun”. Kalau sudah capek bermain, ia rebahkan badannya di kasurku bersama dengan Moli dan Mily.
“Empuk ya Manis?,” tanyaku sambil mengelusnya.  Dia menggeliat manja.


Ah, ternyata, binatang pun butuh kasih-sayang, bukan hanya manusia. Binatang pun bisa berpikir dan diarahkan. Sebengis apapun, ia masih bisa berubah. Apalagi manusia? Pastinya bisa dan sangat bisa! Manis Bom-Bom, adalah bukti nyata tentang hal itu, meskipun ia hanya seekor kucing.




 Memang bengisnya tidak hilang, kadangkala ia menggerakkan kaki kanan/kiri, bagian  depan saat ada orang lewat. Mungkin maksudnya “menjawel” atau ingin menyapa.  Karena ia seekor kucing yang kukunya tajam, tentu saja kuku tersebut melukai.  Apalagi tekanan gerakkannya kuat karena tumbuhnya yang tambun.  Kadang, ia juga menjawel pakaian bagian bawah, saat aku berjalan di dekatnya.

Manis Bom-Bom, paling takut di “slintek”. Kalau sudah begitu, ia akan “ngacir sembunyi ketika melakukan kesalahan. Saat lapar, ia akan betah “bengok-bengok”, membuat orang tidak nyaman tidur. Ketika air minumnya habis pun begitu pula. Aku jadi bisa mengira-ngira apa maunya, saat ia bengok-bengok. Suaranya keras dan nyaring. Dan ia “betah” kalau sudah bengok-bengok, sampai apa yang diinginkan tercapai.



Itulah bedanya Manis Bom-Bom dengan Moli dan Mily. Kedua kucing itu hanya diam saja meski pun lapar. Paling yang mereka lakukan hanya mengikuti gerak langkah kaki, kemana aku pergi. Herannya, setelah makanan tersaji, Manis Bom-Bom, diam dan menunggu Moli dan Mily selesai makan. Mungkin ia mengalah, karena kedua kucing itu lebih kecil darinya.  Manis….Manis….. @_@








Jumat, 14 Agustus 2015

Anut Grubyuk


Banyaknya kegiatan di kalangan BMI Hong Kong patut diacungi jempol. Dari kegiatan tersebut  mampu mengubah BMI Hong Kong selangkah lebih maju dibanding BMI di negara lain. Ketrampilan, kecantikan, fashion, kewirausahaan, keledearshipan, seni dan budaya dll.
BMI Hong Kong mempunyai peluang yang sangat bagus untuk berkembang bagi yang mau. Beda dengan BMI di negara lain, jangankan untuk mengikuti kegiatan, libur saja belum tentu dapat. Itu semua karena  peraturan ketenaga kerjaan di Hong Kong benar-benar ditegakkan.

Sungguh sangat disayangkan, bila kesempatan ini  hanya diisi dengan hal-hal yang tidak penting . Sangat merugi, karena di Hong Kong banyak ilmu yang bisa dipelajari dan diikuti. Hong Kong menjadi “universitas terbuka” yang bisa dimasuki oleh siapa saja dengan gratis. Syaratnya cukup dengan niat lalu dibarengi dengan tindakan.




Seabrek kegiatan bisa kita pilih sesuai  yang diinginkan. “Saking” banyaknya, kadang kita menjadi bingung karenanya. Oleh sebab itu,  kita perlu membuat “perencanaan” selama berada di Hong Kong.  Tanpa perencanaan, kita justru akan “terjebak” pada rutinitas yang kurang berbobot dan berlebihan.
Sesuatu yang sifatnya berlebihan, hasilnya tidak baik. Kita sendiri yang merugi. Misal : belanja barang yang tidak perlu, akibatnya kita jadi konsumtif, menghabiskan uang gaji.  Ngerumpi hal-hal negatif yang sifatnya fokus pada masalah, menjadikan kita  hidup penuh beban dan kecurigaan,dll.
Sekali lagi, perencanaan itu penting dan perlu dilakukan oleh setiap BMI.  Jangan sampai kita mengikuti kegiatan hanya sekedar ikut-ikutan (baca : anut grubyuk). Hanya akan mendapatkan capek, waktu yang terbuang dan uang yang terhambur.

Coba amati, betapa banyak BMI yang hanya sekedar ikut-ikutan dalam berkegiatan. Akibatnya  mereka merugi karena  hanya sekedar “anut grubyuk”.  Misal :   saat marak kerajinan tangan,  berbondong –bondong mengikutinya,  ketika telah menguasinya dan mendapat permintaan, tidak ditangani dengan baik sehingga si pemesan pergi, padahal niat awalnya belajar lalu memproduksi sebuah barang untuk dijual agar dapat uang tambahan. Saat marak  entrepreneur, berbondong-bondong mengikuti. Setiap saat bicara entrepreneur  tanpa  ada tindakan  nyata.  Saat ada bekam, pun berbondong-bondong ikut,  tanpa mau mendalaminya. Padahal kalau mau, belajar bekam bisa berpotensi menjadi mata pencarian saat kelak pulang ke tanah air.

Saat marak  MLM dengan bermacam  plan bisnis dan nama, lagi-lagi berbondong-bondong menjadi membernya  karena diiming-iming dapat bonus besar, tanpa perlu kerja keras.  Padahal baru mengeluarkan banyak uang di MLM lain sampai rela berhutang puluhan ribu dolar. Saat marak investasi, berlomba-lomba mengikutinya, tanpa mempelajari dan menyelidiki  kebenarannya. Bila sudah tertipu baru sadar.
Sampai-sampai, gaya hidup dan pakai pun, berbondong-bondong ikut pula.  Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya.  Bila kita mau jujur  terhadap diri sendiri, inilah fenomena yang semakin marak dan jelas terlihat di mata, tanpa mampu dihindari. Bahkan mungkin, kita sendiri ada didalamnya.
 Entah  apa penyebabnya dan bagaimana bisa, mereka mudah terpengaruh, walau pun sudah  seringkali jatuh bangun dibuatnya. Bahkan ada yang terpaksa hidup “gali lubang tutup lubang”, akibat  dari mengikuti kegiatan yang tanpa pikir panjang alias anut grubyuk.  


Bisa jadi karena tergiur/terpana dan terkagum-kagum dengan sesuatu yang terlihat “wah”. Wah dalam berbicara, wah dalam berbusana, wah dalam berakting dan wah-wah lainnya.  Siapa sih orangnya yang tidak akan “terpesona” bila bertemu dengan sesuatu yang sifatnya di atas dirinya?  Ilmunya, gelarnya, jabatannya, status sosialnya, uangnya dll. Tentunya bangga bila kita bisa dekat dengan orang-orang seperti itu. Ini sesuatu yang “manusiawi”.

Hanya di Hong Konglah bisa bertemu, berbicara, bersinanggungan  dengan kalangan atas, seperti dokter, pembicara, pembisnis, motivator, dosen, artis, dll. Padahal kita hanya BMI  yang banyak dipandang sebelah mata  oleh  masyarakat. Kalau di tanah air, belum tentu kita memiliki kesempatan itu. Entah karena tidak punya waktu, atau karena tidak ada biaya. Yah, fakta ini, mungkin yang  menjadi alasan BMI mengikuti banyak kegiatan sampai “kepontal-pontal” . 

 Mungkin hanya sedikit orang yang tidak  terseret  fenomena ini, dan tentunya  ia  memiliki kepribadian yang  “tangguh”.  Ketangguhan membuat, menjaga dan menjalankan perencanaan  matang yang dibuatnya.
Semua kegiatan yang disebutkan dia  atas tadi, adalah hal-hal positif dan bisa menjadi salah satu sarana berkembang dan majunya seorang BMI,  bila dijalani dengan benar dan memang  sudah direncanakan     
 ( baca: prioritaskan).


Untuk apa kita mengikuti banyak kegiatan kalau hanya untuk “sekedar tahu:”? Kita tidak memahami apa yang kita pelajari. Lebih baik kita mengikuti satu atau dua  kegiatan, tapi kita benar-benar memahaminya. Mengikuti  suatu kegiatan karena anut grubyuk, hanya akan  membuang waktu produktif  kita saja.  






Senin, 03 Agustus 2015

Mencari Ujung Jalan



Istirahat satu hari di rumah sepulang dari Jember, sebenarnya belumlah cukup buatku. Karena keberadaanku di rumah bukanlah untuk istirahat, tapi justru  bersih-bersih  rumah setelah aku tinggal. Dengan alasan mengejar waktu, aku dan si bungsu memutuskan berangkat ke Magetan, Kamis 23 Juli 2015.

Saat ini,bila bepergian, aku harus ikut fokus pada arah jalan. Berbeda dengan ketika masih di Hong Kong, tinggal duduk manis sampai tujuan. Tidak perlu memperhatikan, apalagi mengingat rute jalan. Kalau sekarang bersikap seperti itu, alamat kesasar-sasar.

Dengan hal baru ini, Alhamdulillah, aku bisa sedikit demi sedikit mengingat rute jalan yang pernah aku lalui. Dan perjalanan hari  ini melewati rute yang pernah aku lalui, sehingga lebih mempercepat waktu. Malang-Magetan, adalah rute yang harus ku tempuh dengan mengendarai kendaraan roda dua.

Di Blitar, berhenti  untuk istirahat dan membeli sedikit makanan. Lalu melanjutkan perjalanan sambil memperhatikan “ plang”  rute perjalanan berwarna hijau yang dipasang dipinggir jalan. Cukup memudahkan dan sangat membantu. Tak terbayangkan, tanpa plang tersebut, berapa kali aku harus turun dari kendaraan untuk bertanya pada orang.

Malang, Blitar, Tulung Agung, bisa aku lalui dengan mulus tanpa hambatan apa-apa, hingga masuk kota Trenggalek. Istirahat sejenak di warung  makanan yang ada di pinggir jalan, sambil lesehan karena punggung, pantat dan mata sudah terasa capek dan panas. Udara di luar cukup panas, menambah rasa lelah yang ada.
Setelah membaca menu makanan yang tersedia, pilihan jatuh pada mie ayam dan es jeruk, dan si bungsu memesan  bakso dan jeruk hangat. Dalam bayanganku, setelah makan dan minum di warung  ini, akan bisa membangkitkan energi yang telah terkuras.  Ndelalah,  makanan dan minuman yang kami pesan tidak enak untuk dinikmati. 

Bakso yang edentik dengan pentolnya, ternyata tidak seperti pentol rasanya, tapi lebih mirip  rasa cilok. Makanan yang dibuat dari tepung kanji dicampur daging sapi sedikit. Lalu  jeruk panasnya, ternyata Marimas. Pun juga dengan mie ayam yang biasanya terbuat dari mie basah yang dimasak sebentar, ternyata yang ini terbuat dari mie kering ukuran sedang. Biasanya mie kering seperti ini dimasak dengan sayur sawi/kol  yang dibuat “berkat” oleh orang-orang yang sedang hajatan. Tentu saja rasanya nggak ngalor nggak ngidul.

 Es jeruk yang dalam bayanganku terbuat dari irisan jeruk nipis/lemon, ternyata es serbuk Marimas. Sudah “kadung” dibeli, ya dimakan saja walau rasanya tidak enak.  Alhasil, setelah meminumnya, batuk yang menyerangku semakin bertambah parah, karena aku tidak terbiasa meminum minuman jenis itu.
Setelah selesai membayar makanan dan minuman, kamipun beranjak pergi. Sebelum meninggalkan kedai, aku menanyakan kepada pemilik kedai, apakah jarak ke Magetan masih jauh. Ia menyarakan pada kami menempuh jalur Pacitan, tidak perlu  lewat Madiun.

Kami pun percaya dan mengikuti sarannya.  Mencoba jalur baru. Dalam pikiranku, jalur ini mungkin jalur pintas, sehingga bisa lebih cepat sampai tujuan.  Akhirnya, melanjutkan perjalanan ke Magetan melalui Pacitan. Sebelum sampai Pacitan, jalan yang dilewati berbeda dengan jalan yang ditempuh sebelumnya. Berkelok dan naik turun, sehingga membuat perjalanan menjadi lambat dari sebelumnya, karena ketika jalan menanjak, kendaraan yang aku pakai tidak bisa cepat lajunya.

“Ah, biasanya, jalan yang berkelok dan naik turun seperti ini arahnya ke pantai atau ke gunung”, gumanku dalam hati karena ingat perjalanan ke Bale Kambang. 
Dan ternyata memang benar. Meski jalannya kendaraan makin lambat, tidak ada solusi lain, jadi tetap melaju. Sambil tengok kanan-kiri sambil membaca daerah-daerah yang aku lalui, keningku mulai berkerut : masih di Trenggalek!

Padahal jarak yang ditempuh sudah lumayan jauh.  Dari jauh terlihat sebuah pantai, ternyata namanya “Pelang”. Si bungsu yang suka traveling, menghentikan kendaraan dan minta aku mengambil gambarnya dengan melihatkan pantai. 

Saat itu, aku melongokkan kepala ke atas, ternyata sedang berada dibawah pohon asem yang berbuah lebat sampai berjatuhan ke tanah. Aku mengambilnya dan memasukkan ke dalam tas plastik “kresek” warna putih. Sambil mencicipi buah asem yang ternyata rasanya kecut sekali. 

Setelah dirasa cukup, perjalanan dilanjutkan kembali. Sepanjang jalan masih melihat-lihat, kemungkinan bertemu dengan pemandang pantai yang lebih jelas di  antara pepohonan. Sebenarnya, hal itu hanya untuk menghibur diri  karena rute yang ditempuh jadi makin panjang. Jalanan berkelok menjadi rute yang membosankan. Terus berkelok dan berkelok belum ketemu ujung jalannya. “ Kok jalan ini nggak putus-putus ya, mana ujungnya?”, tanyaku dalam hati.

Hari mulai malam. Berhenti di sebuah warung kecil untuk beli bensin.Bertanya pada pemilik warung, dan ternyata kami salah jalur. Terbayang perkataan si pemilik kedai di Trenggalek, ada rasa kesal dan sesal. Mau tidak mau, perjalanan harus dilanjutkan. 

Hampir menjelang maghrib, baru bisa keluar dari jalanan berkelok memasuki jalan kota. Kendaraan terus melaju seiring dengan bertambah capeknya aku dan tentunya si bungsu. Aku lihat berkali-kali ia “ndegek” karena lelah. Aku mencari-cari tulisan Ponorogo, tapi masih saja yang ku jumpai kota Pacitan.

Membaca Pacitan, membuatku teringat jalan berkelok tak berujung. Dalam kejenuhan, kota  Ponorogo akhirnya terlihat juga, setelah membeli bensin untuk kesekian kalinya. Maunya ngirit malah “ngorot”.
Dalam keremangan malam, mencari jalur ke Madiun. Sambil sesekali bertanya pada orang ketika tidak menemukan plang rute jalan. Dan, sampailah di kota Magetan setelah melewati Madiun. “Ukh, katanya tidak perlu lewat Madiun, nyatanya masih melewati!”, kesalku dalam hati.

Terdengar sayup-sayup suara adzan yang kedua kalinya di malam hari, artinya sudah memasuki waktu isya. Wow, sampai Magetan Isya, karena salah jalur. Padahal kalau melewati jalur yang biasa aku lewati, sebelum maghrib sudah bisa sampai. Oalah….

Sampai Magetan, di rumah yang aku tuju, kami berdua istirahat penuh. Berkunjung ke rumah bulik di Gorang gareng Magetan, sengaja aku luangkan karena bulik akan kembali lagi ke Hong Kong. Dua hari di Magetan dirasa cukup, akupun pamit kembali ke Malang. Untuk ke Malang, bisa ditempuh melalui jalur Pare lalu tembus ke Pujon Malang. 

Karena masih trauma dengan perjalanan ke Magetan sampai nyasar ke Pacitan, aku memilih jalur yang biasa ditempuh. Selain cepat, jalannya tidak berkelok. Tidak ada halangan berarti. Tiba di kota Tulung Agung, perjalanan agak melambat karena terjebak macet. Banyak iring-iringan kendaraan roda dua. Sekitar 15 menit harus sabar dalam kemacetan, akhirnya bisa melaju cepat lagi. 

Ada yang menarik perhatianku, kendaraan “pick up” yang bertuliskan  dilarang membawa orang, ternyata kendaraan tersebut malah dipenuhi orang, berdiri lagi.  Setahuku, kendaraan itu digunakan memuat hewan. Aku merasa ngeri juga dengan pemandangan itu. “Apakah di sini masih berlaku kebiasaan ini ya?”, tanyaku dalam hati.

Meninggalkan kota Tulung Agung dan memasuki kota Blitar terus melaju ke kota Malang. Sampai juga di Kepanjen dengan selamat. Alhamdulillah…

Malang-Magetan, 22-24 Juli 2015

Pesona Mudik Lebaran 1436 Hijriyah/ 2015



Tahun ini adalah tahun pertama aku berlebaran di tanah air bersama keluarga. Kumandang takbir saling bersahutan di malam akhir bulan Ramadan. Suasananya begitu  semarak. Anak kecil, remaja, orang dewasa, berbaur jadi satu berjalan beriringan  sambil  bertakbir disela-sela lalu- lalangnya kendaraan umum di jalan raya Ahmad Yani, Kepanjen. Itulah gambaran sekilas malam takbir.
Saat lebaran  seperti ini,  ada momen penting dan banyak orang yang tidak mau meninggalkannya, karena datangnya setahun sekali : Mudik! 

Padahal,kalau dipikir-pikir, mudik bisa dilakukan kapan saja, tapi entah kenapa, mudik menjadi satu kewajiban bagi sebagian orang, ketika  lebaran. Mudik, adalah salah satu fenomena di Indonesia yang terjadi menjelang  lebaran . Mudik menjadi “ke-khas-an”  lebaran. Saat mudik, semua keluarga bisa berkumpul karena bisa cuti kerja. Mungkin ini yang menjadi salah satu alasan. Mudik inipun dilakukan bagi para perantau  di luar negeri demi bisa bertemu keluarga dalam suasana lebaran.

Mudik membuat banyak komponen  menjadi sibuk luar biasa lalu mempersiapkan diri.  Dari dinas perhubungan, kepolisian, pedagang asongan dll.  Semuanya menjadi satu kekomplitan dalam suasana “mudik”. Aku pun tak melewatkan momen penting ini,  mudik bersama keluarga. 
Tanggal 18, hari kedua lebaran, berangkatlah aku ke tanah dimana aku dilahirkan : Jember.  Jam 09.00  bis patas Akaz  yang aku naiki perlahan meninggalkan area terminal yang terletak di daerah Arjosari-Malang. Sengaja aku memilih bis patas supaya cepat sampai tujuan, meskipun harganya dua kali lipat dari harga bis biasa, yaitu Rp. 66.000. Sedang anak-anak naik sepeda motor, melewati jalan pintas yang lebih pendek jarak tempuhnya.

Aku turun dan berjalan Keinginan tinggal  keinginan, ketika perjalanan  menjadi lamban.  Apa hendak dikata, bis patas yang aku tumpangi terjebak macet  di antara puluhan kendaraan roda dua dan roda empat di Pasuruan.






 Alhasil, jam 13.00  bis baru masuk area terminal Banyuangga, Probolinggo. Kondektur bis memberi intruksi pada para penumpang untuk turun. Aku bangkit dan berjalan ke bagian depan bis. Menanyakan, apakah jurusan Jember harus turun juga. Ternyata, semua jurusan harus turun di terminal itu.
menuju bis kedua yang ditunjukkan kondektur. Terletak persis di depan bis patas yang baru aku tinggalkan. Setelah mendapat kursi, ku coba menanyakan pada kondektur bis itu, apakah  masih  istirahat. Ternyata bis tersebut langsung jalan. Apes! Aku harus sabar menunggu sampai  di terminal Tawang  Alun, Jember  hanya untuk  mencari  toilet : buang air kecil!


Syukurlah, perjalanan ke Jember lancar. Tidak ada gangguan berarti , sehingga bis bisa meluncur dengan cepat meninggalkan kota Probolinggo. Dan itulah yang menjadi harapanku. Ingin segera  istirahat karena badanku sudah terasa penat.
Entah jam berapa sampai di terminal Jember, aku lupa. Ketika turun dari bis, tempat pertama yang aku tanyakan adalah toilet.  Setelah membayar uang Rp.2000 kepada penjaga toilet, aku segera bergegas pergi.  Menemui dimana anakku sedang menunggu. Kami pun meluncur mengendarai sepeda motor menuju Kecamatan Jenggawah. Sekitar satu jam menyusuri jalan raya, sampailah di depan rumah yang dituju. Ternyata, anak-anak sudah pada istirahat. Rupanya mereka datang lebih awal daripada aku yang naik bis. Padahal di daerah Lumajang, sepeda motor yang mereka tumpangi  bermasalah dan memaksa mereka mendorongnya sepanjang 4 kilometer. Perjalanan Malang- Jember yang biasanya ditempuh 4-5 jam, hari itu ditempuh selama 7 jam!



*******

Bertemu dengan  keluarga yang lama aku tinggalkan, menjadikan rasa lelah hilang.  Sisa waktu yang ada diisi dengan  ngobrol dan berbagi cerita sambil diskusi menyusun jadwal halal bihalal. Lepas Maghrib, aku dan anak-anak bergegas berkunjung ke rumah saudara-saudara  yang ada di desa Cangkring hingga pukul  22.00. 

Esok harinya, halal bihalal berlanjut ke  rumah mbakyu di desa Mumbulsari,  menggunakan kendaraan roda dua.  Tapi, sebelum itu, kami berunjungsana ke keluarga yang  bertempat tinggal di dekat situ. Salah satunya berkunjung ke pemilik batu akik, sambil memilih jenis batu akik untuk dibawa pulang. Setelah dirasa cukup, berpamitan, lalu bergegas ke rumah mbakyu. 

Banyak perkebunan karet, coklat dan tembakau yang kami lewati. Sekitar satu jam, sampailah di tempat tujuan. Sambil menunggu keluarga dari Kencong-Jember, kami pun bercerita panjang lebar tentang  banyak peristiwa.  Saling menanyakan kabar anak-anak yang sudah beranjak dewasa, hingga “pangling” dibuatnya. 





Sekitar  dua jam menunggu, akhirnya keluarga dari Kencong tiba. Saling tebak-menebak sambil mengingat satu per satu wajah- wajah yang ada di ruangan itu. Gelak tawa menambah riuh suasana. Saling menenanyakan kabar masing-masing, berbagi cerita dan kisah. Lalu, kami pun berpisah. Sebelum berpisah, kami sepakat bertemu lagi di Mabul-Malang. Tempat keluarga besar dari almarhum bapak.

Berpamitan pulang,  aku dan anak-anak kembali ke Jenggawah. Setibanya di Jenggawah,  masih  mampir ke beberapa keluarga.  Kunjungan pertama untuk saling kenal dari dua keluarga yang dipersatukan oleh pernikahan. Selepas dari unjungsana ini, anak-anak melanjutkan perjalanan ke Paiton –Probolinggo. Sedang aku, harus menginap satu malam lagi karena tidak diijinkan kembali ke Malang, dengan alasan masih kangen.


Esok pagi, setelah “ nyekar” ke makam mamak, aku pun bergegas pergi menuju terminal bis. Kali ini, aku ingin mencoba naik bis biasa. Ingin tahu berapa ongkosnya tiketnya.  Ku pilih bis “ Tentrem” . Ternyata memang jauh lebih murah. 

Aku pilih kursi dekat pintu belakang supaya “isis” dapat angin, karena bis tersebut tidak ber- AC. Sebab, ada bi ber-AC tapi taripnya biasa lho! Maunya duduk di kursi depan, ternyata  sudah ditempati orang. Cukup lama menunggu bis itu jalan, sekitar 15 menit baru beranjak meninggalkan terminal  Tawang Alun menuju Malang.

Karena bis biasa, maka sering berhenti di terminal antar kota untuk  menaikkan-turunkan penumpang. Pun ada yang penumpang operan dari bis lain.  Bis yang awalnya terasa lengang karena jumlah penumpangnya sedikit, menjadi penuh sesak ketika sudah sampai di terminal Banyuangga Probolinggo.

Penumpang dengan tujuan Malang sangat banyak. Kursi bis terisi semua, bahkan banyak yang berdiri. Dari ujung depan sampai belakang. Saking penuhnya, angin pun tidak bisa menerobos masuk ke dalam bis, sehingga menambah “ongkep” nya hawa.

Bis melaju tanpa kendala. Sebentar-bentar, aku melirik arloji, ingin tahu perjalanan Jember- Malang bisa ditempuh berapa jam. Ternyata lebih cepat disbanding saat  aku berangkat.  Riang hatiku, karena sebentar lagi sampai Malang,  tidak perlu  lama-lama berjubel dengan penumpang bis.
 Apa hendak dikata, memasuki daerah Lawang- Malang, bis hamper tidak bisa bergerak. Bukan karena ada kerusakan, tetapi karena terjebak macet. Oalah, macet lagi, macet lagi.



Malang-Jember : 18-20 Juli 2015