Selasa, 11 Oktober 2016

PROFIL BMI HONGKONG-TAIWAN

Hasil Tidak Akan Berhianat Pada Proses

Maria Bo Niok, perempuan kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah, ini adalah PMI Purna Hong Kong yang sukses sebagai penulis novel dan pengusaha makanan ringan. Pada tahun 1996 silam terpaksa merantau ke Hong Kong untuk memperbaiki roda ekonomi keluarga. Berbekal tekad  ia  meninggalkan kelima anaknya, meninggalkan setumpuk utang, dan perbagai masalah yang mendera bahtera rumah tangganya, dan berharap nasib baik akan berpihak padanya setelah ia bekerja menjadi PMI di Hong Kong.


Maria sapaan akrabnya, memiliki lima orang anak yang masih membutuhkan biaya banyak untuk meneruskan pendidikan di sekolah. Meski ini bukan hal yang mudah bagi seorang single parent, apalagi jika mantan suami sudah tidak mau tahu dengan urusan kecil sekalipun, namun dia bersyukur masih mampu memberikan kehidupan yang layak untuk kelima anaknya, baik dari segi pendidikan formal, pun informal. Selama dua tahun di Hong Kong, ia sudah mampu melunasi utang piutang yang ia tinggalkan di kampung halaman. Usai dua tahun itu ia memutuskan untuk pulang.


 Namun tidak berapa lama di rumah, Maria memutuskan lagi pergi ke Taiwan. Kerja di Taiwan juga tidak berlangsung lama. Dua tahun perjalanan kerja di sana Maria memutuskan pulang ke tanah air lagi, karena merasa tidak betah dengan situasi tempat kerja. Dari tabungan yang Maria kumpulkan, ia mampu membangun istana sederhana buat anak-anaknya, karena sejak pergi merantau, nasib anaknya juga tidak menentu. Ada yang ikut kakaknya, ikut ibunya dan ikut ayahnya, meski semua biaya hidup yang menanggung ia sendiri dari hasil keringatnya selama pergi merantau.
Pada tahun 2000 Maria berniat hengkang lagi meninggalkan kampung halaman dan mengais rezeki di tanah orang, yaitu Hong Kong. Untuk kedatangan yang kedua ke Hong Kong, Maria lebih aktif dengan kegiatan-kegiatan positif untuk bekal menata masa depan bersama kelima anaknya. Perbagai kursus ia ikuti, antara lain: kursus bahasa Inggris, kursus bahasa Jepang, taekwondo, ceungdokwan , dan lain-lain. Singkat cerita, Maria saat ini beda jauh dengan Maria yang dulu. Maria saat ini lebih produktif, kreatif, dan selalu aktif di perbagai kegiatan.
Meski pada awalnya Maria sendiri belum memahami betul mengapa ia ikut taekwondo, namun yang pasti niat itu terbesit dibenaknya saat ia melihat banyaknya kasus intimidasi oleh oknum bandara terhadap para PMI saat cuti ke kampung halaman.  Setidaknya, dengan memiliki bekal taekwondo, tidak takut lagi menghadapi gagahnya oknum yang tidak bertanggungjawab, pikirnya.
Waktu bergulir begitu cepat, tak terasa sudah memasuki tahun 2005. Pada akhir tahun kontrak 2003-2005, perempuan dengan panggilan Maria ini mengalami cobaan yang agak berat. Ada suatu ganjalan diotaknya dan harus dioperasi. Ia disarankan menjalani operasi di Tuen Muen Hospital selama kurang lebih 15 hari. Bertepatan dengan keluarnya dari Rumah Sakit, kontrak kerjanya selesai pula, dan ia memutuskan pulang ke kampung halaman untuk menjemput mimpi bersama anak-anaknya.
Pulang kampung. Hidup di negeri sendiri. Satu bulan, dua bulan masih stabil. Isi dompet masih stabil juga, namun menjelang bulan keempat setelah purna, ia merasa bingung, belum memiliki planning yang jelas mau ngapain? Meski begitu, Maria tidak berhenti berusaha. Perbagai usaha ia lakukan, baik berjualan gorengan, jualan baju, sampai tidak laku pun pernah ia lakoni. Buka wartel, buka counter handphone, semua belum menuai hasil.
Hingga suatu hari, Maria diajak mengikuti pelatihan membuat makanan ringan. Berbekal ilmu itu ia merasa cocok dan terus ia kembangkan hingga saat ini. Di samping itu ia juga memiliki keahlian khusus sebagai penulis novel, pengurus perpustakaan hingga dua tahun berturut- turut dan menorah prestasi. Pada tahun 2014 ia menjadi Juara Nasional Kreatif dan Rekreatif. Tahun 2015 pula ia juga menjadi juara 1 Perpustakaan Desa Tingkat Kabupaten Wonosobo.
Benar kata pepatah bijak, bahwa hasil tidak akan berkhianat pada proses. Manusia merancang, Tuhan yang menentukan. Segala usaha dan upaya yang dilakukan Maria pada saat itu menuai hasil yang memuaskan. Di samping kegiatan yang seabrek, ia masih mampu menyisihkan waktu  untuk teman-teman PMI purna dan didaulat sebagai Ketua BMW (Buruh Migrant Wonosobo) Mandiri.  Ia bagikan ilmunya saat mengisi undangan seminar, workshop, dan pertemuan dengan BMW Mandiri. 
Maria kini menjadi motivator untuk teman-teman yang lain agar senantiasa bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, menyikapi kepahitan hidup dengan sesuatu yang positif, kemudian menikmati dan memetik hasilnya pada saat perjuangan sudah terasa maksimal, dan selalu percaya bahwa Allah itu maha segala maha. Dengan sugesti seperti itu, maka rasa pahit dalam perjalanan hidup bisa dijalani dengan rasa nikmat.
Meski tak dapat dinafikan, sering kali godaan untuk pergi ke Hong Kong masih menari-nari dibenak. Namun, dengan mengingat ia sudah mendapat amanah dari teman-teman PMI Purna, pikiran itu lekas sirna. Dalam penuturan terakhir ia juga bercerita bahwa tahun 2007 pernah diundang oleh KJRI Hong Kong untuk mengisi acara welcoming program selama lima hari.

(Hal ini patut juga dijadikan ikhtibar untuk para PMI yang lain, agar sebelum memutuskan pulang kampung, membuat plan yang jelas mau membuka usaha apa? Banyaknya seminar keuangan dan seminar kewirausahaan tidak perlu lagi berpikir untuk ikut atau tidak, tapi putuskan harus ikut agar kita juga memiliki tujuan masa depan, karena ini merupakan tugas kita sebagai manusia untuk menjemput rezeki, selain mengharap kepada pemilik rezeki). * Wina

Dimuat Majalah Iqro edisi 108,Agustus 2016

PROFIL BMI PURNA HONGKONG

Membuka Usaha Bermodal 1 Juta


Pujiatin BMI Purna asal Kediri adalah salah satu volunteer DDHK yang sudah kembali ke Tanah Air. Bersama suaminya, Pujiatin membuka usaha minimalis/pengrajin pot. Bermodal 1 juta, ia dan suaminya mengelola uang tersebut dengan baik, sehingga bisa bertambah dari waktu ke waktu.Usaha ini baru berjalan 6 bulan ketika tim Majalah Iqro berkunjung ke rumah mereka di Kediri.


Sebelum membuka usaha, suami Pujiatin bekerja di tempat pembuatan pot milik saudaranya  selama 10 tahun, dan dari pengalamannya ini, ia lalu berinisiatif membuka usaha sendiri setelah melihat peluang di kampungnya. Halaman depan rumahnya  disulap sebagai tempat usaha. Untuk tempat produksi, gudang, juga  sebagai tempat memajang pot-pot yang sudah jadi dengan berbagai ukuran dan model.


Tahun 2012 lalu, Pujiatin memutuskan untuk kembali ke Tanah Air lalu menikah dengan Zurqoni. Pujiatin merupakan anak tunggal dari Ibu Kasih dan Bapak Tumila yang berangkat ke Hong Kong pada tahun 2007.Pada bulan Oktober 2015, ia dan suaminya membuka usaha minimalis ini. Pendapatan yang bisa diperoleh  berkisar Rp.250.000 per hari. 


Selain melayani pembeli yang langsung datang ke rumah, mereka juga melayani pemesanan dari mulai harga Rp.10.000 sampai Rp.250.000. Untuk usaha ini, bahan-bahan yang dibutuhkan adalah semen, pasir, cat, cetakan.


Pujiatin menitip pesan untuk teman-teman yang sudah lama di Hong Kong dan masih takut pulang ke TanahAir, bahwa di kampung halaman tidaklah menakutkan seperti yang sering dipikirkan. Di Indonesia banyak peluang usaha yang bisa dijalankan, asal ada tekad kuat, kesabaran, keuletan dan serta dikelola dengan baik. Tidak ada usaha yang bim salabim langsung sukses. Pasti ada kendala yang akan menghadang. Kalau kita di Hong Kong mampu menghadapi segala permasalahan, kenapa di Tanah Air sendiri tidak bisa? 




* Dimuat Majalah Iqro Dompet Dhuafa Hong Kong, edisi 109/ September 2016

Senin, 19 September 2016

Harapan

"Tahukah Anda? Bahwa setiap keputusan yang kita buat dipengaruhi oleh emosi? Tidak ada keputusan yang benar-benar hanya didasarkan pada pemikiran logis. Semua keputusan ditentukan oleh hasil "pertarungan" berbagai emosi yang ada di pikiran bawah sadar kita. Emosi inilah sang " provokator" yang sangat lihai dan licik".  ( QLT book hal 127, paragraf 1)




Saya telaah kalimat di atas, dan saya rasakan benar adanya. Ketika flasback ke berbagai macam aktivitas/kegiatan, pekerjaan semua adalah hasil dari sebuah keputusan. Sama seperti ketika saya masuk menjadi anggota sebuah komunitas yang di dalamnya berisikan pelaku-pelaku UKM. Padahal saya sendiri bukan pelaku UKM tetapi jurnalis.








Melalui banyak pertarungan, akhirnya saya putuskan memasuki komunitas itu : MBA.
Tidak serta merta bergabung. Saya punya alasan, karena masuk dalam sebuah komunitas, apapun kegiatannya, bagi saya merupakan investasi waktu, tenaga dan pikiran bahkan uang. Saya harus mendapatkan sesuatu darinya.




Uang, teman, ilmu, pengalaman, skill adalah beberapa hal yang bisa didapatkan  dari investasi tersebut. Dan ini pasti bisa didapat bila seseorang mengambil keputusan bukan karena " anut grubyuk".
Karena ia punya visi dengan keputusannya. Ia harus mempertanggungjawabkan keputusannya itu dengan cara berkomitmen dan menjaga konsekuensinya.





Dalam menapaki sebuah aktivitas baru, tak luput dari pasang surut kendala. Sama seperti di komunitas ini. Karena dalam sebuah komunitas, ada banyak pemikiran-pemikiran yang berbeda. Ya, karena tiap pribadi itu unik. Untungnya, Hong Kong sudah menggembleng saya untuk tidak menjadi penggembira. Dan itulah harapan saya. Bisa memberikan kontribusi untuk kemajuan bersama.



Seperti halnya hari ini (19/9/2016), di beskem MBA, diadakan pertemuan untuk merealisasikan agenda mendirikan koperasi. Yang dihadiri beberapa anggota dan pengurusnya serta Bapak Nanang dari Dinas Koperasi dan UMKM. Memang bukan hal mudah mewujudkan sebuah rencana, namun bukan berarti tidak mungkin mewujud selama diusahakan dengan jalan yang benar dan tak putus semangat serta harapan. Harapan yang terwujud akan menjadi cambuk penyemangat bagi orang lain  yang ingin maju. Bukan sekedar NATO ( No Action Talk Only) atau NAPO ( No Action Perintah Only).

Hong Kong sudah saya tapaki dengan segala kesulitannya, dan semoga di Tanah Air, saya bisa lebih baik lagi. Bisa mewujudkan impian yang saya bangun bersama teman-teman yang masih merajut asa di sana.






Minggu, 14 Agustus 2016

Orang Tua Yang Manakah Kita?

Salah satu alasan orang tua bekerja ke luar negeri, adalah karena ingin membahagiakan anak-anaknya. Mereka rela bersakit-sakit, berpayah-payah mengais rezeki hanya demi membahagiakan anak. Mereka rela bertarung nyawa di negara orang. Mereka menebalkan muka dengan hinaan, cacian, sindiran, kecurigaan orang-orang sekitar. Mereka pun menerima perlakuan tak manusiawi dari bos/majikan demi untuk mempertahankan pekerjaan. Tanpa pekerjaan, mereka tak mendapatkan uang. Tanpa uang, mereka tak bisa membahagiakan anak-anaknya.

Setelah mereka, para orang tua mendapat uang dari hasil jerih payahnya, mulailah mengirimkan uang untuk membahagiakan anaknya. Disuruhnya sang anak membeli apapun yang diinginkannya. yang membuatnya senang. Yang membuatnya, merasa semua kebutuhannya terpenuhi. Itu saja tidak cukup, terkadang para orang tua membelikan barang-barang untuk membahagiakan anaknya. Terlepas apakah barang-barang tersebut dibutuhkan atau tidak. Diperlukan atau tidak. Tapi para orang tua sudah merasa bahagia bisa membelikan sesuatu untuk anaknya. Dengan cara inilah, ia sebagai orang tua merasa kewajibannya sebagai orang tua sudah terpenuhi. Atau orang tua merasa bahwa dengan inilah, ia menebus kesalahan meninggalkan anaknya bekerja ke luar negeri.

Hal tersebut terjadi berulangkali, dan akhirnya  jadilah habit/kebiasaan dalam hidup sang anak. Yang ada dalam otaknya terhadap orangtuanya adalah, kiriman uang dan barang-barang yang diinginkan. Pun juga dengan orang tua, yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana dia bisa mewujudkan apapun yang diinginkan anaknya. Apapun dia rela lakukan demi kebahagiaan anak. Ya, sekali lagi kebahagiaan anak!

Ketika habit ini terbentuk, kita para orang tua sudah harus siap menjadi ATM berjalan bagi anak. Karena kita telah mencekokinya  dengan hal-hal yang berbau duniawi/materialistis. Kita tidak pernah memberitahu bagaimana kita bisa mendapatkan uang itu. Apa saja yang kita kerjakan untuk mendapatkan uang itu. Perlakuan apa saja yang kita hadapi demi uang itu. Menurut kita, itu tidak penting. Agar anak tidak merasa sedih dengan cerita kita. Anak tidak perlu tahu penderitaan kita. Bagus! Orang tua yang hebat! Orang tua yang mandiri!

3-4 tahun, terasa lelahlah orang tua karena memiliki anak yang hanya bisa meminta, tepatnya menuntut!
Kekuatan fisiknya  yang mulai menurun, tuntutan hidup yang meningkat, mulai menjadi delemanya. Tidak tahu harus mengadu kemana. Tidak tahu harus bagaimana memberi penjelasan pada anak tentang keadaannya. Orang tuapun kecewa. Kecewa pada siapa? Pada anaknya! Kenapa? Karena anaknya hanya bisa meminta dan menuntut!

Bila orang tua punya anak yang bisanya hanya meminta dan menuntut pada orang tuanya, mari kita para orang tua flasback ke belakang, kita tanyakan diri kita sendiri, kita renungkan perjalanan selama bekerja di luar negeri, apa saja yang telah kita tanamkan pada anak kita. Pemahaman kenapa kita bekerja ke luar negerikah? Alasan kita bekerja keluar negeri untuk apakah? Tujuan bekerja ke luar negeri untuk apakah?
bila pertanyaan-pertanyaan di atas tidak pernah kita lakukan, maka, jangan sekali-kali salahkan anak! Salahkanlah diri kita sendiri. Karena diri kitalah yang telah membubuhi racun dalam otak  anak untuk jadi penuntut!

Dalam kelelahan, orang tua mencari pelampiasan agar dirinya bahagia, setidaknya bisa menghilangkan kecewanya walau sesaat. Berhepi ria, jalan-jalan ke tempat wisata, shoping dll. Namun sayangnya, hal seperti itu tak mampu hilangkan kecewanya!

Banyak anak yang menjadikan orang tuanya yang bekerja di luar negeri sebagai ATM berjalan. Semua itu  tak lepas dari didikan orang tuanya sendiri yang salah kaprah mengartikan kebahagiaan bagi seorang anak. Sang anak tidak tumbuh dewasa, sang anak jadi benalu kehidupan kehilangan potensi dirinya, sang anak menjadi penuntut ulung, sang anak menjadi pemalas.Dan parahnya, ketika sang anak menjalani kehidupan berumah tangga, ia akan mengalihkan berbagai tuntutan terhadap suaminya. Dan ketika sang suami tak mampu memenuhi tuntutannya, dia akan mengungkit-ungkit dan membanggakan pemberian orang tuanya.
Sang suami pun hanya menjadi gedibal istrinya. Kehadirannya bukanlah hal yang patut dibanggakan olehnya.

Ada hal mengerikan yang luput dari pemikiran kita para orang tua yang bekerja ke luar negeri, karena merasa punya gaji besar dan punya alasan bahwa ia bekerja untuk membahagiaan anak : kemandirian anak!
Ketika kita sudah tidak mampu lagi bekerja menghasilkan uang, ketika nyawa kita melayang. Apakah yang akan terjadi dengan kehidupan anak kita? Mampukah ia menghadapi kehidupan yang penuh problema ini?
Bisakaha ia tumbuh menjadi pribadi yang berkualitas? Jangan-jangan, ia akan mengikuti jejak kita bekerja ke luar negeri lalu mengulang kesalahan sama dengan yang sudah kita lakukan.

Apakah kita termasuk orang tua yang demikian? Ataukah kita adalah orang tua yang tegas bersikap demi kemandirian sang anak?  Karena tegas bukan berarti tak sayang.Mungkin, sebaiknya, kita pikirkan hal ini dari sekarang.

Malang, 15 Agustus 2016






Senin, 23 Mei 2016

Catatan Agenda Di LKP Ganesha




Tanggal 15 Mei 2016 kemarin, saya dan seorang kawan dari kota Blitar, yang sama-sama BMI Purna, mengikuti training disebuah lembaga pelatihan. Kami berdua meluangkan waktu untuk menimba ilmu dunia marketing online. Karena masih sangat banyak sekali, hal-hal luar biasa di dunia IT yang belum kami ketahui.

Sebenarnya, saya mengajak banyak kawan, tapi mereka masik sibuk dengan agenda mereka masing-masing. Jadi saya memutuskan, untuk belajar dulu. Sebab, kalau saja menunggu dan menunggu, saya tidak akan segera mendapatkan ilmu yang saya perlukan. Sedangkan saya sangat tahu, kekurangan dan kemampuan diri saya sampai dimana. Point-point mana yang harus segera saya tambah/benahi. Karena dengan menguasai ilmu yang saya butuhkan, maka saya bisa mencapai target yang saya inginkan. Dan imbasnya, meningkatkan pendapatan saya yang berujung pada kesejahteraan hidup saya. So, saya tidak menunggu. 

Dengan berinvestasi Rp. 150.000, seharian kami belajar. Tentang pemahaman jualan online yang hakikatnya sama dengan jualan ofline, yaitu kita harus "jujur" mengenai kondisi barang yang kita jual. Kita tidak boleh berbohong.

Apabila kita kedapatan berbohong, saat itulah kita akan kehilangan pembeli. Kalau dipikir-pikir memang benar. Saya pernah membeli jilbab, saya lihat gambarnya bagus dan menarik. Tapi, setelah barang sampai ditangan saya, ternyata kualitas barangnya jelek.
Sejak itu, saya tidak pernah lagi membeli  barang  ( baju, jilbab) secara online. Saya memilih datang langsung ke toko/penjualnya.

Di pelatihan hari itu, saya dan   kawan saya juga peserta yang lain, mengutak-atik hape adroid kami. Membuka situs-situs tertentu sesuai arahan narasumber.  Ada yang sudah paham penggunaan situs tersebut, tapi lebih banyak yang belum paham, termasuk saya. Karena itulah, saya belajar.

Bagi saya, belajar harus terus ditingkatkan dari waktu ke waktu. Mau "nyandak" tidaknya jangkauan pikiran saya, itu perkara nanti. Karena sesuatu hal baru memang seringkali membuat kita akan mengalami ketidak "nyadak-an" tersebut.  Nyandak alias bingung.

Selama ini, dalam masalah promosi, saya memang menggunakan berbagai media sosial yang saya punya. Memang tidak banyak aplikasi yang saya unduh, seperti kawan-kawan lainnya. Alasan saya karena kalau kebanyakan aplikasi, kinerja hape jadi lambat. Bahkan kadang error. Dan saat itu, dunia kayak kiamat ( Kayak tahu kiamat itu seperti apa. Hehehe...). Maksudnya, segala aktivitas  saya jadi terhambat. Misal ada informasi pelatihan, jadwal pertemuan komunitas, atau promo barang jualan. Semua jadi terbengkalai. 
Bagi yang paham dunia IT, itu bukan masalah, tapi bagi saya yang lebih banyak tidak pahamnya , menjadi satu hal yang menakutnya.  Saya meminta bantuan orang lain, untuk bisa mengaktifkan kembali perangkat hape tadi.

Di pelatihan itu, ada satu ilmu yang saya incar jauh-jauh hari. Yang itu menjadi alasan saya mengikutinya. Yaitu, tehnik pemotretan produk. Karena menurut saya, banyak orang yang berjualan secara online, dengan menampilkan gambar yang asal-asalan. Termasuk saya dulunya.
Sampai pada ketika saya bertemu dengan sesorang yang lagi bertugas ke Hong Kong, memperlihatkan cara memotret sebuah barang yang mau dijual secara online. 

Dari situ, saya mulai belajar menampilkan photo-photo agar terlihat menarik. Lumayanlah dibanding dengan hasil tampilan sebelumnya. Saya jadi tahu, ternyata untuk mengupload sebuah photo/gambar, ada triknya.



Teringat peristiwa itu, saya langsung mendaftar ketika mendapat informasi pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan saya. Dimana saya menyadari, bahwa saya suka berjualan/berdagang (Sesuai sunah Nabi gitu ceritanya. Hehe...)

Dalam sesi itu, kami para peserta pelatihan diminta mempraktekkan ilmu yang baru kami dapatkan. Sehingga kami tahu, titik letak kesalahan dan ketidaktahuan kami selama ini. Juga sejauh mana kami memahami materi yang diberikan  narasumber. 




Dari tata letak, pencahayaan, pengaturan waktu, dll. Sangat berharga sekali. Satu ilmu terkantongi. Semoga bisa menjadikan kenaikan omset dari barang-barang yang kami jual secara online.

Untuk bisa selalu memiliki semangat belajar, saya mengingat nasihat dari sebuah buku. Orang yang hanya memikirkan urusan  perut ke bawah, hidupnya begitu-begitu saja. Dan orang yang selalu memikirkan urusan leher ke atas, hidupnya akan berkembang. Seperti itulah                                                                                      kira-kira maknanya.






*Catatan agenda di LKP Ganesha : 15 Mei 2016 *


Sabtu, 21 Mei 2016

Catatan Di Basecamp MBA




Terlihat wajah-wajah baru di MBA, yang kebanyakan  adalah pelaku UKM yang ada di daerah Malang. Meskipun saya sendiri bukan pelaku UKM, tapi berkumpul dengan mereka akan membawa manfaat tersendiri, karena saya memiliki program TSM (Tour Studi Magang).

TSM diperuntukkan bagi BMI Purna, keluarga BMI dan BMI yang masih bekerja di luar negeri. Program TSM hanya bisa dilakukan bila bersinergi dengan pelaku UKM karena dalam program ini, kita akan mengunjungi tempat-tempat usaha untuk melihat cara produksi, packing, serta marketingnya. Dengan demikian, peserta akan melihat dan mendengar langsung bukan hanya sekedar teori semata. Sepintar apapun menguasai  teori, tak jarang  kita kebingungan saat mengaplikasikan di lapangan. Dengan adanya pendampingan serta bimbingan dari pelaku UKM, kendala-kendala yang kita temui bisa teratasi.

Selain itu, mereka bisa menemukan ide-ide bisnis yang dijalankan dari rumah masing-masing. Sangat cocok buat BMI khususnya wanita. Mereka bisa menjalankan tugas rumah tangga bagi yang sudah berkeluarga. Bagi yang masih single bisa menciptakan peluang usaha/membuka lapangan kerja dari rumah. Tidak lagi menjadi karwayan/BMI.



Bagi yang memiliki minat marketing, mereka bisa menjadi reseller dari produk-produk UKM tersebut. Jadi, banyak sekali manfaatnya. Membangun silaturohim, tour/wisata, belajar, praktek, menjadi reseller.Tanpa di sadari, kita sudah ikut membantu memasarkan produk UKM di era MEA ini. Slogan cinta produk dalam negeri bukan menjadi slogan saja bukan?

Untuk program TSM ini, saya bisa bersinergi dengan sesama anggota MBA yang mayoritas pelaku UKM. Akan tercipta simbiosis mutualis. Inilah visi saya menjadi anggota MBA. Karena melakukan sesuatu tanpa visi,  kita akan menjalaninya tanpa semangat. Hanya sekedar ngumpul, bahkan tak jarang  kita hanya akan menjadi penonton saja.

MBA ( Malang Business Activity) ini wellcome terhadap siapa pun termasuk saya BMI Purna Hong Kong.
Di sini, ada banyak pelatihan-pelatihan yang bisa dipelajari untuk meningkatkan skill kita. Kita pun bisa mengikuti kegiatan-kegiatan baik dari komunitas maupun instansi.  Itu yang saya butuhkan sebagai pendatang baru, meskipun saya bukan orang asing.



Kenapa saya katakan pendatang baru? Karena setelah merantau sekian lama, ketika kembali ke Tanah Air, kita akan plonga-plongo. Dan untuk keluar dari keplonga-plongoan itu, kita harus mau belajar dan berbaur dengan banyak orang, baik secara individu maupun komunitas. Kita mengosongkan gelas agar ilmu bisa masuk. Meskipun saat di luar negeri kita sudah mengikuti banyak pelatihan, seminar, workshop dll.

Mengantongi banyak sertifikat  pelatihan bukanlah jaminan kita bisa menaklukkan keadaan, kalau belum langsung terjun ke lapangan. Teori saja tidak cukup. Untuk bisa terjun ke lapangan, kita butuh relasi/mitra yang bisa menyambungkan kita dengan sesuatu yang kita perlukan.


* Catatan di Basecamp MBA, pOWER cAFE, 21-5-2016*    


Selasa, 17 Mei 2016

Berbohong Demi Dapat Penumpang

"Pak, bisnya ke Malang?" tanya saya pada seorang supir bis.
"Iya," jawab pak sopir.
"Lewat Jalibar ?" tanya saya lagi.
"Tidak," jawab pak supir.



Mendengar  jawaban pak supir, saya segera melangkah naik ke dalam bis Harapan Baru di terminal bis kota Blitar setelah pamit , bersalaman dan cium pipi kiri-kanan kepada seorang teman.
Sejak tanggal 15 Mei kemarin, kami berdua memiliki agenda yang sama sebagai sesama BMI Purna Hong Kong.

Karena kursi bagian depan sudah terisi penuh, saya memilih duduk di kursi paling belakang. Alasannya dekat pintu, jadi bisa mendapatkan udara segar dan saat turun dari bis jaraknya dekat. Dalam bis itu ada pengamen yang sedang menyanyi lalu menjajakan plastik/wadah untuk uang pemberian  para penumpang.

Tak berapa lama, bis pun berjalan.perlahan meninggalkan terminal kota Blitar. Kemudian  kondektur yang duduk pas didepan kursi  saya, lewat menarik uang dari penumpang yang belum membayar.

"Turun pasar Kepanjen," kata saya kepada kondektur sambil memberikan uang lima puluh ribuan.
"Kita nggak lewat Panjen, tapi lewat Jalibar," jawab kondektur, membuat saya terkejut.
"Tadi kata pak supirnya nggak lewat Jalibar?" protes saya.
"Nanti turun di Talang Agung, kita nggak lewat Panjen," kata kondektur dengan muka tanpa senyum.

Kecewa, marah, itulah yang saya rasakan saat itu. Perasaan dibohongin oleh supir bis Harapan Baru tujuan Banyuwangi telah membuat perjalanan saya jadi tidak nyaman. Hanya untuk mendapatkan penumpang, segala cara dilakukannya termasuk membohongi penumpang.  Yang mereka pikirkan hanya keuntungan sesaat tanpa memikirkan jangka panjang tidak dipercayanya pelayanan mereka, surat pengaduan yang bisa saja dilayangkan oleh penumpang ke kantor bis yang tertera pada setiap lembar karcis sebagai bukti pembayaran.

Saya diturunkan di pertigaan Talang Agung, cukup jauh dari rumah saya. Tanpa banyak bicara, saya turun dan berjalan menuju  Indomaret  yang kebetulan terlihat oleh saya.Membeli pulsa yang kebetulan habis, agar saya bisa menghubungi orang rumah dan mengabarkan keadaan dan posisi saya saat itu.

Entah, sudah berapa banyak kebohongan-kebohongan yang mereka laukukan kepada penumpangnya.
Satu kebohongan bila dibiarkan akan menjalar tak berkesudah.



PO. HARAPAN BARU
Jl. Pahlawan Karangsuko 
Telp. (0355) 793367
Trenggalek
E.N0 057028



Catatan perjalanan Blitar -Malang ;17-Mei 2016