Minggu, 14 Agustus 2016

Orang Tua Yang Manakah Kita?

Salah satu alasan orang tua bekerja ke luar negeri, adalah karena ingin membahagiakan anak-anaknya. Mereka rela bersakit-sakit, berpayah-payah mengais rezeki hanya demi membahagiakan anak. Mereka rela bertarung nyawa di negara orang. Mereka menebalkan muka dengan hinaan, cacian, sindiran, kecurigaan orang-orang sekitar. Mereka pun menerima perlakuan tak manusiawi dari bos/majikan demi untuk mempertahankan pekerjaan. Tanpa pekerjaan, mereka tak mendapatkan uang. Tanpa uang, mereka tak bisa membahagiakan anak-anaknya.

Setelah mereka, para orang tua mendapat uang dari hasil jerih payahnya, mulailah mengirimkan uang untuk membahagiakan anaknya. Disuruhnya sang anak membeli apapun yang diinginkannya. yang membuatnya senang. Yang membuatnya, merasa semua kebutuhannya terpenuhi. Itu saja tidak cukup, terkadang para orang tua membelikan barang-barang untuk membahagiakan anaknya. Terlepas apakah barang-barang tersebut dibutuhkan atau tidak. Diperlukan atau tidak. Tapi para orang tua sudah merasa bahagia bisa membelikan sesuatu untuk anaknya. Dengan cara inilah, ia sebagai orang tua merasa kewajibannya sebagai orang tua sudah terpenuhi. Atau orang tua merasa bahwa dengan inilah, ia menebus kesalahan meninggalkan anaknya bekerja ke luar negeri.

Hal tersebut terjadi berulangkali, dan akhirnya  jadilah habit/kebiasaan dalam hidup sang anak. Yang ada dalam otaknya terhadap orangtuanya adalah, kiriman uang dan barang-barang yang diinginkan. Pun juga dengan orang tua, yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana dia bisa mewujudkan apapun yang diinginkan anaknya. Apapun dia rela lakukan demi kebahagiaan anak. Ya, sekali lagi kebahagiaan anak!

Ketika habit ini terbentuk, kita para orang tua sudah harus siap menjadi ATM berjalan bagi anak. Karena kita telah mencekokinya  dengan hal-hal yang berbau duniawi/materialistis. Kita tidak pernah memberitahu bagaimana kita bisa mendapatkan uang itu. Apa saja yang kita kerjakan untuk mendapatkan uang itu. Perlakuan apa saja yang kita hadapi demi uang itu. Menurut kita, itu tidak penting. Agar anak tidak merasa sedih dengan cerita kita. Anak tidak perlu tahu penderitaan kita. Bagus! Orang tua yang hebat! Orang tua yang mandiri!

3-4 tahun, terasa lelahlah orang tua karena memiliki anak yang hanya bisa meminta, tepatnya menuntut!
Kekuatan fisiknya  yang mulai menurun, tuntutan hidup yang meningkat, mulai menjadi delemanya. Tidak tahu harus mengadu kemana. Tidak tahu harus bagaimana memberi penjelasan pada anak tentang keadaannya. Orang tuapun kecewa. Kecewa pada siapa? Pada anaknya! Kenapa? Karena anaknya hanya bisa meminta dan menuntut!

Bila orang tua punya anak yang bisanya hanya meminta dan menuntut pada orang tuanya, mari kita para orang tua flasback ke belakang, kita tanyakan diri kita sendiri, kita renungkan perjalanan selama bekerja di luar negeri, apa saja yang telah kita tanamkan pada anak kita. Pemahaman kenapa kita bekerja ke luar negerikah? Alasan kita bekerja keluar negeri untuk apakah? Tujuan bekerja ke luar negeri untuk apakah?
bila pertanyaan-pertanyaan di atas tidak pernah kita lakukan, maka, jangan sekali-kali salahkan anak! Salahkanlah diri kita sendiri. Karena diri kitalah yang telah membubuhi racun dalam otak  anak untuk jadi penuntut!

Dalam kelelahan, orang tua mencari pelampiasan agar dirinya bahagia, setidaknya bisa menghilangkan kecewanya walau sesaat. Berhepi ria, jalan-jalan ke tempat wisata, shoping dll. Namun sayangnya, hal seperti itu tak mampu hilangkan kecewanya!

Banyak anak yang menjadikan orang tuanya yang bekerja di luar negeri sebagai ATM berjalan. Semua itu  tak lepas dari didikan orang tuanya sendiri yang salah kaprah mengartikan kebahagiaan bagi seorang anak. Sang anak tidak tumbuh dewasa, sang anak jadi benalu kehidupan kehilangan potensi dirinya, sang anak menjadi penuntut ulung, sang anak menjadi pemalas.Dan parahnya, ketika sang anak menjalani kehidupan berumah tangga, ia akan mengalihkan berbagai tuntutan terhadap suaminya. Dan ketika sang suami tak mampu memenuhi tuntutannya, dia akan mengungkit-ungkit dan membanggakan pemberian orang tuanya.
Sang suami pun hanya menjadi gedibal istrinya. Kehadirannya bukanlah hal yang patut dibanggakan olehnya.

Ada hal mengerikan yang luput dari pemikiran kita para orang tua yang bekerja ke luar negeri, karena merasa punya gaji besar dan punya alasan bahwa ia bekerja untuk membahagiaan anak : kemandirian anak!
Ketika kita sudah tidak mampu lagi bekerja menghasilkan uang, ketika nyawa kita melayang. Apakah yang akan terjadi dengan kehidupan anak kita? Mampukah ia menghadapi kehidupan yang penuh problema ini?
Bisakaha ia tumbuh menjadi pribadi yang berkualitas? Jangan-jangan, ia akan mengikuti jejak kita bekerja ke luar negeri lalu mengulang kesalahan sama dengan yang sudah kita lakukan.

Apakah kita termasuk orang tua yang demikian? Ataukah kita adalah orang tua yang tegas bersikap demi kemandirian sang anak?  Karena tegas bukan berarti tak sayang.Mungkin, sebaiknya, kita pikirkan hal ini dari sekarang.

Malang, 15 Agustus 2016






Tidak ada komentar:

Posting Komentar