Penulis ingin meluahkan buah pikirnya, pengalamannya, juga segala sesuatu yang terjadi disekitarnya yang mampu mengusik nalurinya sebagai manusia yang senantiasa ingin berbenah. Lewat tulisan, penulis ingin berbagi
Kamis, 23 Agustus 2012
Hong Kong, Ku Terpesona
Bicara tentang HongKong membuat kita akan banyak berpikir, setidaknya akan membawa angan kita menuju ke Tanah Air. Sesuatu yang dulunya tidak berarti jadi sangat berarti. Yang dulunya tidak tahu jadi tahu. Yang dulunya benci jadi suka. Yach, Hong Kong negara dengan 1000 ilmu dan kekreativan, itu menurut saya.
Banyak benda-benda di Indonesia dibiarkan begitu saja, ternyata di Hong Kong mampu menghasilkan uang, misal : tumbuh-tumbuhan dan hewan tertentu yang sudah mati. Dijadikan ramuan jamu godok, bahan masakan dll. Kok bisa?
Karena orang Indonesia tidak tahu kegunaannya sedangkan orang Hong Kong tahu manfaatnya.
Ditilik dari wilayah, Hong Kong tak seluas Indonesia. Hong Kong tak sekaya Indonesia, tapi Hong Kong mampu menyedot tenaga kerja Indonesia. Hong Kong tidak memiliki kekayaan alam yang berarti dibanding Indonesia, namun kehidupan rakyatnya sejahtera. Peralatan serba listrik ada dimana-mana. Kemudahan-kemudahan baik dari segi peralatan dan pelayanan menjadi satu hal yang lumrah, misal : kereta bawah tanah (MTR). Kemanapun tujuan bepergian, bisa dicapai dengan mudah dan tepat waktu. Tidak ada istilah “jam karet”, itu hanya berlaku diwilayah Indonesia. Oh, mungkin MTR itu terlalu mewah mengingat situasi dan kondisi di Indonesia, kita ambil contoh lain yang di Indonesia juga ada : Bus
Di Hong Kong banyak tersedia alat transportasi ini, baik di perkotaan atau daerah pedesaan. Bedanya hanya bentuknya yang bertingkat, tidak pakai kondektur, ada halte disetiap pemberhentian dan tentunya tepat waktu. Bagaimana dengan di Indonesia? Kita harus siapkan diri sabar menunggu. Belum lagi cara supirnya yang ugal-ugalan ditengah jalan karena rebutan penumpang.
Hal lain lagi, tentang kebiasaan/sikap seperti : disiplin, jujur, kreatif dll. Semua berjalan dengan apik. Disiplin pada peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati. Semua elemen patuh menjalankan, tak peduli dia pejabat atau rakyat biasa. Justru pejabat tidak berani sedikitpun melanggar peraturan tersebut kalau tidak mau malu karenanya. Tidak berbuat sewenang-wenang dengan kekuasaannya. Seperti masalah waktu, antre, menyeberang jalan, membuang sampah, merokok pada tempat yang disediakan dan amsih banyak lagi.
Dalam hal kejujuran, menjadi hal yang sangat penting. Tanpa kejujuran, semua jadi kacau karena banyak yang akan melakukan pencurian hak-hak orang lain seperti korupsi. Bila seorang pejabat di Hong Kong melakukan itu, pasti langsung mengundurkan diri daripada aibnya diketahui atau masyarakat yang akan menyuruhnya untuk turun. Kejujuran menjadi hal yang sangat mutlak adanya. Tidak bisa ditawar atau dibeli dengan kekuasaan. Semua patuh pada peraturan, siapa salah dia harus menanggung akibatnya. Apakah ini berlaku di Indonesia? Kekuasaan bukan menjadi alat untuk pengabdi pada negeri tetapi sebagai kendaraan pemuas nafsu pribadi.
Hong Kong, negara kecil yang terus berbenah untuk maju. Dengan segala kekreativitasan, kejujuran, kedisiplinan semua pasti bisa terwujud. Inilah yang perlu ditiru.
Banyak benda-benda di Indonesia dibiarkan begitu saja, ternyata di Hong Kong mampu menghasilkan uang, misal : tumbuh-tumbuhan dan hewan tertentu yang sudah mati. Dijadikan ramuan jamu godok, bahan masakan dll. Kok bisa?
Karena orang Indonesia tidak tahu kegunaannya sedangkan orang Hong Kong tahu manfaatnya.
Ditilik dari wilayah, Hong Kong tak seluas Indonesia. Hong Kong tak sekaya Indonesia, tapi Hong Kong mampu menyedot tenaga kerja Indonesia. Hong Kong tidak memiliki kekayaan alam yang berarti dibanding Indonesia, namun kehidupan rakyatnya sejahtera. Peralatan serba listrik ada dimana-mana. Kemudahan-kemudahan baik dari segi peralatan dan pelayanan menjadi satu hal yang lumrah, misal : kereta bawah tanah (MTR). Kemanapun tujuan bepergian, bisa dicapai dengan mudah dan tepat waktu. Tidak ada istilah “jam karet”, itu hanya berlaku diwilayah Indonesia. Oh, mungkin MTR itu terlalu mewah mengingat situasi dan kondisi di Indonesia, kita ambil contoh lain yang di Indonesia juga ada : Bus
Di Hong Kong banyak tersedia alat transportasi ini, baik di perkotaan atau daerah pedesaan. Bedanya hanya bentuknya yang bertingkat, tidak pakai kondektur, ada halte disetiap pemberhentian dan tentunya tepat waktu. Bagaimana dengan di Indonesia? Kita harus siapkan diri sabar menunggu. Belum lagi cara supirnya yang ugal-ugalan ditengah jalan karena rebutan penumpang.
Hal lain lagi, tentang kebiasaan/sikap seperti : disiplin, jujur, kreatif dll. Semua berjalan dengan apik. Disiplin pada peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati. Semua elemen patuh menjalankan, tak peduli dia pejabat atau rakyat biasa. Justru pejabat tidak berani sedikitpun melanggar peraturan tersebut kalau tidak mau malu karenanya. Tidak berbuat sewenang-wenang dengan kekuasaannya. Seperti masalah waktu, antre, menyeberang jalan, membuang sampah, merokok pada tempat yang disediakan dan amsih banyak lagi.
Dalam hal kejujuran, menjadi hal yang sangat penting. Tanpa kejujuran, semua jadi kacau karena banyak yang akan melakukan pencurian hak-hak orang lain seperti korupsi. Bila seorang pejabat di Hong Kong melakukan itu, pasti langsung mengundurkan diri daripada aibnya diketahui atau masyarakat yang akan menyuruhnya untuk turun. Kejujuran menjadi hal yang sangat mutlak adanya. Tidak bisa ditawar atau dibeli dengan kekuasaan. Semua patuh pada peraturan, siapa salah dia harus menanggung akibatnya. Apakah ini berlaku di Indonesia? Kekuasaan bukan menjadi alat untuk pengabdi pada negeri tetapi sebagai kendaraan pemuas nafsu pribadi.
Hong Kong, negara kecil yang terus berbenah untuk maju. Dengan segala kekreativitasan, kejujuran, kedisiplinan semua pasti bisa terwujud. Inilah yang perlu ditiru.
Minggu, 19 Agustus 2012
CERPEN
Demi Sahabat
Oleh : Abdul Mu’id
(putra Anna Nirwana)
Pagi itu, aku terbangun dengan mata yang sembab dan membengkak. Semalam aku menangis di kamar sampai ketiduran. Entah berapa lama aku berderai air mata. Yah, aku baru saja mengalami kejadian yang membuat aku begitu sakit. Seorang cewek yang tanpa sengaja masuk dalam kehidupanku kini malah menghancurkan semuanya......
Aku mengenal Dinda dari Husni, teman dekatku. Kebetulan tiap malam Dinda latihan silat di samping Pon Pes tempat ku mengaji kala malam hari. Awalnya aku biasa saja dengan kehadirannya.Tapi hari-hari berikutnya, Dinda memulai kedekatan kami dengan sekedar menitip salam padaku. Nggak ada yang spesial memang, tapi hari-hariku mulai terasa indah dengan keberadaanya.
Hanya saja kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Disaat aku mulai menyukainya, tak ku sangka Dinda malah mengalihkan perhatiannya pada Husni. Aku bener-bener nggak tau harus berbuat apa. Tentu saja aku tak bisa menyalahkannya karna ini memang hak mereka. Aku mencoba ikhlas dengan hubungan mereka. Aku berusaha tegar dan mendukung hubungan mereka meski sebenarnya hatiku begitu sakit. Itu semua aku lakukan karna aku masih menghargai Santi sebagai sahabatku.
Aku memilih mengalah daripada harus kehilangan sahabat hanya karna seorang cewek, tapi hati kecilku masih tetap mengharapkan Dinda . Meski pacaran sama Husni, tapi nyatanya Dinda nggak pernah absent menghubungiku, baik melalui sms ataupun telpon. Aku bingung harus bersikap bagaimana. Karna rasa ikhlasku lah yang kini menuntunku untuk tetap berhubungan dengan Dinda. Jujur saat itu aku benar-benar telah merelakan Dinda. jadi apa salahnya jika aku menerima telpon dan smsnya.
Sayangnya pikiranku masih terlalu dangkal untuk menyikapi hal itu. Kedekatanku dengan Dinda yang telah ku anggap “teman” itu membuat Husni cemburu. Ia mengira Dinda selingkuh dan akulah selingkuhannya! Kini antara aku dan Husni serasa ada pemisah yang membuat kami tak lagi bisa seakrab dulu. Ada rasa canggung saat kami ngobrol,seperti orang baru kenal.
Hampir dua tahun lamanya aku tak pernah bertemu lagi dengan Dinda sejak saat itu. Ia tak pernah lagi menghubungiku, atapun Husni. Dinda seperti menghilang di telan bumi. Akupun perlahan bisa menghapusnya dari ingatanku dan Husni juga telah kembali seperti sedia kala, meski sekarang ia agak tertutup soal cewek.
Kini hari-hariku semakin berwarna setelah berhasil lolos seleksi dan masuk di SMP favorit di kota ku. Yach, menjadi anak baru tentunya bukan hal yang gampang. Karna aku termasuk anak yang sulit beradaptasi. Aku terlalu cuek dengan apa yang ada di sekitarku, namun kini aku telah memiliki beberapa teman akrab, tapi hanya satu yang kurasa telah benar-benar akrab, namanya Alfandy. Dia temen sebangku ku.
Anaknya cukup asyik, meski terkadang ada saat-saat dimana aku merasa muak padannya. Ada bberapa sifatnya yang tak ku suka. Dia terlalu pede dan kalau ngomong asal njeplak aja. Uukh..! Yang paling bikin aku sebel saat bersamanya, bila bila melihat cewek cantik dikit aja langsung kayak ikan kena pancing. Klepek-klepek nggak jelas!,mending kalau di niati satu cewek, Nach ini, tiap ada cewek selalu saja tingkahnya begitu. Bikin aku tambah muak tapi mau diapain juga dia tetap temen terbaikku (untuk saat ini).
Entah mimpi apa yang ku dapat semalam, pagi itu aku shock setengah mati dengar cerita Alfandy soal cewek barunya. Cewek itu, Dinda!! Dinda yang ku kenal beberpa tahun lalu. Yang telah hilang dari kehidupanku setelah menorehkan luka di hatiku, aku tak habis pikir ! Aku memang telah mengenalkan Alfandy pada temanku yang posisinya juga sebagai temen akrabnya Dinda, tapi aku nggak pernah berpikir semua ini bakal salah alamat.
Justru Dindalah yang kini berpacaran dengan Alfandy. Oh God! Semoga waktu sedang bercanda..! Aku nggak mau kejadian itu terulang kembali. Aku takkan sanggup jika harus mengulangnya, berpura-pura tegar seperti dulu. Aku muak!! Tapi kenyataanya kini, mereka memang pacaran. Tak ada yang bisa ku lakukan selain merelakan mereka. Sama seperti yang ku lakukan dulu, demi sahabat !
Oleh : Abdul Mu’id
(putra Anna Nirwana)
Pagi itu, aku terbangun dengan mata yang sembab dan membengkak. Semalam aku menangis di kamar sampai ketiduran. Entah berapa lama aku berderai air mata. Yah, aku baru saja mengalami kejadian yang membuat aku begitu sakit. Seorang cewek yang tanpa sengaja masuk dalam kehidupanku kini malah menghancurkan semuanya......
Aku mengenal Dinda dari Husni, teman dekatku. Kebetulan tiap malam Dinda latihan silat di samping Pon Pes tempat ku mengaji kala malam hari. Awalnya aku biasa saja dengan kehadirannya.Tapi hari-hari berikutnya, Dinda memulai kedekatan kami dengan sekedar menitip salam padaku. Nggak ada yang spesial memang, tapi hari-hariku mulai terasa indah dengan keberadaanya.
Hanya saja kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Disaat aku mulai menyukainya, tak ku sangka Dinda malah mengalihkan perhatiannya pada Husni. Aku bener-bener nggak tau harus berbuat apa. Tentu saja aku tak bisa menyalahkannya karna ini memang hak mereka. Aku mencoba ikhlas dengan hubungan mereka. Aku berusaha tegar dan mendukung hubungan mereka meski sebenarnya hatiku begitu sakit. Itu semua aku lakukan karna aku masih menghargai Santi sebagai sahabatku.
Aku memilih mengalah daripada harus kehilangan sahabat hanya karna seorang cewek, tapi hati kecilku masih tetap mengharapkan Dinda . Meski pacaran sama Husni, tapi nyatanya Dinda nggak pernah absent menghubungiku, baik melalui sms ataupun telpon. Aku bingung harus bersikap bagaimana. Karna rasa ikhlasku lah yang kini menuntunku untuk tetap berhubungan dengan Dinda. Jujur saat itu aku benar-benar telah merelakan Dinda. jadi apa salahnya jika aku menerima telpon dan smsnya.
Sayangnya pikiranku masih terlalu dangkal untuk menyikapi hal itu. Kedekatanku dengan Dinda yang telah ku anggap “teman” itu membuat Husni cemburu. Ia mengira Dinda selingkuh dan akulah selingkuhannya! Kini antara aku dan Husni serasa ada pemisah yang membuat kami tak lagi bisa seakrab dulu. Ada rasa canggung saat kami ngobrol,seperti orang baru kenal.
Hampir dua tahun lamanya aku tak pernah bertemu lagi dengan Dinda sejak saat itu. Ia tak pernah lagi menghubungiku, atapun Husni. Dinda seperti menghilang di telan bumi. Akupun perlahan bisa menghapusnya dari ingatanku dan Husni juga telah kembali seperti sedia kala, meski sekarang ia agak tertutup soal cewek.
Kini hari-hariku semakin berwarna setelah berhasil lolos seleksi dan masuk di SMP favorit di kota ku. Yach, menjadi anak baru tentunya bukan hal yang gampang. Karna aku termasuk anak yang sulit beradaptasi. Aku terlalu cuek dengan apa yang ada di sekitarku, namun kini aku telah memiliki beberapa teman akrab, tapi hanya satu yang kurasa telah benar-benar akrab, namanya Alfandy. Dia temen sebangku ku.
Anaknya cukup asyik, meski terkadang ada saat-saat dimana aku merasa muak padannya. Ada bberapa sifatnya yang tak ku suka. Dia terlalu pede dan kalau ngomong asal njeplak aja. Uukh..! Yang paling bikin aku sebel saat bersamanya, bila bila melihat cewek cantik dikit aja langsung kayak ikan kena pancing. Klepek-klepek nggak jelas!,mending kalau di niati satu cewek, Nach ini, tiap ada cewek selalu saja tingkahnya begitu. Bikin aku tambah muak tapi mau diapain juga dia tetap temen terbaikku (untuk saat ini).
Entah mimpi apa yang ku dapat semalam, pagi itu aku shock setengah mati dengar cerita Alfandy soal cewek barunya. Cewek itu, Dinda!! Dinda yang ku kenal beberpa tahun lalu. Yang telah hilang dari kehidupanku setelah menorehkan luka di hatiku, aku tak habis pikir ! Aku memang telah mengenalkan Alfandy pada temanku yang posisinya juga sebagai temen akrabnya Dinda, tapi aku nggak pernah berpikir semua ini bakal salah alamat.
Justru Dindalah yang kini berpacaran dengan Alfandy. Oh God! Semoga waktu sedang bercanda..! Aku nggak mau kejadian itu terulang kembali. Aku takkan sanggup jika harus mengulangnya, berpura-pura tegar seperti dulu. Aku muak!! Tapi kenyataanya kini, mereka memang pacaran. Tak ada yang bisa ku lakukan selain merelakan mereka. Sama seperti yang ku lakukan dulu, demi sahabat !
CERPEN
Arti Persahabatan Bagiku
Oleh : Abdul Mu’id
(Putra Anna Nirwana)
Bagiku arti persahabatan adalah teman bermain dan bergembira. Aku juga sering berdebat saat berbeda pendapat. Anehnya, semakin besar perbedaan itu, aku semakin suka. Aku belajar banyak hal. tapi ada suatu kisah yang membuat aku berpendapat berbeda tentang arti persahabatan. Saat itu, papa mamaku berlibur ke Bali dan aku sendirian menjaga rumah...
“Hahahahaha!” aku tertawa sambil membaca.
“Beni! Katanya mau cari referensi tugas kimia, malah baca komik. ini aku menemukan buku dari rak sebelah, mau pinjam atau tidak? Kamu bawa kartukan? Pokoknya besok Kamis, semua tugas kelompok pasti selesai, asal kita kerjakan malam ini. Yuhuuuu... ,setelah itu bebas tugas. Play Station!”jelas Judi dengan nada nyaring.
Judi orang yang simpel, punya banyak akal, tapi banyak juga yang gagal, hehehe..
Dari kelas 1 SMP sampai sekarang duduk di kelas 2 - aku sering sekelompok, beda lagi kalau masalah bermain PlayStation – Judi jagoannya. Rasanya seperti dia sudah tahu apa yang bakal terjadi di permainan itu. Tapi entah kenapa, sekalipun sebenarnya aku kurang suka main Play Station, gara-gara Judi, aku jadi ikut-ikutan suka main game.
Sahabatku yang kedua adalah Bang Jon, nama sebenarnya Jonathan. Bang Jon pemberani,badannya besar karena sehari bisa makan lima sampai enam kali. Sebentar lagi dia pastidatang,nah,sudahkudugadiadatangkesini.
“Kamu gak malu pakai kacamata hitam itu?” tanyaku pada Bang Jon yang baru masuk ke perpustakaan. Sudah empat hari ini dia sakit mata, tapi tadi pagi rasanya dia sudah sembuh. Tapi kacamata hitamnya masih dipakai. Aku heran, orang ini benar-benar kelewat pede. Aku semakin merasa unik dikelilingi dua sahabat yang over dosis pada berbagai hal.
Kami pulang bersama berjalan kaki, rumah kami dekat dengan sekolah, Bang Jon dan Judi juga teman satu komplek perumahan. Saat pulang dari sekolah terjadi sesuatu.
Kataku dalam hati sambil lihat dari kejauhan,” Eh,itu..?”. Aku sangat kenal dengan rumahku sendiri. Aku mulai ketakutan saat seorang asing bermobil terlihat masuk rumahku diam-diam. Karena semakin ketakutannya, aku tidak berani pulang ke rumah.
“Ohh iya itu!” Judi dan Bang Jon setuju denganku. Judi melihatku seksama, ia tahu kalau aku takut berkelahi. Aku melihat Judi seperti sedang berpikir tentangku dan merencanakan sesuatu.
“Oke, Beni, kamu pergi segera beritahu satpam sekarang, aku dan Bang Jon akan pergoki mereka lewat depan dan teriak maling, pasti tetangga keluar semua” bisikan Judi terdengar membuatku semakin ketakutan tak berbentuk.
Karena semakin ketakutan, terasa seperti sesak sekali bernafas, tidak bisa terucapkan kata apapun dari mulut.
“Beni, ayo, satpam” Judi membisiku sekali lagi.
Aku segera lari ke pos satpam yang ada diujung jalan dekat gapura, tidak terpikirkan lagi apa yang terjadi dengan dua sahabatku. Pak Satpam panik mendengar ceritaku, ia segera memberitahu petugas lainnya untuk segera datang menangkap maling dirumahku.
Aku kembali kerumah dibonceng petugas dengan motornya. Sekitar 4 menit lamanya saat aku pergi ke pos satpam dan kembali ke rumahku.
“Ya Tuhan!” kaget sekali melihat seorang petugas satpam lain yang datang lebih awal dari pada aku saat itu sedang mengolesi tisu ke hidung Bang Jon yang berdarah. Terlihat juga tangan Judi yang luka seperti kena pukul. Satpam langsung menelpon polisi akibat kasus pencurian ini.
“Jangan khawatir, kita berdua berhasil menggagalkan mereka. Tadi saat kami teriak maling, ternyata tidak ada tetangga yang keluar rumah. Alhasil, maling itu terbirit-birit keluar dan berpapasan dengan ku. Ya akhirnya kena pukul dech. Judi juga kena serempet mobil mereka yang terburu-buru pergi” jawab Bang Jon dengan tenang dan pedenya kepadaku.
Kemudian Judi membalas perkataan Bang Jon “Rumahmu aman, kita memergoki mereka saat awal-awal, jadi tidak sempat ambil barang dirumahmu.”
Singkat cerita, aku mengobati mereka berdua. Mama Judi dan mamanya Bang Jon datang kerumahku dan kami menjelaskan apa yang tadi terjadi. Anehnya, peristiwa adanya maling ini seperti tidak pernah terjadi.
“Hahahahaha... “Judi malah tertawa dan melanjutkan bercerita tentang tokoh kesayangannya saat main Play Station. Sedangkan Bang Jon bercerita kalau dia masih sempat-sempatnya menyelamatkan kacamata hitamnya sesaat sebelum hidungnya kena pukul. Bagaimana caranya? aku juga kurang paham. Bang Jon kurang jelas saat bercerita pengalamannya.
“Hahahahaha... ” Aku tertawa dalam hati karena mereka berdua memberikan pelajaran berarti bagiku. Aku tidak mungkin menangisi mereka, malu dong sama Bang Jon dan Judi. Tapi ada pelajaran yang kupetik dari dua sahabatku ini.
Arti persahabatan bukan cuma teman bermain dan bersenang-senang. Mereka lebih mengerti ketakutan dan kelemahan diriku. Judi dan Bang Jon adalah sahabat terbaikku. Pikirku, tidak ada orang rela mengorbankan nyawanya jika bukan untuk sahabatnya ( Judi dan Bang Jon salah satunya ).
Oleh : Abdul Mu’id
(Putra Anna Nirwana)
Bagiku arti persahabatan adalah teman bermain dan bergembira. Aku juga sering berdebat saat berbeda pendapat. Anehnya, semakin besar perbedaan itu, aku semakin suka. Aku belajar banyak hal. tapi ada suatu kisah yang membuat aku berpendapat berbeda tentang arti persahabatan. Saat itu, papa mamaku berlibur ke Bali dan aku sendirian menjaga rumah...
“Hahahahaha!” aku tertawa sambil membaca.
“Beni! Katanya mau cari referensi tugas kimia, malah baca komik. ini aku menemukan buku dari rak sebelah, mau pinjam atau tidak? Kamu bawa kartukan? Pokoknya besok Kamis, semua tugas kelompok pasti selesai, asal kita kerjakan malam ini. Yuhuuuu... ,setelah itu bebas tugas. Play Station!”jelas Judi dengan nada nyaring.
Judi orang yang simpel, punya banyak akal, tapi banyak juga yang gagal, hehehe..
Dari kelas 1 SMP sampai sekarang duduk di kelas 2 - aku sering sekelompok, beda lagi kalau masalah bermain PlayStation – Judi jagoannya. Rasanya seperti dia sudah tahu apa yang bakal terjadi di permainan itu. Tapi entah kenapa, sekalipun sebenarnya aku kurang suka main Play Station, gara-gara Judi, aku jadi ikut-ikutan suka main game.
Sahabatku yang kedua adalah Bang Jon, nama sebenarnya Jonathan. Bang Jon pemberani,badannya besar karena sehari bisa makan lima sampai enam kali. Sebentar lagi dia pastidatang,nah,sudahkudugadiadatangkesini.
“Kamu gak malu pakai kacamata hitam itu?” tanyaku pada Bang Jon yang baru masuk ke perpustakaan. Sudah empat hari ini dia sakit mata, tapi tadi pagi rasanya dia sudah sembuh. Tapi kacamata hitamnya masih dipakai. Aku heran, orang ini benar-benar kelewat pede. Aku semakin merasa unik dikelilingi dua sahabat yang over dosis pada berbagai hal.
Kami pulang bersama berjalan kaki, rumah kami dekat dengan sekolah, Bang Jon dan Judi juga teman satu komplek perumahan. Saat pulang dari sekolah terjadi sesuatu.
Kataku dalam hati sambil lihat dari kejauhan,” Eh,itu..?”. Aku sangat kenal dengan rumahku sendiri. Aku mulai ketakutan saat seorang asing bermobil terlihat masuk rumahku diam-diam. Karena semakin ketakutannya, aku tidak berani pulang ke rumah.
“Ohh iya itu!” Judi dan Bang Jon setuju denganku. Judi melihatku seksama, ia tahu kalau aku takut berkelahi. Aku melihat Judi seperti sedang berpikir tentangku dan merencanakan sesuatu.
“Oke, Beni, kamu pergi segera beritahu satpam sekarang, aku dan Bang Jon akan pergoki mereka lewat depan dan teriak maling, pasti tetangga keluar semua” bisikan Judi terdengar membuatku semakin ketakutan tak berbentuk.
Karena semakin ketakutan, terasa seperti sesak sekali bernafas, tidak bisa terucapkan kata apapun dari mulut.
“Beni, ayo, satpam” Judi membisiku sekali lagi.
Aku segera lari ke pos satpam yang ada diujung jalan dekat gapura, tidak terpikirkan lagi apa yang terjadi dengan dua sahabatku. Pak Satpam panik mendengar ceritaku, ia segera memberitahu petugas lainnya untuk segera datang menangkap maling dirumahku.
Aku kembali kerumah dibonceng petugas dengan motornya. Sekitar 4 menit lamanya saat aku pergi ke pos satpam dan kembali ke rumahku.
“Ya Tuhan!” kaget sekali melihat seorang petugas satpam lain yang datang lebih awal dari pada aku saat itu sedang mengolesi tisu ke hidung Bang Jon yang berdarah. Terlihat juga tangan Judi yang luka seperti kena pukul. Satpam langsung menelpon polisi akibat kasus pencurian ini.
“Jangan khawatir, kita berdua berhasil menggagalkan mereka. Tadi saat kami teriak maling, ternyata tidak ada tetangga yang keluar rumah. Alhasil, maling itu terbirit-birit keluar dan berpapasan dengan ku. Ya akhirnya kena pukul dech. Judi juga kena serempet mobil mereka yang terburu-buru pergi” jawab Bang Jon dengan tenang dan pedenya kepadaku.
Kemudian Judi membalas perkataan Bang Jon “Rumahmu aman, kita memergoki mereka saat awal-awal, jadi tidak sempat ambil barang dirumahmu.”
Singkat cerita, aku mengobati mereka berdua. Mama Judi dan mamanya Bang Jon datang kerumahku dan kami menjelaskan apa yang tadi terjadi. Anehnya, peristiwa adanya maling ini seperti tidak pernah terjadi.
“Hahahahaha... “Judi malah tertawa dan melanjutkan bercerita tentang tokoh kesayangannya saat main Play Station. Sedangkan Bang Jon bercerita kalau dia masih sempat-sempatnya menyelamatkan kacamata hitamnya sesaat sebelum hidungnya kena pukul. Bagaimana caranya? aku juga kurang paham. Bang Jon kurang jelas saat bercerita pengalamannya.
“Hahahahaha... ” Aku tertawa dalam hati karena mereka berdua memberikan pelajaran berarti bagiku. Aku tidak mungkin menangisi mereka, malu dong sama Bang Jon dan Judi. Tapi ada pelajaran yang kupetik dari dua sahabatku ini.
Arti persahabatan bukan cuma teman bermain dan bersenang-senang. Mereka lebih mengerti ketakutan dan kelemahan diriku. Judi dan Bang Jon adalah sahabat terbaikku. Pikirku, tidak ada orang rela mengorbankan nyawanya jika bukan untuk sahabatnya ( Judi dan Bang Jon salah satunya ).
CERPEN
Kerajaan Langit
Oleh : Abdul Muid & Anna Nirwana
Pada zaman dahulu kala, hiduplah sepasang suami istri. Mereka berdua tinggal di tengah hutan bersama hewan-hewan yang ada di hutan. Si suami bernama Shino, sedangkan istrinya bernama Cauri. Mereka memelihara banyak hewan di hutan, diantaranya Kelinci, Jerapah, Gajah, Rusa, Tikus, dan masih banyak lagi. Anehnya, hewan tersebut bisa berbicara layaknya manusia. Mereka hidup rukun dan damai. Tak ada satupun manusia yang hidup di hutan tersebut, kecuali mereka berdua. Sudah dua tahun mereka menikah, tapi belum juga dikaruniai seorang anak.
Sang istri sangat sedih dan merasa bersalah karena tak bisa memberikan keturunan. Tapi, Shino terus menghibur istrinya dan selalu berdo’a agar mereka diberikan seorang anak. Pada suatu hari, Shino hendak pergi ke hutan untuk mencari buah dan sayuran segar. Ia tidak pergi sendiri, tapi ditemani oleh hewan lainnya. Tinggallah Cauri sendirian di rumah. Pada saat Cauri hendak menjemur pakaian, tiba-tiba saja ada cahaya dari langit yang menerangi Cauri. Cahaya tersebut menyinari Cauri dan membuat matanya menjadi silau. Cauri sangat kaget, dan lari ketakutan ke dalam rumah. Cahaya itupun menghilang dengan sekejap mata.
Tak lama sesudahnya, Shino sampai dirumah dengan membawa sekeranjang buah dan sayuran segar untuk disantap hari ini. Cauri sangat senang, sehingga ia lupa dengan kejadian yang tadi. “Suamiku, banyak sekali engkau mendapatkan buah dan sayuran ini,” kata Cauri senang
.“Benar, ini berkat si Jerapah yang membantuku memetik buah yang sangat tinggi,” jawab Shino.
“Terima kasih Jerapah, engkau baik sekali,” kata Cauri dengan tersenyum.
“Ah, itu belum apa-apa dibandingkan jasa kalian yang sudah merawat dan mau menampungku,” jawab Jerapah sedikit malu. Mereka tertawa bersama dan makan dengan riang gembira.
Esoknya, Cauri sangat kaget sekaligus gembira. Apa yang diidamkan Cauri dan Shino akhirnya terkabul. Sebentar lagi mereka akan mempunyai seorang anak. Mereka sangat gembira, karena akan adanya anggota baru dalam hidup mereka. Sembilan bulan kemudian, lahirlah seorang bayi laki-laki mungil dan sangat tampan. Anak yang mereka nantikan akhirnya datang juga. Anehnya, warna kulit bayi tersebut berwarna sangat terang, seperti cahaya. Oleh karena itu, mereka memberinya nama Akarui yang artinya terang. Hidup mereka sangat damai dan tenang. Cauri, Shino selalu merawat Akarui dengan hati-hati.
Ternyata kegembiraan dan kedamaian tidak berlangsung lama. Hutan yang mereka tempati sangatlah subur dan bagus untuk membangun suatu wilayah. Oleh karena itu, banyak sekali kerajaan yang ingin mengambil daerah tersebut. Tapi, yang berhasil masuk ke wilayah itu hanya tiga kerajaan. Merekapun berebut ingin menguasai daerah tersebut. Shino dan lainnya sangat resah dengan keberadaan tiga kerajaan itu. Sepertinya mereka ingin berperang. Shino tidak mau memberikan hutan itu kepada Raja. Hal itu membuat ketiga raja tersebut marah besar dan mengepung mereka. Raja mengancam Shino apabila ia tidak memberikan hutan itu.
“Kalau kau tak mau memberikan hutan ini kepadaku, maka kau, istrimu, anakmu, beserta hewan peliharaanmu akan kubunuh,” gertak Raja.
Shino hanya bisa diam, sebab tak mungkin ia melawan kepada Raja yang mempunyai banyak prajurit. Perangpun terjadi. Tiga kerajaan tersebut berperang di hutan tempat Shino tinggal.
Shino mencari akal, bagaimana supaya bisa terbebas dari kepungan perang. Ia tak mau anak dan istrinya terluka. Akhirnya Shino menemukan tempat yang aman untuk berlindung, yaitu di sebuah gunung yang sangat tinggi, tingginya melebihi langit.
“Istriku, aku punya ide,” kata Shino.
“Ide apa?” tanya Cauri sedikit ketakutan.
“Bagaimana kalau kita mendaki gunung itu sampai ke puncak, kita akan aman disana,” kata Shino sambil menunjuk ke gunung tersebut.
“Baiklah, tak ada pilihan. Walau bagaimanapun kita harus sampai ke puncaknya. Agar kita semua bisa selamat,” jawab Cauri.
Semua setuju, tanpa pikir panjang, mereka langsung menuju ke gunung tersebut dengan diam-diam. Saking sibuknya sang Raja, sehingga ia lupa kalau Shino dan lainnya sudah pergi. Akhirnya mereka sampai dipuncak gunung. Puncaknya sangat curam dan berbahaya. Banyak sekali awan berkumpul di puncak gunung, sehingga mereka tak bisa menyaksikan perperangan.
Sewaktu si Kelinci ingin berpindah tempat, ia terjatuh di atas awan yang lembut. Anehnya awan tersebut tidak lunak, melainkan keras dan bisa berdiri di sana. Shino dan lainnya sangat kaget, ini aneh bin ajaib. Awan tempat kelinci berdiri sama seperti tanah. Si Kelinci langsung memanggil Shino.
“Hai, kawan. Disini awannya sangat keras, aku bisa berdiri di sini,” kata si Kelinci riang.
Shino dan lainnya langsung melompat, meski awalnya merasa canggung, namun mereka merasa senang.
Ketiga Raja baru sadar kalau Shino dan keluarganya serta yang lain sudah pergi. Betapa marahnya ketiga Raja tersebut. Ketiganya menyuruh prajurit mereka untuk mencari Shino dan keluarganya. Setelah mencari beberapa jam, tak ada hasil. Sewaktu Raja melihat ke awan, ia melihat Shino dan lainnya di sana. Raja geram dan menyuruh prajuritnya untuk memanahi mereka.
Shino, Cauri, Akauri, dan para hewan langsung menunduk, karena mereka takut kalau terkena panah. Shino melindungi anak dan istrinya, agar mereka tak terluka. Akarui menangis karena terkejut. Shino tak bisa berbuat apa-apa.
“Tuhan, tolonglah kami,” kata Shino dengan bergelimang air mata. Shino terus menangis dan menangis. Akhirnya air mata mereka berkumpul di awan tempat mereka berpijak. Awan menjadi hitam, dan turunlah hujan yang sangat lebat sekali. Petir-petir berhamburan dengan liarnya, air bah datang dan menghanyutkan hutan tempat ketiga Raja berdiri. Mereka beserta prajuritnya hanyut terbawa air bah. Setelah hujan reda, Shino melihat Bumi seperti padang pasir yang kering dan tak ada satupun pohon yang berdiri. Semuanya telah hanyut terbawa air Bah. Shino dan lainnya ingin sekali turun dan kembali ke Bumi, tapi mereka tak tahu bagaimana cara turun. Akhirnya mereka memutuskan untuk tetap tinggal di awan yang sudah menolong mereka.
Ajaibnya, awan yang mereka tempati ditumbuhi banyak pepohonan, lama kelaman berubah seperti Bumi. Sayangnya mereka melayang di langit. Shino membangun rumah yang cukup besar. Rumah yang mereka buat berubah menjadi istana yang sangat megah. Akarui yang dulunya masih bayi, lama kelamaan berubah menjadi seorang pangeran yang sangat tampan. Akarui membangun sebuah kerajaan yang diberi nama “Kerajaan Langit.” Akhirnya hidup mereka menjadi tentram dan damai. Mereka yang dulunya manusia Bumi, sekarang menjadi manusia langit.
Demikianlah, kebaikan tidak akan pernah kalah oleh kejahatan. Dimanapun berada, akan menang. Sifat serakah yang dimiliki manusia bisa menghancurkan segalanya. Sifat ini muncul karena tidak adanya rasa syukur atas apapun yang telah diberikan Tuhan Sang Pencipta alam semesta. Maka dari itu, marilah kita selalu tanamkan rasa syukur dalam hati, contoh terkecil dan paling dekat : nafas kita!
Oleh : Abdul Muid & Anna Nirwana
Pada zaman dahulu kala, hiduplah sepasang suami istri. Mereka berdua tinggal di tengah hutan bersama hewan-hewan yang ada di hutan. Si suami bernama Shino, sedangkan istrinya bernama Cauri. Mereka memelihara banyak hewan di hutan, diantaranya Kelinci, Jerapah, Gajah, Rusa, Tikus, dan masih banyak lagi. Anehnya, hewan tersebut bisa berbicara layaknya manusia. Mereka hidup rukun dan damai. Tak ada satupun manusia yang hidup di hutan tersebut, kecuali mereka berdua. Sudah dua tahun mereka menikah, tapi belum juga dikaruniai seorang anak.
Sang istri sangat sedih dan merasa bersalah karena tak bisa memberikan keturunan. Tapi, Shino terus menghibur istrinya dan selalu berdo’a agar mereka diberikan seorang anak. Pada suatu hari, Shino hendak pergi ke hutan untuk mencari buah dan sayuran segar. Ia tidak pergi sendiri, tapi ditemani oleh hewan lainnya. Tinggallah Cauri sendirian di rumah. Pada saat Cauri hendak menjemur pakaian, tiba-tiba saja ada cahaya dari langit yang menerangi Cauri. Cahaya tersebut menyinari Cauri dan membuat matanya menjadi silau. Cauri sangat kaget, dan lari ketakutan ke dalam rumah. Cahaya itupun menghilang dengan sekejap mata.
Tak lama sesudahnya, Shino sampai dirumah dengan membawa sekeranjang buah dan sayuran segar untuk disantap hari ini. Cauri sangat senang, sehingga ia lupa dengan kejadian yang tadi. “Suamiku, banyak sekali engkau mendapatkan buah dan sayuran ini,” kata Cauri senang
.“Benar, ini berkat si Jerapah yang membantuku memetik buah yang sangat tinggi,” jawab Shino.
“Terima kasih Jerapah, engkau baik sekali,” kata Cauri dengan tersenyum.
“Ah, itu belum apa-apa dibandingkan jasa kalian yang sudah merawat dan mau menampungku,” jawab Jerapah sedikit malu. Mereka tertawa bersama dan makan dengan riang gembira.
Esoknya, Cauri sangat kaget sekaligus gembira. Apa yang diidamkan Cauri dan Shino akhirnya terkabul. Sebentar lagi mereka akan mempunyai seorang anak. Mereka sangat gembira, karena akan adanya anggota baru dalam hidup mereka. Sembilan bulan kemudian, lahirlah seorang bayi laki-laki mungil dan sangat tampan. Anak yang mereka nantikan akhirnya datang juga. Anehnya, warna kulit bayi tersebut berwarna sangat terang, seperti cahaya. Oleh karena itu, mereka memberinya nama Akarui yang artinya terang. Hidup mereka sangat damai dan tenang. Cauri, Shino selalu merawat Akarui dengan hati-hati.
Ternyata kegembiraan dan kedamaian tidak berlangsung lama. Hutan yang mereka tempati sangatlah subur dan bagus untuk membangun suatu wilayah. Oleh karena itu, banyak sekali kerajaan yang ingin mengambil daerah tersebut. Tapi, yang berhasil masuk ke wilayah itu hanya tiga kerajaan. Merekapun berebut ingin menguasai daerah tersebut. Shino dan lainnya sangat resah dengan keberadaan tiga kerajaan itu. Sepertinya mereka ingin berperang. Shino tidak mau memberikan hutan itu kepada Raja. Hal itu membuat ketiga raja tersebut marah besar dan mengepung mereka. Raja mengancam Shino apabila ia tidak memberikan hutan itu.
“Kalau kau tak mau memberikan hutan ini kepadaku, maka kau, istrimu, anakmu, beserta hewan peliharaanmu akan kubunuh,” gertak Raja.
Shino hanya bisa diam, sebab tak mungkin ia melawan kepada Raja yang mempunyai banyak prajurit. Perangpun terjadi. Tiga kerajaan tersebut berperang di hutan tempat Shino tinggal.
Shino mencari akal, bagaimana supaya bisa terbebas dari kepungan perang. Ia tak mau anak dan istrinya terluka. Akhirnya Shino menemukan tempat yang aman untuk berlindung, yaitu di sebuah gunung yang sangat tinggi, tingginya melebihi langit.
“Istriku, aku punya ide,” kata Shino.
“Ide apa?” tanya Cauri sedikit ketakutan.
“Bagaimana kalau kita mendaki gunung itu sampai ke puncak, kita akan aman disana,” kata Shino sambil menunjuk ke gunung tersebut.
“Baiklah, tak ada pilihan. Walau bagaimanapun kita harus sampai ke puncaknya. Agar kita semua bisa selamat,” jawab Cauri.
Semua setuju, tanpa pikir panjang, mereka langsung menuju ke gunung tersebut dengan diam-diam. Saking sibuknya sang Raja, sehingga ia lupa kalau Shino dan lainnya sudah pergi. Akhirnya mereka sampai dipuncak gunung. Puncaknya sangat curam dan berbahaya. Banyak sekali awan berkumpul di puncak gunung, sehingga mereka tak bisa menyaksikan perperangan.
Sewaktu si Kelinci ingin berpindah tempat, ia terjatuh di atas awan yang lembut. Anehnya awan tersebut tidak lunak, melainkan keras dan bisa berdiri di sana. Shino dan lainnya sangat kaget, ini aneh bin ajaib. Awan tempat kelinci berdiri sama seperti tanah. Si Kelinci langsung memanggil Shino.
“Hai, kawan. Disini awannya sangat keras, aku bisa berdiri di sini,” kata si Kelinci riang.
Shino dan lainnya langsung melompat, meski awalnya merasa canggung, namun mereka merasa senang.
Ketiga Raja baru sadar kalau Shino dan keluarganya serta yang lain sudah pergi. Betapa marahnya ketiga Raja tersebut. Ketiganya menyuruh prajurit mereka untuk mencari Shino dan keluarganya. Setelah mencari beberapa jam, tak ada hasil. Sewaktu Raja melihat ke awan, ia melihat Shino dan lainnya di sana. Raja geram dan menyuruh prajuritnya untuk memanahi mereka.
Shino, Cauri, Akauri, dan para hewan langsung menunduk, karena mereka takut kalau terkena panah. Shino melindungi anak dan istrinya, agar mereka tak terluka. Akarui menangis karena terkejut. Shino tak bisa berbuat apa-apa.
“Tuhan, tolonglah kami,” kata Shino dengan bergelimang air mata. Shino terus menangis dan menangis. Akhirnya air mata mereka berkumpul di awan tempat mereka berpijak. Awan menjadi hitam, dan turunlah hujan yang sangat lebat sekali. Petir-petir berhamburan dengan liarnya, air bah datang dan menghanyutkan hutan tempat ketiga Raja berdiri. Mereka beserta prajuritnya hanyut terbawa air bah. Setelah hujan reda, Shino melihat Bumi seperti padang pasir yang kering dan tak ada satupun pohon yang berdiri. Semuanya telah hanyut terbawa air Bah. Shino dan lainnya ingin sekali turun dan kembali ke Bumi, tapi mereka tak tahu bagaimana cara turun. Akhirnya mereka memutuskan untuk tetap tinggal di awan yang sudah menolong mereka.
Ajaibnya, awan yang mereka tempati ditumbuhi banyak pepohonan, lama kelaman berubah seperti Bumi. Sayangnya mereka melayang di langit. Shino membangun rumah yang cukup besar. Rumah yang mereka buat berubah menjadi istana yang sangat megah. Akarui yang dulunya masih bayi, lama kelamaan berubah menjadi seorang pangeran yang sangat tampan. Akarui membangun sebuah kerajaan yang diberi nama “Kerajaan Langit.” Akhirnya hidup mereka menjadi tentram dan damai. Mereka yang dulunya manusia Bumi, sekarang menjadi manusia langit.
Demikianlah, kebaikan tidak akan pernah kalah oleh kejahatan. Dimanapun berada, akan menang. Sifat serakah yang dimiliki manusia bisa menghancurkan segalanya. Sifat ini muncul karena tidak adanya rasa syukur atas apapun yang telah diberikan Tuhan Sang Pencipta alam semesta. Maka dari itu, marilah kita selalu tanamkan rasa syukur dalam hati, contoh terkecil dan paling dekat : nafas kita!
PUISI
15 tahun sudah kulewati
Perjalanan panjang hidupku bersamamu
Engkau berikan pelukan saat ku rapuh
Engkau berikan tawamu saat ku bersedih
Engkau ajarkan semua yang tak pernah kumengerti
Ketulusanmu mendampingiku……
takkan pernah kulupakan
Bunda,
Seandainya aku bisa,
Aku ingin tetap menjadi putramu
Yang selalu tidur dalam pangkuanmu
Yang selalu kan hapus air matanya saat ku bersedih
Kuingin engkau selalu ada bersamaku
Tapi mungkin tak bisa
Karena engkau harus pergi untuk sementara
Meninggalkan aku
Untuk mencari uang untuk hidupku
kau pergi jauh sekali……..
Harus kulalui hari tanpamu
Aku tak tahu apa aku mampu
Tapi kuyakin pasti bisa
Semua demi aku
Akan kusimpan sejenak kerinduanku padamu…….
Kuyakin semua itu……
Terbayangkan perjuanganmu di sana.....
Bunda,
Aku berjanji aku takkan menyerah
Tunggu aku Bunda…….
Aku akan menggapai cita-citaku…..
dengan membahagiankanmu nanti.....
Kan kubawa serta semua kisah
hidupku disini
Yang selalu bertahan dalam doamu.
Menjadi BMI Yang Berkarakter
“Aku jengkel banget hari ini, gara-gara tuyulku nakal, aku dimarahi lampirku. Masak karena masalah sepele saja, aku dimarahi. Dasar majikan bawel…!”
Seringkali kita mendengar kalimat-kalimat yang mengandung kemarahan, kekecewaan, ketakutan dan masih banyak hal lain, selama kita menjalani rutinitas kerja di rumah majikan. Suka duka menjadi satu hal yang tidak terpisahkan dan memang itulah kenyataannya. Namun, bila kita tahu, bahwa suka duka adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia, semua menjadi biasa-biasa saja. Sebenarnya, kenapa hal-hal seperti di ini bisa terjadi?
Kawan’s, selama ini, tanpa sadar, kita telah terbelenggu dalam rutinitas yang menghambat pencapaian cita-cita. Apa yang kita alami dalam keseharian kita, adalah buah dari pikiran. Kita telah menghabiskan waktu lebih banyak untuk memikirkan hal-hal yang bersifat negatif, maka, itu pula yang didapatkan. Kita menuntut lebih terhadap sesuatu hal namun kita tidak mau memberikan hal yang lebih alias perhitungan. Selalu mencari kekurangan dan membanding-bandingkan. Hasilnya adalah kekecewaan ketika mendapati fakta nasib kita lebih buruk dari orang lain.
Setiap waktu, kita hanya fokus pada keburukan dan ketidaknyaman di rumah majikan. Yang cerewetlah, banyak pekerjaanlah, anak asuh yang nakallah, pelitlah dlsb.
Semua ini hasil dari sebuah kefokusan yang terus-menerus kita pikiran ditambah dengan emosi intens, seperti marah, jengkel, kecewa, takut, khawatir dll. Selama kita masih berkubang dalam ranah ini, sulit untuk bisa keluar dari cengkraman ketidaknyaman dalam segala lini hidup. Berapa lama kita sanggup bertahan..?
Selain itu, ada hal lain yang membuat suasana kerja tidak nyaman, yaitu sikap kita. Sikap yang bagaimana? Mungkin itu pertanyaan yang ada di benak kita. Sikap kita suka membanding-bandingkan majikan dengan orang lain akan membuat rasa malas dalam bekerja. Rasa malas tidak akan menghasilkan sesuatu yang berkualitas.
Kawan’s, ketahuilah, bahwa sesungguhnya, sebuah kualitas terbentuk dari keberhasilan kita melewati berbagai kesulitan. Kita mampu melalui setiap ujian yang datang silih berganti, baik datangnya dari keluarga, teman atau majikan.
Apakah ujian itu? Ujian adalah tantangan, tekanan, kesulitan, penderitaan dan hal-hal yang tidak kita sukai. Pasti ada di antara kita yang akhirnya jadi pintar, wawasannya luas, punya banyak solusi penyelesaian hidup lalu terheran-heran. Kok bisa ya? Kok sekarang saya jadi pintar ya, dan sejuta kata kok lainnya. Kesimpulannya, ujian adalah sarana menjadi bisa karena tidak ada kualitas yang tidak diuji. Sikap yang kita pilih akan membentuk sebuah karakter dalam diri kita. Seperti halnya produk makanan, perabotan, elektronik terkenal, semua telah diuji coba.
OK-lah, kita merasa mampu bertahan sampai finis kontrak. Pertanyaannya enakkah hidup berteman ketidaknyaman karena memendam emosi? Kawan’s, hidup adalah pilihan, bila kita bisa dapat yang nyaman kenapa mesti pilih yang tidak nyaman? Banyak orang mencari kenyamanan di luar dirinya, padahal kenyamanan itu ada dalam dirinya. Ibarat kita kehilangan jarum jahit di ruang tamu, tetapi kita mencarinya di halaman depan rumah. Kita tidak akan pernah menemukannya!
Bagaimana kita menemukan kenyamanan itu? Cara paling mudah murah dan jitu adalah dengan mengubah cara berpikir kita terhadap ketidaknyamanan tersebut. Misalnya majikan kita sangat disiplin dalam urusan waktu sehingga kita merasa terkekang, solusinya adalah mencari sisi positif dari kedisiplinan itu. Nanti akan kita temukan jawaban yang di antaranya adalah, kita bisa menghargai waktu. Contoh lain lagi, ketika kita mendapati majikan yang sangat teliti dengan uang belanja dan minta kwitansi dari segala bentuk pembelian kebutuhan sehari-hari, sisi positif yang bisa kita ambil adalah, belajar teliti. Dan masih banyak lagi…
Kesimpulannya adalah, bahwa, kenyamanan tergantung dari bagaimana kita menyingkapi. Tergantung dari bagaimana kita menilainya. Tepatnya tergantung dari resppon kita terhadapnya. Bila respon kita jelek, maka ketidaknyamananlah yang didapat, dan bila respon kita bagus, kenyamananlah yang dirasakan. Respon kita akan membentuk karakter dan karakter ini berawal dari cara pandang/penilaian terhadap suatu kejadian. Beberapa karakter yang membantu kita berhasil, di antaranya adalah, kita memiliki empati terhadap sesama, tahan uji dan selalu bersyukur dalam segala keadaan serta beriman.
Karakter bukan diciptakan tetapi dibentuk oleh respon-respon kita dalam menghadapi hidup dan segala pernik-perniknya. Beberapa hal yang juga memicu terbentuknya karakter, yaitu : temperamen dasar, kenyakinan yang percayai, pendidikan/wawasan yang kita ketahui, motivasi hidup yang seperti apa yang kita miliki serta pengalaman hidup yang meliputi masa lalu, pola asuh dan lingkungan dimana kita berada. Nach, kawan’s, sekarang kita bisa mengambil kesimpulan dengan kalimat diawal tulisan ini.
Dalam bayangan saja, kita tahu tuyul itu seperti apa, dan lampir itu seperti apa. Yang kita tahu, dua panggilan tersebut di atas adalah sebutan buat sosok yang jahat meskipun hanya sebuah dongeng. Apapun yang kita masukan kedalam pikiran kita (baik/buruk), dalam jangka yang cukup lama akan menjadi sebuah program pikiran. Mari kita menyebut anggota keluarga majikan kita dengan panggilan yang mengenakkan hati dan menyejukkan telinga. Untuk sebuah kenyamanan, kitalah yang menciptakan. Make happy now…!!!
*Dimuat koran BERITA INDONESIS HONGKONG*
Langganan:
Postingan (Atom)




