Sabtu, 04 November 2017

PROFIL BMI PURNA ASAL BANYUWANGI

Di awal tahun 2003 , usaha yang dibangun Siti Muaropah bersama sang suami benar -benar ambruk. Suami banyak menanggung hutang dan membuatnya jarang di rumah. Lebih berat lagi suami jadi sering bolos dinas  (tidak mengajar di sekolah ), sehingga sering mendapat teguran dari pihak sekolah karena suaminya seorang PNS.
Kebangkrutan ini berawal dari usaha jual beli ikan air tawar dan mengirimkannya  ke Jawa Barat dan wilayah Jakarta. Berjualan ikan segar dengan jarak yang cukup jauh  ternyata mempunyai banyak resiko,  yaitu banyak ikan yang mati atau lemas sehingga harganya jatuh dan bisa membawa kerugian seperti yang telah dialaminya. Sebelum menjalankan usaha jual beli ikan segar ini, Siti Muaropah telah memiliki toko pakan ternak yang cukup ramai di kampungnya.
Melihat  kondisi sang suami,  pada bulan April 2003 ia memutuskan merantau ke luar negeri dengan tujuan Hong Kong.   Ia ingin  membantu beban sang suami membayar hutang-hutangnya. Saat itu anak pertamanya masih berumur 4 tahun dan anak kedua berumur 2 tahun. Dengan amat sangat terpaksa , ia menitipkan keduanya  kepada kakek  dan neneknya  juga adik –adiknya  untuk diasuh.
Setelah menunggu selama 7 bulan, tepatnya 23 November 2003  ia diberangkatkan  ke Hong Kong.  Baru 3 bulan di Hong Kong  sang suami  mengirimkan surat talak sebanyak 2 x serta memberitahukan bahwa dia sudah menikah lagi.Hanya kehancuran hati yang ia rasakan saat itu. 
Ternyata, ujian dari Allah  belum berakhir.  Setelah masa potong gaji (7 bulan) habis, Siti Muaropah diterminate.   Ia pun harus menunggu di China selama 2 bulan untuk bisa ganti majikan baru.  Setelah proses itu selesai,  ia bekerja di majikan yang baru, tepatnya di daerah Taipo. Ia mendapatkan majikan yang baik.
Ia mendapat hak libur dan digunakannya   untuk beribadah  di  Masjid Tsim Sha Tsui. Sayangnya di majikan ini cuma berlangsung 4 tahun . Alasan majikan tidak punya uang untuk membayar long service (bonus). Mau tidak mau ia mencari majikan baru dan mendapatkan di daerah Prince Edward. Di sini ia bekerja  selama 3 tahun  karena  orang tua yang dijaganya dimasukkan   ke panti jompo. Selama di majikan ini pun , disaat  libur ia  cuma berkutat di Masjid Thim Sha Tsui.
Setelah tidak bekerja di majikan ini,  Siti Muaropah  bercerita kalau ia mendapatkan  majikan yang super baik di daerah sekitar Mongkok.  Ia didorong untuk ikut banyak kegiatan saat libur. Selain ke masjid ia ikut kegiatan kursus baking di CRC dan ikut kegiatan kursus yang diadakan oleh KJRI. Selama di Hong Kong uang hasil kerja, selain ia gunakan untuk membiayai sekolah anak- anaknya,  sebagiannya lagi  ia  tabung di bank atas namanya sendiri.
Setiap masa kontrak kerja berakhir, para BMI bisa mengambil cuti pulang termasuk Siti Muaropah.  Ia gunakan  waktu tersebut untuk bertemu dengan keluarganya juga  mengurus perceraian dengan suaminya  yang  sudah menikah lagi.  Sejak saat itu bergantilah statusnya  menjadi orang tua tunggal (single parent).Kembali ke rumah majikan, ia mulai mempersiapkan segala hal untuk bekal kelak pulang  ke Tanah Air. Ia berharap bisa memulai  dan memiliki usaha yang mandiri.
Untuk mewujudkan keinginan itu, Siti Muaropah mengikuti kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan  hobinya, yaitu memasak. Ia berkomitmen kepada diri sendiri untuk  tidak menghambur- hamburkan uang hanya untuk membeli barang-barang  yang  menurutnya tidak bermanfaat. Ia juga tidak  pernah tertarik untuk ikut investasi apapun seperti  yang sering ditawarkan ke para BMI. Dalam pemikirannya, daripada  investasi ke sesuatu yang tidak jelas lebih baik ditabung untuk bekal modal usaha ketika kembali ke kampung.
Akhir Agustus 2015 , Siti Muaropah  memutuskan untuk kembali ke Tanah Air dan awal tahun 2016 ia menikah  lagi dengan seorang lelaki yang 11 tahun usianya lebih tua darinya.  Diawal keberadaannya di kampung halaman, ia  membuka usaha kuliner,  dengan membuat rempeyek dan jajanan  lalu dititipkan ke warung dan toko kecil yang ada di sekitar rumahnya . Namun hasilnya kurang memuaskan, sementara anak pertamanya sudah  masuk PTN di Malang dan yang kedua masuk SMK. Keduanya membutuhkan biaya cukup besar.Bila mengandalkan uang tabungan saja, lama-lama akan habis. Itu yang dipikirkan oleh Siti Muaropah. Ia pun berpikir mencari solusi.
Awal bulan Mei ia bersama sang suami memulai usaha membuka loket  PPOB (Paymen Point Online Bank Pusat), loket  pembayaran  online  yang terhubung dengan bank . PPOB yang digelutinya bekerjasama dengan Bank Bukopin.  Di  PPOB ini ia melayani pembayaran  listrik pasca bayar, pembelian token listrik, PDAM dan TV prabayar. Selain itu juga buka warnet serta memulai menyalurkan hobinya membuat minuman herbal. Pertama-tama ia membuat minuman tersebut dan diuji cobakan kepada orang-orang yang datang ke warnet dan tetangga sekitar. Mereka bilang enak dan ia mencoba  memasak lagi lalu dikemas dan dijual.  Minuman herbal itu diterima di pasaran.  Karena produknya diterima oleh masyarakat, pada  awal  September ia  mengajukan ijin PIRT ke Dinas Kesehatan dan bulan Desember 2016 disurvei  lalu mendapat  nomor  ijin sementara. Untuk menambah pengetahuannya,  pada bulan April 2017 lalu Siti Muaropah  mengikuti pembekalan dan pelatihan tentang pangolahan pangan dari BPOM Surabaya bersama Dinkes yang diadakan di Banyuwangi.  Saat itulah  produk herbalnya  resmi mendapat ijin PIRT. Setelah PIRT  keluar, ia mengajukan sertifikat halal dari MUI, dan  tanggal 15 Agustus 2017 sudah  diaudit, tinggal menunggu keluarnya sertifikat halalnya. Semua gratis tidak dipungut biaya.
Sebenarnya kita tidak perlu takut untuk pulang ke kampung halaman. Banyak  yang bisa kita lakukan. Kita bisa memulai usaha dengan modal kecil. Seperti herbal saya, modal awal cuma 250 ribu dan peralatan yang dipakai juga peralatan rumah tangga yang biasa dipakai memasak sendiri. Jangan pernah takut untuk gagal. Dan harus punya niat yang kuat. Hilangkan bayang-bayang takut kembali ke Tanah Air nanti mau kerja apa”, pesan siti  Muaropah yang dititipkan kepada kru Berita Indonesia.
“Banyak yang bisa kita lakukan. Banyak usaha yang bisa kita kerjakan,  misalnya memulai usaha berdasarkan hobi. Hobi handcrasft bisa dikembangkan. Yang bisa membatik, menjahit , memasak bahkan  sekedar reseller produk pun bisa menghasilkan uang. Harus siap mendapat uang sedikit dari sewaktu bekerja di Hong Kong. Harus sabar dan telaten bila usahanya ingin berkembang. Selama di perantauan pergunakan waktu untuk belajar apa saja  dan terapkan ketika kembali ke kampung halaman. Semoga teman-teman yang masih di Hong Kong , segera menyusul pulang ke kampung halaman masing-masing  dan menjadi majikan bagi diri sendiri. Bagi yang ingin menjadi reseller produk  “Segar Alami” punya saya bisa menghubungi saya atau silahkan berkunjung ke  Jl. Wr supratman rt 01/06 Dusun Krajan  Desa Tembokrejo Muncar Banyuwangi’, imbuh Siti Muaropah.

Selain herbal,  ia juga  membuat manisan tomat rasa kurma serta dodol biji tomat (sisa proses mat sakur) hanya berdasarkan pesanan saja.  Mat Sakur  singkatan dari Manisan Tomat Rasa Kurma. Juga mengemas kripik talas dn pisang dari produk UKM lainnya.

1 komentar:

  1. Maaf... Sy tidak tau apa ini cara kebetulan saja atau gimana. Yg jelas sy berani sumpah kalau ada ke bohongan sy sama sekali. Kebetulan saja buka internet dpt nomer ini +6282354640471 Awalnya memang sy takut hubungi nomer trsebut. Setelah baca-baca artikel nya. ada nama Mbah Suro katanya sih.. bisa bantu orang mengatasi semua masalah nya. baik jalan Pesugihan dana hibah maupun melalui anka nomer togel. Setelah sy telpon melalui whatsApp untuk dengar arahan nya. bukan jg larangan agama. Tergantung dari keyakinan dan kepercayaan saja. Biarlah Orang pada ngomong itu musrik hanya tuhan yg tau. mungkin ini salah satu jalan rejeki sy. Syukur Alhamdulillah melalui bantuan beliau benar2 sudah terbukti sekarang. Amin

    BalasHapus