Di awal tahun 2003 ,
usaha yang dibangun Siti Muaropah bersama sang suami benar -benar ambruk. Suami
banyak menanggung hutang dan membuatnya jarang di rumah. Lebih berat lagi suami
jadi sering bolos dinas (tidak mengajar
di sekolah ), sehingga sering mendapat teguran dari pihak sekolah karena
suaminya seorang PNS.
Kebangkrutan ini
berawal dari usaha jual beli ikan air tawar dan mengirimkannya ke Jawa Barat dan wilayah Jakarta. Berjualan
ikan segar dengan jarak yang cukup jauh ternyata mempunyai banyak resiko, yaitu banyak ikan yang mati atau lemas
sehingga harganya jatuh dan bisa membawa kerugian seperti yang telah
dialaminya. Sebelum menjalankan usaha jual beli ikan segar ini, Siti Muaropah
telah memiliki toko pakan ternak yang cukup ramai di kampungnya.
Melihat kondisi sang suami, pada bulan April 2003 ia memutuskan merantau
ke luar negeri dengan tujuan Hong Kong.
Ia ingin membantu beban sang suami
membayar hutang-hutangnya. Saat itu anak pertamanya masih berumur 4 tahun dan
anak kedua berumur 2 tahun. Dengan amat sangat terpaksa , ia menitipkan
keduanya kepada kakek dan neneknya
juga adik –adiknya untuk diasuh.
Setelah menunggu selama
7 bulan, tepatnya 23 November 2003 ia diberangkatkan ke Hong Kong.
Baru 3 bulan di Hong Kong sang suami
mengirimkan surat talak sebanyak 2 x
serta memberitahukan bahwa dia sudah menikah lagi.Hanya kehancuran hati yang ia
rasakan saat itu.
Ternyata, ujian dari
Allah belum berakhir. Setelah masa potong gaji (7 bulan) habis,
Siti Muaropah diterminate. Ia pun harus menunggu di China selama 2 bulan
untuk bisa ganti majikan baru. Setelah proses
itu selesai, ia bekerja di majikan yang
baru, tepatnya di daerah Taipo. Ia mendapatkan majikan yang baik.
Ia mendapat hak libur
dan digunakannya untuk beribadah di
Masjid Tsim Sha Tsui. Sayangnya di majikan ini cuma berlangsung 4 tahun .
Alasan majikan tidak punya uang untuk membayar long service (bonus). Mau tidak
mau ia mencari majikan baru dan mendapatkan di daerah Prince Edward. Di sini ia
bekerja selama 3 tahun karena orang tua yang dijaganya dimasukkan ke panti
jompo. Selama di majikan ini pun , disaat
libur ia cuma berkutat di Masjid
Thim Sha Tsui.
Setelah tidak bekerja
di majikan ini, Siti Muaropah bercerita kalau ia mendapatkan majikan yang super baik di daerah sekitar
Mongkok. Ia didorong untuk ikut banyak
kegiatan saat libur. Selain ke masjid ia ikut kegiatan kursus baking di CRC dan
ikut kegiatan kursus yang diadakan oleh KJRI. Selama di Hong Kong uang hasil
kerja, selain ia gunakan untuk membiayai sekolah anak- anaknya, sebagiannya lagi ia tabung di bank atas namanya sendiri.
Setiap masa kontrak
kerja berakhir, para BMI bisa mengambil cuti pulang termasuk Siti Muaropah. Ia gunakan waktu tersebut untuk bertemu dengan keluarganya
juga mengurus perceraian dengan suaminya yang
sudah menikah lagi. Sejak saat
itu bergantilah statusnya menjadi orang
tua tunggal (single parent).Kembali ke rumah majikan, ia mulai mempersiapkan
segala hal untuk bekal kelak pulang ke
Tanah Air. Ia berharap bisa memulai dan
memiliki usaha yang mandiri.
Untuk mewujudkan
keinginan itu, Siti Muaropah mengikuti kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan hobinya, yaitu memasak. Ia berkomitmen kepada
diri sendiri untuk tidak menghambur-
hamburkan uang hanya untuk membeli barang-barang yang menurutnya tidak bermanfaat. Ia juga tidak pernah tertarik untuk ikut investasi apapun
seperti yang sering ditawarkan ke para
BMI. Dalam pemikirannya, daripada
investasi ke sesuatu yang tidak jelas lebih baik ditabung untuk bekal
modal usaha ketika kembali ke kampung.
Akhir Agustus 2015 ,
Siti Muaropah memutuskan untuk kembali
ke Tanah Air dan awal tahun 2016 ia menikah lagi dengan seorang lelaki yang 11 tahun
usianya lebih tua darinya. Diawal
keberadaannya di kampung halaman, ia
membuka usaha kuliner, dengan membuat
rempeyek dan jajanan lalu dititipkan ke
warung dan toko kecil yang ada di sekitar rumahnya . Namun hasilnya kurang
memuaskan, sementara anak pertamanya sudah masuk PTN di Malang dan yang kedua masuk SMK.
Keduanya membutuhkan biaya cukup besar.Bila mengandalkan uang tabungan saja, lama-lama
akan habis. Itu yang dipikirkan oleh Siti Muaropah. Ia pun berpikir mencari
solusi.
Awal bulan Mei ia
bersama sang suami memulai usaha membuka loket PPOB (Paymen Point Online Bank Pusat),
loket pembayaran online
yang terhubung dengan bank . PPOB yang digelutinya bekerjasama dengan
Bank Bukopin. Di PPOB ini ia melayani pembayaran listrik pasca bayar, pembelian token listrik,
PDAM dan TV prabayar. Selain itu juga buka warnet serta memulai menyalurkan hobinya
membuat minuman herbal. Pertama-tama ia membuat minuman tersebut dan diuji
cobakan kepada orang-orang yang datang ke warnet dan tetangga sekitar. Mereka
bilang enak dan ia mencoba memasak lagi
lalu dikemas dan dijual. Minuman herbal
itu diterima di pasaran. Karena
produknya diterima oleh masyarakat, pada awal September ia mengajukan ijin PIRT ke Dinas Kesehatan dan
bulan Desember 2016 disurvei lalu
mendapat nomor ijin sementara. Untuk menambah
pengetahuannya, pada bulan April 2017
lalu Siti Muaropah mengikuti pembekalan
dan pelatihan tentang pangolahan pangan dari BPOM Surabaya bersama Dinkes yang
diadakan di Banyuwangi. Saat itulah produk herbalnya resmi mendapat ijin PIRT. Setelah PIRT keluar, ia mengajukan sertifikat halal dari
MUI, dan tanggal 15 Agustus 2017 sudah diaudit, tinggal menunggu keluarnya sertifikat
halalnya. Semua gratis tidak dipungut biaya.
“Sebenarnya kita tidak perlu takut untuk pulang ke kampung halaman.
Banyak yang bisa kita lakukan. Kita bisa
memulai usaha dengan modal kecil. Seperti herbal saya, modal awal cuma 250 ribu
dan peralatan yang dipakai juga peralatan rumah tangga yang biasa dipakai
memasak sendiri. Jangan pernah takut untuk gagal. Dan harus punya niat yang
kuat. Hilangkan bayang-bayang takut kembali ke Tanah Air nanti mau kerja apa”, pesan
siti Muaropah yang dititipkan kepada kru
Berita Indonesia.
“Banyak yang bisa kita
lakukan. Banyak usaha yang bisa kita kerjakan,
misalnya memulai usaha berdasarkan hobi. Hobi handcrasft bisa
dikembangkan. Yang bisa membatik, menjahit , memasak bahkan sekedar reseller produk pun bisa menghasilkan
uang. Harus siap mendapat uang sedikit dari sewaktu bekerja di Hong Kong. Harus
sabar dan telaten bila usahanya ingin berkembang. Selama di perantauan
pergunakan waktu untuk belajar apa saja
dan terapkan ketika kembali ke kampung halaman. Semoga teman-teman yang
masih di Hong Kong , segera menyusul pulang ke kampung halaman masing-masing dan menjadi majikan bagi diri sendiri. Bagi
yang ingin menjadi reseller produk
“Segar Alami” punya saya bisa menghubungi saya atau silahkan berkunjung
ke Jl. Wr supratman rt 01/06 Dusun
Krajan Desa Tembokrejo Muncar
Banyuwangi’, imbuh Siti Muaropah.
Selain herbal, ia juga
membuat manisan tomat rasa kurma serta dodol biji tomat (sisa proses mat
sakur) hanya berdasarkan pesanan saja. Mat Sakur
singkatan dari Manisan Tomat Rasa Kurma. Juga mengemas kripik talas dn
pisang dari produk UKM lainnya.
Maaf... Sy tidak tau apa ini cara kebetulan saja atau gimana. Yg jelas sy berani sumpah kalau ada ke bohongan sy sama sekali. Kebetulan saja buka internet dpt nomer ini +6282354640471 Awalnya memang sy takut hubungi nomer trsebut. Setelah baca-baca artikel nya. ada nama Mbah Suro katanya sih.. bisa bantu orang mengatasi semua masalah nya. baik jalan Pesugihan dana hibah maupun melalui anka nomer togel. Setelah sy telpon melalui whatsApp untuk dengar arahan nya. bukan jg larangan agama. Tergantung dari keyakinan dan kepercayaan saja. Biarlah Orang pada ngomong itu musrik hanya tuhan yg tau. mungkin ini salah satu jalan rejeki sy. Syukur Alhamdulillah melalui bantuan beliau benar2 sudah terbukti sekarang. Amin
BalasHapus