Sabtu, 04 November 2017

Bullying, Budaya Baru Di Kalangan BMI

“Saya lahir dari keluarga yang bahagia dan lingkungan yang sangat sehat sekali. Tidak pernah saya mendengar, orang tua, saudara-saudara maupun tetangga melakukan bully tapi ketika saya ikut keluarga pindahan, saya malah jadi korban bully. Dibully sama tetangga yang kaya raya tapi mulutnya gak berpendidikan. Mereka kalau ngomong ngak ngaca ke diri mereka sendiri. Sewaktu kecil dihina hina dengan bahasa verbal yang kasar. Dikata-katai, ngak bisa lulus sekolah SMP, nikah sama tukang becak, embret ke Jakarta karena putus sekolah dan lain sebagainya. Di sekolah saya juga mengalaminya, entahlah mungkin teman-teman sekolah merasa bully itu adalah lelucon yang mengasyikan. Iiihh belum tentu kalau kamu jadi saya yang jadi korban bully, masih bisa hidup sampai sekarang. Coba kalau masalah hidup kalian, baik masalah ekonomi atau penghasilan, mungkin juga masalah keluarga dan rumah tangga kalian jadi bahan ledekan. Masih bisakah bilang itu wajar? Efek bully itu bisa bikin stres tau! Bahkan efek dari bully itu membuat saya berpikir, saya tidak ingin menikah terlebih dahulu sebelum saya bisa membantu orang tua dalam hal nafkah. Saya belum ingin menikah dulu sebelum saya menyelesaikan pendidikan saya. Saya khawatir kalau menikah belum dalam keadaan mapan, ketika punya anak saya khawatir anak-anak saya akan di bully juga oleh kalian semua! Begitu saja saya masih dapat bully juga. Kira-kira bunyinya seperti ini:
" Sudah dewasa, yang lain anaknya sudah gede sudah mau sekolah, ini belum nikah juga karena gak laku, malah gak ada temen cowok yang main ke rumah satupun, yang nampak jalan bareng”.
" Wah kerja di luar negeri terus duitnya buat kasur,atau mau jadi gubernur ya disana ?”
 “Ngapain sekolah, sudah tua saja masih sekolah”.

 “Lalu kapan kalian akan berhenti membully, apa nunggu yang dibully atau kamu sendiri mati duluan!”…….


Sebuah status yang ditulis oleh seorang rekan saya  di akun facebooknya. Ia  saat ini bekerja menjadi BMI di Hong Kong, meluahkan kekesalan yang selama ini  dirasakannya akibat sebuah pembully-an.  Sakit hati, sedih, kecewa, marah, dan perasaan lainnya bercampur aduk jadi satu.
Bullying  berasal dari Bahasa Inggris yang artinya adalah penindasan.   Bisa meliputi tindakan menghina mencaci dengan upaya mengintimidasi seseorang. Dan bullying ini biasanya dilakukan dengan kesadaran penuh. Bagaimana ia berupaya menjatuhkan seseorang  dengan penekanan-penekanan. Bullying adalah hasrat untuk menyakiti!
Mengatakan hal tidak menyenangkan atau memanggil dengan julukan buruk, mengabaikan atau mengucilkan  dengan tujuan tertentu, memukul, menendang, menjegal,menyakiti secara fisik, mengatakan kebohongan atau gunjingan keliru mengenal seseorang adalah hal-hal yang sudah masuk ranah bullying, dan ini dilakukan berulang kali.
Bagaimana kita bisa tahu awal terjadinya bullying? Kasak- kusuk atau gossip  merupakan perilaku awal yang dilakukan pelaku bully dan ini adalah hal yang paling mudah dilakukan. Bullying bisa terjadi dimana saja, kapan saja , terhadap siapa saja termasuk kalangan BMI, dan ini adalah fakta !
Hampir setiap hari, saya melihat suguhan dari mereka yang saling membully di media sosial (medsos).  Pemicunya pun bermacam-macam. Dari masalah politik, keyakinan, pekerjaan,cara berbusana, mengisi waktu libur, dll. Akhir dari drama bully-membully ini terputuslah  pertemanan di antara mereka, dan langkah selanjutnya adalah  saling memblokir akun masing-masing. Sungguh sangat disayangkan.
Adakah manfaat dari saling membully ? Pertanyaan ini sering mengganggu pikiran saya sebagai seseorang yang pernah menjalani hidup sebagai BMI. Dimana  saya dan mereka datang dari negara yang sama, negara tujuan yang sama, niat yang sama pula untuk menjemput rezeki, bahkan terkadang dalam komunitas yang sama. Hubungan baik hancur karena bully. Hidup jadi terkotak-kotak.
Jangan berkumpul dengan si A. Jangan berteman dengan si B. Jangan belajar dengan si C, dan seterusnya. Semua saling berlomba untuk terlihat paling menonjol, paling pintar, paling banyak pendukungnya, paling wah dan paling lainnya. Bangga apabila ranting like-nya banyak.  Senang melihat komentatornya hingga ratusan bahkan ribuan. Ironis!   
Hal semacam ini, dulu ketika saya masih ada di antara mereka hampir tidak ada acara bully membully . Setiap berbedaan diselesaikan dengan penuh kekeluargaan. Saling memaafkan dan menjaga kerukunan.  Beda dengan kondisi sekarang ini, sedikit-sedikit meluncurkan aksi bully. Saya sangat prihatin dengan keadaan ini. Keprihatinan ini membuat saya mencari info sebanyak-banyaknya keburukan dibalik bulyying, di antaranya :

·         Bullying bertujuan  untuk mempermainkan aib/kekurangan seseorang dihadapan publik.
·         Menjadi pemicu timbulnya masalah.
·         Sebagai bentuk keangkuhan pelaku kepada dirinya sendiri.
·         Dan munculnya bullying  itu dari hati yang penuh dengan unsur-unsur keburukan.

Apakah kita adalah pribadi yang demikian? Mempermainkan perasaan orang, pemicu masalah,pribadi yang angkuh? Bukankah kedatangan kita untuk bekerja? Memperbaiki ekonomi keluarga, mencari modal usaha, mencari pengalaman?
Kalau saya cermati hal-hal  yang dijadikan bahan bully-an teman-teman  sesama BMI,sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan mereka di sana. Dan juga tidak ada sangkut pautnya dengan kelangsungan hidup mereka setelah pulang ke Tanah Air.  Tidak membuat penghasilan bertambah, tidak menumbuhkan kedewasaan, tidak menciptakan kerukunan. Yang justru ada adalah bertambahnya kebencian, timbulnya permusuhan, saling curiga-mencurigai, berkurangnya kestabilan emosi, berkurangnya konsentrasi dalam bekerja, bahkan kita bisa menjadi seorang pembunuh! Ya, membunuh karakter  juga membunuh kehidupan seseorang. Bullying itu kejam!
Sekembalinya ke Tanah Air, kita pun tidak mendapatkan apa-apa dari bullying. Karena kita akan ditarik kepada permasalahan kebutuhan hidup. Bagaimana dapur tetap mengepul, bagaimana anak tetap sekolah, bagaimana usaha tetap jalan dan berkembang dan lain sebagainya. Tidak ada celah waktu memikirkan lainnya. Jangankan membully, membuka akun facebook pun sudah tidak ada waktu. Kalau pun ada waktu, rasa malas lebih sering menghinggapi.
Yang dibutuhkan di Tanah Air bukanlah  pandai atau hebatnya kita dalam membully, dimana karena bully-an  tersebut kehidupan seseorang jadi hancur berantakan bahkan sampai kehilangan nyawa. Sahabat, mari kita luangkan waktu melongok ke dalam diri. Agar kita tidak terperosok semakin jauh ke hal-hal yang merugikan  diri sendiri dan orang lain, baik disengaja maupun tidak disengaja. Kita harus pandai mengelola emosi bukan?



1 komentar:

  1. Maaf... Sy tidak tau apa ini cara kebetulan saja atau gimana. Yg jelas sy berani sumpah kalau ada ke bohongan sy sama sekali. Kebetulan saja buka internet dpt nomer ini +6282354640471 Awalnya memang sy takut hubungi nomer trsebut. Setelah baca-baca artikel nya. ada nama Mbah Suro katanya sih.. bisa bantu orang mengatasi semua masalah nya. baik jalan Pesugihan dana hibah maupun melalui anka nomer togel. Setelah sy telpon melalui whatsApp untuk dengar arahan nya. bukan jg larangan agama. Tergantung dari keyakinan dan kepercayaan saja. Biarlah Orang pada ngomong itu musrik hanya tuhan yg tau. mungkin ini salah satu jalan rejeki sy. Syukur Alhamdulillah melalui bantuan beliau benar2 sudah terbukti sekarang. Amin

    BalasHapus