Bicara tentang entrepreneurship, pikiran kita pasti tertuju pada sosok Ir. Ciputra si raja properti di Indonesia. Diusianya yang menginjak 80 tahun, semangat juang untuk mengubah nasib bangsa, tidak pernah padam. Selain tetap menjalankan roda bisnisnya, pak Ci, panggilan akrabnya senantiasa berpikir keras mencari solusi membantu sesama. Tidak pandang bulu, semua direngkuhnya.
Dari masyarakat kelas bawah, menengah dan kalangan atas. Tidak cukup hanya sampai disitu, sejak 2010 lalu, pak Ci telah mengirim beberapa pembicaranya untuk berbagi dengan Buruh Migran Indonesia di Hong Kong, yach.. BMI! Viruspun disebar! Bukan virus yang mematikan tetapi virus yang menyehatkan persendian tubuh, aliran darah dan otak.
Bagaimana tidak, ketika sekitar 900 BMI Hong Kong berbondong-bondong saling berebutan tempat hanya untuk bisa belajar, bahkan ada yang rela duduk di lantai hanya untuk belajar, sekali lagi belajar!
Belajar sesuatu yang selama ini belum dirasakan oleh BMI Hong Kong, entrepreneurship! Bukan berarti mereka tidak pernah belajar tentang hal itu, namun apa yang dipelajari selama ini masih jauh dari kata sempurna. Setidaknya, pemahaman-pemahaman salah tentang entrepreneurship masih ada. Terbukti, banyak dari mereka yang telah menjalankan usaha harys gulung tikar menelan kebangkrutan dan akhirnya kembali lagi menjadi seorang BMI mengais dollar. Inilah fakta yang ada! Mau berharap pada pemerintah, lupakan saja!
Jumlah BMI semakin bertambah, jumlah BMI yang menambah kontrak kerjapun menjadi hal biasa. Ironis memang, tapi itulah fakta! Mau menyalahkan siapa? Tidak ada yang perlu disalahkan. Sudah saat mengusir tikus-tikus yang ada di kepala kita untuk bangkit melawan kemiskinan. Miskin ilmu, pengalaman dan kekayaan. Tikus-tikus itu adalah paradigma kita yang salah dalam memammndang segala hal termasuk tentang entrepreneurship. Pucuk dicinta ulampun tiba, begitu kata pepatah.
Moment terindah, 22 Oktober s/d 4 Desember 2011, menjadi tonggak awal BMI Hong Kong bangkit dan berbenah. Menjadi insan yang mandiri yang tidak lagi suka mengeluh, menyalahkan orang lain dan mencari alasan. Hari itu, menghentakkan kesadaran BMI Hong Kong pentingnya memiliki perencanaa hidup. Salah satunya adalah menjadi entrepreneurship. Seorang entrepreneur bukanlah pembisnis atau pedagang, melainkan seorang yang mampu mengubah kotoran menjadi emas dengan nilai jual tinggi dan dicari orang.
Ternyata banyak orang salah kaprah dalam mengartikan entrepreneur sehingga mereka gulung koming, banting tulang banting piring ketika sudah kehabisan uang. Masih mau dilanjutkan? Oh, tidak! Biarlah itu menjadi masalalu yang bisa diambil hikmah dan pelajaran. Hari itu, akan jadi sejarah bagi BMI Hong Kong yang telah konsisten mengikuti sebuah pembelajaran menjadi seorang entrepreneurship sejati. Mmapu membuka lapangan kerja buat diri sendiri, keluarga dan masyarakat luas tanpa menunggu uluran dari pihak lain.
Inilah upaya yang dilakukan pak Ci dengan mengirim guru-guru terbaiknya untuk BMI Hong Kong. Perlahan tapipasti, penilaian miring tentang BMI akan sirna. Berganti dengan decak kagum," Kok bisa ya BMI Hong Kong jadi pengusha?Gimana caranya?"
BMI Hong Kong JADI PENGUSAHA, siapa takut! Inilah bentuk kepedulian pak Ci terhadap BMI dimanapun berada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar