Kamis, 31 Agustus 2017

PROFIL BMI PURNA KOREA SELATAN


Mengambil keputusan,bukanlah hal mudah,apalagi keputusan bekerja ke luar negeri. Hal ini pasti pernah dirasakan oleh sebagian banyak BMI dimanapun  negara tujuannya. Bekerja ke luar negeri merupakan keputusan besar yang mengandung banyak konsekuensi, di antaranya : jauh dari keluarga, mendapatkan siksaan/tekanan, ditipu, mengalami gangguan kesehatan/kecelakaan dll.
Hal ini dialami oleh Nur Hidayat, seorang BMI Purna Korea Selatan yang  lahir di Malang pada  1974 lalu. Selama 3 tahun ia baru bisa mengambil keputusan untuk merantau, setelah roda ekonomi keluarga mengalami kemunduran akibat krisis moneter   yang terjadi pada tahun 1997. Krisis yang melanda usaha sang istri mengakibatkan turunnya pendapatan  hingga 50 %. Padahal dari usaha ini, roda ekonomi keluarga ditopang.
Akhirnya, sang istri memberi ijin kepada Nur Hidayat  untuk merantau mengikuti jejak anggota keluarganya yang terlebih dahulu bekerja menjadi BMI termasuk ibunya. Tidak dipungkiri, bahwa sebelum terjadinya krisis moneter, ia punya angan-angan bekerja ke luar negeri, dan yang menjadi tujuannya adalah Arab Saudi kala itu. Tapi akhirnya Korea Selatan yang menjadi pilihannya.
Ia berangkat  pada  tahun 2000 lalu,  dan  bekerja di negara itu selama 5 tahun. Menggunakan prosedur G to G dengan menghabiskan biaya 35 juta saat itu. Seperti kisah-kisah BMI lainnya, ia pun harus menjalani serangkaian pembelajaran di PT yang salah satunya adalah bahasa. Namun sayangnya, apa yang ia pelajari di PT tidak sesuai dengan yang ada di lapangan (baca :tempat kerja). Mungkin Anda pun pernah mengalaminya. Karena ketidaksesuaian ini, biasanya menimbulkan masalah di tempat kerja. Saat-saat seperti inilah, seorang BMI dituntut keberaniannya untuk keluar dari zona nyaman yang namanya malas. Mau tidak mau, mereka harus bisa menemukan solusi demi keberlangsungan masa kerja bila tidak ingin diberhentikan.
Sebelum bekerja menjadi BMI, Nur Hidayat sudah bekerja di UPDT ( Unit Pelaksana  Teknis Dinas) sejak 1991 daerahnya, dimana masa pengangkatan jabatan 5 tahun dan itu  sudah dilaluinya, tapi akhirnya ia memilih resign. Pilihan menjadi BMI dirasakannya lebih menarik, karena gajinya yang besar. Proses yang dibutuhkannya untuk bisa bekerja ke Korea Selatan 3 bulan.
Apa yang Nur Hidayat lakukan selama di rantau? Ketika mendapat libur dan itu pun jarang,ia gunakan kesempatan itu  berkumpul dengan sesama BMI di sebuah komunitas muslim.  Komunitas tersebut menjadi wadah/sarana menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi BMI di sana, misalnya ada kasus kriminalitas dengan sesama tenaga kerja asing. Biasanya masalah pekerjaan dan perempuan, karena saat itu,peraturan  PT di Indonesia yang menentukan dengan siapa seorang BMI akan bekerja. Ketika di sana mereka  tahu, bahwa di tempat lain ternyata bisa mendapatkan gaji yang lebih besar. Faktor ini seringkali menggoda mereka untuk pindah kerja padahal masa kontrak dengan bos pertama belum habis. Alhasil, mereka berstatus kaburan. Di tempat kerja yang baru, kadang mereka bentrok masalah pekerjaan dengan tenaga kerja asing dari negara lain.  Di sinilah manfaat yang dirasakan dalam berkomunitas.
Selain kendala bahasa, Nur Hidayat juga mengalami beban batin yang sangat menganggunya saat awal kerja,  yaitu  tidak mendapat ijin salat, karena  sang bos belum tahu/paham kewajiban seorang muslim. Tidak seperti sekarang, organisasi-organisasi Islam sudah banyak bermunculan di sana seiring bertambahnya pemahaman masyarakat Korea Selatan tentang kewajiban seorang muslim.
Nur Hidayat bekerja selama 5 tahun  lalu memutuskan untuk pulang . Pulang dari rantau bagi seorang BMI adalah hal yang menyenangkan tapi juga terselip banyak kekhawatiran. Menyenangkan karena bisa berkumpul kembali dengan keluarga, terlepas dari beban kerja tetapi khawatir karena belum tahu harus melakukan apa (baca : membuka usaha/bekeja).  Fenomena ini menjadi masalah  utama bagi  sebagian besar BMI termasuk Nur Hidayat. Oleh karena itu, jauh-jauh hari sebelum masa kerjanya habis, ia selalu mengkomunikasikan hal ini kepada sang istri.  
Selain dengan istri, Nur Hidayat juga berdiskusi dengan teman-temannya sesama BMI disana, dan salah satunya adalah rencana mendirikan sebuah lembaga  kursus  dan pelatihan (LKP) yang kemudian  hari diberinya nama HanKook Education  Malang bekerjasama dengan  Dinas Pendidikan.  Mengambil bidang pelatihan bahasa Korea dan bahasa Inggris juga menyediakan program pelatihan las dan percetakan  serta pelatihan seni bela diri  Garuda Putih. LKP ini berdiri pada tahun 2010 lalu.  Beralamatkan  di   Jl Ahmad Yani No. 01 Gondanglegi  Kulon Malang.
Yang menjadi visi  adalah merealisasikan visi dan misi yang dicanangkan  oleh Direktorat Jenderal Pendidikan  Non Formal  dan Informal, yaitu  Menuju Masyarakat  Pembelajar  Sepanjang  Hayat Dalam Kemajemukan tatanan masyarakat  secara umum. Dan beberapa hal yang menjadi misi LKP Hankook Education Malang, di antaranya : meningkatkan  mutu dan relevansi  penyelenggaraan  kursus dan pelatihan  untuk mengoptimalkan  kompetensi  kerja dan kewirausahaan  serta  pengembangan  kepribadian  yang berakhlak mulia. Ketika berbincang masalah kendala menjalankan lembaga ini,Nur Hidayat mengatakan bahwa, anak-anak muda sekarang sulit pengarahannya.
Di masa mendatang, Nur Hidayat ingin mengembangan dunia pertanian dimana hal itu menjadi impian terbesarnya. Setelah belajar banyak hal selama di Korea Selatan tentang sistem pertanian disana, ia bercita-cita menerapkan ilmu tersebut di daerahnya. Selain itu juga mengembangkan program kewirausahaan bekerjasama dengan para pelaku UKM, mengingat peluang di Indonesia sangat banyak.

Diakhir pembicaraan,Nur Hidayat menitipkan pesan kepada BMI  yang masih di rantau untuk mengatisipasi pergaulan. Apalagi tehnologi semakin canggih yang memudahkan mereka berkomunikasi (baca : bersosialisasi). Jangan sampai digunakan untuk hal-hal yang justru membawa petaka apalagi bagi yang sudah berkeluarga. Dengan adanya uang,gadget, kebebasan karena jauh dari keluarga, kadang membuat mereka lupa diri. Baiknya mengikuti kegiatan-kegiatan positif dan membangun. Karena  BMI itu sendiri yang akan merasakan manfaatnya. Baik selama ada di rantau maupun setelah pulang ke Tanah Air.

Bullying, Budaya Baru Di Kalangan BMI

“Saya lahir dari keluarga yang bahagia dan lingkungan yang sangat sehat sekali. Tidak pernah saya mendengar, orang tua, saudara-saudara maupun tetangga melakukan bully tapi ketika saya ikut keluarga pindahan, saya malah jadi korban bully. Dibully sama tetangga yang kaya raya tapi mulutnya gak berpendidikan. Mereka kalau ngomong ngak ngaca ke diri mereka sendiri. Sewaktu kecil dihina hina dengan bahasa verbal yang kasar. Dikata-katai, ngak bisa lulus sekolah SMP, nikah sama tukang becak, embret ke Jakarta karena putus sekolah dan lain sebagainya. Di sekolah saya juga mengalaminya, entahlah mungkin teman-teman sekolah merasa bully itu adalah lelucon yang mengasyikan. Iiihh belum tentu kalau kamu jadi saya yang jadi korban bully, masih bisa hidup sampai sekarang. Coba kalau masalah hidup kalian, baik masalah ekonomi atau penghasilan, mungkin juga masalah keluarga dan rumah tangga kalian jadi bahan ledekan. Masih bisakah bilang itu wajar? Efek bully itu bisa bikin stres tau! Bahkan efek dari bully itu membuat saya berpikir, saya tidak ingin menikah terlebih dahulu sebelum saya bisa membantu orang tua dalam hal nafkah. Saya belum ingin menikah dulu sebelum saya menyelesaikan pendidikan saya. Saya khawatir kalau menikah belum dalam keadaan mapan, ketika punya anak saya khawatir anak-anak saya akan di bully juga oleh kalian semua! Begitu saja saya masih dapat bully juga. Kira-kira bunyinya seperti ini:
" Sudah dewasa, yang lain anaknya sudah gede sudah mau sekolah, ini belum nikah juga karena gak laku, malah gak ada temen cowok yang main ke rumah satupun, yang nampak jalan bareng”.
" Wah kerja di luar negeri terus duitnya buat kasur,atau mau jadi gubernur ya disana ?”
 “Ngapain sekolah, sudah tua saja masih sekolah”.

 “Lalu kapan kalian akan berhenti membully, apa nunggu yang dibully atau kamu sendiri mati duluan!”…….

Sebuah status yang ditulis oleh seorang rekan saya  di akun facebooknya. Ia  saat ini bekerja menjadi BMI di Hong Kong, meluahkan kekesalan yang selama ini  dirasakannya akibat sebuah pembully-an.  Sakit hati, sedih, kecewa, marah, dan perasaan lainnya bercampur aduk jadi satu.
Bullying  berasal dari Bahasa Inggris yang artinya adalah penindasan.   Bisa meliputi tindakan menghina mencaci dengan upaya mengintimidasi seseorang. Dan bullying ini biasanya dilakukan dengan kesadaran penuh. Bagaimana ia berupaya menjatuhkan seseorang  dengan penekanan-penekanan. Bullying adalah hasrat untuk menyakiti!
Mengatakan hal tidak menyenangkan atau memanggil dengan julukan buruk, mengabaikan atau mengucilkan  dengan tujuan tertentu, memukul, menendang, menjegal,menyakiti secara fisik, mengatakan kebohongan atau gunjingan keliru mengenal seseorang adalah hal-hal yang sudah masuk ranah bullying, dan ini dilakukan berulang kali.
Bagaimana kita bisa tahu awal terjadinya bullying? Kasak- kusuk atau gossip  merupakan perilaku awal yang dilakukan pelaku bully dan ini adalah hal yang paling mudah dilakukan. Bullying bisa terjadi dimana saja, kapan saja , terhadap siapa saja termasuk kalangan BMI, dan ini adalah fakta !
Hampir setiap hari, saya melihat suguhan dari mereka yang saling membully di media sosial (medsos).  Pemicunya pun bermacam-macam. Dari masalah politik, keyakinan, pekerjaan,cara berbusana, mengisi waktu libur, dll. Akhir dari drama bully-membully ini terputuslah  pertemanan di antara mereka, dan langkah selanjutnya adalah  saling memblokir akun masing-masing. Sungguh sangat disayangkan.
Adakah manfaat dari saling membully ? Pertanyaan ini sering mengganggu pikiran saya sebagai seseorang yang pernah menjalani hidup sebagai BMI. Dimana  saya dan mereka datang dari negara yang sama, negara tujuan yang sama, niat yang sama pula untuk menjemput rezeki, bahkan terkadang dalam komunitas yang sama. Hubungan baik hancur karena bully. Hidup jadi terkotak-kotak.
Jangan berkumpul dengan si A. Jangan berteman dengan si B. Jangan belajar dengan si C, dan seterusnya. Semua saling berlomba untuk terlihat paling menonjol, paling pintar, paling banyak pendukungnya, paling wah dan paling lainnya. Bangga apabila ranting like-nya banyak.  Senang melihat komentatornya hingga ratusan bahkan ribuan. Ironis!   
Hal semacam ini, dulu ketika saya masih ada di antara mereka hampir tidak ada acara bully membully . Setiap berbedaan diselesaikan dengan penuh kekeluargaan. Saling memaafkan dan menjaga kerukunan.  Beda dengan kondisi sekarang ini, sedikit-sedikit meluncurkan aksi bully. Saya sangat prihatin dengan keadaan ini. Keprihatinan ini membuat saya mencari info sebanyak-banyaknya keburukan dibalik bulyying, di antaranya :
·         Bullying bertujuan  untuk mempermainkan aib/kekurangan seseorang dihadapan publik.
·         Menjadi pemicu timbulnya masalah.
·         Sebagai bentuk keangkuhan pelaku kepada dirinya sendiri.
·          Dan munculnya bullying  itu dari hati yang penuh dengan unsur-unsur keburukan.
Apakah kita adalah pribadi yang demikian? Mempermainkan perasaan orang, pemicu masalah,pribadi yang angkuh? Bukankah kedatangan kita untuk bekerja? Memperbaiki ekonomi keluarga, mencari modal usaha, mencari pengalaman?
Kalau saya cermati hal-hal  yang dijadikan bahan bully-an teman-teman  sesama BMI,sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan mereka di sana. Dan juga tidak ada sangkut pautnya dengan kelangsungan hidup mereka setelah pulang ke Tanah Air.  Tidak membuat penghasilan bertambah, tidak menumbuhkan kedewasaan, tidak menciptakan kerukunan. Yang justru ada adalah bertambahnya kebencian, timbulnya permusuhan, saling curiga-mencurigai, berkurangnya kestabilan emosi, berkurangnya konsentrasi dalam bekerja, bahkan kita bisa menjadi seorang pembunuh! Ya, membunuh karakter  juga membunuh kehidupan seseorang. Bullying itu kejam!
Sekembalinya ke Tanah Air, kita pun tidak mendapatkan apa-apa dari bullying. Karena kita akan ditarik kepada permasalahan kebutuhan hidup. Bagaimana dapur tetap mengepul, bagaimana anak tetap sekolah, bagaimana usaha tetap jalan dan berkembang dan lain sebagainya. Tidak ada celah waktu memikirkan lainnya. Jangankan membully, membuka akun facebook pun sudah tidak ada waktu. Kalau pun ada waktu, rasa malas lebih sering menghinggapi.
Yang dibutuhkan di Tanah Air bukanlah  pandai atau hebatnya kita dalam membully, dimana karena bully-an  tersebut kehidupan seseorang jadi hancur berantakan bahkan sampai kehilangan nyawa. Sahabat, mari kita luangkan waktu melongok ke dalam diri. Agar kita tidak terperosok semakin jauh ke hal-hal yang merugikan  diri sendiri dan orang lain, baik disengaja maupun tidak disengaja. Kita harus pandai mengelola emosi bukan?






* Dimut Koran Berita Indonesia, edisi Juli 2017 *

Jumat, 13 Januari 2017

Juru Parkir Pasar Besar Yang Mengecewakan










Sekitar jam 10.00-12.00 saya dan anak saya memakirkan sepeda motor di kawasan pasar besar Malang. Sekitar 3 toko dari deretan Toko Masa Jaya. Setelah berbelanja barang-barang yang kami perlukan, kamipun bergegas pulang karena harus segera mengunjungi salah satu keluarga di Bululawang yang menggelar hajatan.








Saat hendak membayar karcis parkir, anak saya menemukan potongan salah satu bagian kendaraannya telah rusak ada di dasbor sebelah kanan.










Saya    : " Apa itu Id?"
Anak   : " Ini lho ma, yang bagian depan. Gunanya untuk penyangga kalau sepeda jatuh."
Saya    : "Lho! Kok bisa rusak? Coba tanyakan pada tukang parkirnya."










Akhirnya kami berdua menunggu juru parkir datang menghampiri kami di tengah teriknya matahari. Setelah dia mendekat, kami tanyakan perihal kerusakan tersebut dengan menunjukkan potongannya yang ditaruh di bagian depan (dasbor sebelah kanan) tadi.








Anak                 : " Pak, ini kok rusak? Kenapa?"
Juru Parkir         : "Gak tahu!"  ( Dia menjawab dengan ketus).
Saya                  : " Lho, kok tidak tahu? Bukannya sampean yang menjaga di sini?"
Juru parkir         : " Iya, tapi saya tidak tahu!" ( Masih dengan sikap tidak bersahabat)
Saya                  : " Sampean yang jaga di sini mestinya tahu keluar masuknya sepeda motor yang diparkir.
                              kan sampean yang mengeluarkan karcis parkir".
Juru parkir         : " Iya, tapi saya tidak tahu!" ( Sikapnya tambah ngotot. Tidak menunjukkan rasa bersalah).
Anak                 : " Lho, yo opo sih pak! Terus iki piye? Aku parkir ki mbayar pak! Pedaku mrene utuh,
                             saiki kok rusak?"
Juru parkir         : " Saya gak tahu! Sampean  jangan komplen ke saya ! Sampean bisa komplen ke nomor
                             ini!" ( Masih dengan sikap yang ketus, menunjukkan bahwa dia tidak mau disalahkan).
Anak                : " Jenenge sampean sopo?"
Juru parkir        : " Iki jenengku!" ( Sambil membusungkan dada menunjukkan nama yang ada di rompi
                            seragam juru parkir).
Saya                : " Hemm, orang ini sikapnya".
                           
Anak                : " Ayo ma". ( Anak saya memutar kendaraannya untuk pulang).
Juru parkir        : " Bayar dulu!" ( Dengan sikap ketus dia meminta uang parkir.)
Anak                : " Pedaku wes rusak, sampean sik njaok bayar!"
Juru parkir       : " Aku gak tahu! Sampean kudu bayar!" ( Sikapnya makin kasar, sampai ada sesama juru
                           parkir datang menghampiri. Mungkin bermaksud melerai).






Saya buka dompet dan mengeluarkan uang Rp.2000 dan memberikannya ke juru parkir itu meskipun anak saya melarangnya. Dalam pemikiran saya, kalau kita parkir, ada tanggungjawab yang harus dikeluarkan oleh si pemarkir dan saya tidak mau lepas dari tanggungjawab tersebut. Meskipun kendaraan yang saya dan anak saya parkir rusak dan tidak diketahui sebabnya.

Sikap juru parkir itu, sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Jangankan bertanggungjawab, meminta maaf saja tidak. Sikap seperti ini akan terus terulang bila dibiarkan. Dia sebagai juru parkir tidak memberikan pelayanan yang aman, juga tidak bisa bersikap ramah.




Lain kali, bila parkir di sana lagi dan ada kerusakan pada kendaraan yang diparkir, jawaban dan sikap yang diberikan juru parkir terhadap pengguna jasa juru parkir akan sama. Lalu, siapa yang bertanggungjawab atas kerusakan kendaraan yang diparkir kalau juru parkir yang ditugaskan tidak bisa bertanggungjawab? Itu artinya sama saja dengan si pemarkir menyerahkan kendaraannya untuk dirusakkan, baik sengaja maupun tidak sengaja.






Lalu, apa gunanya ada juru parkir yang sudah diatur oleh pemerintah kota Malang dengan memberinya karcis restribusi parkir di tepi jalan umum? Dari setiap karcis parkir harus membayar Rp. 2000. Apakah hanya untuk sekedar kejar setoran saja?





Secara umum, orang memarkirkan kendaraannya adalah karena untuk sebuah keamanan. Mereka mempercayakan kepada juru parkir yang sedang bertugas. Kalau ternyata tidak aman, untuk apa ada juru parkir? Untuk apa harus bayar? Ditambah sikap juru parkir yang kasar .

Saiful, adalah salah satu contoh juru parkir yang membuat konsumen kecewa. Dia tidak melayani konsumen dengan sikap yang baik. Ketika ada masalah, dia lari dari tanggungjawab. Tidak ada niat meminta maaf atas ketidaknyaman yang tercipta, baik disengaja maupun tidak. Baik diketahuinya atau pun tidak. Dia hanya mementingkan urusannya sendiri, yang mungkin hanya semata-mata kejar setoran sebanyak-banyaknya!

Tidak semua konsumen yang komplen ingin minta ganti rugi, tetapi lebih pada ingin mengetahui kronologis kejadiannya.




Pasar Besar, 13 Januari 2017






Selasa, 06 Desember 2016

Bisnis Adalah Membantu Memenuhi Kebutuhan Orang Lain




Hari ini (6/12), saya pergi ke seminar yang digelar di Hotel Atria yang terletak di Jl. S.Parman  No. 87-89, Malang-East Java 65122. Acara ini mendapat support dari KPP Pratama Singosari,Disperindag Pasar Kab Malang, BRI Malang, Paguyuban UMKM Malang, Dinas Koperasi dan UMKM Kab. Malang. Tema yang diusung kali ini adalah “ Meningkatkan Omset Bisnis UMKM Melalui Pemasaran Online”



Sesi awal materi yang disampaikan kepada peserta seputar pajak, NPWP dan amnesti pajak. Setelah usai, tibalah saat yang saya nantikan, materi meningkatkan omset. Karena materi inilah yang mendorong saya meluangkan waktu dengan konsekuensinya, kantor jasa paket yang saya kelola tutup! ( Hehehe….)





Sebagai narasumbernya  adalah Ridwan Abadi . Nama ini masih asing bagi saya, tapi beberapa kali saya mendengarnya dari salah satu rekan di komunitas yang saya ada didalamnya. Rekan saya ini sangat antusias menyebut nama ini.
“Sopo tho jane? Aku penasaran sama orang itu,” guman saya dalam hati.





Lagi-lagi kebetulan yang bukan kebetulan. Alam semesta membantu mewujudkan keinginan saya bertemu dengan  Ridwan Abadi di seminar yang saya ikuti hari ini. Dan fokuslah saya belajar.
“Sopo tho jane? Aku penasaran sama orang itu,” guman saya dalam hati.




Materi awalnya adalah  3 Tahapan Menjadi BOS,yaitu :

1.      Fase Memulai atau Star Upà mengerjakan apa saja yang penting menghasilkan dan halal.
2.      Fase Mencari Jatidiri Bisnis atau Growing Upà mulai kenal passion serta bangun sistem dan organisasi bisnis.
3.      Fase Totalitas Hidup 100% atau Establishedà mengerjakan seoptimal mungkin, sebesar dan sekuat yang kita bisa.



Selanjutnya dibedah habis bagaimana caranya menaikan omset, sbb :

1.      Target Pasar , maksudnya adalah mencari orang yang membutuhkan sesuatu, dia punya uang serta pengambil keputusan.

1.      Building List/ Database Prospek, maksudnya adalah kita membuat data orang-orang yang menjadi target pasar tadi.

2.      Branding, maksudnya adalah  kita membuat orang tahu.

3.      Marketing, maksudnya adalah kita membuat orang datang.

4.       Selling, maksudnya adalah kita membuat orang membeli.

5.      Building Profiling/Database Konsumen, maksudnya adalah kita tidak boleh membiarkan pembeli kita hanya sekedar membeli, tetapi kita harus memiliki data profil lengkapnya. Dilain hari kita bisa memberikan surprais, entah dengan pelayanan yang memuaskan atau memberi bonus.

6.      Repeat Order, maksudnya adalah kita membuat pembeli membeli lagi produk kita lebih  lebih sering.

7.       Up Sales Cross Sales, maksudnya adalah kita membuat pembeli membeli lebih sering dan lebih banyak

8.      Afiliasi, maksudnya adalah pembeli kita mereferensikan produk kita.



Ridwan Abadi menyampaikan bahwa pelaku bisnis itu adalah orang yang membantu memenuhi kebutuhan orang lain. Jadi bukan orang yang punya/menjalankan usaha atau pun orang yang membuat  produk.
Untuk memudahkan peserta mudah memahami materi yang dibagikan, kadangkala Ridwan Abadi memberikan contoh. Seperti bisnis pakan ternak kucing.


Ridwan Abadi            : Bisnis ini siapa target pasarnya?
Peserta                      :  Kucinggggg…….!!!
Ridwan Abadi            :  Kucing..????!!! Seumur-umur, saya belum pernah lihat kucing punya/pegang
                                      uang.           
Peserta                      :  Ha..haha..haa…
                                    Pemilik kuciiiiinggggg……!!!
Ridwan Abadi            :  Artinya, target pasar usaha ini adalah pemilik kucing bukan kucing ya.


Ini salah satu contoh Ridwan Abadi memberi gambaran agara materi yang disampaikannya bisa dicerna serta dipahami oleh peserta. Namun, sehebat apapun materi yang diberikan kalau tidak dipraktekkan di lapangan, maka semuanya tidak akan membawa dampak perubahan naik omset pada bisnis yang sedang dijalankan. 











Rabu, 30 November 2016

INFO PELATIHAN

LKP Ganesha Gelar Pelatihan Untuk TKI


LKP Ganesha yang terletak di Jl Effendi 68 Kepanjen Malang dengan kode posnya 65163 adalah sebuah lembaga kursus dan pelatihan yang  usianya  sudah mencapai  35 tahun  pada 2017 nanti. Dalam usia yang tidak bisa dibilang muda,  tentunya LKP    Ganesha sudah memiliki banyak pengalaman juga punya banyak mitra.




LKP Ganesha juga memiliki cabang yang terletak di Jl. Prof M. Yamin Gg. 3 No 158 kota Malang (Depan Masjid An-Nur/ belakang Matahari), dekat pasar pesar. LKP Ganesha bukan hanya menerima siswa yang berasal dari masyarakat umum, tetapi juga merambah dunia TKI.


Sekitar bulan Pebruari/ Maret 2017 nanti, LKP Ganesha akan memberikan pelatihan menjahit secara gratis. Diperuntukkan bagi kalangan TKI Purna dan keluarga TKI yang masih bekerja di luar negeri, dimana pun tujuan negaranya.

LKP Ganesha yang  berdiri pada tahun 1982 ini,  menyediakan beberapa macam kursus. Di antaranya  menjahit, border, Bahasa Inggris, komputer, hantaran lamaran atau parcel, handmade, pendidikan kesetaraan paket B dan  C, pengetikan komputer, jasa menerjemahan Bahasa Inggris-Indonesia. Selain itu juga menyediakan taman baca untuk masyarakat.







Visi dari LKP Ganesha adalah : 
  • ·         Menyiapkan lembaga lembaga yang berkualitas dengan mengikuti perkembangan
  • ·         Meningkatkan kerjasama dengan semua unsure, baik dunia usaha dunia industri, serta seluruh              lembaga dan industri.
  • ·         Membangkitkan dan menggerakkan seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan SDM                  berketrampilan hidup, guna meraih masa depan yang lebih baik.
  • ·         Memotivasi masyarakat untuk berwawasan luas, berpikir bebas serta profesional diri.


Beberapa produk  yang telah dihasilkan LKP Ganesha, di antaranya baju batik, kebaya modern, mukenah, hantaran lamaran, korden, sarung bantal, taplak meja, tas dll.



 Dalam salah satu misinya untuk membangkitkan dan menggerakkan seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan SDM inilah, LKP Ganesha menggandeng  sebuah komunitas TKI yang bernama Zona TKI Kreatif .

Zona TKI Kreatif berdiri pada 2013 di Hong Kong. Pendiri dan pengurusnya adalah  peserta dan penyelenggara pelatihan berbasis self development yang sedang bekerja sebagai TKI. Visinya  merentas panjangnya masa kerja di luar negeri dan menciptakan kemandirian, sedangkan misinya adalah mengadakan studi magang/ pelatihan kewirausahaan langsung kepada para pelaku UKM di Tanah Air.




Fenomena yang terjadi dalam banyak pelatihan yang digelar untuk TKI, adalah dibagikannya bermacam materi,kiat-kiat, strategi menjadi wirausaha. Pelatihan itu sendiri bermacam bentuknya, dari yang gratis sampai diharuskan membeli tiket masuk untuk biaya pengadaan pelatihan.



Namun sayangnya, pelatihan itu belum memberikan hasil yang optimal karena masih banyak TKI  yang masih takut, ragu untuk melangkah mengaplikasikan ilmu yang didapatnya. Mengubah paradigma/mindset itu sangat penting, namun fakta di lapangan telah membuktikan tidak cukup dengan itu saja. Masih banyak hal lain yang dibutuhkan oleh mereka, seperti: pendampingan dan bimbingan ketika mereka ingin menerjuni sebuah usaha. Pendampingan dan bimbingan dibutuhkan bagi para TKI yang hendak memulai usahanya. Sehingga usaha tersebut bisa terarah.




Lalu, bagaimana dengan yang belum punya usaha? Dengan studi magang tersebut, mereka akan mendapatkan bermacam ide bisnis. Karena dalam studi itu ada sesi pencarian ide bisnis,  pemetaan daerah, managemen keuangan, marketing, dll.

Jadi, tidak lagi sekedar teori dalam ruang pelatihan, tetapi terjun langsung ke lapangan. Ketika menemukan kendala, saat itu juga mereka mendapat bimbingan/pengarahan dari pelaku bisnis/UKM yang menjadi mentornya. Ini adalah pembelajaran yang lebih efisien daripada  sekedar pelatihan yang diadakan dalam ruangan, tapi tidak praktek langsung tentang teori-teori yang diajarkan. Kenapa? Karena daya tangkap/tanggap setiap peserta tidak sama. Ada yang bisa cepat paham, tapi tak jarang pula  ada yang tidak paham-paham dengan materi yang disampaikan oleh narasumber. Dan bahkan, materi/teori yang diajarkan tidak cocok dengan daerah asal peserta.





Gayung bersambut! LKP Ganesha adalah salah satu lembaga pelatihan yang lebih menyukai pembelajaran/pelatihan berbasis praktek di lapangan. Hal ini juga akan diterapkan dalam pelatihan yang akan digelar sekitar bulan Pebruari/ Maret 2017 nanti.

 Meskipun pelatihan belum digelar, saat ini LKP Ganesha sudah merangkul beberapa TKI Purna untuk diberdayakan. Baik dari produksi maupun studi magang. Ini menjadi bukti, bahwa LKP Ganesha memang peduli dengan kemajuan TKI Purna.






Apa saja keuntungan ikut dalam pelatihan ini?

·         Peserta akan mendapat pelatihan secara gratis selama 10 kali pertemuan. Dimulai pada pukul          09.00- 16.00.
·         Peserta bisa konsultasi secara online meskipun pelatihan sudah selesai.
·    Peserta yang telah menguasai materi, baik berupa teori maupun praktek, bisa mengambil bahan mentah jahitan untuk dijahit di rumah.
·         Peserta bisa menjadi guru/instruktur setelah lulus ujian.
·    Meskipun pelatihan usai, LKP Ganesha  akan terus memonitor perkembangan peserta yang ikut dalam pelatihan tersebut.


Apa saja syarat-syarat agar bisa ikut pelatihan di LKP Ganesha? Berikut yang harus disiapkan :


  Photo copy  KTP dan identitas yang menunjukkan pernah bekerja ke luar negeri, masing-masing        
 2 lembar.
 Photo berwarna ukuran 3 x 4 ( 3 lembar )
 Photo copy KK 1 lembar
 Bawa kain
 Bawa alat tulis, penggaris segitiga, penggaris panjang, pensil, bolpoin, spidol merah , gunting,                          meteran, buku folio tipis ( bisa beli di LKP Ganesha)

Karena pelatihan ini sifatnya mandiri, maka pihak penyelenggara tidak menyediakan konsumi dan uang transportasi, tetapi peserta yang rumahnya jauh, bisa menginap di tempat penyelenggara.

Pelatihan mandiri? Apa maksudnya?
Maksudnya adalah, pelatihan ini tidak menyediakan banyak fasilitas. Peserta memang harus siap dan rela untuk mengeluarkan biaya untuk memenuhi kebutuhan yang tidak disediakan penyelenggara. Artinya, peserta harus mengeluarkan uang! Ya, uang! Dengan adanya uang yang dikeluarkan, peserta akan bersungguh-sungguh  belajar. Akan memanfaatkan moment tersebut dengan serius. Mereka tidak mau rugi. Tidak mau mengeluarkan uang dengan sia-sia.

Di Tanah Air, banyak pelatihan yang diadakan oleh dinas, instansi, lembaga, yayasan dan komunitas yang memberikan banyak fasilitas, seperti uang transportasi, makan enak,  gedung megah, ruang inap,dll. Kadang fasilitas yang diberikan ini dijadikan alasan peserta mengikutinya. Banyak yang ogah-ogahan belajar. Kenapa? Karena mereka berpikir pelatihan ini gratis!

Dan kebanyakan, setelah pelatihan, tidak ada tindakan konkrit di lapangan. Akhirnya, kegiatan peserta hanya mengikuti pelatihan demi pelatihan tak ubahnya seperti yang pernah mereka ikuti ketika masih di luar negeri. Kesannya, pelatihan itu digelar hanya untuk sekedar bahan laporan pada atasan, bahwa program A-Z telah dijalankan yang diikuti sekian peserta dengan memakan biaya yang tertera di buku anggaran.

Semua kembali kepada pribadi masing-masing. Mau selalu yang serba gratisan tapi tidak ada tindak kelanjutannya, atau siap selalu mengeluarkan biaya untuk ilmu yang akan didapatkan plus dengan tindakan nyatanya di lapangan ^--^

Senin, 07 November 2016

CATATAN AKTIFITAS DI KEPANJEN-MALANG

Terminal Budaya Dan Seni Di Talangagung,

 Menanti Sentuhan Anda

“ Tadi malam saya ke acara Terminal Budaya di terminal Talangagung pak,” kata saya kepada bagian koordinatornya yang kebetulan kami satu komunitas.
“Saya melihat di pintu masuk terminal Talangagung gelap, jadi banner besarnya tidak kelihatan. Kalau dikasih lampu akan lebih menarik pak. Dikasih sesuatu yang beda dari biasanya,” imbuh saya mengutarakan usulan.
“ Dana masih minim, belum bisa beli atribut. Semua atribut hasil saweran tim penyelenggara. Nanti kalau sudah ada dana, kita akan benahi pelan-pelan,” jawab teman saya.
“Kebutuhan apa saja yang belum ada di terminal budaya pak?”, kata saya melanjutkan pertanyaan.
“ Tenda, lampu hias, lampion untuk sekitar area, kursi dan meja untuk pengunjung bersantai, lampu sorot untuk atraksi panggung, sound dan panggung,” jawab teman saya.




Inilah percakapan singkat antara saya dengan Tri Harianto, seorang teman yang sama-sama menyukai dunia pemberdayaan. Kami bertemu di sebuah Komunitas MBA yang bermaskas di area Kepanjen (dekat Jalibar), tepatnya di Power Café ( depannya kantor pajak). Kami sering diskusi tentang banyak hal yang bersifat pemberdayaan.

Tri Harianto yang dulunya tinggal dan bekerja di Jakarta, dan saya yang baru pulang dari rantau, mencoba untuk sama-sama belajar dan melihat peluang yang bisa dikembangkan. Artinya, kami sama-sama masih baru di Kota Malang ini. Terutama saya, harus memulai segalanya dari nol.





Seperti diskusi di atas tadi, mengenai kegiatan/aktivitas budaya dan seni yang digelar untuk memanfaatkan terminal Talangagung  agar lebih berdayaguna. Memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar. Bukan hanya sebagai tempat membayar pajak (peron) bagi angkotan yang harus melalui rute itu, dan juga hanya sebagai tempat uji kendaraan saja.




Terminal Talangagung sangat luas. Banyak area kosong yang bisa dimanfaatkan, pun juga banyak bangunan kosong yang di beberapa tempat sudah mulai rusak karena tidak adanya perawatan. Toilet, pertokoan dan bangunan lainnya. Meskipun siang hari, terminal ini kelihatan sepi. Seperti tidak ada “kehidupan” di sana. Sungguh sangat disayangkan.


Saya membayangkan kondisi ini dengan di Hong Kong, dimana ruang kecil ukuran 1 x 1 meter persegi saja bisa dimanfaatkan dengan baik. Terlihat ada kehidupan disana, dan semua itu terjadi karena sebuah ide yang diupayakan untuk mewujud.


“Fenomena” ini  membuat saya teringat, betapa teman-teman di Hong Kong punya banyak ide, punya banyak kreativitas, punya  keinginan untuk bereksistensi diri, punya kemampuan kuat berbagi.  Punya semangat solidaritasnya luar biasa tinggi, apalagi yang berkenaan dengan perberdayaan SDM dan kreativitas. Mungkin, apa yang akan saya tuturkan nanti , bisa menjadi sebuah “wadah” untuk menyalurkan itu semua. Terlepas dari  daerah mana mereka berasal, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera, NTT, NTB, dll. Yang pasti, mereka berasal dari negara satu, yaitu Indonesia.


Kondisi inilah yang membuat prihatin  beberapa orang, yang akhirnya dari keprihatinan ini lahirlah gagasan “Terminal Budaya Malang Raya”. Mereka yang ada dibalik kegiatan ini adalah Esti Wulandari, Inda Cahya Nurilhuda, Wahid, Sunaryo dan Tri Harianto, serta LSM Cerdas Bangsa yang digawangi oleh Moelyono dan Rudi.

Berbagai atraksi budaya dan seni, ajang pameran hasil produksi kerajinan, serta makanan khas Malang Raya, ditampilkan dalam kegiatan/aktivitas Budaya dan Seni di terminal Talangagung ini. Kegiatan dimulai pukul 17.00- 22.00 setiap hari.


Selain budaya dan seni, kegiatan ini “mengusung” juga puluhan UKM Tangguh dari seluruh Malang Raya untuk mempromosikan segala usaha dan produk  yang mereka punya. Jadi, bila kita berkunjung ke sana, akan ada banyak menu makanan  dan minuman yang bisa kita nikmati. Tempatnnya luas, jadi kita tidak perlu berdesak-desakan seperti di pasar malam, yang untuk jalan saja sangat susah.


Sambil makan dan minum, kita bisa menyaksikan atraksi budaya dan seni yang berasal dari beberapa paguyuban. Ada reog, karawaitan, seni tari, dll.  Saya melihat beberapa anak-anak remaja yang suka dunia seni, sangat antusias  mengikuti atraksi demi atraksi. Setidaknya, dengan adanya Terminal Budaya dan Seni ini, hobi mereka tersalurkan.

Dan bila kita membawa anak-anak berkunjung, mereka bisa menikmati sepeda besar/becak-becakan yang bisa dinaikin  untuk beberapa orang, baik anak-anak maupun orang dewasa mengitari terminal Talangagung di sore dan malam hari.  Keliling area  bisa sambil makan/minum, bercengkrama dengan teman menikmati malam,  asyik sekali bukan?!


Selain itu, penyelenggara juga menyiapkan kegiatan untuk anak-anak yang suka dengan dunia menggambar. Salah satunya adalah mengajarkan tehnik mewarnai yang diperuntukkan bagi anak-anak pelaku UKM PKL. Tujuannya adalah agar mereka memiliki aktivitas positif  sejak dini,disaatorangtuanya berdagang/berjualan.  Karena dari dunia menggambar ini, kalau benar-benar ditekuni, kelak dikemudian hari akan sangat bermanfaat. Mereka bisa menghasilkan uang juga. Misal dengan ikut lomba menggambar/mewarnai gambar, menjadi guru menggambar, dll. Sangat produktif  bukan?! Kalau kursus, sudah berapa biayanya tuh!

Setiap kegiatan/aktivitas yang dilakukan baik oleh perseorangan maupun komunitas, pasti memiliki visi dan misi. Sama juga dengan kegiatan Terminal Budaya dan Seni ini. Visi yang mereka usung adalah agar UKM Malang Raya “mampu” bersaing di era global, juga menampilkan keunikan dari budaya Malang Raya dan memiliki komunitas yang prima. Selain itu Terminal Budaya Malang Raya memperkenalkan “sisi” lain dari budaya Malang Raya dengan berbagai atraksi yang ditampilkan setiap acara.



Sedang misinya adalah memberikan fasilitas-fasilitas dan kesempatan kepada para pelaku UKM Tangguh di Malang Raya agar dapat bereksistensi dalam usaha mempromosikan produk dan jasa yang mereka  punya. Serta memberikan peluang dalam meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat yang mau berusaha dan berkarya.

Seabrek kegiatan di Terminal Budaya dan Seni ini telah digelar, dari hasil saweran para penggagas dan penyelenggaranya. Dan mereka sadar masih banyak kekurangan disana-sininya. Namun tidak mengurangi semangat mereka mewujudkan impian untuk Kota Malang lebih berdaya dan berjaya, khususnya untuk area Talangagung dan sekitarnya.  Alangkah mulianya niat digelarnya Terminal Budaya dan Seni ini, yang diperuntukkan bagi  siapa saja yang ingin maju dan berkarya.






Mereka para penggagas dan penyelenggara terus berupaya memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada demi kemajuan bersama. Mungkin, ada di antara kita yang terketuk hati untuk ikut “mensupport” kegiatan ini baik secara moril maupun materiil. Ikut dalam kegiatan pemberdayaan dan berpartisipasi  memajukan daerah asal.







Seperti harapan dari Ibu Jumi’iyah, salah satu pelaku UKM PKL yang berjualan makanan dan minuman ketika saya ngobrol dengannya. Ia berkata,” Saya senang dengan adanya Terminal Budaya dan Seni yang ada di terminal Talangagung ini. Saya bisa dapat penghasilan tambahan dari sini. Saya berharap, ada yang mensupport kegiatan ini dengan menyediakan perlengkapan yang saat ini belum ada”.


Mari kita bersama-sama membangun harapan. Harapan adalah sebuah “percikan api” yang ada dalam diri setiap orang yang peduli akan hidupnya, peduli akan kehidupan di sekitarnya. Terminal Budaya dan Seni, menunggu sentuhan, polesan kreativitas dari Anda warga Malang Raya umumnya, Kepanjen khususnya. Baik yang ada di Tanah Air maupun yang sedang bekerja di luar negeri, dimanapun negara penempatannya. Mari sambung-menyambung, bergotong royong membangun Ibu Pertiwi tercinta.



*Catatan kunjungan ke Terminal Budaya dan Seni. Terminal Talangagung, kecamatan Kepanjen, kabupaten Malang : 23 Oktober 2016 *