“Saya lahir dari
keluarga yang bahagia dan lingkungan yang sangat sehat sekali. Tidak pernah
saya mendengar, orang tua, saudara-saudara maupun tetangga melakukan bully tapi
ketika saya ikut keluarga pindahan, saya malah jadi korban bully. Dibully sama
tetangga yang kaya raya tapi mulutnya gak berpendidikan. Mereka kalau ngomong
ngak ngaca ke diri mereka sendiri. Sewaktu kecil dihina hina dengan bahasa
verbal yang kasar. Dikata-katai, ngak bisa lulus sekolah SMP, nikah sama tukang
becak, embret ke Jakarta karena putus sekolah dan lain sebagainya. Di sekolah
saya juga mengalaminya, entahlah mungkin teman-teman sekolah merasa bully itu
adalah lelucon yang mengasyikan. Iiihh belum tentu kalau kamu jadi saya yang
jadi korban bully, masih bisa hidup sampai sekarang. Coba kalau masalah hidup
kalian, baik masalah ekonomi atau penghasilan, mungkin juga masalah keluarga
dan rumah tangga kalian jadi bahan ledekan. Masih bisakah bilang itu wajar?
Efek bully itu bisa bikin stres tau! Bahkan efek dari bully itu membuat saya
berpikir, saya tidak ingin menikah terlebih dahulu sebelum saya bisa membantu
orang tua dalam hal nafkah. Saya belum ingin menikah dulu sebelum saya
menyelesaikan pendidikan saya. Saya khawatir kalau menikah belum dalam keadaan
mapan, ketika punya anak saya khawatir anak-anak saya akan di bully juga oleh
kalian semua! Begitu saja saya masih dapat bully juga. Kira-kira bunyinya
seperti ini:
" Sudah dewasa,
yang lain anaknya sudah gede sudah mau sekolah, ini belum nikah juga karena gak
laku, malah gak ada temen cowok yang main ke rumah satupun, yang nampak jalan
bareng”.
" Wah kerja di
luar negeri terus duitnya buat kasur,atau mau jadi gubernur ya disana ?”
“Ngapain sekolah, sudah tua saja masih sekolah”.
“Lalu kapan kalian akan berhenti membully, apa
nunggu yang dibully atau kamu sendiri mati duluan!”…….
Sebuah status yang ditulis oleh seorang rekan saya di akun facebooknya. Ia saat ini bekerja menjadi BMI di Hong Kong,
meluahkan kekesalan yang selama ini dirasakannya akibat sebuah pembully-an.
Sakit hati, sedih, kecewa, marah, dan perasaan lainnya bercampur aduk
jadi satu.
Bullying berasal dari Bahasa Inggris yang artinya
adalah penindasan. Bisa
meliputi tindakan menghina mencaci dengan upaya mengintimidasi seseorang. Dan
bullying ini biasanya dilakukan dengan kesadaran penuh. Bagaimana ia berupaya
menjatuhkan seseorang dengan
penekanan-penekanan. Bullying adalah hasrat untuk menyakiti!
Mengatakan hal tidak
menyenangkan atau memanggil dengan julukan buruk, mengabaikan atau mengucilkan dengan tujuan tertentu, memukul, menendang, menjegal,menyakiti
secara fisik, mengatakan kebohongan atau gunjingan keliru mengenal seseorang
adalah hal-hal yang sudah masuk ranah bullying, dan ini dilakukan berulang
kali.
Bagaimana kita bisa
tahu awal terjadinya bullying? Kasak- kusuk atau gossip merupakan perilaku awal yang dilakukan pelaku
bully dan ini adalah hal yang paling mudah dilakukan. Bullying bisa
terjadi dimana saja, kapan saja , terhadap siapa saja termasuk kalangan BMI,
dan ini adalah fakta !
Hampir setiap hari,
saya melihat suguhan dari mereka yang saling membully di media sosial
(medsos). Pemicunya pun bermacam-macam.
Dari masalah politik, keyakinan, pekerjaan,cara berbusana, mengisi waktu libur,
dll. Akhir dari drama bully-membully ini terputuslah pertemanan di antara mereka, dan langkah
selanjutnya adalah saling memblokir akun
masing-masing. Sungguh sangat disayangkan.
Adakah manfaat dari
saling membully ? Pertanyaan ini sering mengganggu pikiran saya sebagai
seseorang yang pernah menjalani hidup sebagai BMI. Dimana saya dan mereka datang dari negara yang sama,
negara tujuan yang sama, niat yang sama pula untuk menjemput rezeki, bahkan
terkadang dalam komunitas yang sama. Hubungan baik hancur karena bully. Hidup
jadi terkotak-kotak.
Jangan berkumpul dengan
si A. Jangan berteman dengan si B. Jangan belajar dengan si C, dan seterusnya.
Semua saling berlomba untuk terlihat paling menonjol, paling pintar, paling
banyak pendukungnya, paling wah dan paling lainnya. Bangga apabila ranting
like-nya banyak. Senang melihat komentatornya
hingga ratusan bahkan ribuan. Ironis!
Hal semacam ini, dulu
ketika saya masih ada di antara mereka hampir tidak ada acara bully membully .
Setiap berbedaan diselesaikan dengan penuh kekeluargaan. Saling memaafkan dan
menjaga kerukunan. Beda dengan kondisi
sekarang ini, sedikit-sedikit meluncurkan aksi bully. Saya sangat prihatin
dengan keadaan ini. Keprihatinan ini membuat saya mencari info sebanyak-banyaknya
keburukan dibalik bulyying, di antaranya :
·
Bullying bertujuan untuk mempermainkan aib/kekurangan seseorang
dihadapan publik.
·
Menjadi pemicu timbulnya masalah.
·
Sebagai bentuk keangkuhan pelaku kepada
dirinya sendiri.
·
Dan
munculnya bullying itu dari hati yang
penuh dengan unsur-unsur keburukan.
Apakah kita adalah
pribadi yang demikian? Mempermainkan perasaan orang, pemicu masalah,pribadi
yang angkuh? Bukankah kedatangan kita untuk bekerja? Memperbaiki ekonomi
keluarga, mencari modal usaha, mencari pengalaman?
Kalau saya cermati
hal-hal yang dijadikan bahan bully-an
teman-teman sesama BMI,sebenarnya tidak
ada sangkut pautnya dengan pekerjaan mereka di sana. Dan juga tidak ada sangkut
pautnya dengan kelangsungan hidup mereka setelah pulang ke Tanah Air. Tidak membuat penghasilan bertambah, tidak
menumbuhkan kedewasaan, tidak menciptakan kerukunan. Yang justru ada adalah
bertambahnya kebencian, timbulnya permusuhan, saling curiga-mencurigai,
berkurangnya kestabilan emosi, berkurangnya konsentrasi dalam bekerja, bahkan
kita bisa menjadi seorang pembunuh! Ya, membunuh karakter juga membunuh kehidupan seseorang. Bullying
itu kejam!
Sekembalinya ke Tanah
Air, kita pun tidak mendapatkan apa-apa dari bullying. Karena kita akan ditarik
kepada permasalahan kebutuhan hidup. Bagaimana dapur tetap mengepul, bagaimana
anak tetap sekolah, bagaimana usaha tetap jalan dan berkembang dan lain
sebagainya. Tidak ada celah waktu memikirkan lainnya. Jangankan membully,
membuka akun facebook pun sudah tidak ada waktu. Kalau pun ada waktu, rasa
malas lebih sering menghinggapi.
Yang dibutuhkan di
Tanah Air bukanlah pandai atau hebatnya
kita dalam membully, dimana karena bully-an
tersebut kehidupan seseorang jadi hancur berantakan bahkan sampai
kehilangan nyawa. Sahabat, mari kita luangkan waktu melongok ke dalam diri. Agar
kita tidak terperosok semakin jauh ke hal-hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain, baik disengaja
maupun tidak disengaja. Kita harus pandai mengelola emosi bukan?
* Dimut Koran Berita Indonesia, edisi Juli 2017 *

Tidak ada komentar:
Posting Komentar