Jumat, 13 Januari 2017

Juru Parkir Pasar Besar Yang Mengecewakan










Sekitar jam 10.00-12.00 saya dan anak saya memakirkan sepeda motor di kawasan pasar besar Malang. Sekitar 3 toko dari deretan Toko Masa Jaya. Setelah berbelanja barang-barang yang kami perlukan, kamipun bergegas pulang karena harus segera mengunjungi salah satu keluarga di Bululawang yang menggelar hajatan.








Saat hendak membayar karcis parkir, anak saya menemukan potongan salah satu bagian kendaraannya telah rusak ada di dasbor sebelah kanan.










Saya    : " Apa itu Id?"
Anak   : " Ini lho ma, yang bagian depan. Gunanya untuk penyangga kalau sepeda jatuh."
Saya    : "Lho! Kok bisa rusak? Coba tanyakan pada tukang parkirnya."










Akhirnya kami berdua menunggu juru parkir datang menghampiri kami di tengah teriknya matahari. Setelah dia mendekat, kami tanyakan perihal kerusakan tersebut dengan menunjukkan potongannya yang ditaruh di bagian depan (dasbor sebelah kanan) tadi.








Anak                 : " Pak, ini kok rusak? Kenapa?"
Juru Parkir         : "Gak tahu!"  ( Dia menjawab dengan ketus).
Saya                  : " Lho, kok tidak tahu? Bukannya sampean yang menjaga di sini?"
Juru parkir         : " Iya, tapi saya tidak tahu!" ( Masih dengan sikap tidak bersahabat)
Saya                  : " Sampean yang jaga di sini mestinya tahu keluar masuknya sepeda motor yang diparkir.
                              kan sampean yang mengeluarkan karcis parkir".
Juru parkir         : " Iya, tapi saya tidak tahu!" ( Sikapnya tambah ngotot. Tidak menunjukkan rasa bersalah).
Anak                 : " Lho, yo opo sih pak! Terus iki piye? Aku parkir ki mbayar pak! Pedaku mrene utuh,
                             saiki kok rusak?"
Juru parkir         : " Saya gak tahu! Sampean  jangan komplen ke saya ! Sampean bisa komplen ke nomor
                             ini!" ( Masih dengan sikap yang ketus, menunjukkan bahwa dia tidak mau disalahkan).
Anak                : " Jenenge sampean sopo?"
Juru parkir        : " Iki jenengku!" ( Sambil membusungkan dada menunjukkan nama yang ada di rompi
                            seragam juru parkir).
Saya                : " Hemm, orang ini sikapnya".
                           
Anak                : " Ayo ma". ( Anak saya memutar kendaraannya untuk pulang).
Juru parkir        : " Bayar dulu!" ( Dengan sikap ketus dia meminta uang parkir.)
Anak                : " Pedaku wes rusak, sampean sik njaok bayar!"
Juru parkir       : " Aku gak tahu! Sampean kudu bayar!" ( Sikapnya makin kasar, sampai ada sesama juru
                           parkir datang menghampiri. Mungkin bermaksud melerai).






Saya buka dompet dan mengeluarkan uang Rp.2000 dan memberikannya ke juru parkir itu meskipun anak saya melarangnya. Dalam pemikiran saya, kalau kita parkir, ada tanggungjawab yang harus dikeluarkan oleh si pemarkir dan saya tidak mau lepas dari tanggungjawab tersebut. Meskipun kendaraan yang saya dan anak saya parkir rusak dan tidak diketahui sebabnya.

Sikap juru parkir itu, sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Jangankan bertanggungjawab, meminta maaf saja tidak. Sikap seperti ini akan terus terulang bila dibiarkan. Dia sebagai juru parkir tidak memberikan pelayanan yang aman, juga tidak bisa bersikap ramah.




Lain kali, bila parkir di sana lagi dan ada kerusakan pada kendaraan yang diparkir, jawaban dan sikap yang diberikan juru parkir terhadap pengguna jasa juru parkir akan sama. Lalu, siapa yang bertanggungjawab atas kerusakan kendaraan yang diparkir kalau juru parkir yang ditugaskan tidak bisa bertanggungjawab? Itu artinya sama saja dengan si pemarkir menyerahkan kendaraannya untuk dirusakkan, baik sengaja maupun tidak sengaja.






Lalu, apa gunanya ada juru parkir yang sudah diatur oleh pemerintah kota Malang dengan memberinya karcis restribusi parkir di tepi jalan umum? Dari setiap karcis parkir harus membayar Rp. 2000. Apakah hanya untuk sekedar kejar setoran saja?





Secara umum, orang memarkirkan kendaraannya adalah karena untuk sebuah keamanan. Mereka mempercayakan kepada juru parkir yang sedang bertugas. Kalau ternyata tidak aman, untuk apa ada juru parkir? Untuk apa harus bayar? Ditambah sikap juru parkir yang kasar .

Saiful, adalah salah satu contoh juru parkir yang membuat konsumen kecewa. Dia tidak melayani konsumen dengan sikap yang baik. Ketika ada masalah, dia lari dari tanggungjawab. Tidak ada niat meminta maaf atas ketidaknyaman yang tercipta, baik disengaja maupun tidak. Baik diketahuinya atau pun tidak. Dia hanya mementingkan urusannya sendiri, yang mungkin hanya semata-mata kejar setoran sebanyak-banyaknya!

Tidak semua konsumen yang komplen ingin minta ganti rugi, tetapi lebih pada ingin mengetahui kronologis kejadiannya.




Pasar Besar, 13 Januari 2017






Tidak ada komentar:

Posting Komentar