Senin, 07 November 2016

CATATAN AKTIFITAS DI KEPANJEN-MALANG

Terminal Budaya Dan Seni Di Talangagung,

 Menanti Sentuhan Anda

“ Tadi malam saya ke acara Terminal Budaya di terminal Talangagung pak,” kata saya kepada bagian koordinatornya yang kebetulan kami satu komunitas.
“Saya melihat di pintu masuk terminal Talangagung gelap, jadi banner besarnya tidak kelihatan. Kalau dikasih lampu akan lebih menarik pak. Dikasih sesuatu yang beda dari biasanya,” imbuh saya mengutarakan usulan.
“ Dana masih minim, belum bisa beli atribut. Semua atribut hasil saweran tim penyelenggara. Nanti kalau sudah ada dana, kita akan benahi pelan-pelan,” jawab teman saya.
“Kebutuhan apa saja yang belum ada di terminal budaya pak?”, kata saya melanjutkan pertanyaan.
“ Tenda, lampu hias, lampion untuk sekitar area, kursi dan meja untuk pengunjung bersantai, lampu sorot untuk atraksi panggung, sound dan panggung,” jawab teman saya.




Inilah percakapan singkat antara saya dengan Tri Harianto, seorang teman yang sama-sama menyukai dunia pemberdayaan. Kami bertemu di sebuah Komunitas MBA yang bermaskas di area Kepanjen (dekat Jalibar), tepatnya di Power Café ( depannya kantor pajak). Kami sering diskusi tentang banyak hal yang bersifat pemberdayaan.

Tri Harianto yang dulunya tinggal dan bekerja di Jakarta, dan saya yang baru pulang dari rantau, mencoba untuk sama-sama belajar dan melihat peluang yang bisa dikembangkan. Artinya, kami sama-sama masih baru di Kota Malang ini. Terutama saya, harus memulai segalanya dari nol.





Seperti diskusi di atas tadi, mengenai kegiatan/aktivitas budaya dan seni yang digelar untuk memanfaatkan terminal Talangagung  agar lebih berdayaguna. Memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar. Bukan hanya sebagai tempat membayar pajak (peron) bagi angkotan yang harus melalui rute itu, dan juga hanya sebagai tempat uji kendaraan saja.




Terminal Talangagung sangat luas. Banyak area kosong yang bisa dimanfaatkan, pun juga banyak bangunan kosong yang di beberapa tempat sudah mulai rusak karena tidak adanya perawatan. Toilet, pertokoan dan bangunan lainnya. Meskipun siang hari, terminal ini kelihatan sepi. Seperti tidak ada “kehidupan” di sana. Sungguh sangat disayangkan.


Saya membayangkan kondisi ini dengan di Hong Kong, dimana ruang kecil ukuran 1 x 1 meter persegi saja bisa dimanfaatkan dengan baik. Terlihat ada kehidupan disana, dan semua itu terjadi karena sebuah ide yang diupayakan untuk mewujud.


“Fenomena” ini  membuat saya teringat, betapa teman-teman di Hong Kong punya banyak ide, punya banyak kreativitas, punya  keinginan untuk bereksistensi diri, punya kemampuan kuat berbagi.  Punya semangat solidaritasnya luar biasa tinggi, apalagi yang berkenaan dengan perberdayaan SDM dan kreativitas. Mungkin, apa yang akan saya tuturkan nanti , bisa menjadi sebuah “wadah” untuk menyalurkan itu semua. Terlepas dari  daerah mana mereka berasal, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera, NTT, NTB, dll. Yang pasti, mereka berasal dari negara satu, yaitu Indonesia.


Kondisi inilah yang membuat prihatin  beberapa orang, yang akhirnya dari keprihatinan ini lahirlah gagasan “Terminal Budaya Malang Raya”. Mereka yang ada dibalik kegiatan ini adalah Esti Wulandari, Inda Cahya Nurilhuda, Wahid, Sunaryo dan Tri Harianto, serta LSM Cerdas Bangsa yang digawangi oleh Moelyono dan Rudi.

Berbagai atraksi budaya dan seni, ajang pameran hasil produksi kerajinan, serta makanan khas Malang Raya, ditampilkan dalam kegiatan/aktivitas Budaya dan Seni di terminal Talangagung ini. Kegiatan dimulai pukul 17.00- 22.00 setiap hari.


Selain budaya dan seni, kegiatan ini “mengusung” juga puluhan UKM Tangguh dari seluruh Malang Raya untuk mempromosikan segala usaha dan produk  yang mereka punya. Jadi, bila kita berkunjung ke sana, akan ada banyak menu makanan  dan minuman yang bisa kita nikmati. Tempatnnya luas, jadi kita tidak perlu berdesak-desakan seperti di pasar malam, yang untuk jalan saja sangat susah.


Sambil makan dan minum, kita bisa menyaksikan atraksi budaya dan seni yang berasal dari beberapa paguyuban. Ada reog, karawaitan, seni tari, dll.  Saya melihat beberapa anak-anak remaja yang suka dunia seni, sangat antusias  mengikuti atraksi demi atraksi. Setidaknya, dengan adanya Terminal Budaya dan Seni ini, hobi mereka tersalurkan.

Dan bila kita membawa anak-anak berkunjung, mereka bisa menikmati sepeda besar/becak-becakan yang bisa dinaikin  untuk beberapa orang, baik anak-anak maupun orang dewasa mengitari terminal Talangagung di sore dan malam hari.  Keliling area  bisa sambil makan/minum, bercengkrama dengan teman menikmati malam,  asyik sekali bukan?!


Selain itu, penyelenggara juga menyiapkan kegiatan untuk anak-anak yang suka dengan dunia menggambar. Salah satunya adalah mengajarkan tehnik mewarnai yang diperuntukkan bagi anak-anak pelaku UKM PKL. Tujuannya adalah agar mereka memiliki aktivitas positif  sejak dini,disaatorangtuanya berdagang/berjualan.  Karena dari dunia menggambar ini, kalau benar-benar ditekuni, kelak dikemudian hari akan sangat bermanfaat. Mereka bisa menghasilkan uang juga. Misal dengan ikut lomba menggambar/mewarnai gambar, menjadi guru menggambar, dll. Sangat produktif  bukan?! Kalau kursus, sudah berapa biayanya tuh!

Setiap kegiatan/aktivitas yang dilakukan baik oleh perseorangan maupun komunitas, pasti memiliki visi dan misi. Sama juga dengan kegiatan Terminal Budaya dan Seni ini. Visi yang mereka usung adalah agar UKM Malang Raya “mampu” bersaing di era global, juga menampilkan keunikan dari budaya Malang Raya dan memiliki komunitas yang prima. Selain itu Terminal Budaya Malang Raya memperkenalkan “sisi” lain dari budaya Malang Raya dengan berbagai atraksi yang ditampilkan setiap acara.



Sedang misinya adalah memberikan fasilitas-fasilitas dan kesempatan kepada para pelaku UKM Tangguh di Malang Raya agar dapat bereksistensi dalam usaha mempromosikan produk dan jasa yang mereka  punya. Serta memberikan peluang dalam meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat yang mau berusaha dan berkarya.

Seabrek kegiatan di Terminal Budaya dan Seni ini telah digelar, dari hasil saweran para penggagas dan penyelenggaranya. Dan mereka sadar masih banyak kekurangan disana-sininya. Namun tidak mengurangi semangat mereka mewujudkan impian untuk Kota Malang lebih berdaya dan berjaya, khususnya untuk area Talangagung dan sekitarnya.  Alangkah mulianya niat digelarnya Terminal Budaya dan Seni ini, yang diperuntukkan bagi  siapa saja yang ingin maju dan berkarya.






Mereka para penggagas dan penyelenggara terus berupaya memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada demi kemajuan bersama. Mungkin, ada di antara kita yang terketuk hati untuk ikut “mensupport” kegiatan ini baik secara moril maupun materiil. Ikut dalam kegiatan pemberdayaan dan berpartisipasi  memajukan daerah asal.







Seperti harapan dari Ibu Jumi’iyah, salah satu pelaku UKM PKL yang berjualan makanan dan minuman ketika saya ngobrol dengannya. Ia berkata,” Saya senang dengan adanya Terminal Budaya dan Seni yang ada di terminal Talangagung ini. Saya bisa dapat penghasilan tambahan dari sini. Saya berharap, ada yang mensupport kegiatan ini dengan menyediakan perlengkapan yang saat ini belum ada”.


Mari kita bersama-sama membangun harapan. Harapan adalah sebuah “percikan api” yang ada dalam diri setiap orang yang peduli akan hidupnya, peduli akan kehidupan di sekitarnya. Terminal Budaya dan Seni, menunggu sentuhan, polesan kreativitas dari Anda warga Malang Raya umumnya, Kepanjen khususnya. Baik yang ada di Tanah Air maupun yang sedang bekerja di luar negeri, dimanapun negara penempatannya. Mari sambung-menyambung, bergotong royong membangun Ibu Pertiwi tercinta.



*Catatan kunjungan ke Terminal Budaya dan Seni. Terminal Talangagung, kecamatan Kepanjen, kabupaten Malang : 23 Oktober 2016 *

4 komentar: