Terminal Budaya Dan Seni Di Talangagung,
Menanti Sentuhan Anda
“ Tadi malam saya ke
acara Terminal Budaya di terminal Talangagung pak,” kata saya kepada bagian
koordinatornya yang kebetulan kami satu komunitas.
“Saya melihat di pintu
masuk terminal Talangagung gelap, jadi banner besarnya tidak kelihatan. Kalau
dikasih lampu akan lebih menarik pak. Dikasih sesuatu yang beda dari biasanya,”
imbuh saya mengutarakan usulan.
“ Dana masih minim, belum
bisa beli atribut. Semua atribut hasil saweran tim penyelenggara. Nanti kalau
sudah ada dana, kita akan benahi pelan-pelan,” jawab teman saya.
“Kebutuhan apa saja
yang belum ada di terminal budaya pak?”, kata saya melanjutkan pertanyaan.
“ Tenda, lampu hias, lampion
untuk sekitar area, kursi dan meja untuk pengunjung bersantai, lampu sorot
untuk atraksi panggung, sound dan panggung,” jawab teman saya.
Inilah
percakapan singkat antara saya dengan Tri Harianto, seorang teman yang
sama-sama menyukai dunia pemberdayaan. Kami bertemu di sebuah Komunitas MBA
yang bermaskas di area Kepanjen (dekat Jalibar), tepatnya di Power Café (
depannya kantor pajak). Kami sering diskusi tentang banyak hal yang bersifat
pemberdayaan.
Tri
Harianto yang dulunya tinggal dan bekerja di Jakarta, dan saya yang baru pulang
dari rantau, mencoba untuk sama-sama belajar dan melihat peluang yang bisa
dikembangkan. Artinya, kami sama-sama masih baru di Kota Malang ini. Terutama
saya, harus memulai segalanya dari nol.
Seperti diskusi di atas tadi, mengenai kegiatan/aktivitas budaya dan seni yang digelar untuk memanfaatkan terminal Talangagung agar lebih berdayaguna. Memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar. Bukan hanya sebagai tempat membayar pajak (peron) bagi angkotan yang harus melalui rute itu, dan juga hanya sebagai tempat uji kendaraan saja.
Terminal Talangagung sangat luas. Banyak area kosong yang bisa dimanfaatkan, pun juga banyak bangunan kosong yang di beberapa tempat sudah mulai rusak karena tidak adanya perawatan. Toilet, pertokoan dan bangunan lainnya. Meskipun siang hari, terminal ini kelihatan sepi. Seperti tidak ada “kehidupan” di sana. Sungguh sangat disayangkan.
Seperti diskusi di atas tadi, mengenai kegiatan/aktivitas budaya dan seni yang digelar untuk memanfaatkan terminal Talangagung agar lebih berdayaguna. Memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar. Bukan hanya sebagai tempat membayar pajak (peron) bagi angkotan yang harus melalui rute itu, dan juga hanya sebagai tempat uji kendaraan saja.
Terminal Talangagung sangat luas. Banyak area kosong yang bisa dimanfaatkan, pun juga banyak bangunan kosong yang di beberapa tempat sudah mulai rusak karena tidak adanya perawatan. Toilet, pertokoan dan bangunan lainnya. Meskipun siang hari, terminal ini kelihatan sepi. Seperti tidak ada “kehidupan” di sana. Sungguh sangat disayangkan.
Saya membayangkan kondisi ini dengan di Hong Kong, dimana ruang kecil ukuran 1 x 1 meter persegi saja bisa dimanfaatkan dengan baik. Terlihat ada kehidupan disana, dan semua itu terjadi karena sebuah ide yang diupayakan untuk mewujud.
Kondisi inilah yang membuat prihatin beberapa orang, yang akhirnya dari keprihatinan ini lahirlah gagasan “Terminal Budaya Malang Raya”. Mereka yang ada dibalik kegiatan ini adalah Esti Wulandari, Inda Cahya Nurilhuda, Wahid, Sunaryo dan Tri Harianto, serta LSM Cerdas Bangsa yang digawangi oleh Moelyono dan Rudi.
Berbagai
atraksi budaya dan seni, ajang pameran hasil produksi kerajinan, serta makanan
khas Malang Raya, ditampilkan dalam kegiatan/aktivitas Budaya dan Seni di
terminal Talangagung ini. Kegiatan dimulai pukul 17.00- 22.00 setiap hari.
Selain budaya dan seni, kegiatan ini “mengusung” juga puluhan UKM Tangguh dari seluruh Malang Raya untuk mempromosikan segala usaha dan produk yang mereka punya. Jadi, bila kita berkunjung ke sana, akan ada banyak menu makanan dan minuman yang bisa kita nikmati. Tempatnnya luas, jadi kita tidak perlu berdesak-desakan seperti di pasar malam, yang untuk jalan saja sangat susah.
Sambil makan dan minum, kita bisa menyaksikan atraksi budaya dan seni yang berasal dari beberapa paguyuban. Ada reog, karawaitan, seni tari, dll. Saya melihat beberapa anak-anak remaja yang suka dunia seni, sangat antusias mengikuti atraksi demi atraksi. Setidaknya, dengan adanya Terminal Budaya dan Seni ini, hobi mereka tersalurkan.
Selain budaya dan seni, kegiatan ini “mengusung” juga puluhan UKM Tangguh dari seluruh Malang Raya untuk mempromosikan segala usaha dan produk yang mereka punya. Jadi, bila kita berkunjung ke sana, akan ada banyak menu makanan dan minuman yang bisa kita nikmati. Tempatnnya luas, jadi kita tidak perlu berdesak-desakan seperti di pasar malam, yang untuk jalan saja sangat susah.
Sambil makan dan minum, kita bisa menyaksikan atraksi budaya dan seni yang berasal dari beberapa paguyuban. Ada reog, karawaitan, seni tari, dll. Saya melihat beberapa anak-anak remaja yang suka dunia seni, sangat antusias mengikuti atraksi demi atraksi. Setidaknya, dengan adanya Terminal Budaya dan Seni ini, hobi mereka tersalurkan.
Dan
bila kita membawa anak-anak berkunjung, mereka bisa menikmati sepeda besar/becak-becakan
yang bisa dinaikin untuk beberapa orang,
baik anak-anak maupun orang dewasa mengitari terminal Talangagung di sore dan
malam hari. Keliling area bisa sambil makan/minum, bercengkrama dengan
teman menikmati malam, asyik sekali
bukan?!
Selain itu, penyelenggara juga menyiapkan kegiatan untuk anak-anak yang suka dengan dunia menggambar. Salah satunya adalah mengajarkan tehnik mewarnai yang diperuntukkan bagi anak-anak pelaku UKM PKL. Tujuannya adalah agar mereka memiliki aktivitas positif sejak dini,disaatorangtuanya berdagang/berjualan. Karena dari dunia menggambar ini, kalau benar-benar ditekuni, kelak dikemudian hari akan sangat bermanfaat. Mereka bisa menghasilkan uang juga. Misal dengan ikut lomba menggambar/mewarnai gambar, menjadi guru menggambar, dll. Sangat produktif bukan?! Kalau kursus, sudah berapa biayanya tuh!
Setiap
kegiatan/aktivitas yang dilakukan baik oleh perseorangan maupun komunitas,
pasti memiliki visi dan misi. Sama juga dengan kegiatan Terminal Budaya dan
Seni ini. Visi yang mereka usung adalah agar UKM Malang Raya “mampu”
bersaing di era global, juga menampilkan keunikan dari budaya Malang Raya dan
memiliki komunitas yang prima. Selain itu Terminal Budaya Malang Raya
memperkenalkan “sisi” lain dari budaya Malang Raya dengan berbagai atraksi
yang ditampilkan setiap acara.
Sedang misinya adalah memberikan fasilitas-fasilitas dan kesempatan kepada para pelaku UKM Tangguh di Malang Raya agar dapat bereksistensi dalam usaha mempromosikan produk dan jasa yang mereka punya. Serta memberikan peluang dalam meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat yang mau berusaha dan berkarya.
Sedang misinya adalah memberikan fasilitas-fasilitas dan kesempatan kepada para pelaku UKM Tangguh di Malang Raya agar dapat bereksistensi dalam usaha mempromosikan produk dan jasa yang mereka punya. Serta memberikan peluang dalam meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat yang mau berusaha dan berkarya.
Seabrek
kegiatan di Terminal Budaya dan Seni ini telah digelar, dari hasil saweran para
penggagas dan penyelenggaranya. Dan mereka sadar masih banyak kekurangan
disana-sininya. Namun tidak mengurangi semangat mereka mewujudkan impian untuk
Kota Malang lebih berdaya dan berjaya, khususnya untuk area Talangagung dan
sekitarnya. Alangkah mulianya niat
digelarnya Terminal Budaya dan Seni ini, yang diperuntukkan bagi siapa saja yang ingin maju dan berkarya.
Mereka para penggagas dan penyelenggara terus berupaya memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada demi kemajuan bersama. Mungkin, ada di antara kita yang terketuk hati untuk ikut “mensupport” kegiatan ini baik secara moril maupun materiil. Ikut dalam kegiatan pemberdayaan dan berpartisipasi memajukan daerah asal.
Mereka para penggagas dan penyelenggara terus berupaya memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada demi kemajuan bersama. Mungkin, ada di antara kita yang terketuk hati untuk ikut “mensupport” kegiatan ini baik secara moril maupun materiil. Ikut dalam kegiatan pemberdayaan dan berpartisipasi memajukan daerah asal.
Seperti
harapan dari Ibu Jumi’iyah, salah satu pelaku UKM PKL yang berjualan makanan
dan minuman ketika saya ngobrol dengannya. Ia berkata,” Saya senang dengan
adanya Terminal Budaya dan Seni yang ada di terminal Talangagung ini. Saya bisa
dapat penghasilan tambahan dari sini. Saya berharap, ada yang mensupport
kegiatan ini dengan menyediakan perlengkapan yang saat ini belum ada”.
Mari kita bersama-sama membangun harapan. Harapan adalah sebuah “percikan api” yang ada dalam diri setiap orang yang peduli akan hidupnya, peduli akan kehidupan di sekitarnya. Terminal Budaya dan Seni, menunggu sentuhan, polesan kreativitas dari Anda warga Malang Raya umumnya, Kepanjen khususnya. Baik yang ada di Tanah Air maupun yang sedang bekerja di luar negeri, dimanapun negara penempatannya. Mari sambung-menyambung, bergotong royong membangun Ibu Pertiwi tercinta.
Mari kita bersama-sama membangun harapan. Harapan adalah sebuah “percikan api” yang ada dalam diri setiap orang yang peduli akan hidupnya, peduli akan kehidupan di sekitarnya. Terminal Budaya dan Seni, menunggu sentuhan, polesan kreativitas dari Anda warga Malang Raya umumnya, Kepanjen khususnya. Baik yang ada di Tanah Air maupun yang sedang bekerja di luar negeri, dimanapun negara penempatannya. Mari sambung-menyambung, bergotong royong membangun Ibu Pertiwi tercinta.
*Catatan
kunjungan ke Terminal Budaya dan Seni. Terminal Talangagung, kecamatan
Kepanjen, kabupaten Malang : 23 Oktober 2016 *










Keren
BalasHapusKeren
BalasHapusKeren
BalasHapusmakasih. semoga bermanfaat
BalasHapus