Rabu, 01 Mei 2013

Kehidupan

Sadar sesadarnya bahwa untuk mendapatkan sebuah hasil selalu ada proses yang harus dilalui, baik suka maupun duka, diinginkan ataupun tidak. Tidak bisa ditawar lagi, sudah melekat dan harus dijalankan. Apapun bentuk dan namanya.

Dalam pencapaian sebuah harapan, dibutuhkan banyak hal bahkan harus senantiasa siap terpuruk! Sedih, kecewa, marah, khawatir pasti ada. Rasa-rasa yang selalu mewarnai kehidupan anak manusia. Rasa-rasa yang menjadi dasar sebuah tindakan baik negatif maupun positif, halal maupun haram.

Pro dan kontra, saling menyudutkan, menyalahkan ataupun berdiskusi mencari solusi adalah  bumbu  sebuah proses  pencapaian dan pencarian. Ego-ego dalam diri bermunculan.Semua bisa menjadi kacau ketika tak mampu lagi mengendalikan.

Ketika pencapaian tak sesuai harapan, ada api yang bergemuruh dalam dada, ada gelombang ombak yang datang bergulung siap menelan apa saja. Pertandingan tengah dimulai. Baku hantam dalam diri tengah seru bergema.

Oh....kehidupan. Engkau tetap berjalan. Engkau tetap gagah berjalan dengan perkasa. Engkau tak peduli apapun rasa, ego yang bergejolak dalam dada. Yang engkau tahu, jalan!
Yah, kehidupan terus berjalan. Kehidupan terus bergerak. Kehidupan memang edentik dengan gerak. Siapa yang hanya diam, siaplah untuk tenggelam. Siapa yang acuh pada kehidupan, siaplah untuk terombang-ambingkan dan siapa yang peduli pada kehidupan, siaplah menaiki panggung kemenangan.

Rabu, 13 Maret 2013

Aku Malu Padamu Tuhan


Salah satu buku favorit saya adalah buku diskusi tasawuf modern karya Agus Mustofa. Penulis ini banyak membahas ayat-ayat suci Al-qur'an dengan bahasa yang mudah dipahami dan contoh-contoh konkrit kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Entah buku yang ke berapa, saya lupa. Yang pasti, saya memang mengoleksi buku karya Agus Mustofa. Dari buku tasawuf ini, saya banyak mendapatkan ilmu, wawasan dan pengetahuan, bahkan jawaban dari sebuah pertanyaan yang bertahun-tahun lalu saya sering pertanyakan. Siapa sangka, dari hanya sekedar membaca buku, solusi itu saya dapatkan.

Agus Mustofa selalu mengajarkan dalam setiap judul bukunya, bahwa belajar itu ada dua cara, yaitu belajar pada ayat-ayat Qauliyah dan ayat-ayat Kauniyah. Tidak mudah pada awalnya untuk memahami kalimat ini. Butuh pengulangan berkali-kali agar mengerti. Ternyata, untuk memahami sesuatu memang dibutuhkan proses, bukan "mak cling" langsung paham. Terkadang, kita  harus mengalami sendiri kejadian yang bisa membuat [baca: menuntun] kita pada sebuah pemahaman. Sungguh salah kaprah [meminjam bahasa Agus Mustofa], kalau kita hanya membaca sekali lalu merasa sudah tahu. Tahu belum tentu mengerti. Mengerti belum tentu paham!

Pada salah satu judul buku "Bersatu Dengan Allah", saya mendapati berkali kalimat " Allah dekat dengan kita, bahkan lebih dekat dari urat leher kita". Awalnya hanya menjadi sebuah pengetahuan saja, sekedar tahu! Bahwa Allah itu dekat! Namun kenapa kedekatan itu tidak membawa dampak apa-apa? Sering kali saya masih merasa "sendiri".Benarkah saya sendirian di dunia ini? Tidak!

Saya punya teman, orang tua, anak, mitra kerja dll. Tetapi saya masih merasa sendiri. Apalagi disaat menghadapi banyak problema yang mau tak mau harus diselesaikan, bahkan terkadang sangat menguras energi baik lahir maupun batin. Mungkin ada di antara Anda yang merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan?

Akhirnya, saya menemukan jawabannya setelah sekian lama mencari jawaban kenapa saya "masih" sering merasa sendiri. Jawabannya adalah karena saya tidak "sepenuhnya" menyerahkan hidup saya pada Tuhan.
Saya masih menempatkan hal lain untuk kepengurusan hidup saya. Padahal, hidup mati dan apa yang saya miliki, bahkan diri saya sendiri adalah hak Tuhan. Milik Tuhan, yang kelak akan diambil kembali. Saya malu padan Mu Tuhan.

Malu pada keegoan diri. Malu pada kesombongan diri. Malu bahwa saya masih menyerahkan kepengurusan hidup dan kehidupan saya diluar diri Mu. Betapa angkuhnya saya. Betapa angkuhnya manusia.



Selasa, 12 Maret 2013

Tuliskan Dan Komunikasikan

Satu bahasan materi yang sangat menarik, ketika saya mengikuti sebuah pertemuan. Menuliskan tujuan bekerja di Hong Kong lalu mengkomunikasikannya kepada orang-orang dekat, seperti orang tua, suami, anak atau saudara. Sayangnya, justru di sinilah letak kendalanya. Siapa yang tidak tahu BMI Hong Kong sih? Setiap Minggunya sibuk dengan segudang aktivitas. Bermacam-macam agenda diikuti sampai kadang untuk makan saja tidak punya waktu.

Acungan jempol buat BMI Hong Kong! Kalau masih ada masyarakat yang berpikir negatif tentang BMI Hong Kong, itu artinya, mereka hanya melihat dari satu sisi saja.
Melakukan berbagai aktivitas memang bukan untuk dilihat orang lain agar terlihat wah, tetapi lebih pada kebutuhan agar diri kita bisa memiliki kualitas yang terus meningkat. Baik dari ilmu pengetahuan, wawasan, pengalaman dan skill. Bisa menjadi bekal ketika pulang ke Tanah Air. Bukan untuk gagahan," Ini lho aku sudah ikut training ini, punya sertifikat ini, berkenalan dengan ini".
Tetapi lebih pada untuk direalisasikan pada kehidupan kita sendiri, keluarga dan masyarakat sekitar.

Sebuah impian yang mulia. Sebuah rencana yang baik. Segampang itukah? Tidak! Ternyata banyak tantangan yang harus dihadapi yang datangnya justru dari orang-orang terdekat kita. Yang terjadi akhirnya sedih dan kecewa bahkan putus asa. Memang tidak mudah menfkomunikasikan impian kepada orang yang cara berpikirnya berbeda dengan kita, namun solusi pasti ada.



Minggu, 27 Januari 2013

Terima Kasih Atas Hidup Ini

            Apapun perolehan yang aku raih, selalu aku syukuri karena aku percaya, bila kita orang yang pandai bersyukur, maka nikmat Allah akan bertambah. Janji Allah adalah benar adanya. Terima kasih untuk segalanya, hanya ini yang terluah dari bibirku disela air mata yang berderai. Begitu banyak hikmah yang aku dapatkan dari ketidaknyamanan-ketidaknyaman selama di perantauan, tak terbilang....
            Perjalanan hidup yang sudah ku tempuh mempertemukan aku dengan banyak hal yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Subhanallah, hanya itu yang terucap dari mulutku. Semakin diri ini merasa kecil dan bukan apa-apa. Semakin menggelora tekad untuk lebih dan lebih belajar. Ketika ku temukan arti hidup di usia yang tidak muda lagi, disitulah  aku berjanji kepada diri sendiri untuk memfaatkan waktu sebaik-baik mungkin. Yah, aku ingin menjadi.....
             Menjadi seperti apa? Menjadi seperti yang dikehendaki Allah. Mudahkah? Tidak! Bila tidak tahu caranya dan menjadi mudah bila tahu caranya. Aku harus belajar dan belajar, melakukan dan melakukan.Rintangan, halangan pasti ada  dan itulah pembelajaran yang sesungguhnya. Menaklukkannya dengan solusi yang terbentang di alam semesta ciptaan Allah.
             Bersyukur terus bergulir dari bibirku dengan pekerjaan yang seringkali jadi cemoohan orang. Kucel, kumel, bodoh, bego, nakal dlsb. Pekerjaan sebagai Buruh Migran yang dicap macam-macam oleh banyak orang karena perbuatan segelintir orang yang tengah terlupa. Yah, terlupa kepada dirinya, penciptaannya, hidupnya. Dari pekerjaan ini, justru ku temukan arti hidup yang sesungguhnya. Ku  temukan kebermaknaan diri yang selalu menguras air mataku. Tuhan, maafkan aku..
              Pekerjaan Buruh ini mengantarkanku untuk bertemu dengan guru-guru kehidupan. Pekerjaan buruh ini mempertemukanku dengan segudang ide yang harus digulirkan, dilaksanakan dengan segala upaya agar terwujud ke permukaan. Pekerjaan buruh ini telah menyeretku jauuuuuh ke masa depan yang tak pernah ku pikirkan sebelumnya. Relasi, koneksi, peluang dlsb. Terima kasih Tuhan...
              Kini tugas menanti untuk segera ku jamah, di sana di Indonesia sana. Dengan kedua tangan ini, dengan kedua kaki ini, dengan pikiran ini, dengan semangat ini, dengan kepasrahan ini. Kepasrahan hanya kepadaNya, Allah Tuhanku. Terima kasih atas kesempatan hidup ini. Akan ku gunakan sebaik mungkin selama nafas masih bersemanyam didada.  Tidak ada keraguan lagi untuk melangkah. BersamaMu, dengan kehendakMu, dengan ijinMu, semua akan terwujud nyata. [ Zen- Zen : 27 Januari 2013]











                                         
           

Rabu, 12 Desember 2012

SOSOK BMI DALAM KRIKIL (KREATIF & TERAMPIL)



Meluahkan Imajinasi Ke Dalam Karya


“Suatu aktivitas yang sangat menyenangkan karena selain menghasilkan karya seni juga bisa meluahkan emosi dan imajinasi saya dalam sebuah karya. Selain memberikan kepuasan tersendiri juga bisa memanfaatkan waktu dengan lebih baik” ulas Naning BMI asal Palembang.

Membuat souvenir dan aksesoris adalah kesukaan yang tak bisa terelakkan baginya, karena dari permintaan teman-teman membuat BMI yang satu ini optimis untuk mengembangkannya. Pelanggan pertamanya adalah teman-teman sendiri di Hong Kong atau dari Indonesia, kemudian menjadi dikenal lebih luas melalui jaringan internet Fb, You Tube, Tweeter, Skype, Blog, dll.  Juga beberapa toko busana /butik di nusantara yang siap dan sudah memasarkannya, meskipun masih dalam jumlah yang terbatas, berhubung terkendala waktu pembuatannya.

BMI yang bernama lengkap Naning Fauziah ini, lahir di Durenan, Trenggalek, Jawa Timur, anak kedua dari tiga bersaudara. Keluarganya berdomisili di kota Plaju, Palembang,  ia masih bekerja di Hong Kong sejak tahun 2007 hingga sekarang kontrak ke 3 dengan job yg sama. Sebelum menekuni kerajinan, aktivitasnya selama 2 tahun adalah belajar di salah satu universitas di Hong Kong, untuk mengisi waktu libur hingga kemudian bertemu dengan sahabat kecil semasa sekolah dalam satu kegiatan pameran di lapangan.

Sahabat lamanya menawarkan ilmu, karena dia sudah berencana kembali ke Tanah Air. Dari situ ia menemukan bakatnya di bidang kerajinan tangan. Karena dari kecil hobinya menggambar, aktif mengikuti setiap perlombaan dari bangku SD. Meskipun melukis tidak sama dengan membuat kerajinan tetapi baginya sama-sama meluahkan imajinasi kedalam sebuah karya dengan media yang berbeda yaitu dari kertas gambar/kanvas beralih ke bahan kerajinan tangan seperti batu manik dan material pelengkapnya.

Setiap ada kesempatan luang digunakannya membuat kerajinan untuk memperbanyak koleksi dengan cara meniru /membeli souvenir yang sudah jadi agar bisa mengikuti cara pembuatanya, sehingga ia bisa menghasilkan karya dengan versinya sendiri. Yang dimaksud meniru adalah sebatas cara pembuatan dasarnya saja dan untuk karya yang akan dibuat bisa dikreasikan dengan berbagai model yang bervariasi. Selain itu bisa belajar sendiri dari buku /VCD tutor membuat kerajinan, dari buku-buku penunjang sangat mudah dipelajari dan mempraktekkan. Dari beberapa buku kerajinan dipadukannya, guna menambah pengetahuan menginspirasi untuk berkarya seetnik mungkin, tidak ketinggalan trend dari peminat di masyarakat luas. Tidak ada alasan untuk meningkatkan potensi diri meski masih pemula sekalipun. Hal serupa bisa dilakukan dengan belajar membuat kerajinan dari internet, dan dikembangkan dengan cara kita sendiri. Berbagai ilmu sebagai tambahan pengetahuan serta referensi dalam kita mempersiapkan sebelum benar-benar memiliki usaha di Tanah Air.

Hasil Kerajinan yang sudah dihasilkan oleh Naning beraneka ragam seperti : kado, souvenir pernikahan berupa boneka unik, hiasan, miniatur rumah, gantungan kunci/HP, gelang, kalung, tas,dll. Kalau mau mengembangkan mungkin masih sangat berpeluang untuk sukses, dilihat dari bahan material yang terjangkau juga mudah didapatkan. Melihat fungsi dari aksesoris sendiri tidak lepas dari kodrat perempuan. Dari action yang sederhana atau yang mewah.

                 Kendala yang biasa dialami selama masih bekerja di sini yaitu, waktu yang sangat terbatas. Tetapi ia akan tetap optimis karena memang cara terbaiknya dengan mempersiapkan sedini mungkin dan belajar serta berusaha selagi masih ada kesempatan.

Selama ini, Naning menerima orderan aksesories dan sovenir untuk teman-teman di Hong Kong, seperti teman-teman sekolah, organisasi juga menerima berbagai pesanan untuk bermacam acara. Untuk pemesaran di Indonesia, ada butik muslim di daerah Batam (salah satu plaza di kota Plaju) juga pemesanan secara on line. Meski masih sangat terbatas, Naning yakin akan berkembang karena pelanggan yang biasa order merasa puas dan suka dengan karyanya.

Planning ke depan, Naning ingin mendirikan sebuah “sanggar kreasi” di Palembang tempat tinggalnya. Dengan modal keberanian dan ketekunan, Naning percaya akan ada hasil dari usaha ini. Untuk meningkatkan pemasaran yang sudah berjalan, ia akan memperkenalkan di daerah-daerah wisata yang ada di Palembang karena di daerah tersebut masih minim sekali, bergabung di komunitas yang sebidang, mengikuti event-event pameran seni, bermitra dengan jasa percetakan yang belum menyediakan sovenir, dll.

 Untuk aksesories, Naning melihat masih banyak mengimpor dari Luar Negeri. Dari situlah ada kesempatan untuk ia memperkenalkan style baru yang tidak harus mewah tapi terkesan “elegan” dan “ dinamis” berkarakter.

Tidak mudah dan butuh perjuangan, itu yang ia rasakan, namun ia tidak pantang menyerah. Bagi rekan-rekan yang ingin berkenalan langsung dengannya, silahkan berkunjung ke blog pribadinya.

http://www.facebook.com/SimpleGiftsGallery.                  

 
 
Dimuat Berita Indonesia edisi Des 2012
 

 

Sinkronisasi BMI Dan Keluarga


 
 Banyaknya pembelajaran di kalangan BMI Hong Kong yang digelar oleh organisasi BMI, Instansi tertentu, pemerintahan atau individu, bukanlah suatu jaminan mereka akan sukses bila hal tersebut tidak dibarengi dengan upaya-upaya konkrit dari pihak penyelenggara. Sesaat mereka bersemangat, terbuka pikiran dan wawasan, namun, beberapa waktu kemudian akan loyo lagi, pesimis lagi, takut lagi dan demikian seterusnya. Hanya segelintir orang yang benar-benar sukses hidupnya setelah mengikuti pembelajaran tersebut, dan jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Itupun bukan semata-mata murni hasil sebuah pembelajaran yang diikuti. Inilah fakta yang terjadi pada BMI Hong Kong.

Bukti dari fakta di atas adalah, mereka masih betah bekerja di Hong Kong walau sudah mengantongi sejuta “impian”. Bukan berarti mereka tidak punya ilmu dan pengalaman atau keinginan. Justru ambisi mereka menggebu untuk mewujudkan “impian”. Bahkan karena ambisinya mewujudkan impian selepas mengikuti pembelajaran, mereka “over action” sehingga harus berhadapan dengan pihak keamanan. Mereka lupa, bahwa keberadaannya adalah seorang “ Domestic Helper” yang harus patuh pada aturan-aturan yang tertera dalam “kontrak kerja”. Disinilah, banyak BMI yang salah kaprah dalam melangkah.

Yang menjadi masalah bukanlah “Domestic Helper” nya, karena itu hanya sebutan saja. Domestic Helperpun seorang manusia yang “berhak” sukses seperti yang lainnya. Domestic Helper hanya nama jembatan penyeberangan saja. Jembatan yang akan menghubungkannya dengan berbagai link-link kesuksesan. Justru, karena menyandang gelar Domestic Helperlah, posisi mereka menjadi “ terkenal” sampai ke manca negara. Menjadi perdebatan sengit antara pihak yang “pro” dan “ kontra”. Bukan masalah terkenalnya, namun lebih pada “kesempatan” yang bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya kala berada di rantau. Menjadi satu “tabungan ilmu” yang bisa dibawa pulang ke daerah masing-masing. Nah, inilah masalahnya! Inilah benang merah yang harus diusut agar tidak ruwet.

Setelah saya meneliti, mengamati, merasakan sendiri, akar masalahnya terletak pada “ketidaksikronan” antara BMI dengan keluarga di rumah. BMI rajin belajar pengembangkan diri untuk meningkatkan “skill”nya. Meningkatkan ketrampilan, kekreativitas dan relasinya. Itu yang terjadi di Hong Kong, lalu bagaimana dengan keluarga mereka yang ada di Indonesia? Apakah juga belajar hal yang sama? Memilki pemikiran yang sama? Memiliki impian yang sama? Setidaknya, mengerti dan mendukung apa yang diinginkan BMI.  Fakta di lapangan, tidaklah demikian. Ketika BMI sudah bergelora ingin mewujudkan impian, kendala pertama dan terberat adalah dari keluarga.

Takut rugilah, malaslah, nggak mau repotlah, sudah banyaklah,dll. Lalu BMI menjelaskan panjang dan lebar tentang apa yang ia pelajari, dan apa hasilnya? Sudah bisa ditebak, penolakan dengan bermacam istilah. BMI kecewa dan akhirnya timbul “pertengkaran” dalam keluarga, kalaupun bisa dihindari, tetap saja menimbulkan rasa kecewa pada BMI yang senantiasa berupaya melakukan yang terbaik buat keluarga. Waktu liburnya digunakan untuk belajar. Uangnya dipercayakan pada keluarga/tabung. BMI ingin segera mengakhiri hidupnya sebagai Domestic Helper. Tak jarang, saking keselnya atau memang karena rencana sudah matang, mereka memberanikan diri untuk “join” dengan orang lain. Apakah ini sebuah kesalahan? Tentu bukan, ini hanya sebuah solusi ketika keluarga yang diharapkan sudah tidak bisa diandalkan lagi keterlibatannya.

Mayoritas BMI yang menggulirkan ide-ide cemerlangnya setelah ikut pembelajaran, “menthok” di tengah jalan.  Bila ide diteruskan apalagi dijalankan dengan orang lain, maka, muncullah anggapan, bahwa keluarga sudah tidak penting lagi, sudah tidak patuh lagi, sudah membangkang. Bila kata-kata ini keluar dari lisan seorang suami terhadap istrinya, maka, ketakutlah yang ada.  Ilmupun disimpan sambil menunggu BMI  itu pulang, inilah jalan aman. Lalu, bagaimana dengan impian? Nantilah, dipikirkan. Sekarang bekerja sambil menunggu finis kontrak lalu pulang.  Dan ketika sampai di kampung halaman, melihat kenyataan bahwa idenya sudah dijalankan orang, putuslah harapan. Ah, mungkin inilah nasib saya. Ilmu mengendap raib entah kemana.

Dan bila ternyata, semangat mewujudkan impian di atas segala-galanya, suami/keluarga tidak lagi diindahkan. Bisakah hal ini dilakukan? Bisa! Pantaskah? Pantas! Namun, permasalahannya bukanlah bisa atau pantas, tetapi lebih pada perasaan yang meliputinya dalam upaya mewujudkan impian tanpa dukungan keluarga, akan sangat tidak mengenakkan. Kalau sukses, akan menjadi bukti buat keluarga namun bila gagal akan menuai cemoohan belaka. Yah, inilah fenomena utama BMI dalam mewujudkan impiannya. Sekuat apapun ia berusaha menjelaskan, menerangkan, bahkan dengan sengaja mengirim semua buku /modul pembelajaran yang di dapat, tetap saja yang di rumah tidak “ngeh”. Ujung-ujungnya berantem.

Mau sampai kapan permasalahan ini didiamkan? Apakah dibiarkan saja dan menjadi “PR” buat BMI? Atau mungkin, pihak pendidik/penyelenggara  sebuah pembelajaran belum  tahu tentang hal ini atau pura-pura tidak tahu? Ketika BMI bersemangat mengaplikasikan ilmunya, tetapi kenyataan berkata lain. Tidak dapat dukungan, restu, dan pengakuan dari keluarga padahal apa yang diinginkan BMI tersebut adalah untuk keluarganya juga. “Benang merah” masalah ini terletak pada tidak adanya “kesinkronan” pemikiran, wawasan, pengalaman dan pendidikan antara BMI dan keluarga.  Paradigma BMI telah berubah selangkah lebih maju, tetapi paradigma keluarga di rumah masih tetap seperti dulu. Paradigma yang telah usang ditelan waktu namun masih dipegang teguh karena memang demikianlah keadaan yang ia tahu, yang dijalankan orang-orang terdahulu dan menjadi budaya sosial dimana ia tinggal.

Seandainya ada pembelajaran yang bisa “mensinkronkan” pemikiran, wawasan, pengalaman di antara keduanya, inilah yang ditunggu! Bukan hanya BMI yang digembleng “mindset”nya tetapi juga keluarganya. Mungkin hal ini akan memakan waktu yang lama, namun hasilnya akan jauh lebih sempurna. Karena sesungguhnya, sebuah pembelajaran dikatakan berhasil, ketika bisa merubah seseorang dari “nobody” menjadi “somebody”. Bukan dari mewahnya fasilitas yang diberikan, bukan pula dari canggihnya materi yang disampaikan. Karena ada satu hal yang terlupakan, bahwa BMI tidak berdiri sendiri. BMI punya keluarga yang juga butuh diberdayakan.  

 

dimuat Berita Indonesia edisi Des 2012

 

Jumat, 16 November 2012

BMI HARUS SUKSES BERWIRAUSAHA

Virus entrepreneur menyebar di kalangan BMI Hong Kong. Ini buah akibat dari training atau workshop berbasis kewirausahaan yang mereka ikuti saat libur. Apapun bentuk dan tema yang disuguhkan kepada peserta di sebuah even, pasti membuahkan perubahan. Perubahan pola pikir, perubahan sikap dan tindakan, ketiga hal ini saling berkaitan satu sama lain, tidak bisa dipisahkan.


Perubahan-perubahan ini akan berimbas pada kehidupan seseorang, sebagai upaya meraih peningkatan yang lebih tinggi di segala aspek kehidupan. Hidup identik dengan gerak, berani hidup berani bergerak. Dari sekian training atau workshop yang banyak di gelar sudah mampu menggelitik hati dan pikiran BMI untuk memiliki kesadaran diri, bahwa keberadaan mereka di Hong Kong bukan hanya sebatas bekerja tetapi bisa melakukan banyak hal yang produktif.

Finansial, wawasan, ilmu dan pengalaman bertambah. Untuk itu, harus ada sesuatu yang dikerjakan di luar jam utama bekerja di majikan. Agar dapat mewujudkannya, dibutuhkan banyak elemen-elemen tertentu. Karena banyak BMI yang terpaksa “gulung koming” dan “gulung tikar” lalu kembali bekerja ke Hong Kong karena mengalami kegagalan saat menjalankan roda uasahanya. Dengan membawa “trauma” yang akut sehingga takut mencoba lagi. Mencukupkan diri dengan menerima gaji.

Fenomena ini sebagai bukti akurat, bahwa dalam dunia kewirausahaan tidak cukup dengan modal uang dan tekad, tetapi dibutuhkan banyak hal, di antaranya : analisa produk, survei pasar, biaya produksi, penjualan dll. Hal ini yang luput dari perhitungan BMI ketika menjalankan usaha. Mereka masih anut grubyuk dalam melakukan sesuatu tanpa perhitungan matang, sehingga terkesan musiman.

Dalam dunia usaha, persaingan semakin bertambah ketat. Para pelakunya harus terus mengikuti perkembangan informasi kalau tidak mau tenggelam. Memiliki visi dan misi yang tepat, sehingga biduk usaha yang dijalankan berjalan sampai di tujuan. Untung rugi dalam dunia usaha adalah hal biasa, yang luar biasa ketika seorang pelaku usaha gagal terus dalam uasahanya. Pasti ada yang salah. Untuk meminimilir kegagalan secara berulang, pelaku usaha harus segera mencari tahu letak masalahnya dengan belajar. Mengumpulkan infomasi sebanyak mungkin yang menunjang kelancaran usahanya.

Bagi BMI itu sendiri, rasanya sudah sangat memadai pengetahuan mereka dalam dunia usaha. Apapun jenis training atau workshop berbasis kewirausahaan selalu diminati. Namun pada kenyataannya, mereka masih terbelenggu dengan permasalahan yang hampir sama, yaitu : takut memulai. Solusi untuk menghindari hal ini adalah bimbingan kerja di lapangan, ketika BMI tersebut pulang ke kampung asal dan membuka usaha, atau bimbingan usaha kepada para keluarga BMI yang ada di Indonesia. Bila hal ini bisa diwujudkan, BMI yang akan, sedang membukan sebuah usaha tidak takut lagi. Setidaknya kegagalan bisa di toleransi sejak dini.

Ilmu pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang dilengkapi bimbingan kerja di lapangan, sangatlah penting. Untuk mewujudkan dan menciptakan entrepreneur-entrepreneur sejati di kalangan BMI, bukan entrepreneur musiman, maka, sejumlah “aktivis BMI” akan menggelar training berbasis kewirausahaan pada tanggal 13 Januari 2013. Bertempat di Y-Studio Lt 2. Youth Square, 238 Chaiwan Road keluar exit A. Yang akan menghadirkan Tatiek Kancaniati, seorang Social Entrepreneur, Owner dari dari Kampoeng Wisata (sebuah desa yang didalamnya terdapat 23 hingga 25 jenis usaha), penulis dan konsultan bisnis di sebuah majalah yang terbit di Hong Kong. Info lengkap bisa menghubungi Anna 96034056, Martin 67053890.


* DIMUAT KORAN BERITA INDONESIA edisi Noov 2012*