“
Dengannya, aku tak bisa merancang masa depan…..”
Sebuah
ungkapan meluncur dari bibir seorang kawan kepadaku. Terlihat dari sorot
matanya, dia lelah. Tidak ada gairah hidup. Dan fisiknya pun tidak terurus
sebagaimana seharusnya. Raut wajahnya kelihatan tua, jauh dari usianya yang
masih terbilang muda.
Yah! Masa depan memang harus
dirancang sebaik mungkin. Tanpa rancangan, tidak bisa dibayangkan apa jadinya
masa depan tersebut. Sangat bisa diduga, hidupnya akan berjalan begitu saja.
Bagai air mengalir, tidak punya tujuan pasti. Hidupnya bagai “zombi”. Jangankan kehidupan manusia,
untuk membuat mainan layang-layang saja dibutuhkan rancangan terlebih dahulu.
Seperti halnya kita, BMI yang memutuskan
hendak pulang ke tanah air. Haruslah menyiapkan rancangan dengan hati-hati.
Bukan hanya sekedar nanti, aku akan ini dan itu. Bila rancangan yang ada hanya “akan ini dan itu”, dikhawatirkan tidak bertahan lama, dan
ujung-ujungnya kembali bekerja menjadi BMI. Keputusan semacam ini, sudah
seringkali terjadi dengan alasan yang hampir sama : ekonomi!
Benarkah dengan menjadi BMI
kembali, permasalahan bisa terselesaikan? Belum tentu! Justru banyak tercipta
masalah baru yang membuat BMI makin “terpuruk”.
Bila sudah begini, bagaimana BMI bisa mandiri di negeri sendiri? Negeri dimana
ia dilahirkan dan dibesarkan. Sebegitu menakutkankah hidup di tanah air? Menakutkan, ketika kita pulang ke tanah air
tanpa perencanaan matang karena situasi dan kondisi di Indonesia tidak sama
dengan di Hong Kong. Perbedaan ini bisa membuat kita “stress”.
Sebenarnya, perbedaan ini juga terjadi di Hong
Kong, saat pertama kali kita bekerja. Bahkan lebih menakutkan karena kita hanya
seorang diri tanpa sanak kadang. Kalau pun ada, mereka tidak serumah dengan kita.
Dari segi budaya, musim, bahasa, pola hidup, karakter dll. Bukankah lebih
banyak rintangan yang harus kita hadapi? Dan faktanya, rintangan itu mampu
dilewati hingga kita “betah” malah “enggan”
pulang pada akhirnya.
Dengan perencanaan yang matang, kita
bisa menata langkah lebih teratur dan terarah. Akan terhindar dari yang namanya
stress, setidaknya bisa kita minimilir, meski tidak menutup kemungkinan,
perencanaan yang kita buat, meleset dari yang sudah kita jadwalkan. Di sinilah
dibutuhkan persiapan mental yang kuat.
Perencanaan yang meleset bukan
berarti kita gagal, hanya butuh kesabaran, keuletan, kreatif dan inovasi. Nah,
inilah saatnya kita mengeluarkan semua pengalaman selama bekerja menjadi BMI.
Bukankah kita bekerja di negerinya orang China yang terkenal dengan
kekreatifannya? Segala aktivitas pembelajaran yang kita ikuti pastinya sebuah
rancangan yang kita sengaja buat sebagai
bekal pulang ke tanah air. Bukan sekedar ikut-ikutan atau anut grubyuk.
Buatlah rancangan kepulangan
dengan perhitungan matang bukan sekedar ikut-ikutan, karena kita sendiri yang
akan merasakan dan bertanggungjawab dengan segala yang bakal terjadi, di
sepanjang perjalanan hidup. Kita adalah “owner”
dalam kehidupan kita sendiri. Kita yang lebih tahu dan paham dengan apa yang
kita inginkan (baca: butuhkan).
Dengan ilmu yang didapat selama
di rantau, seharusnya kita bisa lebih baik dari yang dulu sebelum memutuskan
menjadi BMI. Kalau alasan kita, Indonesia tidak sama seperti dulu saat kita
tinggalkan, ya tentu saja. Karena setiap saat, perubahan akan terjadi dimana-mana. Bukankah, ketika
kita tinggal di rantau untuk yang pertama kali juga bingung? Samakan? Berarti ini
bukan masalah berat buat kita yang memutuskan pulang ke tanah air. Dengan
berbekal pengalaman, wawasan, skill, ilmu pengetahuan yang didapat selama
dirantau, seharusnya kita bisa lebih mudah mensiasati keadaan. Yuk, kita buat rancangan hidup sekarang!


