Kamis, 28 Mei 2015

Rancangan Hidup





“ Dengannya, aku tak bisa merancang masa depan…..”




Sebuah ungkapan meluncur dari bibir seorang kawan kepadaku. Terlihat dari sorot matanya, dia lelah. Tidak ada gairah hidup. Dan fisiknya pun tidak terurus sebagaimana seharusnya. Raut wajahnya kelihatan tua, jauh dari usianya yang masih terbilang muda.
Yah! Masa depan memang harus dirancang sebaik mungkin. Tanpa rancangan, tidak bisa dibayangkan apa jadinya masa depan tersebut. Sangat bisa diduga, hidupnya akan berjalan begitu saja. Bagai air mengalir, tidak punya tujuan pasti. Hidupnya bagai “zombi”. Jangankan kehidupan manusia, untuk membuat mainan layang-layang saja dibutuhkan rancangan terlebih dahulu.
Seperti halnya kita, BMI yang memutuskan hendak pulang ke tanah air. Haruslah menyiapkan rancangan dengan hati-hati. Bukan hanya sekedar nanti, aku akan ini dan itu. Bila  rancangan yang ada hanya “akan ini dan itu”, dikhawatirkan tidak bertahan lama, dan ujung-ujungnya kembali bekerja menjadi BMI. Keputusan semacam ini, sudah seringkali terjadi dengan alasan yang hampir sama : ekonomi!
Benarkah dengan menjadi BMI kembali, permasalahan bisa terselesaikan? Belum tentu! Justru banyak tercipta masalah baru yang membuat BMI makin “terpuruk”. Bila sudah begini, bagaimana BMI bisa mandiri di negeri sendiri? Negeri dimana ia dilahirkan dan dibesarkan. Sebegitu menakutkankah hidup di tanah air?   Menakutkan, ketika kita pulang ke tanah air tanpa perencanaan matang karena situasi dan kondisi di Indonesia tidak sama dengan di Hong Kong. Perbedaan ini bisa membuat kita “stress”.
 Sebenarnya, perbedaan ini juga terjadi di Hong Kong, saat pertama kali kita bekerja. Bahkan lebih menakutkan karena kita hanya seorang diri tanpa sanak kadang. Kalau pun ada, mereka tidak serumah dengan kita. Dari segi budaya, musim, bahasa, pola hidup, karakter dll. Bukankah lebih banyak rintangan yang harus kita hadapi? Dan faktanya, rintangan itu mampu dilewati hingga kita “betah” malah “enggan”   pulang pada akhirnya.
Dengan perencanaan yang matang, kita bisa menata langkah lebih teratur dan terarah. Akan terhindar dari yang namanya stress, setidaknya bisa kita minimilir, meski tidak menutup kemungkinan, perencanaan yang kita buat, meleset dari yang sudah kita jadwalkan. Di sinilah dibutuhkan persiapan mental yang kuat.
Perencanaan yang meleset bukan berarti kita gagal, hanya butuh kesabaran, keuletan, kreatif dan inovasi. Nah, inilah saatnya kita mengeluarkan semua pengalaman selama bekerja menjadi BMI. Bukankah kita bekerja di negerinya orang China yang terkenal dengan kekreatifannya? Segala aktivitas pembelajaran yang kita ikuti pastinya sebuah rancangan  yang kita sengaja buat sebagai bekal pulang ke tanah air. Bukan sekedar ikut-ikutan atau anut grubyuk.
Buatlah rancangan kepulangan dengan perhitungan matang bukan sekedar ikut-ikutan, karena kita sendiri yang akan merasakan dan bertanggungjawab dengan segala yang bakal terjadi, di sepanjang perjalanan hidup. Kita adalah “owner” dalam kehidupan kita sendiri. Kita yang lebih tahu dan paham dengan apa yang kita inginkan (baca: butuhkan).
Dengan ilmu yang didapat selama di rantau, seharusnya kita bisa lebih baik dari yang dulu sebelum memutuskan menjadi BMI. Kalau alasan kita, Indonesia tidak sama seperti dulu saat kita tinggalkan, ya tentu saja. Karena setiap saat, perubahan  akan terjadi dimana-mana. Bukankah, ketika kita tinggal di rantau untuk yang pertama kali juga bingung? Samakan? Berarti ini bukan masalah berat buat kita yang memutuskan pulang ke tanah air. Dengan berbekal pengalaman, wawasan, skill, ilmu pengetahuan yang didapat selama dirantau, seharusnya kita bisa lebih mudah mensiasati keadaan.  Yuk, kita buat rancangan hidup sekarang!

Sudut Pandang










“Ternyata, apa yang saya temui, tidak seperti yang saya bayangkan.
Saat promosi begitu wahnya, faktanya, cuma begitu saja….”


Ungkapan kekecewaan dari seorang BMI HK melalui jejaring media sosial yang ditujukan ke saya. Menilik bahasa yang dipakainya, saya dapat menyimpulkan bahwa ia tertipu oleh sesuatu yang dibayangkannya. Saya memahaminya, sebab saya pun pernah mengalami. Bukan sekali bahkan berkali. Ya, sering kali kita tertipu oleh bayangan kita sendiri.
Ketika membayangkan yang indah-indah, yang bagus-bagus, yang bersih dan megah, namun faktanya justru sebaliknya, saat itulah kita dihinggapi kecewa. Perasaan yang wajar dan manusiawi.
Ambil saja contoh saat kita membayangkan bekerja di Hong Kong, mendapatkan majikan baik dan “loman” serta kita diberi kebebasan. Kita bisa jalan-jalan di berbagai tempat rekreasi, gonta-ganti baju dengan berbagai mode tiap libur, bersuka ria di berbagai situs internet sesuka hati seperti yang bisa kita saksikan di banyak akun facebook serta berbagai macam kenyamanan lainnya, ditambah gaji jutaan. Siapa pun akan bersemangat untuk mendaftarkan diri sebagai “calon” pekerja. Berani membayar harga walau harus berpisah dengan keluarga, pun mengeluarkan biaya  besar dengan cara potong gaji sekian bulan. Alasannya apa?
Tak lain dan tak bukan, karena pikiran kita sudah dipenuhi oleh bayangan-bayangan kenyamanan tentang Hong Kong. Apakah ini salah? Tidak! Sebab, dengan membayangkan sesuatu (baca: afirmasi) yang membuat kita nyaman, kita sebenarnya sedang menariknya terjadi dalam kehidupan kita.
Karena bayangan kenyamanan inilah, kadang kita terlena sehingga kita lupa mempersiapkan diri,  menghadapi segala sesuatu yang bakal terjadi diluar bayangan kenyamanan kita. Alhasil, kita terseret emosi berkepanjangan. Marah, kecewa, benci, dendam, was-was, dll.
Bila emosi ini tidak segera dibereskan, tentu akan membayangi langkah kedepan, saat kita menerima tawaran, kesempatan, lowongan lainnya. Kita akan was-was mengambil keputusan. Bila sudah demikian, siapa yang rugi? Tentu diri kita sendiri.
Lalu apa yang harus kita lakukan? Mudah saja. Kita tinggal mengubah “sudut pandang”. Antara bayangan dan kenyataan. Ketika membayangkan kenyamanan dan faktanya kita menemukan ketidaknyamanan, saat itulah kita sedang dididik untuk “jeli” melihat permasalahan. Jeli melihat peluang, bahkan sebenarnya kita sedang ditantang oleh alam, apakah kita bisa menaklukkan keadaan atau malah tertaklukkan olehnya.
Di dalam kehidupan, banyak hal yang tidak terceritakan atau tertuliskan oleh kata-kata. Kita sendiri yang harus bisa memaknainya dengan melibatkan “kesadaran dan kebijakan” yang ada dalam diri. Tidak cukup hanya dengan “seabrek” teori dan motivasi.
Untuk bisa memilikinya, kita harus mempunyai  “paradigma” (baca: sudut pandang) dari berbagai sisi. Sayangnya, kebanyakan dari kita belum memilikinya. Kita lebih mengandalkan dan bangga dengan seabrek “sertifikat” pelatihan. Entah kita paham atau tidak dengan materi pelatihannya itu sendiri.
Ikut pelatihan adalah hal baik karena akan meningkatkan ilmu dan wawasan kita, namun perlu diingat, bahwa pelatihan itu masih dalam ruang gerak dan waktu yang terbatas. Kita belum praktekkan ilmunya langsung di lapangan. Entah karena materi pelatihannya tidak sesuai sikon dimana kita tinggal atau kita masih enggan mempraktekkannya. Tanpa praktek, kita hanya akan pandai menjadi “pemain” di atas angan. Ketika dihadapkan pada keadaan yang sesungguhnya, kita terkejut dan tidak bisa menghadapinya, karena kita melihatnya hanya dari satu sudut pandang.
Bila kita memiliki/menyiapkan sudut pandang dari berbagai sisi, apa pun situasi dan kondisinya, kita tetap  siap. Kita tetap bisa belajar, berkembang dan mendapat/ menciptakan peluang. Selamat mencoba !

Rabu, 21 Januari 2015

Dialog Sukses

BMI HK : " Saya tahu banyak n petualangan mbak Anna. Jujur, saya salut mbak. Kalau boleh,bagi-bagi donk ilmunya biar saya juga ketularan suksesnya...".

Annir      : " Masih belajar mbak. Ada yang bisa saya bantu?"
                                         


Percakapan singkat yang membuat saya tertegun dan bertanya-tanya. Saya tidak tahu ia dapat no saya dari mana. Ah, mungkin dapat dari koran yang mencantumkan nama dan no phone saya. . Atau mungkin dapat dari facebook ketika saya  cantumin di facebook. (hehe...).

Pertanyaan dan pernyataan dari sahabat BMIHK tadi, menurut saya terlalu berlebihan, sebab saya belum sukses. Saya belum apa-apa . Saya baru menapaki proses untuk sukses dengan segala tingkat kerumitannya. Ya! Rumit karena untuk sukses bukan hal mudah. Banyak kendala yang harus dicarikan solusinya. Itulah nikmatnya. Berproses untuk sukses! Berselancar di lembah kendala dengan segala kesakitannya hanya untuk mengumpulkan ribuan solusi! Sekali lagi : Solusi!

Dan ketika kita telah temukan solusi,  ada banyak nilai tambah yang kita dapatkan. Di antaranya, wawasan, ilmu, pengalaman, relasi, finansial dll. Dari yang awalnya tidak tahu, jadi tahu. Dari yang mulanya takut, jadi berani dan masih banyak lagi.

Banyak makna sukses yang disharingkan para pembicara/motivator/guru, baik lewat buku, koran, majalah, website, facebook, twitter dll. Saking banyaknya, kadang kita malah pusing memahaminya (hehehe..)

Itu artinya, hanya diri kitalah yang lebih paham makna sukses yang kita inginkan. Sebab,nilai kesuksesan tiap orang berbeda-beda. Ada yang merasa sukses ketika berani tampil di depan umum, bisa menulis, bisa masak, lulus sekolah, diterima kerja dll. Lalu sukses buat kita apa? (PR nich ceritanya buat yang belum menemukannya. hehehe..).

Sukses sangat luas cakupannya kawan! Jadi, perluaslah wawasan agar kita bisa terus berkembang. Untuk sukses banyak elemen yang dibutuhkan dan itu bisa dipelajari. Sekali lagi,bisa dipelajari lho! Jadi terus optimis ya!

"Dari tadi, ngomong sukses melulu ( hihi..). Lalu, bagi Annir sendiri, makna sukses itu apa?", celetuk bagian diri saya tiba-tiba.

"Aha! Iya juga ya. Dari tadi si Annir bicara sukses melulu", timpal bagian diri saya yang lain.

"Makna sukses buatku, so simple. Ketika aku bisa mewujudkan apa yang aku inginkan, sekecil apapun itu, aku sudah merasa sukses! Aku bisa berbagi sesuatu lewat tulisan, aku bisa membuka paradigma orang, aku bisa mengajak orang bergabung dalam program pemberdayaan, aku bisa membantu menjualkan produk orang, aku bisa dan bisa..... Ah, banyak dech pokoknya. Dan itu bisa kita ciptakan. Dan itu ada dalam kehidupan kita", sahut bagian diri saya yang mendapat pertanyaan makna sukses.

Kalau tadi saya katakan sukses itu so simple, ya memang iya. Karena diri kitalah yang merasakan kepuasannya. Setinggi apapun nilai sukses di mata orang, kalau kita tidak merasakan kenyamanannya (baca: kepuasannya), berarti kita belum bisa dikatakan sukses. Kita hanya mengikuti jejak sukses orang lain.

Oleh sebab itu, untuk bisa merasakan sukses, temukan  tujuan hidup Anda dulu. Dengan tujuan ini, kita akan terarah menapaki hidup. Ada panggilan hati untuk kita terus bergerak maju.Dari situ pula, jalan kita menuju sukses yang diinginkan semakin maju dan berkembang. Karena kita sudah menariknya hadir dalam kehidupan kita, lalu kita merealisasikannya dalam nyata.Sukses sudah ada dalam diri kita.



* Kepanjen, Kamis 22 Januari 2015






Selasa, 20 Januari 2015

Janda Inspiratif, Taklukkan Masalah



“ Saya sangat down ketika itu, karena bercerai dengan suami. Saya seperti kehilangan segalanya. Saya sakit hati banget. Lalu saya dibawa ke Aceh, dimana saat itu terjadi konflik yang menyebabkan banyak wanita terpaksa jadi janda. Saya melihat penderitaan mereka lebih parah dari saya. Sejak itulah saya mulai sadar diri. Saya sangat terpukul dan merasa tertampar. Ternyata penderitaan saya tidak ada apa-apanya bila dibanding penderitaan mereka. Namun mereka tidak pernah mengeluh, urai Nina, salah satu wanita inspiratif yang dipilih tabloid Nova.


 Itulah jawaban seorang wanita yang usianya sudah tidak muda lagi, namun semangatnya tetap membara. Di kamar hotel Majapahit, Surabaya No 65. Tanpa malu dan ragu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan. Saya kagum dengan semangatnya menaklukkan masalah. Disinilah saya bisa melihat perbedaan orang sukses dan orang gagal: dari sikap!

Saya merenung dan bertanya pada diri sendiri, apakah saya sudah termasuk di dalamnya. Faktanya, banyak wanita yang akhirnya tenggelam dalam kebencian, dendam, putus asa dan kehilangan jati diri karena kecewa ketika cintanya kandas! Nalarnya sudah tidak difungsikan secara normal, tertutup oleh emosi tak terkendali.

 Saya melihat begitu banyak wanita yang menjadi janda, hidup dalam kebimbangan. Keadaan mereka tak jauh dari anggapan masyarakat kebanyakan, bahwa janda itu kesepian, butuh kehangatan, butuh perhatian dll. Anggapan masyarakat yang mampu mensugesti banyak janda. Menjadikan mereka benar-benar lemah. Mudah mengeluh, putus asa, cengeng dan ada kecenderungan gampang terbujuk rayuan lelaki. Dan parahnya, keadaan ini ditambah dengan kecurigaan para wanita yang takut suaminya direbut bila ada wanita berstatus janda di lingkungannya.

 Merasa kesepian, butuh teman bicara, butuh tempat mengadu dll. Keadaan ini seringkali dimanfaatkan lelaki yang punya niat tidak baik. Dan banyak dari janda yang tidak menyadarinya. Akhirnya, terjadilah peristiwa seperti istilah keluar dari mulut buaya masuk mulut singa. Artinya, si janda berada dalam lingkaran penderitaan. Lalu, apa yang harus dilakukan oleh wanita berstatus janda?

 Menata diri agar tidak terlarut dalam masalah. Sepahit apapun, bersegeralah untuk bangkit. Caranya dengan tetap berbaik sangka pada Tuhan. Seperti kata bijak, bahwa Tuhan datang sesuai prasangka hambanya. Isilah waktu yang ada dengan kegiatan positif dan produktif, misal: baca buku positif, membuka usaha, masuk ke komunitas dll. Tidak perlu memperdulikan anggapan/kecurigaan orang dengan aktivitas yang dilakukan. Ini bisa dilakukan pula oleh teman-teman BMI yang rumah tangganya kandas. Terlepas dari salah benarnya di antara kedua belah pihak, karena orang berumah tangga pasti ada masalah.

Kamis, 25 Desember 2014

Fenomena Multilevel Di Kalangan BMI




MLM siapa yang tidak kenal dengan nama ini. Satu jenis bisnis jaringan yang marak terjadi di Hong kong, dari yang  investasinya murah sampai yang mahal. Dari yang memiliki produk sampai yang tidak berproduk. 

       Berita MLM seringkali menghiasai wajah-wajah media massa di Hong Kong, dari yang bersifat promosi maupun mendiskriminasi. Inilah fakta yang terjadi dan tidak bisa dipungkiri.  Bahkan terkadang   membuat gerah yang membaca karena berita yang ditulis terkesan memojokkan dan  berlebihan dalam membahasnya.

      MLM selalu menjadi pro dan kotra. Ada yang suka dan ada yang tidak suka. Inilah fenomenanya. Apakah benar MLM itu buruk? Sebegitu menakutkankah sehingga harus antipati terhadapnya?
Sebagai seorang BMI dan juga pelaku MLM meskipun sudah tidak aktif lagi, apa yang diberitakan di media massa memang terlalu berlebihan. Saya melihat apa yang disampaikan disitu lebih pada masalah personal pelaku MLMnya. Rasanya kurang bijak bilamana MLM dijelek-jelekkan karena tidak semua MLM jelek.
Sebagai pelaku MLM, saya ingin  menyampaikan pengalaman sebagai seorang networker. Banyak hal positif  yang bisa didapat dari MLM, meskipun secara finansial saya tidak mendapatkannya di bisnis itu padahal  saya sudah mengeluarkan investasi banyak. Namun saya melihat MLM dari segi lain.  MLM adalah batu loncatan buat saya berkembang dari yang  dulunya pemalu, kuper, penakut, cengeng dan  hal-hal negatif  lainnya. MLM adalah salah satu sekolah buat saya belajar marketing, memahami ilmu komunikasi, memahami seni negoisasi, jenis macam produk dan berorganisasi.

     MLM selalu menjadi pro dan kotra. Ada yang suka dan ada yang tidak suka. Inilah fenomenanya. Apakah benar MLM itu buruk? Sebegitu menakutkankah sehingga harus antipati terhadapnya?
Sebagai seorang BMI dan juga pelaku MLM meskipun sudah tidak aktif lagi, apa yang diberitakan di media massa memang terlalu berlebihan. Saya melihat apa yang disampaikan disitu lebih pada masalah personal pelaku MLMnya. Rasanya kurang bijak bilamana MLM dijelek-jelekkan karena tidak semua MLM jelek.
Sebagai pelaku MLM, saya ingin  menyampaikan pengalaman sebagai seorang networker. Banyak hal positif  yang bisa didapat dari MLM, meskipun secara finansial saya tidak mendapatkannya di bisnis itu padahal  saya sudah mengeluarkan investasi banyak. Namun saya melihat MLM dari segi lain.  MLM adalah batu loncatan buat saya berkembang dari yang  dulunya pemalu, kuper, penakut, cengeng dan  hal-hal negatif  lainnya. MLM adalah salah satu sekolah buat saya belajar marketing, memahami ilmu komunikasi, memahami seni negoisasi, jenis macam produk dan berorganisasi.



       Ilmu-ilmu tersebut banyak dibahas di buku yang dengan mudah bisa didapat diberbagai toko buku. Sehebat apapun  isi buku, tanpa praktek di lapangan, semua hanya akan memenuhi kepala. Memang  untuk  mempraktekkan  sebuah ilmu tidak harus terjun di MLM. Banyak cara yang bisa dilakukan, namun MLM adalah tempat yang lengkap untuk belajar. 

        MLM adalah bisnis jaringan yang mengkoordinir manusia dengan berbagai karakter, status, jabatan. Dan dari situlah, kita bisa belajar tentang personality,psikologi dll.  Ilmu yang bermanfaat dan dibutuhkan dalam  menjalankan bisnis. Apapun nama bisnisnya, yang dihadapi adalah manusia dan di MLM sendiri adalah bisnis manusia.
Kalau ada yang habis-habisan atau hancur-hancuran finansialnya karena menjalankan bisnis MLM, bukan semata-mata karena MLMnya lho!  Banyak faktor yang mempengaruhi dan biasanya lebih pada personal individunya. Bisa jadi karena ia belum memahami prosedur bisnisnya dengan baik, alasan yang salah dalam menjalankannya, terlalu ambius hingga menghalalkan segala cara dll.

       Cobalah flashback  ke belakang  dan jujur pada diri sendiri bila mengalami  hal  yang tidak mengenakan di MLM, pasti  jawabannya lebih pada masalah personal diri. Mau masalah dengan upline, dowline, crosline semua bergantung pada diri kita sendiri bagaimana menyingkapi. MLM sering dikatakan sebgai IB (bisnis owner). Penentu semua keputusan adalah diri kita sendiri bukan? 
Saran saya, sebelum memasuki bisnis MLM, pelajari dulu semuanya dengan seksama. Baik profil  perusahaannya, marketing  plannya, produknya, support sistimnya, calon relasi, dll. Berhati-hati itu perlu karena dalam berbisnis kita pasti akan mengeluarkan investasi, meskipun dalam jumlah kecil. Bukankah kita bisnis untuk mendapat hasil?

        Bila mana kita sudah terlanjur kejebur di MLM dan  mengalami kerugian, bersegeralah intropeksi diri mencari letak kesalahannya dimana. Kebanyakan berawal dari sebuah ambisi yang berlebihan sehingga kita mau cepat sukses dengan cara instan. Terjadilah hutang piutang di antara pelakunya. Yang  lebih parah  bila  melibatkan perbankkan, bila sudah begini, urusannya jadi  ruwet bin ribet. Karena untuk  mendapatkan  pinjaman dari bank, kita harus menyerahkan dokumen kerja dan menyiapkan minimal satu orang sebagai saksi.Dari sinilah banyak timbul masalah yang pada akhirnya MLMya menjadi sasaran  kambinghitam. Padahal MLM hanya  sebuah  nama  jenis usaha/bisnis. Perpecahan antar teman, diinterminit majikan karena bermasalah dengan bank. Marilah kita bijak  menyingkapi.* Termuat di koran Berita Indonesia edisi Nov 2014

 

Senin, 25 Agustus 2014

Akar Masalah Takut Pulkam

’’Engko lek aku muleh ning Indonesia, kate nyambut gawe opo.......?’’


Mungkin Anda sering mendengar kalimat ini bahkan mungkin Anda sendiri sedang merasakan kegalauan seperti ungkapan diatas? Ketakutan, keresahan, kekhawatiran adalah hal yang manusiawi. Justru karena rasa-rasa itulah, manusia akhirnya termotivasi untuk mencari solusi dengan cara belajar.
Pembelajaran menjadi wajib hukumnya bagi kita yang benar-benar ingin berubah. Tanpa belajar sulit untuk mencapai sebuah kesuksesan yang diinginkan. Apakah kalau sudah belajar, sukses pasti kita dapat? Belum tentu!
Yang dinamakan belajar bukan hanya duduk manis baca buku positif, dengerin cd motivasi, datang ke berbagai pertemuan, bersikap seperti orang sukses. Belajar yang dimaksud di sini adalah kita mengaplikasikan apa yang kita pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Tinggal melihat apa yang kita pelajari sekecil apapun. Hal kecil bila dilakukan secara terus- menerus, akan membuahkan hasil. Setidaknya cara berpikir kita yang berubah. Ketika pikiran berubah, tindakanpun mengikuti dengan sendirinya.
Ambillah contoh belajar bisnis, maka kita harus menerapkan kiat-kiat bisnis dalam usaha yang kita jalankan. Mana ada belajar bisnis namun tak berbisnis?
Kita belajar kepenulisan namun tak pernah menulis, mimpilah itu namanya! Jangan sekali-kali berharap untuk jadi penulis. Dan masih banyak ragam jenis pembelajaran lainnya.
Seperti yang kita tahu, Hong Kong saat ini penuh dengan ragam pembelajaran di kalangan BMI. Dari yang berbayar maupun yang gratis. Dari yang sekali pertemuan sampai kontinyu sekian minggu. So, kita patut bersyukur dengan keberadaan kita di negeri ini. Meski bukan negara sendiri, namun kesempatan untuk belajar ada dimana-mana.
Apa yang kita bisa raih saat ini belum tentu bisa kita dapatkan ketika pulang ke Indonesia. Entah karena sibuk urusan keluarga, sibuk kerja atau tidak punya dana, maka gunakanlah kesempatan dengan baik.
Dari banyaknya pembelajaran di Hong Kong, saya akan ambil satu untuk dibahas lebih intens, yaitu berwirausaha. Kita sudah mengikuti pembelajaran bagaimana membuat impian,.bagaimana menyusul goal, bagaimana membangun jaringan, bagaimana memasarkan produk dll.
Pertanyaannya, kenapa kita masih bekerja di Hong Kong? Lalu ilmu yang kita pelajari untuk apa? Dikemanakan? Kenapa tidak diaplikasikan? Bingungkan?
Mari sejenak kita renungkan. Kita tanyakan kepada diri sendiri apa yang kita cari dalam pengembaraan dirantau ini?
Kalau kita mau jujur, ada tiga hal alasan kita bertahan meninggalkan keluarga. Kita berada di zona nyaman yang sebenarnya tidak nyaman. Bagaimana bisa dikatakan nyaman, kalau jauh dilubuk hati, kita merindukan sesuatu yag membuat kita bahagia : kumpul keluarga (anak, saudara, orang tua atau suami).
Hidup bersama orang-orang yang kita cintai tanpa kekurangan apapun, pastilah yang diinginkan oleh banyak orang termasuk kita. Dan kenyataannya, kita mengingkarinya.
Bentuk penginkaran kita adalah : bertahan di rantau!
Dibalik keputusan pasti ada sebab, dan sebab inilah akar masalah kita tidak (baca: belum berani) pulang padahal kita sudah mengantongi banyak ilmu dari pembelajaran-pembelajaran yang kita ikuti.
Yang dikatakan belajar adalah ketika kita mengaplikasikan apa yang kita pelajari sehingga itu mewujud nyata dalam realita. Bukan hanya sekedar kita tahu atau hapalan.
Beberapa akar masalah mengapa kita masih mau hidup di zona nyaman yang sebenarnya tidak nyaman ada tiga, yaitu:
~ Tiadanya sinkronisasi cara pandang antara kita dengan keluarga.
~ Tiadanya keberanian mengambil keputusan dan berkomitmen dengan keputusan
  tersebut.
~ Tidak cukupnya ilmu pengetahuan, wawasan karena terlena dengan glaumornya kehi-
  dupan.
Kawan, hidup adalah pilihan dan kita memang perlu berhati-hati dalam menentukan pilihan. Karena resiko dari keputusan, kita yang menanggungnya. Marilah kita sering-sering melonggok ke dalam diri, apa yang sebenarnya kita cari di rantau ini.
Bagi kita yang sudah banyak ikut pembelajaran, marilah kita aplikasikan ilmunya dan bagi yang belum pernah sama sekali ikut pembelajaran, ijinkanlah diri dan bukalah hati serta pikiran lalu ikutlah. Nikmati prosesnya sesakit apapun, sesulit apapun jangan menyerah. Proses itulah yang akan menjadikan kita manusia yang mampu mewujudkan impian.
 
Dimuat koran Berita Indonesia, edisi Agustus 2014