Senin, 25 Agustus 2014

Akar Masalah Takut Pulkam

’’Engko lek aku muleh ning Indonesia, kate nyambut gawe opo.......?’’


Mungkin Anda sering mendengar kalimat ini bahkan mungkin Anda sendiri sedang merasakan kegalauan seperti ungkapan diatas? Ketakutan, keresahan, kekhawatiran adalah hal yang manusiawi. Justru karena rasa-rasa itulah, manusia akhirnya termotivasi untuk mencari solusi dengan cara belajar.
Pembelajaran menjadi wajib hukumnya bagi kita yang benar-benar ingin berubah. Tanpa belajar sulit untuk mencapai sebuah kesuksesan yang diinginkan. Apakah kalau sudah belajar, sukses pasti kita dapat? Belum tentu!
Yang dinamakan belajar bukan hanya duduk manis baca buku positif, dengerin cd motivasi, datang ke berbagai pertemuan, bersikap seperti orang sukses. Belajar yang dimaksud di sini adalah kita mengaplikasikan apa yang kita pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Tinggal melihat apa yang kita pelajari sekecil apapun. Hal kecil bila dilakukan secara terus- menerus, akan membuahkan hasil. Setidaknya cara berpikir kita yang berubah. Ketika pikiran berubah, tindakanpun mengikuti dengan sendirinya.
Ambillah contoh belajar bisnis, maka kita harus menerapkan kiat-kiat bisnis dalam usaha yang kita jalankan. Mana ada belajar bisnis namun tak berbisnis?
Kita belajar kepenulisan namun tak pernah menulis, mimpilah itu namanya! Jangan sekali-kali berharap untuk jadi penulis. Dan masih banyak ragam jenis pembelajaran lainnya.
Seperti yang kita tahu, Hong Kong saat ini penuh dengan ragam pembelajaran di kalangan BMI. Dari yang berbayar maupun yang gratis. Dari yang sekali pertemuan sampai kontinyu sekian minggu. So, kita patut bersyukur dengan keberadaan kita di negeri ini. Meski bukan negara sendiri, namun kesempatan untuk belajar ada dimana-mana.
Apa yang kita bisa raih saat ini belum tentu bisa kita dapatkan ketika pulang ke Indonesia. Entah karena sibuk urusan keluarga, sibuk kerja atau tidak punya dana, maka gunakanlah kesempatan dengan baik.
Dari banyaknya pembelajaran di Hong Kong, saya akan ambil satu untuk dibahas lebih intens, yaitu berwirausaha. Kita sudah mengikuti pembelajaran bagaimana membuat impian,.bagaimana menyusul goal, bagaimana membangun jaringan, bagaimana memasarkan produk dll.
Pertanyaannya, kenapa kita masih bekerja di Hong Kong? Lalu ilmu yang kita pelajari untuk apa? Dikemanakan? Kenapa tidak diaplikasikan? Bingungkan?
Mari sejenak kita renungkan. Kita tanyakan kepada diri sendiri apa yang kita cari dalam pengembaraan dirantau ini?
Kalau kita mau jujur, ada tiga hal alasan kita bertahan meninggalkan keluarga. Kita berada di zona nyaman yang sebenarnya tidak nyaman. Bagaimana bisa dikatakan nyaman, kalau jauh dilubuk hati, kita merindukan sesuatu yag membuat kita bahagia : kumpul keluarga (anak, saudara, orang tua atau suami).
Hidup bersama orang-orang yang kita cintai tanpa kekurangan apapun, pastilah yang diinginkan oleh banyak orang termasuk kita. Dan kenyataannya, kita mengingkarinya.
Bentuk penginkaran kita adalah : bertahan di rantau!
Dibalik keputusan pasti ada sebab, dan sebab inilah akar masalah kita tidak (baca: belum berani) pulang padahal kita sudah mengantongi banyak ilmu dari pembelajaran-pembelajaran yang kita ikuti.
Yang dikatakan belajar adalah ketika kita mengaplikasikan apa yang kita pelajari sehingga itu mewujud nyata dalam realita. Bukan hanya sekedar kita tahu atau hapalan.
Beberapa akar masalah mengapa kita masih mau hidup di zona nyaman yang sebenarnya tidak nyaman ada tiga, yaitu:
~ Tiadanya sinkronisasi cara pandang antara kita dengan keluarga.
~ Tiadanya keberanian mengambil keputusan dan berkomitmen dengan keputusan
  tersebut.
~ Tidak cukupnya ilmu pengetahuan, wawasan karena terlena dengan glaumornya kehi-
  dupan.
Kawan, hidup adalah pilihan dan kita memang perlu berhati-hati dalam menentukan pilihan. Karena resiko dari keputusan, kita yang menanggungnya. Marilah kita sering-sering melonggok ke dalam diri, apa yang sebenarnya kita cari di rantau ini.
Bagi kita yang sudah banyak ikut pembelajaran, marilah kita aplikasikan ilmunya dan bagi yang belum pernah sama sekali ikut pembelajaran, ijinkanlah diri dan bukalah hati serta pikiran lalu ikutlah. Nikmati prosesnya sesakit apapun, sesulit apapun jangan menyerah. Proses itulah yang akan menjadikan kita manusia yang mampu mewujudkan impian.
 
Dimuat koran Berita Indonesia, edisi Agustus 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar