Kamis, 25 Desember 2014

Fenomena Multilevel Di Kalangan BMI




MLM siapa yang tidak kenal dengan nama ini. Satu jenis bisnis jaringan yang marak terjadi di Hong kong, dari yang  investasinya murah sampai yang mahal. Dari yang memiliki produk sampai yang tidak berproduk. 

       Berita MLM seringkali menghiasai wajah-wajah media massa di Hong Kong, dari yang bersifat promosi maupun mendiskriminasi. Inilah fakta yang terjadi dan tidak bisa dipungkiri.  Bahkan terkadang   membuat gerah yang membaca karena berita yang ditulis terkesan memojokkan dan  berlebihan dalam membahasnya.

      MLM selalu menjadi pro dan kotra. Ada yang suka dan ada yang tidak suka. Inilah fenomenanya. Apakah benar MLM itu buruk? Sebegitu menakutkankah sehingga harus antipati terhadapnya?
Sebagai seorang BMI dan juga pelaku MLM meskipun sudah tidak aktif lagi, apa yang diberitakan di media massa memang terlalu berlebihan. Saya melihat apa yang disampaikan disitu lebih pada masalah personal pelaku MLMnya. Rasanya kurang bijak bilamana MLM dijelek-jelekkan karena tidak semua MLM jelek.
Sebagai pelaku MLM, saya ingin  menyampaikan pengalaman sebagai seorang networker. Banyak hal positif  yang bisa didapat dari MLM, meskipun secara finansial saya tidak mendapatkannya di bisnis itu padahal  saya sudah mengeluarkan investasi banyak. Namun saya melihat MLM dari segi lain.  MLM adalah batu loncatan buat saya berkembang dari yang  dulunya pemalu, kuper, penakut, cengeng dan  hal-hal negatif  lainnya. MLM adalah salah satu sekolah buat saya belajar marketing, memahami ilmu komunikasi, memahami seni negoisasi, jenis macam produk dan berorganisasi.

     MLM selalu menjadi pro dan kotra. Ada yang suka dan ada yang tidak suka. Inilah fenomenanya. Apakah benar MLM itu buruk? Sebegitu menakutkankah sehingga harus antipati terhadapnya?
Sebagai seorang BMI dan juga pelaku MLM meskipun sudah tidak aktif lagi, apa yang diberitakan di media massa memang terlalu berlebihan. Saya melihat apa yang disampaikan disitu lebih pada masalah personal pelaku MLMnya. Rasanya kurang bijak bilamana MLM dijelek-jelekkan karena tidak semua MLM jelek.
Sebagai pelaku MLM, saya ingin  menyampaikan pengalaman sebagai seorang networker. Banyak hal positif  yang bisa didapat dari MLM, meskipun secara finansial saya tidak mendapatkannya di bisnis itu padahal  saya sudah mengeluarkan investasi banyak. Namun saya melihat MLM dari segi lain.  MLM adalah batu loncatan buat saya berkembang dari yang  dulunya pemalu, kuper, penakut, cengeng dan  hal-hal negatif  lainnya. MLM adalah salah satu sekolah buat saya belajar marketing, memahami ilmu komunikasi, memahami seni negoisasi, jenis macam produk dan berorganisasi.



       Ilmu-ilmu tersebut banyak dibahas di buku yang dengan mudah bisa didapat diberbagai toko buku. Sehebat apapun  isi buku, tanpa praktek di lapangan, semua hanya akan memenuhi kepala. Memang  untuk  mempraktekkan  sebuah ilmu tidak harus terjun di MLM. Banyak cara yang bisa dilakukan, namun MLM adalah tempat yang lengkap untuk belajar. 

        MLM adalah bisnis jaringan yang mengkoordinir manusia dengan berbagai karakter, status, jabatan. Dan dari situlah, kita bisa belajar tentang personality,psikologi dll.  Ilmu yang bermanfaat dan dibutuhkan dalam  menjalankan bisnis. Apapun nama bisnisnya, yang dihadapi adalah manusia dan di MLM sendiri adalah bisnis manusia.
Kalau ada yang habis-habisan atau hancur-hancuran finansialnya karena menjalankan bisnis MLM, bukan semata-mata karena MLMnya lho!  Banyak faktor yang mempengaruhi dan biasanya lebih pada personal individunya. Bisa jadi karena ia belum memahami prosedur bisnisnya dengan baik, alasan yang salah dalam menjalankannya, terlalu ambius hingga menghalalkan segala cara dll.

       Cobalah flashback  ke belakang  dan jujur pada diri sendiri bila mengalami  hal  yang tidak mengenakan di MLM, pasti  jawabannya lebih pada masalah personal diri. Mau masalah dengan upline, dowline, crosline semua bergantung pada diri kita sendiri bagaimana menyingkapi. MLM sering dikatakan sebgai IB (bisnis owner). Penentu semua keputusan adalah diri kita sendiri bukan? 
Saran saya, sebelum memasuki bisnis MLM, pelajari dulu semuanya dengan seksama. Baik profil  perusahaannya, marketing  plannya, produknya, support sistimnya, calon relasi, dll. Berhati-hati itu perlu karena dalam berbisnis kita pasti akan mengeluarkan investasi, meskipun dalam jumlah kecil. Bukankah kita bisnis untuk mendapat hasil?

        Bila mana kita sudah terlanjur kejebur di MLM dan  mengalami kerugian, bersegeralah intropeksi diri mencari letak kesalahannya dimana. Kebanyakan berawal dari sebuah ambisi yang berlebihan sehingga kita mau cepat sukses dengan cara instan. Terjadilah hutang piutang di antara pelakunya. Yang  lebih parah  bila  melibatkan perbankkan, bila sudah begini, urusannya jadi  ruwet bin ribet. Karena untuk  mendapatkan  pinjaman dari bank, kita harus menyerahkan dokumen kerja dan menyiapkan minimal satu orang sebagai saksi.Dari sinilah banyak timbul masalah yang pada akhirnya MLMya menjadi sasaran  kambinghitam. Padahal MLM hanya  sebuah  nama  jenis usaha/bisnis. Perpecahan antar teman, diinterminit majikan karena bermasalah dengan bank. Marilah kita bijak  menyingkapi.* Termuat di koran Berita Indonesia edisi Nov 2014

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar