
MLM siapa yang tidak kenal dengan nama ini. Satu jenis bisnis jaringan yang marak terjadi di Hong kong, dari yang investasinya murah sampai yang mahal. Dari yang memiliki produk sampai yang tidak berproduk.
Berita MLM seringkali menghiasai wajah-wajah media massa di Hong Kong, dari yang bersifat promosi maupun mendiskriminasi. Inilah fakta yang terjadi dan tidak bisa dipungkiri. Bahkan terkadang membuat gerah yang membaca karena berita yang ditulis terkesan memojokkan dan berlebihan dalam membahasnya.
MLM selalu menjadi pro
dan kotra. Ada yang suka dan ada yang tidak suka.
Inilah fenomenanya. Apakah benar MLM itu buruk? Sebegitu menakutkankah sehingga
harus antipati terhadapnya?
Sebagai seorang BMI dan
juga pelaku MLM meskipun sudah tidak aktif lagi, apa yang diberitakan di media
massa memang terlalu berlebihan. Saya melihat apa yang disampaikan disitu lebih
pada masalah personal pelaku MLMnya. Rasanya kurang bijak bilamana MLM
dijelek-jelekkan karena tidak semua MLM jelek.
Sebagai pelaku MLM,
saya ingin menyampaikan pengalaman
sebagai seorang networker. Banyak hal positif yang bisa didapat dari MLM, meskipun secara
finansial saya tidak mendapatkannya di bisnis itu padahal saya sudah mengeluarkan investasi banyak.
Namun saya melihat MLM dari segi lain. MLM adalah batu loncatan buat saya
berkembang dari yang dulunya pemalu,
kuper, penakut, cengeng dan hal-hal
negatif lainnya. MLM adalah salah satu
sekolah buat saya belajar marketing, memahami ilmu komunikasi, memahami seni
negoisasi, jenis macam produk dan berorganisasi.
MLM selalu menjadi pro
dan kotra. Ada yang suka dan ada yang tidak suka.
Inilah fenomenanya. Apakah benar MLM itu buruk? Sebegitu menakutkankah sehingga
harus antipati terhadapnya?
Sebagai seorang BMI dan
juga pelaku MLM meskipun sudah tidak aktif lagi, apa yang diberitakan di media
massa memang terlalu berlebihan. Saya melihat apa yang disampaikan disitu lebih
pada masalah personal pelaku MLMnya. Rasanya kurang bijak bilamana MLM
dijelek-jelekkan karena tidak semua MLM jelek.
Sebagai pelaku MLM,
saya ingin menyampaikan pengalaman
sebagai seorang networker. Banyak hal positif yang bisa didapat dari MLM, meskipun secara
finansial saya tidak mendapatkannya di bisnis itu padahal saya sudah mengeluarkan investasi banyak.
Namun saya melihat MLM dari segi lain. MLM adalah batu loncatan buat saya
berkembang dari yang dulunya pemalu,
kuper, penakut, cengeng dan hal-hal
negatif lainnya. MLM adalah salah satu
sekolah buat saya belajar marketing, memahami ilmu komunikasi, memahami seni
negoisasi, jenis macam produk dan berorganisasi.
Ilmu-ilmu tersebut
banyak dibahas di buku yang dengan mudah bisa didapat diberbagai toko buku.
Sehebat apapun isi buku, tanpa praktek
di lapangan, semua hanya akan memenuhi kepala. Memang untuk mempraktekkan sebuah ilmu tidak harus terjun di MLM. Banyak
cara yang bisa dilakukan, namun MLM adalah tempat yang lengkap untuk belajar.
MLM adalah bisnis
jaringan yang mengkoordinir manusia dengan berbagai karakter, status,
jabatan. Dan dari situlah, kita bisa belajar tentang personality,psikologi
dll. Ilmu yang bermanfaat dan dibutuhkan
dalam menjalankan bisnis. Apapun nama
bisnisnya, yang dihadapi adalah manusia dan di MLM sendiri adalah bisnis
manusia.
Kalau ada yang
habis-habisan atau hancur-hancuran finansialnya karena menjalankan bisnis MLM,
bukan semata-mata karena MLMnya lho! Banyak faktor yang mempengaruhi dan biasanya
lebih pada personal individunya. Bisa jadi karena ia belum memahami
prosedur bisnisnya dengan baik, alasan yang salah dalam menjalankannya, terlalu
ambius hingga menghalalkan segala cara dll.
Cobalah flashback ke belakang
dan jujur pada diri sendiri bila mengalami hal
yang tidak mengenakan di MLM, pasti
jawabannya lebih pada masalah personal diri. Mau masalah dengan upline,
dowline, crosline semua bergantung pada diri kita sendiri bagaimana
menyingkapi. MLM sering dikatakan sebgai IB (bisnis owner). Penentu semua
keputusan adalah diri kita sendiri bukan?
Saran saya, sebelum
memasuki bisnis MLM, pelajari dulu semuanya dengan seksama. Baik profil perusahaannya, marketing plannya, produknya, support sistimnya, calon
relasi, dll. Berhati-hati itu perlu karena dalam berbisnis kita pasti akan
mengeluarkan investasi, meskipun dalam jumlah kecil. Bukankah kita bisnis untuk
mendapat hasil?
Bila mana kita sudah
terlanjur kejebur di MLM dan mengalami
kerugian, bersegeralah intropeksi diri mencari letak kesalahannya dimana.
Kebanyakan berawal dari sebuah ambisi yang berlebihan sehingga kita mau cepat sukses
dengan cara instan. Terjadilah hutang piutang di antara pelakunya. Yang lebih parah
bila melibatkan perbankkan, bila
sudah begini, urusannya jadi ruwet bin
ribet. Karena untuk mendapatkan pinjaman dari bank, kita harus menyerahkan
dokumen kerja dan menyiapkan minimal satu orang sebagai saksi.Dari sinilah banyak
timbul masalah yang pada akhirnya MLMya menjadi sasaran kambinghitam. Padahal MLM hanya sebuah nama jenis
usaha/bisnis. Perpecahan antar teman, diinterminit majikan karena bermasalah
dengan bank. Marilah kita bijak
menyingkapi.* Termuat di koran Berita Indonesia edisi Nov 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar