Rabu, 21 Januari 2015

Dialog Sukses

BMI HK : " Saya tahu banyak n petualangan mbak Anna. Jujur, saya salut mbak. Kalau boleh,bagi-bagi donk ilmunya biar saya juga ketularan suksesnya...".

Annir      : " Masih belajar mbak. Ada yang bisa saya bantu?"
                                         


Percakapan singkat yang membuat saya tertegun dan bertanya-tanya. Saya tidak tahu ia dapat no saya dari mana. Ah, mungkin dapat dari koran yang mencantumkan nama dan no phone saya. . Atau mungkin dapat dari facebook ketika saya  cantumin di facebook. (hehe...).

Pertanyaan dan pernyataan dari sahabat BMIHK tadi, menurut saya terlalu berlebihan, sebab saya belum sukses. Saya belum apa-apa . Saya baru menapaki proses untuk sukses dengan segala tingkat kerumitannya. Ya! Rumit karena untuk sukses bukan hal mudah. Banyak kendala yang harus dicarikan solusinya. Itulah nikmatnya. Berproses untuk sukses! Berselancar di lembah kendala dengan segala kesakitannya hanya untuk mengumpulkan ribuan solusi! Sekali lagi : Solusi!

Dan ketika kita telah temukan solusi,  ada banyak nilai tambah yang kita dapatkan. Di antaranya, wawasan, ilmu, pengalaman, relasi, finansial dll. Dari yang awalnya tidak tahu, jadi tahu. Dari yang mulanya takut, jadi berani dan masih banyak lagi.

Banyak makna sukses yang disharingkan para pembicara/motivator/guru, baik lewat buku, koran, majalah, website, facebook, twitter dll. Saking banyaknya, kadang kita malah pusing memahaminya (hehehe..)

Itu artinya, hanya diri kitalah yang lebih paham makna sukses yang kita inginkan. Sebab,nilai kesuksesan tiap orang berbeda-beda. Ada yang merasa sukses ketika berani tampil di depan umum, bisa menulis, bisa masak, lulus sekolah, diterima kerja dll. Lalu sukses buat kita apa? (PR nich ceritanya buat yang belum menemukannya. hehehe..).

Sukses sangat luas cakupannya kawan! Jadi, perluaslah wawasan agar kita bisa terus berkembang. Untuk sukses banyak elemen yang dibutuhkan dan itu bisa dipelajari. Sekali lagi,bisa dipelajari lho! Jadi terus optimis ya!

"Dari tadi, ngomong sukses melulu ( hihi..). Lalu, bagi Annir sendiri, makna sukses itu apa?", celetuk bagian diri saya tiba-tiba.

"Aha! Iya juga ya. Dari tadi si Annir bicara sukses melulu", timpal bagian diri saya yang lain.

"Makna sukses buatku, so simple. Ketika aku bisa mewujudkan apa yang aku inginkan, sekecil apapun itu, aku sudah merasa sukses! Aku bisa berbagi sesuatu lewat tulisan, aku bisa membuka paradigma orang, aku bisa mengajak orang bergabung dalam program pemberdayaan, aku bisa membantu menjualkan produk orang, aku bisa dan bisa..... Ah, banyak dech pokoknya. Dan itu bisa kita ciptakan. Dan itu ada dalam kehidupan kita", sahut bagian diri saya yang mendapat pertanyaan makna sukses.

Kalau tadi saya katakan sukses itu so simple, ya memang iya. Karena diri kitalah yang merasakan kepuasannya. Setinggi apapun nilai sukses di mata orang, kalau kita tidak merasakan kenyamanannya (baca: kepuasannya), berarti kita belum bisa dikatakan sukses. Kita hanya mengikuti jejak sukses orang lain.

Oleh sebab itu, untuk bisa merasakan sukses, temukan  tujuan hidup Anda dulu. Dengan tujuan ini, kita akan terarah menapaki hidup. Ada panggilan hati untuk kita terus bergerak maju.Dari situ pula, jalan kita menuju sukses yang diinginkan semakin maju dan berkembang. Karena kita sudah menariknya hadir dalam kehidupan kita, lalu kita merealisasikannya dalam nyata.Sukses sudah ada dalam diri kita.



* Kepanjen, Kamis 22 Januari 2015






Selasa, 20 Januari 2015

Janda Inspiratif, Taklukkan Masalah



“ Saya sangat down ketika itu, karena bercerai dengan suami. Saya seperti kehilangan segalanya. Saya sakit hati banget. Lalu saya dibawa ke Aceh, dimana saat itu terjadi konflik yang menyebabkan banyak wanita terpaksa jadi janda. Saya melihat penderitaan mereka lebih parah dari saya. Sejak itulah saya mulai sadar diri. Saya sangat terpukul dan merasa tertampar. Ternyata penderitaan saya tidak ada apa-apanya bila dibanding penderitaan mereka. Namun mereka tidak pernah mengeluh, urai Nina, salah satu wanita inspiratif yang dipilih tabloid Nova.


 Itulah jawaban seorang wanita yang usianya sudah tidak muda lagi, namun semangatnya tetap membara. Di kamar hotel Majapahit, Surabaya No 65. Tanpa malu dan ragu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan. Saya kagum dengan semangatnya menaklukkan masalah. Disinilah saya bisa melihat perbedaan orang sukses dan orang gagal: dari sikap!

Saya merenung dan bertanya pada diri sendiri, apakah saya sudah termasuk di dalamnya. Faktanya, banyak wanita yang akhirnya tenggelam dalam kebencian, dendam, putus asa dan kehilangan jati diri karena kecewa ketika cintanya kandas! Nalarnya sudah tidak difungsikan secara normal, tertutup oleh emosi tak terkendali.

 Saya melihat begitu banyak wanita yang menjadi janda, hidup dalam kebimbangan. Keadaan mereka tak jauh dari anggapan masyarakat kebanyakan, bahwa janda itu kesepian, butuh kehangatan, butuh perhatian dll. Anggapan masyarakat yang mampu mensugesti banyak janda. Menjadikan mereka benar-benar lemah. Mudah mengeluh, putus asa, cengeng dan ada kecenderungan gampang terbujuk rayuan lelaki. Dan parahnya, keadaan ini ditambah dengan kecurigaan para wanita yang takut suaminya direbut bila ada wanita berstatus janda di lingkungannya.

 Merasa kesepian, butuh teman bicara, butuh tempat mengadu dll. Keadaan ini seringkali dimanfaatkan lelaki yang punya niat tidak baik. Dan banyak dari janda yang tidak menyadarinya. Akhirnya, terjadilah peristiwa seperti istilah keluar dari mulut buaya masuk mulut singa. Artinya, si janda berada dalam lingkaran penderitaan. Lalu, apa yang harus dilakukan oleh wanita berstatus janda?

 Menata diri agar tidak terlarut dalam masalah. Sepahit apapun, bersegeralah untuk bangkit. Caranya dengan tetap berbaik sangka pada Tuhan. Seperti kata bijak, bahwa Tuhan datang sesuai prasangka hambanya. Isilah waktu yang ada dengan kegiatan positif dan produktif, misal: baca buku positif, membuka usaha, masuk ke komunitas dll. Tidak perlu memperdulikan anggapan/kecurigaan orang dengan aktivitas yang dilakukan. Ini bisa dilakukan pula oleh teman-teman BMI yang rumah tangganya kandas. Terlepas dari salah benarnya di antara kedua belah pihak, karena orang berumah tangga pasti ada masalah.

Kamis, 25 Desember 2014

Fenomena Multilevel Di Kalangan BMI




MLM siapa yang tidak kenal dengan nama ini. Satu jenis bisnis jaringan yang marak terjadi di Hong kong, dari yang  investasinya murah sampai yang mahal. Dari yang memiliki produk sampai yang tidak berproduk. 

       Berita MLM seringkali menghiasai wajah-wajah media massa di Hong Kong, dari yang bersifat promosi maupun mendiskriminasi. Inilah fakta yang terjadi dan tidak bisa dipungkiri.  Bahkan terkadang   membuat gerah yang membaca karena berita yang ditulis terkesan memojokkan dan  berlebihan dalam membahasnya.

      MLM selalu menjadi pro dan kotra. Ada yang suka dan ada yang tidak suka. Inilah fenomenanya. Apakah benar MLM itu buruk? Sebegitu menakutkankah sehingga harus antipati terhadapnya?
Sebagai seorang BMI dan juga pelaku MLM meskipun sudah tidak aktif lagi, apa yang diberitakan di media massa memang terlalu berlebihan. Saya melihat apa yang disampaikan disitu lebih pada masalah personal pelaku MLMnya. Rasanya kurang bijak bilamana MLM dijelek-jelekkan karena tidak semua MLM jelek.
Sebagai pelaku MLM, saya ingin  menyampaikan pengalaman sebagai seorang networker. Banyak hal positif  yang bisa didapat dari MLM, meskipun secara finansial saya tidak mendapatkannya di bisnis itu padahal  saya sudah mengeluarkan investasi banyak. Namun saya melihat MLM dari segi lain.  MLM adalah batu loncatan buat saya berkembang dari yang  dulunya pemalu, kuper, penakut, cengeng dan  hal-hal negatif  lainnya. MLM adalah salah satu sekolah buat saya belajar marketing, memahami ilmu komunikasi, memahami seni negoisasi, jenis macam produk dan berorganisasi.

     MLM selalu menjadi pro dan kotra. Ada yang suka dan ada yang tidak suka. Inilah fenomenanya. Apakah benar MLM itu buruk? Sebegitu menakutkankah sehingga harus antipati terhadapnya?
Sebagai seorang BMI dan juga pelaku MLM meskipun sudah tidak aktif lagi, apa yang diberitakan di media massa memang terlalu berlebihan. Saya melihat apa yang disampaikan disitu lebih pada masalah personal pelaku MLMnya. Rasanya kurang bijak bilamana MLM dijelek-jelekkan karena tidak semua MLM jelek.
Sebagai pelaku MLM, saya ingin  menyampaikan pengalaman sebagai seorang networker. Banyak hal positif  yang bisa didapat dari MLM, meskipun secara finansial saya tidak mendapatkannya di bisnis itu padahal  saya sudah mengeluarkan investasi banyak. Namun saya melihat MLM dari segi lain.  MLM adalah batu loncatan buat saya berkembang dari yang  dulunya pemalu, kuper, penakut, cengeng dan  hal-hal negatif  lainnya. MLM adalah salah satu sekolah buat saya belajar marketing, memahami ilmu komunikasi, memahami seni negoisasi, jenis macam produk dan berorganisasi.



       Ilmu-ilmu tersebut banyak dibahas di buku yang dengan mudah bisa didapat diberbagai toko buku. Sehebat apapun  isi buku, tanpa praktek di lapangan, semua hanya akan memenuhi kepala. Memang  untuk  mempraktekkan  sebuah ilmu tidak harus terjun di MLM. Banyak cara yang bisa dilakukan, namun MLM adalah tempat yang lengkap untuk belajar. 

        MLM adalah bisnis jaringan yang mengkoordinir manusia dengan berbagai karakter, status, jabatan. Dan dari situlah, kita bisa belajar tentang personality,psikologi dll.  Ilmu yang bermanfaat dan dibutuhkan dalam  menjalankan bisnis. Apapun nama bisnisnya, yang dihadapi adalah manusia dan di MLM sendiri adalah bisnis manusia.
Kalau ada yang habis-habisan atau hancur-hancuran finansialnya karena menjalankan bisnis MLM, bukan semata-mata karena MLMnya lho!  Banyak faktor yang mempengaruhi dan biasanya lebih pada personal individunya. Bisa jadi karena ia belum memahami prosedur bisnisnya dengan baik, alasan yang salah dalam menjalankannya, terlalu ambius hingga menghalalkan segala cara dll.

       Cobalah flashback  ke belakang  dan jujur pada diri sendiri bila mengalami  hal  yang tidak mengenakan di MLM, pasti  jawabannya lebih pada masalah personal diri. Mau masalah dengan upline, dowline, crosline semua bergantung pada diri kita sendiri bagaimana menyingkapi. MLM sering dikatakan sebgai IB (bisnis owner). Penentu semua keputusan adalah diri kita sendiri bukan? 
Saran saya, sebelum memasuki bisnis MLM, pelajari dulu semuanya dengan seksama. Baik profil  perusahaannya, marketing  plannya, produknya, support sistimnya, calon relasi, dll. Berhati-hati itu perlu karena dalam berbisnis kita pasti akan mengeluarkan investasi, meskipun dalam jumlah kecil. Bukankah kita bisnis untuk mendapat hasil?

        Bila mana kita sudah terlanjur kejebur di MLM dan  mengalami kerugian, bersegeralah intropeksi diri mencari letak kesalahannya dimana. Kebanyakan berawal dari sebuah ambisi yang berlebihan sehingga kita mau cepat sukses dengan cara instan. Terjadilah hutang piutang di antara pelakunya. Yang  lebih parah  bila  melibatkan perbankkan, bila sudah begini, urusannya jadi  ruwet bin ribet. Karena untuk  mendapatkan  pinjaman dari bank, kita harus menyerahkan dokumen kerja dan menyiapkan minimal satu orang sebagai saksi.Dari sinilah banyak timbul masalah yang pada akhirnya MLMya menjadi sasaran  kambinghitam. Padahal MLM hanya  sebuah  nama  jenis usaha/bisnis. Perpecahan antar teman, diinterminit majikan karena bermasalah dengan bank. Marilah kita bijak  menyingkapi.* Termuat di koran Berita Indonesia edisi Nov 2014

 

Senin, 25 Agustus 2014

Akar Masalah Takut Pulkam

’’Engko lek aku muleh ning Indonesia, kate nyambut gawe opo.......?’’


Mungkin Anda sering mendengar kalimat ini bahkan mungkin Anda sendiri sedang merasakan kegalauan seperti ungkapan diatas? Ketakutan, keresahan, kekhawatiran adalah hal yang manusiawi. Justru karena rasa-rasa itulah, manusia akhirnya termotivasi untuk mencari solusi dengan cara belajar.
Pembelajaran menjadi wajib hukumnya bagi kita yang benar-benar ingin berubah. Tanpa belajar sulit untuk mencapai sebuah kesuksesan yang diinginkan. Apakah kalau sudah belajar, sukses pasti kita dapat? Belum tentu!
Yang dinamakan belajar bukan hanya duduk manis baca buku positif, dengerin cd motivasi, datang ke berbagai pertemuan, bersikap seperti orang sukses. Belajar yang dimaksud di sini adalah kita mengaplikasikan apa yang kita pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Tinggal melihat apa yang kita pelajari sekecil apapun. Hal kecil bila dilakukan secara terus- menerus, akan membuahkan hasil. Setidaknya cara berpikir kita yang berubah. Ketika pikiran berubah, tindakanpun mengikuti dengan sendirinya.
Ambillah contoh belajar bisnis, maka kita harus menerapkan kiat-kiat bisnis dalam usaha yang kita jalankan. Mana ada belajar bisnis namun tak berbisnis?
Kita belajar kepenulisan namun tak pernah menulis, mimpilah itu namanya! Jangan sekali-kali berharap untuk jadi penulis. Dan masih banyak ragam jenis pembelajaran lainnya.
Seperti yang kita tahu, Hong Kong saat ini penuh dengan ragam pembelajaran di kalangan BMI. Dari yang berbayar maupun yang gratis. Dari yang sekali pertemuan sampai kontinyu sekian minggu. So, kita patut bersyukur dengan keberadaan kita di negeri ini. Meski bukan negara sendiri, namun kesempatan untuk belajar ada dimana-mana.
Apa yang kita bisa raih saat ini belum tentu bisa kita dapatkan ketika pulang ke Indonesia. Entah karena sibuk urusan keluarga, sibuk kerja atau tidak punya dana, maka gunakanlah kesempatan dengan baik.
Dari banyaknya pembelajaran di Hong Kong, saya akan ambil satu untuk dibahas lebih intens, yaitu berwirausaha. Kita sudah mengikuti pembelajaran bagaimana membuat impian,.bagaimana menyusul goal, bagaimana membangun jaringan, bagaimana memasarkan produk dll.
Pertanyaannya, kenapa kita masih bekerja di Hong Kong? Lalu ilmu yang kita pelajari untuk apa? Dikemanakan? Kenapa tidak diaplikasikan? Bingungkan?
Mari sejenak kita renungkan. Kita tanyakan kepada diri sendiri apa yang kita cari dalam pengembaraan dirantau ini?
Kalau kita mau jujur, ada tiga hal alasan kita bertahan meninggalkan keluarga. Kita berada di zona nyaman yang sebenarnya tidak nyaman. Bagaimana bisa dikatakan nyaman, kalau jauh dilubuk hati, kita merindukan sesuatu yag membuat kita bahagia : kumpul keluarga (anak, saudara, orang tua atau suami).
Hidup bersama orang-orang yang kita cintai tanpa kekurangan apapun, pastilah yang diinginkan oleh banyak orang termasuk kita. Dan kenyataannya, kita mengingkarinya.
Bentuk penginkaran kita adalah : bertahan di rantau!
Dibalik keputusan pasti ada sebab, dan sebab inilah akar masalah kita tidak (baca: belum berani) pulang padahal kita sudah mengantongi banyak ilmu dari pembelajaran-pembelajaran yang kita ikuti.
Yang dikatakan belajar adalah ketika kita mengaplikasikan apa yang kita pelajari sehingga itu mewujud nyata dalam realita. Bukan hanya sekedar kita tahu atau hapalan.
Beberapa akar masalah mengapa kita masih mau hidup di zona nyaman yang sebenarnya tidak nyaman ada tiga, yaitu:
~ Tiadanya sinkronisasi cara pandang antara kita dengan keluarga.
~ Tiadanya keberanian mengambil keputusan dan berkomitmen dengan keputusan
  tersebut.
~ Tidak cukupnya ilmu pengetahuan, wawasan karena terlena dengan glaumornya kehi-
  dupan.
Kawan, hidup adalah pilihan dan kita memang perlu berhati-hati dalam menentukan pilihan. Karena resiko dari keputusan, kita yang menanggungnya. Marilah kita sering-sering melonggok ke dalam diri, apa yang sebenarnya kita cari di rantau ini.
Bagi kita yang sudah banyak ikut pembelajaran, marilah kita aplikasikan ilmunya dan bagi yang belum pernah sama sekali ikut pembelajaran, ijinkanlah diri dan bukalah hati serta pikiran lalu ikutlah. Nikmati prosesnya sesakit apapun, sesulit apapun jangan menyerah. Proses itulah yang akan menjadikan kita manusia yang mampu mewujudkan impian.
 
Dimuat koran Berita Indonesia, edisi Agustus 2014

Kamis, 13 Maret 2014

Maraknya Pencurian Data Usaha



’’ Data-dataku bisnisku diambilnya.......’’

Bersaing dalam bisnis adalah hal biasa dalam dunia perbisnisan. Dari memakai cara yang halus,kasar, sembunyi sampai terang-terangan. Bersaing dalam bisnis sebenarnya bagus asal dengan cara yang sehat. Persaingan itu perlu sebagai gesekan untuk maju. Masalahnya, bagaimana kalau persaingan yang terjadi tidak sehat?

Banyak cara yang dilakukan para pembisnis dalam memajukan usahanya apapun bentuk usahanya, apalagi sekarang tehnologi semakin canggih. Ada yang memakai kecanggihan tehnologi untuk berkembang dan tidak sedikit menggunakannya untuk membobol sebuah data.

Bila pembobolan data itu terjadi pada bisnis Anda, apakah yang akan Anda lakukan? Apakah Anda perlu panik? Marah-marah?.Tunding sana tunding sini? Kalau iya, apakah yang akan Anda peroleh dari sikap yang demikian? Apakah lantas bisnis Anda mencuat bak meteor?

Yah! Dunia bisnis penuh dengan intrik-intrik yang kadangkala membuat pelakunya kehilangan kendali. Dunia bisnis penuh persaingan. Persaingan yang harus diselesaikan dengan cara sehat dan sikap itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang sadar dan memahami akan bisnis yang dijalaninya. Bukan bisnis yang asal-asalan saja. Apalagi bisnis yang sekedar ikut-ikutan dengan mengandalkan aji mumpung. Tentunya, sebelum ia menjalankan bisnis, ia punya gambaran (baca : map road) mau dibawa kemana bisnis tersebut. Sehingga ketika bisnisnya belum berkembang atau sedang dihadang masalah, ia akan segera mencari letak permasalahannya dan berupaya mengatasinya.

Dari tersendatnya bisnis, ia menata segala sesuatu yang berkenaan dengan bisnisnya. Pantang menyerah. Ia yakin bahwa ada solusi bagi kemajuan bisnisnya. Mencari cara-cara untuk meningkatkan omset/penghasilan. Terus belajar untuk hasil yang memuaskan baik dari segi penampilan, cara promo, kualitas produk, management keuangannya dll. Inilah sikap pembisnis sejati. Ia tahu bagaimana mengembangkan binsnisnya dengan cara sehat. Bagaimana bisnisnya tetap up to date. Bagaimana menjaga hubungan baik dengan pelanggannya.

Berbeda dengan sikap pelaku bisnis yang membangun bisnisnya hanya bermodalkan aji mumpung, anut grubyuk apalagi yang mengawalinya dengan cara tidak benar, ( baca : curang ) semacam mencuri data-data penting. Sepanjang ia menjalankan bisnisnya, akan diburu rasa bersalah dan tidak akan bertahan lama. Karena bisnis itu harus dijiwai bukan sekedar dipelajari. Disamping itu, hukum alam akan berbicara. Apa yang kita tanam, itu pula yang akan kita petik. Kalaupun mendapat untung dari bisnis yang dilakoninya, itu bersifat sementara saja.

Seandainya kita adalah salah satu orang kunci pada sebuah bisnis, dan kita tertarik untuk menjalankannya, apakah yang harus kita lakukan? Bisa.dengan mengajukan diri menjadi agen cabangnya, ikut investasi didalamnya laly bersama-sama membesarkannya. Ini salah satu cara sehat dan aman. Apakah salah kalau kita ingin berdikari membuka bisnis sendiri? Tidak ada pelarangan asal dengan cara yang benar bukan dengan jalan membobol data perusahaan/bisnis. Ini sama juga dengan pencurian.



Dimuat Koran Berita Indonesia, Edisi Maret 2014

Kamis, 06 Maret 2014

Tentang Program Tour Study Magang


Pelaksanaan

Mengkoordinir BMI yang kebetulan pulang cuti ke Tanah Air untuk mengikuti program magang di Tegal Waru Bogor selama 14-30 hari (dikondisikan) untuk hasil optimal. Dilaksanakan bergelombang dan tiap gelombang diikuti minimal 10-15 orang, maksimal 50 orang.

Alumni magang yang berminat membuka usaha dikumpulkan dan dikoordinir dalam satu wadah untuk memudahkan memonitor perkembangan mereka.

Dibentuk kelompok belajar sebagai ajang diskusi, konsultasi dan menemukan terobosan-terobosan baru juga membentuk support sistem dengan mengadakan pelatihan.

Tetapi pada umumnya BMI hanya mendapat jatah waktu cuti antara 14-21 hari dan paling lama 30 hari. Dan waktu itu digunakan untuk agenda temu kangen keluarga.
Namun apalah arti dari temu kangen itu kalau akhirnya berpisah kembali dalam kurun waktu yang tidak bisa ditentukan karena BMI tersebut tidak tahu apa yang akan dikerjakan bila mengakhiri kontrak kerjanya. Dan temu kangen tersebut selalu dijadikan ajang menghamburkan uang dengan alasan demi membahagiakan keluarga. Tak jarang BMI rela berhutang ke Bank hanya untuk temu kangen ini. Sekembalinya dari Tanah Air, gaji digunakan untuk membayar hutang. Kesenangan sesaat yang menyesatkan dan menyengsarakan. Acara temu kangen menjadi bumerang bagi BMI itu sendiri.
Menghadapi fenomena seperti ini, program Tour study Magang bisa diarahkan untuk keluarga BMI, tidak perlu menunggu BMI pulang. BMI ataupun keluarganya sama saja. Ada banyak keuntungan bila program ini terwujud, di antaranya :


BMI bisa membuka usaha yang dijalankan oleh keluarga sehingga gajinya tidak menguap kemana-mana.

Mendidik dan memberdayakan keluarga BMI agar juga bertanggungjawab meningkatkan pendapatan keluarga tidak menjadi benalu mengandalkan penghasilan BMI.

BMI berani mengambil keputusan pulang ke Tanah Air karena sudah punya usaha yang dijalankan dengan penuh pertimbangan oleh keluarga. Bukan usaha yang sekedar ikut-kutan seperti yang selama ini terjadi pada keluarga BMI yang pada akhirnya menyisakan trauma untuk bangkit lagi.

Dengan adanya azas kebersamaan, dipastikan setiap kelompok akan saling membantu bagaimana semua usaha yang dijalankan bisa berhasil karena cara kerjanya tidak sendiri tetapi gotong- royong.


Persiapan

Untuk memudahkan perjalanan, akan dipilih rute-rute yang akan dilewati kendaraan yang akan dipakai. Start awal dari kota Malang. Bagi peserta Tour Study Magang bisa menunggu di pos-pos yang ditunjuk misal terminal yang searah dengan rute perjalanan. Menerima peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur, seperti Blitar, Madiun, Kediri, Ponorogo dll.
Untuk persiapannya, dibutuhkan kendaraan dan penginapan. Semua kebutuhan ini bisa dikalkulasikan per orangnya berapa rupiah nantinya. Cara pendaftaran dan pembayaran sementara waktu di Hong Kong karena semua tim masih di sana.




~ Tim OVM~



                     



               


                                   






Tentang Program Tour Study Magang

Perencanaan

Sebagai peserta dan penyelenggara pelatihan berbasis self development di Hong Kong, One Vision Management mencoba merancang sebuah program perberdayaan berbasis pendidikan yang dipadukan dengan tafakur alam serta memasukan unsur kewirausahaan yang kami beri nama Tour Study Magang . Diperuntukkan untuk siapa saja yang ingin serius membuka usaha dan dikhususkan untuk keluarga BMI agar mereka bisa segera kembali ke Tanah air mencurahkan potensinya.

Berbagai bentuk pelatihan yang mereka ikuti mengasah SDM dan ini tidak boleh lama-lama dibiarkan menganggur. Indonesia kaya akan SDA tapi miskin di SDM. Program ini dibentuk sebagai wadah dan sarana BMI tetap belajar dan berkarya dengan mengusung azas kebersamaan bukan perorangan, dari BMI untuk BMI.

Kami melihat ada alumni pelatihan Hong Kong yang telah membuka usaha namun bersifat individual sedangkan ikatan batin antar BMI semasa mereka bekerja di Luar Negeri demikian eratnya. Kenapa tidak dimanfaatkan? Selain membina tali silaturohmi, usaha yang dijalankan akan lebih mudah diarahkan ketika mendapat kendala.





~ Tim OVM~