Apapun perolehan yang aku raih, selalu aku syukuri karena aku percaya, bila kita orang yang pandai bersyukur, maka nikmat Allah akan bertambah. Janji Allah adalah benar adanya. Terima kasih untuk segalanya, hanya ini yang terluah dari bibirku disela air mata yang berderai. Begitu banyak hikmah yang aku dapatkan dari ketidaknyamanan-ketidaknyaman selama di perantauan, tak terbilang....
Perjalanan hidup yang sudah ku tempuh mempertemukan aku dengan banyak hal yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Subhanallah, hanya itu yang terucap dari mulutku. Semakin diri ini merasa kecil dan bukan apa-apa. Semakin menggelora tekad untuk lebih dan lebih belajar. Ketika ku temukan arti hidup di usia yang tidak muda lagi, disitulah aku berjanji kepada diri sendiri untuk memfaatkan waktu sebaik-baik mungkin. Yah, aku ingin menjadi.....
Menjadi seperti apa? Menjadi seperti yang dikehendaki Allah. Mudahkah? Tidak! Bila tidak tahu caranya dan menjadi mudah bila tahu caranya. Aku harus belajar dan belajar, melakukan dan melakukan.Rintangan, halangan pasti ada dan itulah pembelajaran yang sesungguhnya. Menaklukkannya dengan solusi yang terbentang di alam semesta ciptaan Allah.
Bersyukur terus bergulir dari bibirku dengan pekerjaan yang seringkali jadi cemoohan orang. Kucel, kumel, bodoh, bego, nakal dlsb. Pekerjaan sebagai Buruh Migran yang dicap macam-macam oleh banyak orang karena perbuatan segelintir orang yang tengah terlupa. Yah, terlupa kepada dirinya, penciptaannya, hidupnya. Dari pekerjaan ini, justru ku temukan arti hidup yang sesungguhnya. Ku temukan kebermaknaan diri yang selalu menguras air mataku. Tuhan, maafkan aku..
Pekerjaan Buruh ini mengantarkanku untuk bertemu dengan guru-guru kehidupan. Pekerjaan buruh ini mempertemukanku dengan segudang ide yang harus digulirkan, dilaksanakan dengan segala upaya agar terwujud ke permukaan. Pekerjaan buruh ini telah menyeretku jauuuuuh ke masa depan yang tak pernah ku pikirkan sebelumnya. Relasi, koneksi, peluang dlsb. Terima kasih Tuhan...
Kini tugas menanti untuk segera ku jamah, di sana di Indonesia sana. Dengan kedua tangan ini, dengan kedua kaki ini, dengan pikiran ini, dengan semangat ini, dengan kepasrahan ini. Kepasrahan hanya kepadaNya, Allah Tuhanku. Terima kasih atas kesempatan hidup ini. Akan ku gunakan sebaik mungkin selama nafas masih bersemanyam didada. Tidak ada keraguan lagi untuk melangkah. BersamaMu, dengan kehendakMu, dengan ijinMu, semua akan terwujud nyata. [ Zen- Zen : 27 Januari 2013]
Penulis ingin meluahkan buah pikirnya, pengalamannya, juga segala sesuatu yang terjadi disekitarnya yang mampu mengusik nalurinya sebagai manusia yang senantiasa ingin berbenah. Lewat tulisan, penulis ingin berbagi
Minggu, 27 Januari 2013
Rabu, 12 Desember 2012
SOSOK BMI DALAM KRIKIL (KREATIF & TERAMPIL)
Meluahkan Imajinasi Ke Dalam Karya
“Suatu aktivitas yang sangat
menyenangkan karena selain menghasilkan karya seni juga bisa meluahkan emosi
dan imajinasi saya dalam sebuah karya. Selain memberikan kepuasan tersendiri
juga bisa memanfaatkan waktu dengan lebih baik” ulas Naning BMI asal
Palembang.
Membuat souvenir dan aksesoris
adalah kesukaan yang tak bisa terelakkan baginya, karena dari permintaan
teman-teman membuat BMI yang satu ini optimis untuk mengembangkannya. Pelanggan
pertamanya adalah teman-teman sendiri di Hong Kong atau dari Indonesia, kemudian
menjadi dikenal lebih luas melalui jaringan internet Fb, You Tube, Tweeter, Skype,
Blog, dll. Juga beberapa toko busana /butik
di nusantara yang siap dan sudah memasarkannya, meskipun masih dalam jumlah
yang terbatas, berhubung terkendala waktu pembuatannya.
BMI yang bernama lengkap Naning
Fauziah ini, lahir di Durenan, Trenggalek, Jawa Timur, anak kedua dari tiga
bersaudara. Keluarganya berdomisili di kota Plaju, Palembang, ia masih bekerja di Hong Kong sejak tahun 2007
hingga sekarang kontrak ke 3 dengan job yg sama. Sebelum menekuni kerajinan,
aktivitasnya selama 2 tahun adalah belajar di salah satu universitas di Hong Kong,
untuk mengisi waktu libur hingga kemudian bertemu dengan sahabat kecil semasa
sekolah dalam satu kegiatan pameran di lapangan.
Sahabat lamanya menawarkan ilmu,
karena dia sudah berencana kembali ke Tanah Air. Dari situ ia menemukan
bakatnya di bidang kerajinan tangan. Karena dari kecil hobinya menggambar, aktif
mengikuti setiap perlombaan dari bangku SD. Meskipun melukis tidak sama dengan
membuat kerajinan tetapi baginya sama-sama meluahkan imajinasi kedalam sebuah
karya dengan media yang berbeda yaitu dari kertas gambar/kanvas beralih ke bahan
kerajinan tangan seperti batu manik dan material pelengkapnya.
Setiap ada kesempatan luang digunakannya
membuat kerajinan untuk memperbanyak koleksi dengan cara meniru /membeli
souvenir yang sudah jadi agar bisa mengikuti cara pembuatanya, sehingga ia bisa
menghasilkan karya dengan versinya sendiri. Yang dimaksud meniru adalah sebatas
cara pembuatan dasarnya saja dan untuk karya yang akan dibuat bisa dikreasikan
dengan berbagai model yang bervariasi. Selain itu bisa belajar sendiri dari
buku /VCD tutor membuat kerajinan, dari buku-buku penunjang sangat mudah
dipelajari dan mempraktekkan. Dari beberapa buku kerajinan dipadukannya, guna
menambah pengetahuan menginspirasi untuk berkarya seetnik mungkin, tidak
ketinggalan trend dari peminat di masyarakat luas. Tidak ada alasan untuk
meningkatkan potensi diri meski masih pemula sekalipun. Hal serupa bisa dilakukan
dengan belajar membuat kerajinan dari internet, dan dikembangkan dengan cara
kita sendiri. Berbagai ilmu sebagai tambahan pengetahuan serta referensi dalam
kita mempersiapkan sebelum benar-benar memiliki usaha di Tanah Air.
Hasil Kerajinan yang sudah dihasilkan oleh Naning beraneka
ragam seperti : kado, souvenir pernikahan berupa boneka unik, hiasan, miniatur
rumah, gantungan kunci/HP, gelang, kalung, tas,dll. Kalau mau mengembangkan
mungkin masih sangat berpeluang untuk sukses, dilihat dari bahan material yang
terjangkau juga mudah didapatkan. Melihat fungsi dari aksesoris sendiri tidak
lepas dari kodrat perempuan. Dari action yang sederhana atau yang mewah.
Kendala yang biasa dialami selama masih
bekerja di sini yaitu, waktu yang sangat terbatas. Tetapi ia akan tetap optimis
karena memang cara terbaiknya dengan mempersiapkan sedini mungkin dan belajar
serta berusaha selagi masih ada kesempatan.
Selama ini, Naning menerima
orderan aksesories dan sovenir untuk teman-teman di Hong Kong, seperti
teman-teman sekolah, organisasi juga menerima berbagai pesanan untuk bermacam
acara. Untuk pemesaran di Indonesia, ada butik muslim di daerah Batam (salah
satu plaza di kota Plaju) juga pemesanan secara on line. Meski masih sangat
terbatas, Naning yakin akan berkembang karena pelanggan yang biasa order merasa
puas dan suka dengan karyanya.
Planning ke depan, Naning ingin
mendirikan sebuah “sanggar kreasi” di
Palembang tempat tinggalnya. Dengan modal keberanian dan ketekunan, Naning
percaya akan ada hasil dari usaha ini. Untuk meningkatkan pemasaran yang sudah
berjalan, ia akan memperkenalkan di daerah-daerah wisata yang ada di Palembang
karena di daerah tersebut masih minim sekali, bergabung di komunitas yang
sebidang, mengikuti event-event pameran seni, bermitra dengan jasa percetakan
yang belum menyediakan sovenir, dll.
Untuk aksesories, Naning melihat masih banyak
mengimpor dari Luar Negeri. Dari situlah ada kesempatan untuk ia memperkenalkan
style baru yang tidak harus mewah tapi terkesan “elegan” dan “ dinamis”
berkarakter.
Tidak mudah dan butuh
perjuangan, itu yang ia rasakan, namun ia tidak pantang menyerah. Bagi
rekan-rekan yang ingin berkenalan langsung dengannya, silahkan berkunjung ke
blog pribadinya.
Dimuat Berita Indonesia edisi Des 2012
Sinkronisasi BMI Dan Keluarga
Bukti dari fakta di atas adalah,
mereka masih betah bekerja di Hong Kong walau sudah mengantongi sejuta
“impian”. Bukan berarti mereka tidak punya ilmu dan pengalaman atau keinginan.
Justru ambisi mereka menggebu untuk mewujudkan “impian”. Bahkan karena
ambisinya mewujudkan impian selepas mengikuti pembelajaran, mereka “over
action” sehingga harus berhadapan dengan pihak keamanan. Mereka lupa, bahwa
keberadaannya adalah seorang “ Domestic Helper” yang harus patuh
pada aturan-aturan yang tertera dalam “kontrak kerja”. Disinilah, banyak
BMI yang salah kaprah dalam melangkah.
Yang menjadi masalah bukanlah “Domestic
Helper” nya, karena itu hanya sebutan saja. Domestic Helperpun seorang
manusia yang “berhak” sukses seperti yang lainnya. Domestic Helper hanya
nama jembatan penyeberangan saja. Jembatan yang akan menghubungkannya dengan
berbagai link-link kesuksesan. Justru, karena menyandang gelar Domestic
Helperlah, posisi mereka menjadi “ terkenal” sampai ke manca negara.
Menjadi perdebatan sengit antara pihak yang “pro” dan “
kontra”. Bukan masalah terkenalnya, namun lebih pada “kesempatan”
yang bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya kala berada di rantau. Menjadi
satu “tabungan
ilmu”
yang bisa dibawa pulang ke daerah masing-masing. Nah, inilah masalahnya! Inilah
benang merah yang harus diusut agar tidak ruwet.
Setelah saya meneliti, mengamati,
merasakan sendiri, akar masalahnya terletak pada “ketidaksikronan” antara
BMI dengan keluarga di rumah. BMI rajin belajar pengembangkan diri untuk
meningkatkan “skill”nya. Meningkatkan ketrampilan, kekreativitas dan
relasinya. Itu yang terjadi di Hong Kong, lalu bagaimana dengan keluarga mereka
yang ada di Indonesia? Apakah juga belajar hal yang sama? Memilki pemikiran
yang sama? Memiliki impian yang sama? Setidaknya, mengerti dan mendukung apa
yang diinginkan BMI. Fakta di lapangan,
tidaklah demikian. Ketika BMI sudah bergelora ingin mewujudkan impian, kendala
pertama dan terberat adalah dari keluarga.
Takut rugilah, malaslah, nggak mau
repotlah, sudah banyaklah,dll. Lalu BMI menjelaskan panjang dan lebar tentang
apa yang ia pelajari, dan apa hasilnya? Sudah bisa ditebak, penolakan dengan
bermacam istilah. BMI kecewa dan akhirnya timbul “pertengkaran” dalam
keluarga, kalaupun bisa dihindari, tetap saja menimbulkan rasa kecewa pada BMI
yang senantiasa berupaya melakukan yang terbaik buat keluarga. Waktu liburnya
digunakan untuk belajar. Uangnya dipercayakan pada keluarga/tabung. BMI ingin
segera mengakhiri hidupnya sebagai Domestic Helper. Tak jarang, saking keselnya
atau memang karena rencana sudah matang, mereka memberanikan diri untuk “join”
dengan orang lain. Apakah ini sebuah kesalahan? Tentu bukan, ini hanya sebuah
solusi ketika keluarga yang diharapkan sudah tidak bisa diandalkan lagi
keterlibatannya.
Mayoritas BMI yang menggulirkan
ide-ide cemerlangnya setelah ikut pembelajaran, “menthok” di tengah
jalan. Bila ide diteruskan apalagi
dijalankan dengan orang lain, maka, muncullah anggapan, bahwa keluarga sudah
tidak penting lagi, sudah tidak patuh lagi, sudah membangkang. Bila kata-kata
ini keluar dari lisan seorang suami terhadap istrinya, maka, ketakutlah yang
ada. Ilmupun disimpan sambil menunggu
BMI itu pulang, inilah jalan aman. Lalu,
bagaimana dengan impian? Nantilah, dipikirkan. Sekarang bekerja sambil menunggu
finis kontrak lalu pulang. Dan ketika
sampai di kampung halaman, melihat kenyataan bahwa idenya sudah dijalankan
orang, putuslah harapan. Ah, mungkin inilah nasib saya. Ilmu mengendap raib
entah kemana.
Dan bila ternyata, semangat
mewujudkan impian di atas segala-galanya, suami/keluarga tidak lagi diindahkan.
Bisakah hal ini dilakukan? Bisa! Pantaskah? Pantas! Namun, permasalahannya
bukanlah bisa atau pantas, tetapi lebih pada perasaan yang meliputinya dalam
upaya mewujudkan impian tanpa dukungan keluarga, akan sangat tidak mengenakkan.
Kalau sukses, akan menjadi bukti buat keluarga namun bila gagal akan menuai
cemoohan belaka. Yah, inilah fenomena utama BMI dalam mewujudkan impiannya.
Sekuat apapun ia berusaha menjelaskan, menerangkan, bahkan dengan sengaja
mengirim semua buku /modul pembelajaran yang di dapat, tetap saja yang di rumah
tidak “ngeh”. Ujung-ujungnya berantem.
Mau sampai kapan permasalahan ini
didiamkan? Apakah dibiarkan saja dan menjadi “PR” buat BMI? Atau
mungkin, pihak pendidik/penyelenggara sebuah pembelajaran belum tahu tentang hal ini atau pura-pura tidak
tahu? Ketika BMI bersemangat mengaplikasikan ilmunya, tetapi kenyataan berkata
lain. Tidak dapat dukungan, restu, dan pengakuan dari keluarga padahal apa yang
diinginkan BMI tersebut adalah untuk keluarganya juga. “Benang merah”
masalah ini terletak pada tidak adanya “kesinkronan” pemikiran, wawasan,
pengalaman dan pendidikan antara BMI dan keluarga. Paradigma BMI telah berubah selangkah lebih
maju, tetapi paradigma keluarga di rumah masih tetap seperti dulu. Paradigma
yang telah usang ditelan waktu namun masih dipegang teguh karena memang
demikianlah keadaan yang ia tahu, yang dijalankan orang-orang terdahulu dan
menjadi budaya sosial dimana ia tinggal.
Seandainya ada pembelajaran yang bisa
“mensinkronkan”
pemikiran, wawasan, pengalaman di antara keduanya, inilah yang ditunggu! Bukan
hanya BMI yang digembleng “mindset”nya tetapi juga
keluarganya. Mungkin hal ini akan memakan waktu yang lama, namun hasilnya akan
jauh lebih sempurna. Karena sesungguhnya, sebuah pembelajaran dikatakan
berhasil, ketika bisa merubah seseorang dari “nobody” menjadi “somebody”.
Bukan dari mewahnya fasilitas yang diberikan, bukan pula dari canggihnya materi
yang disampaikan. Karena ada satu hal yang terlupakan, bahwa BMI tidak berdiri
sendiri. BMI punya keluarga yang juga butuh diberdayakan.
dimuat Berita Indonesia edisi Des 2012
Jumat, 16 November 2012
BMI HARUS SUKSES BERWIRAUSAHA
Virus entrepreneur menyebar di kalangan BMI Hong Kong. Ini buah akibat dari training atau workshop berbasis kewirausahaan yang mereka ikuti saat libur. Apapun bentuk dan tema yang disuguhkan kepada peserta di sebuah even, pasti membuahkan perubahan. Perubahan pola pikir, perubahan sikap dan tindakan, ketiga hal ini saling berkaitan satu sama lain, tidak bisa dipisahkan.
Perubahan-perubahan ini akan berimbas pada kehidupan seseorang, sebagai upaya meraih peningkatan yang lebih tinggi di segala aspek kehidupan. Hidup identik dengan gerak, berani hidup berani bergerak. Dari sekian training atau workshop yang banyak di gelar sudah mampu menggelitik hati dan pikiran BMI untuk memiliki kesadaran diri, bahwa keberadaan mereka di Hong Kong bukan hanya sebatas bekerja tetapi bisa melakukan banyak hal yang produktif.
Finansial, wawasan, ilmu dan pengalaman bertambah. Untuk itu, harus ada sesuatu yang dikerjakan di luar jam utama bekerja di majikan. Agar dapat mewujudkannya, dibutuhkan banyak elemen-elemen tertentu. Karena banyak BMI yang terpaksa “gulung koming” dan “gulung tikar” lalu kembali bekerja ke Hong Kong karena mengalami kegagalan saat menjalankan roda uasahanya. Dengan membawa “trauma” yang akut sehingga takut mencoba lagi. Mencukupkan diri dengan menerima gaji.
Fenomena ini sebagai bukti akurat, bahwa dalam dunia kewirausahaan tidak cukup dengan modal uang dan tekad, tetapi dibutuhkan banyak hal, di antaranya : analisa produk, survei pasar, biaya produksi, penjualan dll. Hal ini yang luput dari perhitungan BMI ketika menjalankan usaha. Mereka masih anut grubyuk dalam melakukan sesuatu tanpa perhitungan matang, sehingga terkesan musiman.
Dalam dunia usaha, persaingan semakin bertambah ketat. Para pelakunya harus terus mengikuti perkembangan informasi kalau tidak mau tenggelam. Memiliki visi dan misi yang tepat, sehingga biduk usaha yang dijalankan berjalan sampai di tujuan. Untung rugi dalam dunia usaha adalah hal biasa, yang luar biasa ketika seorang pelaku usaha gagal terus dalam uasahanya. Pasti ada yang salah. Untuk meminimilir kegagalan secara berulang, pelaku usaha harus segera mencari tahu letak masalahnya dengan belajar. Mengumpulkan infomasi sebanyak mungkin yang menunjang kelancaran usahanya.
Bagi BMI itu sendiri, rasanya sudah sangat memadai pengetahuan mereka dalam dunia usaha. Apapun jenis training atau workshop berbasis kewirausahaan selalu diminati. Namun pada kenyataannya, mereka masih terbelenggu dengan permasalahan yang hampir sama, yaitu : takut memulai. Solusi untuk menghindari hal ini adalah bimbingan kerja di lapangan, ketika BMI tersebut pulang ke kampung asal dan membuka usaha, atau bimbingan usaha kepada para keluarga BMI yang ada di Indonesia. Bila hal ini bisa diwujudkan, BMI yang akan, sedang membukan sebuah usaha tidak takut lagi. Setidaknya kegagalan bisa di toleransi sejak dini.
Ilmu pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang dilengkapi bimbingan kerja di lapangan, sangatlah penting. Untuk mewujudkan dan menciptakan entrepreneur-entrepreneur sejati di kalangan BMI, bukan entrepreneur musiman, maka, sejumlah “aktivis BMI” akan menggelar training berbasis kewirausahaan pada tanggal 13 Januari 2013. Bertempat di Y-Studio Lt 2. Youth Square, 238 Chaiwan Road keluar exit A. Yang akan menghadirkan Tatiek Kancaniati, seorang Social Entrepreneur, Owner dari dari Kampoeng Wisata (sebuah desa yang didalamnya terdapat 23 hingga 25 jenis usaha), penulis dan konsultan bisnis di sebuah majalah yang terbit di Hong Kong. Info lengkap bisa menghubungi Anna 96034056, Martin 67053890.
Perubahan-perubahan ini akan berimbas pada kehidupan seseorang, sebagai upaya meraih peningkatan yang lebih tinggi di segala aspek kehidupan. Hidup identik dengan gerak, berani hidup berani bergerak. Dari sekian training atau workshop yang banyak di gelar sudah mampu menggelitik hati dan pikiran BMI untuk memiliki kesadaran diri, bahwa keberadaan mereka di Hong Kong bukan hanya sebatas bekerja tetapi bisa melakukan banyak hal yang produktif.
Finansial, wawasan, ilmu dan pengalaman bertambah. Untuk itu, harus ada sesuatu yang dikerjakan di luar jam utama bekerja di majikan. Agar dapat mewujudkannya, dibutuhkan banyak elemen-elemen tertentu. Karena banyak BMI yang terpaksa “gulung koming” dan “gulung tikar” lalu kembali bekerja ke Hong Kong karena mengalami kegagalan saat menjalankan roda uasahanya. Dengan membawa “trauma” yang akut sehingga takut mencoba lagi. Mencukupkan diri dengan menerima gaji.
Fenomena ini sebagai bukti akurat, bahwa dalam dunia kewirausahaan tidak cukup dengan modal uang dan tekad, tetapi dibutuhkan banyak hal, di antaranya : analisa produk, survei pasar, biaya produksi, penjualan dll. Hal ini yang luput dari perhitungan BMI ketika menjalankan usaha. Mereka masih anut grubyuk dalam melakukan sesuatu tanpa perhitungan matang, sehingga terkesan musiman.
Dalam dunia usaha, persaingan semakin bertambah ketat. Para pelakunya harus terus mengikuti perkembangan informasi kalau tidak mau tenggelam. Memiliki visi dan misi yang tepat, sehingga biduk usaha yang dijalankan berjalan sampai di tujuan. Untung rugi dalam dunia usaha adalah hal biasa, yang luar biasa ketika seorang pelaku usaha gagal terus dalam uasahanya. Pasti ada yang salah. Untuk meminimilir kegagalan secara berulang, pelaku usaha harus segera mencari tahu letak masalahnya dengan belajar. Mengumpulkan infomasi sebanyak mungkin yang menunjang kelancaran usahanya.
Bagi BMI itu sendiri, rasanya sudah sangat memadai pengetahuan mereka dalam dunia usaha. Apapun jenis training atau workshop berbasis kewirausahaan selalu diminati. Namun pada kenyataannya, mereka masih terbelenggu dengan permasalahan yang hampir sama, yaitu : takut memulai. Solusi untuk menghindari hal ini adalah bimbingan kerja di lapangan, ketika BMI tersebut pulang ke kampung asal dan membuka usaha, atau bimbingan usaha kepada para keluarga BMI yang ada di Indonesia. Bila hal ini bisa diwujudkan, BMI yang akan, sedang membukan sebuah usaha tidak takut lagi. Setidaknya kegagalan bisa di toleransi sejak dini.
Ilmu pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang dilengkapi bimbingan kerja di lapangan, sangatlah penting. Untuk mewujudkan dan menciptakan entrepreneur-entrepreneur sejati di kalangan BMI, bukan entrepreneur musiman, maka, sejumlah “aktivis BMI” akan menggelar training berbasis kewirausahaan pada tanggal 13 Januari 2013. Bertempat di Y-Studio Lt 2. Youth Square, 238 Chaiwan Road keluar exit A. Yang akan menghadirkan Tatiek Kancaniati, seorang Social Entrepreneur, Owner dari dari Kampoeng Wisata (sebuah desa yang didalamnya terdapat 23 hingga 25 jenis usaha), penulis dan konsultan bisnis di sebuah majalah yang terbit di Hong Kong. Info lengkap bisa menghubungi Anna 96034056, Martin 67053890.
Citra Diri
“Cece, tolong jaga rumah saya. Jangan masukkan orang ke dalam rumah saya,
selama saya bepergian ya…..”
Demikianlah percakapan antara seorang BMI dengan majikannya. Seandainya itu terjadi pada rekan-rekan, apakah yang dirasakan? Apakah yang dipikirkan? Ada dua kemungkinan, marah/tersinggung atau tertunduk malu. Perkataan majikan itu, sepintas lalu terkesan menyudutkan kita sebagai BMI, apalagi selama ini, kita bekerja dengan baik. Tidak pernah neko-neko, manut, serta disiplin. Mendengar majikan berkata begitu, ada yang mengganjal di hati kita pastinya : dongkol!. Timbul rasa marah, kecewa dan tersinggung, lalu kita teringat riwayat kerja sekian tahun bersamanya.
“Ada sebab pasti ada akibat, tidak ada yang muncul tiba-tiba di dunia ini”. Sebuah pepatah, yang perlu kita renungkan dan membuat kita tersadar karenanya. Marah, kecewa dan sedih yang sempat bercokol dalam hati dan pikiran kita berangsur menurun. Kemungkinan majikan dengar dari kawan-kawannya tentang seorang BMI yang telah memasukan orang lain ke dalam rumahnya. Atau, bisa jadi majikan kita terlalu tegang untuk bepergian dalam kurun waktu yang cukup lama, meninggalkan pembantunya sendirian di rumah. Hal ini bisa terpacu dari pola hidup atau kultur budaya.
Penduduk Hong Kong mempunyai kebiasaan suka tegang dan kehati-hatian yang berlebihan yang berakhir curiga. Entah karena kesibukan kerja yang sangat tinggi atau karena sifat individu orangnya. Sangat penting kita menyadari hal itu, sehingga mampu meredam rasa yang mengganjal di hati. Seandainya kita yang menjadi majikan, lalu orang yang kita percaya menyalahgunakan kepercayaan tersebut, pasti kita sedih, kecewa dan marah juga.
Dengan memahami jalan pikiran majikan, rasanya, kita tidak perlu berlama-lama dalam kekecewaan. Justru hal ini bisa kita jadikan motivasi diri untuk bekerja lebih baik lagi. Menunjukkan bahwa kita bukanlah seperti apa yang majikan pikirkan atau curigakan. Bukan hal yang sulit bagi kita untuk melakukan hal-hal negatif di rumah majikan ketika mereka tidak di rumah atau ketika kita sedang libur, benarkan?
“ Hai cece, saya melihat ada BMI yang pergaulannya luar biasa sekali sama orang asing. Kamu jangan sampai kayak gitu ya?! Ternyata orang Indonesia itu kayak gitu ya..”
Satu percakapan antara majikan dan seorang BMI di sebuah kendaraan. Hanya beberapa orang yang berbuat, semua kena sasaran getahnya. Kalau di pikir, ini adalah hak pribadi! Tidak ada hak orang lain untuk ikut campur urusan kita, mau majikan, saudara, teman atau siapapun. Ini hidup kita! Suka-suka kita! Yah, betul! Tidak ada hak orang lain ikut campur urusan kita.
Namun, ada satu hal yang belum kita sadari atau mungkin terlupakan. Ternyata, kehadiran kita di Hong Kong ini bukan hanya membawa nama diri sendiri, tetapi juga membawa nama keluarga dan Bangsa Indonesia. Seringkali, orang Hong Kong mengkait-kaitkan diri kita dengan negara asal kita. Padahal keberadaan kita hanya ingin bekerja agar memiliki penghidupan yang lebih baik dari sekarang. Suka duka, hanya kita yang tahu, seringkali, Bangsa kita tidak peduli. Apakah kita mendapatkan perlakuan yang baik dari majikan? Apakah kita mendapatkan hak-hak kita dari majikan? Apakah keluarga kita aman-aman saja setelah kita tinggalkan? Kitalah yang merasakan. Kecuali kalau, salah satu dari kita mengalami peristiwa besar di perantauan (meninggal, pelecehan, kekerasan, sakit), barulah Bangsa Indonesia turun tangan.
Anehnya, setiap perbuatan yang kita lakukan baik positif ataupun negatif, pasti disangkut pautkan dengan negara kita, Indonesia. Kenapa ya? Apakah ini yang dinamakan ikatan batin antara warga/rakyat dengan bangsanya? Terlepas, apakah bangsa tersebut peduli dengan rakyatnya atau tidak. Ikatan inilah yang ternyata dilihat oleh orang Hong Kong. Secara tidak sadar, keberadaan kita bukan hanya sebagai BMI saja yang niatnya hanya bekerja mencari uang tetapi lebih dari itu, ternyata kita juga dilihat sebagai duta bangsa.
Duta bangsa/perwakilan negara yang tinggal di setiap flat-flat yang penghuninya(majikan) mengambil kita untuk membantunya menyelesaikan tugas-tugas yang ia tidak mampu kerjakan karena kesibukan kerja. Ada majikan yang memberikan kepercayaan penuh pada kita, ada yang separuh saja kepercayaannya dan ada yang selalu curiga. Apapun itu, sudah resiko dalam bekerja. Semua kembali pada kita bagaimana menyingkapinya. Setiap orang tidak sama cara berpikir dan tindakannya.
Ketika kita tahu, bahwa keberadaan kita di Hong Kong bukan hanya sebagai BMI, apakah yang akan kita lakukan? Ternyata, citra bangsa ada di pundak setiap warganya tak peduli apapun statusnya termasuk BMI. Sekarang, semua kembali kepada pribadi masing-masing. Mau diisi dengan apa hidupnya, kembali pada yang pelakunya. Yang pasti, apapun perbuatan kita, selalu akan dapat sorotan baik secara langsung atau tidak langsung. Menjadi penilaian banyak orang, di Hong Kong ataupun di Indonesia. Tanpa membaca sumpah kerja, tanpa mendapatkan pelayanan yang memuaskan, tanpa mendapat perlindungan yang optimal, kita tetap punya tanggung jawab menjaga citra bangsa.
Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, sukarela atau terpaksa. Setiap jengkal langkah kaki ini ada citra bangsa. Wajahnya tercermin pada wajah kita. Keramahan, kejujuran, kebaikan, kesabaran dan ketelatenan serta kekreativan, tercermin pada segala tindak tanduk kita. Apakah kita sudah siap menjadi duta bangsa?
* dimuat koran BERITA INDONESIA edisi November 2012*
Rabu, 31 Oktober 2012
PILIHAN HIDUP
“Aku ingin berubah. Sudah 12 tahun kerja
di Hong Kong,aku nggak punya apa-apa.
Aku mau berubah…”
Mungkin ada di antara kita yang pernah bahkan sering mendengar kalimat-kalimat seperti itu. Sebuah keinginan untuk berbenah dari kehidupan yang belum terarah karena salah kaprah. Salah kaprah dalam berpikir, bersikap dan bertindak, sehingga hidupnya terisi dengan hal-hal yang kurang produktif. Menyia-yiakan uang, waktu, tenaga dan pikiran. Kenapa?
Banyak hal yang menjadi faktor kenapa seseorang hidup seperti air mengalir ikut arus kemana akan membawanya. Tidak peduli tentang masa depannya. Yang penting masa sekarang bisa mereguk kesenangan untuk melepas segala kepenatan kerja, keruwetan masalah keluarga, kekhawatiran tentang usaha dll. Bersenang-senang selagi muda, selagi masih ada tak mau ribet tentang nantinya. Yang penting happy dan happy.
Kebahagiaan menyertainya. Hidup glamour di kota metropolitan sebesar Hong Kong sangat menyenangkan, menggairahkan, meyilaukan dan dielu-elukan oleh sebagian orang, terlepas bagaimana cara mendapatkannya. Berpesta pora, berbelanja sesuatu mengikuti tren yang ada, berganti HP yang terbaru dan tercanggih agar kelihatan wah dari yang lainnya. Uang kurang ,tempat peminjaman selalu welcome terbuka dengan persyaratan yang mudah. Mau apa lagi? Hidup cuma sekali harus dinikmati oei….! Mungkin ini yang menjadi pemikirannya. Simple!
Benarkah sesimple itu? Ketika usia kita bertambah dan tak kuat lagi bekerja, sedang kita belum punya apa-apa, simplekah itu? Ketika uang kita habis untuk berhura-hura dan tiba-tiba majikan nggak mau kita, simplekah itu? Ketika kesehatan kita ternganggu karena suatu penyakit yang kita indap yang disebabkan pola makan dan pola hidup salah, lalu majikan memulangkan kita dalam keadaan ringkih, simplekah itu? Ketika kita lupa kodrat kita yang sesungguhnya lalu terjerumus pada kehidupan ab normal dan keluarga tahu lalu mengucilkan kita, simplekah itu? Ketika kita dikejar-kejar deep kolektor karena nggak mampu bayar cicilan utang di bank yang akhirnya diterminate, simplekah itu? Jawablah dengan jujur!
Masihkan kita akan berkata dengan bangganya “I’m happyyy……..!!!”
Penyesalan tiada guna, menangis air mata darah pun percuma. Tinggal keping-keping derita yang tersisa. Masa depan tetap bahkan semakin suram. Niat untuk kaya, sukses dan bahagia tinggal isapan jempol belaka. Waktu yang telah berlalu tak mungkin kembali pula. Mau menyalahkan siapa? Kawan, majikan, situasi dan kondisi, keluarga atau mungkin diri sendiri? Tak ada sesuatupun yang ingin disalahkan walau itu diri sendiri. Akan ada sanggahan-sanggahan yang oleh sebagian orang dikatakan sebagai suara hati, dan sedikit sekali yang mendengarkan ketika suara-suara itu muncul mengingatkan, jauh-jauh hari sebelum mengalami kejatuhan.
Ketika suara itu menegur untuk melakukan hal yang baik, benar dan berguna, tidak dipedulikan malah diremehkan. Ditekan dan dibantah dengan argumentasi-argumentasi yang akhirnya justru membuat diri sendiri terjatuh dalam kubangan penderitaan dan kehinaan. Apa yang didapat dalam kehidupan berbanding lurus dengan apa yang lakukan oleh seseorang. Gaji dibelanjakan untuk apa, waktu luang diisi dengan kegiatan apa, komunitas macam mana yang menjadi tujuan saat liburan dll. Faktor-faktor ini sebagai pendukung perolehan dalam hidup yang dilakoni, maju atau mundur, sukses atau gagal, bangkrut atau berjaya. Tindakan turut andil didalamnya, sayangnya tidak disadari. Menuruti ajakan-ajakan yang sepintas lalu indah, bahagia dan nikmat. Terlena, terpesona, terkesima dibuatnya. Terbuai hingga kita lupa diri, tepatnya lupa tujuan hidup.
Kawan, ada banyak orang ingin berubah ketika merasakan hidupnya hambar, galau dan stagnan. Namun sayangnya, ia tetap melakukan tindakan yang sama dari tahun ke tahun, meskipun ia sadar bahwa apa yang dilakukannya tidak mendukung keinginannya untuk berubah. Ia tetap membiarkan hidupnya dihandle orang lain, situasi dan kondisi. Tidak mau membuka pikiran dan hati hanya sekedar berkata ingin. Ini hanya mimpi yang tidak akan pernah terwujud!
Perubahan dalam berbagai aspek kehidupan akan terwujud bila kita melakukan hal-hal yang mendukung keinginan untuk berubah. Tidak cukup hanya dengan omongan. Tidak lagi menjadikan apapun keadaannya sebagai alasan tetapi menjadikan keadaan tersebut sebagai pendorong untuk terus maju. Seperti kata pepatah, “Orang sukses selalu kelebihan satu cara dan orang gagal selalu kelebihan satu alasan”. Sukses meliputi banyak hal. Bisa merubah kehidupan yang dulunya porak poranda menjadi lebih tertata, adalah kesuksesan. Kawan, mari kita sejenak bertanya kepada diri sendiri, kualitas seperti apa yang kita ingini. Kita cross check, semua tindakan keseharian kita, apakah mendukung kualitas hidup kita atau justru menghancurkannya. Apa yang menjadi pilihan kita, itulah hidup kita.
DIMUAT DI TABLOID APA KABAR
Senin, 03 September 2012
HIDUPKU, GURUKU
Pernahkan rekan-rekan mengalami hal ini? Apakah berarti banyak belajar itu jelek pengaruhnya? Menjadikan kita bingung? Nyantai saja kawan’s…
Bingung adalah suatu hal yang wajar dalam pembelajaran. Bingung karena kita baru pertama kali mendengar ilmu/inforamsi dari pembicara maupun penulis buku yang karyanya kita baca. Bingung adalah frase dimana kita dituntut untuk berpikir. Bingung karena timbul banyak pertanyaan dalam diri kita dengan pengetahuan baru. Kita tidak akan menjadi bingung setelah kita benar-benar paham apa yang dimaksud si pembicara /penulis buku. Dan itu butuh waktu! Ini alasan pertama kenapa kita bingung, karena belum paham.
Alasan kedua, kita bingung adalah karena kita mencampuradukan semua ilmu/informasi ke dalam otak secara bersamaan dengan harapan kita cepat jadi pintar. Yang terjadi malah justru sebaliknya, over cup! Tidak ada ilmu yang masuk sama sekali. Semua meluber kemana-mana dan kita tidak dapat apa-apa. Sering mengalami hal itu? Solusinya adalah, ketika belajar pada satu guru, maka sebaiknya kita kosongkan pikiran dan hati kita. Apapun pengetahuan yang telah kita punya ditaruh dan disimpan dulu untuk bank/gudang ilmu/informasi. Sayangnya, kita seringkali membawa gelas yang penuh ke suatu seminar atau ketika sedang membaca buku yang baru kita dapat, sehingga waktu kita hanya terbuang sia-sia untuk menganalisa.
Alasan ketiga adalah karena kita tidak sabar dalam mengelola ilmu/informasi. Kita mau bim salabim adakadabra langsung pintar langsung jadi.
Kawan’s, belajar apapun butuh proses. Kita harus mau melewati dan menikmatinya dengan kesadaran penuh. Belajar adalah proses. Seperti halnya dengan kisah kita diwaktu bayi. Awalnya hanya bisa terlentang, lalu tengkurap, miring, duduk, berjalan dan akhirnya berlari. Ada proseskan? Ketika kita sudah bisa, kita jadi lupa akan prosesnya. Demikianlah kenyataanya….
Belajar sangat penting bahkan wajib hukumnya. Dengan belajar kita jadi tahu. Dengan belajar kita jadi maju. Namun sayangnya, pembelajaran-pembelanjaran yang selama ini kita ikuti hanya menjadi pengetahuan saja. Kenapa? Karena kita tidak mengaplikasikan dalam kehidupan pribadi kita. Akhirnya ilmu hanya lewat begitu saja. Esoknya, kita sudah lupa kemarin belajar apa. Demikian seterusnya, tidak ada manfaat yang dirasakan kecuali hanya sebatas tahu. Bukan mengerti apalagi paham. Kalau pembelajaran yang kita ikuti difasilitasi dengan embel-embel sertifikat, akan membuat kita bangga. “Ini lho, aku sudah ikut seminar itu. Pembicaranya si itu. Ini buktinya, aku punya sertifikatnya”.
Sertifikat ini kadang menjadi tujuan utama orang datang ke seminar. Sertifikat memang penting sebagai suatu tanda bukti tentang moment penting yang pernah kita ikuti. Namun bila itu tujuan awal kita, hasilnya akan sia-sia. Sertifikat adalah pengingat bahwa kita pernah belajar pada si A, B atau C dan motivasi untuk mengamalkan ilmu/informasi yang kita pelajari kepada orang lain.
Apakah sebuah sertifikat bisa dijadikan jaminan seseorang benar-benar belajar? Belum tentu! Lalu bagaimana kita bisa tahu bahwa seseorang itu belajar? Lihatlah sikap dan tindakannya. Sebuah pembelajaran akan selalu menyisakan sesuatu yang membekas dalam pikiran dan hati seseorang, yang mampu membuatnya berubah baik cepat maupun lambat. Ia benar-benar menikmati perubahan hidupnya. Biasanya perubahan diawali dari cara berpikir yang akhirnya mempengaruhi jenis sikap dan tindakan. Ia memiliki pemikiran baru meskipun berada dalam pengkondisian sama dengan yang dulu ketika ia belum belajar. Seperti misalnya, ia bekerja pada majikan yang sangat disiplin tentang waktu. Yang dulunya ia sangat tersiksa dengan peraturan itu, kini setelah belajar, ia bisa menemukan sisi positif dari sebuah kedisiplinan. Hasil temuannya bisa berupa menghargai waktu, patuh dll.
Perubahan akan membawa kita menjadi pribadi baru dengan pemikiran baru yang menunjang kesuksesan hidup. Bisa menempatkan diri dengan baik, bisa meningkatkan kualitas di tempat kerja, bisa melakukan segala sesuatu sesuai porsinya. Bila hal ini bisa tercapai, tidak akan ada permasalahan di tempat kerja, dalam pertemanan, dalam bisnis, hubungan keluarga dan masih banyak lagi. Hidup jadi mudah dan nyaman. Tidak ada konflik dengan orang lain terutama konflik dengan diri sendiri, karena ini yang berbahaya. Dengan ilmu yang kita peroleh saat belajar lalu sungguh-sungguh mengaplikasikan (baca=mengijinkan), kita akan menemukan banyak hal dalam diri kita sendiri. Yang dulunya tidak terlihat oleh kita, tepatnya oleh pikiran kita, jadi tampak jelas.
Semakin kita mencari ke dalam diri, semakin banyak temuan menarik yang akan menimbulkan rasa syukur, betapa Tuhan ciptakan kita tidak untuk sebuah kesia-siaan. Semakin bereksploitasi, kita menjadi sadar, begitu berharganya diri kita. Begitu kayanya diri kita dengan pemikiran-pemikiran baru hasil dari sebuah pembelajaran. Tidak lagi rendah diri, suka emosi, mencari atau memperbesar masalah dll.
Terlebih tidak bingung mau mengaplikasikan ilmu yang mana. Kita sudah bisa memilih dan memilah ilmu sesuai kebutuhan yang ada. Apapun yang terjadi di masa lalu yang tidak mengenakkan, kita bisa menemukan banyak hikmah dan pelajaran atau orang sebut dengan pengalaman.
Belajar kepada seorang guru hanya ketika kita bertemu. Kita lebih punya banyak waktu bersama diri kita sendiri (baca=hidup). Dalam suka maupun duka. Gagal maupun sukses. Ada pelajaran yang tertoreh di sana. Di dalam diri kita. Di dalam hidup kita. Yach, hidup kita adalah guru kita!. Guru-guru yang lain hanya sebagai fasilitator untuk pengenalan terhadap diri kita sendiri, dengan ilmu/informasi yang mereka bagi.
*DIMUAT KORAN BERITA INDONESIA EDISI SEPTEMBER 2012*
Langganan:
Postingan (Atom)


