Mengambil keputusan,bukanlah hal mudah,apalagi
keputusan bekerja ke luar negeri. Hal ini pasti pernah dirasakan oleh sebagian
banyak BMI dimanapun negara tujuannya.
Bekerja ke luar negeri merupakan keputusan besar yang mengandung banyak
konsekuensi, di antaranya : jauh dari keluarga, mendapatkan siksaan/tekanan,
ditipu, mengalami gangguan kesehatan/kecelakaan dll.
Hal ini dialami oleh
Nur Hidayat, seorang BMI Purna Korea Selatan yang lahir di Malang pada 1974 lalu. Selama 3 tahun ia baru bisa
mengambil keputusan untuk merantau, setelah roda ekonomi keluarga mengalami
kemunduran akibat krisis moneter yang
terjadi pada tahun 1997. Krisis yang melanda usaha sang istri mengakibatkan turunnya
pendapatan hingga 50 %. Padahal dari
usaha ini, roda ekonomi keluarga ditopang.
Akhirnya, sang istri
memberi ijin kepada Nur Hidayat untuk
merantau mengikuti jejak anggota keluarganya yang terlebih dahulu bekerja
menjadi BMI termasuk ibunya. Tidak dipungkiri, bahwa sebelum terjadinya krisis
moneter, ia punya angan-angan bekerja ke luar negeri, dan yang menjadi
tujuannya adalah Arab Saudi kala itu. Tapi akhirnya Korea Selatan yang menjadi
pilihannya.
Ia berangkat pada tahun 2000 lalu, dan
bekerja di negara itu selama 5 tahun. Menggunakan prosedur G to G dengan
menghabiskan biaya 35 juta saat itu. Seperti kisah-kisah BMI lainnya, ia pun
harus menjalani serangkaian pembelajaran di PT yang salah satunya adalah
bahasa. Namun sayangnya, apa yang ia pelajari di PT tidak sesuai dengan yang
ada di lapangan (baca :tempat kerja). Mungkin Anda pun pernah mengalaminya.
Karena ketidaksesuaian ini, biasanya menimbulkan masalah di tempat kerja.
Saat-saat seperti inilah, seorang BMI dituntut keberaniannya untuk keluar dari
zona nyaman yang namanya malas. Mau tidak mau, mereka harus bisa menemukan
solusi demi keberlangsungan masa kerja bila tidak ingin diberhentikan.
Sebelum bekerja menjadi
BMI, Nur Hidayat sudah bekerja di UPDT ( Unit Pelaksana Teknis Dinas) sejak 1991 daerahnya, dimana
masa pengangkatan jabatan 5 tahun dan itu sudah dilaluinya, tapi akhirnya ia memilih
resign. Pilihan menjadi BMI dirasakannya lebih menarik, karena gajinya yang
besar. Proses yang dibutuhkannya untuk bisa bekerja ke Korea Selatan 3 bulan.
Apa yang Nur Hidayat
lakukan selama di rantau? Ketika mendapat libur dan itu pun jarang,ia gunakan
kesempatan itu berkumpul dengan sesama BMI
di sebuah komunitas muslim. Komunitas
tersebut menjadi wadah/sarana menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi BMI
di sana, misalnya ada kasus kriminalitas dengan sesama tenaga kerja asing.
Biasanya masalah pekerjaan dan perempuan, karena saat itu,peraturan PT di Indonesia yang menentukan dengan siapa
seorang BMI akan bekerja. Ketika di sana mereka tahu, bahwa di tempat lain ternyata bisa
mendapatkan gaji yang lebih besar. Faktor ini seringkali menggoda mereka untuk
pindah kerja padahal masa kontrak dengan bos pertama belum habis. Alhasil,
mereka berstatus kaburan. Di tempat kerja yang baru, kadang mereka bentrok
masalah pekerjaan dengan tenaga kerja asing dari negara lain. Di sinilah manfaat yang dirasakan dalam
berkomunitas.
Selain kendala bahasa,
Nur Hidayat juga mengalami beban batin yang sangat menganggunya saat awal kerja, yaitu tidak mendapat ijin salat, karena sang bos belum tahu/paham kewajiban seorang
muslim. Tidak seperti sekarang, organisasi-organisasi Islam sudah banyak
bermunculan di sana seiring bertambahnya pemahaman masyarakat Korea Selatan
tentang kewajiban seorang muslim.
Nur Hidayat bekerja
selama 5 tahun lalu memutuskan untuk
pulang . Pulang dari rantau bagi seorang BMI adalah hal yang menyenangkan tapi
juga terselip banyak kekhawatiran. Menyenangkan karena bisa berkumpul kembali
dengan keluarga, terlepas dari beban kerja tetapi khawatir karena belum tahu
harus melakukan apa (baca : membuka usaha/bekeja). Fenomena ini menjadi masalah utama bagi sebagian besar BMI termasuk Nur Hidayat. Oleh
karena itu, jauh-jauh hari sebelum masa kerjanya habis, ia selalu
mengkomunikasikan hal ini kepada sang istri.
Selain dengan istri,
Nur Hidayat juga berdiskusi dengan teman-temannya sesama BMI disana, dan salah
satunya adalah rencana mendirikan sebuah lembaga kursus dan pelatihan (LKP) yang kemudian hari diberinya nama HanKook Education Malang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan. Mengambil bidang pelatihan bahasa Korea dan
bahasa Inggris juga menyediakan program pelatihan las dan percetakan serta pelatihan seni bela diri Garuda Putih. LKP ini berdiri pada tahun 2010
lalu. Beralamatkan di Jl
Ahmad Yani No. 01 Gondanglegi Kulon Malang.
Yang menjadi visi adalah merealisasikan visi dan misi yang
dicanangkan oleh Direktorat Jenderal
Pendidikan Non Formal dan Informal, yaitu Menuju Masyarakat Pembelajar
Sepanjang Hayat Dalam Kemajemukan
tatanan masyarakat secara umum. Dan
beberapa hal yang menjadi misi LKP Hankook Education Malang, di antaranya :
meningkatkan mutu dan relevansi penyelenggaraan kursus dan pelatihan untuk mengoptimalkan kompetensi
kerja dan kewirausahaan
serta pengembangan kepribadian
yang berakhlak mulia. Ketika berbincang masalah kendala menjalankan
lembaga ini,Nur Hidayat mengatakan bahwa, anak-anak muda sekarang sulit
pengarahannya.
Di masa mendatang, Nur
Hidayat ingin mengembangan dunia pertanian dimana hal itu menjadi impian
terbesarnya. Setelah belajar banyak hal selama di Korea Selatan tentang sistem
pertanian disana, ia bercita-cita menerapkan ilmu tersebut di daerahnya. Selain
itu juga mengembangkan program kewirausahaan bekerjasama dengan para pelaku UKM,
mengingat peluang di Indonesia sangat banyak.
Diakhir pembicaraan,Nur
Hidayat menitipkan pesan kepada BMI yang
masih di rantau untuk mengatisipasi pergaulan. Apalagi tehnologi semakin
canggih yang memudahkan mereka berkomunikasi (baca : bersosialisasi). Jangan
sampai digunakan untuk hal-hal yang justru membawa petaka apalagi bagi yang
sudah berkeluarga. Dengan adanya uang,gadget, kebebasan karena jauh dari
keluarga, kadang membuat mereka lupa diri. Baiknya mengikuti kegiatan-kegiatan
positif dan membangun. Karena BMI itu
sendiri yang akan merasakan manfaatnya. Baik selama ada di rantau maupun
setelah pulang ke Tanah Air.
Maaf... Sy tidak tau apa ini cara kebetulan saja atau gimana. Yg jelas sy berani sumpah kalau ada ke bohongan sy sama sekali. Kebetulan saja buka internet dpt nomer ini +6282354640471 Awalnya memang sy takut hubungi nomer trsebut. Setelah baca-baca artikel nya. ada nama Mbah Suro katanya sih.. bisa bantu orang mengatasi semua masalah nya. baik jalan Pesugihan dana hibah maupun melalui anka nomer togel. Setelah sy telpon melalui whatsApp untuk dengar arahan nya. bukan jg larangan agama. Tergantung dari keyakinan dan kepercayaan saja. Biarlah Orang pada ngomong itu musrik hanya tuhan yg tau. mungkin ini salah satu jalan rejeki sy. Syukur Alhamdulillah melalui bantuan beliau benar2 sudah terbukti sekarang. Amin
BalasHapus