Selasa, 11 Oktober 2016

PROFIL BMI PURNA KOREA SELATAN

Siapkan Mental Berwirausaha

 Dan Jiwa Marketing


Pendi  asal Subang – Jawa Barat, adalah sosok BMI Purna dari Korea Selatan. Bekerja di pabrik kabel selama 4 tahun.  Saat menjadi TKI ia memiliki “motto”  semangat bekerja dan rajin menabung.
Selain uang, Pendi  menyiapkan  mental berwirausaha dan jiwa marketing. Itu yang ia usahakan sebelum pulang ke Indonesia dan rencana- rencana usaha yang matang tentunya. Karena melihat perubahan zaman yang begitu, pesat,  sehingga pola pikir yang dulu mau berangkat pasti berubah dengan sendirinya. Jadi harus pandai- pandai melihat lingkungan di sekitar  dan mencari peluang usaha, serta memanfaatkan peluang sebaik mungkin. Inilah yang selalu ada dibenaknya sebelum pulang ke Tanah Air setelah  kontrak  kerjanya berakhir.

 Aktivitas yang dilakukan Pendi setelah pulang dari luar negeri, tidak menunggu lama.  4 bulan di rumah, langsung mengontrak kios  selama 2 tahun untuk berjualan pakaian wanita. Setelah 7 bulan berjalan, Pendi melirik ke usaha industri rumahan,untuk membuat keripik buah menggunakan mesin vacum frying. Usaha ini dijalankan berdua bersama sang istri dan tetangga.

Pilihan barunya diusaha kripik buah ini adalah karena di daerahnya Subang, masih sangat jarang dan bisa dibilang belum ada yang memproduksi keripik buah. Kebetulan Pendi tinggal di jalur Pantura. Banyak rumah makan yang menjajakan makanan ringan. Ini adalah kesempatan menurutnya.
Membangun usaha tak luput dari kendala. Sama seperti yang dialami Pendi. Kendala membangun usaha  yang  dihadapinya di antaranya, perubahan zaman yang bisa menggerus usaha, usaha tidak  bisa bersaing di pasaran, bahan -bahan mahal,  listrik mahal,  gas juga mahal, penjualan harus bisa bersaing dengan harga murah.



Solusinya yang diambil Pendi adalah dengan tetap  menjaga kualitas produk, kemasan yang bagus yang bisa bersaing di tingkat nasional, karena orang zaman sekarang kalau sudah melihat kemasan bagus, sudah tidak mempedulikan harga.  Mereka pasti beli!

Apa yang dilakukan Pendi sebagai TKI Purna tidak sia-sia.  Ceritanya, pada tahun 2003, awal berdirinya forum purna TKI Jabar.  Didirikan oleh Gubernur Jabar Ahmad Heryawan. Setelah itu diadakanlah  acara purna TKI Award setiap tahunnya.

Yang menjadi kriteria penilaian juri dalam acara purna TKI Award ini,  adalah, apa yang didapat oleh  seorang TKI dari luar negeri, bisa memanfaatkan hasil tersebut dengan mempunyai usaha sendiri dan bisa memberdayakan masyarakat dan lingkungannya. Tidak harus memiliki banyak uang karena itu tidak ada takarannya.

Pendi  telah melakukan itu, sehingga ia masuk dalam kategori penilaian juri dan lolos menjadi salah satu penerima award. Sekarang,  purna TKI Award diadakan dua tahun sekali, dan untuk purna TKI Award berikutnya akan diadakan pada 2017.




Sewaktu masih kerja di Korea, Pendi mengatakan, kalau kegiatan diluar jam kerja  hanya  berkumpul saja dengan  teman-temannya. Mereka sharing tentang kerja dan usaha  masing- masing yang ada di Indonesia.  Karena perusahaan yang  ditempatinya banyak jam kerjanya,  jadi sering lembur. Itu mengakibatkan  minim bisa mengikuti kegiatan sosial, paling  cuma mengadakan halal- bihalal.

Mengakhiri perbincangan dengan tim Majalah Iqro,  Pendi membagikan kiat-kiat khusus dalam menjalankan roda usahanya, yaitu  keikhlasan dalam berbagi ke masyarakat lingkungan sekitar seperti membagi sedikit penghasilan dengan mempekerjakan mereka, walaupun kita sendiri mampu mengerjakanya dan kita memberi  upah pada mereka.




“ Dan yang utama, yang banyak orang melupakanya, selama saya di  Korea, selepas terima gaji langsung saya potong  untuk zakat 2,5% dan saya pisah setiap  kirim uang ke Indonesia.  Saya  sertakan uang zakat itu  untuk di bagikan ke masyarakat lingkungan, terutama yang tidak mampu.  Semoga pengalaman spiritual yang saya alami  bisa diikuti oleh adik -adik yang  masih di perantauan sana.  Insya Allah, rezeki  yang kita dapat dari  luar negeri barokah”, pesan Pendi kepada sesama BMI.

2,5 persen sudah hampir 4 tahun  Pendi  terapkan  di Indonesia setiap tahunnya. Walau pun  nominalnya sedikit,  tapi ia  ikhlas membagikanya. Sedang  untuk   penghasilan  dari sawah
 ( padi ) itu 10% .

“Kenapa saya  membahas tentang zakat, karena  menurut saya  itu kunci menuju sukses. Semoga adik -adik kita di luar negeri  bisa menjalankan kewajiban zakat karena Allah, Amin”, tambah Pendi.

Dari kisah diatas, kita bisa mengambil kesimpulan, meskipun  saat bekerja di luar negeri kurang beraktivitas karena jam kerja yang padat, hal tersebut tidak menghalangi seseorang untuk  membangun dan meraih kemandirian  di Tanah Air. Yang penting  sebelum memutuskan pulang ke Tanah Air, telah menyiapkan mental menjadi wirausaha dan memahami hal-hal yang ada didalamnya. 

Dimuat Majalah Iqro, edisi 105 - Mei 2016 

PROFIL BMI PURNA MALAYSIA

Kenaikan Gaji, Tak Urungkan Niat Asmadi Pulang Ke Tanah Air


Asmadi,  lahir 22 Pebruari 1970 lalu.  Ia  adalah TKI Purna Malaysia yang  tinggal di Jatitengah Sukodono, Sragen -Jawa Tengah.  Merasa terlahir  dari keluarga yang kurang mampu dari segi ekonomi, membuatnya  bingung  harus melakukan apa setelah lulus SMA. Dari kebingungan itulah, ia bertekad segera bekerja.
Keinginan  Asmadi bisa membantu  biaya sekolah adik-adiknya, membuat ia mencoba peruntungan  pergi ke Depnaker. Disitulah ia menemukan  pengumuman peluang kerja di Malaysia. Ia  akhirnya  mendaftar dan lolos.

Kenapa Asmadi memilih menjadi TKI? Ia mengaku pada saat itu tidak mempunyai  modal uang yang cukup, maka Malaysialah menjadi tumpuannya.  Keberangkatannya  kala itu  dibiayai  oleh perusahaan  yang  akan menjadi tempatnya bekerja alias gratis !

Asmadi bekerja di perusahaan Ply Wood/kilang  papan, yaitu  di Manu Ply Wood SDN BHD. Ia  sampai di lokasi pada tanggal 9 Desember 1991. Istirahat 1 malam, besuknya langsung mengikuti  training di tempat kerja. Mengawali karir dari karyawan biasa lalu naik menjadi operator, kemudian menjadi foreman, sampai pada akhirnya, ia menduduki posisi sebagai kepala bagian dari Departemen Personalia.  Ia tapaki  karir  tersebut dari tahun ke tahun. Dari lulusan anak SMA yang belum tahu apa-apa, akhirnya mampu memegang banyak tanggungjawab di tempatnya bekerja : Malaysia!

Asmadi diberi amanah untuk menjaga semua fasilitas  untuk karyawan  yang tinggal di perusahaan itu, termasuk supermarketnya. Dari sinilah ia belajar banyak  hal tentang bisnis.  Ia diajari managernya, bagaimana orang China itu bisa berhasil menjalankan bisnis di segala bidang.

Yang sangat mendasar dan tidak bisa Asmadi lupakan dari ingatannya,  adalah jika mau memulai bisnis, ada  dua  masalah yang harus diketahui. Pertama  mengetahui  kemauan masyarakat dan  yang kedua mengetahui kemampuan masyarakat. Dari  dua masalah tersebut, baru  bisa mengambil keputusan, mau usaha apa dan  bisa mengukur harga jualnya. Itulah dua ilmu yang   ia terapkan setelah pulang ke Tanah Air.
Meskipun saat itu Asmadi masih berada di Malaysia, ia sudah memikirkan bagaimana nantinya di Indonesia.  Tidak  menunggu  pulang  dulu baru berpikir mencari dan menyusun  rencana.

2005 tepatnya, Asmadi mulai menyiapkan  apa saja yang harus ia lakukan  untuk  persiapan membuka usaha  di Indonesia. Ia brosing internet  disetiap waktu longgarnya. Selalu belajar dan belajar dengan internet  tersebut untuk mencari  peluang usaha.



 Ia menemukan dua peluang usaha, yaitu  yang pertama penyulingan  minyak dari  daun cengkeh, nilam, serai, kayu putih, dll. Dan peluang usaha yang kedua,  adalah produksi kripik buah  dari nangka, nanas, salak, papaya.

Hasil penemuan Asmadi  itu  diskusikan dengan teman, saudara dan orang-orang yang lebih berpengalaman darinya. Akhirnya ia memilih usaha kripik buah. Saat itu, ia masih kurang  sreg, lalu ia survei  kecil-kecilan melalui media chating. Dengan  media ini,  bisa kenal teman diberbagai daerah yang ada di Indonesia bahkan dunia. Ia chating dengan teman-teman yang berasal dari Aceh hingga Irian Jaya. Dalam chatingnya, ia lontarkan dua pertanyaan, “ Di daerah bapak/ibu, mbak/mas, sudah ada kripik buah apa belum? Kalau sudah ada, berapa harganya?”

Jawaban dari dua pertanyaan itu adalah belum ada, kalau pun ada harganya mahal.   Dari situlah Asmadi mengambil kesimpulan, kalau mendirikan usaha kripik buah, peluangnya masih bagus.
Ia putuskan membuka usaha kripik buah di Indonesia, tapi sebelum itu, ia curhat kepada keponakannya yang kuliah di IPB. Keponakannya ini sangat mendukung keputusan Asmadi dan berjanji akan  membuatkan mesinnya, karena di IPB juga mempelajari hal itu.

2008, Asmadi mengajukan  permohonan  berhenti  bekerja ke perusahaan, namun  ditolak. Ia tak patah semangat terus berusaha mengajukan permohonan. Asmadi dijanjikan bahkan dinaikkan gajinya, tetapi itu tidak menyurutkan niatnya. Akhirnya,  8 Januari 2009, ia resmi berhenti dan langsung  pulang ke Tanah Air.



Tekad sudah bulat untuk mengubah kehidupannya yang setiap hari bekerja untuk perusahaan, dan posisinya di Malaysia tidak bebas. Tidak bisa berbuat sesuatu untuk masyarakat umum. Kalau pun bisa keluar  itupun belum pasti, hanya  seminggu  sekali. Ia juga merasa, sudah lama menikmati zona nyaman bekerja enak, gaji cukup sehingga tidak ingat waktu. 18 tahun sudah, ia mengabdi pada perusahaan tempatnya bekerja. Waktu yang tidak bisa  dikatakan  sebentar. Dua hal di atas adalah alasan Asmadi pulang. Selain itu, ia terinspirasi oleh teman-temannya di kampung yang tidak bekerja di luar negeri tapi bisa juga beli motor, mobil,dll.

Sesampainya di rumah,  Asmadi berkoordinasi dengan adiknya untuk mendatangkan mesin yang dibutuhkan. Kurang lebih 1 bulan, mesinpun datang dan ia pun langsung belajar/mengoperasionalkannya. Ternyata tidak  semudah teorinya. Banyak  kendala dan permasalahan  yang  dihadapi. Dari masalah produksi hingga masalah  kemasan, meskipun akhirnya ia menemukan aluminium foil sebagai solusinya.
Kendala lainnya  adalah  terkait perizinan. Punya  produk  dengan kemasan  bagus tapi tidak punya izin jadinya tidak laku dijual. Asmadi pun mengurus perizinan usaha kripik buahnya sendiri, karena ia ingin mengerti birokrasi dinas Sragen. Perizinan meliputi TDP, TDI,SIUP, dan Dinkes. Setelah  semua  selesai, produk pun siap dipasarkan dan diterima oleh masyarakat.

Asmadi melanjutkan langkah berikutnya, mengadakan perjalanan  menjadi marketing. Keliling menawarkan  produk. Ia mulai dari kawasan kabupaten di daerahnya sendiri lalu ke berkembang ke  Solo Raya dan daerah lainnya. Juga membuka jejaring dengan menghubungi teman-teman yang berasal dari Jawa dan Kalimantan.  Teman-teman yang dikenalnya  ketika masih bekerja  dibagian personalia saat di Malaysia.
Kemudian  Asmadi kenal perkumpulan KAMI (Keluarga Migran Indonesia) dan ia mengikuti pelatihan-pelatihan marketing, serta juga  kenal dengan orang-orang baru. Ditempat ini  menjadi ajang penjualan produk baginya. Selain itu, ia juga menjalin hubungan  dengan dinas di Sragen, salah satunya adalah UMKM Sragen. Dari situlah, kemudian ia mengikutsertakan hasil usaha kripik buahnya  yang diberi nama  “ Setia Usaha Mandiri”.



Setelah banyak  orang  yang kenal usaha ini, Asmadi  menyediakan waktu mengadakan pelatihan-pelatihan untuk membuat  produk-produk makanan. Dalam hal ini, ia pernah bekerjasama dengan PNPM, BP3TKI, PERPUSDA, KAMI.

Selain  usaha kripik buah, kini Asmadi juga menjual peralatan-peralatan pendukung produksi UKM lengkap dengan pelatihannya. Dari usaha kripik buah ini, ia menghasilkan omset 5 juta tiap bulannya. Pernah juga mendapat omset 24 juta  dalam 1 bulan, ketika kirim produk ke Kalimantan (Pangkalabun). Penghasilan ini belum termasuk hasil penjualan mesin-mesin pendukung usaha.

Asmadi sangat bersyukur, pernah menjadi TKI, karena dari profesi itulah, ia  bukan saja mendapat uang, tetapi juga membawa banyak ilmu dan pengalaman. Selama bekerja di Malaysia, ia belajar banyak hal, di antaranya bagaimana mengenal karakter, bagaimana  berbicara di depan umum, memanage pekerjaan, juga ilmu bisnis. Apa yang ia dapatkan ingin  dibagikan kepada orang lain yang membutuhkan. Bahkan, ada orang yang dibimbingnya mendapatkan omset lebih besar darinya. Disitulah ia merasakan kebahagiaan, karena hidupnya bermanfaat buat orang lain.

Pesannya kepada teman-teman TKI dimana pun berada, untuk menggunakan waktu sebaik mungkin  saat bekerja di luar negeri dan jangan berfoya-foya. Tidak menuruti kesenangan sesaat agar  ketika pulang ke Tanah Air, tidak hanya dengan tangan kosong. Bekerja di luar negeri adalah kesempatan  mengumpulkan  modal. Kemudian, bertemanlah dengan orang-orang yang berprestasi supaya mempunyai  jejaring yang  bisa memberikan wawasan kehidupan lebih baik. Juga persiapkan rencana apa yang akan dilakukan setelah pulang ke Indonesia, tentunya dengan memanfaatkan waktu luang untuk belajar walaupun hanya lewat internet. Agar setelah pulang ke Tanah Air, tidak kembali lagi merantau.  

Dimuat Majalah Iqro, edisi 106- Juni 2016

PROFIL BMI PURNA MALAYSIA

Dari Perpustakaan, Ide Bisnis  Nanik Sukoco Muncul


Menjadi anak buruh tani biasa, membuat Nanik Sukoco hijrah ke negeri jiran, Malaysia. Dari tahun 1999 sampai 2004. Nanik bekerja jadi satu dengan kakaknya di perusahaan Plywood bagian quality control. Harapannya, dengan merantau ia bisa mewujudkan keinginannya memiliki motor, memperbaiki rumah, punya kehidupan yang layak  dan keinginan-keinginan lainnya.  Inilah kisah Nanik Sukoco, BMI Purna yang berasal dari  Ledok, Rt 7 Rw 3,Mojorejo, Karangmalang, Sragen-,Jateng 


Pada 2002, Nanik menikah kemudian ia kembali ke Malaysia bersama suaminya, yang kebetulan bekerja di perusahaan yang sama. Setelah 2 tahun menikah, ia punya anak, lalu memutuskan kembali ke Indonesia menempati sebuah rumah hasil jerih payahnya bersama suami selama 2 tahun di Malaysia. Sejak itu, ia menjadi ibu rumah tangga sejati.

Setelah anaknya besar, Nanik membuka usaha toko kelontong dan baju. Karena merasa kurang disibukkan dengan dua usaha itu, ia  membuka usaha krupuk dan lancar. Dititipkannya  krupuk tersebut  dimana-mana. Namun semua usaha itu ia hentikan ketika hamil kedua pada 2011, karena kondisi kesehatannya  tidak memungkinkan.

            Setelah anak keduanya agak besar, Nanik mencoba menyewa ruko yang terletak di depan RS. Islam Amal Sehat Sragen. Ia buka warung makan dengan modal 20 juta. Karena harus bolak-balik sepanjang 8 km, ia tidak kuat. Juga kasihan kepada anak-anaknya  yang tidak mendapat perhatian penuh, akhirnya usaha itu dihentikannya.Ia fakum total.


Genap 2 tahun tanpa kegiatan, selain mengurus rumah dan anak, Nanik merasa jenuh dan ia tidak tahu harus membuka usaha apalagi, karena semua usaha yang pernah dicobanya gagal meskipun sang suami selalu mensupport. Akhirnya Allah memberi petunjuk, ketika Nanik mendapat undangan seminar tentang wirausaha. Dengan keraguan yang tersisa, ia datang ke seminar yang diadakan oleh perpustakaan daerah Kabupaten Sragen yang bekerjasama dengan CCFI (Coca Cola Foundation Indonesia ) dengan progamnya yang bernama Perpuseru Indonesia.
Tema seminarnya  “Memulai Usaha Sekarang Juga”. Diadakan pada 22 Desember 2013 dengan narasumber seorang motivator dan penulis buku Zero To Super Hero, Sholikin Abu Izuddin.

“Siapa super hero?”, tanya nara sumber saat itu.
“Saya !,” jawab semua peserta.

Nanik hanya bisa menunduk sedih sambil menangis, karena ia merasa saat itu tidak memiliki usaha apa-apa.  Setelah kejadian itu, Nanik rajin ke perpustakaan yang berjarak sekitar  15 km dari rumahnya. Ia belajar banyak disana, apalagi pegawainya ramah-ramah. Ia merasa nyaman ditempat tersebut.

Dari perpustakaan itu, muncullah sebuah ide bisnis, yaitu membuat kripik. Nanik mempelajarinya dari internet yang tersedia di perpustakaan, belajar dari buku-buku juga diajari temannya. Lalu ia praktekkan di rumahnya. Sedikit demi sedikit, ia promosikan di kantor-kantor kota Sragen. Hasilnya, mereka menyukai kripik tersebut.

Akhirnya, Nanik Sukoco mendapat bantuan dari  Dinas Perinkop untuk mendapat izin usaha agar produknya bisa masuk supermarket. Ia memberi nama produknya” Green Heart”. Ada kripik pare, kripik daun seledri, kripik daun sirih dan kripik daun singkong. Aktivitas ini didengar oleh CCFI dan sejak saat itu banyak kegiatan yang ia ikuti, di antaranya belajar tentang kemasan, pemasaran, manajemen,  membuat facebook, dll. Setiap dapat ilmu baru, selalu diajarkannya  kepada ibu-ibu yang lain, dan ia mengajak mereka  datang ke perpustakaan untuk belajar pula.

Berbagai undangan keluar daerah datang dari CCFI. Salah satunya di Hotel Earpark  Jogyakarta.  Disini digelar acara lomba antar perpustakaan Kabupaten se Indonesia yang berlangsung selama 3 hari, dan  Sragen menjadi pemenang dalam positive deviance. Positive deviance maksudnya adalah kegiatan yang positif tapi menyimpang. Menyimpang dalam arti kata, bahwa perpustakaan itu tidak hanya untuk membaca dan meminjan buku saja, tetapi juga bisa sebagai  tempat pusat kegiatan masyarakat. Tempat berkumpul berbagai komunitas, sehingga bisa muncul wirausaha dengan  berbagai kegiatan positifnya di perpustakaan. Dalam acara itu, Nanik Sukoco hanya bertugas memberikan testimoni manfaat perpustakaan. Selain lomba  juga diadakan pameran produk.

Dari acara yang digelar di Jogya itu, ada 5 desa terpilih dan mendapatkan 3 unit komputer lengkap dengan internetnya. Komputer tersebut ditaruh di kantor kelurahan agar masyarakat bisa mengaksesnya. Perlengkapan ini tersebut dikelola  Nanik hingga sekarang. Selain mengurus perpustakaan, membuka usaha kripik, mendampingi  pembudidayaan  jamur  yang  diadakan oleh BP3TKI, juga terlibat di PAUD, kegiatan anak SD serta orang dewasa/ibu-ibu.
Untuk PAUD, mengadakan lomba mewarnai. Untuk usia SD mengadakan pelatihan ketrampilan dalam menggali bakat anak, seperti membuat kreasi kertas kokuru, membuat kaligrafi dari semen gifsun,dll. Sedang untuk orang dewasa/ibu-ibu,  mengadakan pelatihan membuat bros, merangkai bunga acrylic, kotak tisu, hias toples, pelatihan kuliner ( burger dan bakso jamur).
Dari sekian kegiatan yang dilakukan Nanik Sukoco ini, mengundang penasaran media untuk mengetahuinya lebih dalam, di antaranya Tabloid Wanita Indonesia, Jawa Pos, Gatra.
Pada tanggal 18 Mei 2015 lalu, ia diundang ke Bali dalam acara Peer Learning Nasional. Mewakili perpustakaan desanya, dan ia mendapat juara 1.


Kenapa dipilih Gunung Kidul? Sengaja dipilih lokasi tersebut, karena disana ada seseorang yang punya semangat membara dalam mengelola perpustakaan desa. Mendapat bantuan 3 unit komputer, dan dengan itu daerah yang terkenal gersang ini disulap. Mengubah tanah gersang menjadi lahan yang subur dilakukan oleh masyarakat disana setelah mereka belajar dari internet  cara-caranya.

Nanik  sebagai relawan mengelola perpustakaan desa '' Permata Ilmu ''  yang terletak di Desa Mojorejo, Karang Malang, Sragen –Jawa Tengah ini,  punya tujuan mengubah pandangan orang tentang perpustakaan yang mereka anggap sebagai tempat hanya untuk membaca, tempat sumpek, membosankan, dll. Kini berganti dengan perpustkaan itu tempat belajar, menimba ilmu dengan didukung fasilitas internet lengkap sebagai pusat kegiatan masyarakat secara gratis.

Apa yang Nanik dapat dan hasilkan saat ini, berawal dari perpustakaan. Yang dulunya hanya seorang ibu rumah tangga biasa dengan rutinitas itu-itu saja, sekarang bisa lebih bersumbangsih kepada masyarakat luas. Selain kegiatan mengelola perpustakaan desa, Nanik juga aktif sebagai sekretaris di organisasi KAMI Sragen yang didirikan pada tanggal 19 Maret 2014. Diresmikan di perpustakaan daerah Kabupaten Sragen. Awal dibentuk memiliki 50 orang anggota, dan kini sudah bertambah menjadi 130 orang. Di KAMI Sragen ini juga sudah didirikan  pra koperasi yang saat ini dalam proses  pengurusan legalitas dari Dinas Perkoperasian. Tiap anggota iuran 200 ribu rupiah sebagai modal awal  pra koperasi tersebut, lalu menyerahkan setoran wajib sebesar 10 ribu per bulannya. Sudah berjalan Sembilan bulan.



 Nanik Sukoco, BMI Purna Malaysia yang dulunya hanya bisa mengandalkan gaji sang suami, kini bisa membantu menambah penghasilan keluarga dari hasil penjualan kripiknya. Yang awalnya  menghasilkan 7 ratus ribu, kini meningkat menjadi 3.5 juta- 4 juta dengan laba bersih 2-2.5 juta per bulan. Ia tidak mau menjadi TKI lagi karena kini sudah mempunyai usaha kripik dan ia yang menjadi bos dari usaha itu. Lebih enak di negeri sendiri daripada dirantau.


Mengakhiri perbincangannya dengan tim Majalah Iqro, Nanik titip pesan untuk semua BMIyang masih bekerja dirantau untuk menjadi BMI yang cerdas, yang bisa menjaga diri, selalu ingat niat awal mencari nafkah, dan menetapkan batas berapa tahun harus bekerja di negeri orang, karena negeri sendiri juga menanti.




Dimuat Majalah Iqro, edisi Juli 2016

PROFIL BMI HONGKONG-TAIWAN

Hasil Tidak Akan Berhianat Pada Proses

Maria Bo Niok, perempuan kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah, ini adalah PMI Purna Hong Kong yang sukses sebagai penulis novel dan pengusaha makanan ringan. Pada tahun 1996 silam terpaksa merantau ke Hong Kong untuk memperbaiki roda ekonomi keluarga. Berbekal tekad  ia  meninggalkan kelima anaknya, meninggalkan setumpuk utang, dan perbagai masalah yang mendera bahtera rumah tangganya, dan berharap nasib baik akan berpihak padanya setelah ia bekerja menjadi PMI di Hong Kong.


Maria sapaan akrabnya, memiliki lima orang anak yang masih membutuhkan biaya banyak untuk meneruskan pendidikan di sekolah. Meski ini bukan hal yang mudah bagi seorang single parent, apalagi jika mantan suami sudah tidak mau tahu dengan urusan kecil sekalipun, namun dia bersyukur masih mampu memberikan kehidupan yang layak untuk kelima anaknya, baik dari segi pendidikan formal, pun informal. Selama dua tahun di Hong Kong, ia sudah mampu melunasi utang piutang yang ia tinggalkan di kampung halaman. Usai dua tahun itu ia memutuskan untuk pulang.


 Namun tidak berapa lama di rumah, Maria memutuskan lagi pergi ke Taiwan. Kerja di Taiwan juga tidak berlangsung lama. Dua tahun perjalanan kerja di sana Maria memutuskan pulang ke tanah air lagi, karena merasa tidak betah dengan situasi tempat kerja. Dari tabungan yang Maria kumpulkan, ia mampu membangun istana sederhana buat anak-anaknya, karena sejak pergi merantau, nasib anaknya juga tidak menentu. Ada yang ikut kakaknya, ikut ibunya dan ikut ayahnya, meski semua biaya hidup yang menanggung ia sendiri dari hasil keringatnya selama pergi merantau.
Pada tahun 2000 Maria berniat hengkang lagi meninggalkan kampung halaman dan mengais rezeki di tanah orang, yaitu Hong Kong. Untuk kedatangan yang kedua ke Hong Kong, Maria lebih aktif dengan kegiatan-kegiatan positif untuk bekal menata masa depan bersama kelima anaknya. Perbagai kursus ia ikuti, antara lain: kursus bahasa Inggris, kursus bahasa Jepang, taekwondo, ceungdokwan , dan lain-lain. Singkat cerita, Maria saat ini beda jauh dengan Maria yang dulu. Maria saat ini lebih produktif, kreatif, dan selalu aktif di perbagai kegiatan.
Meski pada awalnya Maria sendiri belum memahami betul mengapa ia ikut taekwondo, namun yang pasti niat itu terbesit dibenaknya saat ia melihat banyaknya kasus intimidasi oleh oknum bandara terhadap para PMI saat cuti ke kampung halaman.  Setidaknya, dengan memiliki bekal taekwondo, tidak takut lagi menghadapi gagahnya oknum yang tidak bertanggungjawab, pikirnya.
Waktu bergulir begitu cepat, tak terasa sudah memasuki tahun 2005. Pada akhir tahun kontrak 2003-2005, perempuan dengan panggilan Maria ini mengalami cobaan yang agak berat. Ada suatu ganjalan diotaknya dan harus dioperasi. Ia disarankan menjalani operasi di Tuen Muen Hospital selama kurang lebih 15 hari. Bertepatan dengan keluarnya dari Rumah Sakit, kontrak kerjanya selesai pula, dan ia memutuskan pulang ke kampung halaman untuk menjemput mimpi bersama anak-anaknya.
Pulang kampung. Hidup di negeri sendiri. Satu bulan, dua bulan masih stabil. Isi dompet masih stabil juga, namun menjelang bulan keempat setelah purna, ia merasa bingung, belum memiliki planning yang jelas mau ngapain? Meski begitu, Maria tidak berhenti berusaha. Perbagai usaha ia lakukan, baik berjualan gorengan, jualan baju, sampai tidak laku pun pernah ia lakoni. Buka wartel, buka counter handphone, semua belum menuai hasil.
Hingga suatu hari, Maria diajak mengikuti pelatihan membuat makanan ringan. Berbekal ilmu itu ia merasa cocok dan terus ia kembangkan hingga saat ini. Di samping itu ia juga memiliki keahlian khusus sebagai penulis novel, pengurus perpustakaan hingga dua tahun berturut- turut dan menorah prestasi. Pada tahun 2014 ia menjadi Juara Nasional Kreatif dan Rekreatif. Tahun 2015 pula ia juga menjadi juara 1 Perpustakaan Desa Tingkat Kabupaten Wonosobo.
Benar kata pepatah bijak, bahwa hasil tidak akan berkhianat pada proses. Manusia merancang, Tuhan yang menentukan. Segala usaha dan upaya yang dilakukan Maria pada saat itu menuai hasil yang memuaskan. Di samping kegiatan yang seabrek, ia masih mampu menyisihkan waktu  untuk teman-teman PMI purna dan didaulat sebagai Ketua BMW (Buruh Migrant Wonosobo) Mandiri.  Ia bagikan ilmunya saat mengisi undangan seminar, workshop, dan pertemuan dengan BMW Mandiri. 
Maria kini menjadi motivator untuk teman-teman yang lain agar senantiasa bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, menyikapi kepahitan hidup dengan sesuatu yang positif, kemudian menikmati dan memetik hasilnya pada saat perjuangan sudah terasa maksimal, dan selalu percaya bahwa Allah itu maha segala maha. Dengan sugesti seperti itu, maka rasa pahit dalam perjalanan hidup bisa dijalani dengan rasa nikmat.
Meski tak dapat dinafikan, sering kali godaan untuk pergi ke Hong Kong masih menari-nari dibenak. Namun, dengan mengingat ia sudah mendapat amanah dari teman-teman PMI Purna, pikiran itu lekas sirna. Dalam penuturan terakhir ia juga bercerita bahwa tahun 2007 pernah diundang oleh KJRI Hong Kong untuk mengisi acara welcoming program selama lima hari.

(Hal ini patut juga dijadikan ikhtibar untuk para PMI yang lain, agar sebelum memutuskan pulang kampung, membuat plan yang jelas mau membuka usaha apa? Banyaknya seminar keuangan dan seminar kewirausahaan tidak perlu lagi berpikir untuk ikut atau tidak, tapi putuskan harus ikut agar kita juga memiliki tujuan masa depan, karena ini merupakan tugas kita sebagai manusia untuk menjemput rezeki, selain mengharap kepada pemilik rezeki). * Wina

Dimuat Majalah Iqro edisi 108,Agustus 2016

PROFIL BMI PURNA HONGKONG

Membuka Usaha Bermodal 1 Juta


Pujiatin BMI Purna asal Kediri adalah salah satu volunteer DDHK yang sudah kembali ke Tanah Air. Bersama suaminya, Pujiatin membuka usaha minimalis/pengrajin pot. Bermodal 1 juta, ia dan suaminya mengelola uang tersebut dengan baik, sehingga bisa bertambah dari waktu ke waktu.Usaha ini baru berjalan 6 bulan ketika tim Majalah Iqro berkunjung ke rumah mereka di Kediri.


Sebelum membuka usaha, suami Pujiatin bekerja di tempat pembuatan pot milik saudaranya  selama 10 tahun, dan dari pengalamannya ini, ia lalu berinisiatif membuka usaha sendiri setelah melihat peluang di kampungnya. Halaman depan rumahnya  disulap sebagai tempat usaha. Untuk tempat produksi, gudang, juga  sebagai tempat memajang pot-pot yang sudah jadi dengan berbagai ukuran dan model.


Tahun 2012 lalu, Pujiatin memutuskan untuk kembali ke Tanah Air lalu menikah dengan Zurqoni. Pujiatin merupakan anak tunggal dari Ibu Kasih dan Bapak Tumila yang berangkat ke Hong Kong pada tahun 2007.Pada bulan Oktober 2015, ia dan suaminya membuka usaha minimalis ini. Pendapatan yang bisa diperoleh  berkisar Rp.250.000 per hari. 


Selain melayani pembeli yang langsung datang ke rumah, mereka juga melayani pemesanan dari mulai harga Rp.10.000 sampai Rp.250.000. Untuk usaha ini, bahan-bahan yang dibutuhkan adalah semen, pasir, cat, cetakan.


Pujiatin menitip pesan untuk teman-teman yang sudah lama di Hong Kong dan masih takut pulang ke TanahAir, bahwa di kampung halaman tidaklah menakutkan seperti yang sering dipikirkan. Di Indonesia banyak peluang usaha yang bisa dijalankan, asal ada tekad kuat, kesabaran, keuletan dan serta dikelola dengan baik. Tidak ada usaha yang bim salabim langsung sukses. Pasti ada kendala yang akan menghadang. Kalau kita di Hong Kong mampu menghadapi segala permasalahan, kenapa di Tanah Air sendiri tidak bisa? 




* Dimuat Majalah Iqro Dompet Dhuafa Hong Kong, edisi 109/ September 2016

Senin, 19 September 2016

Harapan

"Tahukah Anda? Bahwa setiap keputusan yang kita buat dipengaruhi oleh emosi? Tidak ada keputusan yang benar-benar hanya didasarkan pada pemikiran logis. Semua keputusan ditentukan oleh hasil "pertarungan" berbagai emosi yang ada di pikiran bawah sadar kita. Emosi inilah sang " provokator" yang sangat lihai dan licik".  ( QLT book hal 127, paragraf 1)




Saya telaah kalimat di atas, dan saya rasakan benar adanya. Ketika flasback ke berbagai macam aktivitas/kegiatan, pekerjaan semua adalah hasil dari sebuah keputusan. Sama seperti ketika saya masuk menjadi anggota sebuah komunitas yang di dalamnya berisikan pelaku-pelaku UKM. Padahal saya sendiri bukan pelaku UKM tetapi jurnalis.








Melalui banyak pertarungan, akhirnya saya putuskan memasuki komunitas itu : MBA.
Tidak serta merta bergabung. Saya punya alasan, karena masuk dalam sebuah komunitas, apapun kegiatannya, bagi saya merupakan investasi waktu, tenaga dan pikiran bahkan uang. Saya harus mendapatkan sesuatu darinya.




Uang, teman, ilmu, pengalaman, skill adalah beberapa hal yang bisa didapatkan  dari investasi tersebut. Dan ini pasti bisa didapat bila seseorang mengambil keputusan bukan karena " anut grubyuk".
Karena ia punya visi dengan keputusannya. Ia harus mempertanggungjawabkan keputusannya itu dengan cara berkomitmen dan menjaga konsekuensinya.





Dalam menapaki sebuah aktivitas baru, tak luput dari pasang surut kendala. Sama seperti di komunitas ini. Karena dalam sebuah komunitas, ada banyak pemikiran-pemikiran yang berbeda. Ya, karena tiap pribadi itu unik. Untungnya, Hong Kong sudah menggembleng saya untuk tidak menjadi penggembira. Dan itulah harapan saya. Bisa memberikan kontribusi untuk kemajuan bersama.



Seperti halnya hari ini (19/9/2016), di beskem MBA, diadakan pertemuan untuk merealisasikan agenda mendirikan koperasi. Yang dihadiri beberapa anggota dan pengurusnya serta Bapak Nanang dari Dinas Koperasi dan UMKM. Memang bukan hal mudah mewujudkan sebuah rencana, namun bukan berarti tidak mungkin mewujud selama diusahakan dengan jalan yang benar dan tak putus semangat serta harapan. Harapan yang terwujud akan menjadi cambuk penyemangat bagi orang lain  yang ingin maju. Bukan sekedar NATO ( No Action Talk Only) atau NAPO ( No Action Perintah Only).

Hong Kong sudah saya tapaki dengan segala kesulitannya, dan semoga di Tanah Air, saya bisa lebih baik lagi. Bisa mewujudkan impian yang saya bangun bersama teman-teman yang masih merajut asa di sana.