Senin, 23 Mei 2016

Catatan Agenda Di LKP Ganesha




Tanggal 15 Mei 2016 kemarin, saya dan seorang kawan dari kota Blitar, yang sama-sama BMI Purna, mengikuti training disebuah lembaga pelatihan. Kami berdua meluangkan waktu untuk menimba ilmu dunia marketing online. Karena masih sangat banyak sekali, hal-hal luar biasa di dunia IT yang belum kami ketahui.

Sebenarnya, saya mengajak banyak kawan, tapi mereka masik sibuk dengan agenda mereka masing-masing. Jadi saya memutuskan, untuk belajar dulu. Sebab, kalau saja menunggu dan menunggu, saya tidak akan segera mendapatkan ilmu yang saya perlukan. Sedangkan saya sangat tahu, kekurangan dan kemampuan diri saya sampai dimana. Point-point mana yang harus segera saya tambah/benahi. Karena dengan menguasai ilmu yang saya butuhkan, maka saya bisa mencapai target yang saya inginkan. Dan imbasnya, meningkatkan pendapatan saya yang berujung pada kesejahteraan hidup saya. So, saya tidak menunggu. 

Dengan berinvestasi Rp. 150.000, seharian kami belajar. Tentang pemahaman jualan online yang hakikatnya sama dengan jualan ofline, yaitu kita harus "jujur" mengenai kondisi barang yang kita jual. Kita tidak boleh berbohong.

Apabila kita kedapatan berbohong, saat itulah kita akan kehilangan pembeli. Kalau dipikir-pikir memang benar. Saya pernah membeli jilbab, saya lihat gambarnya bagus dan menarik. Tapi, setelah barang sampai ditangan saya, ternyata kualitas barangnya jelek.
Sejak itu, saya tidak pernah lagi membeli  barang  ( baju, jilbab) secara online. Saya memilih datang langsung ke toko/penjualnya.

Di pelatihan hari itu, saya dan   kawan saya juga peserta yang lain, mengutak-atik hape adroid kami. Membuka situs-situs tertentu sesuai arahan narasumber.  Ada yang sudah paham penggunaan situs tersebut, tapi lebih banyak yang belum paham, termasuk saya. Karena itulah, saya belajar.

Bagi saya, belajar harus terus ditingkatkan dari waktu ke waktu. Mau "nyandak" tidaknya jangkauan pikiran saya, itu perkara nanti. Karena sesuatu hal baru memang seringkali membuat kita akan mengalami ketidak "nyadak-an" tersebut.  Nyandak alias bingung.

Selama ini, dalam masalah promosi, saya memang menggunakan berbagai media sosial yang saya punya. Memang tidak banyak aplikasi yang saya unduh, seperti kawan-kawan lainnya. Alasan saya karena kalau kebanyakan aplikasi, kinerja hape jadi lambat. Bahkan kadang error. Dan saat itu, dunia kayak kiamat ( Kayak tahu kiamat itu seperti apa. Hehehe...). Maksudnya, segala aktivitas  saya jadi terhambat. Misal ada informasi pelatihan, jadwal pertemuan komunitas, atau promo barang jualan. Semua jadi terbengkalai. 
Bagi yang paham dunia IT, itu bukan masalah, tapi bagi saya yang lebih banyak tidak pahamnya , menjadi satu hal yang menakutnya.  Saya meminta bantuan orang lain, untuk bisa mengaktifkan kembali perangkat hape tadi.

Di pelatihan itu, ada satu ilmu yang saya incar jauh-jauh hari. Yang itu menjadi alasan saya mengikutinya. Yaitu, tehnik pemotretan produk. Karena menurut saya, banyak orang yang berjualan secara online, dengan menampilkan gambar yang asal-asalan. Termasuk saya dulunya.
Sampai pada ketika saya bertemu dengan sesorang yang lagi bertugas ke Hong Kong, memperlihatkan cara memotret sebuah barang yang mau dijual secara online. 

Dari situ, saya mulai belajar menampilkan photo-photo agar terlihat menarik. Lumayanlah dibanding dengan hasil tampilan sebelumnya. Saya jadi tahu, ternyata untuk mengupload sebuah photo/gambar, ada triknya.



Teringat peristiwa itu, saya langsung mendaftar ketika mendapat informasi pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan saya. Dimana saya menyadari, bahwa saya suka berjualan/berdagang (Sesuai sunah Nabi gitu ceritanya. Hehe...)

Dalam sesi itu, kami para peserta pelatihan diminta mempraktekkan ilmu yang baru kami dapatkan. Sehingga kami tahu, titik letak kesalahan dan ketidaktahuan kami selama ini. Juga sejauh mana kami memahami materi yang diberikan  narasumber. 




Dari tata letak, pencahayaan, pengaturan waktu, dll. Sangat berharga sekali. Satu ilmu terkantongi. Semoga bisa menjadikan kenaikan omset dari barang-barang yang kami jual secara online.

Untuk bisa selalu memiliki semangat belajar, saya mengingat nasihat dari sebuah buku. Orang yang hanya memikirkan urusan  perut ke bawah, hidupnya begitu-begitu saja. Dan orang yang selalu memikirkan urusan leher ke atas, hidupnya akan berkembang. Seperti itulah                                                                                      kira-kira maknanya.






*Catatan agenda di LKP Ganesha : 15 Mei 2016 *


Sabtu, 21 Mei 2016

Catatan Di Basecamp MBA




Terlihat wajah-wajah baru di MBA, yang kebanyakan  adalah pelaku UKM yang ada di daerah Malang. Meskipun saya sendiri bukan pelaku UKM, tapi berkumpul dengan mereka akan membawa manfaat tersendiri, karena saya memiliki program TSM (Tour Studi Magang).

TSM diperuntukkan bagi BMI Purna, keluarga BMI dan BMI yang masih bekerja di luar negeri. Program TSM hanya bisa dilakukan bila bersinergi dengan pelaku UKM karena dalam program ini, kita akan mengunjungi tempat-tempat usaha untuk melihat cara produksi, packing, serta marketingnya. Dengan demikian, peserta akan melihat dan mendengar langsung bukan hanya sekedar teori semata. Sepintar apapun menguasai  teori, tak jarang  kita kebingungan saat mengaplikasikan di lapangan. Dengan adanya pendampingan serta bimbingan dari pelaku UKM, kendala-kendala yang kita temui bisa teratasi.

Selain itu, mereka bisa menemukan ide-ide bisnis yang dijalankan dari rumah masing-masing. Sangat cocok buat BMI khususnya wanita. Mereka bisa menjalankan tugas rumah tangga bagi yang sudah berkeluarga. Bagi yang masih single bisa menciptakan peluang usaha/membuka lapangan kerja dari rumah. Tidak lagi menjadi karwayan/BMI.



Bagi yang memiliki minat marketing, mereka bisa menjadi reseller dari produk-produk UKM tersebut. Jadi, banyak sekali manfaatnya. Membangun silaturohim, tour/wisata, belajar, praktek, menjadi reseller.Tanpa di sadari, kita sudah ikut membantu memasarkan produk UKM di era MEA ini. Slogan cinta produk dalam negeri bukan menjadi slogan saja bukan?

Untuk program TSM ini, saya bisa bersinergi dengan sesama anggota MBA yang mayoritas pelaku UKM. Akan tercipta simbiosis mutualis. Inilah visi saya menjadi anggota MBA. Karena melakukan sesuatu tanpa visi,  kita akan menjalaninya tanpa semangat. Hanya sekedar ngumpul, bahkan tak jarang  kita hanya akan menjadi penonton saja.

MBA ( Malang Business Activity) ini wellcome terhadap siapa pun termasuk saya BMI Purna Hong Kong.
Di sini, ada banyak pelatihan-pelatihan yang bisa dipelajari untuk meningkatkan skill kita. Kita pun bisa mengikuti kegiatan-kegiatan baik dari komunitas maupun instansi.  Itu yang saya butuhkan sebagai pendatang baru, meskipun saya bukan orang asing.



Kenapa saya katakan pendatang baru? Karena setelah merantau sekian lama, ketika kembali ke Tanah Air, kita akan plonga-plongo. Dan untuk keluar dari keplonga-plongoan itu, kita harus mau belajar dan berbaur dengan banyak orang, baik secara individu maupun komunitas. Kita mengosongkan gelas agar ilmu bisa masuk. Meskipun saat di luar negeri kita sudah mengikuti banyak pelatihan, seminar, workshop dll.

Mengantongi banyak sertifikat  pelatihan bukanlah jaminan kita bisa menaklukkan keadaan, kalau belum langsung terjun ke lapangan. Teori saja tidak cukup. Untuk bisa terjun ke lapangan, kita butuh relasi/mitra yang bisa menyambungkan kita dengan sesuatu yang kita perlukan.


* Catatan di Basecamp MBA, pOWER cAFE, 21-5-2016*    


Selasa, 17 Mei 2016

Berbohong Demi Dapat Penumpang

"Pak, bisnya ke Malang?" tanya saya pada seorang supir bis.
"Iya," jawab pak sopir.
"Lewat Jalibar ?" tanya saya lagi.
"Tidak," jawab pak supir.



Mendengar  jawaban pak supir, saya segera melangkah naik ke dalam bis Harapan Baru di terminal bis kota Blitar setelah pamit , bersalaman dan cium pipi kiri-kanan kepada seorang teman.
Sejak tanggal 15 Mei kemarin, kami berdua memiliki agenda yang sama sebagai sesama BMI Purna Hong Kong.

Karena kursi bagian depan sudah terisi penuh, saya memilih duduk di kursi paling belakang. Alasannya dekat pintu, jadi bisa mendapatkan udara segar dan saat turun dari bis jaraknya dekat. Dalam bis itu ada pengamen yang sedang menyanyi lalu menjajakan plastik/wadah untuk uang pemberian  para penumpang.

Tak berapa lama, bis pun berjalan.perlahan meninggalkan terminal kota Blitar. Kemudian  kondektur yang duduk pas didepan kursi  saya, lewat menarik uang dari penumpang yang belum membayar.

"Turun pasar Kepanjen," kata saya kepada kondektur sambil memberikan uang lima puluh ribuan.
"Kita nggak lewat Panjen, tapi lewat Jalibar," jawab kondektur, membuat saya terkejut.
"Tadi kata pak supirnya nggak lewat Jalibar?" protes saya.
"Nanti turun di Talang Agung, kita nggak lewat Panjen," kata kondektur dengan muka tanpa senyum.

Kecewa, marah, itulah yang saya rasakan saat itu. Perasaan dibohongin oleh supir bis Harapan Baru tujuan Banyuwangi telah membuat perjalanan saya jadi tidak nyaman. Hanya untuk mendapatkan penumpang, segala cara dilakukannya termasuk membohongi penumpang.  Yang mereka pikirkan hanya keuntungan sesaat tanpa memikirkan jangka panjang tidak dipercayanya pelayanan mereka, surat pengaduan yang bisa saja dilayangkan oleh penumpang ke kantor bis yang tertera pada setiap lembar karcis sebagai bukti pembayaran.

Saya diturunkan di pertigaan Talang Agung, cukup jauh dari rumah saya. Tanpa banyak bicara, saya turun dan berjalan menuju  Indomaret  yang kebetulan terlihat oleh saya.Membeli pulsa yang kebetulan habis, agar saya bisa menghubungi orang rumah dan mengabarkan keadaan dan posisi saya saat itu.

Entah, sudah berapa banyak kebohongan-kebohongan yang mereka laukukan kepada penumpangnya.
Satu kebohongan bila dibiarkan akan menjalar tak berkesudah.



PO. HARAPAN BARU
Jl. Pahlawan Karangsuko 
Telp. (0355) 793367
Trenggalek
E.N0 057028



Catatan perjalanan Blitar -Malang ;17-Mei 2016