Minggu, 03 April 2016

Hanya Dengan Rp 14.000 Bisa Berkeliling Di Taman Wisata Baturraden

Indonesia memang indah. Siapapun akan mengakuinya, bahkan turis mancanegara pun berdecak kagum karenanya. Banyak tempat-tempat wisata di Indonesia yang memukai. Bisa menghilang stress karena kepenatan kerja atau keruwetan hidup. Tidak terhitung banyaknya tempat-tempat wisata ini, baik yang sudah terekspos media, maupun belum. Karena Indonesia sangat luas.



Berbahagialah menjadi warga negara Indonesia dengan keindahan dan kekayaan bangsa ini yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Dengan Bhinneka Tunggal Ika-nya. Sehingga membuat banyak bangsa asing mencoba dengan berbagai cara ingin memilki bangsa ini.


Sudah sewajarnya, kita sebagai warga negara Indonesia  wajib mencintainya dengan menjaga kelestarian alamnya. Agar keindahan Indonesia tidak punah karena keserakahan manusia. Kita pun wajib mempublikasikan keindahan alam Indonesia kepada siapa saja. Menjadi duta wisata, adalah sebuah keharusan bagi siapa pun yang cinta Indonesia.


Dari sekian banyak tempat wisata di Tanah Air ini, salah satunya adalah taman wisata Baturraden yang terletak di Purwokerto. Tempatnya sangat luas, hawanya sejuk, pemandangannya  indah. Fasilitas yang disediakan pihak pengelola pun lengkap. Dari mushola, toilet, tempat permainan anak, tempat belanja oleh-oleh, halte kendaraan roda empat dan roda dua, dll.




Pelataran taman ini juga luas dan bersih. Ada patung  ( Bagong, Gareng, Petruk, Romo ) berjejer  di dekat pintu masuk. Tempat para penjual makanan dan cinderamata juga tertata rapi  sehingga tidak mengganggu pemandangan. Tidak terlihat adanya sampah yang berserakan. Di sekeliling taman pun, tersedia banyak penginapan  dari hotel sampai losmen.  Jadi, para wisatawan yang ingin bermalam di tempat itu, tidak akan kesulitan mencari tempat untuk beristirahat.

Sebelum masuk ke lokasi taman wisata Baturraden,  pengunjung  harus membeli  tiket masuk yang tersedia di loket. Loket ini berada di sebelah pintu masuk. Harga tiket masuknya Rp. 14.000 per orang. Setelah masuk ke dalam,  pengunjung akan menemui  bangunan  berjejer  yang  di antaranya  digunakan untuk   ruang  P3K, meeting, informasi, dll.






Dalam taman wisata Baturraden, dipasang beberapa papan yang bertuliskan arah tempat-tempat yang bisa dikunjungi. Mungkin gunanya untuk memberitahukan kepada pengunjung, apa saja yang ada di tempat tersebut. Juga  bisa berperan sebagai map buat pengunjung agar  tidak bingung.  Ada juga tempat cuci/afdrux  photo.

Ada beberapa alat permainan buat anak-anak, di antaranya kuda putar, kereta api, kapal terbang, ayunan. Bila pengunjung ingin menikmatinya, tinggal membayar Rp.5000 per tiket.  Untuk di kapal terbang sendiri,  orang dewasa pun diperbolehkan. Dalam pesawat tersebut  disediakan pemutaran film berdurasi lima menit. Bisa juga ber-selfi  ria. Selain itu, ada kolam ikan berwarna-warni, seperti jenis ikan Koi, kandang-kandang kecil yang terbuat dari adonan semen berisikan ayam. Dan ada pijat terapi ikan. Hah! Pijat terapi ikan? Maksudnya gimana? Kita akan dipijat oleh ikan! Penasaran? Datang saja ke taman wisata Baturraden.


Sungai bebatuan, air terjun, jembatan melingkar menyambungkan area satu dengan area lainnya. Bagi yang suka naik gunung, bisa berjalan ke  area yang lebih tinggi lagi karena taman wisata Baturraden sangat luas.
Di dalam taman juga tersedia penjual makanan dan minuman. Jadi, bila pengunjung merasa lapar atau haus, tidak kebingungan membeli makanan.

Purwokerto : 30 Maret 2016


1 Jam Di Taman Wisata Baturraden


Saya mendapat undangan untuk mengikuti training koperasi di Purwokerto. Acara berlangsung dari tanggal 28 -30 Maret 2016. Diikuti oleh perwakilan dari beberapa kabupaten yang kesemuanya adalah BMI Purna. Perwakilan itu berasal dari Malang, Blitar, Madiun, Magetan, Ponorogo, Sragen, Kebumen, Brebes, Majalengka, Indramayu, Banjarnegara.

Saya berangkat pada tanggal 27 Maret  dari Malang menuju Madiun. Lalu berangkat bersama teman-teman dari sana menuju ke Purwokerto keesokkan harinya. Kami naik kereta api Logawa pada jam 12.23 WIB.
Di stasiun kereta api Sragen, jumlah rombongan kami bertambah dua orang dan kami berada pada gerbong yang sama. Sepanjang perjalanan, kami ngobrol banyak hal. Saat itu, saya sebangku dengan mbak Umi BMI Purna Hong Kong asal Madiun. Kami dulu sama-sama menjadi volunteer DDHK. Tak ayal lagi, kami pun bernostalgia, masa-masa saat di perantauan.

Sekitar 18.30 kami tiba di stasiun Purwokerto. Setelah menunggu sebentar, mobil jemputan pun datang. Tak lama kemudian, kendaraan yang kami tumpangi meluncur ke tempat training, yaitu hotel Rosalia yang terletak di Jl.Pariwisata Baturraden Purwokerto 53151 Central Java-Indonesia.



Setelah membersihkan badan di kamar hotel yang disediakan panitia, semua peserta menuju ke ruang makan lalu ke ruang training yang ada disebelahnya. Training berlangsung selama tiga hari dan di hari ketiga itu, pagi harinya, kami pergi ke taman wisata yang berada tak jauh dari tempat kami menginap. Taman wisata Baturraden.

Pemandangannya sangat indah, asri dan alami. Taman wisata yang berada di kaki gunung Slamet itu hawanya sangat sejuk dan areanya sangat luas. Ada air mancur, sungai berbatu, tempat main anak, kolom ikan, pesawat terbang untuk selfi dll.


Jalan menuju taman wisata Baturraden memang menanjak, tapi sangat bersih. Di sana ada tempat belanja oleh-oleh, parker kendaraan, tempat makan. Tempatnya berada di depan taman wisata Baturraden. Yang jadi unggulan oleh-oleh di tempat ini adalah makanan yang namanya getuk goreng.Saya dkk sempat mengicipinya sebelum membeli.

Di depan tama nada pelataran, dan kalau pagi banyak orang yang duduk sambil berjualan makanan seperti nasi, juga minuman seperti kopi. Mereka membawa termos air hangat ke tempat itu. Jadi kalau ada yang beli minuman, mereka langsung menuangkan air dari termos tersebut. Pas sekali karena udara di sana sejuk,bahkan kalau pagi hari terasa dingin. Mereka tidak memakai rombong, tetapi memasukkan dagangannya ke tas yang terbuat dari plastik yang dianyam. Tas plastik yang biasanya digunakan untuk berbelanja di pasar. Juga marang (bahasa jawa), wadah yang terbuat dari anyaman bambu.



Selama satu jam, saya dkk berjalan mengelilingi taman wisata Baturraden, tetapi tidak menyeluruh karena kami harus segera balik ke tempat training yang terletak di bawah taman. Sekitar 100 meter jaraknya. Meskipun cuma sebentar, setidaknya taman wisata Baturraden bisa membuat otak kami fres setelah dua hari digembleng di ruang training dengan materi yang sangat padat. Dan taman wisata Baturraden adalah salah satu bukti betapa Indonesia sangat indah dan kaya dengan potensi panorama alamnya.
                                              

Purwokerto : 28-30 Maret 2016

Sabtu, 02 April 2016

Menunggu Di Emperan Stasiun



Bepergian dengan menggunakan kereta api, tidak menjadi kebiasaan saya. Boleh dikata, saya awam dengan  salah satu alat transportasi ini. Namun, ketika saya harus menghadiri sebuah undangan dari komunitas buruh migran yang kebanyakan dari pesertanya menggunakan jasa ini, mau tak mau sayapun ikut menggunakannya. Alasannya, karena tidak ada teman dari daerah dimana saya berasal : Malang.

Jadi, saya sendirian. Oleh karena itu, sayapun mencari teman yang sama-sama akan menghadiri undangan tersebut. Malang Purwokerto  adalah jarak yang harus ditempuh. Karena berangkatnya bersama-sama, perjalanan jauh pun tidak begitu memberatkan. Kami bisa bercengkrama sambil mengenang masa-masa ketika sama-sama menjadi perantau.

Tidak ada halangan berarti, perjalanan kami mulus sampai tujuan. Semua acara yang digelar bisa kami ikuti dengan baik tanpa absen. Karena ini kali pertama saya ikuti, maka di acara itu banyak wajah-wajah baru yang saya temui. Selama ini saya hanya tahu namanya saja. Kami pun berkenalan secara langsung.
Diruangan  meeting yang cukup luas, kami belajar , berdiskusi dan saling berbagi informasi. Tujuannya adalah satu, yaitu meraih kesuksesan bersama-sama sepulang dari rantau.

Setelah acara tersebut usai, kami pun bersiap kembali ke daerah masing-masing. Ada yang naik kereta api juga bis. Kami berpencar satu sama lain sesuai  arah tujuan. Saya dkk memilih naik kereta api lagi, tapi kali ini, kami harus berpisah  karena stasiun yang dituju tidak sama. Jarak yang saya tempuh adalah jarak yang paling panjang.

Karena tidak perpengalaman dengan kereta api, maka sayapun memutuskan mengikuti rute yang tertera pada tiket. Purwokerto- Surabaya Gubeng, sedang yang lainnya turun di stasiun Madiun. Keputusan ini saya ambil untuk mengetahui banyak tentang perjalanan menggunakan kereta api. Sesampai di Gubeng jam 1.30 dini hari. Saya pikir bisa langsung membeli tiket  dengan tujuan Malang, ternyata saya harus menunggu selama dua jam karena loket baru buka jam 3.30.

Saya melongok ke luar stasiun, ada banyak orang disana. Para supir taxi, ojek, pedagang dll. Demi keamanan, saya memilih tinggal didalam area stasiun dengan yang lain. Ternyata petugas stasiun meminta kami keluar. Akhirnya saya pun keluar menuju tempat pembelian loket setelah bertanya pada seseorang.
Bersama dengan calon penumpang kereta api lainnya, saya duduk di emperan stasiun Gubeng menunggu loket pembelian tiket dibuka. Lampu penerangan remang-remang ditambah guyuran hujan gerimis, menambah lengkap suasana stasiun Gubeng dini hari itu. Belum lagi dengungan suara nyamuk mencari mangsa untuk dihisap darahnya. Secepatnya saya mencari lotion anti nyamuk yang sudah saya sediakan untuk terhindar dari gigitan binatang satu ini.

Anak-anak balita, orang dewasa, manula berbaur jadi satu. Mereka semua duduk di emperan stasiun, bahkan ada yang sambil tiduran. Ada yang ngobrol, merokok, makan atau minum setelah membeli dari penjual yang  juga menjajakan dagangannya di situ. Kopi panas, nasi bungkus, pop mie adalah yang paling laris diserbu calon penumpang kereta api.

Sebenarnya saya pun merasa lapar, karena sejak dari Purwokerto perut tidak terisi kecuali sedikit makan snak yang saya bawa dari Malang. Ingin beranjak ke penjual makanan, tapi kepala terasa berat. Badan sudah terasa lelah dan pegal-pegal karena masuk angin. Saya minum sebutir obat Ultra Flu untuk meringankan beban sakit. Mata terasa berat setelah minum obat, tapi saya tetap harus terjaga karena membawa barang dan saya sendirian. Tempat tunggu yang disediakan pihak kereta api buat calon penumpangnya tidak ada,  emperan pun jadi alih fungsi sementara sambil menunggu loket tiket dibuka.
Yang menunggu di emperan itu bukan saja calon penumpang yang mau beli tiket, tetapi  yang sudah memiliki tiketpun harus juga menunggu disitu. Bahkan ada yang menunggu di emperan toko yang bersebelahan dengan stasiun Gubeng, seperti Indomaret.

Untuk mengalihkan rasa kantuk, saya mencoba menghubungi seorang kawan via WhatsAp dan tak berapa lama mendapat balasan. Akhirnya kamipun ber-WhatsAp-an. Terlihat kekhawatiran dari ucapan temannya setelah mendengar ceriata dari saya.
“  Ya, seperti itulah di Indonesia. Tidak seperti di luar negeri. Kenapa di negeri sendiri pelayanannya asal-asalan ya mbak?”, katanya.
“ Dananya di korupsi kali,” jawab saya.

Pikiran saya menerawang di sela-sela keremangan malam, memikirkan ucapan teman saya tadi. Juga ketika saya melihat fakta di lapangan, bagaimana pelayanan di negeri  tercinta ini. Sangat jauh berbeda dengan di luar negeri, tepatnya Hong Kong dimana saya pernah menjemput rezeki.

Menurut saya, pelayanan di negeri ini tidak menjadi hal penting. Sekedar asal-asalan saja. Saya rasa dana untuk pengadaan pelayanan pasti ada, hanya dana tersebut raib tidak tersalurkan pada tempatnya. Mungkin dana tersebut lari ke kantong pribadi atau kantong golongan.  Mau sampai kapan? Entahlah! Negeri ini tidak akan maju bila korupsi tetap ada.

Semua calon penumpang harus menunggu di emperan yang jauh dari kata aman, nyaman dan sehat. Kalau hujan akan kehujanan, kalau panas akan kepanasan, kalau dingin akan kedinginan. Apalagi para balita berbaur dengan orang dewasa yang lagi menikmati kepulan asap rokoknya. Sungguh pemandangan yang sangat menyedihkan…

Stasiun Gubeng Surabaya : 31 Maret 2016