Rabu, 30 November 2016

INFO PELATIHAN

LKP Ganesha Gelar Pelatihan Untuk TKI


LKP Ganesha yang terletak di Jl Effendi 68 Kepanjen Malang dengan kode posnya 65163 adalah sebuah lembaga kursus dan pelatihan yang  usianya  sudah mencapai  35 tahun  pada 2017 nanti. Dalam usia yang tidak bisa dibilang muda,  tentunya LKP    Ganesha sudah memiliki banyak pengalaman juga punya banyak mitra.




LKP Ganesha juga memiliki cabang yang terletak di Jl. Prof M. Yamin Gg. 3 No 158 kota Malang (Depan Masjid An-Nur/ belakang Matahari), dekat pasar pesar. LKP Ganesha bukan hanya menerima siswa yang berasal dari masyarakat umum, tetapi juga merambah dunia TKI.


Sekitar bulan Pebruari/ Maret 2017 nanti, LKP Ganesha akan memberikan pelatihan menjahit secara gratis. Diperuntukkan bagi kalangan TKI Purna dan keluarga TKI yang masih bekerja di luar negeri, dimana pun tujuan negaranya.

LKP Ganesha yang  berdiri pada tahun 1982 ini,  menyediakan beberapa macam kursus. Di antaranya  menjahit, border, Bahasa Inggris, komputer, hantaran lamaran atau parcel, handmade, pendidikan kesetaraan paket B dan  C, pengetikan komputer, jasa menerjemahan Bahasa Inggris-Indonesia. Selain itu juga menyediakan taman baca untuk masyarakat.







Visi dari LKP Ganesha adalah : 
  • ·         Menyiapkan lembaga lembaga yang berkualitas dengan mengikuti perkembangan
  • ·         Meningkatkan kerjasama dengan semua unsure, baik dunia usaha dunia industri, serta seluruh              lembaga dan industri.
  • ·         Membangkitkan dan menggerakkan seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan SDM                  berketrampilan hidup, guna meraih masa depan yang lebih baik.
  • ·         Memotivasi masyarakat untuk berwawasan luas, berpikir bebas serta profesional diri.


Beberapa produk  yang telah dihasilkan LKP Ganesha, di antaranya baju batik, kebaya modern, mukenah, hantaran lamaran, korden, sarung bantal, taplak meja, tas dll.



 Dalam salah satu misinya untuk membangkitkan dan menggerakkan seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan SDM inilah, LKP Ganesha menggandeng  sebuah komunitas TKI yang bernama Zona TKI Kreatif .

Zona TKI Kreatif berdiri pada 2013 di Hong Kong. Pendiri dan pengurusnya adalah  peserta dan penyelenggara pelatihan berbasis self development yang sedang bekerja sebagai TKI. Visinya  merentas panjangnya masa kerja di luar negeri dan menciptakan kemandirian, sedangkan misinya adalah mengadakan studi magang/ pelatihan kewirausahaan langsung kepada para pelaku UKM di Tanah Air.




Fenomena yang terjadi dalam banyak pelatihan yang digelar untuk TKI, adalah dibagikannya bermacam materi,kiat-kiat, strategi menjadi wirausaha. Pelatihan itu sendiri bermacam bentuknya, dari yang gratis sampai diharuskan membeli tiket masuk untuk biaya pengadaan pelatihan.



Namun sayangnya, pelatihan itu belum memberikan hasil yang optimal karena masih banyak TKI  yang masih takut, ragu untuk melangkah mengaplikasikan ilmu yang didapatnya. Mengubah paradigma/mindset itu sangat penting, namun fakta di lapangan telah membuktikan tidak cukup dengan itu saja. Masih banyak hal lain yang dibutuhkan oleh mereka, seperti: pendampingan dan bimbingan ketika mereka ingin menerjuni sebuah usaha. Pendampingan dan bimbingan dibutuhkan bagi para TKI yang hendak memulai usahanya. Sehingga usaha tersebut bisa terarah.




Lalu, bagaimana dengan yang belum punya usaha? Dengan studi magang tersebut, mereka akan mendapatkan bermacam ide bisnis. Karena dalam studi itu ada sesi pencarian ide bisnis,  pemetaan daerah, managemen keuangan, marketing, dll.

Jadi, tidak lagi sekedar teori dalam ruang pelatihan, tetapi terjun langsung ke lapangan. Ketika menemukan kendala, saat itu juga mereka mendapat bimbingan/pengarahan dari pelaku bisnis/UKM yang menjadi mentornya. Ini adalah pembelajaran yang lebih efisien daripada  sekedar pelatihan yang diadakan dalam ruangan, tapi tidak praktek langsung tentang teori-teori yang diajarkan. Kenapa? Karena daya tangkap/tanggap setiap peserta tidak sama. Ada yang bisa cepat paham, tapi tak jarang pula  ada yang tidak paham-paham dengan materi yang disampaikan oleh narasumber. Dan bahkan, materi/teori yang diajarkan tidak cocok dengan daerah asal peserta.





Gayung bersambut! LKP Ganesha adalah salah satu lembaga pelatihan yang lebih menyukai pembelajaran/pelatihan berbasis praktek di lapangan. Hal ini juga akan diterapkan dalam pelatihan yang akan digelar sekitar bulan Pebruari/ Maret 2017 nanti.

 Meskipun pelatihan belum digelar, saat ini LKP Ganesha sudah merangkul beberapa TKI Purna untuk diberdayakan. Baik dari produksi maupun studi magang. Ini menjadi bukti, bahwa LKP Ganesha memang peduli dengan kemajuan TKI Purna.






Apa saja keuntungan ikut dalam pelatihan ini?

·         Peserta akan mendapat pelatihan secara gratis selama 10 kali pertemuan. Dimulai pada pukul          09.00- 16.00.
·         Peserta bisa konsultasi secara online meskipun pelatihan sudah selesai.
·    Peserta yang telah menguasai materi, baik berupa teori maupun praktek, bisa mengambil bahan mentah jahitan untuk dijahit di rumah.
·         Peserta bisa menjadi guru/instruktur setelah lulus ujian.
·    Meskipun pelatihan usai, LKP Ganesha  akan terus memonitor perkembangan peserta yang ikut dalam pelatihan tersebut.


Apa saja syarat-syarat agar bisa ikut pelatihan di LKP Ganesha? Berikut yang harus disiapkan :


  Photo copy  KTP dan identitas yang menunjukkan pernah bekerja ke luar negeri, masing-masing        
 2 lembar.
 Photo berwarna ukuran 3 x 4 ( 3 lembar )
 Photo copy KK 1 lembar
 Bawa kain
 Bawa alat tulis, penggaris segitiga, penggaris panjang, pensil, bolpoin, spidol merah , gunting,                          meteran, buku folio tipis ( bisa beli di LKP Ganesha)

Karena pelatihan ini sifatnya mandiri, maka pihak penyelenggara tidak menyediakan konsumi dan uang transportasi, tetapi peserta yang rumahnya jauh, bisa menginap di tempat penyelenggara.

Pelatihan mandiri? Apa maksudnya?
Maksudnya adalah, pelatihan ini tidak menyediakan banyak fasilitas. Peserta memang harus siap dan rela untuk mengeluarkan biaya untuk memenuhi kebutuhan yang tidak disediakan penyelenggara. Artinya, peserta harus mengeluarkan uang! Ya, uang! Dengan adanya uang yang dikeluarkan, peserta akan bersungguh-sungguh  belajar. Akan memanfaatkan moment tersebut dengan serius. Mereka tidak mau rugi. Tidak mau mengeluarkan uang dengan sia-sia.

Di Tanah Air, banyak pelatihan yang diadakan oleh dinas, instansi, lembaga, yayasan dan komunitas yang memberikan banyak fasilitas, seperti uang transportasi, makan enak,  gedung megah, ruang inap,dll. Kadang fasilitas yang diberikan ini dijadikan alasan peserta mengikutinya. Banyak yang ogah-ogahan belajar. Kenapa? Karena mereka berpikir pelatihan ini gratis!

Dan kebanyakan, setelah pelatihan, tidak ada tindakan konkrit di lapangan. Akhirnya, kegiatan peserta hanya mengikuti pelatihan demi pelatihan tak ubahnya seperti yang pernah mereka ikuti ketika masih di luar negeri. Kesannya, pelatihan itu digelar hanya untuk sekedar bahan laporan pada atasan, bahwa program A-Z telah dijalankan yang diikuti sekian peserta dengan memakan biaya yang tertera di buku anggaran.

Semua kembali kepada pribadi masing-masing. Mau selalu yang serba gratisan tapi tidak ada tindak kelanjutannya, atau siap selalu mengeluarkan biaya untuk ilmu yang akan didapatkan plus dengan tindakan nyatanya di lapangan ^--^

Senin, 07 November 2016

CATATAN AKTIFITAS DI KEPANJEN-MALANG

Terminal Budaya Dan Seni Di Talangagung,

 Menanti Sentuhan Anda

“ Tadi malam saya ke acara Terminal Budaya di terminal Talangagung pak,” kata saya kepada bagian koordinatornya yang kebetulan kami satu komunitas.
“Saya melihat di pintu masuk terminal Talangagung gelap, jadi banner besarnya tidak kelihatan. Kalau dikasih lampu akan lebih menarik pak. Dikasih sesuatu yang beda dari biasanya,” imbuh saya mengutarakan usulan.
“ Dana masih minim, belum bisa beli atribut. Semua atribut hasil saweran tim penyelenggara. Nanti kalau sudah ada dana, kita akan benahi pelan-pelan,” jawab teman saya.
“Kebutuhan apa saja yang belum ada di terminal budaya pak?”, kata saya melanjutkan pertanyaan.
“ Tenda, lampu hias, lampion untuk sekitar area, kursi dan meja untuk pengunjung bersantai, lampu sorot untuk atraksi panggung, sound dan panggung,” jawab teman saya.




Inilah percakapan singkat antara saya dengan Tri Harianto, seorang teman yang sama-sama menyukai dunia pemberdayaan. Kami bertemu di sebuah Komunitas MBA yang bermaskas di area Kepanjen (dekat Jalibar), tepatnya di Power Café ( depannya kantor pajak). Kami sering diskusi tentang banyak hal yang bersifat pemberdayaan.

Tri Harianto yang dulunya tinggal dan bekerja di Jakarta, dan saya yang baru pulang dari rantau, mencoba untuk sama-sama belajar dan melihat peluang yang bisa dikembangkan. Artinya, kami sama-sama masih baru di Kota Malang ini. Terutama saya, harus memulai segalanya dari nol.





Seperti diskusi di atas tadi, mengenai kegiatan/aktivitas budaya dan seni yang digelar untuk memanfaatkan terminal Talangagung  agar lebih berdayaguna. Memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar. Bukan hanya sebagai tempat membayar pajak (peron) bagi angkotan yang harus melalui rute itu, dan juga hanya sebagai tempat uji kendaraan saja.




Terminal Talangagung sangat luas. Banyak area kosong yang bisa dimanfaatkan, pun juga banyak bangunan kosong yang di beberapa tempat sudah mulai rusak karena tidak adanya perawatan. Toilet, pertokoan dan bangunan lainnya. Meskipun siang hari, terminal ini kelihatan sepi. Seperti tidak ada “kehidupan” di sana. Sungguh sangat disayangkan.


Saya membayangkan kondisi ini dengan di Hong Kong, dimana ruang kecil ukuran 1 x 1 meter persegi saja bisa dimanfaatkan dengan baik. Terlihat ada kehidupan disana, dan semua itu terjadi karena sebuah ide yang diupayakan untuk mewujud.


“Fenomena” ini  membuat saya teringat, betapa teman-teman di Hong Kong punya banyak ide, punya banyak kreativitas, punya  keinginan untuk bereksistensi diri, punya kemampuan kuat berbagi.  Punya semangat solidaritasnya luar biasa tinggi, apalagi yang berkenaan dengan perberdayaan SDM dan kreativitas. Mungkin, apa yang akan saya tuturkan nanti , bisa menjadi sebuah “wadah” untuk menyalurkan itu semua. Terlepas dari  daerah mana mereka berasal, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera, NTT, NTB, dll. Yang pasti, mereka berasal dari negara satu, yaitu Indonesia.


Kondisi inilah yang membuat prihatin  beberapa orang, yang akhirnya dari keprihatinan ini lahirlah gagasan “Terminal Budaya Malang Raya”. Mereka yang ada dibalik kegiatan ini adalah Esti Wulandari, Inda Cahya Nurilhuda, Wahid, Sunaryo dan Tri Harianto, serta LSM Cerdas Bangsa yang digawangi oleh Moelyono dan Rudi.

Berbagai atraksi budaya dan seni, ajang pameran hasil produksi kerajinan, serta makanan khas Malang Raya, ditampilkan dalam kegiatan/aktivitas Budaya dan Seni di terminal Talangagung ini. Kegiatan dimulai pukul 17.00- 22.00 setiap hari.


Selain budaya dan seni, kegiatan ini “mengusung” juga puluhan UKM Tangguh dari seluruh Malang Raya untuk mempromosikan segala usaha dan produk  yang mereka punya. Jadi, bila kita berkunjung ke sana, akan ada banyak menu makanan  dan minuman yang bisa kita nikmati. Tempatnnya luas, jadi kita tidak perlu berdesak-desakan seperti di pasar malam, yang untuk jalan saja sangat susah.


Sambil makan dan minum, kita bisa menyaksikan atraksi budaya dan seni yang berasal dari beberapa paguyuban. Ada reog, karawaitan, seni tari, dll.  Saya melihat beberapa anak-anak remaja yang suka dunia seni, sangat antusias  mengikuti atraksi demi atraksi. Setidaknya, dengan adanya Terminal Budaya dan Seni ini, hobi mereka tersalurkan.

Dan bila kita membawa anak-anak berkunjung, mereka bisa menikmati sepeda besar/becak-becakan yang bisa dinaikin  untuk beberapa orang, baik anak-anak maupun orang dewasa mengitari terminal Talangagung di sore dan malam hari.  Keliling area  bisa sambil makan/minum, bercengkrama dengan teman menikmati malam,  asyik sekali bukan?!


Selain itu, penyelenggara juga menyiapkan kegiatan untuk anak-anak yang suka dengan dunia menggambar. Salah satunya adalah mengajarkan tehnik mewarnai yang diperuntukkan bagi anak-anak pelaku UKM PKL. Tujuannya adalah agar mereka memiliki aktivitas positif  sejak dini,disaatorangtuanya berdagang/berjualan.  Karena dari dunia menggambar ini, kalau benar-benar ditekuni, kelak dikemudian hari akan sangat bermanfaat. Mereka bisa menghasilkan uang juga. Misal dengan ikut lomba menggambar/mewarnai gambar, menjadi guru menggambar, dll. Sangat produktif  bukan?! Kalau kursus, sudah berapa biayanya tuh!

Setiap kegiatan/aktivitas yang dilakukan baik oleh perseorangan maupun komunitas, pasti memiliki visi dan misi. Sama juga dengan kegiatan Terminal Budaya dan Seni ini. Visi yang mereka usung adalah agar UKM Malang Raya “mampu” bersaing di era global, juga menampilkan keunikan dari budaya Malang Raya dan memiliki komunitas yang prima. Selain itu Terminal Budaya Malang Raya memperkenalkan “sisi” lain dari budaya Malang Raya dengan berbagai atraksi yang ditampilkan setiap acara.



Sedang misinya adalah memberikan fasilitas-fasilitas dan kesempatan kepada para pelaku UKM Tangguh di Malang Raya agar dapat bereksistensi dalam usaha mempromosikan produk dan jasa yang mereka  punya. Serta memberikan peluang dalam meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat yang mau berusaha dan berkarya.

Seabrek kegiatan di Terminal Budaya dan Seni ini telah digelar, dari hasil saweran para penggagas dan penyelenggaranya. Dan mereka sadar masih banyak kekurangan disana-sininya. Namun tidak mengurangi semangat mereka mewujudkan impian untuk Kota Malang lebih berdaya dan berjaya, khususnya untuk area Talangagung dan sekitarnya.  Alangkah mulianya niat digelarnya Terminal Budaya dan Seni ini, yang diperuntukkan bagi  siapa saja yang ingin maju dan berkarya.






Mereka para penggagas dan penyelenggara terus berupaya memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada demi kemajuan bersama. Mungkin, ada di antara kita yang terketuk hati untuk ikut “mensupport” kegiatan ini baik secara moril maupun materiil. Ikut dalam kegiatan pemberdayaan dan berpartisipasi  memajukan daerah asal.







Seperti harapan dari Ibu Jumi’iyah, salah satu pelaku UKM PKL yang berjualan makanan dan minuman ketika saya ngobrol dengannya. Ia berkata,” Saya senang dengan adanya Terminal Budaya dan Seni yang ada di terminal Talangagung ini. Saya bisa dapat penghasilan tambahan dari sini. Saya berharap, ada yang mensupport kegiatan ini dengan menyediakan perlengkapan yang saat ini belum ada”.


Mari kita bersama-sama membangun harapan. Harapan adalah sebuah “percikan api” yang ada dalam diri setiap orang yang peduli akan hidupnya, peduli akan kehidupan di sekitarnya. Terminal Budaya dan Seni, menunggu sentuhan, polesan kreativitas dari Anda warga Malang Raya umumnya, Kepanjen khususnya. Baik yang ada di Tanah Air maupun yang sedang bekerja di luar negeri, dimanapun negara penempatannya. Mari sambung-menyambung, bergotong royong membangun Ibu Pertiwi tercinta.



*Catatan kunjungan ke Terminal Budaya dan Seni. Terminal Talangagung, kecamatan Kepanjen, kabupaten Malang : 23 Oktober 2016 *

Rabu, 19 Oktober 2016

catatan seminar

Angan- Angan Ku di Dalam Seminar




Salah satu keuntungan bergabung di Malang Business Activity  ( MBA) adalah mendapatkan informasi seminar. Seperti kemarin, pada tanggal 15 Oktober 2016, saya dan seorang anggota MBA dari Turen  berkendaraan roda dua meluncur ke gedung STIEKOP yang berada di Jl. Wr Supratman Malang.

Perjalanan dari rumah memakan waktu kurang dari 1 jam, itu pun beberapa kali kami terpaksa berhenti untuk bertanya kepada orang yang kami temui di pinggir jalan. Sampai di tempat seminar, masih terasa sepi, eh… ternyata yang lain sudah pada masuk ruang seminar. Akhirnya kami pun menyusul masuk. Setelah mengisi buku daftar hadir, lalu kami menerima kotak snack dan 1 botol air mineral serta sebuah majalah.




Ketika saya melihat  snack dan air mineral yang dibagikan, terpikirkan oleh saya, seandainya snack dan minumannya itu adalah produk UKM, pastinya akan seru. Bisa jadi snacknya produk UKM, tapi melihat jenisnya seperti produk yang banyak dijual di pasaran.  

Dalam pemikiran saya, karena seminar yang digelar untuk para pelaku UKM, tentunya lebih bagus kalau segala sesuatunya berkenaan dengan UKM. Bukan hanya materinya saja. Dengan terbaginya produk UKM saat seminar, setidaknya ada beberapa komponen dari dunia UKM yang tertuahkan. Misal : pengenalan produk dan promosi produk. Dari dua hal ini saja, akan ada banyak hal yang kemungkinan bisa tercipta saat itu juga.

Misal, adanya sinergi/kerjasama antar pelaku UKM, adanya market baru dari para peserta seminar yang hobi menjual, baik secara online maupun offline, dll. Berangan-angan boleh dong?! Tapi menurut saya, angan-angan ini bukan sekedar angan-angan, tetapi bisa menjadi kenyataan.

Saya punya sedikit pengalaman ketika menjadi ketua pelaksana sebuah program besar dari instansi per-bank-an yang bekerjasama dengan sebuah universitas ternama. Program yang diperuntukkan untuk Tenaga Kerja Indonesia di Hong Kong. Ide muncul untuk menggelar galeri. Saat itu saya namakan galeri mini, karena menurut saya, masih ada beberapa  produk  saja karya TKI yang muncul ke permukaan. Saya yakin, dengan adanya galeri mini ini, mampu memicu keberanian, kekreativitasnya TKI-TKI lain yang masih disembunyikan. Karena saya melihat, mereka masih malu/belum berani menampilkan karyanya.

“Sebuah karya diciptakan untuk diketahui orang lain bukan? Setelah itu, kita berharap, orang lain akan membeli produk kita. Sehingga kita mendapatkan income. Benar gak?”, tanya saya pada beberapa orang kawan.

Tidak ada jawaban, hanya kepala mereka mengangguk. Itu sudah menunjukkan bahwa mereka setuju dengan apa yang saya katakan. Dan sejak itu, bermuncullah karya-karya lainnya. Dari kerajinan tangan, kuliner, fashion, dll. Senang dan bangga bercampur dalam hati saya. Kawan-kawan sudah mampu menepis rasa takutnya, rasa mindernya, rasa malunya. Setelah kejadian itu, terciptalah ide-ide luar biasa dari mereka tanpa saya.  Mereka sudah berani menciptakan sejarah dalam perjalanan hidup mereka.




Lepas berangan-angan, saya pun mengikuti pembelajaran yang ada. Seorang nara sumber yang masih muda tapi sangat energik, membagikan ilmunya kepada peserta seminar.  Tema yang diambil saat itu adalah “ Strategi Membuat Branding Terkenal Menjual bagi UKM”.





Dikupas habis apa itu branding. Yang ternyata bukan merk, seperti pemikiran banyak orang selama ini. Tujuannya adalah supaya pelaku UKM memiliki  lebih banyak pelanggan dengan membangun brand yang menjual. Salah satu prinsip dari terbangunnya brand tersebut adalah membangun emosi.




Seminar ini digelar oleh UKM Center bekerjasama dengan Majalah Rinjani. Jumlah peserta yang datang 60 orang dari berbagai kecamatan di Kabupaten Malang.  Dihadiri oleh ketua yayasan STIEKOP dan  direktur UMK Center. Sebenarnya kuota yang disediakan oleh panitia adalah 150 orang.

Pada kesempatan itu, ketua yayasan STIEKOP bercerita panjang lebar tentang perjuangannya mendirikan, mengolah, memajukan STIEKOP hingga seperti sekarang ini. Dan di sesi akhir sebelum seminar ditutup, peserta mengisi kuisioner yang dibagikan oleh panitia. Isinya di antaranya adalah : nama, alamat, email, akun facebook, alasan ikut seminar, usaha yang dijalankan, kendala menjalankan usaha, dll. RTL setelah seminar ini dibentuk grup whatSapp. Semoga dengan terbentuknya grup whatSapp ini, bisa tercipta hal-hal baru yang memajukan para pelaku UKM yang ada di dalamya.






*Catatan Seminar Tanggal 15 Oktober 2016 *


Selasa, 11 Oktober 2016

Alih Fungsi Trotoar

Dulu, ketika saya masih SD, guru mengajarkan kepada semua muridnya untuk berjalan di trotoar saat berangkat dan pulang sekolah. Karena trotoar disediakan untuk pejalan kaki supaya aman dari kecelakaan lalu lintas dan melancarkan arus lalu lintas. Pelajaran itu masih melekat dalam ingatan saya sampai sekarang.

Setelah saya dewasa, fenomena kehidupan menunjukkan fakta lain tentang trotoar. Bukan lagi sebagai tempat pejalan kaki,tapi sebagai tempat jualan. Macam-macam yang mereka jual. Ada makanan, minuman, buah-buahan, pakaian, dll.   Ada yang pakai rombong  dan beberapa kursi plastic saja, ada pula yang menyediakan lesehan. Karena penjual- penjual ini, kadangkala pejalan kaki harus rela berjalan di area kendaraan yang sedang berlalu-lalang di jalan raya.

Trotoar sudah beralih fungsi. Dari untuk pejalan kaki menjadi tempat jualan. Makin hari makin marak, jumlahnya makin banyak pula.  Trotoar menjadi tempat nyantai untuk ngopi sambil ngobrol, baik orang tua maupun kawula muda. Di trotoar,  pundi-pundi  rupiah dihasilkan.   Trotoar  menjadi tempat favorit menghabiskan malam bagi sebagian orang. Bahkan di trotoar, kadangkala muncul berbagai pemikiran jenius.


Hong Kong Bukan Segalanya, Kehidupan Sesungguhnya
 Adalah di Tanah Air



 Berawal dari cita-cita ingin mengadu nasib di negeri orang, dengan tujuan untuk membahagiakan orang tua,  Darwinah nekad berangkat ke luar negeri  ( Hong Kong) untuk menjadi pembantu rumah tangga. Walau pun sebenarnya di Indonesia, saat itu ia sudah bekerja sebagai pengajar di salah satu Balai Latihan Kerja Luar Negeri Jakarta (BLKLN Antar Bangsa Citra Dharmaindo),  tetapi keinginan untuk merubah nasib di negeri orang sangatlah kuat,  sehingga iapun nekad mendaftarkan diri  ke PJTKI yang kebetulan satu payung dengan  tempatnya mengajar,  yaitu PT.ABCD yang berkantor di daerah Pluit Jakarta.

 Tiga bulan  di PT,  akhirnya  Darwinah berangkat juga ke luar negeri (Hong Kong),  yaitu pada 2004 sebagai pembantu  yang  bertugas menjaga  anak usia 2 tahun dan 10 tahun di daerah Tsuen Wan.
Lalu,  2008 ia memutuskan pulang ke Tanah Air. Yang pertama , karena terpicu melihat banyaknya BMI yang sampai sekarang tidak berani pulang dan ingin melaksanakan sunnah Rasul : menikah!
Yang kedua,  adalah memulai usaha dan membuktikan ke teman-teman,  bahwa ia bisa hidup  di Indonesia dengan modal dan kemampuan yang sudah didapatkan dari banyaknya belajar ketika bekerja sebagai BMI. Baik di Dompet  Dhuafa maupun beberapa organisasi lainnya ketika di Hong Kong.  Ia berpikir,  Hong Kong bukanlah segalanya dan kehidupan yang sebenarnya ialah di  Tanah Air.



Selain di DDHK, Darwinah  menimba ilmu di Halaqoh, Ulil Albab, Iwamic, dan  PEACE .Tiap kegiatan ia pun ikut andil didalamnya. Sudah ribuan bahkan jutaan kenangan indah yang  tercipta  bareng teman-teman disana. Tetapi Hong Kong tetap bukanlah syurga baginya dan Hong Kong bukanlah cita-cita terakhirnya. Karena  niat awal pergi merantau adalah  ingin membahagiakan orang tua dan mencari modal untuk masa depan. Ia merasa cukup banyak  mendapat ilmu, baik saat mengajar atau juga saat belajar kepada ulama, kyai dan guru di Hong Kong.

Sepulang  ke Tanah Air, awalnya  Darwinah  bekerja selama 1 tahun sebagai pengajar dan tinggal di Jakarta,  kemudian berhenti karena sudah punya anak dan ingin mencoba memulai usaha mandiri. Setelah itu, ia pindah ke  Indramayu  (kampung halaman) merintis pondok ngaji gratis untuk yatim dan dhuafa kecil-kecilan. Sekarang sudah ada 100 lebih santri  yang  belajar di sana. Ia memberi  nama  pondok ngaji itu dengan Rumah  Tahfidz  Quran Hizbullah.  Selain itu, ia berwirausaha dan menjadi distributor aneka makanan ringan, juga sebagai pengajar non  formal  di STIKES Indramayu.  Juga beberapa kegiatan lainnya.




Sebelum mendirikan rumah tahfidz,  Darwinah  tinggal dirumah kotrakan. Saat itu, ia  agak sedikit kaget,  melihat lingkungan di tempat tersebut membuatnya sedih. Karena setiap hari melihat anak-anak kecil di sekitar kontrakan, kerjanya  cuma main playstation, main bilyar,  bahkan ada yang main judi dan terkadang mereka pulang malam.  Dan yang membuatnya miris,  adalah orang tua anak-anak itu tidak mencarinya.  Ketika ia menanyakan perihal itu,  mereka menjawab,  “Udah capek bu, tiap hari diomelin juga gak mempan”.

Awalnya  ia tidak menghiraukan hal tersebut terus terjadi, tapi lama- kelamaan ia mulai cari cara agar mereka mau sadar dan kembali ke fitrah anak-anak pada umumnya,  yaitu belajar, mengaji dan sekolah. Akhirnya ia minta ijin kepada sang  suami untuk menjadikan rumah kontrakan sebagai sarana belajar ngaji anak-anak sekitar. Langkah  pertama yang dilakukannya  untuk mengajak mereka mengaji , ia membuat surat undangan ke beberapa remaja sekitar,  yang kebetulan kampung tersebut merupakan kampung kelahirannya, jadi ia sudah banyak tahu tentang masyarakatnya. Semakin  hari banyak  anak yang ikut, hingga rumah kontrakan yang ditempatinya tak muat.

Pada saat itu ada tuan tanah yang berkeinginan untuk menyedekahkan tanahnya buat kepentingan santri dalam belajar mengajar . Sangking  bahagianya,  ia mulai mencari dana untuk membangun pondok kecil ditanah sedekah dari warga kaya didesanya. Sayangnya, beberapa bulan kemudian, tanah itu diminta kembali karena menyangka ia berbisnis.

Ia sempat syok dan berpikir keras mencari solusi sambil terus bermunajat kepada Allah swt. Dan keesokan harinya, ia langsung diberi jawaban oleh Allah azza wajallah lewat tangan ustadz Tarmidzi Assidiq yang saat itu sebagai direktur PPPA Daru Qur’an, yaitu bantuan sebesar  Rp.50 .000.000 tapi diberikannya bertahap.  Ia juga dapat bantuan dari PPPA Darul Quran .  I a dapat pinjaman Rp.50.000.000  dari  BMT Bringharjo  Yogyakarta yang kebetulan direkturnya sahabatnya sendiri, yaitu Ibu Mursida Rambe dan dapat pinjaman dari PNPM mandiri sebesar  Rp.20.000.000,  serta uang saudaranya yang sengaja dititipkan kepadanya sebesar Rp.50.000.000.



Dari uang tersebut  dibangunlah  pondok baru di tanahnya sendiri, yang pada waktu itu masih dalam tahap kredit alias belum lunas. Setelah 30 hari bangunan pun akhirnya bisa  diselesaikan dengan baik . Uang yang awalnya dipikir cukup ternyata kurang  sangat banyak,  dan itu terlihat setelah bangunan jadi. Ia  menyimpan hutang lagi di matrial sebesar  Rp.55.000.000.

Ternyata ujian yang diterima ketika tanah sedekah diminta lagi itu tidak ada apa-apanya ketimbang setelah ia bangun pondok plus rumah  yang sebagian besar hasil dari hutang, justru setelah ia bisa bangun pondok di tanahnya sendiri,  ujiannya makin berat.Tidak  sedikit orang yang mengatakan kalau dirinya  dapat bantuan ratusan juta dengan menjual anak-anak yatim dan dhuafa, bahkan bukan hanya masyarakat sekitar yang tidak suka tapi kakak kandung dan keluarga pun ada yang tidak  suka dan sengaja membuat fitnah tentang ia dan suaminya.

Untuk melunasi hutang-hutangnya,  Darwinah memulai bisnis kecil-kecilan, kemudian beralih ke pengolahan kripik ceker dan usus ayam.   Sampai sekarang bisnis itu masih berjalan dan semakin besar.  Selain itu ia juga menjalani bisnis Online, bahkan sekarang sudah ada 6 reseler yang bekerjasama dengannya. Sang suami mengundurkan diri dari pekerjaanya sebagai perawat RSUD Sentot Indramayu dan lebih memilih kerja di Klinik Swasta agar bisa lebih banyak membantunya  mengembangkan bisnis serta Pondok Tahhfidz. Sewaktu suaminya mengundurkan diri dari pekerjaan di RSUD ,banyak temen-temannya yang menyayangkan  hal itu, karena sudah 5 tahun lebih mengabdi ke pemerintah dan tinggal diangkat. Yang menjadi pertimbangannya adalah, kalau  suami terus-terusan kerja di pemerintah dengan gaji honor, bagaimana bisa membayar hutang?  Karena setiap bulan harus setor Rp.5.000.000 sedangkan gaji suaminya saat itu  cuma Rp.600.000  per bulan.  Hanya cukup untuk bensin karena perjalanan dari rumah ke kantor satu jam.

Rutinitas suami Darwinah setelah  mengundurkan diri dari pekerjaannya, ialah dua hari sekali keliling kampung untuk  menaruh kripik ke warung –warung, sedangkan ia bagian produksi. Mulai harga seribuan sampai sepuluh ribuan, dan berawal dari plastik biasa sekarang  memakai  aluminium foil. Saat ini mereka menjual produknya ke kantin-kantin dan central oleh-oleh.
 Disamping mengelola Pondok Tahfidz Qur’an dan wirausaha, ia juga masih tetap seorang aktivis da’wah di Dompet Dhuafa Republika . Bedanya kalau dulu sebelum menikah dakwahnya di Hongkong, sekarang dakwah di Indonesia.

Beberapa penghargaan  yang diterimanya, yaitu TKI Purna Award diberikan oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heriawan 2012,  apresiasi dari Dompet Dhuafa sebagai pejuang  Devisa 2013, apresiasi dari BNP2TKI. Kesempatan berbuat lebih banyak untuk kemaslahatan semakin luas setelah Dompet Dhuafa mendirikan organisasi Keluarga Migran Indonesia (KAMI) lewat Migrant Instute Dompet Dhuafa.
Kuliah, mengajar, aktivis, dakwah, mengurus suami dan anak, mengelola pondok Tahfidz menjadi rutinitasnya, Ia juga dipercaya dinas-dinas  terkait untuk menjadi inspiring untuk TKI  Purna dan keluarganya.

Yang menjadi motivasinya melakukan ini semua, ia berharap  bisa membantu orang lain dengan  apa yang sudah dilakukan dan sudah diberikan,  khususnya untuk   TKI Purna, baik itu pendampingan usaha ataupun penangan kasus.

Teman- teman bisa ambil pembelajaran dari apa yang sudah  Darwinah  lakukan, dan bisa menjadi inspirasi,  bahwasannya iapun bisa melakukannya dan perlu teman-teman BMI  ketahui, ia juga eks buruh migran luar negeri. Dan satu lagi yang harus diketahui juga,  kalau ia hanya lulusan SMP sewaktu menjadi TKI.  Setelah pulang ke Tanah  Air, ia  melanjutkan  pendidikan ke SMA kemudian  kuliah di perguruan tinggi.
“ Kalau saya  bisa, saya yakin teman-teman juga bisa.  Yang membuat kita gak  yakin ialah karena kita tidak pernah mau mencoba,” katanya.

Pesan saya kepada seluruh BMI baik yang di  Hong Kong maupun  negara-negara  lainnya, “Sahabat,  bahagia itu sederhana, yaitu bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak  kita, bisa menjadi  istri  yang baik untuk suami kita,  serta menjadi anak yang baik untuk orang tua kita. Dan semua itu bisa terwujud hanya dengan satu kalimat,  pulanglah ke Tanah Air.  Dimana kalian bisa mewujudkan impian-impian yang sudah kalian susun selama ini,  karena apalah artinya sebuah impian dan cita-cita jika kita tidak berani untuk memulai, bagaimana  caranya mewujudkan cita-cita tersebut

Ingatlah  sewaktu  awal berangkat ke negeri orang, bukankah cita-cita kita itu cuma satu, yaitu ingin membahagiakan orang-orang  di sekeliling kita (membayar hutang, menyekolahkan anak,mencari modal) dll.   Dan pastinya, banyak di antara kita yang berkata ke anak, suami dan keluarga, kalau setelah itu terpenuhi kita akan pulang ke Tanah Air  dan hidup bahagia dengan keluarga. Tetapi kenyataannya, kontrak demi kontrak sudah terlewati dan ternyata apa yang kita harapkan belumlah terwujud,  karena sebenarnya cita-cita itu bisa terwujud ketika kita berani untuk memutuskan pulang ke Tanah Air.
Sudah berapa lama ? Berapa tahun dan berapa puluh tahun kita tinggalkan semua kewajiban merawat orang tua, suami serta anak-anak kita? Dan pernahkah kita menanyakan  ke mereka, apakah mereka sudah bahagia dengan apa yang sudah kita beri selama ini?
Yuk, kita wujudkan impian kita dengan memutuskan pulang ke Indonesia dan hidup bahagia bareng keluarga kita tercinta.



Dimuat Majalah Iqro, edisi 103

PROFIL BMI PURNA HONGKONG

Masa Depan TKI Ada di Tanah Air




Pertama  ia pulang ke Tanah Air langsung membuka usaha butik dan suaminya  membuka konter handphone.  Modal yang dibutuhkan saat itu berkisar  70 juta. Berhubung persaingan yang sudah sangat banyak, akhirnya butik dan konter pun gulung tikar alias tutup. Inilah kisah Endang Kueswanty, seorang TKI Purna yang pernah bekerja di Hong Kong, Mei 2005-Mei 2012.  Endang tidak down  dengan gulung tikar usaha yang dijalankannya.  Ia  justru bersemangat mencari usaha lain.

Setelah kejadian itu, mereka berdua mengambil langkah surview keliling kota tempat tinggalnya. Mereka mencari dan mencari ide usaha yang tepat untuk masa depan. Bisnis yang maju pesat.  Terinspirasi saat melihat ke toko laptop, lalu mereka browsing di internet mencari tempat pelatihan service.  Usaha  mereka  membawa hasil dengan menemukannya di kota Malang, Jatim. Akhirnya,suami Endang pergi ke Malang untuk menimba ilmu service laptop. Tidak cukup puas, mereka melanjutkan sekolah ke Jakarta lalu ke Solo.  Dan kini, jadilah mereka memiliki usaha service laptop/ doktor laptop, dengan nama “eStallcom”.

Alasan  memilih usaha ini, karena di Cilacap, tempat tinggal mereka banyak toko laptop tapi masih jarang tempat servicenya. Sekarang,  kemajuan usaha mereka  sangat bagus, dalam  jasa service maupun penjualan laptop /sparepart. Modal usaha ini cukup besar, berkisar 300
juta, namun penghasilan yang didapat melebihi gaji suaminya saat menjadi TKI Korea. Endang juga melayani kebutuhan anak-anak dari TKI Hong Kong yang berasal dari Cilacap. Anak-anak itu  datang  sendiri ke toko, memilih laptop yang dibutuhkan, lalu ibu mereka yang di Hong Kong tinggal mengirim uangnya. Dari usaha ini, Endang dan suami bisa menggaji  dua karyawannya di atas gaji UMR. Untuk mencapai ini semua, ia mengakui, dibutuhkan  investasi uang, waktu tenaga, dan pikiran.

Endang Kueswanty  lahir di  Cilacap 10 Mei 1985,  menikah dengan  Samijo bin  Achmadi dan dikaruniai satu anak yang diberi nama Meily Khumaira Hazizah.  Ia memutuskan ke Hong Kong untuk belajar mandiri dan cari modal.  Hal yang menyenangkan baginya saat bekerja di Hong Kong, adalah  bisa bertemu saudara setanah air, dari Sabang sampai  Merauke dan banyak  belajar terutama belajar mandiri. 



 Kemandirian adalah hal penting  dan merupakan salah satu modal dalam menjalani liku-liku kehidupan. Apalagi dalam dunia usaha, dimana persaingan semakin ketat.  Beberapa kegiatan yang ia ikuti ketika masih di Hong Kong, yaitu : karate, gitar, ikut seminar pengembangan diri yang diadakan sebuah organisasi pemberdayaan SDM ( LSO) lalu bergabung menjadi anggotanya. Disamping itu, ia juga membiasakan diri dengan membaca buku-buku positif.

Menurut Endang, kendala utama  sepulang dari rantau adalah merintis usaha tapi gagal.  Seperti yang telah dialaminya bersama suami, meskipun membuka usaha di Tanah Air adalah rencana utama yang dipersiapkan setelah mengakhiri masa kontrak kerjanya di luar negeri.  Tinggal di Tanah Air dan membuka usaha dari nol, ternyata bukan hal mudah. 


Dengan pengalamannya ini, Endang berpesan kepada TKI yang masih bekerja di Hong Kong, untuk tidak mensia-siakan  waktu. Mempersiapkan matang-matang  selama di Hong Kong,  karena tempat tinggal bagi TKI yang  sesungguhnya adalah di negeri sendiri. Masa depan TKI ada  di negara Indonesia tercinta. Dekat dengan kedua orangtua, dengan orang-orang  yang dicintai.  Itulah kehidupan yang sesungguhnya. 


Dimuat Majalah Iqro, edisi 104