Senin, 03 Agustus 2015

Pesona Mudik Lebaran 1436 Hijriyah/ 2015



Tahun ini adalah tahun pertama aku berlebaran di tanah air bersama keluarga. Kumandang takbir saling bersahutan di malam akhir bulan Ramadan. Suasananya begitu  semarak. Anak kecil, remaja, orang dewasa, berbaur jadi satu berjalan beriringan  sambil  bertakbir disela-sela lalu- lalangnya kendaraan umum di jalan raya Ahmad Yani, Kepanjen. Itulah gambaran sekilas malam takbir.
Saat lebaran  seperti ini,  ada momen penting dan banyak orang yang tidak mau meninggalkannya, karena datangnya setahun sekali : Mudik! 

Padahal,kalau dipikir-pikir, mudik bisa dilakukan kapan saja, tapi entah kenapa, mudik menjadi satu kewajiban bagi sebagian orang, ketika  lebaran. Mudik, adalah salah satu fenomena di Indonesia yang terjadi menjelang  lebaran . Mudik menjadi “ke-khas-an”  lebaran. Saat mudik, semua keluarga bisa berkumpul karena bisa cuti kerja. Mungkin ini yang menjadi salah satu alasan. Mudik inipun dilakukan bagi para perantau  di luar negeri demi bisa bertemu keluarga dalam suasana lebaran.

Mudik membuat banyak komponen  menjadi sibuk luar biasa lalu mempersiapkan diri.  Dari dinas perhubungan, kepolisian, pedagang asongan dll.  Semuanya menjadi satu kekomplitan dalam suasana “mudik”. Aku pun tak melewatkan momen penting ini,  mudik bersama keluarga. 
Tanggal 18, hari kedua lebaran, berangkatlah aku ke tanah dimana aku dilahirkan : Jember.  Jam 09.00  bis patas Akaz  yang aku naiki perlahan meninggalkan area terminal yang terletak di daerah Arjosari-Malang. Sengaja aku memilih bis patas supaya cepat sampai tujuan, meskipun harganya dua kali lipat dari harga bis biasa, yaitu Rp. 66.000. Sedang anak-anak naik sepeda motor, melewati jalan pintas yang lebih pendek jarak tempuhnya.

Aku turun dan berjalan Keinginan tinggal  keinginan, ketika perjalanan  menjadi lamban.  Apa hendak dikata, bis patas yang aku tumpangi terjebak macet  di antara puluhan kendaraan roda dua dan roda empat di Pasuruan.






 Alhasil, jam 13.00  bis baru masuk area terminal Banyuangga, Probolinggo. Kondektur bis memberi intruksi pada para penumpang untuk turun. Aku bangkit dan berjalan ke bagian depan bis. Menanyakan, apakah jurusan Jember harus turun juga. Ternyata, semua jurusan harus turun di terminal itu.
menuju bis kedua yang ditunjukkan kondektur. Terletak persis di depan bis patas yang baru aku tinggalkan. Setelah mendapat kursi, ku coba menanyakan pada kondektur bis itu, apakah  masih  istirahat. Ternyata bis tersebut langsung jalan. Apes! Aku harus sabar menunggu sampai  di terminal Tawang  Alun, Jember  hanya untuk  mencari  toilet : buang air kecil!


Syukurlah, perjalanan ke Jember lancar. Tidak ada gangguan berarti , sehingga bis bisa meluncur dengan cepat meninggalkan kota Probolinggo. Dan itulah yang menjadi harapanku. Ingin segera  istirahat karena badanku sudah terasa penat.
Entah jam berapa sampai di terminal Jember, aku lupa. Ketika turun dari bis, tempat pertama yang aku tanyakan adalah toilet.  Setelah membayar uang Rp.2000 kepada penjaga toilet, aku segera bergegas pergi.  Menemui dimana anakku sedang menunggu. Kami pun meluncur mengendarai sepeda motor menuju Kecamatan Jenggawah. Sekitar satu jam menyusuri jalan raya, sampailah di depan rumah yang dituju. Ternyata, anak-anak sudah pada istirahat. Rupanya mereka datang lebih awal daripada aku yang naik bis. Padahal di daerah Lumajang, sepeda motor yang mereka tumpangi  bermasalah dan memaksa mereka mendorongnya sepanjang 4 kilometer. Perjalanan Malang- Jember yang biasanya ditempuh 4-5 jam, hari itu ditempuh selama 7 jam!



*******

Bertemu dengan  keluarga yang lama aku tinggalkan, menjadikan rasa lelah hilang.  Sisa waktu yang ada diisi dengan  ngobrol dan berbagi cerita sambil diskusi menyusun jadwal halal bihalal. Lepas Maghrib, aku dan anak-anak bergegas berkunjung ke rumah saudara-saudara  yang ada di desa Cangkring hingga pukul  22.00. 

Esok harinya, halal bihalal berlanjut ke  rumah mbakyu di desa Mumbulsari,  menggunakan kendaraan roda dua.  Tapi, sebelum itu, kami berunjungsana ke keluarga yang  bertempat tinggal di dekat situ. Salah satunya berkunjung ke pemilik batu akik, sambil memilih jenis batu akik untuk dibawa pulang. Setelah dirasa cukup, berpamitan, lalu bergegas ke rumah mbakyu. 

Banyak perkebunan karet, coklat dan tembakau yang kami lewati. Sekitar satu jam, sampailah di tempat tujuan. Sambil menunggu keluarga dari Kencong-Jember, kami pun bercerita panjang lebar tentang  banyak peristiwa.  Saling menanyakan kabar anak-anak yang sudah beranjak dewasa, hingga “pangling” dibuatnya. 





Sekitar  dua jam menunggu, akhirnya keluarga dari Kencong tiba. Saling tebak-menebak sambil mengingat satu per satu wajah- wajah yang ada di ruangan itu. Gelak tawa menambah riuh suasana. Saling menenanyakan kabar masing-masing, berbagi cerita dan kisah. Lalu, kami pun berpisah. Sebelum berpisah, kami sepakat bertemu lagi di Mabul-Malang. Tempat keluarga besar dari almarhum bapak.

Berpamitan pulang,  aku dan anak-anak kembali ke Jenggawah. Setibanya di Jenggawah,  masih  mampir ke beberapa keluarga.  Kunjungan pertama untuk saling kenal dari dua keluarga yang dipersatukan oleh pernikahan. Selepas dari unjungsana ini, anak-anak melanjutkan perjalanan ke Paiton –Probolinggo. Sedang aku, harus menginap satu malam lagi karena tidak diijinkan kembali ke Malang, dengan alasan masih kangen.


Esok pagi, setelah “ nyekar” ke makam mamak, aku pun bergegas pergi menuju terminal bis. Kali ini, aku ingin mencoba naik bis biasa. Ingin tahu berapa ongkosnya tiketnya.  Ku pilih bis “ Tentrem” . Ternyata memang jauh lebih murah. 

Aku pilih kursi dekat pintu belakang supaya “isis” dapat angin, karena bis tersebut tidak ber- AC. Sebab, ada bi ber-AC tapi taripnya biasa lho! Maunya duduk di kursi depan, ternyata  sudah ditempati orang. Cukup lama menunggu bis itu jalan, sekitar 15 menit baru beranjak meninggalkan terminal  Tawang Alun menuju Malang.

Karena bis biasa, maka sering berhenti di terminal antar kota untuk  menaikkan-turunkan penumpang. Pun ada yang penumpang operan dari bis lain.  Bis yang awalnya terasa lengang karena jumlah penumpangnya sedikit, menjadi penuh sesak ketika sudah sampai di terminal Banyuangga Probolinggo.

Penumpang dengan tujuan Malang sangat banyak. Kursi bis terisi semua, bahkan banyak yang berdiri. Dari ujung depan sampai belakang. Saking penuhnya, angin pun tidak bisa menerobos masuk ke dalam bis, sehingga menambah “ongkep” nya hawa.

Bis melaju tanpa kendala. Sebentar-bentar, aku melirik arloji, ingin tahu perjalanan Jember- Malang bisa ditempuh berapa jam. Ternyata lebih cepat disbanding saat  aku berangkat.  Riang hatiku, karena sebentar lagi sampai Malang,  tidak perlu  lama-lama berjubel dengan penumpang bis.
 Apa hendak dikata, memasuki daerah Lawang- Malang, bis hamper tidak bisa bergerak. Bukan karena ada kerusakan, tetapi karena terjebak macet. Oalah, macet lagi, macet lagi.



Malang-Jember : 18-20 Juli 2015

Jumat, 29 Mei 2015

Kisah Moli, Kucingku

Moli, adalah panggilan buat kucingku. Nama lengkapnya Bimoli. Nama itu pemberian Iid putra bungsuku. Moli kini sudah besar, bulunya tumbuh lebat, mengkilap dan lembut. Rupanya terlihat tampan di dunia perkucingan.
Moli aku temukan waktu fajar, tepat di depan rumah pemotongan sapi yang terletak di Jl. Adi Santoso, Ardirejo Kepanjen Malang. Saat aku pulang dari jalan-jalan pagi, tiba-tiba, seekor anak kucing menghampiriku. Aku terus saja berjalan tidak menghiraukannya, tetapi dia terus mengikutiku sambil mengeluarkan suara meong..meong. Suara yang memelas. Ach, entahlah! Mungkin itu hanya perasaanku saja, melihatnya terus mengejarku.

Akhirnya, aku dekati dia, ku lihat jenis kelaminnya, dan ternyata jantan. Aku memutuskan membawanya pulang, dengan pertimbangan jenis kelaminnya jantan dan cuma satu ekor.

Sesampai di rumah, langsung aku masukkan ke kandang kucing yang saat itu dipakai Miji, kucingku yang lain. Miji tidak bersahabat dengan pendatang baru. Ketika dia melihat ada kucing lain masuk rumah, ia akan menunjukkan ekspresi menantang seolah mengajak berkelahi. Membuka mulutnya lebar-lebar sehingga tampak gigi-giginya. Terkadang sambil mengangkat tangannya siap untuk memukul lawan. Miji tipe kucing pencemburu, menurutku. Mungkin ia takut kehilangan perhatian dan kasih sayang dariku. Tapi kini, Miji sudah tiada.


Kehadiran Moli ternyata tidak dikehendaki anggota keluarga yang lain. Entah karena di rumah sudah ada dua kucing atau mungkin ada alasan lain. Tetapi, yang ku dengar baru-baru ini, adalah karena Moli suka BAB di sembarang tempat, matanya rembesen, suka ramai ketika ditaruh dalam kadang, minta dikeluarkan.
Bahkan, Moli sempat mau dibuang karena hal tersebut, tanpa sepengetahuanku.

Sekarang, Moli sudah jauh berbeda dengan waktu kecilnya. Anggota keluargaku  satu-persatu mulai menyukainya. Mungkin karena ulahnya yang lucu tapi terkadang menjengkelkan. Bagaimana tidak menjengkelkan, karena Moli  punya kebiasaan usil. Barang-barang yang ada di dapur, seperti serbet, spon cuci piring, empon-empon, lombok dllnya, bisa berpindah tempat. Sehingga seringkali penghuni rumah kebigungan dibuatnya.

Misal, ketika mau  kora-kora, sponnya raib, mau ngelap dapur, serbetnya sudah pindah ke bawah meja makan.  Bahkan sekarang ini, barang-barang tersebut diatas, bisa pindah ke kamar tidur ^_^.
Kenakalannya yang suka nggondol barang-barang yang ditemuinya semakin beragam. Ada kaos kaki, tissu dll. Kalau pas ada tamu, layaknya anak kecil, ia akan ikut njagong, bahkan kadang langsung tidur di pangkuan tamu.

Satu lagi ulah Moli yang kadang membuat naik pitam anggota keluarga di rumah, saat enak-enak tidur, Moli tidak segan-segan menggigit. Dia akan mencari anggota badan yang tidak tertutup. Karena giginya tajam, gigitannya lumayan sakit di kulit, bahkan kadang bisa luka. Mesti dipukul pakai penebah, dijewer, Moli tidak gentar. Ia terus saja menyerang. Mungkin ngajak guyon. Heran juga, kok sekecil itu sudah tahan sakit. Apa karena sudah terbiasa guyon dengan Manis, kucing besar yang ada di rumahku juga ya?

Manis seringkali mengajak Moli bermain kejar-kejaran, tindih-tindihan, cakar-cakaran. Kadang sampai Moli mengeluarkan bunyi "ngek". Mungkin keinjak tubuhnya Manis yang tambun. Ach, yang namanya kucing, mereka tetap saja  dengan aktivitasnya walau sudah dilerai. Sepertinya, kebiasaan ini yang membuat Moli tahan sakit. Walau dijewer kupingnya, dipukul pakai penebah atau tangan, bukannya lari menghindar, malah maju menyerang.

Setiap hari, Moli ikut sibuk dengan  semua kegiatanku. Ketika ke dapur, ia akan ikut masuk, memperhatikan apa yang aku kerjakan. Kadang ia sibuk dengan dirinya sendiri dengan mengambil  satu macam bumbu dapur  lalu dibuatnya mainan. Kadang memperhatikan aku saat kora-kora, lalu cangkruk dikursi melihat air koraan yang mengalir  ke lubang pipa sambil kepalanya digerak-gerakkan ke bawah, ke atas dan ke samping, kayak lagi memikirkan sesuatu, " Ini apa ya?". Mungkin itu yang ada dalam pikirannya.

Saat aku  mengerjakan sesuatu di kamar mandi pun, ia ikut masuk,  tidak takut basah. Kalau tidak masuk, ia akan menungguku di pintu kamar mandi sampai aku keluar.  Bila ia tidak melihatku saat keluar karena tertidur, saat terjaga, ia akan bengok-bengok keras. Menurutku, dia senang memanggil dan mencariku karena tidak ada lagi di kamar mandi. Ia akan diam setelah mendengar suaraku memanggilnya. Lalu ia mendekat sambil matanya tajam manatapku. ^_^

Seperti anak kecil yang serba ingin tahu, itulah Moli. Enak-enak tidur pulas, ketika tahu aku pergi ke ruangan lain, sekejap kemudian, ia sudah menyusul.



Kini, kelucuannya bertambah lagi dengan adanya  kucing  bayi di rumahku. Kucing  bayi yang aku bawa pulang karena ditinggal induknya. Karena belum bisa menguyah makanan, maka aku kasih minum susu. Itupun aku tanya dulu sama embah Googel.  Entah karena cemburu atau usil, saat Moli tahu aku kasih susu  ke kucing bayi, ia ikut serta. Saat menginginkan susu, yang dilakukannya adalah memasukkan kaki kanan bagian depan ke dalam gelas. Ia celupkan ujung kakinya ke permukaan susu, lalu mengangkatnya dan menjilatinya.Karena ia tahu, aku sedang sibuk memberi susu pada kucing bayi.

Kenakalan Moli makin bertambah dengan adanya kucing bayi tersebut. Saat aku melarangnya untuk mendekati  kardus tempat kucing bayi tidur, ia sengaja mencari kelengahanku. Mendekatinya lalu masuk ke dalam dus. Otomatis kucing bayi bengok-bengok. Kadangkala Moli mengeluarkan kucing bayi dari dalam kardus dengan menggigit lehernya layaknya induk kucing. Diajaknya bermain padahal masih sangat kecil. Kalau sudah begitu, gantian aku yang bengok-bengok. Moli..Moli....^_^