Kamis, 28 Mei 2015

Rancangan Hidup





“ Dengannya, aku tak bisa merancang masa depan…..”




Sebuah ungkapan meluncur dari bibir seorang kawan kepadaku. Terlihat dari sorot matanya, dia lelah. Tidak ada gairah hidup. Dan fisiknya pun tidak terurus sebagaimana seharusnya. Raut wajahnya kelihatan tua, jauh dari usianya yang masih terbilang muda.
Yah! Masa depan memang harus dirancang sebaik mungkin. Tanpa rancangan, tidak bisa dibayangkan apa jadinya masa depan tersebut. Sangat bisa diduga, hidupnya akan berjalan begitu saja. Bagai air mengalir, tidak punya tujuan pasti. Hidupnya bagai “zombi”. Jangankan kehidupan manusia, untuk membuat mainan layang-layang saja dibutuhkan rancangan terlebih dahulu.
Seperti halnya kita, BMI yang memutuskan hendak pulang ke tanah air. Haruslah menyiapkan rancangan dengan hati-hati. Bukan hanya sekedar nanti, aku akan ini dan itu. Bila  rancangan yang ada hanya “akan ini dan itu”, dikhawatirkan tidak bertahan lama, dan ujung-ujungnya kembali bekerja menjadi BMI. Keputusan semacam ini, sudah seringkali terjadi dengan alasan yang hampir sama : ekonomi!
Benarkah dengan menjadi BMI kembali, permasalahan bisa terselesaikan? Belum tentu! Justru banyak tercipta masalah baru yang membuat BMI makin “terpuruk”. Bila sudah begini, bagaimana BMI bisa mandiri di negeri sendiri? Negeri dimana ia dilahirkan dan dibesarkan. Sebegitu menakutkankah hidup di tanah air?   Menakutkan, ketika kita pulang ke tanah air tanpa perencanaan matang karena situasi dan kondisi di Indonesia tidak sama dengan di Hong Kong. Perbedaan ini bisa membuat kita “stress”.
 Sebenarnya, perbedaan ini juga terjadi di Hong Kong, saat pertama kali kita bekerja. Bahkan lebih menakutkan karena kita hanya seorang diri tanpa sanak kadang. Kalau pun ada, mereka tidak serumah dengan kita. Dari segi budaya, musim, bahasa, pola hidup, karakter dll. Bukankah lebih banyak rintangan yang harus kita hadapi? Dan faktanya, rintangan itu mampu dilewati hingga kita “betah” malah “enggan”   pulang pada akhirnya.
Dengan perencanaan yang matang, kita bisa menata langkah lebih teratur dan terarah. Akan terhindar dari yang namanya stress, setidaknya bisa kita minimilir, meski tidak menutup kemungkinan, perencanaan yang kita buat, meleset dari yang sudah kita jadwalkan. Di sinilah dibutuhkan persiapan mental yang kuat.
Perencanaan yang meleset bukan berarti kita gagal, hanya butuh kesabaran, keuletan, kreatif dan inovasi. Nah, inilah saatnya kita mengeluarkan semua pengalaman selama bekerja menjadi BMI. Bukankah kita bekerja di negerinya orang China yang terkenal dengan kekreatifannya? Segala aktivitas pembelajaran yang kita ikuti pastinya sebuah rancangan  yang kita sengaja buat sebagai bekal pulang ke tanah air. Bukan sekedar ikut-ikutan atau anut grubyuk.
Buatlah rancangan kepulangan dengan perhitungan matang bukan sekedar ikut-ikutan, karena kita sendiri yang akan merasakan dan bertanggungjawab dengan segala yang bakal terjadi, di sepanjang perjalanan hidup. Kita adalah “owner” dalam kehidupan kita sendiri. Kita yang lebih tahu dan paham dengan apa yang kita inginkan (baca: butuhkan).
Dengan ilmu yang didapat selama di rantau, seharusnya kita bisa lebih baik dari yang dulu sebelum memutuskan menjadi BMI. Kalau alasan kita, Indonesia tidak sama seperti dulu saat kita tinggalkan, ya tentu saja. Karena setiap saat, perubahan  akan terjadi dimana-mana. Bukankah, ketika kita tinggal di rantau untuk yang pertama kali juga bingung? Samakan? Berarti ini bukan masalah berat buat kita yang memutuskan pulang ke tanah air. Dengan berbekal pengalaman, wawasan, skill, ilmu pengetahuan yang didapat selama dirantau, seharusnya kita bisa lebih mudah mensiasati keadaan.  Yuk, kita buat rancangan hidup sekarang!

Sudut Pandang










“Ternyata, apa yang saya temui, tidak seperti yang saya bayangkan.
Saat promosi begitu wahnya, faktanya, cuma begitu saja….”


Ungkapan kekecewaan dari seorang BMI HK melalui jejaring media sosial yang ditujukan ke saya. Menilik bahasa yang dipakainya, saya dapat menyimpulkan bahwa ia tertipu oleh sesuatu yang dibayangkannya. Saya memahaminya, sebab saya pun pernah mengalami. Bukan sekali bahkan berkali. Ya, sering kali kita tertipu oleh bayangan kita sendiri.
Ketika membayangkan yang indah-indah, yang bagus-bagus, yang bersih dan megah, namun faktanya justru sebaliknya, saat itulah kita dihinggapi kecewa. Perasaan yang wajar dan manusiawi.
Ambil saja contoh saat kita membayangkan bekerja di Hong Kong, mendapatkan majikan baik dan “loman” serta kita diberi kebebasan. Kita bisa jalan-jalan di berbagai tempat rekreasi, gonta-ganti baju dengan berbagai mode tiap libur, bersuka ria di berbagai situs internet sesuka hati seperti yang bisa kita saksikan di banyak akun facebook serta berbagai macam kenyamanan lainnya, ditambah gaji jutaan. Siapa pun akan bersemangat untuk mendaftarkan diri sebagai “calon” pekerja. Berani membayar harga walau harus berpisah dengan keluarga, pun mengeluarkan biaya  besar dengan cara potong gaji sekian bulan. Alasannya apa?
Tak lain dan tak bukan, karena pikiran kita sudah dipenuhi oleh bayangan-bayangan kenyamanan tentang Hong Kong. Apakah ini salah? Tidak! Sebab, dengan membayangkan sesuatu (baca: afirmasi) yang membuat kita nyaman, kita sebenarnya sedang menariknya terjadi dalam kehidupan kita.
Karena bayangan kenyamanan inilah, kadang kita terlena sehingga kita lupa mempersiapkan diri,  menghadapi segala sesuatu yang bakal terjadi diluar bayangan kenyamanan kita. Alhasil, kita terseret emosi berkepanjangan. Marah, kecewa, benci, dendam, was-was, dll.
Bila emosi ini tidak segera dibereskan, tentu akan membayangi langkah kedepan, saat kita menerima tawaran, kesempatan, lowongan lainnya. Kita akan was-was mengambil keputusan. Bila sudah demikian, siapa yang rugi? Tentu diri kita sendiri.
Lalu apa yang harus kita lakukan? Mudah saja. Kita tinggal mengubah “sudut pandang”. Antara bayangan dan kenyataan. Ketika membayangkan kenyamanan dan faktanya kita menemukan ketidaknyamanan, saat itulah kita sedang dididik untuk “jeli” melihat permasalahan. Jeli melihat peluang, bahkan sebenarnya kita sedang ditantang oleh alam, apakah kita bisa menaklukkan keadaan atau malah tertaklukkan olehnya.
Di dalam kehidupan, banyak hal yang tidak terceritakan atau tertuliskan oleh kata-kata. Kita sendiri yang harus bisa memaknainya dengan melibatkan “kesadaran dan kebijakan” yang ada dalam diri. Tidak cukup hanya dengan “seabrek” teori dan motivasi.
Untuk bisa memilikinya, kita harus mempunyai  “paradigma” (baca: sudut pandang) dari berbagai sisi. Sayangnya, kebanyakan dari kita belum memilikinya. Kita lebih mengandalkan dan bangga dengan seabrek “sertifikat” pelatihan. Entah kita paham atau tidak dengan materi pelatihannya itu sendiri.
Ikut pelatihan adalah hal baik karena akan meningkatkan ilmu dan wawasan kita, namun perlu diingat, bahwa pelatihan itu masih dalam ruang gerak dan waktu yang terbatas. Kita belum praktekkan ilmunya langsung di lapangan. Entah karena materi pelatihannya tidak sesuai sikon dimana kita tinggal atau kita masih enggan mempraktekkannya. Tanpa praktek, kita hanya akan pandai menjadi “pemain” di atas angan. Ketika dihadapkan pada keadaan yang sesungguhnya, kita terkejut dan tidak bisa menghadapinya, karena kita melihatnya hanya dari satu sudut pandang.
Bila kita memiliki/menyiapkan sudut pandang dari berbagai sisi, apa pun situasi dan kondisinya, kita tetap  siap. Kita tetap bisa belajar, berkembang dan mendapat/ menciptakan peluang. Selamat mencoba !

Rabu, 21 Januari 2015

Dialog Sukses

BMI HK : " Saya tahu banyak n petualangan mbak Anna. Jujur, saya salut mbak. Kalau boleh,bagi-bagi donk ilmunya biar saya juga ketularan suksesnya...".

Annir      : " Masih belajar mbak. Ada yang bisa saya bantu?"
                                         


Percakapan singkat yang membuat saya tertegun dan bertanya-tanya. Saya tidak tahu ia dapat no saya dari mana. Ah, mungkin dapat dari koran yang mencantumkan nama dan no phone saya. . Atau mungkin dapat dari facebook ketika saya  cantumin di facebook. (hehe...).

Pertanyaan dan pernyataan dari sahabat BMIHK tadi, menurut saya terlalu berlebihan, sebab saya belum sukses. Saya belum apa-apa . Saya baru menapaki proses untuk sukses dengan segala tingkat kerumitannya. Ya! Rumit karena untuk sukses bukan hal mudah. Banyak kendala yang harus dicarikan solusinya. Itulah nikmatnya. Berproses untuk sukses! Berselancar di lembah kendala dengan segala kesakitannya hanya untuk mengumpulkan ribuan solusi! Sekali lagi : Solusi!

Dan ketika kita telah temukan solusi,  ada banyak nilai tambah yang kita dapatkan. Di antaranya, wawasan, ilmu, pengalaman, relasi, finansial dll. Dari yang awalnya tidak tahu, jadi tahu. Dari yang mulanya takut, jadi berani dan masih banyak lagi.

Banyak makna sukses yang disharingkan para pembicara/motivator/guru, baik lewat buku, koran, majalah, website, facebook, twitter dll. Saking banyaknya, kadang kita malah pusing memahaminya (hehehe..)

Itu artinya, hanya diri kitalah yang lebih paham makna sukses yang kita inginkan. Sebab,nilai kesuksesan tiap orang berbeda-beda. Ada yang merasa sukses ketika berani tampil di depan umum, bisa menulis, bisa masak, lulus sekolah, diterima kerja dll. Lalu sukses buat kita apa? (PR nich ceritanya buat yang belum menemukannya. hehehe..).

Sukses sangat luas cakupannya kawan! Jadi, perluaslah wawasan agar kita bisa terus berkembang. Untuk sukses banyak elemen yang dibutuhkan dan itu bisa dipelajari. Sekali lagi,bisa dipelajari lho! Jadi terus optimis ya!

"Dari tadi, ngomong sukses melulu ( hihi..). Lalu, bagi Annir sendiri, makna sukses itu apa?", celetuk bagian diri saya tiba-tiba.

"Aha! Iya juga ya. Dari tadi si Annir bicara sukses melulu", timpal bagian diri saya yang lain.

"Makna sukses buatku, so simple. Ketika aku bisa mewujudkan apa yang aku inginkan, sekecil apapun itu, aku sudah merasa sukses! Aku bisa berbagi sesuatu lewat tulisan, aku bisa membuka paradigma orang, aku bisa mengajak orang bergabung dalam program pemberdayaan, aku bisa membantu menjualkan produk orang, aku bisa dan bisa..... Ah, banyak dech pokoknya. Dan itu bisa kita ciptakan. Dan itu ada dalam kehidupan kita", sahut bagian diri saya yang mendapat pertanyaan makna sukses.

Kalau tadi saya katakan sukses itu so simple, ya memang iya. Karena diri kitalah yang merasakan kepuasannya. Setinggi apapun nilai sukses di mata orang, kalau kita tidak merasakan kenyamanannya (baca: kepuasannya), berarti kita belum bisa dikatakan sukses. Kita hanya mengikuti jejak sukses orang lain.

Oleh sebab itu, untuk bisa merasakan sukses, temukan  tujuan hidup Anda dulu. Dengan tujuan ini, kita akan terarah menapaki hidup. Ada panggilan hati untuk kita terus bergerak maju.Dari situ pula, jalan kita menuju sukses yang diinginkan semakin maju dan berkembang. Karena kita sudah menariknya hadir dalam kehidupan kita, lalu kita merealisasikannya dalam nyata.Sukses sudah ada dalam diri kita.



* Kepanjen, Kamis 22 Januari 2015






Selasa, 20 Januari 2015

Janda Inspiratif, Taklukkan Masalah



“ Saya sangat down ketika itu, karena bercerai dengan suami. Saya seperti kehilangan segalanya. Saya sakit hati banget. Lalu saya dibawa ke Aceh, dimana saat itu terjadi konflik yang menyebabkan banyak wanita terpaksa jadi janda. Saya melihat penderitaan mereka lebih parah dari saya. Sejak itulah saya mulai sadar diri. Saya sangat terpukul dan merasa tertampar. Ternyata penderitaan saya tidak ada apa-apanya bila dibanding penderitaan mereka. Namun mereka tidak pernah mengeluh, urai Nina, salah satu wanita inspiratif yang dipilih tabloid Nova.


 Itulah jawaban seorang wanita yang usianya sudah tidak muda lagi, namun semangatnya tetap membara. Di kamar hotel Majapahit, Surabaya No 65. Tanpa malu dan ragu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan. Saya kagum dengan semangatnya menaklukkan masalah. Disinilah saya bisa melihat perbedaan orang sukses dan orang gagal: dari sikap!

Saya merenung dan bertanya pada diri sendiri, apakah saya sudah termasuk di dalamnya. Faktanya, banyak wanita yang akhirnya tenggelam dalam kebencian, dendam, putus asa dan kehilangan jati diri karena kecewa ketika cintanya kandas! Nalarnya sudah tidak difungsikan secara normal, tertutup oleh emosi tak terkendali.

 Saya melihat begitu banyak wanita yang menjadi janda, hidup dalam kebimbangan. Keadaan mereka tak jauh dari anggapan masyarakat kebanyakan, bahwa janda itu kesepian, butuh kehangatan, butuh perhatian dll. Anggapan masyarakat yang mampu mensugesti banyak janda. Menjadikan mereka benar-benar lemah. Mudah mengeluh, putus asa, cengeng dan ada kecenderungan gampang terbujuk rayuan lelaki. Dan parahnya, keadaan ini ditambah dengan kecurigaan para wanita yang takut suaminya direbut bila ada wanita berstatus janda di lingkungannya.

 Merasa kesepian, butuh teman bicara, butuh tempat mengadu dll. Keadaan ini seringkali dimanfaatkan lelaki yang punya niat tidak baik. Dan banyak dari janda yang tidak menyadarinya. Akhirnya, terjadilah peristiwa seperti istilah keluar dari mulut buaya masuk mulut singa. Artinya, si janda berada dalam lingkaran penderitaan. Lalu, apa yang harus dilakukan oleh wanita berstatus janda?

 Menata diri agar tidak terlarut dalam masalah. Sepahit apapun, bersegeralah untuk bangkit. Caranya dengan tetap berbaik sangka pada Tuhan. Seperti kata bijak, bahwa Tuhan datang sesuai prasangka hambanya. Isilah waktu yang ada dengan kegiatan positif dan produktif, misal: baca buku positif, membuka usaha, masuk ke komunitas dll. Tidak perlu memperdulikan anggapan/kecurigaan orang dengan aktivitas yang dilakukan. Ini bisa dilakukan pula oleh teman-teman BMI yang rumah tangganya kandas. Terlepas dari salah benarnya di antara kedua belah pihak, karena orang berumah tangga pasti ada masalah.