Kamis, 31 Agustus 2017

PROFIL BMI PURNA KOREA SELATAN


Mengambil keputusan,bukanlah hal mudah,apalagi keputusan bekerja ke luar negeri. Hal ini pasti pernah dirasakan oleh sebagian banyak BMI dimanapun  negara tujuannya. Bekerja ke luar negeri merupakan keputusan besar yang mengandung banyak konsekuensi, di antaranya : jauh dari keluarga, mendapatkan siksaan/tekanan, ditipu, mengalami gangguan kesehatan/kecelakaan dll.
Hal ini dialami oleh Nur Hidayat, seorang BMI Purna Korea Selatan yang  lahir di Malang pada  1974 lalu. Selama 3 tahun ia baru bisa mengambil keputusan untuk merantau, setelah roda ekonomi keluarga mengalami kemunduran akibat krisis moneter   yang terjadi pada tahun 1997. Krisis yang melanda usaha sang istri mengakibatkan turunnya pendapatan  hingga 50 %. Padahal dari usaha ini, roda ekonomi keluarga ditopang.
Akhirnya, sang istri memberi ijin kepada Nur Hidayat  untuk merantau mengikuti jejak anggota keluarganya yang terlebih dahulu bekerja menjadi BMI termasuk ibunya. Tidak dipungkiri, bahwa sebelum terjadinya krisis moneter, ia punya angan-angan bekerja ke luar negeri, dan yang menjadi tujuannya adalah Arab Saudi kala itu. Tapi akhirnya Korea Selatan yang menjadi pilihannya.
Ia berangkat  pada  tahun 2000 lalu,  dan  bekerja di negara itu selama 5 tahun. Menggunakan prosedur G to G dengan menghabiskan biaya 35 juta saat itu. Seperti kisah-kisah BMI lainnya, ia pun harus menjalani serangkaian pembelajaran di PT yang salah satunya adalah bahasa. Namun sayangnya, apa yang ia pelajari di PT tidak sesuai dengan yang ada di lapangan (baca :tempat kerja). Mungkin Anda pun pernah mengalaminya. Karena ketidaksesuaian ini, biasanya menimbulkan masalah di tempat kerja. Saat-saat seperti inilah, seorang BMI dituntut keberaniannya untuk keluar dari zona nyaman yang namanya malas. Mau tidak mau, mereka harus bisa menemukan solusi demi keberlangsungan masa kerja bila tidak ingin diberhentikan.
Sebelum bekerja menjadi BMI, Nur Hidayat sudah bekerja di UPDT ( Unit Pelaksana  Teknis Dinas) sejak 1991 daerahnya, dimana masa pengangkatan jabatan 5 tahun dan itu  sudah dilaluinya, tapi akhirnya ia memilih resign. Pilihan menjadi BMI dirasakannya lebih menarik, karena gajinya yang besar. Proses yang dibutuhkannya untuk bisa bekerja ke Korea Selatan 3 bulan.
Apa yang Nur Hidayat lakukan selama di rantau? Ketika mendapat libur dan itu pun jarang,ia gunakan kesempatan itu  berkumpul dengan sesama BMI di sebuah komunitas muslim.  Komunitas tersebut menjadi wadah/sarana menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi BMI di sana, misalnya ada kasus kriminalitas dengan sesama tenaga kerja asing. Biasanya masalah pekerjaan dan perempuan, karena saat itu,peraturan  PT di Indonesia yang menentukan dengan siapa seorang BMI akan bekerja. Ketika di sana mereka  tahu, bahwa di tempat lain ternyata bisa mendapatkan gaji yang lebih besar. Faktor ini seringkali menggoda mereka untuk pindah kerja padahal masa kontrak dengan bos pertama belum habis. Alhasil, mereka berstatus kaburan. Di tempat kerja yang baru, kadang mereka bentrok masalah pekerjaan dengan tenaga kerja asing dari negara lain.  Di sinilah manfaat yang dirasakan dalam berkomunitas.
Selain kendala bahasa, Nur Hidayat juga mengalami beban batin yang sangat menganggunya saat awal kerja,  yaitu  tidak mendapat ijin salat, karena  sang bos belum tahu/paham kewajiban seorang muslim. Tidak seperti sekarang, organisasi-organisasi Islam sudah banyak bermunculan di sana seiring bertambahnya pemahaman masyarakat Korea Selatan tentang kewajiban seorang muslim.
Nur Hidayat bekerja selama 5 tahun  lalu memutuskan untuk pulang . Pulang dari rantau bagi seorang BMI adalah hal yang menyenangkan tapi juga terselip banyak kekhawatiran. Menyenangkan karena bisa berkumpul kembali dengan keluarga, terlepas dari beban kerja tetapi khawatir karena belum tahu harus melakukan apa (baca : membuka usaha/bekeja).  Fenomena ini menjadi masalah  utama bagi  sebagian besar BMI termasuk Nur Hidayat. Oleh karena itu, jauh-jauh hari sebelum masa kerjanya habis, ia selalu mengkomunikasikan hal ini kepada sang istri.  
Selain dengan istri, Nur Hidayat juga berdiskusi dengan teman-temannya sesama BMI disana, dan salah satunya adalah rencana mendirikan sebuah lembaga  kursus  dan pelatihan (LKP) yang kemudian  hari diberinya nama HanKook Education  Malang bekerjasama dengan  Dinas Pendidikan.  Mengambil bidang pelatihan bahasa Korea dan bahasa Inggris juga menyediakan program pelatihan las dan percetakan  serta pelatihan seni bela diri  Garuda Putih. LKP ini berdiri pada tahun 2010 lalu.  Beralamatkan  di   Jl Ahmad Yani No. 01 Gondanglegi  Kulon Malang.
Yang menjadi visi  adalah merealisasikan visi dan misi yang dicanangkan  oleh Direktorat Jenderal Pendidikan  Non Formal  dan Informal, yaitu  Menuju Masyarakat  Pembelajar  Sepanjang  Hayat Dalam Kemajemukan tatanan masyarakat  secara umum. Dan beberapa hal yang menjadi misi LKP Hankook Education Malang, di antaranya : meningkatkan  mutu dan relevansi  penyelenggaraan  kursus dan pelatihan  untuk mengoptimalkan  kompetensi  kerja dan kewirausahaan  serta  pengembangan  kepribadian  yang berakhlak mulia. Ketika berbincang masalah kendala menjalankan lembaga ini,Nur Hidayat mengatakan bahwa, anak-anak muda sekarang sulit pengarahannya.
Di masa mendatang, Nur Hidayat ingin mengembangan dunia pertanian dimana hal itu menjadi impian terbesarnya. Setelah belajar banyak hal selama di Korea Selatan tentang sistem pertanian disana, ia bercita-cita menerapkan ilmu tersebut di daerahnya. Selain itu juga mengembangkan program kewirausahaan bekerjasama dengan para pelaku UKM, mengingat peluang di Indonesia sangat banyak.

Diakhir pembicaraan,Nur Hidayat menitipkan pesan kepada BMI  yang masih di rantau untuk mengatisipasi pergaulan. Apalagi tehnologi semakin canggih yang memudahkan mereka berkomunikasi (baca : bersosialisasi). Jangan sampai digunakan untuk hal-hal yang justru membawa petaka apalagi bagi yang sudah berkeluarga. Dengan adanya uang,gadget, kebebasan karena jauh dari keluarga, kadang membuat mereka lupa diri. Baiknya mengikuti kegiatan-kegiatan positif dan membangun. Karena  BMI itu sendiri yang akan merasakan manfaatnya. Baik selama ada di rantau maupun setelah pulang ke Tanah Air.

Bullying, Budaya Baru Di Kalangan BMI

“Saya lahir dari keluarga yang bahagia dan lingkungan yang sangat sehat sekali. Tidak pernah saya mendengar, orang tua, saudara-saudara maupun tetangga melakukan bully tapi ketika saya ikut keluarga pindahan, saya malah jadi korban bully. Dibully sama tetangga yang kaya raya tapi mulutnya gak berpendidikan. Mereka kalau ngomong ngak ngaca ke diri mereka sendiri. Sewaktu kecil dihina hina dengan bahasa verbal yang kasar. Dikata-katai, ngak bisa lulus sekolah SMP, nikah sama tukang becak, embret ke Jakarta karena putus sekolah dan lain sebagainya. Di sekolah saya juga mengalaminya, entahlah mungkin teman-teman sekolah merasa bully itu adalah lelucon yang mengasyikan. Iiihh belum tentu kalau kamu jadi saya yang jadi korban bully, masih bisa hidup sampai sekarang. Coba kalau masalah hidup kalian, baik masalah ekonomi atau penghasilan, mungkin juga masalah keluarga dan rumah tangga kalian jadi bahan ledekan. Masih bisakah bilang itu wajar? Efek bully itu bisa bikin stres tau! Bahkan efek dari bully itu membuat saya berpikir, saya tidak ingin menikah terlebih dahulu sebelum saya bisa membantu orang tua dalam hal nafkah. Saya belum ingin menikah dulu sebelum saya menyelesaikan pendidikan saya. Saya khawatir kalau menikah belum dalam keadaan mapan, ketika punya anak saya khawatir anak-anak saya akan di bully juga oleh kalian semua! Begitu saja saya masih dapat bully juga. Kira-kira bunyinya seperti ini:
" Sudah dewasa, yang lain anaknya sudah gede sudah mau sekolah, ini belum nikah juga karena gak laku, malah gak ada temen cowok yang main ke rumah satupun, yang nampak jalan bareng”.
" Wah kerja di luar negeri terus duitnya buat kasur,atau mau jadi gubernur ya disana ?”
 “Ngapain sekolah, sudah tua saja masih sekolah”.

 “Lalu kapan kalian akan berhenti membully, apa nunggu yang dibully atau kamu sendiri mati duluan!”…….

Sebuah status yang ditulis oleh seorang rekan saya  di akun facebooknya. Ia  saat ini bekerja menjadi BMI di Hong Kong, meluahkan kekesalan yang selama ini  dirasakannya akibat sebuah pembully-an.  Sakit hati, sedih, kecewa, marah, dan perasaan lainnya bercampur aduk jadi satu.
Bullying  berasal dari Bahasa Inggris yang artinya adalah penindasan.   Bisa meliputi tindakan menghina mencaci dengan upaya mengintimidasi seseorang. Dan bullying ini biasanya dilakukan dengan kesadaran penuh. Bagaimana ia berupaya menjatuhkan seseorang  dengan penekanan-penekanan. Bullying adalah hasrat untuk menyakiti!
Mengatakan hal tidak menyenangkan atau memanggil dengan julukan buruk, mengabaikan atau mengucilkan  dengan tujuan tertentu, memukul, menendang, menjegal,menyakiti secara fisik, mengatakan kebohongan atau gunjingan keliru mengenal seseorang adalah hal-hal yang sudah masuk ranah bullying, dan ini dilakukan berulang kali.
Bagaimana kita bisa tahu awal terjadinya bullying? Kasak- kusuk atau gossip  merupakan perilaku awal yang dilakukan pelaku bully dan ini adalah hal yang paling mudah dilakukan. Bullying bisa terjadi dimana saja, kapan saja , terhadap siapa saja termasuk kalangan BMI, dan ini adalah fakta !
Hampir setiap hari, saya melihat suguhan dari mereka yang saling membully di media sosial (medsos).  Pemicunya pun bermacam-macam. Dari masalah politik, keyakinan, pekerjaan,cara berbusana, mengisi waktu libur, dll. Akhir dari drama bully-membully ini terputuslah  pertemanan di antara mereka, dan langkah selanjutnya adalah  saling memblokir akun masing-masing. Sungguh sangat disayangkan.
Adakah manfaat dari saling membully ? Pertanyaan ini sering mengganggu pikiran saya sebagai seseorang yang pernah menjalani hidup sebagai BMI. Dimana  saya dan mereka datang dari negara yang sama, negara tujuan yang sama, niat yang sama pula untuk menjemput rezeki, bahkan terkadang dalam komunitas yang sama. Hubungan baik hancur karena bully. Hidup jadi terkotak-kotak.
Jangan berkumpul dengan si A. Jangan berteman dengan si B. Jangan belajar dengan si C, dan seterusnya. Semua saling berlomba untuk terlihat paling menonjol, paling pintar, paling banyak pendukungnya, paling wah dan paling lainnya. Bangga apabila ranting like-nya banyak.  Senang melihat komentatornya hingga ratusan bahkan ribuan. Ironis!   
Hal semacam ini, dulu ketika saya masih ada di antara mereka hampir tidak ada acara bully membully . Setiap berbedaan diselesaikan dengan penuh kekeluargaan. Saling memaafkan dan menjaga kerukunan.  Beda dengan kondisi sekarang ini, sedikit-sedikit meluncurkan aksi bully. Saya sangat prihatin dengan keadaan ini. Keprihatinan ini membuat saya mencari info sebanyak-banyaknya keburukan dibalik bulyying, di antaranya :
·         Bullying bertujuan  untuk mempermainkan aib/kekurangan seseorang dihadapan publik.
·         Menjadi pemicu timbulnya masalah.
·         Sebagai bentuk keangkuhan pelaku kepada dirinya sendiri.
·          Dan munculnya bullying  itu dari hati yang penuh dengan unsur-unsur keburukan.
Apakah kita adalah pribadi yang demikian? Mempermainkan perasaan orang, pemicu masalah,pribadi yang angkuh? Bukankah kedatangan kita untuk bekerja? Memperbaiki ekonomi keluarga, mencari modal usaha, mencari pengalaman?
Kalau saya cermati hal-hal  yang dijadikan bahan bully-an teman-teman  sesama BMI,sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan mereka di sana. Dan juga tidak ada sangkut pautnya dengan kelangsungan hidup mereka setelah pulang ke Tanah Air.  Tidak membuat penghasilan bertambah, tidak menumbuhkan kedewasaan, tidak menciptakan kerukunan. Yang justru ada adalah bertambahnya kebencian, timbulnya permusuhan, saling curiga-mencurigai, berkurangnya kestabilan emosi, berkurangnya konsentrasi dalam bekerja, bahkan kita bisa menjadi seorang pembunuh! Ya, membunuh karakter  juga membunuh kehidupan seseorang. Bullying itu kejam!
Sekembalinya ke Tanah Air, kita pun tidak mendapatkan apa-apa dari bullying. Karena kita akan ditarik kepada permasalahan kebutuhan hidup. Bagaimana dapur tetap mengepul, bagaimana anak tetap sekolah, bagaimana usaha tetap jalan dan berkembang dan lain sebagainya. Tidak ada celah waktu memikirkan lainnya. Jangankan membully, membuka akun facebook pun sudah tidak ada waktu. Kalau pun ada waktu, rasa malas lebih sering menghinggapi.
Yang dibutuhkan di Tanah Air bukanlah  pandai atau hebatnya kita dalam membully, dimana karena bully-an  tersebut kehidupan seseorang jadi hancur berantakan bahkan sampai kehilangan nyawa. Sahabat, mari kita luangkan waktu melongok ke dalam diri. Agar kita tidak terperosok semakin jauh ke hal-hal yang merugikan  diri sendiri dan orang lain, baik disengaja maupun tidak disengaja. Kita harus pandai mengelola emosi bukan?






* Dimut Koran Berita Indonesia, edisi Juli 2017 *