Rabu, 30 November 2016

INFO PELATIHAN

LKP Ganesha Gelar Pelatihan Untuk TKI


LKP Ganesha yang terletak di Jl Effendi 68 Kepanjen Malang dengan kode posnya 65163 adalah sebuah lembaga kursus dan pelatihan yang  usianya  sudah mencapai  35 tahun  pada 2017 nanti. Dalam usia yang tidak bisa dibilang muda,  tentunya LKP    Ganesha sudah memiliki banyak pengalaman juga punya banyak mitra.




LKP Ganesha juga memiliki cabang yang terletak di Jl. Prof M. Yamin Gg. 3 No 158 kota Malang (Depan Masjid An-Nur/ belakang Matahari), dekat pasar pesar. LKP Ganesha bukan hanya menerima siswa yang berasal dari masyarakat umum, tetapi juga merambah dunia TKI.


Sekitar bulan Pebruari/ Maret 2017 nanti, LKP Ganesha akan memberikan pelatihan menjahit secara gratis. Diperuntukkan bagi kalangan TKI Purna dan keluarga TKI yang masih bekerja di luar negeri, dimana pun tujuan negaranya.

LKP Ganesha yang  berdiri pada tahun 1982 ini,  menyediakan beberapa macam kursus. Di antaranya  menjahit, border, Bahasa Inggris, komputer, hantaran lamaran atau parcel, handmade, pendidikan kesetaraan paket B dan  C, pengetikan komputer, jasa menerjemahan Bahasa Inggris-Indonesia. Selain itu juga menyediakan taman baca untuk masyarakat.







Visi dari LKP Ganesha adalah : 
  • ·         Menyiapkan lembaga lembaga yang berkualitas dengan mengikuti perkembangan
  • ·         Meningkatkan kerjasama dengan semua unsure, baik dunia usaha dunia industri, serta seluruh              lembaga dan industri.
  • ·         Membangkitkan dan menggerakkan seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan SDM                  berketrampilan hidup, guna meraih masa depan yang lebih baik.
  • ·         Memotivasi masyarakat untuk berwawasan luas, berpikir bebas serta profesional diri.


Beberapa produk  yang telah dihasilkan LKP Ganesha, di antaranya baju batik, kebaya modern, mukenah, hantaran lamaran, korden, sarung bantal, taplak meja, tas dll.



 Dalam salah satu misinya untuk membangkitkan dan menggerakkan seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan SDM inilah, LKP Ganesha menggandeng  sebuah komunitas TKI yang bernama Zona TKI Kreatif .

Zona TKI Kreatif berdiri pada 2013 di Hong Kong. Pendiri dan pengurusnya adalah  peserta dan penyelenggara pelatihan berbasis self development yang sedang bekerja sebagai TKI. Visinya  merentas panjangnya masa kerja di luar negeri dan menciptakan kemandirian, sedangkan misinya adalah mengadakan studi magang/ pelatihan kewirausahaan langsung kepada para pelaku UKM di Tanah Air.




Fenomena yang terjadi dalam banyak pelatihan yang digelar untuk TKI, adalah dibagikannya bermacam materi,kiat-kiat, strategi menjadi wirausaha. Pelatihan itu sendiri bermacam bentuknya, dari yang gratis sampai diharuskan membeli tiket masuk untuk biaya pengadaan pelatihan.



Namun sayangnya, pelatihan itu belum memberikan hasil yang optimal karena masih banyak TKI  yang masih takut, ragu untuk melangkah mengaplikasikan ilmu yang didapatnya. Mengubah paradigma/mindset itu sangat penting, namun fakta di lapangan telah membuktikan tidak cukup dengan itu saja. Masih banyak hal lain yang dibutuhkan oleh mereka, seperti: pendampingan dan bimbingan ketika mereka ingin menerjuni sebuah usaha. Pendampingan dan bimbingan dibutuhkan bagi para TKI yang hendak memulai usahanya. Sehingga usaha tersebut bisa terarah.




Lalu, bagaimana dengan yang belum punya usaha? Dengan studi magang tersebut, mereka akan mendapatkan bermacam ide bisnis. Karena dalam studi itu ada sesi pencarian ide bisnis,  pemetaan daerah, managemen keuangan, marketing, dll.

Jadi, tidak lagi sekedar teori dalam ruang pelatihan, tetapi terjun langsung ke lapangan. Ketika menemukan kendala, saat itu juga mereka mendapat bimbingan/pengarahan dari pelaku bisnis/UKM yang menjadi mentornya. Ini adalah pembelajaran yang lebih efisien daripada  sekedar pelatihan yang diadakan dalam ruangan, tapi tidak praktek langsung tentang teori-teori yang diajarkan. Kenapa? Karena daya tangkap/tanggap setiap peserta tidak sama. Ada yang bisa cepat paham, tapi tak jarang pula  ada yang tidak paham-paham dengan materi yang disampaikan oleh narasumber. Dan bahkan, materi/teori yang diajarkan tidak cocok dengan daerah asal peserta.





Gayung bersambut! LKP Ganesha adalah salah satu lembaga pelatihan yang lebih menyukai pembelajaran/pelatihan berbasis praktek di lapangan. Hal ini juga akan diterapkan dalam pelatihan yang akan digelar sekitar bulan Pebruari/ Maret 2017 nanti.

 Meskipun pelatihan belum digelar, saat ini LKP Ganesha sudah merangkul beberapa TKI Purna untuk diberdayakan. Baik dari produksi maupun studi magang. Ini menjadi bukti, bahwa LKP Ganesha memang peduli dengan kemajuan TKI Purna.






Apa saja keuntungan ikut dalam pelatihan ini?

·         Peserta akan mendapat pelatihan secara gratis selama 10 kali pertemuan. Dimulai pada pukul          09.00- 16.00.
·         Peserta bisa konsultasi secara online meskipun pelatihan sudah selesai.
·    Peserta yang telah menguasai materi, baik berupa teori maupun praktek, bisa mengambil bahan mentah jahitan untuk dijahit di rumah.
·         Peserta bisa menjadi guru/instruktur setelah lulus ujian.
·    Meskipun pelatihan usai, LKP Ganesha  akan terus memonitor perkembangan peserta yang ikut dalam pelatihan tersebut.


Apa saja syarat-syarat agar bisa ikut pelatihan di LKP Ganesha? Berikut yang harus disiapkan :


  Photo copy  KTP dan identitas yang menunjukkan pernah bekerja ke luar negeri, masing-masing        
 2 lembar.
 Photo berwarna ukuran 3 x 4 ( 3 lembar )
 Photo copy KK 1 lembar
 Bawa kain
 Bawa alat tulis, penggaris segitiga, penggaris panjang, pensil, bolpoin, spidol merah , gunting,                          meteran, buku folio tipis ( bisa beli di LKP Ganesha)

Karena pelatihan ini sifatnya mandiri, maka pihak penyelenggara tidak menyediakan konsumi dan uang transportasi, tetapi peserta yang rumahnya jauh, bisa menginap di tempat penyelenggara.

Pelatihan mandiri? Apa maksudnya?
Maksudnya adalah, pelatihan ini tidak menyediakan banyak fasilitas. Peserta memang harus siap dan rela untuk mengeluarkan biaya untuk memenuhi kebutuhan yang tidak disediakan penyelenggara. Artinya, peserta harus mengeluarkan uang! Ya, uang! Dengan adanya uang yang dikeluarkan, peserta akan bersungguh-sungguh  belajar. Akan memanfaatkan moment tersebut dengan serius. Mereka tidak mau rugi. Tidak mau mengeluarkan uang dengan sia-sia.

Di Tanah Air, banyak pelatihan yang diadakan oleh dinas, instansi, lembaga, yayasan dan komunitas yang memberikan banyak fasilitas, seperti uang transportasi, makan enak,  gedung megah, ruang inap,dll. Kadang fasilitas yang diberikan ini dijadikan alasan peserta mengikutinya. Banyak yang ogah-ogahan belajar. Kenapa? Karena mereka berpikir pelatihan ini gratis!

Dan kebanyakan, setelah pelatihan, tidak ada tindakan konkrit di lapangan. Akhirnya, kegiatan peserta hanya mengikuti pelatihan demi pelatihan tak ubahnya seperti yang pernah mereka ikuti ketika masih di luar negeri. Kesannya, pelatihan itu digelar hanya untuk sekedar bahan laporan pada atasan, bahwa program A-Z telah dijalankan yang diikuti sekian peserta dengan memakan biaya yang tertera di buku anggaran.

Semua kembali kepada pribadi masing-masing. Mau selalu yang serba gratisan tapi tidak ada tindak kelanjutannya, atau siap selalu mengeluarkan biaya untuk ilmu yang akan didapatkan plus dengan tindakan nyatanya di lapangan ^--^

Senin, 07 November 2016

CATATAN AKTIFITAS DI KEPANJEN-MALANG

Terminal Budaya Dan Seni Di Talangagung,

 Menanti Sentuhan Anda

“ Tadi malam saya ke acara Terminal Budaya di terminal Talangagung pak,” kata saya kepada bagian koordinatornya yang kebetulan kami satu komunitas.
“Saya melihat di pintu masuk terminal Talangagung gelap, jadi banner besarnya tidak kelihatan. Kalau dikasih lampu akan lebih menarik pak. Dikasih sesuatu yang beda dari biasanya,” imbuh saya mengutarakan usulan.
“ Dana masih minim, belum bisa beli atribut. Semua atribut hasil saweran tim penyelenggara. Nanti kalau sudah ada dana, kita akan benahi pelan-pelan,” jawab teman saya.
“Kebutuhan apa saja yang belum ada di terminal budaya pak?”, kata saya melanjutkan pertanyaan.
“ Tenda, lampu hias, lampion untuk sekitar area, kursi dan meja untuk pengunjung bersantai, lampu sorot untuk atraksi panggung, sound dan panggung,” jawab teman saya.




Inilah percakapan singkat antara saya dengan Tri Harianto, seorang teman yang sama-sama menyukai dunia pemberdayaan. Kami bertemu di sebuah Komunitas MBA yang bermaskas di area Kepanjen (dekat Jalibar), tepatnya di Power Café ( depannya kantor pajak). Kami sering diskusi tentang banyak hal yang bersifat pemberdayaan.

Tri Harianto yang dulunya tinggal dan bekerja di Jakarta, dan saya yang baru pulang dari rantau, mencoba untuk sama-sama belajar dan melihat peluang yang bisa dikembangkan. Artinya, kami sama-sama masih baru di Kota Malang ini. Terutama saya, harus memulai segalanya dari nol.





Seperti diskusi di atas tadi, mengenai kegiatan/aktivitas budaya dan seni yang digelar untuk memanfaatkan terminal Talangagung  agar lebih berdayaguna. Memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar. Bukan hanya sebagai tempat membayar pajak (peron) bagi angkotan yang harus melalui rute itu, dan juga hanya sebagai tempat uji kendaraan saja.




Terminal Talangagung sangat luas. Banyak area kosong yang bisa dimanfaatkan, pun juga banyak bangunan kosong yang di beberapa tempat sudah mulai rusak karena tidak adanya perawatan. Toilet, pertokoan dan bangunan lainnya. Meskipun siang hari, terminal ini kelihatan sepi. Seperti tidak ada “kehidupan” di sana. Sungguh sangat disayangkan.


Saya membayangkan kondisi ini dengan di Hong Kong, dimana ruang kecil ukuran 1 x 1 meter persegi saja bisa dimanfaatkan dengan baik. Terlihat ada kehidupan disana, dan semua itu terjadi karena sebuah ide yang diupayakan untuk mewujud.


“Fenomena” ini  membuat saya teringat, betapa teman-teman di Hong Kong punya banyak ide, punya banyak kreativitas, punya  keinginan untuk bereksistensi diri, punya kemampuan kuat berbagi.  Punya semangat solidaritasnya luar biasa tinggi, apalagi yang berkenaan dengan perberdayaan SDM dan kreativitas. Mungkin, apa yang akan saya tuturkan nanti , bisa menjadi sebuah “wadah” untuk menyalurkan itu semua. Terlepas dari  daerah mana mereka berasal, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera, NTT, NTB, dll. Yang pasti, mereka berasal dari negara satu, yaitu Indonesia.


Kondisi inilah yang membuat prihatin  beberapa orang, yang akhirnya dari keprihatinan ini lahirlah gagasan “Terminal Budaya Malang Raya”. Mereka yang ada dibalik kegiatan ini adalah Esti Wulandari, Inda Cahya Nurilhuda, Wahid, Sunaryo dan Tri Harianto, serta LSM Cerdas Bangsa yang digawangi oleh Moelyono dan Rudi.

Berbagai atraksi budaya dan seni, ajang pameran hasil produksi kerajinan, serta makanan khas Malang Raya, ditampilkan dalam kegiatan/aktivitas Budaya dan Seni di terminal Talangagung ini. Kegiatan dimulai pukul 17.00- 22.00 setiap hari.


Selain budaya dan seni, kegiatan ini “mengusung” juga puluhan UKM Tangguh dari seluruh Malang Raya untuk mempromosikan segala usaha dan produk  yang mereka punya. Jadi, bila kita berkunjung ke sana, akan ada banyak menu makanan  dan minuman yang bisa kita nikmati. Tempatnnya luas, jadi kita tidak perlu berdesak-desakan seperti di pasar malam, yang untuk jalan saja sangat susah.


Sambil makan dan minum, kita bisa menyaksikan atraksi budaya dan seni yang berasal dari beberapa paguyuban. Ada reog, karawaitan, seni tari, dll.  Saya melihat beberapa anak-anak remaja yang suka dunia seni, sangat antusias  mengikuti atraksi demi atraksi. Setidaknya, dengan adanya Terminal Budaya dan Seni ini, hobi mereka tersalurkan.

Dan bila kita membawa anak-anak berkunjung, mereka bisa menikmati sepeda besar/becak-becakan yang bisa dinaikin  untuk beberapa orang, baik anak-anak maupun orang dewasa mengitari terminal Talangagung di sore dan malam hari.  Keliling area  bisa sambil makan/minum, bercengkrama dengan teman menikmati malam,  asyik sekali bukan?!


Selain itu, penyelenggara juga menyiapkan kegiatan untuk anak-anak yang suka dengan dunia menggambar. Salah satunya adalah mengajarkan tehnik mewarnai yang diperuntukkan bagi anak-anak pelaku UKM PKL. Tujuannya adalah agar mereka memiliki aktivitas positif  sejak dini,disaatorangtuanya berdagang/berjualan.  Karena dari dunia menggambar ini, kalau benar-benar ditekuni, kelak dikemudian hari akan sangat bermanfaat. Mereka bisa menghasilkan uang juga. Misal dengan ikut lomba menggambar/mewarnai gambar, menjadi guru menggambar, dll. Sangat produktif  bukan?! Kalau kursus, sudah berapa biayanya tuh!

Setiap kegiatan/aktivitas yang dilakukan baik oleh perseorangan maupun komunitas, pasti memiliki visi dan misi. Sama juga dengan kegiatan Terminal Budaya dan Seni ini. Visi yang mereka usung adalah agar UKM Malang Raya “mampu” bersaing di era global, juga menampilkan keunikan dari budaya Malang Raya dan memiliki komunitas yang prima. Selain itu Terminal Budaya Malang Raya memperkenalkan “sisi” lain dari budaya Malang Raya dengan berbagai atraksi yang ditampilkan setiap acara.



Sedang misinya adalah memberikan fasilitas-fasilitas dan kesempatan kepada para pelaku UKM Tangguh di Malang Raya agar dapat bereksistensi dalam usaha mempromosikan produk dan jasa yang mereka  punya. Serta memberikan peluang dalam meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat yang mau berusaha dan berkarya.

Seabrek kegiatan di Terminal Budaya dan Seni ini telah digelar, dari hasil saweran para penggagas dan penyelenggaranya. Dan mereka sadar masih banyak kekurangan disana-sininya. Namun tidak mengurangi semangat mereka mewujudkan impian untuk Kota Malang lebih berdaya dan berjaya, khususnya untuk area Talangagung dan sekitarnya.  Alangkah mulianya niat digelarnya Terminal Budaya dan Seni ini, yang diperuntukkan bagi  siapa saja yang ingin maju dan berkarya.






Mereka para penggagas dan penyelenggara terus berupaya memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada demi kemajuan bersama. Mungkin, ada di antara kita yang terketuk hati untuk ikut “mensupport” kegiatan ini baik secara moril maupun materiil. Ikut dalam kegiatan pemberdayaan dan berpartisipasi  memajukan daerah asal.







Seperti harapan dari Ibu Jumi’iyah, salah satu pelaku UKM PKL yang berjualan makanan dan minuman ketika saya ngobrol dengannya. Ia berkata,” Saya senang dengan adanya Terminal Budaya dan Seni yang ada di terminal Talangagung ini. Saya bisa dapat penghasilan tambahan dari sini. Saya berharap, ada yang mensupport kegiatan ini dengan menyediakan perlengkapan yang saat ini belum ada”.


Mari kita bersama-sama membangun harapan. Harapan adalah sebuah “percikan api” yang ada dalam diri setiap orang yang peduli akan hidupnya, peduli akan kehidupan di sekitarnya. Terminal Budaya dan Seni, menunggu sentuhan, polesan kreativitas dari Anda warga Malang Raya umumnya, Kepanjen khususnya. Baik yang ada di Tanah Air maupun yang sedang bekerja di luar negeri, dimanapun negara penempatannya. Mari sambung-menyambung, bergotong royong membangun Ibu Pertiwi tercinta.



*Catatan kunjungan ke Terminal Budaya dan Seni. Terminal Talangagung, kecamatan Kepanjen, kabupaten Malang : 23 Oktober 2016 *