Rabu, 19 Oktober 2016

catatan seminar

Angan- Angan Ku di Dalam Seminar




Salah satu keuntungan bergabung di Malang Business Activity  ( MBA) adalah mendapatkan informasi seminar. Seperti kemarin, pada tanggal 15 Oktober 2016, saya dan seorang anggota MBA dari Turen  berkendaraan roda dua meluncur ke gedung STIEKOP yang berada di Jl. Wr Supratman Malang.

Perjalanan dari rumah memakan waktu kurang dari 1 jam, itu pun beberapa kali kami terpaksa berhenti untuk bertanya kepada orang yang kami temui di pinggir jalan. Sampai di tempat seminar, masih terasa sepi, eh… ternyata yang lain sudah pada masuk ruang seminar. Akhirnya kami pun menyusul masuk. Setelah mengisi buku daftar hadir, lalu kami menerima kotak snack dan 1 botol air mineral serta sebuah majalah.




Ketika saya melihat  snack dan air mineral yang dibagikan, terpikirkan oleh saya, seandainya snack dan minumannya itu adalah produk UKM, pastinya akan seru. Bisa jadi snacknya produk UKM, tapi melihat jenisnya seperti produk yang banyak dijual di pasaran.  

Dalam pemikiran saya, karena seminar yang digelar untuk para pelaku UKM, tentunya lebih bagus kalau segala sesuatunya berkenaan dengan UKM. Bukan hanya materinya saja. Dengan terbaginya produk UKM saat seminar, setidaknya ada beberapa komponen dari dunia UKM yang tertuahkan. Misal : pengenalan produk dan promosi produk. Dari dua hal ini saja, akan ada banyak hal yang kemungkinan bisa tercipta saat itu juga.

Misal, adanya sinergi/kerjasama antar pelaku UKM, adanya market baru dari para peserta seminar yang hobi menjual, baik secara online maupun offline, dll. Berangan-angan boleh dong?! Tapi menurut saya, angan-angan ini bukan sekedar angan-angan, tetapi bisa menjadi kenyataan.

Saya punya sedikit pengalaman ketika menjadi ketua pelaksana sebuah program besar dari instansi per-bank-an yang bekerjasama dengan sebuah universitas ternama. Program yang diperuntukkan untuk Tenaga Kerja Indonesia di Hong Kong. Ide muncul untuk menggelar galeri. Saat itu saya namakan galeri mini, karena menurut saya, masih ada beberapa  produk  saja karya TKI yang muncul ke permukaan. Saya yakin, dengan adanya galeri mini ini, mampu memicu keberanian, kekreativitasnya TKI-TKI lain yang masih disembunyikan. Karena saya melihat, mereka masih malu/belum berani menampilkan karyanya.

“Sebuah karya diciptakan untuk diketahui orang lain bukan? Setelah itu, kita berharap, orang lain akan membeli produk kita. Sehingga kita mendapatkan income. Benar gak?”, tanya saya pada beberapa orang kawan.

Tidak ada jawaban, hanya kepala mereka mengangguk. Itu sudah menunjukkan bahwa mereka setuju dengan apa yang saya katakan. Dan sejak itu, bermuncullah karya-karya lainnya. Dari kerajinan tangan, kuliner, fashion, dll. Senang dan bangga bercampur dalam hati saya. Kawan-kawan sudah mampu menepis rasa takutnya, rasa mindernya, rasa malunya. Setelah kejadian itu, terciptalah ide-ide luar biasa dari mereka tanpa saya.  Mereka sudah berani menciptakan sejarah dalam perjalanan hidup mereka.




Lepas berangan-angan, saya pun mengikuti pembelajaran yang ada. Seorang nara sumber yang masih muda tapi sangat energik, membagikan ilmunya kepada peserta seminar.  Tema yang diambil saat itu adalah “ Strategi Membuat Branding Terkenal Menjual bagi UKM”.





Dikupas habis apa itu branding. Yang ternyata bukan merk, seperti pemikiran banyak orang selama ini. Tujuannya adalah supaya pelaku UKM memiliki  lebih banyak pelanggan dengan membangun brand yang menjual. Salah satu prinsip dari terbangunnya brand tersebut adalah membangun emosi.




Seminar ini digelar oleh UKM Center bekerjasama dengan Majalah Rinjani. Jumlah peserta yang datang 60 orang dari berbagai kecamatan di Kabupaten Malang.  Dihadiri oleh ketua yayasan STIEKOP dan  direktur UMK Center. Sebenarnya kuota yang disediakan oleh panitia adalah 150 orang.

Pada kesempatan itu, ketua yayasan STIEKOP bercerita panjang lebar tentang perjuangannya mendirikan, mengolah, memajukan STIEKOP hingga seperti sekarang ini. Dan di sesi akhir sebelum seminar ditutup, peserta mengisi kuisioner yang dibagikan oleh panitia. Isinya di antaranya adalah : nama, alamat, email, akun facebook, alasan ikut seminar, usaha yang dijalankan, kendala menjalankan usaha, dll. RTL setelah seminar ini dibentuk grup whatSapp. Semoga dengan terbentuknya grup whatSapp ini, bisa tercipta hal-hal baru yang memajukan para pelaku UKM yang ada di dalamya.






*Catatan Seminar Tanggal 15 Oktober 2016 *


Selasa, 11 Oktober 2016

Alih Fungsi Trotoar

Dulu, ketika saya masih SD, guru mengajarkan kepada semua muridnya untuk berjalan di trotoar saat berangkat dan pulang sekolah. Karena trotoar disediakan untuk pejalan kaki supaya aman dari kecelakaan lalu lintas dan melancarkan arus lalu lintas. Pelajaran itu masih melekat dalam ingatan saya sampai sekarang.

Setelah saya dewasa, fenomena kehidupan menunjukkan fakta lain tentang trotoar. Bukan lagi sebagai tempat pejalan kaki,tapi sebagai tempat jualan. Macam-macam yang mereka jual. Ada makanan, minuman, buah-buahan, pakaian, dll.   Ada yang pakai rombong  dan beberapa kursi plastic saja, ada pula yang menyediakan lesehan. Karena penjual- penjual ini, kadangkala pejalan kaki harus rela berjalan di area kendaraan yang sedang berlalu-lalang di jalan raya.

Trotoar sudah beralih fungsi. Dari untuk pejalan kaki menjadi tempat jualan. Makin hari makin marak, jumlahnya makin banyak pula.  Trotoar menjadi tempat nyantai untuk ngopi sambil ngobrol, baik orang tua maupun kawula muda. Di trotoar,  pundi-pundi  rupiah dihasilkan.   Trotoar  menjadi tempat favorit menghabiskan malam bagi sebagian orang. Bahkan di trotoar, kadangkala muncul berbagai pemikiran jenius.


Hong Kong Bukan Segalanya, Kehidupan Sesungguhnya
 Adalah di Tanah Air



 Berawal dari cita-cita ingin mengadu nasib di negeri orang, dengan tujuan untuk membahagiakan orang tua,  Darwinah nekad berangkat ke luar negeri  ( Hong Kong) untuk menjadi pembantu rumah tangga. Walau pun sebenarnya di Indonesia, saat itu ia sudah bekerja sebagai pengajar di salah satu Balai Latihan Kerja Luar Negeri Jakarta (BLKLN Antar Bangsa Citra Dharmaindo),  tetapi keinginan untuk merubah nasib di negeri orang sangatlah kuat,  sehingga iapun nekad mendaftarkan diri  ke PJTKI yang kebetulan satu payung dengan  tempatnya mengajar,  yaitu PT.ABCD yang berkantor di daerah Pluit Jakarta.

 Tiga bulan  di PT,  akhirnya  Darwinah berangkat juga ke luar negeri (Hong Kong),  yaitu pada 2004 sebagai pembantu  yang  bertugas menjaga  anak usia 2 tahun dan 10 tahun di daerah Tsuen Wan.
Lalu,  2008 ia memutuskan pulang ke Tanah Air. Yang pertama , karena terpicu melihat banyaknya BMI yang sampai sekarang tidak berani pulang dan ingin melaksanakan sunnah Rasul : menikah!
Yang kedua,  adalah memulai usaha dan membuktikan ke teman-teman,  bahwa ia bisa hidup  di Indonesia dengan modal dan kemampuan yang sudah didapatkan dari banyaknya belajar ketika bekerja sebagai BMI. Baik di Dompet  Dhuafa maupun beberapa organisasi lainnya ketika di Hong Kong.  Ia berpikir,  Hong Kong bukanlah segalanya dan kehidupan yang sebenarnya ialah di  Tanah Air.



Selain di DDHK, Darwinah  menimba ilmu di Halaqoh, Ulil Albab, Iwamic, dan  PEACE .Tiap kegiatan ia pun ikut andil didalamnya. Sudah ribuan bahkan jutaan kenangan indah yang  tercipta  bareng teman-teman disana. Tetapi Hong Kong tetap bukanlah syurga baginya dan Hong Kong bukanlah cita-cita terakhirnya. Karena  niat awal pergi merantau adalah  ingin membahagiakan orang tua dan mencari modal untuk masa depan. Ia merasa cukup banyak  mendapat ilmu, baik saat mengajar atau juga saat belajar kepada ulama, kyai dan guru di Hong Kong.

Sepulang  ke Tanah Air, awalnya  Darwinah  bekerja selama 1 tahun sebagai pengajar dan tinggal di Jakarta,  kemudian berhenti karena sudah punya anak dan ingin mencoba memulai usaha mandiri. Setelah itu, ia pindah ke  Indramayu  (kampung halaman) merintis pondok ngaji gratis untuk yatim dan dhuafa kecil-kecilan. Sekarang sudah ada 100 lebih santri  yang  belajar di sana. Ia memberi  nama  pondok ngaji itu dengan Rumah  Tahfidz  Quran Hizbullah.  Selain itu, ia berwirausaha dan menjadi distributor aneka makanan ringan, juga sebagai pengajar non  formal  di STIKES Indramayu.  Juga beberapa kegiatan lainnya.




Sebelum mendirikan rumah tahfidz,  Darwinah  tinggal dirumah kotrakan. Saat itu, ia  agak sedikit kaget,  melihat lingkungan di tempat tersebut membuatnya sedih. Karena setiap hari melihat anak-anak kecil di sekitar kontrakan, kerjanya  cuma main playstation, main bilyar,  bahkan ada yang main judi dan terkadang mereka pulang malam.  Dan yang membuatnya miris,  adalah orang tua anak-anak itu tidak mencarinya.  Ketika ia menanyakan perihal itu,  mereka menjawab,  “Udah capek bu, tiap hari diomelin juga gak mempan”.

Awalnya  ia tidak menghiraukan hal tersebut terus terjadi, tapi lama- kelamaan ia mulai cari cara agar mereka mau sadar dan kembali ke fitrah anak-anak pada umumnya,  yaitu belajar, mengaji dan sekolah. Akhirnya ia minta ijin kepada sang  suami untuk menjadikan rumah kontrakan sebagai sarana belajar ngaji anak-anak sekitar. Langkah  pertama yang dilakukannya  untuk mengajak mereka mengaji , ia membuat surat undangan ke beberapa remaja sekitar,  yang kebetulan kampung tersebut merupakan kampung kelahirannya, jadi ia sudah banyak tahu tentang masyarakatnya. Semakin  hari banyak  anak yang ikut, hingga rumah kontrakan yang ditempatinya tak muat.

Pada saat itu ada tuan tanah yang berkeinginan untuk menyedekahkan tanahnya buat kepentingan santri dalam belajar mengajar . Sangking  bahagianya,  ia mulai mencari dana untuk membangun pondok kecil ditanah sedekah dari warga kaya didesanya. Sayangnya, beberapa bulan kemudian, tanah itu diminta kembali karena menyangka ia berbisnis.

Ia sempat syok dan berpikir keras mencari solusi sambil terus bermunajat kepada Allah swt. Dan keesokan harinya, ia langsung diberi jawaban oleh Allah azza wajallah lewat tangan ustadz Tarmidzi Assidiq yang saat itu sebagai direktur PPPA Daru Qur’an, yaitu bantuan sebesar  Rp.50 .000.000 tapi diberikannya bertahap.  Ia juga dapat bantuan dari PPPA Darul Quran .  I a dapat pinjaman Rp.50.000.000  dari  BMT Bringharjo  Yogyakarta yang kebetulan direkturnya sahabatnya sendiri, yaitu Ibu Mursida Rambe dan dapat pinjaman dari PNPM mandiri sebesar  Rp.20.000.000,  serta uang saudaranya yang sengaja dititipkan kepadanya sebesar Rp.50.000.000.



Dari uang tersebut  dibangunlah  pondok baru di tanahnya sendiri, yang pada waktu itu masih dalam tahap kredit alias belum lunas. Setelah 30 hari bangunan pun akhirnya bisa  diselesaikan dengan baik . Uang yang awalnya dipikir cukup ternyata kurang  sangat banyak,  dan itu terlihat setelah bangunan jadi. Ia  menyimpan hutang lagi di matrial sebesar  Rp.55.000.000.

Ternyata ujian yang diterima ketika tanah sedekah diminta lagi itu tidak ada apa-apanya ketimbang setelah ia bangun pondok plus rumah  yang sebagian besar hasil dari hutang, justru setelah ia bisa bangun pondok di tanahnya sendiri,  ujiannya makin berat.Tidak  sedikit orang yang mengatakan kalau dirinya  dapat bantuan ratusan juta dengan menjual anak-anak yatim dan dhuafa, bahkan bukan hanya masyarakat sekitar yang tidak suka tapi kakak kandung dan keluarga pun ada yang tidak  suka dan sengaja membuat fitnah tentang ia dan suaminya.

Untuk melunasi hutang-hutangnya,  Darwinah memulai bisnis kecil-kecilan, kemudian beralih ke pengolahan kripik ceker dan usus ayam.   Sampai sekarang bisnis itu masih berjalan dan semakin besar.  Selain itu ia juga menjalani bisnis Online, bahkan sekarang sudah ada 6 reseler yang bekerjasama dengannya. Sang suami mengundurkan diri dari pekerjaanya sebagai perawat RSUD Sentot Indramayu dan lebih memilih kerja di Klinik Swasta agar bisa lebih banyak membantunya  mengembangkan bisnis serta Pondok Tahhfidz. Sewaktu suaminya mengundurkan diri dari pekerjaan di RSUD ,banyak temen-temannya yang menyayangkan  hal itu, karena sudah 5 tahun lebih mengabdi ke pemerintah dan tinggal diangkat. Yang menjadi pertimbangannya adalah, kalau  suami terus-terusan kerja di pemerintah dengan gaji honor, bagaimana bisa membayar hutang?  Karena setiap bulan harus setor Rp.5.000.000 sedangkan gaji suaminya saat itu  cuma Rp.600.000  per bulan.  Hanya cukup untuk bensin karena perjalanan dari rumah ke kantor satu jam.

Rutinitas suami Darwinah setelah  mengundurkan diri dari pekerjaannya, ialah dua hari sekali keliling kampung untuk  menaruh kripik ke warung –warung, sedangkan ia bagian produksi. Mulai harga seribuan sampai sepuluh ribuan, dan berawal dari plastik biasa sekarang  memakai  aluminium foil. Saat ini mereka menjual produknya ke kantin-kantin dan central oleh-oleh.
 Disamping mengelola Pondok Tahfidz Qur’an dan wirausaha, ia juga masih tetap seorang aktivis da’wah di Dompet Dhuafa Republika . Bedanya kalau dulu sebelum menikah dakwahnya di Hongkong, sekarang dakwah di Indonesia.

Beberapa penghargaan  yang diterimanya, yaitu TKI Purna Award diberikan oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heriawan 2012,  apresiasi dari Dompet Dhuafa sebagai pejuang  Devisa 2013, apresiasi dari BNP2TKI. Kesempatan berbuat lebih banyak untuk kemaslahatan semakin luas setelah Dompet Dhuafa mendirikan organisasi Keluarga Migran Indonesia (KAMI) lewat Migrant Instute Dompet Dhuafa.
Kuliah, mengajar, aktivis, dakwah, mengurus suami dan anak, mengelola pondok Tahfidz menjadi rutinitasnya, Ia juga dipercaya dinas-dinas  terkait untuk menjadi inspiring untuk TKI  Purna dan keluarganya.

Yang menjadi motivasinya melakukan ini semua, ia berharap  bisa membantu orang lain dengan  apa yang sudah dilakukan dan sudah diberikan,  khususnya untuk   TKI Purna, baik itu pendampingan usaha ataupun penangan kasus.

Teman- teman bisa ambil pembelajaran dari apa yang sudah  Darwinah  lakukan, dan bisa menjadi inspirasi,  bahwasannya iapun bisa melakukannya dan perlu teman-teman BMI  ketahui, ia juga eks buruh migran luar negeri. Dan satu lagi yang harus diketahui juga,  kalau ia hanya lulusan SMP sewaktu menjadi TKI.  Setelah pulang ke Tanah  Air, ia  melanjutkan  pendidikan ke SMA kemudian  kuliah di perguruan tinggi.
“ Kalau saya  bisa, saya yakin teman-teman juga bisa.  Yang membuat kita gak  yakin ialah karena kita tidak pernah mau mencoba,” katanya.

Pesan saya kepada seluruh BMI baik yang di  Hong Kong maupun  negara-negara  lainnya, “Sahabat,  bahagia itu sederhana, yaitu bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak  kita, bisa menjadi  istri  yang baik untuk suami kita,  serta menjadi anak yang baik untuk orang tua kita. Dan semua itu bisa terwujud hanya dengan satu kalimat,  pulanglah ke Tanah Air.  Dimana kalian bisa mewujudkan impian-impian yang sudah kalian susun selama ini,  karena apalah artinya sebuah impian dan cita-cita jika kita tidak berani untuk memulai, bagaimana  caranya mewujudkan cita-cita tersebut

Ingatlah  sewaktu  awal berangkat ke negeri orang, bukankah cita-cita kita itu cuma satu, yaitu ingin membahagiakan orang-orang  di sekeliling kita (membayar hutang, menyekolahkan anak,mencari modal) dll.   Dan pastinya, banyak di antara kita yang berkata ke anak, suami dan keluarga, kalau setelah itu terpenuhi kita akan pulang ke Tanah Air  dan hidup bahagia dengan keluarga. Tetapi kenyataannya, kontrak demi kontrak sudah terlewati dan ternyata apa yang kita harapkan belumlah terwujud,  karena sebenarnya cita-cita itu bisa terwujud ketika kita berani untuk memutuskan pulang ke Tanah Air.
Sudah berapa lama ? Berapa tahun dan berapa puluh tahun kita tinggalkan semua kewajiban merawat orang tua, suami serta anak-anak kita? Dan pernahkah kita menanyakan  ke mereka, apakah mereka sudah bahagia dengan apa yang sudah kita beri selama ini?
Yuk, kita wujudkan impian kita dengan memutuskan pulang ke Indonesia dan hidup bahagia bareng keluarga kita tercinta.



Dimuat Majalah Iqro, edisi 103

PROFIL BMI PURNA HONGKONG

Masa Depan TKI Ada di Tanah Air




Pertama  ia pulang ke Tanah Air langsung membuka usaha butik dan suaminya  membuka konter handphone.  Modal yang dibutuhkan saat itu berkisar  70 juta. Berhubung persaingan yang sudah sangat banyak, akhirnya butik dan konter pun gulung tikar alias tutup. Inilah kisah Endang Kueswanty, seorang TKI Purna yang pernah bekerja di Hong Kong, Mei 2005-Mei 2012.  Endang tidak down  dengan gulung tikar usaha yang dijalankannya.  Ia  justru bersemangat mencari usaha lain.

Setelah kejadian itu, mereka berdua mengambil langkah surview keliling kota tempat tinggalnya. Mereka mencari dan mencari ide usaha yang tepat untuk masa depan. Bisnis yang maju pesat.  Terinspirasi saat melihat ke toko laptop, lalu mereka browsing di internet mencari tempat pelatihan service.  Usaha  mereka  membawa hasil dengan menemukannya di kota Malang, Jatim. Akhirnya,suami Endang pergi ke Malang untuk menimba ilmu service laptop. Tidak cukup puas, mereka melanjutkan sekolah ke Jakarta lalu ke Solo.  Dan kini, jadilah mereka memiliki usaha service laptop/ doktor laptop, dengan nama “eStallcom”.

Alasan  memilih usaha ini, karena di Cilacap, tempat tinggal mereka banyak toko laptop tapi masih jarang tempat servicenya. Sekarang,  kemajuan usaha mereka  sangat bagus, dalam  jasa service maupun penjualan laptop /sparepart. Modal usaha ini cukup besar, berkisar 300
juta, namun penghasilan yang didapat melebihi gaji suaminya saat menjadi TKI Korea. Endang juga melayani kebutuhan anak-anak dari TKI Hong Kong yang berasal dari Cilacap. Anak-anak itu  datang  sendiri ke toko, memilih laptop yang dibutuhkan, lalu ibu mereka yang di Hong Kong tinggal mengirim uangnya. Dari usaha ini, Endang dan suami bisa menggaji  dua karyawannya di atas gaji UMR. Untuk mencapai ini semua, ia mengakui, dibutuhkan  investasi uang, waktu tenaga, dan pikiran.

Endang Kueswanty  lahir di  Cilacap 10 Mei 1985,  menikah dengan  Samijo bin  Achmadi dan dikaruniai satu anak yang diberi nama Meily Khumaira Hazizah.  Ia memutuskan ke Hong Kong untuk belajar mandiri dan cari modal.  Hal yang menyenangkan baginya saat bekerja di Hong Kong, adalah  bisa bertemu saudara setanah air, dari Sabang sampai  Merauke dan banyak  belajar terutama belajar mandiri. 



 Kemandirian adalah hal penting  dan merupakan salah satu modal dalam menjalani liku-liku kehidupan. Apalagi dalam dunia usaha, dimana persaingan semakin ketat.  Beberapa kegiatan yang ia ikuti ketika masih di Hong Kong, yaitu : karate, gitar, ikut seminar pengembangan diri yang diadakan sebuah organisasi pemberdayaan SDM ( LSO) lalu bergabung menjadi anggotanya. Disamping itu, ia juga membiasakan diri dengan membaca buku-buku positif.

Menurut Endang, kendala utama  sepulang dari rantau adalah merintis usaha tapi gagal.  Seperti yang telah dialaminya bersama suami, meskipun membuka usaha di Tanah Air adalah rencana utama yang dipersiapkan setelah mengakhiri masa kontrak kerjanya di luar negeri.  Tinggal di Tanah Air dan membuka usaha dari nol, ternyata bukan hal mudah. 


Dengan pengalamannya ini, Endang berpesan kepada TKI yang masih bekerja di Hong Kong, untuk tidak mensia-siakan  waktu. Mempersiapkan matang-matang  selama di Hong Kong,  karena tempat tinggal bagi TKI yang  sesungguhnya adalah di negeri sendiri. Masa depan TKI ada  di negara Indonesia tercinta. Dekat dengan kedua orangtua, dengan orang-orang  yang dicintai.  Itulah kehidupan yang sesungguhnya. 


Dimuat Majalah Iqro, edisi 104

PROFIL BMI PURNA KOREA SELATAN

Siapkan Mental Berwirausaha

 Dan Jiwa Marketing


Pendi  asal Subang – Jawa Barat, adalah sosok BMI Purna dari Korea Selatan. Bekerja di pabrik kabel selama 4 tahun.  Saat menjadi TKI ia memiliki “motto”  semangat bekerja dan rajin menabung.
Selain uang, Pendi  menyiapkan  mental berwirausaha dan jiwa marketing. Itu yang ia usahakan sebelum pulang ke Indonesia dan rencana- rencana usaha yang matang tentunya. Karena melihat perubahan zaman yang begitu, pesat,  sehingga pola pikir yang dulu mau berangkat pasti berubah dengan sendirinya. Jadi harus pandai- pandai melihat lingkungan di sekitar  dan mencari peluang usaha, serta memanfaatkan peluang sebaik mungkin. Inilah yang selalu ada dibenaknya sebelum pulang ke Tanah Air setelah  kontrak  kerjanya berakhir.

 Aktivitas yang dilakukan Pendi setelah pulang dari luar negeri, tidak menunggu lama.  4 bulan di rumah, langsung mengontrak kios  selama 2 tahun untuk berjualan pakaian wanita. Setelah 7 bulan berjalan, Pendi melirik ke usaha industri rumahan,untuk membuat keripik buah menggunakan mesin vacum frying. Usaha ini dijalankan berdua bersama sang istri dan tetangga.

Pilihan barunya diusaha kripik buah ini adalah karena di daerahnya Subang, masih sangat jarang dan bisa dibilang belum ada yang memproduksi keripik buah. Kebetulan Pendi tinggal di jalur Pantura. Banyak rumah makan yang menjajakan makanan ringan. Ini adalah kesempatan menurutnya.
Membangun usaha tak luput dari kendala. Sama seperti yang dialami Pendi. Kendala membangun usaha  yang  dihadapinya di antaranya, perubahan zaman yang bisa menggerus usaha, usaha tidak  bisa bersaing di pasaran, bahan -bahan mahal,  listrik mahal,  gas juga mahal, penjualan harus bisa bersaing dengan harga murah.



Solusinya yang diambil Pendi adalah dengan tetap  menjaga kualitas produk, kemasan yang bagus yang bisa bersaing di tingkat nasional, karena orang zaman sekarang kalau sudah melihat kemasan bagus, sudah tidak mempedulikan harga.  Mereka pasti beli!

Apa yang dilakukan Pendi sebagai TKI Purna tidak sia-sia.  Ceritanya, pada tahun 2003, awal berdirinya forum purna TKI Jabar.  Didirikan oleh Gubernur Jabar Ahmad Heryawan. Setelah itu diadakanlah  acara purna TKI Award setiap tahunnya.

Yang menjadi kriteria penilaian juri dalam acara purna TKI Award ini,  adalah, apa yang didapat oleh  seorang TKI dari luar negeri, bisa memanfaatkan hasil tersebut dengan mempunyai usaha sendiri dan bisa memberdayakan masyarakat dan lingkungannya. Tidak harus memiliki banyak uang karena itu tidak ada takarannya.

Pendi  telah melakukan itu, sehingga ia masuk dalam kategori penilaian juri dan lolos menjadi salah satu penerima award. Sekarang,  purna TKI Award diadakan dua tahun sekali, dan untuk purna TKI Award berikutnya akan diadakan pada 2017.




Sewaktu masih kerja di Korea, Pendi mengatakan, kalau kegiatan diluar jam kerja  hanya  berkumpul saja dengan  teman-temannya. Mereka sharing tentang kerja dan usaha  masing- masing yang ada di Indonesia.  Karena perusahaan yang  ditempatinya banyak jam kerjanya,  jadi sering lembur. Itu mengakibatkan  minim bisa mengikuti kegiatan sosial, paling  cuma mengadakan halal- bihalal.

Mengakhiri perbincangan dengan tim Majalah Iqro,  Pendi membagikan kiat-kiat khusus dalam menjalankan roda usahanya, yaitu  keikhlasan dalam berbagi ke masyarakat lingkungan sekitar seperti membagi sedikit penghasilan dengan mempekerjakan mereka, walaupun kita sendiri mampu mengerjakanya dan kita memberi  upah pada mereka.




“ Dan yang utama, yang banyak orang melupakanya, selama saya di  Korea, selepas terima gaji langsung saya potong  untuk zakat 2,5% dan saya pisah setiap  kirim uang ke Indonesia.  Saya  sertakan uang zakat itu  untuk di bagikan ke masyarakat lingkungan, terutama yang tidak mampu.  Semoga pengalaman spiritual yang saya alami  bisa diikuti oleh adik -adik yang  masih di perantauan sana.  Insya Allah, rezeki  yang kita dapat dari  luar negeri barokah”, pesan Pendi kepada sesama BMI.

2,5 persen sudah hampir 4 tahun  Pendi  terapkan  di Indonesia setiap tahunnya. Walau pun  nominalnya sedikit,  tapi ia  ikhlas membagikanya. Sedang  untuk   penghasilan  dari sawah
 ( padi ) itu 10% .

“Kenapa saya  membahas tentang zakat, karena  menurut saya  itu kunci menuju sukses. Semoga adik -adik kita di luar negeri  bisa menjalankan kewajiban zakat karena Allah, Amin”, tambah Pendi.

Dari kisah diatas, kita bisa mengambil kesimpulan, meskipun  saat bekerja di luar negeri kurang beraktivitas karena jam kerja yang padat, hal tersebut tidak menghalangi seseorang untuk  membangun dan meraih kemandirian  di Tanah Air. Yang penting  sebelum memutuskan pulang ke Tanah Air, telah menyiapkan mental menjadi wirausaha dan memahami hal-hal yang ada didalamnya. 

Dimuat Majalah Iqro, edisi 105 - Mei 2016 

PROFIL BMI PURNA MALAYSIA

Kenaikan Gaji, Tak Urungkan Niat Asmadi Pulang Ke Tanah Air


Asmadi,  lahir 22 Pebruari 1970 lalu.  Ia  adalah TKI Purna Malaysia yang  tinggal di Jatitengah Sukodono, Sragen -Jawa Tengah.  Merasa terlahir  dari keluarga yang kurang mampu dari segi ekonomi, membuatnya  bingung  harus melakukan apa setelah lulus SMA. Dari kebingungan itulah, ia bertekad segera bekerja.
Keinginan  Asmadi bisa membantu  biaya sekolah adik-adiknya, membuat ia mencoba peruntungan  pergi ke Depnaker. Disitulah ia menemukan  pengumuman peluang kerja di Malaysia. Ia  akhirnya  mendaftar dan lolos.

Kenapa Asmadi memilih menjadi TKI? Ia mengaku pada saat itu tidak mempunyai  modal uang yang cukup, maka Malaysialah menjadi tumpuannya.  Keberangkatannya  kala itu  dibiayai  oleh perusahaan  yang  akan menjadi tempatnya bekerja alias gratis !

Asmadi bekerja di perusahaan Ply Wood/kilang  papan, yaitu  di Manu Ply Wood SDN BHD. Ia  sampai di lokasi pada tanggal 9 Desember 1991. Istirahat 1 malam, besuknya langsung mengikuti  training di tempat kerja. Mengawali karir dari karyawan biasa lalu naik menjadi operator, kemudian menjadi foreman, sampai pada akhirnya, ia menduduki posisi sebagai kepala bagian dari Departemen Personalia.  Ia tapaki  karir  tersebut dari tahun ke tahun. Dari lulusan anak SMA yang belum tahu apa-apa, akhirnya mampu memegang banyak tanggungjawab di tempatnya bekerja : Malaysia!

Asmadi diberi amanah untuk menjaga semua fasilitas  untuk karyawan  yang tinggal di perusahaan itu, termasuk supermarketnya. Dari sinilah ia belajar banyak  hal tentang bisnis.  Ia diajari managernya, bagaimana orang China itu bisa berhasil menjalankan bisnis di segala bidang.

Yang sangat mendasar dan tidak bisa Asmadi lupakan dari ingatannya,  adalah jika mau memulai bisnis, ada  dua  masalah yang harus diketahui. Pertama  mengetahui  kemauan masyarakat dan  yang kedua mengetahui kemampuan masyarakat. Dari  dua masalah tersebut, baru  bisa mengambil keputusan, mau usaha apa dan  bisa mengukur harga jualnya. Itulah dua ilmu yang   ia terapkan setelah pulang ke Tanah Air.
Meskipun saat itu Asmadi masih berada di Malaysia, ia sudah memikirkan bagaimana nantinya di Indonesia.  Tidak  menunggu  pulang  dulu baru berpikir mencari dan menyusun  rencana.

2005 tepatnya, Asmadi mulai menyiapkan  apa saja yang harus ia lakukan  untuk  persiapan membuka usaha  di Indonesia. Ia brosing internet  disetiap waktu longgarnya. Selalu belajar dan belajar dengan internet  tersebut untuk mencari  peluang usaha.



 Ia menemukan dua peluang usaha, yaitu  yang pertama penyulingan  minyak dari  daun cengkeh, nilam, serai, kayu putih, dll. Dan peluang usaha yang kedua,  adalah produksi kripik buah  dari nangka, nanas, salak, papaya.

Hasil penemuan Asmadi  itu  diskusikan dengan teman, saudara dan orang-orang yang lebih berpengalaman darinya. Akhirnya ia memilih usaha kripik buah. Saat itu, ia masih kurang  sreg, lalu ia survei  kecil-kecilan melalui media chating. Dengan  media ini,  bisa kenal teman diberbagai daerah yang ada di Indonesia bahkan dunia. Ia chating dengan teman-teman yang berasal dari Aceh hingga Irian Jaya. Dalam chatingnya, ia lontarkan dua pertanyaan, “ Di daerah bapak/ibu, mbak/mas, sudah ada kripik buah apa belum? Kalau sudah ada, berapa harganya?”

Jawaban dari dua pertanyaan itu adalah belum ada, kalau pun ada harganya mahal.   Dari situlah Asmadi mengambil kesimpulan, kalau mendirikan usaha kripik buah, peluangnya masih bagus.
Ia putuskan membuka usaha kripik buah di Indonesia, tapi sebelum itu, ia curhat kepada keponakannya yang kuliah di IPB. Keponakannya ini sangat mendukung keputusan Asmadi dan berjanji akan  membuatkan mesinnya, karena di IPB juga mempelajari hal itu.

2008, Asmadi mengajukan  permohonan  berhenti  bekerja ke perusahaan, namun  ditolak. Ia tak patah semangat terus berusaha mengajukan permohonan. Asmadi dijanjikan bahkan dinaikkan gajinya, tetapi itu tidak menyurutkan niatnya. Akhirnya,  8 Januari 2009, ia resmi berhenti dan langsung  pulang ke Tanah Air.



Tekad sudah bulat untuk mengubah kehidupannya yang setiap hari bekerja untuk perusahaan, dan posisinya di Malaysia tidak bebas. Tidak bisa berbuat sesuatu untuk masyarakat umum. Kalau pun bisa keluar  itupun belum pasti, hanya  seminggu  sekali. Ia juga merasa, sudah lama menikmati zona nyaman bekerja enak, gaji cukup sehingga tidak ingat waktu. 18 tahun sudah, ia mengabdi pada perusahaan tempatnya bekerja. Waktu yang tidak bisa  dikatakan  sebentar. Dua hal di atas adalah alasan Asmadi pulang. Selain itu, ia terinspirasi oleh teman-temannya di kampung yang tidak bekerja di luar negeri tapi bisa juga beli motor, mobil,dll.

Sesampainya di rumah,  Asmadi berkoordinasi dengan adiknya untuk mendatangkan mesin yang dibutuhkan. Kurang lebih 1 bulan, mesinpun datang dan ia pun langsung belajar/mengoperasionalkannya. Ternyata tidak  semudah teorinya. Banyak  kendala dan permasalahan  yang  dihadapi. Dari masalah produksi hingga masalah  kemasan, meskipun akhirnya ia menemukan aluminium foil sebagai solusinya.
Kendala lainnya  adalah  terkait perizinan. Punya  produk  dengan kemasan  bagus tapi tidak punya izin jadinya tidak laku dijual. Asmadi pun mengurus perizinan usaha kripik buahnya sendiri, karena ia ingin mengerti birokrasi dinas Sragen. Perizinan meliputi TDP, TDI,SIUP, dan Dinkes. Setelah  semua  selesai, produk pun siap dipasarkan dan diterima oleh masyarakat.

Asmadi melanjutkan langkah berikutnya, mengadakan perjalanan  menjadi marketing. Keliling menawarkan  produk. Ia mulai dari kawasan kabupaten di daerahnya sendiri lalu ke berkembang ke  Solo Raya dan daerah lainnya. Juga membuka jejaring dengan menghubungi teman-teman yang berasal dari Jawa dan Kalimantan.  Teman-teman yang dikenalnya  ketika masih bekerja  dibagian personalia saat di Malaysia.
Kemudian  Asmadi kenal perkumpulan KAMI (Keluarga Migran Indonesia) dan ia mengikuti pelatihan-pelatihan marketing, serta juga  kenal dengan orang-orang baru. Ditempat ini  menjadi ajang penjualan produk baginya. Selain itu, ia juga menjalin hubungan  dengan dinas di Sragen, salah satunya adalah UMKM Sragen. Dari situlah, kemudian ia mengikutsertakan hasil usaha kripik buahnya  yang diberi nama  “ Setia Usaha Mandiri”.



Setelah banyak  orang  yang kenal usaha ini, Asmadi  menyediakan waktu mengadakan pelatihan-pelatihan untuk membuat  produk-produk makanan. Dalam hal ini, ia pernah bekerjasama dengan PNPM, BP3TKI, PERPUSDA, KAMI.

Selain  usaha kripik buah, kini Asmadi juga menjual peralatan-peralatan pendukung produksi UKM lengkap dengan pelatihannya. Dari usaha kripik buah ini, ia menghasilkan omset 5 juta tiap bulannya. Pernah juga mendapat omset 24 juta  dalam 1 bulan, ketika kirim produk ke Kalimantan (Pangkalabun). Penghasilan ini belum termasuk hasil penjualan mesin-mesin pendukung usaha.

Asmadi sangat bersyukur, pernah menjadi TKI, karena dari profesi itulah, ia  bukan saja mendapat uang, tetapi juga membawa banyak ilmu dan pengalaman. Selama bekerja di Malaysia, ia belajar banyak hal, di antaranya bagaimana mengenal karakter, bagaimana  berbicara di depan umum, memanage pekerjaan, juga ilmu bisnis. Apa yang ia dapatkan ingin  dibagikan kepada orang lain yang membutuhkan. Bahkan, ada orang yang dibimbingnya mendapatkan omset lebih besar darinya. Disitulah ia merasakan kebahagiaan, karena hidupnya bermanfaat buat orang lain.

Pesannya kepada teman-teman TKI dimana pun berada, untuk menggunakan waktu sebaik mungkin  saat bekerja di luar negeri dan jangan berfoya-foya. Tidak menuruti kesenangan sesaat agar  ketika pulang ke Tanah Air, tidak hanya dengan tangan kosong. Bekerja di luar negeri adalah kesempatan  mengumpulkan  modal. Kemudian, bertemanlah dengan orang-orang yang berprestasi supaya mempunyai  jejaring yang  bisa memberikan wawasan kehidupan lebih baik. Juga persiapkan rencana apa yang akan dilakukan setelah pulang ke Indonesia, tentunya dengan memanfaatkan waktu luang untuk belajar walaupun hanya lewat internet. Agar setelah pulang ke Tanah Air, tidak kembali lagi merantau.  

Dimuat Majalah Iqro, edisi 106- Juni 2016

PROFIL BMI PURNA MALAYSIA

Dari Perpustakaan, Ide Bisnis  Nanik Sukoco Muncul


Menjadi anak buruh tani biasa, membuat Nanik Sukoco hijrah ke negeri jiran, Malaysia. Dari tahun 1999 sampai 2004. Nanik bekerja jadi satu dengan kakaknya di perusahaan Plywood bagian quality control. Harapannya, dengan merantau ia bisa mewujudkan keinginannya memiliki motor, memperbaiki rumah, punya kehidupan yang layak  dan keinginan-keinginan lainnya.  Inilah kisah Nanik Sukoco, BMI Purna yang berasal dari  Ledok, Rt 7 Rw 3,Mojorejo, Karangmalang, Sragen-,Jateng 


Pada 2002, Nanik menikah kemudian ia kembali ke Malaysia bersama suaminya, yang kebetulan bekerja di perusahaan yang sama. Setelah 2 tahun menikah, ia punya anak, lalu memutuskan kembali ke Indonesia menempati sebuah rumah hasil jerih payahnya bersama suami selama 2 tahun di Malaysia. Sejak itu, ia menjadi ibu rumah tangga sejati.

Setelah anaknya besar, Nanik membuka usaha toko kelontong dan baju. Karena merasa kurang disibukkan dengan dua usaha itu, ia  membuka usaha krupuk dan lancar. Dititipkannya  krupuk tersebut  dimana-mana. Namun semua usaha itu ia hentikan ketika hamil kedua pada 2011, karena kondisi kesehatannya  tidak memungkinkan.

            Setelah anak keduanya agak besar, Nanik mencoba menyewa ruko yang terletak di depan RS. Islam Amal Sehat Sragen. Ia buka warung makan dengan modal 20 juta. Karena harus bolak-balik sepanjang 8 km, ia tidak kuat. Juga kasihan kepada anak-anaknya  yang tidak mendapat perhatian penuh, akhirnya usaha itu dihentikannya.Ia fakum total.


Genap 2 tahun tanpa kegiatan, selain mengurus rumah dan anak, Nanik merasa jenuh dan ia tidak tahu harus membuka usaha apalagi, karena semua usaha yang pernah dicobanya gagal meskipun sang suami selalu mensupport. Akhirnya Allah memberi petunjuk, ketika Nanik mendapat undangan seminar tentang wirausaha. Dengan keraguan yang tersisa, ia datang ke seminar yang diadakan oleh perpustakaan daerah Kabupaten Sragen yang bekerjasama dengan CCFI (Coca Cola Foundation Indonesia ) dengan progamnya yang bernama Perpuseru Indonesia.
Tema seminarnya  “Memulai Usaha Sekarang Juga”. Diadakan pada 22 Desember 2013 dengan narasumber seorang motivator dan penulis buku Zero To Super Hero, Sholikin Abu Izuddin.

“Siapa super hero?”, tanya nara sumber saat itu.
“Saya !,” jawab semua peserta.

Nanik hanya bisa menunduk sedih sambil menangis, karena ia merasa saat itu tidak memiliki usaha apa-apa.  Setelah kejadian itu, Nanik rajin ke perpustakaan yang berjarak sekitar  15 km dari rumahnya. Ia belajar banyak disana, apalagi pegawainya ramah-ramah. Ia merasa nyaman ditempat tersebut.

Dari perpustakaan itu, muncullah sebuah ide bisnis, yaitu membuat kripik. Nanik mempelajarinya dari internet yang tersedia di perpustakaan, belajar dari buku-buku juga diajari temannya. Lalu ia praktekkan di rumahnya. Sedikit demi sedikit, ia promosikan di kantor-kantor kota Sragen. Hasilnya, mereka menyukai kripik tersebut.

Akhirnya, Nanik Sukoco mendapat bantuan dari  Dinas Perinkop untuk mendapat izin usaha agar produknya bisa masuk supermarket. Ia memberi nama produknya” Green Heart”. Ada kripik pare, kripik daun seledri, kripik daun sirih dan kripik daun singkong. Aktivitas ini didengar oleh CCFI dan sejak saat itu banyak kegiatan yang ia ikuti, di antaranya belajar tentang kemasan, pemasaran, manajemen,  membuat facebook, dll. Setiap dapat ilmu baru, selalu diajarkannya  kepada ibu-ibu yang lain, dan ia mengajak mereka  datang ke perpustakaan untuk belajar pula.

Berbagai undangan keluar daerah datang dari CCFI. Salah satunya di Hotel Earpark  Jogyakarta.  Disini digelar acara lomba antar perpustakaan Kabupaten se Indonesia yang berlangsung selama 3 hari, dan  Sragen menjadi pemenang dalam positive deviance. Positive deviance maksudnya adalah kegiatan yang positif tapi menyimpang. Menyimpang dalam arti kata, bahwa perpustakaan itu tidak hanya untuk membaca dan meminjan buku saja, tetapi juga bisa sebagai  tempat pusat kegiatan masyarakat. Tempat berkumpul berbagai komunitas, sehingga bisa muncul wirausaha dengan  berbagai kegiatan positifnya di perpustakaan. Dalam acara itu, Nanik Sukoco hanya bertugas memberikan testimoni manfaat perpustakaan. Selain lomba  juga diadakan pameran produk.

Dari acara yang digelar di Jogya itu, ada 5 desa terpilih dan mendapatkan 3 unit komputer lengkap dengan internetnya. Komputer tersebut ditaruh di kantor kelurahan agar masyarakat bisa mengaksesnya. Perlengkapan ini tersebut dikelola  Nanik hingga sekarang. Selain mengurus perpustakaan, membuka usaha kripik, mendampingi  pembudidayaan  jamur  yang  diadakan oleh BP3TKI, juga terlibat di PAUD, kegiatan anak SD serta orang dewasa/ibu-ibu.
Untuk PAUD, mengadakan lomba mewarnai. Untuk usia SD mengadakan pelatihan ketrampilan dalam menggali bakat anak, seperti membuat kreasi kertas kokuru, membuat kaligrafi dari semen gifsun,dll. Sedang untuk orang dewasa/ibu-ibu,  mengadakan pelatihan membuat bros, merangkai bunga acrylic, kotak tisu, hias toples, pelatihan kuliner ( burger dan bakso jamur).
Dari sekian kegiatan yang dilakukan Nanik Sukoco ini, mengundang penasaran media untuk mengetahuinya lebih dalam, di antaranya Tabloid Wanita Indonesia, Jawa Pos, Gatra.
Pada tanggal 18 Mei 2015 lalu, ia diundang ke Bali dalam acara Peer Learning Nasional. Mewakili perpustakaan desanya, dan ia mendapat juara 1.


Kenapa dipilih Gunung Kidul? Sengaja dipilih lokasi tersebut, karena disana ada seseorang yang punya semangat membara dalam mengelola perpustakaan desa. Mendapat bantuan 3 unit komputer, dan dengan itu daerah yang terkenal gersang ini disulap. Mengubah tanah gersang menjadi lahan yang subur dilakukan oleh masyarakat disana setelah mereka belajar dari internet  cara-caranya.

Nanik  sebagai relawan mengelola perpustakaan desa '' Permata Ilmu ''  yang terletak di Desa Mojorejo, Karang Malang, Sragen –Jawa Tengah ini,  punya tujuan mengubah pandangan orang tentang perpustakaan yang mereka anggap sebagai tempat hanya untuk membaca, tempat sumpek, membosankan, dll. Kini berganti dengan perpustkaan itu tempat belajar, menimba ilmu dengan didukung fasilitas internet lengkap sebagai pusat kegiatan masyarakat secara gratis.

Apa yang Nanik dapat dan hasilkan saat ini, berawal dari perpustakaan. Yang dulunya hanya seorang ibu rumah tangga biasa dengan rutinitas itu-itu saja, sekarang bisa lebih bersumbangsih kepada masyarakat luas. Selain kegiatan mengelola perpustakaan desa, Nanik juga aktif sebagai sekretaris di organisasi KAMI Sragen yang didirikan pada tanggal 19 Maret 2014. Diresmikan di perpustakaan daerah Kabupaten Sragen. Awal dibentuk memiliki 50 orang anggota, dan kini sudah bertambah menjadi 130 orang. Di KAMI Sragen ini juga sudah didirikan  pra koperasi yang saat ini dalam proses  pengurusan legalitas dari Dinas Perkoperasian. Tiap anggota iuran 200 ribu rupiah sebagai modal awal  pra koperasi tersebut, lalu menyerahkan setoran wajib sebesar 10 ribu per bulannya. Sudah berjalan Sembilan bulan.



 Nanik Sukoco, BMI Purna Malaysia yang dulunya hanya bisa mengandalkan gaji sang suami, kini bisa membantu menambah penghasilan keluarga dari hasil penjualan kripiknya. Yang awalnya  menghasilkan 7 ratus ribu, kini meningkat menjadi 3.5 juta- 4 juta dengan laba bersih 2-2.5 juta per bulan. Ia tidak mau menjadi TKI lagi karena kini sudah mempunyai usaha kripik dan ia yang menjadi bos dari usaha itu. Lebih enak di negeri sendiri daripada dirantau.


Mengakhiri perbincangannya dengan tim Majalah Iqro, Nanik titip pesan untuk semua BMIyang masih bekerja dirantau untuk menjadi BMI yang cerdas, yang bisa menjaga diri, selalu ingat niat awal mencari nafkah, dan menetapkan batas berapa tahun harus bekerja di negeri orang, karena negeri sendiri juga menanti.




Dimuat Majalah Iqro, edisi Juli 2016