Jumat, 29 Mei 2015

Kisah Moli, Kucingku

Moli, adalah panggilan buat kucingku. Nama lengkapnya Bimoli. Nama itu pemberian Iid putra bungsuku. Moli kini sudah besar, bulunya tumbuh lebat, mengkilap dan lembut. Rupanya terlihat tampan di dunia perkucingan.
Moli aku temukan waktu fajar, tepat di depan rumah pemotongan sapi yang terletak di Jl. Adi Santoso, Ardirejo Kepanjen Malang. Saat aku pulang dari jalan-jalan pagi, tiba-tiba, seekor anak kucing menghampiriku. Aku terus saja berjalan tidak menghiraukannya, tetapi dia terus mengikutiku sambil mengeluarkan suara meong..meong. Suara yang memelas. Ach, entahlah! Mungkin itu hanya perasaanku saja, melihatnya terus mengejarku.

Akhirnya, aku dekati dia, ku lihat jenis kelaminnya, dan ternyata jantan. Aku memutuskan membawanya pulang, dengan pertimbangan jenis kelaminnya jantan dan cuma satu ekor.

Sesampai di rumah, langsung aku masukkan ke kandang kucing yang saat itu dipakai Miji, kucingku yang lain. Miji tidak bersahabat dengan pendatang baru. Ketika dia melihat ada kucing lain masuk rumah, ia akan menunjukkan ekspresi menantang seolah mengajak berkelahi. Membuka mulutnya lebar-lebar sehingga tampak gigi-giginya. Terkadang sambil mengangkat tangannya siap untuk memukul lawan. Miji tipe kucing pencemburu, menurutku. Mungkin ia takut kehilangan perhatian dan kasih sayang dariku. Tapi kini, Miji sudah tiada.


Kehadiran Moli ternyata tidak dikehendaki anggota keluarga yang lain. Entah karena di rumah sudah ada dua kucing atau mungkin ada alasan lain. Tetapi, yang ku dengar baru-baru ini, adalah karena Moli suka BAB di sembarang tempat, matanya rembesen, suka ramai ketika ditaruh dalam kadang, minta dikeluarkan.
Bahkan, Moli sempat mau dibuang karena hal tersebut, tanpa sepengetahuanku.

Sekarang, Moli sudah jauh berbeda dengan waktu kecilnya. Anggota keluargaku  satu-persatu mulai menyukainya. Mungkin karena ulahnya yang lucu tapi terkadang menjengkelkan. Bagaimana tidak menjengkelkan, karena Moli  punya kebiasaan usil. Barang-barang yang ada di dapur, seperti serbet, spon cuci piring, empon-empon, lombok dllnya, bisa berpindah tempat. Sehingga seringkali penghuni rumah kebigungan dibuatnya.

Misal, ketika mau  kora-kora, sponnya raib, mau ngelap dapur, serbetnya sudah pindah ke bawah meja makan.  Bahkan sekarang ini, barang-barang tersebut diatas, bisa pindah ke kamar tidur ^_^.
Kenakalannya yang suka nggondol barang-barang yang ditemuinya semakin beragam. Ada kaos kaki, tissu dll. Kalau pas ada tamu, layaknya anak kecil, ia akan ikut njagong, bahkan kadang langsung tidur di pangkuan tamu.

Satu lagi ulah Moli yang kadang membuat naik pitam anggota keluarga di rumah, saat enak-enak tidur, Moli tidak segan-segan menggigit. Dia akan mencari anggota badan yang tidak tertutup. Karena giginya tajam, gigitannya lumayan sakit di kulit, bahkan kadang bisa luka. Mesti dipukul pakai penebah, dijewer, Moli tidak gentar. Ia terus saja menyerang. Mungkin ngajak guyon. Heran juga, kok sekecil itu sudah tahan sakit. Apa karena sudah terbiasa guyon dengan Manis, kucing besar yang ada di rumahku juga ya?

Manis seringkali mengajak Moli bermain kejar-kejaran, tindih-tindihan, cakar-cakaran. Kadang sampai Moli mengeluarkan bunyi "ngek". Mungkin keinjak tubuhnya Manis yang tambun. Ach, yang namanya kucing, mereka tetap saja  dengan aktivitasnya walau sudah dilerai. Sepertinya, kebiasaan ini yang membuat Moli tahan sakit. Walau dijewer kupingnya, dipukul pakai penebah atau tangan, bukannya lari menghindar, malah maju menyerang.

Setiap hari, Moli ikut sibuk dengan  semua kegiatanku. Ketika ke dapur, ia akan ikut masuk, memperhatikan apa yang aku kerjakan. Kadang ia sibuk dengan dirinya sendiri dengan mengambil  satu macam bumbu dapur  lalu dibuatnya mainan. Kadang memperhatikan aku saat kora-kora, lalu cangkruk dikursi melihat air koraan yang mengalir  ke lubang pipa sambil kepalanya digerak-gerakkan ke bawah, ke atas dan ke samping, kayak lagi memikirkan sesuatu, " Ini apa ya?". Mungkin itu yang ada dalam pikirannya.

Saat aku  mengerjakan sesuatu di kamar mandi pun, ia ikut masuk,  tidak takut basah. Kalau tidak masuk, ia akan menungguku di pintu kamar mandi sampai aku keluar.  Bila ia tidak melihatku saat keluar karena tertidur, saat terjaga, ia akan bengok-bengok keras. Menurutku, dia senang memanggil dan mencariku karena tidak ada lagi di kamar mandi. Ia akan diam setelah mendengar suaraku memanggilnya. Lalu ia mendekat sambil matanya tajam manatapku. ^_^

Seperti anak kecil yang serba ingin tahu, itulah Moli. Enak-enak tidur pulas, ketika tahu aku pergi ke ruangan lain, sekejap kemudian, ia sudah menyusul.



Kini, kelucuannya bertambah lagi dengan adanya  kucing  bayi di rumahku. Kucing  bayi yang aku bawa pulang karena ditinggal induknya. Karena belum bisa menguyah makanan, maka aku kasih minum susu. Itupun aku tanya dulu sama embah Googel.  Entah karena cemburu atau usil, saat Moli tahu aku kasih susu  ke kucing bayi, ia ikut serta. Saat menginginkan susu, yang dilakukannya adalah memasukkan kaki kanan bagian depan ke dalam gelas. Ia celupkan ujung kakinya ke permukaan susu, lalu mengangkatnya dan menjilatinya.Karena ia tahu, aku sedang sibuk memberi susu pada kucing bayi.

Kenakalan Moli makin bertambah dengan adanya kucing bayi tersebut. Saat aku melarangnya untuk mendekati  kardus tempat kucing bayi tidur, ia sengaja mencari kelengahanku. Mendekatinya lalu masuk ke dalam dus. Otomatis kucing bayi bengok-bengok. Kadangkala Moli mengeluarkan kucing bayi dari dalam kardus dengan menggigit lehernya layaknya induk kucing. Diajaknya bermain padahal masih sangat kecil. Kalau sudah begitu, gantian aku yang bengok-bengok. Moli..Moli....^_^




Kamis, 28 Mei 2015

Profil BMI Hong Kong, Bustomi




“Bekalnya nekad. Bagaimana tidak, lawong apa-apa nggak bisa. Masak nggak bisa, kerjaan rumah juga nggak pernah ngerjain kecuali cuci baju….”



Sekelumit kisah dari seorang BMI Hong Kong, dialah Bustomi. Anak ketiga dari lima bersaudara. Bapaknya bernama Soebirin dan ibu Hartini. 2003 ia menginjakkan kaki di negeri Andy Lau  hingga sekarang.  Lahir pada tanggal 20 Juli 1978 di kecamatan Kudu kabupaten Jombang, Jawa Timur.  Bustomi adalah sosok BMI yang cukup menginspirasi banyak orang, karena berani menyuarakan pemikirannya kepada publik, baik secara langsung bertatap muka maupun di dunia maya. Ia memiliki pemikiran yang cukup tajam dalam melihat suatu kejadian. Dia pun mampu mengkoordinir kawan-kawan BMI lainnya dalam membentuk sebuah kegiatan positif di Hong Kong. Dengan gaya khas yang tak lepas dari seulas senyum, Bustomi mampu menjadi moderator dalam berbagai kegiatan. Melihat sepak terjangnya selama ini, Bustomi bisa dikatakan sebagai BMI yang memiliki visi.

Visi adalah sesuatu yang hanya bisa dilihat dengan pikiran. Tidak semua orang memiliki visi dalam hidupnya karena visi hanya bisa  didapat dengan banyak upaya. Dan Bustomi telah banyak melakukan pembelajaran dalam perjalanan hidupnya. Jatuh bangun sudah ia alami dan ia terus berbenah menjadi pribadi lebih baik dari waktu ke waktu. Ketika ia melakukan kesalahan, tak segan dan malu mengakui dan meminta maaf. Satu sikap terpuji yang perlu dicontoh. Menyimak catatan hidupnya, siapa pun bisa  mengambil kesimpulan tentang hal yang tersebut di atas.
 Dari alasan sederhana, ingin memiliki sepeda motor, karena saat itu sedang terjadi krisis moneter di Indonesia,  Bustomi memutuskan menjadi BMI. 

Lepas sekolah tinggi D3 jurusan informatika. Namun predikat itu tak mampu membantunya menemukan pekerjaan dengan gaji  tinggi. Tak ada cara lain, kecuali nekad menjadi BMI, walau kabar yang beredar, menjadi BMI rentan penyiksaan.

Dengan berbekal kenekatan, Bustomi bekerja ke luar negeri karena apa-apa  tidak bisa. Yang ia bisa hanya cuci baju. Namun ia punya keyakinan bahwa  pasti bisa. Dalam pemikirannya, pekerjaan rumah tangga pasti bisa ia lakukan, karena pekerjaan itu tidak perlu skill khusus. Kita cukup belajar dan melakukan.” Iya tho? Masak sih, ngepel, nyapu, masak nggak bisa?”, ungkap Bustomi sambil tertawa.

Untuk menjaga bayi dan orang tua, Bustomi akan diajari di PJTKI, kata orang yang memperkenalkannya untuk bekerja menjadi BMI ( baca: sponsor). Sebelum ke Hong Kong, ia bekerja di Singapura. Di sana, ia banyak mendapat hal-hal baru. Bukan saja bekerja mencari uang, ia juga bisa belajar bahasa Inggris, karena memang mayoritas BMI yang bekerja di sana memakai bahasa Inggris sebagai alat komunikasi. Meskipun tidak bagus-bagus amat, ia selangkah lebih maju bila dibanding sebelum merantau menjadi BMI.

Bustomi  bisa masak, maka,  sang bos mengatakan ia jago masak, padahal dulu tidak bisa. Bisa nyapu, ngepel, nyuci baju pakai mesin cuci, bisa memotong rumput, ngecat tembok pun bisa. Ia lakukan itu semua dari nol. “Betul tho? Pekerjaan itu bisa kita kerjakan, bila kita punya keyakinan”, imbuh Bustomi.

Dua  tahun lebih di Singapura, tak menyurutkan minatnya untuk mencoba peruntungan di Hong Kong, tergiur gaji dan libur. Dengan sedikit sombong. Kok bisa dibilang sombong? Ya, iyalah, karena bisa bahasa Inggris, bisa masak, bisa ini dan itu. Sampai di Hong Kong jadi sok pintar, sok tahu, apa-apa jawabnya okay, I know, padahal salah. Ia samakan karakter bos di Singapura dan di Hong Kong, padahal beda.  Keminter, karena ia merasa bisa, itulah gambarannya saat itu. Ia baru sadar ketika diinterminite karena kekeminterannya itu.

Ia menyadari  kesalahannya karena kekeminteran dan kesombongan  hanya karena sudah merasa bisa melakukan pekerjaan di Singapura dengan nilai bagus. Ini sebuah pelajaran bagi teman-teman saat diinterminate, jarang sekali dari mereka yang menyadari kesalahannya, meski tidak semua begitu, karena ada juga bos yang seenaknya bersikap terhadap pembantunya, yang menyebabkan seorang BMI mengundurkan diri dari pekerjaanya sebelum finis dan ada juga yang diiterminate.

Meskipun diinterminate, ia tidak kapok, untuk mencoba lagi. Dengan memulai dari nol , ia mulai berpikir tentang memperhatikan karakter bos baru, kesukaan dan kebiasaannya dengan lebih hati-hati. Inilah sedikit gambaran tentang perbedaan kultur di setiap negara yang kadang terlupakan dari pemikiran BMI. Sehingga akhirnya mereka menuai badai masalah. Sama halnya dengan kultur budaya negara asal BMI dengan negara tujuan kerja.

 Ia menyimpulkan, perbedaan orang Hong Kong adalah, suka bicara di depan, cepat marah tetapi cepat reda. Sedang  kebiasaan orang Indonesia lebih suka memendam  amarah dalam hati. Dimarahin sedikit menangis, merasa nelongso. Dan dari itu semua, ada budaya orang Hong Kong yang sulit ditiru, yaitu budaya sabar saat antre, karena ketika kita sendiri antre, ternyata sambil berisik. Sulit memang, tetapi  dengan melatih diri terus- menerus dan menanamkan kesadaran, sesulit apapun budaya itu, kita akan bisa menerapkannya.Perbedaan budaya di setiap negara, perlu diketahui oleh BMI apalagi masih berstatus calon BMI. Kelihatannya sangat sepele, tetapi justru mengandung arti penting untuk kesuksesan di rantau.

Peraturan kerja di Hong Kong, mendapat libur 1 kali dalam seminggu dan ternyata waktu itu digunakan oleh Bustomi untuk beraktivitas. Bicara tentang aktivitas, ia pun punya segudang kegiatan. Ia tidak memungkiri, awal kerja di Hong Kong, keuangannya  amburadul entah kemana.  Tahu sendirilah, bagaimana Hong Kong, begitu menggoda, tapi satu catatan ia tidak pernah terjerat bank. Saat libur yang  ia suka adalah mampir ke toko buku dekat warung Malang yang terletak di Causeway Bay. Hampir tiap minggu pasti ia ke sana melihat adakah buku bagus, sampai pada suatu saat, ia kenal dengan Network marketing (baca: MLM), mainan baru baginya.

Inilah awalnya Bustomi belajar leadership serta publik speaking. Dan dari sana ia mulai berpikir, karena  di MLM itu mau tidak  mau pelakunya  harus membaca buku-buku yang bagus,  pembicara yang diundang untuk sharing pengalaman dalam berbisnis  juga bagus . Pikirannya, wah, andai teman-teman yang ada di Victory Park, yang sedang liburan dapat kesempatan berinteraksi dengan guru-guru dan   penulis buku  itu. ? Dan akhirnya, bersama teman-teman sevisi sepakat bernaung dalam satu organisasi dan  tentu saja niat utama adalah belajar. Dari situlah, ia memulai sepak terjangnya dalam mengubah mindset BMI. Mindset adalah hal penting dalam perjalanan hidup seseorang, apapun status  pekerjaannya. Mindset merupakan ujung tombak untuk sebuah kemajuan. Mindset yang salah akan mempersulit seseorang meraih suksesnya. Untuk memiliki mindset yang benar, dibutuhkan kesadaran untuk belajar lalu mengaplikasikan apa yang dipelajarinya.

Setiap orang punya alas an dalam bertindak, termasuk Bustomi. Yang menjadi dasar aktivitasnya,  tidak ada niat lain selain belajar bersama serta mengenalkan ilmu baru yang dimiliki para pembicara.  Waktu itu, 2009 masih asing istilah training/ seminar, karena kegiatan yang ada hanya pengajian. Disamping berpikir tentang belajar kepada para guru besar,  ia dan teman-temannya  juga mempunyai  ide meminjamkan buku. Buku-buku yang dimilikinya  lumayan banyak,  jadi dipinjamkan daripada hanya ditaruh didalam koper saja. Diharapkan, dengan memijamkan buku tersebut, akan  tumbuh gairah membaca di  kalangan BMI Hong Kong.  Istilahnya membudayakan membaca dikalangan BMI. Tiap minggu pagi mendorong troli dengan ratusan judul buku lalu  nongkrong di markas yang terletak dibawah jembatan, dari pagi hingga sore melayani teman-teman yang ingin membaca.



2012 budaya baca lumayan tumbuh pesat di kalangan BMI Hong Kong.  Bustomi melihat perkembangan ini dari daya beli buku yang meningkat. “Salah besar rasanya, kalau  kita datang ke  Hong Kong, lalu tak memanfaatkan waktu untuk belajar. Belajar apa saja untuk bekal kala kita kembali ke tanah air”, katanya. Selain berkecipung di dunia pengembangan diri, ia juga terjun di dunia politik. Ia gunakan hak sebagai warga Indonesia meskipun keberadaanya dirantau. Ia juga gentol mengajak BMI lain untuk ikut donor darah. Selain itu juga beraktivitas dengan belajar memainkan alat music biola, karena kegemarannya pada musik, serta meluangkan waktu menjelajah tempat-tempat wisata yang bernuansa pegunungan saat public holiday. Selain untuk olahraga, juga untuk melihat keindahan Sang Pencipta dan bagaimana pemerintah Hong Kong merawat serta memberi pelayanan pada pengunjungnya.

Bermacam-macam kisah dalam dunia per BMI an. Suka duka mewarnai kehidupan mereka Menjadi fenomena menarik untuk disimak. Bicara tentang fenomena tentang dunia buruh (baca : migran), Bustomi berpendapat bahwa  BMI  Hong Kong itu super perantau  yang mau belajar. Sangat luar biasa. Berita-berita tanah air, mereka akses melalui koran, facebook, website dll,  seiring berkekembangnya ilmu tehnologi yang semakin canggih.


Pesannya, untuk sesama BMI di Hong Kong, untuk belajar apa saja yang bisa dipelajari selagi di negeri rantau, karena kalau kita hanya mencari uang saja, pasti rugi besar. Mencari  ilmu tidak hanya di bangku sekolah, ditempat kerja pun bisa. Tempat kerja justru merupakan tempat untuk belajar dalam memaknai kehidupan. Satu lagi, hindari berhutang di bank. Mengingat banyaknya kasus BMI yang terjerat masalah dengan bank, yang akhirnya kehilangan pekerjaannya. Bahkan ada yang sampai mengakhiri hidup. Ingatlah, tujuan awal merantau menjadi BMI dengan meninggalkan keluarga tercinta, rela dimarahin bos, rela tidur hanya di sofa/lantai, kamar kecil, jatah makan sedikit bahkan ada yang beli sendiri. Isilah waktu dengan hal-hal positif dan produktif, sehingga pulang bukan hanya membawa uang tetapi juga segudang skill dan pengalaman. 

Rancangan Hidup





“ Dengannya, aku tak bisa merancang masa depan…..”




Sebuah ungkapan meluncur dari bibir seorang kawan kepadaku. Terlihat dari sorot matanya, dia lelah. Tidak ada gairah hidup. Dan fisiknya pun tidak terurus sebagaimana seharusnya. Raut wajahnya kelihatan tua, jauh dari usianya yang masih terbilang muda.
Yah! Masa depan memang harus dirancang sebaik mungkin. Tanpa rancangan, tidak bisa dibayangkan apa jadinya masa depan tersebut. Sangat bisa diduga, hidupnya akan berjalan begitu saja. Bagai air mengalir, tidak punya tujuan pasti. Hidupnya bagai “zombi”. Jangankan kehidupan manusia, untuk membuat mainan layang-layang saja dibutuhkan rancangan terlebih dahulu.
Seperti halnya kita, BMI yang memutuskan hendak pulang ke tanah air. Haruslah menyiapkan rancangan dengan hati-hati. Bukan hanya sekedar nanti, aku akan ini dan itu. Bila  rancangan yang ada hanya “akan ini dan itu”, dikhawatirkan tidak bertahan lama, dan ujung-ujungnya kembali bekerja menjadi BMI. Keputusan semacam ini, sudah seringkali terjadi dengan alasan yang hampir sama : ekonomi!
Benarkah dengan menjadi BMI kembali, permasalahan bisa terselesaikan? Belum tentu! Justru banyak tercipta masalah baru yang membuat BMI makin “terpuruk”. Bila sudah begini, bagaimana BMI bisa mandiri di negeri sendiri? Negeri dimana ia dilahirkan dan dibesarkan. Sebegitu menakutkankah hidup di tanah air?   Menakutkan, ketika kita pulang ke tanah air tanpa perencanaan matang karena situasi dan kondisi di Indonesia tidak sama dengan di Hong Kong. Perbedaan ini bisa membuat kita “stress”.
 Sebenarnya, perbedaan ini juga terjadi di Hong Kong, saat pertama kali kita bekerja. Bahkan lebih menakutkan karena kita hanya seorang diri tanpa sanak kadang. Kalau pun ada, mereka tidak serumah dengan kita. Dari segi budaya, musim, bahasa, pola hidup, karakter dll. Bukankah lebih banyak rintangan yang harus kita hadapi? Dan faktanya, rintangan itu mampu dilewati hingga kita “betah” malah “enggan”   pulang pada akhirnya.
Dengan perencanaan yang matang, kita bisa menata langkah lebih teratur dan terarah. Akan terhindar dari yang namanya stress, setidaknya bisa kita minimilir, meski tidak menutup kemungkinan, perencanaan yang kita buat, meleset dari yang sudah kita jadwalkan. Di sinilah dibutuhkan persiapan mental yang kuat.
Perencanaan yang meleset bukan berarti kita gagal, hanya butuh kesabaran, keuletan, kreatif dan inovasi. Nah, inilah saatnya kita mengeluarkan semua pengalaman selama bekerja menjadi BMI. Bukankah kita bekerja di negerinya orang China yang terkenal dengan kekreatifannya? Segala aktivitas pembelajaran yang kita ikuti pastinya sebuah rancangan  yang kita sengaja buat sebagai bekal pulang ke tanah air. Bukan sekedar ikut-ikutan atau anut grubyuk.
Buatlah rancangan kepulangan dengan perhitungan matang bukan sekedar ikut-ikutan, karena kita sendiri yang akan merasakan dan bertanggungjawab dengan segala yang bakal terjadi, di sepanjang perjalanan hidup. Kita adalah “owner” dalam kehidupan kita sendiri. Kita yang lebih tahu dan paham dengan apa yang kita inginkan (baca: butuhkan).
Dengan ilmu yang didapat selama di rantau, seharusnya kita bisa lebih baik dari yang dulu sebelum memutuskan menjadi BMI. Kalau alasan kita, Indonesia tidak sama seperti dulu saat kita tinggalkan, ya tentu saja. Karena setiap saat, perubahan  akan terjadi dimana-mana. Bukankah, ketika kita tinggal di rantau untuk yang pertama kali juga bingung? Samakan? Berarti ini bukan masalah berat buat kita yang memutuskan pulang ke tanah air. Dengan berbekal pengalaman, wawasan, skill, ilmu pengetahuan yang didapat selama dirantau, seharusnya kita bisa lebih mudah mensiasati keadaan.  Yuk, kita buat rancangan hidup sekarang!